KERAJAAN YANG TIDAK TERGUNCANGKAN
Dalam berita ini kita akan melihat satu perkara yang sangat serius kerajaan yang tidak terguncangkan (12:25-29). Kerajaan yang akan kita peroleh adalah kerajaan yang tidak terguncangkan (ayat 28). Karena kerajaan ini tidak terguncangkan, maka ia bukan berasal dari bumi maupun surga. Ini sebuah perkataan yang tegas. Karena pikiran kita begitu doktrinal, maka kita mungkin membantah, “Lalu bagaimana dengan Kerajaan Surga? Bukankah Alkitab mengatakan tentang Kerajaan Surga?” Ya, memang kitab Perjanjian Baru mengatakan tentang Kerajaan Surga, tetapi ia pun mengatakan bahwa surga kelak akan diguncangkan pula (ayat 26; Hag. 2:6). Kalau surga diguncangkan, itu membuktikan bahwa kerajaan yang akan kita peroleh bukan berasal dari surga. Walau kelihatannya antara kerajaan yang tidak terguncangkan dengan Kerajaan Surga saling bertentangan, tetapi sebentar lagi kita akan nampak sebenarnya mereka tidak saling bertentangan.
I. TERHADAP PERJANJIAN YANG LAMA,
BUMI TERGUNCANG UNTUK
MEMPERINGATKAN BUMI
Terhadap perjanjian lama, terguncangnya bumi ialah untuk memperingatkan bumi (ayat 25-26; Kel. 19:18). Ketika perjanjian yang lama diturunkan di Gunung Sinai, bumi diguncangkan. Guncangan itu adalah suatu peringatan bagi orang-orang di bumi.
II. TERHADAP PERJANJIAN YANG BARU,
BUKAN HANYA BUMI TERGUNCANG,
SURGA JUGA TERGUNCANG
SEBAGAI PERINGATAN DARI SURGA
Pada suatu hari, terhadap perjanjian baru, Tuhan tidak saja mengguncangkan bumi, juga akan mengguncangkan surga sebagai peringatan dari surga. Ini sesuai dengan firman yang tertulis dalam Hagai 2:6.
III. HANYA TUHAN DAN YANG BERASAL DARI
TUHAN TETAP TINGGAL SELAMA-LAMANYA
Bumi dan langit akan goncang, hanya Tuhan dan yang berasal dari Tuhan tetap tinggal selama-lamanya (ayat 27; 1:11; 13:8). Ini berarti kerajaan yang akan kita miliki berasal dari Tuhan sendiri. Ibrani 1:11 membicarakan tentang langit dan bumi demikian, “Semuanya itu (langit dan bumi) akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu (langit dan bumi) akan menjadi usang seperti pakaian.”
Sebenarnya kerajaan tidak lain berarti Tuhan sendiri yang meraja di dalam kita. Kita sudah nampak bahwa iman berarti Tuhan sendiri menjadi unsur percaya di dalam kita. Kini, seprinsip dengan itu, kerajaan berarti Tuhan sendiri sebagai raja di dalam kita. Untuk lebih mudah memahami hal ini, marilah kita baca Daniel 2:34-35 “Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. Maka dengan sekaligus diremukannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak, dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.” Batu yang bukan buatan tangan manusia itu adalah Kristus yang surgawi. Ia terpaku di salib bukan rekayasa manusia. Ayat 44 mengatakan tentang jari-jari kaki patung itu, “Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.” Ayat 45 menerangkan tentang batu itu “tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung” dan batu itu “meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak, dan emas.” Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa batu itu adalah Kristus, yang akhirnya menjadi sebuah gunung besar dan memenuhi seluruh bumi. Gunung besar itu adalah kerajaan yang akan datang.
Jadi, kerajaan yang tidak terguncangkan yang kita peroleh ialah Kristus berikut perluasan-Nya.
IV. KERAJAAN YANG DATANG DARI
TUHAN TIDAK TERGUNCANGKAN
A. Kita Telah Bertobat demi Kerajaan
Injil yang diberitakan dalam Perjanjian Baru kepada kita ialah Injil kerajaan (Mat. 3:1-2; 4:17, 23; 10:7; 24:14). Kita bertobat demi kerajaan (Mat. 3:2). Ketika kita beroleh selamat, mungkin kita tidak mendengar Injil yang sejelas ini. Ketika itu, kita hanya berharap naik ke surga, takut masuk ke dalam neraka. Jadi pertobatan kita ketika itu hanya untuk surga. Itulah pemberitaan Injil yang keliru. Pertobatan bukan untuk surga, melainkan untuk kerajaan.
B. Kita Telah Dilahirkan Kembali ke Dalam Kerajaan
Kita telah dilahirkan kembali ke dalam kerajaan. Dalam Yohanes 3:5 Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Banyak orang pernah menerima ajaran yang keliru, yang mengatakan kelahiran kembali adalah untuk naik ke surga. Namun di sini kita nampak dengan jelas bahwa kelahiran kembali adalah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
C. Kita Telah Dipindahkan ke Dalam Kerajaan
Kolose 1:13 mengatakan, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.” Ayat ini mewahyukan bahwa kita telah diselamatkan dari satu kerajaan kerajaan kegelapan Iblis, dan dipindahkan ke dalam kerajaan lain Kerajaan Anak terkasih Allah.
D. Hidup Gereja Adalah
Kerajaan Allah Hari Ini
Di dalam gereja berarti kita hidup dalam Kerajaan Allah hari ini. Roma 14:17 merupakan bukti kuat bahwa hidup gereja hari ini adalah kerajaan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Wahyu 1:9 juga membuktikan bahwa kita hari ini berada dalam Kerajaan Allah “Aku, Yohanes, saudara seiman yang ikut serta dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus . . .” Sewaktu Yohanes menulis Surat Wahyu, ia telah berada dalam Kerajaan Allah. Kedua ayat di atas membuktikan dengan kuat bahwa gereja adalah kerajaan hari ini. Tetapi, kita juga akan nampak bahwa segala sesuatu dalam gereja hari ini adalah realitas kerajaan; sedang manifestasinya baru akan timbul bersamaan dengan kembalinya Kristus di kemudian hari.
V. REALITAS DAN MANIFESTASI KERAJAAN
Jika kita ingin memahami kebenaran tentang kerajaan dalam kitab Perjanjian Baru, kita harus tahu kedua aspek utama dari kerajaan aspek realitasnya dan aspek manifestasinya. Dalam gereja hari ini belum terbilang sebagai manifestasi kerajaan, melainkan realitas kerajaan. Orang tidak dapat melihat bentuk kerajaan secara lahiriah dalam gereja. Namun demikian, kerajaan di tengah-tengah kita adalah satu realitas.
A. Realitas Kerajaan dalam Gereja Hari ini Adalah Pelatihan dan Pendisiplinan
Kerajaan dalam realitasnya, atau realitas kerajaan, adalah suatu pelatihan dan pendisiplinan (ganjaran, hajaran) bagi kita (Mat. 5:3, 10, 20; 7:21) di dalam gereja hari ini. Misalkan, Anda membeli satu hamburger di sebuah kios, dan kasirnya mengembalikan uang lebih banyak dari yang semestinya Anda terima. Kalau Anda terlatih dan menerima pengaturan kerajaan, Anda pasti segera mengembalikan kelebihan uang itu kepadanya. Itulah pengalaman penguasaan realitas kerajaan, dan itu merupakan pelatihan, sekaligus sebagai pendisiplinan.
Keadaan kekristenan hari ini sangat kasihan, karena banyak orang Kristen telah dibius, sehingga mengira setiap hal berasal dari anugerah, tidak perlu menerima pelatihan atau pendisiplinan. Tetapi kita tahu, kita harus meningkatkan standar hidup gereja melalui pelatihan dan pendisiplinan realitas kerajaan. Selama tahun-tahun ini, saya nampak anugerah Tuhan bekerja di dalam banyak orang di antara kita. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena telah ada kemajuan besar dalam pemulihan-Nya. Tetapi kita harus meningkatkan standar ini lebih tinggi lagi. Jika demikian, malaikat-malaikat yang bersorak-sorai bagi kita akan merasa sangat gembira, karena mereka melihat ada sekelompok orang beriman yang begitu serius memperhatikan kehendak kekal Allah. Kita sangat perlu menerima pendisiplinan kerajaan pada hari ini!
B. Manifestasi Kerajaan Adalah Pahala dan
Kenikmatan dalam Kerajaan Seribu Tahun pada Zaman yang Akan Datang
Kerajaan dalam manifestasinya, atau manifestasi kerajaan akan menjadi pahala dan kenikmatan bagi kita (Mat. 16:27; 25:21, 23) dalam Kerajaan Seribu Tahun pada zaman yang akan datang. Jika kita menerima pelatihan Roh itu dan pendisiplinan Allah di dalam realitas kerajaan hari ini, kita pasti menerima pahala dan kenikmatan. Kalau kita membaca Matius 16:27 berikut konteksnya, kita nampak bahwa pada kedatangan-Nya Tuhan akan memberi upah kepada setiap orang sesuai dengan pekerjaannya, hal ini berkaitan dengan manifestasi kerajaan. Dalam Matius 25:21 dan 23, Tuhan berkata kepada hamba-Nya yang setia, “Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Masuk dan turutlah dalam kebahagiaan tuan berarti masuk ke dalam manifestasi Kerajaan Seribu Tahun.
C. Hari Ini Menerima Pelatihan Roh Kudus dan
Pendisiplinan Allah, Zaman yang Akan Datang
Menerima Pahala Tuhan dan
Memasuki Perhentian Hari Sabat
Jika kita menerima pelatihan Roh itu dan pendisiplinan Allah di dalam realitas kerajaan hari ini, kita pasti menerima pahala Tuhan dan masuk ke dalam kenikmatan perhentian hari Sabat yang akan datang (4:9) di dalam manifestasi kerajaan dalam zaman yang akan datang; kalau tidak, kita akan kehilangan kerajaan yang akan datang, tidak akan mendapat pahala manifestasi kerajaan pada waktu Tuhan datang kembali, tidak mempunyai hak untuk masuk ke dalam kemuliaan kerajaan guna berbagian dalam pemerintahan Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun, dan akan kehilangan hak kesulungan kita sehingga kita tidak dapat mewarisi bumi dalam zaman yang akan datang, tidak dapat menjadi imam-imam rajani yang melayani Allah dan Kristus dalam penyataan kemuliaan-Nya, dan lebih lagi tidak dapat menjadi raja bersama Kristus, berkuasa atas seluruh bangsa dengan otoritas ilahi-Nya (Why. 20:4, 6).
D. Kehilangan Kerajaan yang Akan Datang dan
Hak Kesulungan pada Zaman yang Akan Datang Berarti Kehilangan Pahala
Kehilangan kerajaan yang akan datang, kehilangan hak kesulungan ini tidaklah berarti akan binasa, melainkan hanya akan kehilangan pahala, bukan kehilangan keselamatan. Meskipun kita mungkin kehilangan pahala, tetapi tidak mungkin kehilangan keselamatan (1Kor. 3:14-15). Keselamatan kita teguh sampai selama-lamanya. Namun dapat tidaknya menerima pahala dan hak sulung dalam manifestasi kerajaan mutlak tergantung pada pelatihan pada hari ini.
E. Peringatan-peringatan dalam Surat Ibrani
Mengacu kepada Kehilangan Pahala Kerajaan dan Menerima Hukuman Allah
Seperti telah kita tegaskan, kehilangan kerajaan yang akan datang, kehilangan hak kesulungan, tidaklah berarti bahwa akan binasa, melainkan hanya akan kehilangan pahala, bukan kehilangan keselamatan. Kita akan menderita kerugian, tetapi tetap akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api (1Kor. 3:14-15). Ini adalah konsepsi yang mendasari kelima peringatan yang diberikan kitab ini dan yang terlihat di mana-mana (2:3; 4:1-11; 6:8; 10:27; 29-31; 12:25). Semua butir negatif dari peringatan-peringatan ini berhubungan dengan kehilangan pahala dalam kerajaan yang akan datang dan menderita hukuman Allah; sedangkan semua butir positifnya berhubungan dengan pahala dan kenikmatan kerajaan. Ketujuh surat rasuli dalam Wahyu 2 dan 3 juga diakhiri dengan konsepsi yang sama mendapatkan atau kehilangan pahala kerajaan. Hanya dalam terang konsepsi inilah kita dengan tepat dapat memahami dan menerapkan firman dalam Mat. 5:20; 7:21-23; 16:24-27; 19:23-30; 24:46-51; 25:11-13; 21, 23, 26-30; Luk. 12:42-48; 19:17, 19, 22-27; Rm. 14:10, 12; 1 Kor. 3:8, 13-15; 4:5; 9:24-27; 2Kor. 5:10; 2Tim. 4:7-8; Ibr. 2:3; 4:1, 9, 11; 6:4-8; 10:26-31, 35-39; 12:16-17, 28-29; Why. 2:7, 10-11, 17, 26-27; 3:4-5, 11-12, 20; 22:12. Jika kita tidak mempunyai konsepsi ini, penafsiran terhadap ayat-ayat ini akan jatuh ke dalam obyektivitas ekstrem dari aliran Calvinis atau subyektivitas ekstrem dari aliran Armenian. Kedua aliran itu bukan hanya tidak mengenal pahala kerajaan, lebih-lebih tidak nampak kerugian karena kehilangan pahala kerajaan. Karena itu, keduanya menganggap semua butir negatif dalam ayat-ayat tersebut mengacu kepada kebinasaan. Aliran Calvinis mempercayai keselamatan kekal, yaitu begitu seseorang diselamatkan, ia tidak akan binasa selamanya. Mereka menganggap semua butir negatif ini sebagai kebinasaan kaum beriman yang palsu, sementara aliran Armenian mempercayai bahwa orang yang telah diselamatkan juga akan binasa jika dia jatuh, mereka menganggap butir-butir negatif ini semuanya mengacu kepada kebinasaan kaum beriman yang telah jatuh. Tetapi wahyu yang lengkap dari Alkitab menunjukkan bahwa butir-butir negatif ini mengacu kepada penderitaan kehilangan pahala kerajaan. Keselamatan Allah itu kekal; sekali kita memperolehnya, kita tidak akan pernah kehilangannya lagi (Yoh. 10:28-29). Tetapi kita mungkin menderita kehilangan pahala kerajaan, walaupun kita masih tetap akan diselamatkan (1Kor. 3:8, 14-15). Semua peringatan dalam kitab ini tidak mengacu kepada kehilangan keselamatan kekal, melainkan mengacu kepada kehilangan pahala kerajaan. Kaum beriman Ibrani telah menerima kerajaan, tetapi mereka mempunyai resiko kehilangan pahala dalam manifestasi kerajaan jika mereka mundur dari anugerah Allah, dari jalan perjanjian Allah yang baru. Inilah perhatian yang utama dari penulis dalam memperingatkan kaum beriman Ibrani yang undur dan tidak maju.
Beberapa guru Alkitab menafsirkan hamba yang malas dalam Matius 25 adalah hamba yang palsu. Tafsiran demikian sama sekali tidak masuk akal. Walaupun salah seorang anak Anda malas, tidak berarti ia menjadi anak yang palsu. Karena guru-guru Kristen itu tidak memahami masalah pahala kerajaan, maka mereka mau tidak mau mengatakan hamba malas itu adalah hamba yang palsu. Tetapi sebaliknya, ada yang mengatakan mereka itu hamba yang benar, tetapi telah jatuh dan kehilangan keselamatannya.
Kita sudah nampak bahwa kehendak semula Allah adalah memperoleh manusia korporat untuk mengekspresikan gambar dan rupa-Nya, mewakili-Nya dengan kuasa-Nya, bahkan menduduki bumi ini. Inilah kehidupan insani yang normal. Karena manusia jatuh dari kehendak semula Allah itu, Allah lalu datang menebus dan menyelamatkan kita. Inilah keselamatan Allah, yang didalamnya terdapat hak kesulungan yang beraspek tiga: menjadi imam mengekpresikan gambar Allah, menjadi raja untuk mewakili Allah dengan kuasa-Nya, dan mendapatkan sepenuhnya bumi yang terhilang bagi kehendak kekal Allah. Bila kita hidup dalam hak kesulungan yang demikian, kita akan dengan spontan berada dalam realitas Kerajaan Allah; sebab realitas Kerajaan Allah adalah memperhidupkan hak kesulungan, dan inilah realisasi hak sulung yang sepenuhnya. Karena tidak semua orang Kristen mau bekerja sama dengan Allah dalam hal ini, maka dalam hikmat-Nya, Ia telah menetapkan hak kesulungan itu menjadi suatu pahala. Jika kita ingin menerima anugerah, masuk ke dalam tempat maha kudus, bekerja sama dengan Allah, kita pasti memperhidupkan hak kesulungan ini. Dengan demikian apa saja yang kita perhidupkan adalah realitas kerajaan pada hari ini. Realitas yang kita wujudkan pada hari ini akan menjadi pahala kita kelak dalam manifestasi kerajaan. Itulah kegenapan kehendak sebermula Allah. Itu juga merupakan kesempurnaan, pemuliaan, dan keselamatan jiwa kita pada zaman yang akan datang. Hasilnya, kita akan memiliki kehidupan insani yang wajar dengan insani yang telah ditingkatkan dan dibangkitkan. Ini adalah fokus utama dari seluruh Alkitab, dan Alkitab sangat konsisten dalam hal ini. Bagaimana semua ini dapat diterapkan? Hanya melalui berpalingnya kita ke dalam roh, masuk ke dalam tempat maha kudus, mengalami segala kekayaan Kristus, dan membiarkan hukum hayat membawa kita dari tahap kemuliaan yang satu kepada yang lain, sambil meresapi kita, menjenuhi kita dan menyerupakan kita dengan gambar-Nya.
Ibrani 12:29 mengatakan, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Allah itu kudus, kudus adalah sifat-Nya. Segala yang tidak sesuai dengan sifat kudus-Nya akan dihanguskan oleh Dia, sebagai api yang menghanguskan. Jika kaum beriman Ibrani berbalik ke Yudaisme, yang adalah awam (tidak kudus) di pandangan Allah, mereka akan menjadi tidak kudus, dan Allah yang kudus sebagai api yang menghanguskan akan menghanguskan mereka. Allah tidak hanya adil, tetapi juga kudus. Untuk memuaskan keadilan Allah, kita perlu dibenarkan melalui penebusan Kristus. Untuk memenuhi tuntutan kekudusan-Nya, kita perlu dikuduskan, dijadikan kudus oleh Kristus yang surgawi, yang hadir, dan yang hidup. Kitab Roma lebih menekankan perkara pembenaran (Rm. 3:24) bagi keadilan Allah (Rm. 3:25-26), sedangkan Surat Ibrani lebih menekankan perkara pengudusan (2:11; 10:10, 14, 29; 13:12) bagi kekudusan Allah (12:14). Untuk pengudusan mereka, kaum beriman Ibrani perlu memisahkan diri mereka dari Yudaisme yang tidak kudus kepada Allah yang kudus, yang telah secara penuh mengekspresikan diri-Nya sendiri dalam Putra di bawah perjanjian yang baru; kalau tidak, mereka akan tercemar oleh karena agama usang mereka yang duniawi, dan akan menerima penanggulangan Allah yang kudus sebagai api yang menghanguskan. Itu sangat “mengerikan” ! (10:31). Tidaklah mengherankan kalau Paulus begitu memperhatikan tentang takut akan Tuhan (2 Kor. 5:11).
Penekanan Surat Ibrani ialah membawa kita masuk ke dalam sifat kudus Allah. Bila dalam hal ini kita enggan bekerja sama dengan Allah, kita akan melanggar pemerintahan Allah. Melanggar pemerintahan Allah merupakan masalah pengaturan pemerintahan. Melanggar hukum Taurat Allah tidak seberat melanggar pengaturan pemerintahan-Nya. Allah telah mewahyukan bahwa jika kita enggan bekerja sama dengan-Nya dalam ekonomi pemerintahan-Nya, malah sebaliknya melanggar pemerintahan-Nya, Ia akan menghukum kita. Ini berarti kita akan kehilangan pahala kerajaan di aspek positifnya, dan akan menderita hukuman di aspek negatifnya. Ibrani 10 dan 12 memperlihatkan sebuah jalan, perlombaan, dan jalan-jalan yang di atasnya kita harus kerjakan, berlari, dan tempuh. Dalam pasal-pasal itu kita juga nampak hukuman, pahala, dan kerajaan. Ketiga hal ini merupakan bagian sangat penting dari konsepsi dasar dalam susunan Surat Ibrani.
Tidak ada sejilid kitab lain dalam kitab Perjanjian Baru yang mewahyukan inti ekonomi Allah sejelas Surat Ibrani. Kitab lain tidak menerangkan kepada kita tempat maha kudus dan hukum hayat dalam tabut. Walaupun Roma 8:2 menyinggung hukum Roh hayat, tetapi hukum hayat yang dibicarakan dalam Surat Ibrani jauh lebih tuntas daripada surat Roma. Penulis Surat Ibrani memperingatkan kita untuk menerima wahyu ekonomi Allah dalam surat ini. Bila kita mau menerima, kita akan beroleh pahala dalam manifestasi kerajaan kelak; tetapi bila kita menolak, kita akan menderita beberapa hukuman karena kita telah melanggar ekonomi pemerintahan Allah. Mereka yang tidak mempunyai indra substansiasi atau yang tidak bisa menerapkannya, tidak mungkin nampak hal ini. Walaupun kita sangat serius dan saksama terhadap masalah ini, tetapi orang Kristen lain tidak demikian. Di bawah terang wahyu surgawi yang telah kita tampak dalam berita-berita ini, kita harus berlari dalam perlombaan ini dengan saksama dan serius di atas jalan lurus ini. Perlombaan kita pada hari ini akan menentukan nasib kita kelak.
Walaupun kita memperhatikan nasib kita kelak, karena anugerah kita harus berkata kepada Tuhan, “O, Tuhan, bersandarkan anugerahMu, aku tidak mengkhawatirkan nasibku, aku hanya memperhatikan ekonomi-Mu. Mohon, Engkau memperhatikan nasibku, aku mau memperhatikan ekonomi-Mu. Tuhan, aku mau bekerja sama dengan-Mu, bukan untuk nasibku di masa yang akan datang, melainkan untuk ekonomi-Mu hari ini. Aku mau melihat ekonomi-Mu, yang belum terwujud selama berabad-abad ini, akan tergenap dalam hari-hari ini.” Kita semua harus nampak visi ini dengan jelas, dan terbawa maju terus, agar kehendak Allah terwujud di antara kita. Allah akan membawa sekelompok pencari-Nya yang setia masuk ke dalam tempat maha kudus, supaya mereka mengalami operasi hukum hayat, dan dengan demikian bisa menjadi reproduksi korporat dari model standar, yaitu Putra sulung-Nya. Kedatangan Tuhan sangat tergantung pada kegenapan reproduksi korporat ini. Tanpa ini Tuhan tidak mungkin kembali. Adanya reproduksi model standar ini tergantung pada operasi hukum hayat di dalam kita. Seperti telah kita lihat, hukum hayat bukan berada di pelataran luar atau di dalam tempat kudus, melainkan dalam tabut kesaksian di tempat maha kudus. Jadi, kita harus memasuki tempat maha kudus, menyelami tabut kesaksian, dan mengalami hukum hayat itu. Kita tahu di mana hukum hayat berada, ia berada di dalam roh kita. Kini kita cukup berkata, “Tuhan, bersandarkan belas kasihan dan anugerah-Mu, aku mau bekerja sama dengan-Mu; aku bersedia maju bersama-Mu. Tuhan, lakukanlah sebisa-Mu dan sekehendak-Mu. Aku tidak memperhatikan nasibku kelak. Aku hanya memperhatikan pemulihan-Mu dalam ekonomi-Mu hari ini, yaitu untuk pemulihan hidup gereja yang wajar. Tuhan, semoga semua pencari-Mu terbawa ke dalam jalan ini, agar kehendak-Mu tergenap!” Inilah pemulihan Tuhan dalam ekonomi-Nya hari ini!