KETUJUH CAWAN (2)
Sebelum kita membahas penumpahan ketujuh cawan, saya ingin mengutarakan lebih banyak lagi tentang Allah yang di atas takhta dan Allah yang di dalam bait. Kebanyak-an orang Kristen, termasuk banyak orang di antara kita yang ada di dalam pemulihan Tuhan, mengenal Allah hanya sebagai Allah yang di atas takhta. Terhadap Allah yang di dalam bait, mereka hanya mengetahui sedikit sekali. Agak-nya lebih mudah memahami Allah sebagai yang duduk di atas takhta, karena hal ini sesuai dengan konsepsi alamiah kita. Namun, untuk memahami Allah sebagai Allah yang berada di dalam bait, kita perlu memiliki visi surgawi.
Dalam Alkitab, pertama-tama Allah diwahyukan sebagai Allah yang di atas takhta. Sepanjang Perjanjian Lama, umat Allah secara bertahap memahami bahwa Allah itu Sang Mahakuasa yang di atas takhta. Takhta Allah adalah untuk pemerintahan-Nya. Terakhir, wahyu dalam Alkitab memimpin kita dari takhta pemerintahan Allah ke bait ekspresi Allah. Dalam Perjanjian Lama kita nampak Allah dalam bait-Nya. Dalam Perjanjian Baru kita juga nampak Allah di dalam tempat kediaman-Nya, bait-Nya, yaitu di dalam gereja. Terakhir, dalam kesimpulan Alkitab, dalam Kitab Wahyu ini, takhta dan bait digabungkan (16:17). Dalam Kitab Wahyu kita nampak Allah di atas takhta dalam Yerusalem Baru (22:1).
Kebanyakan orang Kristen hari ini hanya mengenal Allah sebagai Allah yang duduk di atas takhta. Dalam doa-doa dan puji-pujian, mereka hanya memperhatikan Allah yang duduk di atas takhta-Nya. Mereka yakin, sekalipun dunia akan dibanjiri dengan air bah, Allah tetap akan ber-ada di atas takhta-Nya. Kita sering mendengar doa-doa yang ditujukan kepada Allah yang di atas takhta dan kita pun sering menyanyikan kidung tentang Allah yang berada di atas takhta, tetapi sulit menemukan kidung yang menga-takan bahwa Allah tidak hanya berada di atas takhta, te-tapi juga ada di dalam bait. Sedikit sekali orang Kristen yang memiliki visi Allah sebagai Allah yang di dalam bait.
Allah berada di atas takhta adalah untuk administrasi-Nya; Allah berada di dalam bait adalah untuk ekspresi-Nya. Tujuan kekal Allah bukan berada di atas takhta, melainkan di dalam bait. Karena takhta Allah tegak untuk selama-lamanya, tetap ada untuk seterusnya dan selamanya (Mzm. 45:7), maka tidak perlu mendirikannya. Namun, Bait Allah memerlukan banyak sekali pekerjaan pembangunan. Ke-inginan Allah bukan hanya pada takhta. Ia telah ada di atas takhta sejak kekekalan yang silam. Allah mengingin-kan sebuah bait, sebuah ekspresi. Meskipun setiap orang Kristen mengetahui Allah itu Sang Mahakuasa di atas takhta, namun tidak banyak orang Kristen yang menyadari kalau Allah hari ini memerlukan sebuah bait, gereja, sebuah bangunan untuk ekpresi-Nya. Di Amerika Serikat kita telah meniup sangkakala tentang ini lebih dari 14 tahun, namun bahkan di antara kita sekalipun, tidak banyak ditemukan puji-pujian yang mengatakan Allah berada di dalam bait-Nya. Sebaliknya, mereka memuji Allah sebagai Sang di atas takhta. Pernahkah Anda memuji Allah karena mengenal kehendak Allah yang menginginkan memiliki bait itu?
Saya ulangi, seluruh Alkitab terlebih dulu mewahyu-kan Allah sebagai Sang di atas takhta, kemudian berang-sur-angsur mewahyukan keinginan Allah untuk memiliki sebuah bait. Pada puncaknya dan sebagai kesimpulannya, bait ini akan menjadi Yerusalem Baru. Telah kita tunjuk-kan, Yerusalem Baru tidak hanya akan menjadi Bait Allah, ia juga adalah ruang maha kudus. Dalam Yerusalem Baru, Allah akan berada di dalam Anak Domba di atas takhta sampai selama-lamanya. Ia akan menjadi Allah yang di atas takhta di dalam bait-Nya, berkuasa dan memiliki ekspresi-Nya secara mutlak, sampai selama-lamanya. Segala sesuatu yang Allah kerjakan hari ini adalah untuk ini. Itulah se-babnya kita katakan, kita bukan hanya untuk keselamatan individu, melainkan untuk pembangunan gereja secara kor-porat. Saya katakan sekali lagi, kehendak Allah ialah ingin memiliki bait ini. Takhta Allah adalah untuk bait-Nya; ad-ministrasi-Nya adalah untuk ekspresi-Nya. Terakhir, dalam Yerusalem Baru, sungai air hayat akan mengalir dari takhta Allah untuk menyuplai seluruh kota. Karena itu, Yerusalem Baru akan menjadi kesimpulan Allah yang mengalir dari takhta.
III. PENUMPAHAN KETUJUH CAWAN
A. Cawan Pertama
Wahyu 16:2 mengatakan, “Malaikat yang pertama itu pun pergi dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.” Dalam murka-Nya yang ter-akhir Allah akan menandai orang-orang yang memberontak dengan bisul pada kulit mereka, sebab mereka telah mema-kai tanda dari binatang itu. Tanda-tanda itu serupa bisul yang berbahaya. Pada waktu itu Allah seolah-olah berkata, “Karena kalian memakai tanda musuh-Ku, binatang itu, Aku pun akan menaruh tanda pada diri kalian.” Saya tidak yakin bahwa bisul itu akan menimpa bangsa Amerika. Bisul itu akan menimpa warga Kekaisaran Romawi di bawah Anti-kristus, yang memakai nama Antikristus atau bilangan namanya.
B. Cawan Kedua
Ayat 3 mengatakan, “Malaikat yang kedua menumpah-kan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernya-wa, yang hidup di dalam laut.” Saya tidak yakin peristiwa ini akan meliputi semua laut. Mungkin yang terutama mem-pengaruhi Laut Tengah, laut yang melingkungi kekaisaran Antikristus.
C. Cawan Ketiga
Dalam ayat 4-7 kita melihat ditumpahkannya cawan ketiga. Ayat 4 mengatakan, “Malaikat yang ketiga menum-pahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah.” Ayat 5 membicarakan ten-tang, “malaikat yang berkuasa atas air itu”. Dalam admi-nistrasi Allah, seorang malaikat telah ditetapkan untuk menguasai air. Malaikat ini memuji Allah, katanya, “Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini. Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka” (ayat 5-6). Baik dalam ayat-ayat ini maupun dalam 11:17 tidak mengatakan, “Ia yang akan datang,” seperti dalam 1:8 dan 4:8. Ini mem-buktikan bahwa kedatangan Tuhan kembali pasti terjadi setelah 4:8 dan sebelum 11:17.
Tidak semua orang yang diam di bumi pantas diberi minum darah, karena tidak semua orang telah menumpah-kan darah kaum saleh. Jika bangsa Amerika telah menum-pahkan darah kaum saleh, maka bangsa ini pantas minum darah itu. Tetapi saya yakin, hal seperti itu tidak akan terjadi di Amerika. Saya percaya hal itu terutama akan ter-jadi di wilayah Antikristus. Air di wilayah itu akan ber-ubah menjadi darah.
Sebelum kita lanjutkan, saya perlu menyisipkan sepatah kata tentang wilayah kerajaan Antikristus. Lukas 2:1 membantu kita dalam hal ini. Ayat ini mengatakan bahwa Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, me-nyuruh “mendaftarkan semua orang di seluruh dunia”. Su-dah tentu, “seluruh dunia” di sini tidak meliputi China ku-no, juga tidak meliputi Amerika, yang saat itu dihuni oleh bangsa Indian. Kita harus bisa memahami Alkitab dengan latar belakangnya serta daerah-daerah yang tercantum di dalamnya. Menurut latar belakang, “seluruh dunia” dalam Lukas 2:1 ditujukan kepada dunia Kekaisaran Romawi. Jangan mengartikan kata-kata ini dengan semua tempat di seluruh dunia. Para penghuni bumi yang akan dihukum dengan ketujuh cawan ini terutama adalah mereka yang bertempat tinggal di wilayah Antikristus.
Ayat 7 mengatakan, “Lalu aku mendengar mezbah itu berkata, ‘Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu.’” Ini adalah puji-pujian yang ber-asal dari mezbah atas penghakiman Allah terhadap wilayah Antikristus, yang benar sifatnya dan adil prinsipnya.
D. Cawan Keempat
Ayat 8-9 mengatakan, “Malaikat yang keempat menum-pahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka meng-hujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malape-taka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.” Orang-orang yang dihanguskan oleh api yang dahsyat itu, yaitu yang menghujat nama Allah dan yang menolak untuk bertobat, tentunya adalah warga Kekaisaran Romawi yang mengikuti Antikristus untuk menganiaya umat Allah dan memberontak melawan Allah.
E. Cawan Kelima
Ayat 10-11 berkata, “Malaikat yang kelima menumpah-kan cawannya ke atas takhta binatang itu dan kerajaannya menjadi gelap, dan mereka menggigit lidah mereka karena kesakitan, dan mereka menghujat Allah yang di surga ka-rena kesakitan dan karena bisul mereka, tetapi mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka.” Di sini kita mengetahui, cawan kelima dituangkan ke atas takhta binatang itu. Hal ini menunjukkan bahwa ketujuh cawan adalah untuk menghakimi binatang itu, kerajaannya, dan wilayahnya. Kejadian ini bisa disamakan dengan yang Allah lakukan lewat Musa ke atas diri Firaun dan Mesir. Ketika tanah Mesir menjadi gelap, bukan seluruh bumi menjadi gelap. Kegelapan yang menimpa kerajaan binatang itu per-sis sama dengan kegelapan yang menimpa Mesir. Hanya orang-orang yang berada di wilayah Antikristuslah yang akan menggigit lidah mereka, menghujat Allah, dan tidak mau bertobat.
F. Cawan Keenam
Ayat 12 melanjutkan, “Malaikat yang keenam menum-pahkan cawannya ke atas sungai yang besar, Sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur.” Malapetaka dari cawan kedua lebih dahsyat daripada malapetaka sangkakala kedua (8:8-9); malapetaka dari cawan ketiga lebih dahsyat dari-pada malapetaka sangkakala ketiga (8:10-11); malapetaka dari cawan keempat lebih dahsyat daripada sangkakala ke-empat (8:12). Malapetaka dari cawan kelima menghakimi takhta Antikristus dan kerajaannya, berhubungan dengan sangkakala kelima. Ketika sangkakala kelima ditiup, Anti-kristus sebagai raja atas belalang-belalang yang kerasukan setan menyiksa manusia (9:3-11). Malapetaka dari cawan keenam berhubungan dengan sangkakala keenam (9:14), sebab kedua macam malapetaka ini semuanya berhubungan dengan sungai yang sama, yaitu Sungai Efrat. Dalam 9:14-15 kita mengetahui bahwa keempat malaikat yang terikat pada sungai besar Efrat akan dilepaskan untuk menggerak-kan raja-raja yang akan mengutus tentara-tentara mereka, dan 16:12 memberi tahu kita bahwa pada saat cawan ke-enam ditumpahkan, air Sungai Efrat akan menjadi kering sehingga raja-raja itu beserta tentara mereka bisa melewati-nya. Jadi, sangkakala keenam dan cawan keenam saling berkaitan.
G. Visi yang Disisipkan di Antara
Cawan Keenam dan Cawan Ketujuh
Ayat 13-16 merupakan sebuah visi yang disisipkan di antara cawan keenam dan cawan ketujuh. Visi ini tentang dikumpulkannya bangsa-bangsa di Harmagedon.
1. Tiga Roh Najis Menyerupai Katak Keluar dari Mulut Naga, Binatang Itu, dan Nabi Palsu
Ayat 13-14 mengatakan, “Lalu aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, un-tuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari be-sar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.” Roh-roh najis ini seperti katak-katak. Sebagai roh-roh, mereka itu seharus-nya berada di angkasa, tetapi karena menjadi katak, maka mereka hanya bisa bergerak di bumi. Pada saat itu Iblis dan kekuatan pergerakannya akan dibatasi di bumi saja. Ia tidak lagi mempunyai hak untuk bergerak di angkasa. Ka-rena itu, roh-roh yang mengikutinya akan menjadi seperti katak.
Dengan tanda-tanda yang mereka perbuat, roh-roh najis itu akan mengumpulkan raja-raja dari bumi untuk berperang. Menurut ayat 16, “Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.” Pada akhir kesusahan besar, ada tiga roh najis akan ke-luar dari mulut Iblis, Antikristus, dan nabi palsu, lalu menggerakkan raja-raja seluruh bumi untuk mengumpul-kan pasukan mereka (ayat 13-14) — termasuk dua ratus juta pasukan berkuda yang dikatakan dalam 9:14-16, — berperang di Harmagedon. Perang itu adalah perang ter-akhir di antara umat manusia sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Dalam perang itu, Iblis bermaksud memusnahkan negara Israel (Za. 14:12) dan berperang melawan Kristus bersama pasukan-Nya. Untuk itu Iblis akan memperalat semua manusia yang memberontak (17:12-14; 19:11-19). Kristus dan para pemenang pilihan-Nya akan mengalahkan dan memusnahkan mereka semua (19:20-21; Mi. 4:11-13; Zef. 3:8; Za. 14:3, 12-15; 12:4, 9), dan akan menyelamatkan negara Israel (Za. 12:3-8; 14:4-5; Yl. 3:14-17). Itulah peng-injakan gilingan anggur yang tercatat dalam 14:17-20, Yesaya 63:1-6, dan Yoel 3:9-13.
Tentara dari benua barat (Kekaisaran Romawi), utara (Rusia), dan timur (tempat terbitnya matahari) akan dihim-pun di Harmagedon. Yehezkiel 38 dan 39 membuktikan, Rusia (yang disebut Gog dan Magog) akan ada di sana. Wahyu 9 juga menyatakan bahwa kedua ratus juta pasukan berkuda dari timur akan berada di sana. Meskipun para tentara dari benua barat, utara, dan timur akan dikumpulkan di Harmagedon, namun tidak ada isyarat yang menunjukkan tentara dari Amerika Serikat akan berada di sana. Allah berkuasa mengatur dan menetapkan negara Amerika Seri-kat menjadi satu di antara beberapa negara yang pro Israel. Jika bukan karena kedaulatan Allah, bagaimana mungkin Israel, sebuah negara yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang memusuhinya, mampu hidup dan eksis? Meskipun se-luruh kekuatan dunia akan dipersiapkan untuk membinasa-kan negara Israel yang kecil ini, Amerika Serikat tidak akan termasuk di dalamnya. Sekali lagi, saya minta Anda tidak memahami Alkitab secara alamiah, tetapi di dalam terang, dengan memiliki wawasan atau pengertian terhadap firman dan situasi dunia hari ini.
2. Peringatan Tuhan
Di antara cawan keenam dan cawan ketujuh, Tuhan memberikan peringatan tentang kedatangan-Nya. Ayat 15 mengatakan, “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berba-hagialah dia, yang berjaga-jaga dan memperhatikan pakai-annya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.” Menurut konteksnya, per-kataan ini tentu diucapkan oleh Tuhan pada akhir kesu-sahan besar, sebelum perang Harmagedon. Hal ini membuk-tikan bahwa pada saat itu masih ada kaum beriman tertinggal di bumi (yaitu kaum beriman mayoritas yang hi-dup dan tersisa). Bagi mereka, penampakan diri Tuhan saat Dia datang kembali tetap seperti pencuri, yaitu pada waktu yang tidak diketahui oleh mereka.
H. Cawan ketujuh
Ketika cawan ketujuh ditumpahkan ke angkasa, terde-ngar suatu suara “yang nyaring dari takhta itu, katanya, ‘Sudah terlaksana’” (ayat 17). Ini berarti segala sesuatu un-tuk penghakiman dan untuk ekspresi Allah, yaitu kesak-sian Allah, telah digenapkan. Segera setelah kata-kata ini diucapkan, maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, serta terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi (ayat 18). Gempa bumi itu, sama se-perti gempa dalam 11:19, akan membuat kota besar, Yerusalem, terbelah menjadi tiga bagian dan kota-kota bang-sa-bangsa akan runtuh (ayat 19). Karena Yerusalem dalam hal kejahatan akan sama dengan Sodom kuno itu, maka Allah akan menghakiminya dengan gempa bumi ini.
Ayat 19 mengatakan, “Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya.” Babel yang agamawi, yang penuh misteri, dalam 14:8 telah di-musnahkan pada awal kesusahan besar; sebab itu, Babel besar di sini, yang dimusnahkan segera setelah perang Harmagedon pada akhir kesusahan besar, pasti adalah Ba-bel yang materi, yaitu Kota Roma. Babel besar dalam 14:8 serupa dengan Babel dalam pasal 17, sedangkan Babel da-lam ayat ini serupa dengan Babel dalam pasal 18. Sketsa kedua Babel itu tercatat dalam 14:8 dan 16:19; rinciannya tercatat dalam pasal 17 dan 18.
Ayat 19 mengatakan bahwa Allah akan memberikan kepadanya “cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya”. Roma pernah memberi semua bangsa minum anggur hawa nafsu cabulnya (18:3). Sekarang Allah memba-lasnya dengan memberikan kepadanya anggur kegeraman murka-Nya.
Ayat 20 mengatakan, “Semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung.” Ayat 21 menyimpul-kan dengan berkata, “Hujan es besar, masing-masing sebe-rat satu talenta, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.” Sekali lagi saya ka-takan, hujan es itu tidak akan menimpa orang-orang di Amerika, melainkan akan menimpa segenap warga kekai-saran binatang itu. Di tengah-tengah hujan es yang dahsyat itu, orang-orang dalam kekaisaran Antikristus tetap akan menghujat Allah. Ini membuktikan mereka itu tidak mem-punyai niat untuk bertobat, sebaliknya, malah lebih senang menentang Allah habis-habisan.
?