← Daftar isi Ibrani (4) · bab 15/17

KEGENAPAN KEPUTRAAN

Keputraan adalah inti wahyu Allah dalam Perjanjian Baru. Keputraan ialah kehendak Allah. Kehendak Allah ini hanya dapat dipuaskan melalui membuat Putra-Nya menjadi contoh atau model. Model ini harus tergarap ke dalam diri kita. Yang tergarap ke dalam kita tidak hanya Juruselamat atau hayat ilahi, tetapi juga model keputraan, yaitu Putra sulung Allah. Kita telah mengatakan bahwa ada perbedaan yang besar sekali antara Putra tunggal Allah dengan Putra sulung Allah. Pada diri Putra tunggal tidak ada sifat insani, Dia bersifat ilahi tetapi bukan insani. Seba-liknya, pada diri Putra sulung ada sifat ilahi maupun sifat insani, sebab Ia tidak saja Putra Allah, juga Putra Manusia. Putra Manusia telah dimasukkan ke dalam keputraan melalui kebangkitan-Nya. Kini Putra sulung ini memiliki sifat ilahi dan sifat insani, dan telah digarapkan ke dalam diri kita.

DITENTUKAN MENGAMBIL BAGIAN

DALAM KEPUTRAAN

Dalam Efesus 1:5 dikatakan bahwa kita telah ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak Allah. Jadi, keputraan ialah nasib kita. Kita tidak saja ditentukan beroleh selamat. Keselamatan merupakan proses, yaitu suatu cara untuk mencapai sasaran, bukan sasarannya. Sasaran Allah ialah keputraan. Pengampunan, pembenaran, keselamatan, dan kelahiran kembali Allah, semuanya berinti pada keputraan. Allah mengampuni kita, membenarkan kita, menyelamatkan kita, dan melahirkan kita kembali, agar kita boleh menjadi putra-putra-Nya.

PROSES PENGUDUSAN, PENGUBAHAN,

DAN PENYERUPAAN

Keputraan mempunyai suatu permulaan dan penggenapan. Ia berawal dari kelahiran kembali dan akan genap pada pemuliaan. Di antara kelahiran kembali dengan pemuliaan terdapat proses pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan. Banyak orang Kristen pernah mendengar tentang pengudusan. Namun konsepsi pengudusan dalam kekristenan jauh berbeda dengan pengudusan yang tercantum dalam Alkitab. Memang kosakata dan istilahnya sama, tetapi pengertiannya jauh berbeda, karena kamus kekristenan hari ini berlainan dengan kamus Alkitab. Menurut firman Alkitab yang murni, pengudusan berarti dipenuhi oleh unsur model Kristus. Semakin banyak kita dipenuhi oleh unsur Putra sulung, kita akan semakin banyak dipisahkan dari dunia kepada Allah. Melalui pengudusanlah kita dipisahkan dari dunia, bukan oleh pengajaran atau mujizat-mujizat, melainkan oleh penjenuhan unsur ilahi dan insani dari model ini.

Seluruh diri kita seperti suatu noda hitam. Pada suatu hari, unsur ajaib dari model ini masuk ke dalam roh kita dan menguduskannya. Bagaimana dengan bagian diri kita selebihnya? Kita harus mengakui bahwa sisanya itu masih sangat gelap. Walaupun Anda mengira diri sendiri lumayan baik, bermoral, etis, bahkan sangat “rohani”, tetapi Anda tetap gelap. Mungkin Anda berada dalam kubur yang gelap-gulita. Entah Anda baik atau buruk, benar atau salah, bermoral atau amoral, rohani atau tidak rohani, diri Anda tetaplah gelap. Bila orang berkontak dengan Anda, mereka akan merasakan kekelaman Anda. Anda tinggal di dalam sel bawah tanah yang kelam dari agama dan etika Anda, pada diri Anda tidak ada suatu pun yang tembus cahaya. Karena Anda sedemikian gelap dan tidak tembus cahaya, maka Anda perlu dikuduskan oleh penjenuhan unsur ajaib dari model ini ke dalam diri Anda. Semakin banyak Kristus berkembang di dalam Anda, Anda akan semakin banyak dikuduskan dan dipisahkan dari dunia. Inilah makna pengudusan.

Pengubahan berkaitan dengan pengudusan. Semakin banyak kita dijenuhi oleh unsur Kristus, semakin banyak kita dikuduskan dan kita akan semakin banyak diubah. Kita telah sering menegaskan bahwa pengubahan bukanlah suatu perubahan, pembetulan, atau koreksi yang lahiriah, melainkan berarti pengubahan secara metabolis, yakni perubahan hayat, sifat, dan bentuk. Pengudusan adalah untuk pengubahan, sedang pengubahan untuk penyerupaan. Kita harus diubah dulu, baru dapat diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah (Rm. 8:29). Karena belas kasihan Allah, kini kita berada dalam hidup gereja, di mana kita dikuduskan, diubah, dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Hal ini lebih dalam dan lebih tinggi daripada moral, etika, atau lebih dalam daripada “kerohanian”. Beberapa pengajaran tentang apa yang disebut “ajaran kerohanian” hanyalah kesia-siaan. Kerohanian sejati adalah penyerupaan. Menjadi rohani tergantung pada penyerupaan dengan gambar Putra sulung Allah. Tidak ada usaha, jerih lelah, atau peniruan manusia yang dapat membuat hal ini. Hal ini hanya dapat dihasilkan oleh model yang berhuni di batin, yaitu Putra sulung Allah yang riil dan hidup, yang bekerja secara otomatis di dalam kita. Ketika Ia bekerja di dalam kita melalui hukum hayat, Ia mengurapi kita dari dalam secara terus-menerus.

HUKUM TAURAT DAN PARA NABI

Karena kita adalah putra-putra Allah menurut hukum hayat dan pengurapan minyak, maka kita adalah umat Allah. Allah adalah Allah kita menurut hukum hayat dan pengurapan minyak. Pada zaman dahulu, Allah memanggil umat-Nya, bani Israel, keluar dari antara orang kafir, dan memberikan hukum Taurat kepada mereka. Allah menjadi Allah mereka, mereka menjadi umat-Nya menurut hukum Taurat harfiah yang lahiriah. Jika hubungan mereka benar terhadap hukum Taurat, berarti mereka benar pula terhadap Allah. Kemudian, karena mereka menyimpang dari hukum Taurat, datanglah para nabi. Jadi, Perjanjian Lama mencakup hukum Taurat dan para nabi.

Hukum Taurat berhubungan dengan sifat Allah yang tidak berubah. Dari zaman dulu hingga kekekalan, sifat Allah tidak berubah. Hukum Taurat tidak bisa berubah, tetapi nabi-nabi bisa berubah. Seorang nabi Allah hari ini mungkin berkata begini kepada Anda, tetapi besok perkataannya berbeda. Jika Anda minta petunjuk seorang nabi tentang rencana pergi ke suatu tempat, mungkin ia membenarkan kepergian Anda, namun jika besok Anda bertanya lagi kepadanya tentang hal yang sama, ia mungkin melarang Anda pergi ke situ. Allah itu hidup. Sebagai Allah yang hidup, Ia memiliki persona yang tertinggi dan kekuasaan yang penuh untuk menyatakan demikian kepada kita hari ini dan mengatakan yang lain besok. Karena itu, perkataan nabi bisa berubah. Hukum Taurat sesuai dengan sifat Allah, tetapi para nabi sesuai dengan aktivitas atau pergerakan Allah. Mungkin Allah hari ini menghendaki Anda tinggal di tempat Anda sekarang berada, tetapi mungkin Ia menyuruh Anda ke tempat lain besok. Namun hukum Taurat adalah sama terhadap setiap orang. Misalnya, hukum memerintahkan Anda menghormati orang tua Anda. Allah tidak mungkin menyuruh Anda menghormati orang tua Anda pada hari ini dan menyuruh Anda membenci mereka besok. Tidak, sebab hukum Taurat selalu konstan. Namun, bila Anda membaca Perjanjian Lama, Anda akan melihat para nabi berbeda satu sama lain. Pada zaman dahulu, Allah menjadi Allah bagi umat-Nya berdasarkan hukum Taurat dan para nabi, umat-Nya pun menjadi umat bagi-Nya menurut hukum Taurat dan para nabi.

Apakah yang ada pada kita dalam Perjanjian Baru yang dapat kita samakan dengan hukum Taurat dan para nabi dalam Perjanjian Lama? Hukum Taurat dapat disamakan dengan hukum hayat, sedang para nabi dapat disamakan dengan pengurapan minyak. Hukum hayat batiniah sepadan dengan sifat Allah, dan pengurapan minyak sepadan dengan pergerakan Allah. Hukum hayat selalu sama dan tidak berubah, baik terhadap Anda maupun orang lain. Seandainya malam ini Anda ingin ke bioskop, hukum hayat batiniah akan melarang Anda, bahkan melarang Anda besok atau kapan saja. Namun pengurapan minyak bisa berubah. Pengurapan minyak mungkin tidak mengizinkan Anda pergi ke toserba malam ini, tetapi bisa jadi menganjuri Anda pergi besok. Walau hukum hayat tidak akan mengizinkan Anda membeli sebuah lampu yang lucu, tetapi pengurapan minyak kadang-kadang mengizinkan atau tidak mengizinkan Anda pergi ke toserba. Tidak hanya demikian, pengurapan minyak mungkin mengizinkan seorang saudara pergi berbelanja, tetapi melarang saudara lainnya berbuat hal yang sama. Dengan ini kita nampak bahwa pengurapan minyak bisa berubah. Jika saya ingin berbicara kepada Anda dengan nada menghakimi, hukum hayat pasti akan berkata, “Jangan, jangan berbuat demikian.” Tetapi apakah saya harus membicarakan Surat Ibrani dalam sidang malam ini, itu tergantung pada pengurapan minyak. Mungkin pengurapan minyak malam ini mendorong saya membicarakan Surat Ibrani selama empat puluh lima menit, tetapi pada sidang berikutnya, pengurapan minyak mungkin berkata, “Janganlah berbicara apa-apa dalam sidang ini. Istirahatlah.” Dari contoh-contoh ini kita nampak bahwa hukum hayat tetap sama, sedang pengurapan minyak sering berubah. Berdasarkan hukum dan pengurapan inilah kita menjadi umat Allah, Allah menjadi Allah kita. Alangkah berbedanya hal ini dengan agama! Di sini tidak ada peraturan, bentuk, upacara, atau pengaturan yang lahiriah. Di sini hanya ada hukum hayat dan pengurapan minyak.

Lebih dari empat belas tahun yang lampau, saya diundang ke rumah seorang Yahudi di New York. Orang ini berlatar agama Yahudi asli. Ia memberi tahu saya bahwa orang Yahudi asli melakukan setiap hal berdasarkan satu ayat Alkitab Perjanjian Lama. Ketika hendak tidur pada malam hari, bahkan kasut mereka pun harus ditempatkan ke arah yang sesuai dengan ayat Perjanjian Lama. Mereka benar-benar “Alkitabiah” dan sangat agamis. Di antara mereka banyak sekali peraturan, tetapi tidak ada hayat. Orang-orang Yahudi asli ini menganggap diri mereka adalah umat Allah dan Allah adalah Allah mereka berdasarkan agama mereka. Sebenarnya, Allah terpaut jauh sekali dengan mereka. Allah bukanlah Allah mereka dan mereka bukanlah umat Allah berdasarkan cara-cara mereka. Tetapi hari ini, Allah menjadi Allah kita berdasarkan hukum hayat dan pengurapan minyak.

HUKUM HAYAT DAN PENGURAPAN MINYAK LAWAN KETENTUAN DAN ORGANISASI

Walau kita mungkin sudah jelas akan masalah ini secara doktrinal, tetapi dalam pengalaman kita mungkin masih kabur. Dalam hidup gereja kita harus hidup menurut hukum hayat, dan bergerak menurut pengurapan minyak; namun secara tidak sadar kita perlahan-lahan hidup menurut ketentuan dan peraturan dan bergerak menurut organisasi. Pada mulanya, hidup gereja tidaklah demikian, melainkan yang hidup; kita semua hidup menurut hukum hayat batiniah dan bergerak menurut pengurapan minyak. Tetapi lambat laun, hidup yang menurut hukum ini berubah menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan itu berubah lagi menjadi suatu ketentuan. Karena itu, sekarang kita hidup menurut ketentuan dan bergerak menurut organisasi. Karena kita telah terorganisir, maka kita mengabaikan pengurapan minyak. Saya sungguh suka sekali melihat kaum saleh yang terkasih datang membersihkan balai sidang menurut pengurapan minyak, bukan menurut suatu pengaturan atau organisasi. Kalau dalam kelompok pelayanan kita selalu memperhatikan siapa yang pertama, siapa yang kedua, dan siapa yang terakhir, kita akan menjadi suatu organisasi. Dalam organisasi orang tidak perlu berdoa dan berkontak dengan Tuhan, tidak perlu bergerak menurut pengurapan minyak, sebab setiap hal sudah diatur dengan rapi, dan kita telah diberi tahu harus berbuat apa dan kapan melakukannya. Seorang saudara yang bukan pewajib mungkin berkata, “Aku bukan yang pertama, juga bukan yang terakhir, apa pun yang kulakukan pasti betul. Aku tidak perlu mencari dan bertanya kepada Tuhan harus kapan melakukan pembersihan, sebab waktunya telah diumumkan. Jika aku terlambat beberapa menit, tentu tidak ada pengaruhnya.” Ketika saudara ini datang, ia akan diam menunggu orang menyuruhnya melakukan sesuatu. Jika saudara yang memimpin tidak datang, ia juga tidak tahu harus bagaimana berfungsi. Ini bukanlah cara pelayanan yang kita jumpai dalam Perjanjian Baru.

HIDUP YANG DIWAHYUKAN

DALAM PERJANJIAN BARU

Menurut Perjanjian Baru, hukum hayat tertulis di dalam kita. Sebenarnya, penulisnya sendiri, yakni Allah, ada di dalam kita. Melalui masuk ke dalam kita, Ia pun membawakan sifat-Nya dan persona-Nya ke dalam kita. Sifat ini bekerja, sedang persona-Nya bergerak. Karena itu, kita harus hidup menurut sifat-Nya dan bergerak menurut persona-Nya. Kita harus membersihkan balai sidang menurut gerakan-Nya. Jangan perhatikan kedudukan atau pangkat dalam pelayanan gereja, perhatikan saja persona yang hidup ini di dalam Anda. Inilah hidup yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Dibandingkan dengan kitab Perjanjian Lama, kitab Perjanjian Baru lebih pendek; kitab Perjanjian Lama lebih dari seribu halaman, tetapi kitab Perjanjian Baru hanya kurang lebih tiga ratus halaman. Dalam aspek tertentu, agama Kristen hari ini telah menjadi agama pengajaran dan mujizat. Saya berharap agar dalam pemulihan Tuhan kita memahami dengan jelas bahwa kita tidak perlu pengajaran dan mujizat yang terdapat dalam agama. Kita harus dengan sederhana hidup menurut sifat Kristus yang ajaib, dan bergerak menurut persona-Nya yang ajaib pula. Jangan bersandar pada ketentuan, pengaturan, atau organisasi. Bergerak dan bertindaklah menurut persona hidup yang ada di dalam Anda. Kalau demikian, kita pasti menikmati Allah dan menjadi umat-Nya. Allah juga akan menjadi hidup, kaya, dan dapat dinikmati oleh kita. Ia akan menjadi Allah kita, bukan menurut ketentuan, melainkan menurut hukum hayat batiniah dan pengurapan minyak. Inilah operasi sifat ilahi dan insani dari persona yang ajaib ini.

PERLU DISELAMATKAN DARI “AGAMA”

Mungkin kalian merasa heran mengapa saya begitu menentang “agama”. Penyebabnya adalah karena saya pernah mengalami banyak perkara, khususnya pengajaran dan bahasa lidah. Di masa lalu, saya pernah mengajar banyak orang untuk berbahasa lidah. Tetapi setelah berselang sejangka waktu, saya nampak berbahasa lidah hanya menggerakkan atau merangsang orang untuk sementara waktu, tidak begitu menghasilkan hayat. Saya juga pernah berada dalam kekristenan fundamental, di mana saya mempelajari ajaran-ajaran Alkitab. Lebih dari empat puluh lima tahun yang lampau, saya sangat mengenal atau paham segala macam lambang, ajaran-ajaran, dan nubuat Alkitab. Ajaran-ajaran itu membuat diri saya “mati” selama tujuh setengah tahun. Karena itu, saya cukup mempunyai kedudukan untuk mengumumkan bahwa kita tidak perlu pengajaran-pengajaran yang harfiah. Setelah lewat sejangka waktu, saya juga mengikuti pergerakan karismatik atau Pentakosta. Sekarang saya menerima amanat dan beban dari Tuhan untuk menyuplaikan Kristus sebagai hayat kepada umat-Nya. Kalau kalian telah diselamatkan sepenuhnya dari perkara-perkara lain, beban saya barulah terlepas. Roh itu tahu betapa perlunya kalian diselamatkan. Bukan mereka yang berada dalam kekristenan saja, bahkan kita, yang berada dalam gereja pun perlu memahami masalah keputraan. Kita harus nampak bahwa hayat adalah satu-satunya jalan yang memungkinkan tergenapnya keputraan di dalam diri kita. Tujuan operasi hukum hayat dalam batin kita adalah untuk melaksanakan dan menggenapkan keputraan.

JALAN ALLAH MEMPIMPIN

BANYAK PUTRA MEMASUKI KEMULIAAN

Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Allah akan memimpin banyak putra (anak) ke dalam kemuliaan. Bagaimanakah Allah memimpin banyak putra ke dalam kemuliaan? Apakah semua orang Kristen dari hari ke hari tetap dalam keadaannya, hingga pada suatu hari mereka tiba-tiba dibawa ke dalam kemuliaan? Sudah tentu tidak! Dalam 1Korintus 15, Paulus mengatakan bahwa kebangkitan mirip dengan pertumbuhan pohon. Setelah benih ditanam ke dalam tanah, benih itu mati, lalu mulai bertumbuh. Pada mulanya, pohon itu merupakan tunas yang lembut. Tunas lembut itu kemudian bertumbuh terus hingga mencapai kematangan dan berbunga. Berbunga itulah pemuliaannya. Berbeda dengan jamur atau cendawan, pohon tidak dimuliakan dengan sekonyong-konyong. Tidak, melainkan melalui berangsur-angsur bertumbuh. Demikian pula, kita semua telah dilahirkan kembali dan sedang dalam pertumbuhan. Banyak orang seperti tunas-tunas lembut yang harus menempuh perjalanan panjang sebelum mencapai pemuliaan. Di antara kelahiran kembali dengan pemuliaan tercakup proses pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan dengan gambar Putra sulung Allah. Di antara kita ada sebagian kecil yang telah bertumbuh dalam hayat setelah lewat beberapa tahun, dan mereka telah mencapai tepi pemuliaan. Mereka sudah siap untuk berbunga. Bagaimanakah Anda? Bila Anda masih berupa tunas lembut, Anda belum siap untuk berbunga. Anda harus bertumbuh terus hingga mencapai kematangan. Lalu, pada waktu Anda matang, Anda akan berbunga di dalam kemuliaan. Dengan jalan inilah Allah memimpin banyak putra ke dalam kemuliaan.

PEMULIAAN — KEGENAPAN KEPUTRAAN

Pada butir ini kita perlu membaca Roma 8:29-30, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ayat 30 tidak mengatakan, “Mereka yang dibenarkan-Nya, dinaikkan-Nya ke surga.” Tidak, melainkan “mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Kita juga perlu membaca Roma 8:16-17, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Ayat 17 bukan mengatakan kita akan dibawa ke surga. Tidak, melainkan mengatakan kita akan “dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Sasarannya ialah mendapatkan kemuliaan. Mendapatkan kemuliaan ini ialah kesempurnaan dan kegenapan penyerupaan. Dengan kata lain, mendapatkan kemuliaan adalah kesempurnaan dan kelengkapan keputraan. Keputraan telah di mulai di dalam kita, tetapi belum disempurnakan dan belum digenapkan. Kini kita sedang mengalami proses pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan. Dari hari ke hari kita dijenuhi oleh persona ajaib yang berhuni di dalam batin kita. Ia selalu mencari kesempatan untuk mengembangkan diri-Nya ke dalam tiap bagian diri kita. Ia ingin menjenuhi kita hingga kita dikuduskan, diubah, dan diserupakan dengan gambar-Nya, dan mencapai kesempurnaan dan kegenapan keputraan. Inilah kehendak Allah pada hari ini.

Ini bukan masalah menjadi benar atau salah, sombong atau rendah hati, bermoral atau amoral, bahkan bukan menjadi “rohani” atau tidak rohani. Allah tidak memperhatikan perkara-perkara itu. Lebih dari tiga puluh tahun yang silam, saya bersama-sama dengan sekelompok orang menuntut kerohanian. Tetapi semakin kami menuntut kerohanian, kami semakin menjadi tidak rohani. Bahkan menuntut apa yang disebut “kerohanian” adalah kesia-siaan. Allah berkehendak menyerupakan kita dengan Putra-Nya. Putra-Nya adalah model yang telah tergarap ke dalam kita dan sedang menunggu kesempatan untuk menjenuhi kita dengan unsur-Nya. Kita perlu bekerja sama dengan Dia melalui hidup menurut sifat-Nya dan bergerak menurut persona-Nya. Kita harus berkata, “Tuhan, aku tidak peduli masalah kerohanian. Aku hanya ingin hidup menurut sifat-Mu dan bergerak menurut persona-Mu.” Bersandar belas kasihan Tuhan, sepanjang tahun-tahun ini saya telah hidup dan bergerak secara demikian. Karena ini pula saya telah dikecam orang, sebab saya telah menolak untuk bertoleransi terhadap segala sesuatu yang berasal dari “agama”. Setelah mengalami pengajaran-pengajaran dan hal-hal Pentakosta, saya dapat bersaksi bahwa segalanya itu tidak pernah berhasil dan tidak dapat menyuplai kita. Walaupun mereka dapat membantu sedikit, namun tidak bisa menyuplai kita. Akan tetapi, jika Anda hidup menurut sifat persona ajaib ini, dan bergerak menurut persona-Nya, Anda akan beroleh suplai yang berlimpah, bahkan orang lain pun akan beroleh suplai melalui Anda. Inilah yang diperlukan dalam hidup gereja dewasa ini.

Hidup gereja dalam pemulihan Tuhan mutlak berbeda dengan “agama” Kristen. Karena kita berbeda, orang menghakimi kita, mengecam kita sesat. Saya mengakui memang kita berbeda, tetapi kita bukan sesat. Pengenalan Alkitab kita berdasar pada firman yang murni dengan terang surgawi. Kita tidak mempedulikan pengajaran-pengajaran yang tradisional. Kita hanya mengikuti firman Allah yang murni dalam Alkitab. Walaupun kita berlainan dengan tradisi, namun kita mutlak sesuai dengan Alkitab.

Operasi hukum hayat dan operasi pengurapan minyak akan menggenapkan keputraan di dalam diri kita. Kita semua telah ditentukan untuk beroleh keputraan, kini kita sedang menempuh proses untuk dijadikan putra Allah sepenuhnya. Hari ini hukum Taurat kita adalah hukum hayat, dan nabi kita ialah pengurapan minyak. Seperti telah kita bahas, hukum ini sesuai dengan sifat Kristus dan nabi ini sesuai dengan persona-Nya. Kita hidup menurut sifat-Nya dan kita bergerak menurut persona-Nya. Demikianlah kedudukan kita. Saya menengadah kepada Tuhan, semoga kita semua nampak hal ini. Ini harus kita suplaikan kepada setiap orang saleh dalam hidup gereja. Kita tidak memperhatikan pengajaran-pengajaran yang harfiah, juga tidak memperhatikan mujizat-mujizat yang lahiriah. Kita hanya memperhatikan hukum hayat dan pengurapan minyak yang batiniah.

Allah kita sejati dan hidup. Di di dalam kita pun Ia sejati dan hidup; bukan menurut “agama”, bukan pula menurut pikiran manusia. Setelah di dalam Putra mengalami inkarnasi dan kebangkitan, memiliki sifat ilahi dan insani, Ia lalu masuk ke dalam kita sebagai persona hidup yang bersifat ajaib. Sifat-Nya sekarang sedang berfungsi di batin kita. Kita telah nampak bahwa fungsi sifat-Nya adalah operasi hukum hayat, dan operasi persona-Nya adalah pengurapan minyak. Dalam hidup gereja, kita tidak memperhatikan pengajaran, doktrin, mujizat dan “karunia”. Hari demi hari kita hanya memperhatikan persona hidup dan sifat-Nya yang ajaib ini. Sifat-Nya tidak akan berubah selamanya, dan senantiasa bekerja dalam batin kita, untuk mengembangkan unsur-Nya ke dalam diri kita. Selain itu, pengurapan-Nya juga membimbing kita secara terus-menerus dalam tindakan, pergerakan, dan perilaku kita. Jadi, kita hidup dan bergerak berdasarkan sifat dan persona-Nya. Dengan demikianlah Ia berangsur-angsur menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita. Semakin banyak Ia tergarap ke dalam kita, semakin banyak pula kita mencapai kesempurnaan dan kemuliaan Putra Allah. Jika kita nampak hal ini, kita tidak mungkin diselewengkan lagi oleh perkara-perkara lainnya. Gereja adalah perkara hayat. Hayat ini justru adalah persona yang ajaib, yang pernah mengalami inkarnasi dan kebangkitan, dan kini menjadi Roh pemberi hayat, yang memiliki sifat ilahi dan insani. Ketika kita hidup menurut sifat-Nya, dan bergerak menurut pengurapan minyak-Nya, kita akan bertumbuh dan akan dijenuhi, diubah bahkan diserupakan dengan gambar-Nya, sehingga akhirnya dimatangkan di dalam keputraan dan siap terangkat. Saat itu barulah kita siap sedia untuk berjumpa denagn Tuhan.