HIDUP MENURUT SIFAT ALLAH
Inti wahyu ilahi dalam Alkitab ialah keputraan. Tujuan Allah ialah agar manusia dapat mengekspresikan Dia. Agar Allah dapat diekspresikan, Allah harus memiliki banyak putra. Janganlah mengira bahwa keselamatan itu inti wahyu Allah. Tidak! Inti wahyu Allah ialah keputraan. Allah berkehendak memperoleh banyak putra. Tujuan Allah mengutus Putra tunggal-Nya ke dunia ialah untuk melahirkan banyak putra melalui Dia, agar Dia menjadi Putra sulung-Nya. Walaupun Tuhan Yesus datang untuk kali pertama sebagai Putra tunggal Allah, tetapi pada kedatangan-Nya kali kedua, Ia akan menjadi Putra sulung (Ibr. 1:6). Menjadi Putra sulung berarti menjadi yang pertama di antara banyak putra, saudara-saudara (Rm. 8:29).
MAKNA KEPUTRAAN
Dalam Alkitab, makna keputraan ialah ekspresi Bapa. Putra selalu mengekspresikan bapanya. Ketika kita melihat seorang bocah, melaluinya kita akan nampak ekspresi bapanya. Seorang bapa insani mungkin hanya perlu seorang anak saja sudah dapat diekspresikan, namun Bapa ilahi yang ajaib dan agung memerlukan jutaan putra menjadi ekspresi-Nya. Pada suatu hari, seluruh bumi ini akan dipenuhi putra-putra Allah, sehingga ke mana saja kita pergi, kita dapat melihat gambar Bapa, yakni ekspresi Allah. Bila Anda membaca Perjanjian Baru dengan cermat, Anda akan nampak bahwa Allah bukan menginginkan sekelompok orang dosa yang ditebus, dibasuh, lalu dibawa ke dalam surga. Itu tidak ada artinya. Allah menghendaki banyak putra menjadi ekspresi-Nya yang korporat dan universal. Di mana saja putra-putra ini berada, di situlah Bapa diekspresikan. Inilah keputraan. “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1). Inilah konsepsi mendasar dalam Alkitab.
PUTRA-PUTRA ALLAH
MEMILIKI SIFAT ILAHI
Kalau Anda meluangkan sedikit waktu bersama seorang bapa dan anaknya, Anda akan menemukan betapa anak itu bukan hanya memiliki rupa bapanya, juga memiliki sifat bapanya. Sebagai anak bapanya, ia memiliki sifat bapanya. Demikian pula, jika kita telah benar-benar dilahirkan oleh Allah, tentu kita memiliki sifat-Nya. Sifat dalam hayat adalah suatu perkara yang sangat penting. Setiap hayat memiliki sifat. Sifat suatu hayat adalah unsur pokok hayat tersebut; tanpa sifat, hayat pun tidak ada. Tidak peduli hayat macam apa tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, atau hayat ilahi asalkan itu hayat, pasti memiliki suatu sifat. Substansi dan esens suatu hayat terdapat dalam sifatnya. Bagaimana sifatnya, begitu pula hayatnya. Sebatang pohon apel dapat berbuah apel sebab ia memiliki sifat pohon apel. Demikian pula, seekor anjing memiliki hayat anjing sebab ia memiliki sifat anjing; dan seorang manusia memiliki hayat manusia sebab ia memiliki sifat insani. Mungkinkah kita menjadi seorang manusia tanpa sifat insani? Tentu tidak mungkin. Kita adalah manusia karena kita memiliki sifat insani. Karena kita mempunyai sifat insani, maka apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita katakan, semuanya bersifat insani. Sama halnya, apa yang dilakukan oleh seekor anjing sesuai dengan sifat anjing. Sifat adalah sumber dari hukum hayat.
HUKUM HAYAT ADALAH
PEKERJAAN SIFAT HAYAT
Hukum hayat tidak saja menurut sifat hayat, juga berasal dari sifat hayat. Hukum hayat muncul dari sifat hayat. Karena suatu hayat tertentu memiliki sifat tertentu, maka ia memiliki hukum tertentu pula. Sebatang pohon apel memiliki sifat pohon apel, hukumnya ialah hukum sifat pohon apel. Mengapa pohon apel menghasilkan buah apel? Sebab hukum hayat mengaturnya menurut sifat hayatnya. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa hukum hayat sebenarnya ialah pekerjaan dari sifat hayat. Pada saat sifat suatu hayat bekerja, saat itu hukum hayatnya juga bekerja. Misalkan kita mempunyai dua batang pohon, yang satu pohon apel dan yang lainnya pohon persik. Jika kedua pohon ini tidak berbuah, kita tidak nampak hukum hayat.
Kalau pohon apel dengan spontan menghasilkan buah apel dan pohon persik dengan spontan menghasilkan buah persik, kita nampak pekerjaan hukum hayat mengatur setiap pohon berbuah menurut sifat hayatnya masing-masing. Maka, hukum hayat tidak lain pekerjaan dan fungsi dari sifat hayat.
Andaikata di sini ada seekor anjing dan seorang manusia berdiri di hadapan Anda tanpa bergerak, Anda tidak akan nampak fungsi hukum hayat. Tetapi jika orang itu berperilaku dengan gaya manusia, dan anjing itu juga mulai menyalak, tindakan-tindakan tersebut menunjukkan adanya pekerjaan sifat hayat masing-masing; dan itulah hukum hayatnya. Anda boleh memerintahkan anjing itu, “Hai, anjing kecil, kamu harus meniru orang ini, Aku menyuruhmu mengikuti dia dan menjadi satu dengan dia, yaitu berbicara dan bertindak seperti dia.” Semakin Anda berkata demikian kepada anjing itu, ia akan semakin bereaksi menurut pekerjaan hukum sifatnya sendiri. Sebaliknya, bila Anda memerintahkan orang itu meniru perbuatan anjing, ia pasti merasa mustahil, karena ia tidak memiliki sifat anjing.
PUTRA TUNGGAL MENJADI MODEL
Kita telah mengetahui bahwa kehendak Allah adalah memiliki banyak putra. Cara-Nya untuk memperoleh banyak putra ialah membuat Putra tunggal-Nya menjadi sebuah model. “Agama” Kristen kehilangan hal ini, sebab mereka tidak pernah nampak perbedaan antara Putra tunggal dengan Putra sulung. Kebanyakan orang Kristen mengira Putra tunggal dengan Putra sulung sama saja. Padahal, betapa besar perbedaan antara Yesus sebagai Putra tunggal dengan Yesus sebagai Putra sulung. Selaku Putra tunggal, Ia bukanlah sebuah model. Untuk menjadi model, Ia harus menjadi Putra sulung Allah. Dalam Putra tunggal hanya ada sifat ilahi, tidak ada sifat insani; tetapi dalam Putra sulung kedua sifat tersebut dimiliki-Nya. Sifat insani ini telah mengalami proses “pemutraan”, yaitu dilahirkan Allah dalam kebangkitan Kristus. Dalam Mazmur 2:7 Allah berkata kepada Putra, “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Karena sifat insani Kristus telah mengalami proses pemutraan dalam kebangkitan, maka kini Ia tidak hanya menjadi Putra tunggal Allah, tetapi juga menjadi Putra sulung yang bersifat ganda, yakni sifat ilahi dan sifat insani. Jadi, Ia adalah satu model.
PRODUKSI MASSAL DARI MODEL ITU
Cara Allah memproduksi massal model ini berbeda dengan produksi massal dalam suatu pabrik. Dalam suatu pabrik, mula-mula perusahaan menciptakan satu model, kemudian baru memproduksinya secara massal menurut model itu. Cara Allah ialah menggarapkan model-Nya yang hidup Putra sulung ke dalam kita, menjadi hayat dan sifat kita. Hayat ini adalah hayat ilahi dan sifat ini juga sifat ilahi. Sekarang Allah sedang bekerja untuk mengembangkan hayat dan sifat ilahi ini ke dalam setiap bagian kita, mengubah manusia alamiah kita, hingga kita menjadi segambar dengan Putra sulung-Nya.
Inilah yang dimaksud dengan pengubahan yang tercantum dalam Roma 12:2 dan 2Kor. 3:18. Dalam proses pengubahan, model hidup ini berkembang dari roh kita ke dalam setiap bagian diri kita. Pengubahan sepenuhnya tergantung pada penyaluran hukum hayat ke dalam roh kita. Hukum yang telah disalurkan ke dalam roh kita adalah fungsi hayat ilahi, yang berasal dari sifat hayat ilahi. Sejak hari hukum ini masuk ke dalam roh kita, ia selalu menunggu kesempatan untuk berkembang ke dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Akhirnya, ia akan berkembang ke segenap diri kita. Pada saat ia berkembang, hukum yang satu ini akan menjadi banyak hukum. Karena hukum ini merupakan pekerjaan sifat hayat ilahi, maka ketika ia bekerja, keputraan pun dihasilkan. Pekerjaannya selalu menghasilkan gambar Allah.
PERBEDAAN ANTARA HUKUM HAYAT
DENGAN PENGURAPAN MINYAK
Hampir semua orang Kristen telah diselewengkan dari hukum ini; hanya sedikit sekali yang terkecuali. Dari seratus orang Kristen, boleh jadi tidak lebih dari lima orang saja yang mengerti tentang hukum ini, atau yang pernah mendengarnya. Dalam kekristenan hari ini hampir tidak ada perkataan atau khotbah mengenai hukum hayat. Karena sebagian besar orang Kristen telah meninggalkan hukum hayat, sebab itu perlu ada pengurapan minyak.
Apakah perbedaan antara hukum hayat dengan pengurapan minyak? Seperti telah kita lihat, dalam Perjanjian Lama ada hukum Taurat dan para nabi. Perjanjian Lama mencakup kedua kategori firman ilahi itu. Pada zaman kuno, kitab Perjanjian Lama bahkan disebut “Hukum Taurat dan Para Nabi”. Apakah perbedaan antara hukum Taurat dengan para nabi? Mengapa setelah Allah mengaruniakan hukum Taurat kepada Musa, Ia masih perlu memakai nabi Elia, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, dan nabi lain? Kita telah menunjukkan bahwa hukum Taurat diberikan sebagai kesaksian Allah, dan menurut sifat Pemberi hukum itu. Karena hukum buatan Anda menyatakan persona Anda sendiri, maka hukum Anda adalah kesaksian Anda sendiri. Hukum Taurat adalah kesaksian Allah sebab ia mempersaksikan apa adanya Allah. Hukum Taurat mempersaksikan bahwa Allah itu kudus, benar, kasih, dan terang. Karena Ia adalah Allah semacam itu, maka sifat hukum Taurat itu benar, kudus, penuh terang dan kasih. Jadi, hukum Taurat adalah kesaksian Allah. Dari antara bangsa-bangsa, Allah telah memilih bani Israel menjadi umat-Nya, Ia menghendaki mereka menjadi umat-Nya menurut apa adanya Allah. Karena hukum Taurat mewahyukan apa adanya Allah, maka bani Israel juga harus menjadi umat Allah menurut hukum Taurat-Nya.
Dalam Yesaya 1 kita nampak bani Israel telah meninggalkan Allah dan hukum-Nya (Yes. 1:4, 10). Seandainya bani Israel tidak meninggalkan hukum Taurat Allah, tidak perlu ada nabi-nabi. Tetapi karena bani Israel telah menyimpang, maka Allah mengutus para nabi untuk memanggil mereka, yakni melalui menegur, menasihati, dan membimbing, agar mereka kembali kepada kesaksian Allah. Allah tidak ingin membuat ministri nabi menjadi suatu standar. Standar kesaksian-Nya ialah hukum Taurat. Ministri para nabi hanyalah untuk membawa umat itu kembali kepada intinya dan membawa mereka kembali ke dalam kesaksian-Nya. Jadi, ministri para nabi berfungsi untuk memulihkan umat Allah yang telah jatuh, supaya mereka kembali kepada hukum-Nya.
Kita telah mengetahui bahwa Perjanjian Lama mencakup hukum Taurat dan para nabi. Lalu, dengan apakah Perjanjian Baru itu terbentuk? Perjanjian Baru terbentuk dari hukum hayat dan pengurapan minyak. Hukum hayat menggantikan hukum harfiah, sedang pengurapan minyak menggantikan para nabi. Pada berita yang lalu kita telah menunjukkan betapa hukum Taurat mempersaksikan sifat Allah, sedang para nabi diutus untuk mewakili persona Allah. Karena itu, ketika para nabi berbicara, mereka selalu berkata, “Demikianlah Tuhan berfirman.” Dalam hukum Taurat kita nampak sifat Allah, dalam para nabi kita nampak persona Allah.
PENYERTAAN ALLAH DAN SIFAT ALLAH
Manakah yang lebih Anda sukai, sifat Allah atau penyertaan Allah (mewakili persona-Nya)? Setiap orang Kristen sangat menghargai penyertaan Allah. Dalam kekristenan terdapat banyak khotbah tentang penyertaan Allah. Mereka mengatakan bahwa penyertaan Allah adalah segala sesuatu bagi kita, dan kita harus melakukan segala perkara dalam penyertaan Allah. Dalam kekristenan, kaum beriman juga diajar untuk hidup dan berjalan dalam penyertaan Allah, dan sejumlah buku telah ditulis tentang hidup dalam penyertaan Allah. Akan tetapi, di manakah Anda bisa menemukan sebuah buku yang menyuruh Anda untuk hidup menurut sifat Allah? Jika kita memiliki wahyu, kita pasti akan lebih menyukai sifat Allah daripada penyertaan Allah. Mungkin saya hidup dalam penyertaan saudara A, mengasihi dia, dan berjalan dengan dia. Namun, ia tetap seorang yang berbeda dengan saya dan saya berbeda dengan dia; saya hanya hidup dalam penyertaan-Nya saja. Apakah artinya? Tidak ada. Hanya hidup dan berjalan dalam penyertaan Allah, tanpa memiliki sifat-Nya di dalam Anda, tidaklah banyak artinya. Selama ribuan tahun malaikat-malaikat telah berjalan dalam penyertaan Allah, namun mereka tidak pernah membuat Allah puas. Hanya satu perkara yang bisa menjamah hati Allah, yaitu Ia bisa memperoleh sekelompok manusia yang hidup dan bertindak menurut sifat-Nya. Jika seekor kutu hidup di dalam penyertaan Anda, itu tidak berarti apa-apa, tetapi jika menghendaki seekor kutu hidup menurut sifat insani Anda, itu sangatlah berarti. Jadi, hanya hidup dalam penyertaan Allah saja tidak terlalu berarti, namun hidup dalam dan oleh sifat-Nya, sangat besar maknanya. Meskipun demikian, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui penyertaan Allah, tanpa mengetahui sifat-Nya.
PERLU DISELAMATKAN
DARI PEKERJAAN KE DALAM HAYAT
Karena kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui penyertaan Allah, tidak mengetahui sifat-Nya, maka mudahlah bagi mereka untuk memahami masalah pengurapan minyak. Tetapi, mereka sukar memahami sifat Allah. Akhir-akhir ini banyak yang bersaksi bahwa dahulu mereka melayani gereja mengandalkan organisasi, tetapi sekarang mereka melayani menurut pengurapan minyak. Sebagai contoh: Ada orang mengatakan bahwa kini mereka datang melakukan pembersihan di balai sidang atas pimpinan pengurapan minyak. Memang ini suatu hal yang indah. Namun, setelah digerakkan oleh pengurapan minyak untuk membersihkan balai sidang, berdasarkan hayat apakah Anda melakukannya? Boleh jadi Anda membersihkannya dalam hayat Anda yang usang. Pengurapan minyak adalah untuk pergerakan, sedangkan hukum hayat adalah untuk hidup. Jarang sekali orang Kristen yang menaruh perhatian terhadap hayat. Ketika mereka mendengar tentang hayat, reaksi mereka seperti orang-orang Yahudi di zaman kuno, mereka berkata, “Perkataan ini keras (sukar), siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60). Tetapi tiap kali seorang tokoh ahli kebangunan rohani datang merangsang mereka, mereka terbangkitkan. Pengurapan minyak adalah bagi aktivitas, sedang hukum hayat untuk apa adanya kita.
Allah tidak memperhatikan perbuatan kita, Ia memperhatikan apa adanya kita. Catatan tentang Yakub dalam Kitab Kejadian menyatakan hal ini. Sepanjang hidupnya, Yakub tidak berbuat apa-apa. Walau ia tidak pernah melakukan hal-hal yang luar biasa, tetapi ia senantiasa berada di bawah proses pengubahan Allah. Bahkan ketika ia masih berada dalam rahim ibunya, Allah sudah memakai Esau untuk menanggulanginya. Seperti telah kita tunjukkan pada beberapa berita dalam Pelajaran Hayat Kitab Kejadian, sanak,keluarganya menjadi suatu tim untuk mengubahnya. Setelah Yakub meninggalkan rumah dan tiba di rumah pamannya Laban, tangan Laban segera menggarapnya. Apakah Anda mengira seumur hidup Yakub adalah terboroskan sia-sia? Haruskah ada seseorang datang ke rumah Laban dan berkata kepada Yakub, “Yakub mengapa kamu memboroskan hidupmu di sini? Mengapa kamu tidak pergi saja memberitakan Injil atau mendirikan sebuah gereja, atau membuka kursus Alkitab di rumahmu? Mengapa kamu harus membuang waktu-waktumu di bawah tangan Laban?” Namun tahun-tahun itu bagi Yakub tidaklah berarti pemborosan. Allah tidak mau pekerjaan Anda. Ia dapat melakukan segalanya cukup dengan mengucapkan sepatah kata saja bila Ia mau. Ia dapat mengadakan sesuatu yang tidak ada (Rm. 4:17). Bila Ia ingin sesuatu, Ia cukup mengatakan satu kalimat saja dan jadilah hal itu. Ia tidak membutuhkan bantuan Anda. Akan tetapi Allah tidak dapat mengubah Yakub hanya dengan mengatakan, “Yakub, kamu harus menjadi Israel.” Untuk menjadi Israel, Yakub memerlukan suatu proses yang sangat panjang. Inilah hayat.
Kita semua harus diselamatkan dari pekerjaan ke dalam hayat. Entah Anda tinggal di rumah atau membersihkan balai sidang, itu sesungguhnya bukan perkara yang penting. Saya tidak mengatakan balai sidang tidak perlu dibersihkan. Saya mengatakan entah kita tinggal di rumah, atau datang ke balai sidang, bahkan masuk ke surga, itu tidak berarti apa-apa. Yang penting adalah apa adanya kita ini. Kalau Anda tinggal di rumah, hal itu seharusnya bukan menurut pengurapan minyak saja, tetapi juga menurut hukum hayat. Mungkin ada beberapa saudara yang dipimpin oleh pengurapan minyak untuk tinggal di rumah, namun ketika di rumah, mereka lalu bertengkar dengan istri mereka, sebab mereka tidak hidup menurut hukum hayat. Ketika mereka di rumah, mungkin istri mereka akan berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku, dan selamatkan lah aku. Suruhlah suamiku pergi ke balai sidang saja! Aku tidak ingin kehadirannya di rumah, sebab ia terus merusuhi aku.” Saudara semacam ini kalau tinggal di rumah merusuhi istrinya, kalau datang membersihkan balai sidang, ia juga akan merusuhi saudara-saudara yang lain. Ke mana saja ia pergi, ia pasti merusuhi orang, sebab hayatnya belum mengalami perubahan. Coba Anda lihat seekor anjing, di mana saja ia berada pasti merusuhi orang. Jangan Anda kira kalau ia berada di tempat yang jorok baru merusuhi orang, dan jika ia berada di ruang tamu tidak merusuhi orang. Lingkungan boleh berubah, tetapi seekor anjing tetap seekor anjing. Demikian pula, entah tinggal di rumah, atau membersihkan balai sidang, saya tetaplah saya. Boleh jadi istri saya merasa takut kalau saya tinggal di rumah, dan saudara-saudara juga mungkin takut melihat saya datang ke balai sidang. Mereka akan berkata, “Berhati-hatilah terhadap saudara ini. Jangan menyentuh dia. Ia sangat rapuh. Kalau Anda menyentuhnya, ia akan hancur.” Saudara semacam ini mungkin memiliki pengurapan minyak, tetapi tidak hidup menurut hukum hayat. Yang dapat mengubah kita hanyalah hukum hayat, bukan pengurapan minyak.
FUNGSI PENGURAPAN MINYAK
Walaupun pengurapan minyak tidak dapat mengubah kita, namun ia mempunyai fungsi yang indah. Pertama, pengurapan minyak dapat menegur kita, dan kedua, dapat menyuruh kita kembali kepada hukum hayat. Kita semua mungkin salah tangkap terhadap maksud 1Yohanes 2:27 yang mengatakan, “Pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu.” Pengurapan tidak mengajar kita melakukan segala sesuatu, ia hanya mengajar kita tinggal di dalam Kristus. Misalnya, ada saudara saudari merasa sangsi boleh pergi berbelanja atau tidak, dan mereka berdoa, “Tuhan, boleh kah aku pergi berbelanja, atau harus diam di rumah? Tuhan, berikanlah pengurapan minyak kepadaku.” Mungkin Tuhan akan berkata, “Pengurapan-Ku tidak memperhatikan engkau pergi berbelanja atau diam di rumah. Pengurapan-Ku hanya memperhatikan apakah engkau tinggal di dalam-Ku. Asalkan engkau tinggal di dalam-Ku, engkau boleh pergi ke mana saja. Bila engkau tinggal di dalam-Ku, apa pun yang kau perbuat pastilah benar.” Jika kita tinggal di dalam Kristus, kita boleh pergi ke mana saja. Tetapi Anda harus ingat ketentuan yang penting ini tinggal di dalam Kristus. Allah tidak memperhatikan ke mana kita pergi atau apa yang kita perbuat. Banyak orang yang hendak menikah berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, bolehkah aku menikah dengan orang ini?” Ada beberapa orang dapat bersaksi, walaupun mereka telah berdoa demikian, Tuhan tidak pernah menjawab doa mereka. Banyak saudara muda berdoa begini, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, apakah saudari ini yang Kaupilih untukku?” Semakin berdoa demikian, mereka semakin bingung. Saya tahu ada beberapa saudari yang berdoa untuk masalah pernikahan sampai sepuluh tahun, namun tanpa menerima jawaban. Andaikata Tuhan menjawab doa mereka, mungkin Tuhan akan berkata, “Aku tidak memperhatikan pernikahanmu. Aku hanya memperhatikan apakah kamu tinggal di dalam-Ku. Bila kamu tinggal di dalam-Ku, kamu boleh menikah. Tetapi jika kamu tidak tinggal di dalam-Ku, kamu tidak seharusnya menikah, sekalipun dengan saudara yang paling baik.” Satu-satunya hal yang terpenting ialah apakah kita tinggal di dalam Tuhan. Dalam ekonomi Allah, perbuatan kita tidaklah penting, yang mutlak penting adalah apa adanya kita. Apa adanya kita tergantung pada hayat yang olehnya kita hidup hari demi hari.
TERPULIH KE DALAM HUKUM HAYAT
Dulu, jika bani Israel meninggalkan inti, yaitu hukum Taurat Allah, Allah lalu mengutus para nabi untuk mengembalikan atau memulihkan mereka. Hari ini, sebagian besar orang Kristen juga telah menyimpang dari inti Allah, yaitu hukum hayat. Karena itu, Surat 1Yohanes ditujukan kepada kekristenan yang telah merosot, yaitu memanggil mereka kembali ke dalam pengurapan minyak. Hukum hayat merupakan satu perkara yang mendasar. Karena ia mendasar, maka ia tercantum dalam Surat Roma, yang merupakan kitab pengajaran yang mendasar. Sebaliknya, masalah pengurapan tidak tercantum dalam kitab-kitab yang mendasar manapun, melainkan tercantum dalam sebuah kitab yang membahas masalah kemerosotan, sebab banyak orang Kristen telah diselewengkan oleh berbagai ajaran antikristus. Dalam Surat 1Yohanes, Yohanes menyuruh mereka memperhatikan pengurapan minyak. Yohanes seolah-olah berkata, “Pengurapan minyak memberi tahu kalian tentang apa yang harus kalian lakukan dan ke mana kalian harus pergi. Janganlah mendengarkan ajaran-ajaran antikristus itu, melainkan patuhilah pengurapan minyak. Pengurapan minyak akan membawa kalian ke dalam hukum hayat.” Satu Yohanes 2 membawa kita kembali ke Roma 8. Tetapi jika kita benar-benar hidup dalam Roma 8, kita tidak perlu 1Yohanes 2. Demikian pula, jika bani Israel tidak pernah menyimpang dari hukum Taurat Allah, mereka tidak memerlukan nabi-nabi. Mulai sekarang dan seterusnya, kita harus hidup menurut hukum hayat, dan bukan hanya bertindak menurut pengurapan minyak.
Allah mementingkan sifat-Nya, tetapi penyertaan-Nya adalah pelindung kita. Sifat Allah ada di dalam kita, kita harus hidup menurut sifat ini. Ini berarti kita harus hidup menurut hukum hayat. Namun kita sering diselewengkan. Pada saat kita diselewengkan, penyertaan Allah akan menaungi, mengawasi, dan memperingatkan kita. Bila kita menyeleweng dari hukum hayat, pengurapan minyak akan berkata, “Tidak!” Setelah kita berkata, “Tuhan, aku bertobat,” pengurapan minyak akan menyuruh kita kembali kepada hukum hayat. Dalam berita yang lalu telah saya katakan bahwa kita harus hidup menurut hukum hayat dan bertindak menurut pengurapan minyak. Pengurapan minyak mewakili penyertaan Allah yang membimbing, mengoreksi, dan membawa kita kembali ke dalam sifat-Nya. Kita harus hidup menurut hukum hayat. Ini berarti kita harus hidup dan bertindak menurut sifat Allah.
Apa sebabnya masalah pengurapan mudah dipahami, tetapi masalah hukum hayat sukar? Kita mudah sekali mengetahui seorang saudara melalui kehadirannya, cukup dengan menatapnya saja sudah bisa. Tetapi untuk mengenal sifatnya memerlukan banyak waktu. Mungkin istrinyalah satu-satunya orang yang mengenal sifatnya, sebab ia telah hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Mungkin kita mengetahui wajah saudara tersebut, tetapi tidak mengetahui sifatnya. Demikian pula, kita mudah mengenal penyertaan Allah, tetapi sukar mengenal sifat-Nya yang ada di dalam kita. Hanya menyuruh orang hidup dalam penyertaan Allah, itu sangat alamiah dan agamis, itu bukan hayat. Namun, untuk mengetahui sifat Allah yang di batin kita dan hidup menurutnya, itu sungguh dalam, justru itulah yang dikehendaki Allah.
PERHATIAN ALLAH
Allah tidak memperhatikan apa yang kita perbuat, yang diperhatikan-Nya ialah apakah apa adanya kita ini menurut sifat-Nya yang ada di dalam kita. Ia tidak terlalu memperhatikan apa yang kita katakan kepada istri kita, tetapi memperhatikan dengan hayat apakah kita berbicara kepada istri kita, atau menurut sifat apakah kita berbicara kepadanya? Kadang-kadang Anda mungkin berkata, “Sayang, aku cinta kepadamu.” Perkataan ini memang indah, tetapi ketika Anda mengucapkannya, mungkin Anda sedang bermain politik. Setiap perkataan yang politis, walaupun menyinggung tentang kasih, sepertilah madu yang telah busuk, sebab ia berasal dari sifat kita yang rusak, bukan berasal dari sifat ilahi yang ada dalam batin kita. Demikian pula, Allah tidak memperhatikan entah Anda pergi ke ladang misi atau tidak. Yang diperhatikan-Nya ialah dengan hayat apakah Anda melakukannya. Saya tidak mengunjungi tempat-tempat yang penuh dosa, sebab sifat ilahi dalam diri saya tidak mengizinkan saya ke sana. Saya tidak hidup menurut agama atau peraturan, saya hidup menurut sifat ilahi yang ada di dalam batin saya. Ketika kita dari hari ke hari hidup menurut sifat ilahi, kita akan dijenuhi dengan Kristus, dan diubah menjadi gambar-Nya. Selama dua puluh tahun di rumah Laban, Yakub tidak berbuat apa-apa, tetapi ia mengalami banyak pengubahan. Yakub bukan berubah dalam sekejap, melainkan lebih dari dua puluh tahun.
Pelayanan gereja bukanlah suatu pelayanan yang dilakukan hanya menurut pengurapan minyak, juga bukan hanya menurut organisasi saja. Jika pelayanan kita hanya seperti itu, tidak lama kemudian pasti kita akan saling bertengkar. Bahkan dalam hal membersihkan kursi, kita pun bisa bertengkar. Salah seorang saudara mungkin berkata, “Apa Anda tidak tahu, ini adalah wilayahku? Jangan jamah hal ini dan jangan ganggu aku. Pergilah ke tempat lain.” Cara pembersihan saudara tersebut mutlak menurut sifatnya yang rusak. Walaupun mungkin ia datang menurut pimpinan pengurapan minyak, tetapi ia melakukannya menurut sifatnya yang jatuh. Hidup menurut hukum hayat lebih penting daripada mengikuti pengurapan minyak. Kita mungkin dipimpin oleh pengurapan minyak dalam membersihkan balai sidang, namun di antara kita tetap tidak ada pembangunan sedikit pun. Setiap kita mungkin menyendiri dan berkata, “Jangan ganggu aku. Kita ada dalam pelayanan gereja yang baru. Dalam pelayanan yang dulu kita mempunyai suatu urutan atau tingkatan. Menurut urutan itu, aku berada di tempat terakhir, maka aku tidak berhak berkata apa-apa. Tetapi kini aku sama dengan kalian semua. Tidak usah memberi tahu aku harus berbuat apa. Aku tidak berada di bawah kalian, aku berada di bawah pengurapan minyak!” Kalau sikap yang demikian tidak timbul dengan segera, pasti akan timbul beberapa minggu kemudian. Seorang saudara yang mengaku dirinya mengikuti pengurapan minyak, namun tidak hidup menurut hukum hayat, bisa berkata, “Kita tidak berada dalam organisasi, kita berada dalam organisme.” Akan tetapi “organisme” ini justru berasal dari sifat bawaan yang rusak. Jika cara hidup kita demikian, mustahil ada pembangunan. Saya tidak dapat menemukan satu ayat dalam kitab Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa pembangunan berasal dari apa yang disebut pengurapan minyak. Tetapi dalam Surat Roma dan Efesus, kita nampak bahwa pembangunan berasal dari pertumbuhan hayat. Semakin kita bertumbuh, kita semakin nampak adanya pembangunan.
Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam hayat? Melalui mematuhi pengurapan minyak yang mengajar kita tinggal di dalam Kristus. Tinggal di dalam Kristus berarti hidup menurut sifat-Nya. Sifat-Nya senantiasa bekerja dan berfungsi dalam batin kita. Seperti telah kita katakan, fungsi sifat hayat adalah hukum hayat. Semakin kita hidup menurut hukum hayat, kita akan semakin diubah menjadi manusia yang dikehendaki-Nya.
PERAMPUNGAN SEMPURNA
PEKERJAAN ALLAH
Berdasarkan Alkitab, pekerjaan Allah sepanjang abad akan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru. Pekerjaan Allah bukan rampung sempurna pada suatu pekerjaan, sebab di dalam Yerusalem Baru tidak ada pekerjaan. Apa adanya Yerusalem Baru adalah memiliki gambar Allah. Jadi, apa adanya Yerusalem Baru adalah menjadi ekspresi Allah. Hidup gereja hari ini seharusnya merupakan miniatur Yerusalem Baru.
Kita tidak seharusnya terlalu memperhatikan pekerjaan, tetapi harus memperhatikan apa adanya kita, apa adanya kita ialah menurut sifat Allah di dalam kita. Saya ingin mendengar seorang saudara atau saudari bersaksi demikian, “Syukur kepada Allah, akhir-akhir ini aku telah hidup menurut hukum hayat yang di batinku. Kemarin malam aku diselewengkan dari hukum hayat, tetapi pengurapan minyak telah mengingatkan aku dan menyuruhku kembali kepada sifat ilahi yang di dalamku. Beberapa menit kemudian, aku kembali ke hukum hayat, dan sekarang aku telah hidup menurut hukum hayat lagi.” Saya juga senang mendengar seorang saudara bersaksi, “Pagi tadi aku ingin berbicara manis dengan istriku, tetapi politis. Karena perkataanku tidak sesuai dengan sifat ilahi Allah yang ada dalam batinku, maka perkataan itu belum habis ku ucapkan, aku sudah tidak berdaya meneruskannya.” Belajarlah hidup menurut hukum hayat. Pengurapan minyak adalah penyertaan Allah untuk membimbing, membetulkan, dan mengembalikan kita kepada hukum hayat. Hukum hayat lah yang bekerja di dalam kita dan mengubah kita. Jika saudara saudari di tiap gereja mau hidup menurut sifat ilahi Allah yang ada di dalam batin mereka, tentu hari ini Tuhan akan memiliki kesaksian yang unggul di bumi. Kesaksian ini akan mempermalukan musuh, dan membawa Tuhan kembali. Inilah perkara yang dinanti-nantikan Tuhan. Kita semua harus nampak bahwa ini bukan hanya masalah mengikuti pengurapan minyak, melainkan mutlak sebagai masalah hidup menurut hukum hayat, yaitu menurut fungsi sifat ilahi Allah yang ada di dalam batin kita. Ketika sifat Allah bekerja di batin kita, kita akan benar-benar dibuat serupa dengan Dia, yakni diubah dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Dengan cara inilah Allah memperoleh keputraan yang lengkap bagi ekspresi-Nya yang korporat.