BUAH BUNGAR
Dalam Wahyu 12, kita telah nampak satu visi yang jelas tentang perempuan universal yang melahirkan anak laki-laki sedang berkonfrontasi dengan seekor naga besar. Terhadap visi ini kita semua memiliki kesan yang dalam. Pada pasal 13, kita nampak dua binatang — Antikristus dan nabi palsu, keduanya bekerja sama dengan naga, Iblis, menentang Allah dan menghalangi tergenapnya ekonomi Allah. Berikutnya, dalam pasal 14 terdapat perkara yang le-bih penting. Di sini kita nampak buah bungar (ayat 1-5), perkara-perkara yang mengikuti pengangkatan buah bungar itu (ayat 6-13): pemberitaan Injil kekal (ayat 6-7), jatuhnya Babel agamawi (ayat 8), peringatan terhadap orang yang menyembah binatang serta patungnya dan terhadap orang-orang yang menerima tandanya (ayat 9-11), dan orang-orang martir pada masa kesusahan besar (ayat 12-13). Selain itu, pasal 14 juga menyinggung tentang tuaian (ayat 14-16) dan gilingan besar (ayat 17-20). Jadi, pasal 14 terdiri dari em-pat kategori utama: pengangkatan buah bungar; perkara-perkara yang mengikuti pengangkatan buah bungar; tuai-an, yaitu menuai mayoritas kaum beriman; gilingan besar, menuai orang-orang jahat di bumi. Dengan demikian, pasal ini mewahyukan bagaimana setiap orang akan diperlakukan pada akhir zaman.
Semua manusia di bumi tercakup dalam salah satu di antara dua kategori: umat Allah atau bukan umat Allah. Umat Allah terdiri atas orang-orang Kristen dan orang-orang Israel — orang-orang Yahudi yang takut kepada Allah. Israel tidak disinggung dalam pasal ini, karena sudah tercakup dalam pasal 7 dengan visi pemeteraian terhadap 144.000 orang Israel pilihan. Pasal ini mengungkapkan perlakuan Allah terhadap orang Kristen di antara umat-Nya. Sebagian dari umat-Nya ini, juga terbagi menjadi dua bagian utama: buah bungar, yaitu orang-orang yang matang duluan; dan tuaian, yaitu orang-orang yang matang belakangan. Di an-tara pengangkatan buah bungar dengan pengangkatan tuai-an, akan terjadi empat perkara besar: pemberitaan Injil kekal; jatuhnya Babel besar, yaitu Babel agamawi; peringatan terhadap penyembah binatang itu; dan sebagian besar orang-orang martir selama kesusahan besar. Setelah penuaian, situasi di antara orang-orang Kristen akan menjadi jelas. Tetapi mereka yang bukan umat Allah akan tetap berada di bumi. Mereka itu bukanlah gandum di ladang Allah, me-lainkan anggur yang tumbuh di ladang si jahat. Anggur-anggur itu akan dikumpulkan ke dalam suatu gilingan be-sar dan digiling oleh Tuhan Yesus (ayat 19-20). Saat itu, se-luruh bumi akan dibereskan. Jadi, pasal 14 adalah pasal yang sangat bermakna, mewahyukan bagaimana keadaan setiap orang di muka bumi ini ditanggulangi. Allah itu pe-nuh hikmat, adil dan berdaulat. Ia akan menanggulangi setiap orang di bumi dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat. Terpujilah Dia!
Yang dinubuatkan dalam Alkitab hanyalah sebuah prinsip saja. Kita tidak memiliki rinciannya. Jika Tuhan memberi kita semua rincian perkara-perkara mendatang, maka Alkitab akan terdiri atas puluhan ribu halaman, dan kita tidak akan mampu membawanya. Kita bersyukur ke-pada Tuhan atas hikmat-Nya. Telah ditunjukkan kepada kita bahwa segala kuasa di dunia ini, dari Babel hingga Kekaisaran Romawi terpulih dengan sepuluh kerajaannya di masa mendatang, diwakili oleh patung yang luar biasa yang dilihat oleh Nebukadnezar dalam mimpinya (Dan. 2:31-33). Kepala patung itu menunjukkan Babel; dada dan lengan menunjukkan Media-Persia; perut dan paha menunjukkan Yunani; dan kedua kakinya menunjukkan Kekaisaran Romawi. Kedua kaki patung itu terbentuk dari dua bagian, ini juga satu fakta sejarah, karena Kekaisaran Romawi ter-bagi menjadi dua bagian. Zaman yang ditunjukkan oleh pergelangan kaki merupakan zaman yang tidak tentu, sa-mar-samar. Sekarang ini kita hidup dalam zaman yang samar-samar ini. Dengan diakhirinya Kekaisaran Romawi pada tahun 476 Masehi, timbul suatu kekosongan waktu, namun waktu yang kosong itu diisi oleh gereja Roma Katolik. Menjelang akhir waktu yang panjang ini, Kekaisaran Romawi akan dipulihkan kembali dan terwujudlah sepuluh kerajaan yang dilambangkan dengan kesepuluh jari kaki patung itu. Menurut Daniel 2, kesepuluh kerajaan ini akan tertimpa sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia (ayat 34-35). Batu itu adalah Kristus, yang turun dari surga serta menghancur-leburkan seluruh pa-tung itu, termasuk segala sesuatu dari Nebukadnezar hingga kaisar yang terakhir. Dalam hikmat-Nya Allah memakai patung tubuh manusia untuk memberikan gambaran yang jelas tentang berbagai tahap kekuasaan di dunia. Inilah cara dan prinsip nubuat dalam Alkitab. Dalam beberapa hal, nubuat dalam Alkitab sangatlah singkat.
Demikian pula prinsip keterangkatan umat Allah. Peng-angkatan para pemenang berbeda dengan pengangkatan mayoritas kaum beriman. Masalah pengangkatan ini telah kita bahas dalam berita ke-29 dan ke-30. Berdasarkan prin-sip kedua macam pengangkatan itu, kita sekarang akan membahas buah bungar.
I. BUAH BUNGAR
A. Buah Bungar bagi Allah dan bagi Anak Domba
Buah bungar bagi Allah dan bagi Anak Domba yang tercantum dalam ayat 4 adalah tuaian Allah terhadap ta-naman yang matang paling awal. Para pemenang duluan merupakan hasil panen di ladang Allah yang matang paling awal. Karena itu, mereka akan diangkat duluan sebelum tuaian yang lainnya dituai sebagai buah bungar bagi Allah dan bagi Anak Domba. Menurut ayat 14-16, tuaian akan di-tuai belakangan. Ini berarti mereka akan diangkat ke sur-ga lebih dulu daripada tuaian lainnya, sama seperti buah bungar hasil tanah permai dituai dan dibawa ke Bait Allah sebelum tuaian lainnya bisa dituai (Im. 23:10-11; Kel. 23:19). Peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam ayat 6-13, yang akan berlangsung selama masa kesusahan besar (Mat. 24:21), dengan jelas menunjukkan dan membuktikan bahwa para pemenang duluan, sebagai buah bungar dalam ayat 1-5, akan diangkat sebelum kesusahan besar; sedangkan tuaian dalam ayat 14-16, yang mencakup mayoritas kaum beriman, akan diangkat menjelang akhir kesusahan besar.
B. Seratus Empat Puluh Empat Ribu
Ayat 1 mengatakan, “Lalu aku melihat: Sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama de-ngan Dia seratus empat puluh empat ribu orang.” Pada waktu yang silam, banyak guru Alkitab berdebat tentang bilangan itu, apakah bilangan itu adalah bilangan yang se-sungguhnya atau hanya suatu kiasan. Sebagian orang ber-kata bahwa bilangan 144.000 itu adalah kiasan, sedang yang lain berpendapat, sama seperti ketujuh kota dalam pasal 2 dan 3 merupakan bilangan yang sesungguhnya, ma-ka bilangan itu pasti bilangan yang sesungguhnya. Tidak diragukan, bilangan itu adalah bilangan sesungguhnya, te-tapi mengandung makna simbolis. Meskipun bilangan itu bilangan sebenarnya, namun memiliki makna rohani. Dengan menerapkan prinsip tertentu kita bisa memahami makna rohani bilangan itu.
Bilangan 144.000 adalah 1.000 kali 12 kali 12. Angka 12 adalah angka kelengkapan dalam administrasi kekal Allah. Angka 144 (21:17) adalah 12 kali 12, yang menan-dakan kelengkapan dari kelengkapan, kelengkapan sempur-na yang paling penuh. Bilangan di sini adalah seribu kali lipat dari kelengkapan sempurna tersebut.
Angka dua belas di sini bukan hasil dari enam ditambah enam, melainkan tiga kali empat. Saya berkata demikian bukan secara sembarangan atau tanpa dasar. Angka dua belas dalam Alkitab adalah hasil dari tiga kali empat. Yerusalem Baru adalah kota yang terdiri dari angka dua belas — dua belas dasar, nama kedua belas rasul (21:14), dua belas pintu gerbang, dua belas malaikat, nama-nama kedua belas suku Israel (21:12), dua belas mutiara (21:21), dua belas bulan, dua belas jenis buah (22:2). Tinggi tem-boknya seratus empat puluh empat hasta (dua belas kali dua belas, 21:17), dan ukurannya seribu dua ratus mil (seratus kali dua belas, 21:16). Dalam setiap aspeknya, Yerusalem Baru adalah kota yang terdiri dari bilangan dua belas. Bilangan dua belas dalam Yerusalem Baru tersusun dari tiga kali empat. Hal ini kita ketahui dari fakta bahwa kota itu, keempat sisinya masing-masing memiliki tiga pin-tu gerbang (21:13). Angka tiga menyatakan Allah Tritung-gal. Gambaran Yerusalem Baru dalam pasal 21 dan 22 me-wahyukan Allah Tritunggal. Dalam 22:1 kita nampak dari takhta Allah dan Anak Domba mengalir keluar sungai air hayat. Di sini kita memiliki Bapa, Putra dan Roh itu me-nyalurkan diri-Nya ke dalam kota itu. Itulah Allah Tri-tunggal. Kota itu sendiri mewakili ciptaan Allah, ditunjuk-kan oleh angka empat (empat makhluk ciptaan, 4:6). Dalam Yerusalem Baru yang ada bukan tiga ditambah empat, melainkan tiga kali empat. Hari ini bilangan kita adalah tujuh, seperti dalam ketujuh gereja, ketujuh kaki dian. Te-tapi dalam kekekalan bilangan kita akan menjadi dua be-las, tiga kali empat, menunjukkan perbauran keilahian de-ngan keinsanian. Betapa menakjubkan! Perbauran ini adalah untuk kelengkapan ekonomi Allah, kelengkapan administrasi ekonomi Allah. Karena itu, angka dua belas menyatakan kelengkapan dalam administrasi Allah untuk merampung-kan ekonomi-Nya.
Di sini bukan hanya terdapat bilangan dua belas, tetapi seribu kali dua belas kali dua belas. Dua belas kali dua be-las berarti kelengkapan dalam kelengkapan dalam admi-nistrasi ekonomi Allah. Hal ini sama dengan judul Kidung Agung atau Kidung di atas segala kidung, Tuan di atas se-gala tuan, dan Raja di atas segala raja. Dua belas kali dua belas berarti kelengkapan di atas segala kelengkapan. Ini bukan bersifat sementara, melainkan kekal; ini adalah ke-lengkapan untuk merampungkan administrasi ekonomi Allah. Yerusalem Baru akan menyatakan kepada seluruh alam semesta bahwa umat tebusan Allah adalah dua belas dalam semua dua belas, kelengkapan dalam semua kelengkapan. Ketika kita berada di Yerusalem Baru, kita akan menjadi kelengkapan dalam administrasi Allah untuk merampung-kan ekonomi Allah sampai selama-lamanya. Tetapi dalam pasal 14 kita memiliki seribu dari dua belas kali dua belas, seribu kali kelengkapan dalam kelengkapan. Itulah makna bilangan 144.000. Ke-144.000 buah bungar ini adalah kaum beriman yang merampungkan tujuan kekal Allah.
Kita beruntung sekali berdiri di atas bahu demikian banyak guru-guru besar yang telah mendahului kita. Kita bersyukur kepada Tuhan atas mereka itu. Makna bilangan yang telah kita lihat tadi juga berdasar pada pengertian mereka. Namun, Tuhan menunjukkan kepada kita sesuatu yang lebih maju daripada yang ditunjukkan-Nya kepada mereka. Meskipun angka 144.000 itu angka sebenarnya, na-mun memiliki makna rohani, menyatakan bahwa setiap pe-menang yang hidup adalah bagian dari kelengkapan admi-nistrasi Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya sampai kekal. Menjadi seorang pemenang yang hidup merupakan perkara besar. Menjadi buah bungar berarti bagi kelengkapan administrasi Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya sampai kekal.
C. Telah Ditebus dari Bumi
Ayat 3 mengatakan bahwa ke-144.000 orang itu “telah ditebus dari bumi itu”. Ini membuktikan bahwa mereka sudah tidak berada di bumi, melainkan sudah terangkat ke surga. Pada saat ayat 1-5, buah bungar sudah tidak lagi berada di bumi, karena mereka telah ditebus “dari bumi itu”. Mereka ditebus dengan darah Anak Domba dan telah di-angkat dari bumi ke surga.
D. Ditebus dari Antara Manusia
Ayat 4 mengatakan, buah bungar itu “ditebus dari an-tara manusia”. Kata-kata ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak lagi hidup di tengah-tengah manusia, melain-kan di surga.
E. Berdiri di Bukit Sion Bersama Anak Domba
Buah bungar berdiri bersama Anak Domba di bukit Sion (ayat 1). Sion yang tercantum dalam ayat 1 ini bukan bukit Sion yang di bumi, melainkan yang di surga (Ibr. 12:22). Orang-orang yang berdiri bersama Anak Domba di bukit Sion itu telah diangkat ke surga sebelum penganiayaan ter-hadap agama oleh Antikristus. Setelah pengangkatan itu, Antikristus akan menganiaya orang banyak dan memaksa mereka menyembahnya. Dengan fakta ini kita tahu, para pemenang yang hidup diangkat sebelum kesusahan besar.
F. Memiliki Nama Anak Domba dan Nama Bapa pada Dahi Mereka
Ayat 1 juga menunjukkan bahwa pada dahi 144.000 orang itu “tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya”. Ini me-nyatakan mereka satu dengan Anak Domba dan Bapa, milik Anak Domba dan Bapa. Nama Anak Domba dan nama Bapa tertulis pada dahi para pemenang duluan, yang ber-lawanan dengan orang-orang yang menyembah binatang itu, yang pada dahinya tertulis nama binatang itu (13:16-17).
G. Menyanyikan Nyanyian Baru
Ayat 3 mengatakan, “Mereka menyanyikan suatu nya-nyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mem-pelajari nyanyian itu selain seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.” Ke-144.000 orang itu menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk hidup dan tua-tua. Selain para buah bungar, tak seorang pun dapat mempe-lajari nyanyian itu, karena mereka tidak memiliki peng-alaman yang dibutuhkan untuk itu. Segala kidung atau nyanyian selalu berasal dari pengalaman. Tanpa pengalam-an, tidak ada yang dapat Anda nyanyikan. Karena ke-144.000 pemenang itu mempunyai pengalaman yang istimewa dan khas terhadap diri Kristus, mereka bisa menyanyikan nyanyian yang tidak bisa dipahami orang lain. Sebagian orang Kristen tidak bisa memahami kidung kita. Meskipun mereka mengatakan nyanyian ini aneh, namun kita merasakan nyanyian kita itu manis dan sedap. Ketika kita menyanyikan kidung tertentu, kita bisa lupa diri. Tetapi orang-orang yang tidak memiliki pengalaman, tidak mengerti apa yang kita nyanyikan. Hanya orang-orang yang telah mengalami baru bisa mempelajari kidung yang dinyanyikan oleh ke-144.000 orang itu.
Ayat 2 berkata, “Aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.” Air bah menun-jukkan suara yang mendesau; guruh yang dahsyat menun-jukkan suara yang berwibawa, suara kecapi menunjukkan suara kesenangan.
Kewibawaan suara guruh yang dahsyat itu menakut-kan Iblis. Pada hari itu, nyanyian ke-144.000 orang itu nyaring sekali. Bukankah kita juga harus menyanyi dengan nyaring pada hari ini? Semakin nyaring kita bernyanyi, semakin baik. Tentu saja, para agamawan akan menyalah-kan hal ini. Nyanyian ke-144.000 orang itu kedengarannya mungkin mirip dengan suara desau air terjun Niagara, bahkan lebih. Kekristenan hari ini terlalu mati dan kaku. Kita harus menyanyi nyaring, jangan mati. Namun, suara nyaring nyanyian kita bukanlah suatu pertunjukan atau tontonan, melainkan berasal dari roh kita. Sedikitnya de-lapan kali Kitab Mazmur memberi tahu kita untuk berso-rak-sorai bagi Tuhan (Mzm. 95:1-2; 98:4; 100:1). Suara de-sau, suara sorak-sorai ini seharusnya secara otomatis keluar dari roh kita. Ketika kita dipenuhi dengan pengalaman yang manis terhadap Tuhan, roh kita pasti akan dipenuhi hingga meluap. Jalan satu-satunya untuk mengekspresikan sukacita kita ialah bersorak-sorai bagi Tuhan. Karena air terjun Niagara penuh air yang bertekanan besar, maka suara yang ditimbulkannya bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Demikian juga seharusnya ketika kita berhimpun ber-sama. Hanya demi pengalamanlah kita baru bisa mema-hami hal ini. Saya bisa bersaksi bahwa saya mempunyai pengalaman ini. Kadang-kadang, sewaktu dalam roh timbul suara mendesau, menyanyi dan memuji Tuhan, timbullah suatu musik yang manis dari suara yang mendesau ini. Jika Anda mempunyai pengalaman demikian, Anda pasti akan berkata “Amin” terhadap perkataan saya ini. Tetapi perkataan ini mengganggu mereka yang tidak mampu men-dengar suara itu. Namun, ini bukanlah jalan saya, me-lainkan jalan Tuhan, jalan Alkitab. Jika Anda tidak mela-tih diri Anda sedemikian rupa pada hari ini, kelak Anda tetap harus mempelajarinya.
H. Tidak Mencemarkan Dirinya dengan Perempuan-perempuan
Ayat 4 menyebutkan bahwa buah bungar itu “tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, kare-na mereka murni sama seperti perawan.” Sama seperti soal bilangan 144.000 itu menimbulkan perdebatan, demikian juga tentang pengertian perawan dalam ayat ini. Menurut bagian firman ini, 144.000 pemenang yang hidup itu, se-muanya adalah perawan. Ada orang berkata istilah “pera-wan” ini mempunyai arti yang sebenarnya, tetapi yang lain berkata istilah ini mempunyai arti rohani. Keperawanan di sini tentu mengacu kepada perihal membujang yang dibica-rakan oleh Tuhan dalam Injil Matius 19:11-12. Namun, prin-sip yang sama juga bisa diterapkan pada saudari (1 Kor. 7:7-34, 37). Prinsip keperawanan yaitu kita tidak seharusnya dicemarkan oleh segala sesuatu yang berasal dari bumi. Jika kita menerima istilah ini secara harfiah saja, maka semua saudari tidak termasuk di dalamnya. Tetapi tidaklah benar bila kita meniadakan para saudari dari antara para pemenang yang hidup ini.
Untuk menjadi pemenang-pemenang yang hidup, kita perlu dijaga oleh anugerah Tuhan dari setiap pencemaran dan polusi, serta hidup di bumi seperti perawan. Dalam pandangan orang-orang dunia, kita nonton bioskop atau tidak itu perkara kecil. Tetapi dalam pandangan orang-orang yang telah beroleh selamat, hal itu sangat serius. Jika saya berbuat demikian, saya akan tercemar. Kita harus menem-puh hidup seperti perawan, hidup dengan suci dan murni. Saya tidak mau merokok dan minum minuman keras, ka-rena saya tidak mau tercemar. Pada kesempatan-kesempat-an tertentu, ada saudara yang menawari saya minum bir. Tetapi saya selalu menolaknya. Belas kasihan dan anugerah Tuhan telah melindungi saya selama lebih dari lima puluh tahun ini. Saya tidak mau tercemar karena minum bir dan menjual diri saya dengan murah. Memang minum bir itu bukan dosa, namun saya tidak membiarkan perkara minum bir mencemari keperawanan saya. Namun terhadap hal semacam ini tidak harus menjadi peraturan yang membuta. Saya bisa duduk di hadapan saudara-saudara yang sedang minum bir dan tidak merasa terganggu sama sekali. Ini sa-ma sekali bukan perkara peraturan yang membuta, melain-kan karena kita berminat menjaga diri kita seperti pera-wan bagi Tuhan. Kita semua harus berkata, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Karena kasihku pada-Mu, aku ingin tetap seperti perawan bagi-Mu. Tuhan, aku tidak ingin dicemari atau dikotori dengan perkara apa saja. Tuhan, aku ingin menjaga diriku bagi-Mu.” Ketika masih muda, saya berdoa demikian setiap hari. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia benar-benar menjawab doa saya.
Dalam hari-hari perjalanan saya sepanjang tahun ber-selang, saya berada dalam banyak situasi yang berbeda. Dalam berbagai situasi itu, timbul banyak sekali pencoba-an. Tetapi saya bisa bersaksi, juga di hadapan orang-orang yang menentang saya, anugerah Tuhan selalu melindungi saya. Meskipun dalam setiap kamar hotel tempat saya meng-inap selalu tersedia pesawat televisi, Tuhan bisa bersaksi bagi saya, tidak pernah sekalipun saya menyalakan televisi itu. Memang menonton televisi bukanlah dosa, tetapi saya tidak ingin tercemar. Sewaktu berada di dalam kamar, sa-ya berkata, “Tuhan, aku tidak ingin tercemar. Aku tetap ingin menjaga diriku bagi-Mu, murni seperti perawan. Tuhan, aku datang ke kota ini bukan untuk melihat televisi, tetapi untuk kesaksian-Mu. Aku tahu semua saudara dan saudari tidak melihat apa yang kulakukan di dalam kamar hotel ini, tetapi si jahat mengetahuinya.” Jika saya menyalakan televisi ini, kesaksianku bagi Tuhan tidak akan mempunyai pengaruh yang kuat. Tetapi karena hati nurani saya ber-saksi bahwa saya tidak tercemar dan saya menjaga diri sebagai seorang perawan bagi Tuhan Yesus, maka kata-kata dan pembicaraan saya memiliki kekuatan.
Kasihan sekali menganggap keselamatan Tuhan sebagai peraturan! Janganlah berkata, “Kita tidak berbuat demikian, karena gereja melarang kita berbuat demikian.” Sikap yang betapa kasihan! Bagi kita, itu bukan masalah peraturan, melainkan minat mengasihi Tuhan. Kita menga-sihi Tuhan Yesus dan sungguh-sungguh ingin terlindung sebagai perawan murni bagi-Nya. Bila saya berada di to-serba, saya menengadah kepada Tuhan, mohon Tuhan menjaga agar saya tidak tercemar. Itulah yang dimaksud menjadi seorang perawan. Baik saudara maupun saudari bisa menjadi seorang perawan bagi Tuhan Yesus. Jika An-da berdoa kepada Tuhan dengan sikap demikian dan ingin hidup seperti seorang perawan, maka semua “hama” akan berada di bawah kaki Anda. Itulah jalan menjadi seorang pemenang yang hidup, salah satu buah bungar.
Mungkin Anda tidak tahu apa perbedaan antara para pemenang dalam pasal 12 dengan para pemenang dalam pa-sal 14. Dalam pasal 12 kita melihat anak laki-laki, sedang dalam pasal 14 kita melihat buah bungar. Dalam berita-berita yang membahas pasal 12 kita dengan jelas nampak bahwa anak laki-laki itu untuk berperang dan mengalahkan Iblis. Jadi, anak laki-laki untuk menanggulangi dan mem-bereskan musuh. Buah bungar bukan untuk berperang, melainkan untuk memuaskan Allah dan Anak Domba. Allah dan Anak Domba membutuhkan kenikmatan. Kita, para pe-menang yang hidup ini, akan menjadi buah bungar untuk memuaskan kebutuhan-Nya akan kenikmatan. Musuh, si jahat, yang berada di surga harus dicampakkan ke bumi oleh anak laki-laki, yang akan melaksanakan penghakiman Tuhan atas dirinya. Itulah fungsi anak laki-laki. Namun, di surga masih ada kebutuhan lainnya — Allah harus dipuas-kan. Allah lapar dan haus; Dia ingin mendapatkan dan mencicipi buah bungar untuk kepuasan-Nya.
Di sini, sekali lagi kita nampak pengaturan Tuhan yang penuh hikmat. Para pemenang yang telah mati sepan-jang abad akan menjadi anak laki-laki, para pejuang. Wa-laupun kita yang masih hidup sekarang ini juga harus berjuang melawan musuh, namun kita tidak perlu meme-ranginya setiap saat. Setelah Anda mengkotbahinya, Anda perlu melupakan dia. Musuh itu sangat licik. Begitu Anda mulai mengkotbahi dia, ia akan menarik Anda mengkot-bahinya terus-menerus, katanya, “Mukaku sangat tebal, aku tidak mempunyai perasaan malu. Aku ingin mende-ngarmu berkotbah terus.” Ia akan berbuat demikian agar Anda berhenti mengasihi Tuhan. Karena itu, setelah meng-kotbahi si jahat sejangka waktu, Anda harus berkata, “Hai, si jahat, aku tak punya waktu lagi mengkotbahimu. Aku akan menggunakan waktuku untuk memberi tahu Tuhanku betapa aku mengasihi-Nya. Aku ingin tetap bersama Tuhanku di dalam kasih. Iblis, kau adalah musuh Allah, berarti kau juga musuhku. Aku telah cukup mengkotbahi-mu. Enyahlah — sekarang adalah waktuku untuk menik-mati bulan madu bersama Tuhanku.” Pelajarilah strategi ini. Janganlah berbicara dengan Iblis terlalu lama. Setelah mengkotbahinya sejangka waktu, Anda harus segera ber-henti dan menggunakan waktu Anda untuk mengasihi Tuhan. Katakanlah kepada-Nya, “Tuhan, aku sangat senang memandang-Mu dan bercakap-cakap dengan-Mu. Aku ingin memuaskan-Mu, bersatu dengan-Mu dan tinggal di hadirat-Mu.” Belajarlah meluangkan waktu untuk mengasihi Tuhan Yesus secara intim. Jika Anda tidak pernah meluangkan waktu seperti ini, Anda adalah orang yang dangkal. Hanya menjadi orang yang tidak berdosa tidaklah cukup. Juga tidak memadai jika hanya menjadi orang yang baik atau benar. Kita harus “gandrung” kepada Tuhan. Meskipun saya tidak menyukai istilah “gandrung”, namun saya terpaksa meng-gunakannya. Kita semua perlu jatuh cinta kepada Tuhan Yesus. Beritahukanlah kepada-Nya, “O Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu, dan Engkau tahu betapa aku mengasihi-Mu. Ya Tuhan, karena aku mengasihi-Mu, maka aku tidak mau melakukan perkara-perkara tertentu.” Demikianlah caranya menjadi seorang pemenang yang hidup. Tuhan me-mang membutuhkan anak laki-laki untuk memerangi mu-suh-Nya, namun Ia juga membutuhkan buah bungar, para pencinta-Nya, untuk kepuasan-Nya.
Dalam perlambangan, buah bungar bukan dibawa pu-lang ke rumah petani, melainkan dibawa ke rumah Allah, Bait Suci, untuk kepuasan-Nya. Demikian juga dengan Tuhan Yesus sebagai buah bungar (1 Kor. 15:20, 23). Pada pagi hari kebangkitan-Nya, Tuhan tidak mengizinkan Maria menjamah-Nya. Kata-Nya, “Janganlah engkau menyentuh Aku, sebab Aku belum naik kepada Bapa” (Yoh. 20:17 Tl.). Tuhan seolah-olah berkata, “Janganlah menyentuh Aku, ka-rena Aku harus menyajikan kesegaran kebangkitan-Ku kepada Bapa-Ku. Bapa-Ku haruslah yang pertama menci-cipi kesegaran kebangkitan-Ku.” Kita semua perlu belajar menyajikan diri kita secara segar, intim, dan penuh kasih kepada Tuhan untuk kenikmatan-Nya. Jika Anda tidak mau mengerjakan atau memegang perkara tertentu karena Anda takut sesuatu, Anda bukanlah pencinta Tuhan yang bermutu tinggi; Anda merosot ke tingkat yang paling ren-dah. Kita harus berada pada tingkat yang paling tinggi, tidak mau melakukan perkara tertentu bukan karena takut, me-lainkan karena cinta kepada Tuhan. Para saudari senang tinggal bersama suami mereka daripada pulang ke rumah orang tua mereka, karena mereka mengasihi suami me-reka. Demikian pula, karena saya mengasihi Tuhan, saya tidak mau melakukan perkara-perkara tertentu. Saya mem-punyai kebebasan untuk berbuat, namun karena cinta saya kepada Tuhan Yesus, saya tidak mau melakukannya. Itu-lah makna sesungguhnya potongan firman ini.
Kita perlu mengikuti prinsip dalam ayat 4, yaitu kita (baik saudara maupun saudari) harus menjaga keperawan-an kita, berharap kepada Tuhan, demi anugerah-Nya, men-jaga kita bagi diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya sebagai pejuang, juga menjadi buah bungar, yaitu orang-orang yang matang lebih dini untuk kepuasan Tuhan. Kita perlu ber-kata, “Tuhan, untuk kepuasan-Mu, aku ingin matang lebih dini. Tuhan, aku tidak mempermasalahkan keterangkatan-ku — aku hanya ingin Engkau puas. Aku ingin ke surga untuk kepuasan-Mu. Tuhan, selama aku bisa memuaskan-Mu, tidak ada bedanya aku ini tinggal di bumi atau di sur-ga.” Demikianlah sikap para pemenang yang hidup.
Karena bagi buah-buah bungar tidak ada masalah di mana mereka berada, maka tidak dikatakan bahwa mereka telah diangkat; sebaliknya kita hanya diberi tahu bahwa ke-144.000 buah bungar itu berdiri bersama-sama Anak Dom-ba di bukit Sion. Telah kita katakan, bukit Sion ini bukan-lah Sion yang di bumi, melainkan Sion yang di surga. Jika Anda adalah seorang di antara para pemenang yang hidup itu, maka tidak ada bedanya Anda diangkat atau tidak. Ka-rena Anda sudah di hadirat Tuhan, maka soal pengangkat-an bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Jadi, bukanlah masalah apakah Anda hidup di hadirat-Nya di sini, di bumi, atau di sana, di bukit Sion. Saat Anda tiba di sana, Anda tidak menjadi heran dan kaget. Jadi, Anda keliru kalau ber-kata, “Oh, aku ada di sini bersama Tuhan. Aku berada di hadirat-Nya!” Orang-orang yang akan diangkat sebagai buah bungar tidak akan mempunyai perasaan heran. Sebaliknya, mereka akan berkata, “Tuhan Yesus, aku sudah bersama-Mu selama bertahun-tahun. Tuhan, aku merasa tidak ada bedanya tinggal di Anaheim atau di langit tingkat ketiga.” Orang luar akan heran karena Anda berdiri di bukit Sion, tetapi tidaklah demikian bagi Anda sendiri. Itu merupakan suatu pengalaman biasa. Jika Anda jauh dari suami Anda selama bertahun-tahun, saat Anda berjumpa kembali de-ngannya, Anda merasakan kegembiraan yang “menggebu-gebu”. Tetapi jika Anda sudah setiap saat bersamanya, Anda pasti tidak akan demikian “menggebu-gebu”. Apakah Anda sungguh-sungguh mengasihi Tuhan? Apakah seka-rang ini Anda juga bersekutu dengan-Nya secara intim, dan menjaga diri di dalam Dia sebagai seorang perawan? Jika demikian hidup Anda, maka soal pengangkatan bukanlah satu hal yang mengherankan, melainkan merupakan suatu pengalaman biasa.
Meskipun ayat-ayat tentang buah bungar ini menun-jukkan sejenis pengangkatan, namun sesungguhnya ayat-ayat ini tidak mengatakan apa-apa tentang pengangkatan. Kita diberi tahu bahwa anak laki-laki itu “dilarikan”, te-tapi tentang buah bungar kita diberi tahu bahwa mereka itu berdiri di bukit Sion bersama Anak Domba. Jika Anda bertanya kapan mereka ada di sana, mereka pasti berkata, “Kami memang biasa di sini. Tidak ada perasaan istimewa bagi kami, karena kami telah hidup di hadirat Tuhan selama bertahun-tahun. Kami telah lama hidup dalam suasana yang demikian.” Itulah pengangkatan terhadap para pemenang yang hidup. Mereka adalah buah bungar, orang-orang yang memuaskan rasa lapar Allah Bapa dan Anak Domba, Sang Penebus. Tuaian Allah yang matang paling awal bukan untuk berperang, melainkan untuk kenikmatan Allah.
I. Tidak Ditemukan Dusta dalam Mulut Mereka
Ayat 5 mengatakan tentang buah bungar, “Di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta.” Dusta adalah ekspresi dan wakil Iblis. Iblis adalah bapak semua pendusta, dan dusta berasal dari dia (Yoh. 8:44). Dalam mulut pemenang tidak terdapat dusta. Ini menyatakan bahwa mereka sedikit pun tidak mengekspresikan kadar Iblis. Jika kita menem-puh hidup yang mengasihi Tuhan, tidak akan ada dusta atau kepalsuan yang keluar dari mulut kita. Saya tidak suka mengatakan hal ini, namun selama bertahun-tahun saya telah dibohongi oleh orang-orang Kristen sejati. Beta-pa memalukan! Dalam pemulihan Tuhan, haruslah tidak ada kata-kata dusta dan tidak ada kepalsuan dalam mulut kita. Bila ya, katakan “ya”, bila tidak, katakan “tidak”. Ji-ka kita tidak bisa mengatakan dengan tegas ya atau tidak, janganlah kita berkata apa-apa. Dalam kasus seperti ini kita harus melatih hikmat kita untuk tidak berkata apa-apa, sehingga tidak ada dusta atau kebohongan yang ke-luar dari mulut kita. Kita tidak mempunyai sangkut-paut apa-apa dengan Iblis, si pembohong dan sumber segala dusta.
J. Tidak Bercela
Ayat 5 juga mengatakan buah bungar itu “tidak bercela”. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bercacat, tidak berkerut, sempurna dalam kekudusan Allah (Ef. 5:27), secara mutlak dikuduskan bagi Allah, dan seluruhnya dijenuhi oleh Allah (1 Tes. 5:23).
K. Mengikuti Anak Domba ke Mana Saja Ia Pergi
Ke-144.000 buah bungar itu “mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi” (ayat 4). Jadi, bukan Anak Dom-ba yang mengikuti kita, melainkan kita yang mengikuti Dia ke mana saja Ia pergi. Kita semua harus belajar pela-jaran mengikuti Dia ke mana saja Ia pergi.