PERBANDINGAN KONTRAS ANTARA PEMANDANGAN PERJANJIAN YANG LAMA
DENGAN PERJANJIAN YANG BARU
Dalam berita ini kita akan melihat satu judul yang cukup menarik, yaitu perbandingan kontras antara pemandangan perjanjian yang lama dengan perjanjian yang baru (12:18-24). Paulus serba unggul baik dalam roh maupun pikiran. Ia adalah orang yang sangat cemerlang. Seperti seorang pengarang hari ini, ia membubuhi bukunya dengan gambar-gambar. Paulus memberikan beberapa gambar kepada kita dalam 12:18-24. Dua pemandangan yang dilukiskan dalam ayat-ayat ini tidak hanya memuat suatu perbandingan, juga memperlihatkan sebuah pemandangan jelas tentang situasi perjanjian yang lama maupun perjanjian yang baru.
Jika ayat-ayat ini kita baca dengan saksama, kita dapat nampak adanya enam butir milik perjanjian yang lama, dan delapan butir milik perjanjian yang baru. Enam adalah angka penciptaan lama yang diselesaikan dalam enam hari (Kej. 1), dan delapan adalah angka kebangkitan. Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama dari satu minggu (Yoh. 20:1), yaitu hari kedelapan. Keenam butir dalam perjanjian yang lama menunjukkan bahwa perjanjian yang lama berada di pihak penciptaan lama. Kedelapan butir dalam perjanjian yang baru menandakan perjanjian baru di pihak kebangkitan. Angka delapan melambangkan suatu permulaan yang baru setelah melewati sejangka waktu. Satu minggu (tujuh hari) adalah potongan pertama waktu, dan hari pertama dari minggu kedua, yaitu hari kedelapan, adalah suatu permulaan yang baru. Jadi, angka delapan melambangkan kebangkitan, yakni suatu permulaan yang baru. Perjanjian yang baru merupakan satu permulaan yang baru setelah masa perjanjian yang lama berlalu.
Perjanjian yang lama berasal dari hukum Taurat yang kedudukannya seperti seorang gundik. Perjanjian yang baru berasal dari anugerah yang kedudukannya seperti seorang istri yang tepat. Sara, istri Abraham, melambangkan anugerah dalam kebangkitan; tetapi Hagar, gundik Abraham melambangkan hukum Taurat yang berkaitan dengan daging. Dalam Galatia 4 Paulus menerangkan dengan jelas sekali bahwa kedua perempuan itu Hagar dan Sara ialah dua perjanjian; Hagar sebagai perjanjian yang lama, Sara sebagai perjanjian yang baru. Dengan perkataan lain, Hagar mewakili hukum Taurat, Sara mewakili anugerah. Hari ini, kita yang menjadi orang Kristen bukan anak-anak Hagar, melainkan anak-anak Sara. Kita adalah anak-anak anugerah. Kedua perempuan itu juga melambangkan dua gunung: Hagar melambangkan Gunung Sinai, Sara melambangkan Gunung Sion, yakni Yerusalem surgawi, ibu kita.
I. PEMANDANGAN PERJANJIAN YANG LAMA
BERADA DI PIHAK HUKUM TAURAT
A. Terdiri atas Enam butir
Sekarang kita akan melihat keenam butir dalam perjanjian yang lama, yang tercantum dalam ayat 18-21. Semua ini ada di pihak hukum Taurat.
1. Gunung yang Dapat Disentuh dan Api yang Menyala-nyala
Ayat 18 mengatakan, “Sebab kamu tidak datang kepada sesuatu (gunung) yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala.” Pemandangan pertama dari perjanjian yang lama ialah gunung yang menyala-nyala (Kel. 19:11-12, 18). Apakah Anda suka dengan gunung yang demikian? Saya sendiri lebih menyukai gunung yang rimbun dengan pepohonan dan dialiri dengan anak-anak sungai; saya tidak suka gunung yang menyala-nyala, itu menakutkan saya. Paulus di sini seolah-seolah berkata, “Saudara-saudara Ibrani, masakan kalian tetap ingin kembali ke perjanjian yang lama? Tidakkah kalian tahu bahwa perjanjian yang lama itu milik gunung yang menyala-nyala?” Sesudah menampilkan banyak butir pada pasal-pasal terdahulu, ia lalu menunjukkan lukisan yang demikian kepada mereka.
2. Kegelapan
Butir kedua dalam pemandangan perjanjian yang lama ialah kegelapan (ayat 18; Ul. 5:23). Biasanya, di mana ada api besar, di situ ada cahaya dan penerangan. Tetapi Alkitab mengatakan sewaktu Gunung Sinai menyala-nyala, di situ ada kegelapan. Kegelapan ini berasal dari dua sumber, yakni dari awan tebal di udara dan asap pekat di bumi. Awan yang berbaur dengan asap itu mengakibatkan kegelapan yang pekat. Gambaran ini melukiskan segi negatif situasi perjanjian yang lama.
3. Kekelaman
Butir ketiga dalam pemandangan perjanjian yang lama ialah kekelaman (ayat 18; Kel. 20:21; Ul. 5:22). Apa bedanya kegelapan dengan kekelaman? Menurut pengertian dan pengalaman saya, kegelapan itu bersifat obyektif, sedangkan kekelaman itu bersifat subyektif. Ketika kegelapan berada di kejauhan, ia tetap sebagai kegelapan; tetapi begitu kita berada di dalamnya, ia menjadi kekelaman. Kekelaman merupakan suasana di mana kita tinggal. Bila kita masuk ke dalam kegelapan dan tinggal di situ, kegelapan akan menjadi kekelaman. Jadi kegelapan bukan hanya suatu situasi yang obyektif bagi mereka yang ada dalam perjanjian yang lama, bahkan telah menjadi kekelaman di mana mereka tinggal.
Pengalaman rohani kita juga demikian. Ketika kita tidak mencari Tuhan, kita berada dalam kegelapan. Tetapi ketika kita mulai mengejar hal-hal rohani, kita segera merasakan dalam lubuk hati kita bahwa kita berada dalam kekelaman. Sebelum kita dibangunkan, kita berada di dalam kegelapan. Setelah kita dibangunkan, kita berada di dalam situasi kekelaman. Kalau kaum beriman Ibrani berpaling kepada perjanjian yang lama, yaitu kembali ke dalam kegelapan, kegelapan itu akan membawa mereka ke dalam kekelaman.
4. Angin Badai
Butir berikutnya ialah angin badai (ayat 18). Angin badai ialah sejenis angin yang tanpa arah dan tidak tenang. Pada latar belakang saya dalam kekristenan, tidak ada arah dan ketenangan. Bagi penganut agama Yahudi juga demikian, tidak ada arah dan ketenangan. Yang ada di antara mereka hanyalah angin badai.
5. Bunyi Sangkakala
Dalam pemandangan perjanjian yang lama juga terdapat bunyi sangkakala (ayat 19; Kel 19:13, 16, 19; 20:18). Bunyi sangkakala menandakan suatu peringatan. Memang agama penuh dengan peringatan, seperti “Jangan berbuat demikian, agar tidak masuk ke neraka”, atau “Berhati-hatilah, kalau tidak Anda akan kehilangan keselamatan”. Bunyi peringatan sangkakala dalam agama lebih banyak daripada berita-berita yang positif. Agama selalu berkata, “Hati-hati, jangan berbuat itu”, sebab dalam agama kata “jangan . . .” selalu lebih banyak daripada “lakukanlah . . .” Bunyi sangkakala adalah satu tanda kemiskinan agama. Agama tidak memberikan hal-hal yang positif kepada kita, hanya dapat mengingatkan kita secara negatif. Setiap agama prinsipnya sama, yakni sering menyerukan peringatan-peringatan dan memberi tahu orang apa yang tidak boleh diperbuat.
6. Bunyi Suara yang Menakutkan
Hal keenam dalam pemandangan perjanjian yang lama ialah bunyi suara yang menakutkan (ayat 19; Ul. 4:12; Kel. 19:19). Yang diperoleh orang dalam agama pada akhirnya ialah bunyi suara yang menakutkan, bukan suara sorak-sorai dan puji-pujian kepada Tuhan. Tetapi di dalam gereja, kita senantiasa mendengar suara pujian-pujian terhadap Tuhan.
B. Segala Hal Bersifat Sementara
Karena semua hal dalam pemandangan perjanjian yang lama berasal dari zaman yang lama, maka sifatnya sementara, bukan kekal. Seperti halnya dengan ciptaan lama yang pada suatu hari akan berlalu, maka setiap hal dalam perjanjian yang lama, yang menjadi milik ciptaan lama, telah berakhir.
II. PEMANDANGAN PERJANJIAN YANG BARU DI PIHAK ANUGERAH
A. Terdiri atas Delapan Butir,
Terbagi dalam Empat Pasang
Sekarang mari kita lihat pemandangan perjanjian yang baru di pihak anugerah (ayat 22-24). Pemandangan ini terdiri dari delapan butir dan terbagi atas empat pasang. Butir-butir ini teratur sepasang demi sepasang, ini sungguh bermakna sekali. Keenam butir perjanjian yang lama ditampilkan sendiri-sendiri, sedangkan keenam butir perkataan pokok dalam Ibrani 6 disusun dalam tiga pasang. Dalam pasal 12 ini, kita nampak delapan butir pemandangan perjanjian yang baru yang terbagi dalam empat pasang.
1. Pasangan Pertama
Pasangan pertama ialah Bukit Sion (ayat 22; Mzm. 2:6; Why. 14:1) dan kota Allah yang hidup, yaitu Yerusalem surgawi (ayat 22; 11:10, 16; Why. 22:2). Di sini tidak ada api, melainkan satu gunung indah dengan sebuah kota yang mulia, kota Yerusalem surgawi, tempat kediaman Allah dan pusat pemerintahan universal-Nya.
2. Pasangan Kedua
Pasangan kedua ialah kumpulan yang meriah yang terdiri atas beribu-ribu malaikat (ayat 22-23; Why. 5:11) dan jemaat anak-anak sulung yang namanya terdaftar di surga (ayat 23; 2:12; Luk. 10:20). Istilah “kumpulan yang meriah” menurut bahasa aslinya berarti “perhimpunan universal”, “perhimpunan yang menyeluruh”, dan digunakan untuk perhimpunan yang merayakan suatu festival umum, sama seperti festival olah raga Olympiade. Seluruh zaman perjanjian yang baru ini adalah suatu festival, beribu-ribu malaikat yang adalah roh-roh yang melayani bagi faedah ahli-ahli waris keselamatan (1:14) di bawah perjanjian yang baru, adalah suatu perhimpunan menyeluruh yang merayakan festival yang hebat dari “keselamatan yang sebesar itu” (2:3). Ini adalah festival yang paling agung dan paling menggemparkan di dalam alam semesta! Firman Tuhan dalam Lukas 15:7 dan 10 dan 1Petrus 1:12 bisa menunjukkan hal ini.
Kita telah nampak bahwa istilah “kumpulan yang meriah” dipakai rasul Paulus untuk melukiskan perlombaan olympiade, yakni suatu perlombaan umum yang paling besar dan penting pada zaman Yunani kuno. Pada waktu diadakan olimpiade itu, khalayak ramai di Yunani membentuk perkumpulan umum besar. Seperti halnya dengan Amerika Serikat dewasa ini, orang berduyun-duyun berkumpul menonton pertandingan sepak bola. Dengan latar belakang perlombaan Olympiade ini, Rasul Paulus menunjukkan pada kita bahwa dalam alam semesta juga ada satu perlombaan yang sedang berlangsung. Penontonnya ialah beribu-ribu malaikat itu; mereka berkumpul beramai-ramai menyaksikan perlombaan itu. Perlombaan itu tidak lain ialah perlombaan yang disebut dalam Ibrani 12:1. Kita sekalian layak ikut serta dalam perlombaan ini; para malaikat tidak, mereka hanya layak menjadi penonton atau “penggembira” saja. Dalam Lukas 15:7 dan 10, Tuhan Yesus berkata, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah, karena satu orang berdosa yang bertobat.” Kapan saja ada seorang dosa bertobat, malaikat-malaikat akan bersukacita. Saya percaya sepenuhnya, malaikat-malaikat di surga pasti bersukacita juga melihat apa yang terjadi dalam pemulihan Tuhan hari ini. Kita sekarang sedang berlari dalam perlombaan yang terbesar, dan malaikat-malaikat adalah penonton kita.
Sungguh bermakna sekali rasul Paulus menjajarkan beribu-ribu malaikat dengan jemaat anak-anak sulung yang namanya terdaftar di surga. Kita semua adalah anak-anak sulung, para malaikat adalah penonton; kita yang berlari, mereka yang menyaksikan. Dalam pertandingan sepak bola, para penonton sering kali lebih tegang daripada pemain. Walaupun kita tidak selalu tegang, namun malaikat-malaikat yang menonton di sekitar kita sangatlah tegang dan antusias. Satu Petrus 1:12 mengatakan, itulah “hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.” Ini membuktikan bahwa para malaikat ingin sekali mengetahui hasil perlombaan Injil kita. Saya tidak percaya para malaikat yang bersorak-sorai itu bisa tertarik kepada agama Kristen yang kasihan, sebab di antara mereka hampir tidak ada perlombaan di sana tidak ada perlombaan. Namun dalam hidup gereja hari ini ada perlombaan yang sesungguhnya. Setiap kali ada sesuatu yang membuat kita bersukacita dalam hidup gereja, para malaikatpun pasti lebih bersukacita. Hidup gereja selalu membuat para malaikat bersukacita.
Inti kehendak Allah dalam alam semesta ini justru ingin memperoleh sekelompok orang yang seperti kita. Para malaikat sejak lama menantikan hal ini. Jika lama tidak ada pertandingan sepak bola di Amerika Serikat, banyak orang Amerika akan tidak sabar menanti, mereka ingin tahu kapan pertandingan itu diadakan. Demikian pula, ber abad-abad lamanya malaikat-malaikat hanya melihat orang-orang menyembah-nyembah patung dan membakar lilin dalam kekristenan tertentu, mereka terus menunggu dan mengharap-harap untuk melihat sekelompok orang yang mencari Yesus. Setiap kali mereka melihatnya, mereka segera bersorak-sorai memuji Tuhan.
3. Pasangan Ketiga
Pasangan ketiga dalam pemandangan perjanjian yang baru ialah kita memiliki Allah, Hakim semua orang (ayat 23; Kej. 18:25; Mzm. 94:2), dan roh-roh orang benar yang telah disempurnakan (ayat 23). Dalam pasangan ini ada Allah yang adil sebagai hakim, dan roh-roh orang benar, yaitu kaum saleh perjanjian yang lama; mereka telah disempurnakan karena percaya kepada lambang Kristus.
4. Pasangan Keempat
Pasangan keempat ialah Yesus sebagai Pengantara perjanjian yang baru (ayat 24; 8:6; 9:15) dan darah pemercikan yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel (ayat 24; 9:12, 14; Kej. 4:10). Kita telah melihat bahwa Yesus adalah Pengantara perjanjian yang baru. Dalam bahasa Yunani istilah “baru” (neos) berarti “segar” atau “muda dalam usia”. Jadi dalam pasangan ini kita tidak saja memiliki Pengantara dan Penebus perjanjian yang baru, tetapi juga mempunyai darah perjanjian yang baru.
Dalam Surat Ibrani, darah Kristus sangat menonjol dan penting. Ini adalah darah perjanjian yang kekal (13:20), yang dengannya perjanjian yang baru dan lebih baik ini didirikan (10:29). Melalui darah ini, Kristus masuk sekali untuk selamanya ke dalam tempat maha kudus dan mendapatkan suatu penebusan yang kekal bagi kita (9:12). Dengan darah ini juga Kristus membasuh surga dan segala sesuatu yang ada di surga (9:22-24). Darah ini menguduskan kita (13:12; 10:29), menyucikan hati nurani kita, agar kita dapat melayani Allah yang hidup (9:14), dan yang berbicara bagi kita lebih kuat (indah) daripada darah Habel (12:24). Karena darah inilah kita memiliki keberanian untuk memasuki tempat maha kudus (10:19). Kita tidak seharusnya menganggap darah ini biasa saja, seperti darah binatang kurban, kalau kita menganggap seperti itu, kita akan menerima hukuman Allah (10:29).
Darah Kristus bukan hanya dapat menebus, menguduskan, dan menyucikan, tetapi juga berbicara. Darah ini adalah darah yang berbicara, membicarakan sesuatu lebih baik daripada darah Habel. Darah Habel berbicara kepada Allah untuk pendakwaan dan pembalasan (Kej. 4:10-15), sedangkan darah Kristus berbicara kepada Allah untuk pengampunan, pembenaran, pendamaian, dan penebusan. Lebih dari itu, darah adi ini berbicara kepada Allah bagi kepentingan kita, menyatakan bahwa oleh darah ini (seperti yang diwahyukan di dalam kitab ini), perjanjian yang baru, yang kekal, telah ditetapkan; dan bahwa di dalam perjanjian yang baru ini Allah harus memberikan diri-Nya sendiri dan semua berkat-Nya kepada kaum beriman dalam Kristus yang menerima perjanjian ini berdasarkan iman.
B. Semua Butir Bersifat Kekal
Karena kedelapan butir dalam perjanjian yang baru ini berada di pihak kebangkitan, maka semuanya bersifat kekal. Seperti halnya langit dan bumi baru yang tetap ada setelah ciptaan lama berlalu, kedelapan butir ini pun akan tetap ada hingga kekekalan.
Segala hal yang disinggung dalam ayat 18-19 bersifat bumiah, jasmani, dan melambangkan pihak hukum Taurat; pada pihak itu, setiap orang termasuk Musa berada di dalam ketakutan dan kegentaran (ayat 19-21). Hal-hal yang disinggung dalam ayat 22-24 itu surgawi dan rohani, berbeda dengan hal-hal bumiah dan jasmaniah yang tercantum dalam ayat 18-19. Yang surgawi dan rohani menyatakan pihak anugerah. Dalam anugerah ini, mereka yang sulung dan roh-roh orang-orang benar diselamatkan oleh anugerah. Orang-orang yang berada di bawah perjanjian yang lama datang pada pihak hukum Taurat, sedangkan kita, orang-orang Kristen, yang berada di bawah perjanjian yang baru, datang pada pihak anugerah. Karena itu kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah (Rm. 6:14). Potongan firman ini (ayat 18-24) sama seperti Galatia 4:21-31, memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak berada di bawah kekangan hukum Taurat, melainkan berada di bawah kemerdekaan anugerah untuk menjadi ahli-ahli waris dari warisan itu. Inilah hak kesulungan kita! Kita tidak seharusnya jatuh dan meninggalkan anugerah (ayat 15) dan melepaskan hak kesulungan, melainkan harus menerima anugerah (ayat 28). Segala hal yang berada di pihak anugerah itu surgawi, tetapi belum semuanya berada di surga. Banyak anak sulung dari gereja masih berada di bumi, sementara roh-roh orang-orang benar (orang-orang kudus Perjanjian Lama) masih berada di dalam Firdaus, tempat Abraham berada (Luk. 16:22-23, 25-26), juga tempat Tuhan Yesus dan penyamun yang diselamatkan itu pergi setelah mereka mati di kayu salib (Luk. 23:43).
Seperti telah kita nampak, tidak satu pun dari enam butir yang tercantum pada pihak hukum Taurat itu yang menyenangkan. Pertama, ada sebuah gunung yang menyala-nyala. Siapa yang mau mendekati tempat demikian! Lalu ada kekelaman, kegelapan, dan angin badai. Terakhir, ada bunyi sangkakala yang menakutkan, dan bunyi suara yang serius dan memperingatkan. Semuanya itu menyajikan suatu pemandangan yang menakutkan! Namun, pada pihak anugerah, segalanya menyenangkan. Delapan butir di sini dapat dianggap sebagai empat pasang. Gunung Sion menjulang tinggi dan Yerusalem surgawi yang indah adalah pasangan yang pertama, menunjukkan tempat kediaman Allah dan pusat pemerintahan universal-Nya. Betapa indahnya tempat ini! Kemudian para malaikat yang merayakan, bersorak-sorai, berhubungan sangat erat dengan ahli-ahli waris keselamatan yang mereka melayani (1:14); para malaikat ini dan anak-anak sulung yang diberkati dalam gereja membentuk pasangan kedua dalam pemandangan ini. Betapa menggembirakan pameran dari perkumpulan malaikat! Mereka merayakan partisipasi ahli-ahli waris keselamatan, gereja dari yang sulung di dalam segala berkat perjanjian yang baru. Allah, Hakim dari segalanya, dan roh-roh orang-orang benar, orang-orang kudus Perjanjian Lama (tubuh mereka, yang tidak dibangkitkan, tidak layak dicantumkan dalam bagian ini), dihubungkan sebagai pasangan yang ketiga, menunjukkan bahwa Allah sebagai Sang Benar, membenarkan orang-orang kudus yang benar dari perjanjian yang lama karena iman mereka. Terakhir, Tuhan Yesus, yang terkasih, Pengantara perjanjian yang baru yang adalah perjanjian yang lebih baik dan darah-Nya yang mahal yang dipercikkan, yang membicarakan sesuatu yang lebih baik, menyusun pasangan yang keempat. Ini menunjukkan bahwa suatu perjanjian yang lebih baik telah ditetapkan dengan darah Yesus yang lebih baik; juga menunjukkan bahwa Yesus telah mati dan mewariskan perjanjian yang baru ini sebagai suatu wasiat baru untuk kaum beriman-Nya, dan bahwa sekarang Dia adalah Pengantara, Pelaksana dari wasiat baru ini, yang merealisasikan semua fakta yang indah yang terkandung di dalamnya. Betapa menyenangkan pemandangan ini! Betapa berbedanya dengan pemandangan pada pihak hukum Taurat, di mana tidak ada Allah, tidak ada Juruselamat, dan bahkan tidak ada para malaikat yang disinggung! Tidak heran jika di sana tidak ada seorang pun yang telah diselamatkan! Tetapi di pihak pemandangan anugerah, ada pembenaran Allah, ada Juruselamat yang adalah Pengantara wasiat baru-Nya, dengan darah-Nya yang berbicara; ada para malaikat yang melayani dengan sidang (gereja) orang-orang yang diselamatkan, dan roh-roh orang-orang kudus yang dibenarkan. Pada pihak hukum Taurat pemandangannya berakhir dengan suara sangkakala yang menakutkan dan bunyi suara yang memperingatkan. Pada pihak anugerah pemandangannya berakhir dengan seorang Pengantara yang bersimpati dan suatu pembicaraan yang meyakinkan. Setelah melihat perbedaan yang demikian, siapa yang masih begitu bodoh mau meninggalkan pihak anugerah dan kembali ke pihak hukum Taurat? Kedelapan butir pada pihak anugerah bukan hanya surgawi dan rohani, tetapi juga kekal. Karena itu sekalipun langit digoncangkan (ayat 26), kedelapan butir yang kekal ini akan tetap tinggal (ayat 27).