← Daftar isi Ibrani (4) · bab 17/17

FUNGSI HUKUM HAYAT

Dalam Kemah Pertemuan kita nampak gambaran yang jelas tentang pengurapan minyak dan hukum hayat. Pengurapan minyak terdapat di atas Kemah Pertemuan, sebab Kemah Pertemuan dan setiap benda di dalamnya harus diurapi dengan minyak (Kel. 40:9). Kita telah melihat bahwa benda yang terdalam di Kemah Pertemuan ialah loh-loh hukum, yaitu kesaksian hukum Taurat. Dari gambaran ini kita nampak pengurapan berada di luar, tetapi hukum hayat berada di dalam. Dalam Perjanjian Lama, pengurapan adalah untuk peresmian fungsi. Misalnya, di pelataran luar ada mezbah, tetapi sebelum diurapi, mezbah itu tidak dapat difungsikan. Demikian juga, walau Kemah Pertemuan sudah dipancangkan, haruslah diurapi dahulu, baru dapat di fungsikan. Jadi, pengurapan minyak bukan masalah hayat, juga bukan masalah sifat, melainkan masalah peresmian fungsi. Tiap kali Anda mengalami pengurapan minyak, berarti Anda mulai menunaikan fungsi Anda.

Hukum Taurat bukan tersebar di Kemah Pertemuan, melainkan ditempatkan di pusatnya. Di tengah-tengah umat Allah, bani Israel, terdapat Kemah Pertemuan yang dikurung oleh dinding kain lenan halus. Di dalam Kemah Pertemuan ada tempat Kudus, dalam tempat Kudus ada tempat maha kudus, dalam tempat maha kudus ada tabut, dan dalam tabut itulah jantung alam semesta, tempat Allah bersemayam. Pada zaman dahulu, Allah tidak menghendaki umat-Nya melakukan apa-apa, atau mengambil bagian dalam suatu aktivitas. Ia hanya menghendaki mereka hidup dan bertindak menurut hukum Taurat. Seandainya ada seseorang melanggar hukum Taurat, berarti ia melanggar Allah. Allah adalah Allah bani Israel berdasarkan hukum Taurat, dan mereka adalah umat-Nya berdasarkan hukum Taurat pula.

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, masalah pengurapan minyak disinggung beberapa kali. Sebagai contoh: dalam Lukas 4:18 Tuhan Yesus berkata bahwa Ia diurapi untuk memberitakan kabar kesukaan; Ibrani 1:9 mengatakan Tuhan terurap oleh minyak kesukaan. Rasul Yohanes juga mengatakan beberapa kali tentang pengurapan (Yoh. 9:6; 1Yoh. 2:20, 27). Alkitab Perjanjian Baru juga mengatakan hukum hayat batiniah yang muncul dari sifat Allah. Dalam Perjanjian Baru, hayat ilahi tercantum lebih dari seratus kali. Hayat ilahi ini telah disalurkan ke dalam batin kita. Kebanyakan orang Kristen memperhatikan pengurapan luaran, tetapi mengabaikan hukum hayat batiniah. Banyak di antara mereka yang berada dalam apa yang disebut pergerakan karismatik juga membicarakan soal pengurapan minyak. Walaupun mereka mungkin mengalami pengurapan yang terdapat di atas Kemah Pertemuan, tetapi mereka belum lagi memasuki tabut di dalam tempat maha kudus dan menjamah loh-loh hukum itu.

Mata kita perlu dicelikkan untuk nampak betapa pemulihan Tuhan lebih memberatkan hukum hayat daripada pengurapan minyak. Dalam kitab Perjanjian Baru, masalah pengurapan disinggung tidak lebih dari dua puluh kali, tetapi masalah hayat lebih dari seratus kali. Banyak orang Kristen hafal dengan ayat-ayat seperti Galatia 2:20 yang mengatakan, “Bukan lagi aku . . ., melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” Walaupun banyak orang Kristen mengetahui ayat-ayat tersebut, na-mun mereka tidak memperhatikannya. Orang-orang golongan karismatik malahan menaruh perhatian mereka terhadap manifestasi karunia-karunia. Dalam pemulihan-Nya, sekali demi sekali Tuhan mengalihkan kita dari yang lahiriah kepada yang batiniah.

PERLU MENJAMAH KRISTUS SENDIRI

Walaupun kita telah diselamatkan dan berada dalam hidup gereja, tetapi banyak di antara kita yang masih tinggal di pelataran luar gereja. Bahkan ada pula yang berada di jalan di luar pelataran luar. Yang lain telah melalui pelataran luar, mezbah, dan bejana pembasuhan, telah masuk ke tempat Kudus di mana mereka menikmati Kristus sebagai roti sajian dan kaki pelita, sebagai suplai hayat dan terang hayat. Syukur kepada Tuhan, banyak di antara kita yang telah menikmati Kristus sedemikian. Tetapi ini tetap masih berada di tempat Kudus. Kita harus maju lagi, hingga masuk ke tempat maha kudus. Di tempat maha kudus kita menjamah tabut, yakni Kristus sendiri! Hari ini Kristus berada di tempat maha kudus. Tempat maha kudus yang melambangkan roh kita telah berhubungan dengan surga, sebab Kristus, persona ini, adalah tangga yang menghubungkan bumi dengan surga, dan membawa surga ke bumi (Yoh. 1:51). Jika kita terus-menerus menjamah Kristus di dalam roh kita, kita akan menikmati-Nya sebagai manna yang tersembunyi dan sebagai tongkat yang bertunas. Kemudian hidup dan tindak tanduk sehari-hari kita tidak akan menuruti pengajaran, pekerjaan, aktivitas, atau pergerakan apa pun, melainkan menuruti hukum hayat, yaitu fungsi sifat Allah Tritunggal. Sifat Allah kini sedang beroperasi dan bekerja di batin kita, yaitu menambahkan unsur Kristus ke dalam kita, mengubah kita, dan menghasilkan putra-putra yang diinginkan Allah.

KELAHIRAN ILAHI

Kebanyakan orang Kristen telah menyimpang dari inti. Ketika masih muda, saya pernah membaca banyak buku tentang kemenangan atas dosa. Buku-buku itu menyajikan berbagai macam cara untuk menanggulangi dosa. Namun, tidak ada satu pun dari cara-cara itu yang pernah berhasil. Akhirnya saya menemukan sebuah kata yang mustika dalam 1Yohanes 3:9 “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (Tl.). Entah kita berbuat dosa atau tidak, tergantung pada apakah kita telah dilahirkan dari Allah. Yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa. Tidak hanya demikian, 1Yohanes 5:4 mengatakan, “Sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia.” Karena itu, mengalahkan dosa dan mengalahkan dunia tidak tergantung pada suatu metode, tetapi tergantung pada kelahiran dari Allah. Ketika kita dilahirkan dari Allah, hayat ilahi beserta sifat dan hukumnya disalurkan ke dalam diri kita. Asal kita memiliki hayat ilahi ini dengan sifat dan hukumnya, segalanya akan beres.

FUNGSI PEMBENTUKAN HUKUM HAYAT

Dalam memahami Alkitab, kita terlalu banyak dipengaruhi oleh konsepsi alamiah pribadi. Dulu pernah saya katakan bahwa hukum hayat itu berfungsi untuk mengatur kita. Berdasarkan konsepsi ini, jika kita sedang ingin berbantah-bantah dengan istri kita, hukum hayat akan mengatur kita. Pengajaran demikian adalah berdasarkan konsepsi alamiah kita, ini tidaklah tepat. Perhatikanlah sebatang pohon apel. Hayat pohon apel memiliki sifat pohon apel, dan dari sifat pohon apel ini muncul hukum hayat pohon apel. Apakah hukum hayat dalam pohon apel mengaturnya agar ia tidak melakukan kesalahan? Mutlak tidak. Hukum hayat apel tidak berfungsi secara demikian. Bagaimanakah ia menyatakan fungsinya? Ketika hayat pohon apel bertumbuh, hukum hayat pohon ini membuat rupa hayat ini terbentuk. Jadi, ketika sebatang pohon apel berbuah, ia akan mengeluarkan bentuk buah apel yang tepat. Begitu pula dengan pohon persik. Karena itu, hukum hayat bukan mengatur kita untuk tidak melakukan kesalahan, melainkan mengatur bentuk hayat.

Jika suatu hayat tidak bertumbuh, hukum hayatnya tidak akan berfungsi. Hukum hanya berfungsi ketika hayat itu bertumbuh. Fungsi utama dari hukum hayat bukan secara negatif menyuruh kita jangan melakukan sesuatu, melainkan dengan positif, ketika hayat bertumbuh, hukum hayat berfungsi, sehingga kita terbentuk menjadi rupa Kristus. Inilah fungsi hukum hayat.

Jangan mengira hukum hayat selalu membetulkan atau mengoreksi Anda. Misalnya, Anda sedang ingin berperang mulut dengan istri Anda. Hukum hayat bukan hanya menahan Anda sehingga Anda tidak jadi bercekcok dengannya. Pekerjaan hukum hayat tidak serendah seperti yang kita bayangkan. Karena adanya konsepsi insani, alamiah, dan agamis, maka kita telah sangat merendahkan fungsi hukum hayat. Kita semua selalu menitikberatkan dosa, memiliki perasaan dosa, tetapi kita tidak seharusnya demikian. Kita selalu teringat akan bagaimana mengalahkan dosa, mengalahkan dunia, mengalahkan daging kita yang jelek, mengalahkan kebiasaan buruk, namun Allah akan berkata, “Lupakanlah segalanya itu! Tidakkah kamu tahu bahwa pada hari kelahiran kembali kamu telah dipindahkan ke satu alam lingkungan yang lain? Lupakanlah alam lingkunganmu yang usang.” Terpujilah Allah, kita telah dilahirkan dari Dia! Kelahiran ilahi ini telah memindahkan kita ke satu alam lingkungan yang baru, yang di dalamnya tanpa dosa, dunia, atau daging. Dalam alam lingkungan ini terdapat fungsi hukum hayat. Ingatlah, fungsi hukum hayat terutama bukan mengatur kita, melainkan membentuk kita menjadi rupa Kristus.

Dulu, meskipun saya sudah mengetahui masalah hukum hayat ini, namun saya sangat terpengaruh oleh pengertian alamiah saya. Saya mengira fungsi hukum hayat terutama untuk mengatur kita. Pengertian alamiah itu telah membatasi saya, sehingga saya tidak nampak fungsi hukum hayat yang sebenarnya. Akhir-akhir ini, saya ditegur oleh Tuhan. Tuhan bertanya kepadaku, “Siapakah yang memberi tahu kamu hukum hayat terutama untuk mengatur? Kamu tidak dapat menemukan satu ayat pun dalam Alkitab tentang perkataan itu. Mengapa kamu tidak memakai kata-kata dalam Roma 8:2 dan 29?” Dalam Roma 8:2 tidak dikatakan hukum hayat mengatur kita untuk tidak berbuat salah. Konsepsi itu semata-mata berdasar pada pengertian kita yang insani, alamiah, etis, dan agamis. Kita perlu visi tentang Roma 8:29. Sekarang kita berada di alam lingkungan lain, dan tidak perlu pengaturan apa pun. Dalam alam lingkungan ini tidak ada dosa, dunia, daging, atau ego. Perhatikanlah dua macam pohon, pohon apel dan pohon persik. Kedua pohon itu tidak memiliki dosa, dunia, daging atau ego. Tetapi kedua pohon itu masing-masing mempunyai satu hukum hayat yang membentuk mereka. Pembentukan oleh hukum hayat tersebut ialah makna istilah “penyerupaan”(ditentukan menjadi serupa, LAI) dalam Roma 8:29. Hukum Roh hayat menyerupakan kita dengan gambar Putra sulung Allah. Ketika hayat bertumbuh, hukum ini menyerupakan kita dengan gambar Kristus. Bagaimana caranya Kristus terbentuk di dalam kita? Hanya melalui operasi positif dari hukum hayat yang membentuk kita dengan bentuk-Nya. Betapa besar perbedaan antara realitas ini dengan konsepsi alamiah kita!

Iblis sungguh licik. Meskipun begitu jelasnya Alkitab menerangkan fungsi hukum hayat, tetapi kita telah dibutakan oleh konsepsi alamiah kita. Banyak orang kudus yang menuntut Tuhan telah dibutakan oleh konsepsi alamiah mereka. Mereka menulis buku tentang cara mengatasi dosa. Jika Anda tidak mencoba mengatasi dosa, dosa itu mungkin tidur di dalam Anda. Tetapi jika Anda mencoba untuk mengalahkannya, ia akan berkata, “Apa! Kamu ingin mengalahkan aku?” Banyak di antara kita memiliki kelemahan. Jika kita tidak memperhatikannya, ia diam dan tidur saja. Tetapi jika kita memperhatikannya, apalagi ingin mengatasinya demi kekudusan kita, ia akan bangkit, lalu menundukkan kita. Karena itu, paling baik kita tidak mengutik-utiknya. Puji Tuhan, kita telah memiliki kelahiran baru, yaitu kelahiran ilahi. Dalam kelahiran baru ini tidak ada kelemahan. Di dalamnya hanya ada hayat ilahi dengan sifat ilahi dan hukum ilahi, yang akan membentuk kita dan menyerupakan kita dengan gambar Kristus. Namun, pembentukan ini memerlukan pertumbuhan hayat, sebab hukum hayat bisa berfungsi hanya bila hayat bertumbuh. Hukum hayat tidak mengatur kita untuk meninggalkan dosa, karena ia tidak berada dalam ruang lingkup dosa; ia berada dalam ruang lingkup hayat ilahi, yang tanpa dosa, dunia, daging, atau ego. Ketika hayat bertumbuh, hukumnya pun beroperasi, tetapi bukan untuk mengatur atau mengoreksi kita, melainkan membentuk kita, menyerupakan kita dengan gambar Putra sulung Allah. Akhirnya, melalui fungsi hukum hayat, kita semua akan menjadi putra-putra Allah yang matang, dan Allah akan beroleh ekspresi-Nya secara universal dan korporat.

PERKATAAN PENUTUP

Allah bertujuan menghasilkan banyak putra, agar Ia dapat beroleh ekspresi yang lengkap dan korporat. Hal ini merupakan sasaran satu-satunya dari ekonomi ilahi-Nya. Putra tunggal Allah, yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud-Nya (Ibr. 1:3), menjadi seorang manusia, mengekspresikan Allah dan menyatakan-Nya dalam kehidupan insani. Dalam keinsanian-Nya, Kristus, Putra tunggal Allah, telah mengekspresikan Allah. Dalam keinsanian-Nya, melalui kebangkitan-Nya, Ia juga dilahirkan sebagai Putra sulung Allah yang memiliki sifat ilahi dan insani. Kini, sebagai Putra sulung Allah, yang memiliki sifat ilahi dan insani, Kristus menjadi model atau pola untuk menghasilkan putra-putra Allah secara massal. Melalui kebangkitan-Nya, semua orang yang percaya kepada-Nya telah dilahirkan kembali menjadi putra-putra Allah. Kita, para putra Allah, yang menjadi saudara-saudara Putra sulung Allah, adalah orang-orang yang tersusun menjadi gereja.

Putra sulung Allah telah disempurnakan dan dimuliakan, dan Ia kini adalah Perintis yang telah masuk ke dalam ruang lingkup kemuliaan. Ia pun menjadi Panglima keselamatan kita yang telah menang perang dan membawa kita, saudara-saudaraNya, ke dalam kemuliaan-Nya. Sekarang Ia di surga sebagai Imam Besar kita, yang sedang menyuplaikan segala apa adanya Diri-Nya, segala yang dirampungkan-Nya, dan segala yang dicapai-Nya, ke dalam kaum beriman-Nya. Pelayanan-Nya di surga adalah pelayanan yang lebih baik dan lebih indah (Ibr. 8:6), karena melalui pelayanan-Nya, Ia menyuplaikan segala apa adanya diri-Nya dan segala yang telah Dia kerjakan ke dalam batin kita dalam hayat kebangkitan-Nya. Di satu pihak, Ia ada di surga sebagai Imam Besar yang menyuplaikan hayat ke dalam kita; di pihak lain, Ia sebagai Roh pemberi hayat, kini ada di dalam roh kita sebagai hayat kita. Dalam hayat yang di batin kita ini, yaitu Kristus yang ajaib, terdapat hukum hayat ilahi yang bekerja dan berfungsi senantiasa dalam batin kita yang terdalam.

Menurut lambang, hukum Taurat adalah kesaksian Allah, sebab hukum itu mengekspresikan apa adanya Allah. Hukum itu terletak dalam tabut di tempat maha kudus dalam Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah. Surat Ibrani mengatakan, kita adalah para saudara dari Putra sulung Allah (2:11), kita adalah gereja (2:12), kita adalah teman sekutu (mitra) Dia yang telah ditetapkan dan diurapi Allah (1:9; 3:14), dan kita pun rumah Allah (3:6). Rumah Allah sama dengan tempat kediaman Allah, yang dilambangkan oleh Kemah Pertemuan yang di dalamnya terdapat tempat maha kudus. Jadi, kita, para saudara Putra sulung Allah, gereja, teman sekutu Dia yang ditetapkan dan diurapi Allah, rumah Allah, adalah tempat kediaman Allah yang sejati hari ini. Dalam tempat kediaman ini terdapat tempat maha kudus. Tempat maha kudus ini adalah roh insani kita yang telah dilahirkan kembali, yang dihubungkan dengan surga, tempat Putra sulung Allah yang telah dimuliakan itu berada.

Kristus kini berada di surga juga dalam roh kita. Di surga, Ia sebagai Imam Besar dalam imamat-Nya yang rajani dan ilahi, sedang menyuplaikan segala apa adanya diri-Nya dan segala yang telah Dia kerjakan ke dalam kita. Di roh kita, Ia sebagai Roh pemberi hayat sedang bekerja dengan hukum hayat. Jadi, pelayanan-Nya di surga dan pekerjaan-Nya di dalam roh kita saling berhubungan. Pelayanan-Nya di surga dirampungkan oleh operasi dan pekerjaan-Nya di dalam roh kita. Kini segala apa adanya diri-Nya dan yang Dia kerjakan telah digarapkan ke dalam kita melalui operasi hukum hayat di roh kita.

Melalui gambaran yang jelas dari seluruh perabot Kemah Pertemuan, kita nampak dengan jelas bahwa sasaran pengalaman atas Kristus yang ajaib ini adalah membawa kita ke tempat maha kudus, agar kita dapat mengambil bagian sepenuhnya dalam fungsi hukum hayat. Seperti telah kita lihat, pertama kita mengalami Kristus menjadi penebusan kita di mezbah di pelataran luar. Setelah itu, kita mengalami Dia sebagai Roh pembasuh dan pembersih di bejana pembasuhan. Ini membawa kita ke dalam tempat Kudus yang memungkinkan kita menikmati Kristus sebagai roti sajian, roti hayat, dan kaki pelita, yakni terang hayat. Berikutnya, kita mengalami Kristus sebagai mezbah ukupan, yang melaluinya kita dibawa ke tempat maha kudus. Di tempat maha kudus inilah kita menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi dan tongkat yang bertunas. Dengan kenikmatan tersebut barulah kita dapat mengambil bagian sepenuhnya dalam hukum hayat. Hanya dalam tempat maha kuduslah, yaitu dalam roh insani kita yang dilahirkan kembali baru kita dapat berbagian sepenuhnya dalam fungsi hukum hayat. Fungsi hukum hayat terutama bukan mengatur kita untuk tidak berbuat salah, melainkan menyerupakan kita dengan gambar, bentuk Putra sulung Allah, agar kita menjadi segambar dan serupa dengan model tersebut.

Surat Ibrani benar-benar sangat dalam. Kedalamannya terletak pada wahyunya atas Kristus yang ditetapkan dan diurapi Allah, sebagai Perintis yang masuk ke dalam ruang lingkup kemuliaan, sebagai Panglima keselamatan yang memimpin para saudara-Nya ke dalam kemuliaan, dan sebagai Imam Besar yang dalam imamat rajani dan ilahi-Nya menyuplaikan segala apa adanya Dia dalam sifat ilahi dan insani-Nya, dan segala yang dicapai-Nya ke dalam para saudara-Nya, agar mereka menjadi reproduksi diri-Nya sendiri, sehingga Allah beroleh ekspresi-Nya yang korporat. Surat Ibrani juga dalam, karena pengungkapannya atas fakta bahwa Kristus yang ajaib, kini bersatu dengan roh kita, yaitu tempat maha kudus dari tempat kediaman Allah hari ini, menjadi hayat kita dengan hukum hayat yang beroperasi dan bekerja menyerupakan kita dengan gambar-Nya. Ini merupakan butir yang terpenting dan menentukan dalam seluruh Surat Ibrani, juga merupakan inti yang sangat penting dari pengalaman atas Kristus yang terwahyu dalam kitab ini. Itulah sebabnya Ibrani 4:12 mengatakan bahwa roh insani kita harus dipisahkan dari jiwa kita, agar kita dapat memasuki tempat maha kudus, menjamah takhta anugerah, dan menikmati anugerah pada waktu kita memerlukannya. Itu pula sebabnya dalam Ibrani 10:22 kita disuruh maju ke depan dengan penuh keberanian memasuki tempat maha kudus, agar kita boleh beroleh bagian dalam fungsi hukum hayat. Melalui fungsi hukum hayat inilah Kristus, yang sekarang melayani di surga, dapat melayankan apa adanya Dia dan segala yang telah dirampungkan dan dicapai-Nya ke dalam diri kita, bukan hanya mengubah kita, tetapi juga menyerupakan kita dengan gambar-Nya, sehingga kita, para saudara-Nya, dapat mutlak serupa dengan-Nya. Dengan cara inilah Allah akan memperoleh banyak putra sebagai ekspresi-Nya yang sepenuh-penuhnya. Inilah sasaran ekonomi ilahi Allah. Sasaran ini hanya dapat tercapai oleh pelayanan Kristus di surga sebagai Imam Besar, dan oleh operasi-Nya selaku Roh pemberi hayat di dalam roh kita melalui hukum hayat.

?

PELAJARAN HAYAT

KITAB IMAMAT

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11 12 13 14 15 16

17 18 19 20