PEMENANG BELAKANGAN DAN KETUJUH CAWAN (1)
PEMENANG BELAKANGAN
I. MERASAI DAN MELEWATI KESUSAHAN BESAR
Wahyu 15:2 mengatakan, “Kemudian aku melihat se-suatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi (atas) lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalah-kan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah.” Kita boleh menyebut orang-orang yang tercantum dalam ayat ini sebagai pemenang be-lakangan, kaum beriman yang telah melewati kesusahan besar dan telah menang atas Antikristus, tidak menyem-bahnya. Orang-orang ini adalah orang-orang yang disinggung dalam 14:12-13, yang akan menjadi martir di bawah peng-aniayaan Antikristus, kemudian dibangkitkan untuk meraja bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun (20:4).
II. TELAH MENANG ATAS BINATANG ITU,
PATUNGNYA DAN BILANGAN NAMANYA
Pemenang belakangan adalah orang-orang yang telah menang atas binatang itu, patungnya dan bilangan nama-nya. Meskipun mereka telah dibunuh oleh Antikristus, da-lam pandangan Allah, mereka itu telah menang. Namun karena mereka menjadi pemenang dalam waktu yang lebih lambat, maka kita sebut mereka itu pemenang belakangan.
III. BERDIRI DI ATAS LAUTAN KACA
A. Dibangkitkan dari Antara Orang Mati
Ayat 2 mengatakan bahwa pemenang belakangan itu berdiri di atas lautan kaca. Hal ini pertama-tama menyatakan bahwa mereka telah bangkit dari kematian.
B. Di Atas Penghakiman Api Allah
Dalam ayat 2 Rasul Yohanes “melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api”. Para pemenang belakangan berdiri di atas lautan kaca. Fakta ini juga menunjukkan bahwa mereka telah diangkat dan berada di atas telaga api (yang diacu oleh lautan kaca, yaitu kematian yang kedua — Why. 4:6; 20:14), juga terlepas dari penghakiman nyala api kekal Allah (14:9-11). Penghakiman tidak ada sangkut-paut-nya dengan mereka.
Lautan kaca ini bukan berisi air, melainkan api. Menurut Alkitab, Allah melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi, malaikat, dan umat manusia yang telah memberontak kepada-Nya, mula-mula dengan air, kemudian dengan api. Setelah Allah menghakimi malaikat pemberontak dan bumi dengan air, maka air penghakiman itu menjadi laut. Lautan api adalah kesimpulan semua api yang dipakai oleh Allah untuk menghakimi berbagai perkara pemberontakan. Jadi, kedua sarana yang dipakai oleh Allah untuk melak-sanakan penghakiman, yaitu air dan api, akan bercampur menjadi satu, mula-mula sebagai lautan kaca, dan terakhir sebagai lautan api. Lautan kaca, sebagai pendahuluan dari lautan api, akan berkembang menjadi lautan api.
Setelah air bah, sesuai dengan janji-Nya, Allah tidak akan menghakimi bumi dan semua makhluk hidup dengan memakai air bah lagi (Kej. 9:15), melainkan selalu mema-kai api dalam melaksanakan penghakiman-Nya atas manu-sia (Kej. 19:24; Im. 10:2; Bil. 11:1; 16:35; Dan. 7:11; Why. 14:10; 18:8; 19:20; 20:9-10; 21:8). Takhta penghakiman Allah seperti nyala api, dari nyala api ini ada api seperti sungai yang mengalir keluar (Dan. 7:9-10). Nyala api penghakim-an Allah akan menyapu semua perkara negatif dalam alam semesta ke dalam lautan kaca ini, yang akhirnya menjadi lautan api (20:14), merupakan kumpulan dari semua api penghakiman Allah.
IV. MEMEGANG KECAPI ALLAH
Para pemenang belakangan memegang kecapi Allah. Mereka tidak memiliki alat-alat musik duniawi. Allah mem-persiapkan kecapi ini bagi mereka, agar mereka memuji-Nya.
V. MENYANYIKAN NYANYIAN MUSA
DAN NYANYIAN ANAK DOMBA
Ayat 3 mengatakan, para pemenang belakangan itu “menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba”. Nyanyian Musa tercantum dalam Keluaran 15:1-18, memuji Allah karena kemenangan atas pasukan Firaun oleh penyelamatan Allah yang menang melalui air penghakiman Laut Merah. Pada waktu itu Musa dan bani Israel menyanyikan nyanyian ini di tepi Laut Merah. Seka-rang para pemenang belakangan menyanyikan lagi nyanyi-an ini di atas lautan kaca, menunjukkan bahwa mereka telah mengalahkan kekuasaan Antikristus, yang akan dihakimi Allah dengan api lautan kaca (19:20). Nyanyian Musa me-nyatakan kemenangan penghakiman Allah atas musuh umat-Nya, memuji Allah atas penghakiman-Nya di pihak negatif-nya; sedangkan nyanyian Anak Domba menyatakan pene-busan Kristus yang dialami oleh umat Allah di hadapan musuh, memuji Allah atas penebusan Kristus di pihak posi-tifnya. Para pemenang belakangan bisa berdiri di atas laut-an kaca karena Allah telah menghakimi musuh dan kare-na Kristus telah menebus umat-Nya. Dalam pujian mereka kepada Allah, pemenang belakangan menyatakan kepada alam semesta bahwa mereka berada di luar penghakiman Allah yang dilaksanakan atas musuh-musuh-Nya dan mereka berbagian dalam penebusan Kristus. Pengalaman mereka ter-hadap kedua hal ini akan menjadi kedua jenis nyanyian itu.
VI. MEMUJI PEKERJAAN DAN JALAN ALLAH
Sewaktu menyanyikan nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba, para pemenang belakangan akan berkata, “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang ku-dus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyem-bah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala pengha-kiman-Mu” (ayat 3-4). Di sini kita nampak para pemenang belakangan memuji pekerjaan dan jalan Allah.
A. Pekerjaan Allah Adalah Perbuatan-Nya
Banyak orang tidak mampu membedakan pekerjaan Allah dengan jalan-Nya. Pekerjaan Allah adalah perbuatan-Nya, yang agung penampilannya dan ajaib sifatnya. Peker-jaan Allah di sini terutama mengacu kepada penghakiman Allah, keputusan Allah atas Antikristus dan pengikut-Nya (14:17-20). Semua penghakiman-Nya agung penampilannya dan ajaib sifatnya.
B. Jalan Allah Adalah Prinsip Pemerintahan-Nya
Pekerjaan Allah adalah perbuatan-Nya, sedang jalan Allah adalah prinsip pemerintahan-Nya. Musa mengenal jalan Allah, tetapi bani Israel hanya memahami perbuatan-perbuatan-Nya (Mzm. 103:7). Prinsip jalan Allah itu adil, dan janji-janji-Nya benar. Jika Anda mengenal jalan Allah, Anda tidak perlu menunggu untuk melihat dulu pekerjaan-Nya. Meskipun pekerjaan-Nya belum terlihat, Anda tahu semua itu akan terjadi, karena Anda mengenal prinsip pe-merintahan-Nya. Sewaktu para martir itu mengalami pen-deritaan dan penganiayaan, mereka tahu bahwa Allah itu adil; mereka tahu, sesuai dengan prinsip pemerintahan ke-adilan-Nya, pada suatu hari, Allah pasti turun tangan dan menghakimi Antikristus serta membalaskan darah mereka. Memang, penghakiman itu masih belum tiba, namun para martir mengenal prinsip Allah, dan mereka memuji Allah atas jalan-Nya dan prinsip pemerintahan-Nya dalam hal memperlakukan orang. Demikian pula terhadap janji-janji Allah, semuanya adalah benar, sejati. Allah berjanji kepada umat-Nya bahwa Ia akan menghakimi orang-orang jahat, mempertahankan jalan-Nya, dan menuntut balas atas da-rah umat-Nya. Karena para pemenang mengenal jalan Allah, mereka percaya Ia pasti menggenapkan apa yang telah dijanjikan-Nya.
Dalam ayat 4 para pemenang memuji Allah, kata-Nya, “Sebab Engkau saja yang kudus.” Kata “kudus” dalam ayat ini dalam bahasa aslinya mengacu kepada kumpulan berba-gai mutu khusus yang sesuai dan membentuk karakter ilahi. Karena itu, “kudus” mengacu kepada sifat Allah, se-dangkan “benar” atau “adil” mengacu kepada prinsip-Nya.
VII. MEMERINTAH BERSAMA KRISTUS
SERIBU TAHUN LAMANYA
Para pemenang belakangan dalam Wahyu 15 akan ter-masuk di antara orang-orang yang hidup dan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (20:4). Wahyu 20:6 lebih lanjut menyatakan bahwa para pemenang belakangan akan bersama orang-orang yang “mendapat bagian dalam kebangkitan yang pertama”, yaitu orang-orang “yang akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia selama seribu tahun”. Para pemenang belakangan akan diberkati dan menjadi kudus, dan kematian kedua tidak akan ber-kuasa lagi atas mereka (20:6). Mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus dan bahkan meraja bersama Kristus, memerintah bersama Dia atas bangsa-bangsa dalam kerajaan mendatang.
Dalam Wahyu 14 dan 15 kita nampak hikmat Allah, bagaimana Dia dengan berbagai cara memperlakukan ber-bagai orang dan memelihara umat-Nya. Para pemenang yang telah melewati mati akan menjadi anak laki-laki, para pe-menang yang masih hidup akan menjadi buah bungar, dan para martir selama kesusahan besar akan menjadi peme-nang belakangan. Kebanyakan orang beriman akan mele-wati kesusahan besar, mereka adalah tuaian. Terakhir, kita nampak Tuhan akan mengumpulkan buah-buah anggur, yaitu orang-orang jahat, ke dalam gilingan anggur pada akhir kesusahan besar, dan akan menginjak gilingan anggur murka Allah.
KETUJUH CAWAN (1)
Sekarang kita tiba pada ketujuh cawan (16:1-21).
I. KETUJUH MALAPETAKA TERAKHIR
Dalam 8:13 tercatat, ada seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring, “Cela-ka, celaka, celakalah mereka yang tinggal di bumi oleh ka-rena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.” Ketiga celaka dari ketiga sangka-kala yang terakhir (9:12; 11:14) akan menjadi celaka yang paling berat dari kesusahan besar (Mat. 24:21). Celaka per-tama akan terjadi setelah sangkakala kelima ditiup, pada pasal 9; celaka kedua pada sangkakala keenam, juga pada pasal 9. Celaka ketiga (11:14) adalah ketujuh cawan, bagian dari isi negatif sangkakala ketujuh. Ketujuh cawan ini me-rupakan ketujuh malapetaka yang terakhir (15:1). Meterai keenam ditambah keempat sangkakala yang pertama dari meterai ketujuh dapat dianggap sebagai permulaan dari kesusahan besar, sedangkan celaka yang paling berat dari kesusahan besar itu tersusun dari sangkakala kelima, sangkakala keenam, dan bagian dari isi negatif sangkakala ketujuh.
II. SUASANA DI SURGA SEBELUM KETUJUH CAWAN DITUMPAHKAN
Suasana (pemandangan) di surga diwahyukan, yang pertama sebelum ketujuh meterai dibuka, kemudian sebe-lum ketujuh sangkakala ditiup, dan sekali lagi sebelum ke-tujuh cawan ditumpahkan. Sebelum dibukanya ketujuh me-terai, kita memiliki suasana yang digambarkan dalam pasal 4 dan 5. Dalam suasana itu kita nampak sebuah takhta berdiri di surga, dan seseorang duduk di atas takhta itu, suatu pelangi melingkungi takhta itu, dua puluh empat tua-tua duduk di atas dua puluh empat takhta, empat makhluk yang hidup, dan Singa Anak-Domba yang layak (4:2-8; 5:5-6). Suasana itu menunjukkan bahwa Allah yang berada di takhta sedang melaksanakan ekonomi-Nya melalui Singa Anak-Domba yang layak ini, Dia yang layak membu-ka ekonomi Allah yang tersembunyi. Takhta administrasi Allah dalam suasana itu terutama untuk penghakiman.
Dalam 8:3-5 kita melihat suasana di surga sebelum ketujuh sangkakala ditiup. Dalam suasana itu surga menjadi sunyi senyap, kira-kira setengah jam lamanya (8:1). Di sini, Kristus sebagai Malaikat lain datang untuk melayani sebagai Imam Besar Allah dengan membawa segenap doa kaum saleh kepada Allah dan dengan menambahkan ukup-an ke dalam doa-doa itu, agar doa-doa itu bisa diperkenan oleh-Nya. Melalui ukupan-Nya, doa-doa kaum saleh menjadi satu bau-bauan yang harum bagi Allah dan mendatangkan penghakiman-Nya atas bumi. Suasana itu mewahyukan ba-gaimana Allah menjawab doa-doa kaum saleh, yang diper-sembahkan oleh Kristus dan bersama Kristus, melalui penghakiman ketujuh sangkakala.
Dalam 15:5-8 kita melihat suasana di surga sebelum ketujuh cawan ditumpahkan. Saat itu, telah terjadi banyak perkara: meterai keenam, keenam sangkakala pertama, dan sebagian dari sangkakala ketujuh. Itulah saatnya untuk mengakhiri murka Allah (15:1). Murka Allah yang tercan-tum dalam 15:1, 7 dan 16:1, menunjukkan Allah marah ke-pada musuh-Nya, terutama terhadap Antikristus dan kera-jaannya. Meskipun Allah telah melaksanakan sebagian besar dari penghakiman-Nya dan telah menggenapkan hampir se-mua perkara yang harus dilaksanakan-Nya, namun kema-rahan-Nya belum lagi surut. Kegeraman murka-Nya masih tetap perlu ditumpahkan. Namun, sebelum hal itu terjadi, suasana lainnya di surga akan diwahyukan terlebih dulu. Sekarang kita akan membahas aspek-aspek suasana tersebut.
A. Bait Suci Dibuka
Wahyu 15:5 mengatakan, “Setelah itu aku melihat Bait Suci dari kemah kesaksian di surga dibuka” (Tl.). Agak su-lit memahami arti ungkapan “Bait Suci dari kemah kesak-sian” karena menurut sejarah, kemah kesaksian mendahului Bait Suci, dan Bait Suci telah menggantikan kemah. Sebe-narnya, kemah kesaksian dan Bait Suci itu satu. Dalam bahasa Yunani, kata “Bait Suci” adalah “naos”, ini bukan berarti Bait Suci pada umumnya, melainkan Bait Suci yang lebih dalam, “ruang maha kudus”. Karena itu, Bait Suci dari kemah kesaksian berarti ruang maha kudus dari kemah kesaksian itu. Kemah kesaksian dalam Perjanjian Lama terdiri dari ruang kudus, dan bagian yang lebih dalam, ruang maha kudus. Bait suci dalam ayat ini adalah bagian yang lebih dalam dari Bait Suci, yaitu ruang maha kudus, tempat tabut berada. Kesaksian adalah hukum Allah yang mempersaksikan Allah dan yang ditempatkan di dalam ta-but (Kel. 25:16). Karena tabut ditempatkan di dalam kemah, maka kemah itu disebut kemah kesaksian. Di sini kita melihat bahwa Bait Suci dari kemah kesaksian di surga telah dibuka; ia tidak lagi tersembunyi, tetapi telah dibuka untuk dilihat oleh alam semesta.
Ayat 5 merupakan kelanjutan pasal 11:19, dan kedua-nya perlu kita hubungkan. Wahyu 11:19 mengatakan, “Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu.” Takhta yang dilingkungi pelangi dalam 4:2-3 adalah pusat segala pengha-kiman yang dilaksanakan atas bumi dalam pasal 6—11, ini di aspek negatifnya; sedang Bait Suci yang memiliki tabut perjanjian adalah pusat semua perampungan Allah di alam semesta yang dilaksanakan dalam pasal 12—22, ini di aspek positifnya. Karena itu, dalam bagian pertama dari Kitab Wahyu, dari pasal 1—11, pusat wahyu berada pada takhta yang dilingkungi pelangi. Dalam bagian kedua, pasal 12—22, pusat wahyu tidak lagi berada pada takhta yang dilingkungi pelangi, melainkan pada Bait Suci dengan tabut perjanjiannya.
Takhta yang dilingkungi pelangi terutama untuk peng-hakiman Allah atas bumi, sedang Bait Suci dengan tabut perjanjian terutama untuk pembangunan Allah demi meng-ekspresikan diri-Nya. Dengan kata lain, Bait Suci dengan tabut perjanjian adalah untuk kesaksian Allah.
Kesaksian Allah adalah pengekspresian diri Allah me-lalui bangunan-Nya. Pada akhir pasal 11 terdapat gempa bumi yang dahsyat, mungkin merupakan gempa bumi yang paling dahsyat dalam sejarah. Tetapi pada akhir bagian kedua terdapat Yerusalem Baru, yang merupakan bangun-an Allah, ekspresi Allah, juga kesaksian Allah. Seluruh Yerusalem Baru adalah ruang maha kudus. Kota ini ber-bentuk kubus. Panjang, lebar dan tingginya masing-masing dua belas ribu stadia (21:16). Ini merupakan Bait Suci yang diperluas, kesudahan dari sebelas pasal yang terakhir dari Kitab Wahyu. Kesebelas pasal yang pertama berakhir de-ngan gempa bumi yang dahsyat, dan sebelas pasal yang terakhir disudahi dengan Yerusalem Baru. Betapa kontrasnya!
Gempa bumi pada akhir pasal 11 berasal dari takhta yang dilingkungi pelangi. Meskipun Allah membuat gempa itu sangat dahsyat, namun Ia tidak akan memusnahkan se-luruh umat manusia. Pelangi yang melingkungi takhta meng-ingatkan Dia kepada perjanjian-Nya. Pelangi itu adalah Kristus. Dalam 10:1 kita diberi tahu bahwa Malaikat lain yang kuat itu, yaitu Kristus, akan turun dari surga berse-lubungkan awan-awan dan pelangi ada di atas kepala-Nya. Kristus adalah pelangi alam semesta. Sewaktu Allah dalam murka-Nya melaksanakan penghakiman-Nya atas umat manusia pemberontak, Kristus di dalam awan akan menjadi pelangi untuk mengingatkan Allah akan janji-Nya kepada Nuh. Sebagai pelangi, nampaknya Tuhan Yesus akan berkata, “Ya Allah, Aku setuju dengan murka-Mu yang adil itu, tetapi ingatlah kepada kesetiaan-Mu. Engkau tidak boleh melupakan perjanjian yang telah Kaubuat dengan Nuh. Aku adalah pelangi di dalam awan-awan.” Akhirnya, penghakiman Allah dilaksa-nakan dengan mengingat adanya pelangi, dan memisahkan orang-orang yang akan menjadi “domba” dalam Matius 25, yang akan menjadi bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun. Jika tidak ada pelangi ini, tidak akan ada seorang pun yang bisa tertinggal untuk menjadi bangsa-bangsa dalam kerajaan mendatang.
Bait Suci dengan tabut perjanjian merupakan ekspresi Allah dengan Kristus Allah. Bait adalah tempat kediaman Allah, ekspresi Allah; sedang tabut perjanjian adalah Kristus sebagai kesaksian Allah. Karena kesebelas pasal yang ter-akhir dari Kitab Wahyu adalah untuk ekspresi Allah dan Kristus-Nya, maka fokus bagian ini adalah Bait Allah dan tabut perjanjian Allah. Akhirnya, Yerusalem Baru akan menjadi Bait yang diperluas, dan dalamnya akan ada tabut perjanjian. Kristus, sebagai Anak Domba. Karena itu, seba-gai hasil perbuatan Allah dalam pasal 12—22, kita nampak Bait yang kekal dengan tabut perjanjian yang kekal.
Untuk memahami Kitab Wahyu, kita harus mempunyai visi yang menyeluruh seperti ini. Dengan memiliki visi ini barulah kita mengetahui di mana kita berada. Perempuan dengan anak laki-laki diperlukan untuk Bait Allah dan ta-but perjanjian Allah. Perempuan cemerlang adalah untuk Yerusalem Baru. Terakhir, kota itu akan menjadi perempuan, karena sebagai “kota-perempuan”, ia akan menjadi istri Anak Domba (21:9-10).
Di pihak negatifnya, Allah juga akan menggunakan naga untuk menggenapkan tujuan-Nya. Sampai Ia tidak memer-lukan Iblis lagi, Ia akan berkata, “Iblis, enyahlah ke lautan api.” Allah itu agung dan berdaulat. Kitab Wahyu ini menun-jukkan bahwa Iblis sepenuhnya berada di tangan Allah. Jangan menganggap Allah itu tidak adil karena memperalat Iblis. Allah sangat adil, jauh lebih adil daripada Anda. Sia-pakah yang berani membantah-Nya? Dalam Roma 9:20-21 Paulus berkata, “Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya, ‘Mengapa engkau membentuk aku de-mikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tu-juan yang biasa?” Jika Anda berani berbantahan dengan Allah, Ia akan menjawab, “Akulah Pencipta, sedang kamu adalah tanah liat. Tidakkah kamu tahu bahwa Aku berhak membuat segala sesuatu sesuai dengan kesenangan-Ku? Aku berkuasa menjadikan kamu apa saja sesuai dengan yang Kuinginkan. Siapakah kamu, maka kamu membantah-Ku?” Allah itu berdaulat. Setelah membaca Kitab Wahyu berkali-kali, saya hanya mampu berkata, “Ya Allah, aku menyembah Engkau atas segala kedaulatan-Mu. Aku menyembah Engkau karena Engkau telah memilihku menjadi salah satu di antara anak-anak-Mu dan bahkan menjadi salah satu di antara para hamba-Mu.” Oh, betapa kita semua harus menyembah Dia!
B. Tujuh Malaikat Keluar dari Bait Suci
Ayat 6 mengatakan, “Ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.” Cara berpakaian ketujuh malaikat ini bagaikan imam (Yeh. 44:17), bukan pakaian tentara. Me-nurut opini saya, malaikat yang menumpahkan ketujuh ca-wan itu seharusnya mengenakan seragam militer, namun faktanya, mereka mengenakan jubah imam. Kenyataan ini sangat bermakna. Jadi, penumpahan ketujuh cawan oleh ke-tujuh malaikat merupakan jawaban atas doa-doa para pe-menang belakangan yang berdiri di atas lautan kaca yang bercampur dengan api. Para pemenang belakangan yang berdiri di atas lautan kaca akan menyembah Allah dengan puji-pujian mereka. Pada waktu itu, doa-doa akan diakhiri dan pujian akan dimulai. Pada meterai kelima kita nampak seruan, doa-doa, dari kaum saleh martir (6:9-11). Tetapi da-lam pasal 15 tidak ada lagi seruan atau doa-doa; yang ada hanyalah puji-pujian. Sekarang ini, para pemenang belakang-an tidak lagi berdoa, “Ya Tuhan, Antikristus telah meng-aniaya dan membuat kami menjadi martir. Sekarang, Eng-kau harus datang untuk menuntut balas atas darah kami dan memusnahkan kerajaannya.” Tidak, sekarang mereka memuji Allah. Segera setelah catatan puji-pujian mereka, terlihatlah suasana di surga sebelum ketujuh cawan ditum-pahkan. Dari Bait kemah kesaksian di surga keluarlah tujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka. Malaikat-malaikat itu tidak berpakaian seperti tentara, melainkan seperti imam-imam yang datang untuk menggenapkan ministri mereka. Jadi, di sini tidak lagi hanya merupakan perkara penghakim-an, karena penghakiman di sini bercampur dengan penggenapan ekonomi Allah sehingga Allah bisa memiliki ekspresi-Nya.
Pada butir ini kita perlu khusus memperhatikan 16:17. Ayat ini mengatakan, “Malaikat yang ketujuh menumpah-kan cawannya ke angkasa. Lalu dari dalam Bait Suci kede-ngaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya, ‘Sudah terlaksana.’” Perhatikan, dalam ayat ini terdapat dua hal: Bait Suci dan takhta. Sulit memahami susunan ta-ta bahasa ayat ini. Apakah yang dimaksud dengan kalimat “dari dalam Bait Suci . . . dari takhta itu”? Kita telah meli-hat, perbuatan Allah dalam bagian pertama kitab ini berasal dari takhta; perbuatan-Nya dalam bagian kedua berasal dari Bait Suci. Kitab Wahyu pertama-tama menunjukkan fokus penghakiman Allah adalah takhta, kemudian menunjukkan fokus kesaksian Allah adalah Bait Suci. Dalam ayat ini takhta dan Bait digabungkan. Sekarang, penghakiman Allah dibaurkan dengan ekspresi Allah, dengan kesaksian Allah. Dengan kata lain, kesaksian Allah berasal dari penghakiman Allah, dan penghakiman Allah adalah untuk kesaksian Allah. Bait berasal dari takhta, dan takhta adalah untuk Bait.
Prinsip ini bisa diterapkan pada diri kita hari ini. Jika kita mau bagi Bait Allah, ekspresi Allah, kita harus rela dihakimi. Prinsip inti dari kesebelas pasal Kitab Wahyu ba-gian depan haruslah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam kehidupan kita secara umum, dan dalam hidup gereja kita. Betapa banyak perkara di dalam kita yang perlu dihakimi! Dalam kehidupan kita masih terdapat banyak “kalajengking”, “ular”, dan “katak”. Banyak “kala-jengking” masih merayap dalam kehidupan keluarga dan kehidupan pernikahan kita, dan beberapa “katak” masih mengganggu hidup gereja. Nah, semua “kalajengking” dan “katak” itu harus dihakimi. Hasil dari penghakiman ini akan menjadi kesaksian “yang keluar dari dalam Bait Suci dari takhta itu”.
Telah kita tunjukkan, ketujuh malaikat dengan ketu-juh cawannya itu bukanlah tentara-tentara, melainkan imam-imam, dan penumpahan ketujuh cawan itu adalah jawaban atas puji-pujian para pemenang belakangan. Respons Allah terhadap puji-pujian para pemenang belakangan bukan hanya dari takhta, tetapi juga dari dalam Bait Suci. Ini berarti jawaban Allah bukan hanya untuk penghakiman, terlebih lagi untuk kesaksian-Nya, ekspresi-Nya, dan Bait-Nya. Karena ketujuh malaikat dengan ketujuh cawan bu-kan hanya untuk penghakiman Allah, tetapi terutama un-tuk kesaksian Allah, maka mereka berasal dari Bait. Mereka bukan hanya berasal dari takhta penghakiman, tetapi juga dari Bait untuk ekspresi Allah. Setelah cawan terakhir di-tumpahkan, setiap perkara negatif akan dibasmi. Segera se-telah itu, pengantin perempuan tertampaklah (19:7-9).
Pasal 19 adalah kelanjutan pasal 16. Pasal 17 dan 18 disisipkan untuk memberikan rincian berikutnya mengenai dua aspek Babel, Babel agamawi dan Babel materi. Namun, pasal 19 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari penum-pahan cawan-cawan dalam pasal 16. Inilah petunjuk lain yang menunjukkan bahwa ketujuh cawan bukan hanya un-tuk penghakiman yang berasal dari takhta, tetapi terlebih un-tuk kesaksian Allah yang keluar dari Bait-Nya. Inilah mak-na ungkapan “keluar dari dalam Bait Suci dari takhta itu”.
C. Ketujuh Cawan Emas Diberikan kepada Ketujuh Malaikat
Ayat 7 mengatakan, “Satu dari keempat makhluk itu memberikan kepada ketujuh malaikat itu tujuh cawan dari emas yang penuh berisi murka Allah, yaitu Allah yang hi-dup selama-lamanya.” Ketujuh cawan yang diberikan oleh salah seorang dari antara keempat makhluk hidup itu penuh dengan murka Allah. Cawan, biasanya kecil, menunjukkan keterbatasan. Meskipun ketujuh malapetaka terakhir ini merupakan murka Allah yang terakhir, namun murka-Nya tetap terbatas. Kalau tidak, seluruh bumi dan seluruh peng-huninya akan dibinasakan. Untuk menggenapkan tujuan ke-kal-Nya, Allah masih melaksanakan pembatasan terhadap murka-Nya yang terakhir sewaktu menghakimi bumi. Pe-numpahan murka Allah ini sangat serius, namun masih terbatas. Allah penuh belas kasihan. Binatang itu, rakyatnya dan seluruh kerajaannya pantas dimusnahkan seluruhnya tanpa pembatasan, namun Allah masih membatasi penum-pahan murka-Nya hanya sampai ke ukuran yang kecil saja. Terima kasih kepada Tuhan untuk hal ini!
D. Bait Itu Dipenuhi Asap
Kemuliaan Allah dan Kuasa-Nya
Ayat 8 mengatakan, “Kemudian Bait Suci itu dipenuhi asap karena kemuliaan Allah dan karena kuasa-Nya, dan seorang pun tidak dapat memasuki Bait Suci itu, sebelum berakhir ketujuh malapetaka dari ketujuh malaikat itu.” Ini berarti tidak seorang pun bisa memasuki Bait untuk berdoa guna meredakan murka Allah, sampai murka Allah selu-ruhnya ditumpahkan ke atas pemberontak yang dihasut Iblis dan yang dipengaruhi Antikristus.