← Daftar isi Wahyu (1) · bab 9/17

PENGHAKIMAN LEBIH LANJUT ATAS DIRI MANUSIA — SANGKAKALA KEENAM

Selain kata pendahuluan (1:1-8) dan kata kesimpulan (22:6-21), Kitab Wahyu terbagi menjadi tiga bagian utama. Dalam 1:19 Tuhan berkata kepada Yohanes, “Karena itu, tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi seka-rang maupun yang akan terjadi sesudah ini.” Jadi ketiga bagian utama ini adalah “apa yang telah kaulihat” (1:9-20), “yang terjadi sekarang” (2:1—3:22), dan “yang akan terjadi” (4:1—22:5). Dalam pasal 1, ada tujuh kaki pelita dengan Kristus di tengah-tengahnya, yang merupakan “yang telah kaulihat,” dan dalam pasal 2 dan 3 terdapat ketujuh ge-reja, yang merupakan “yang terjadi sekarang”. Bagian dari “yang terjadi” dimulai dengan gambaran suasana di surga dalam pasal 4. Seperti yang diungkapkan dalam pasal 5, Kristus datang dalam suasana ini sebagai Sang unik yang layak membuka rahasia ekonomi Allah. Telah kita tunjuk-kan bahwa keempat meterai pertama memaparkan sejarah dunia secara ringkas, dari naiknya Kristus ke surga hingga kedatangan-Nya kembali, dilukiskan sebagai satu pacuan empat kuda. Menjelang akhir zaman ini, pada saat meterai kelima dibuka, kaum saleh martir akan berseru kepada Allah. Sebagai jawaban Allah atas seruan mereka, meterai keenam pun dibuka. Ia akan mengguncangkan alam semesta sebagai peringatan kepada mereka yang tinggal di bumi dan sebagai suatu pendahuluan datangnya kesusahan besar. Berikutnya, ketujuh sangkakala akan datang sebagai isi dari meterai ketujuh. Keempat sangkakala yang perta-ma merupakan penghakiman Allah atas bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit. Karena penghakiman ini, bumi tidak lagi merupakan tempat kediaman yang nyaman bagi manusia. Karena malapetaka yang timbul akibat me-terai keenam dan keempat sangkakala yang pertama tidak menyakiti manusia secara langsung, melainkan hanya me-rusak bumi, sehingga bumi tidak lagi merupakan tempat hidup yang nyaman bagi manusia, maka semua itu bukan-lah bagian dari kesusahan besar itu. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, sangkakala kelima me-nandai diawalinya kesusahan besar. Kesusahan besar yang tercantum dalam Matius 24:21 terdiri dari tiga celaka yang berasal dari sangkakala kelima, keenam, dan ketujuh.

Mulai sangkakala kelima umat manusia akan disiksa secara langsung. Pada saat sangkakala kelima ditiup, Iblis akan dicampakkan dari surga ke bumi dan Antikristus akan keluar dari jurang maut, dan keduanya bersama-sa-ma menyiksa manusia selama lima bulan. Tidak seperti malapetaka sebelumnya, siksaan yang ditimbulkan oleh be-lalang-belalang yang kerasukan setan ini akan menyiksa manusia secara langsung. Telah kita lihat, pada awal tiga setengah tahun yang terakhir, Antikristus akan berubah pikiran terhadap umat Israel, menghentikan penyembahan terhadap Allah, dan akan menyiksa manusia yang dicipta-kan oleh Allah bagi diri-Nya. Inilah permulaan kesusahan besar. Siksaan ini, yaitu celaka yang pertama ini, demikian hebatnya sehingga tidak ada seorang pun yang sanggup me-nanggungnya. Setelah itu, masih ada celaka yang kedua, yaitu sangkakala keenam.

I. PELEPASAN KEEMPAT MALAIKAT

Celaka kedua lebih rumit daripada celaka yang perta-ma. Celaka ini tidak sejelas celaka pada sangkakala keli-ma, yang disebabkan oleh kerja sama Iblis dan Antikristus. Wahyu 9:13-14 mengatakan, “Lalu malaikat yang keenam meniup sangkakalanya, dan aku mendengar suatu suara keluar dari keempat tanduk mezbah emas yang di hadapan Allah, dan berkata kepada malaikat yang keenam yang me-megang sangkakala itu, ‘Lepaskanlah keempat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat itu.” Darah penda-maian dibubuhkan pada keempat tanduk mezbah emas, (mezbah pembakaran ukupan), untuk mengadakan penda-maian (Im. 16:18) yaitu untuk penebusan. Suara yang ke-luar dari keempat tanduk mezbah emas menunjukkan bahwa dasar penghakiman Allah terhadap manusia ialah penebus-an Kristus; penghakiman ini dilangsungkan karena manu-sia tidak mempercayai penebusan Kristus.

Ayat 12 mengatakan, “Celaka yang pertama sudah le-wat. Sekarang akan menyusul dua celaka lagi.” Karena pada sangkakala kelima Iblis jatuh dari langit untuk merusak bumi ini dan menganiaya umat Allah selama tiga setengah tahun (12:10, 12-17, 6); pada waktu yang sama (tiga sete-ngah tahun yang terakhir), Antikristus akan muncul dari jurang maut, bekerja sama dengan Iblis untuk menyiksa manusia, menganiaya orang kudus dan menghujat Allah (13:5-7; 11:7); dan dalam tiga setengah tahun itu pula kota suci Yerusalem diserahkan kepada bangsa kafir untuk di-rusak (11:2), karena itu, celaka dari sangkakala kelima pasti merupakan permulaan dari celaka yang paling serius pada kesusahan besar (Mat. 24:21). Celaka kedua dari sangkakala keenam dan celaka ketiga dari sangkakala ke-tujuh (8:13; 9:12; 11:14) pasti juga merupakan dua bagian dari celaka yang paling serius pada kesusahan besar, ketiga celaka tersebut, berikut perusakan dari meterai keenam dan empat sangkakala yang pertama, kelak akan menjadi pencobaan bagi seluruh penghuni bumi (3:10). Kedua celaka yang tercantum dalam ayat 12 adalah celaka dari sangka-kala keenam dan sangkakala ketujuh (9:13-21; 11:14-15), yaitu ketujuh cawan (pasal 16).

Tentunya, keempat malaikat “yang terikat dekat sungai besar Efrat itu” adalah keempat malaikat yang jahat, yang telah jatuh dan memberontak, yang mengikuti Iblis. Alkitab tidak menunjukkan berapa lama mereka telah terikat di situ. Ayat 15 mengatakan, “Lalu dilepaskanlah keempat ma-laikat yang telah disiapkan bagi jam dan hari, bulan dan tahun untuk membunuh sepertiga dari umat manusia.” Ba-nyak orang yang menanggapi kata-kata ini dengan konsepsi alamiah mereka. Mereka mengira “jam dan hari, bulan dan tahun” ditujukan kepada tahun, bulan, hari, dan jam yang khusus sewaktu pembunuhan terhadap sepertiga bagian dari umat manusia itu terjadi. Namun sebenarnya bukan demikian maknanya. “Jam dan hari, bulan dan tahun” me-nunjukkan keempat malaikat itu sudah siap sedia bagi jam, ditambah hari, ditambah bulan, ditambah tahun — jumlah-nya tiga belas bulan, satu hari, dan satu jam — untuk mem-bunuh manusia. Pembantaian ini pada mulanya berlang-sung satu jam, kemudian satu hari, selanjutnya satu bulan, dan terakhir selama satu tahun. Pembunuhan itu demikian hebat dan mengerikan, sehingga mula-mula, orang mengira itu akan berakhir tidak lebih dari satu jam. Setelah satu jam, ternyata masih belum berakhir, lalu mereka berharap itu hanya terjadi selama sehari. Setelah itu, mereka akan berharap keadaan itu tidak akan diperpanjang lebih dari sebulan. Namun setelah keadaan itu terjadi selama sebulan, orang-orang beranggapan keadaan itu hanya bisa berlang-sung selama setahun. Akhirnya, pembunuhan yang menge-rikan itu berlangsung selama tiga belas bulan, satu hari, dan satu jam.

Selama Perang Dunia II, banyak di antara kita yang menderita. Ketika perang itu pecah pada 7 Juli 1937, saya sedang dalam suatu perjalanan di China. Esok paginya, saya membaca koran edisi paling baru yang mengatakan bahwa perang telah pecah malam tadi. Sejak saat itu, kami mulai merasakan penderitaan karena perang, mula-mula se-lama empat tahun. Kemudian terjadilah pemboman atas Pearl Harbor, dan Amerika Serikat memasuki arena pepe-rangan. Kami terus-menerus menderita akibat perang, dan kami selalu berharap agar perang segera berakhir. Berita demi berita datang mengatakan bahwa tidak berapa lama lagi perang akan berakhir, namun ternyata perang itu tetap berlarut-larut, dan kami terus menghitung-hitung hari. Selama perang, saya pernah dipenjarakan oleh tentara yang menyerbu selama tiga puluh hari. Karena saya merasa men-derita selama di penjara, maka saya tidak hanya menghi-tung hari, tetapi juga jamnya, dengan harapan pada jam berikutnya saya akan dibebaskan. Tiga puluh hari kemu-dian, saya dilepaskan, tetapi masih belum sungguh-sung-guh merdeka, dan kami masih terus menghitung hari. Dari pengalaman ini kami dapat mengerti makna “jam dan hari, bulan dan tahun” dalam Wahyu 9:15. Ketika pembunuhan yang mengerikan yang tercantum dalam pasal 9 menimpa manusia, orang banyak akan berharap pembantaian itu ber-henti dalam satu jam, kemudian satu hari, lalu satu bulan, dan akhirnya satu tahun. Keempat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat itu dipersiapkan untuk membunuh manusia selama sejangka waktu — selama satu jam, satu hari, satu bulan, dan satu tahun.

II. DUA RATUS JUTA PASUKAN BERKUDA

Ayat 16 mengatakan, “Jumlah tentara itu ialah dua ratus juta pasukan berkuda; aku mendengar jumlah mere-ka.” Untuk membunuh sepertiga bagian umat manusia, ke-empat malaikat akan menggunakan dua ratus juta pasukan berkuda. Jumlah orang-orang berkuda ini hampir sama de-ngan jumlah keseluruhan penduduk Amerika Serikat. Ke-dua ratus juta pasukan berkuda ini datang dari tempat ma-tahari terbit (16:12), yaitu dari arah timur. Tempat di bumi yang menghasilkan banyak kuda adalah Mongolia. Dunia Barat telah menemukan sangat banyak metode transportasi yang modern, tetapi pasukan berkuda dari timur itu tidak akan menggunakan transportasi yang modern itu, melainkan akan menggunakan kuda-kuda. Melakukan perjalanan di atas punggung kuda tidak memerlukan jalan-jalan yang modern atau rel-rel kereta api. Hanya saja setiap penung-gang kuda perlu membawa kuda khusus untuk makanan dan minuman. Pasukan berkuda ini mudah menyembunyi-kan diri atau berpencar bila ada orang yang ingin menye-rang mereka dengan bom, dan jejak mereka sulit dilacak. Pasukan berkuda ini akan bergerak menuju barat, dan sambil jalan mereka membunuh. Para penunggang kuda itu akan mengenakan “baju zirah, warnanya merah api, bi-ru dan kuning belerang; kepala kuda-kuda itu sama seperti kepala singa, dan dari mulutnya keluar api, dan asap dan belerang” (ayat 17). Ayat 19 mengatakan, “Sebab kuasa ku-da-kuda itu terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya. Sebab ekornya sama seperti ular; mereka berke-pala dan dengan kepala mereka itu mereka mendatangkan kerusakan.” Ekor kuda di sini seperti ular, lebih beracun daripada ekor belalang yang seperti kalajengking (ayat 10). Belalang hanya membuat manusia menderita selama lima bulan (ayat 5, 10), namun kuda akan membunuh sepertiga dari umat manusia (ayat 15, 18). Ini berarti celaka sangka-kala keenam lebih berat daripada celaka sangkakala kelima.

Seperti yang telah kita lihat, keempat malaikat akan dilepaskan untuk menggerakkan dua ratus juta pasukan berkuda. Pasukan itu akan bergerak dari timur ke barat melalui Sungai Efrat, akan mencapai bagian terkaya di bumi — Timur Tengah. Wahyu 9:14 mengatakan bahwa keempat malaikat itu terikat dekat sungai besar Efrat, dan 16:12 mengatakan, “Malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, Sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur.” Kedua ratus juta pasukan berkuda dari “arah timur” akan melibatkan diri dalam perang Harmagedon (16:10-16; 19:17-18).

Wahyu 16:13 dan 14 mengatakan, “Lalu aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuat-an ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di selu-ruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.” Ayat 16 pasal yang sama mengatakan, “Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Har-magedon.” Peristiwa pengeringan sungai besar Efrat meru-pakan akibat ditumpahkannya cawan keenam. Melalui sebutan sungai besar Efrat dalam pasal 9 dan 16, kita nam-pak bahwa kedua ratus juta pasukan berkuda dalam sang-kakala keenam berkaitan dengan cawan keenam dari sang-kakala ketujuh untuk mengumpulkan pasukan tentara dunia ke Harmagedon. Kedua ratus juta pasukan berkuda yang berasal dari arah timur dan pasukan tentara dari arah uta-ra dan barat akan dikumpulkan bersama-sama di sana. Allah akan menghimpun seluruh tentara di bumi di satu tempat. Inilah hikmat-Nya. Hal itu akan terjadi pada cawan ke-enam, yang merupakan bagian celaka akibat sangkakala ketujuh. Pada saat yang sama, Iblis dengan sekuat tenaga berusaha merusak manusia, dan Antikristus akan meng-aniaya umat Allah dan bahkan berperang melawan Allah, melakukan sebisa mungkin untuk merusak bumi. Karena itu, Allah akan mengirimkan penghakiman-Nya atas bumi. Selama tiga setengah tahun yang terakhir, Iblis dan Antikristus dengan sekuat tenaga berusaha menyiksa orang-orang, dan Allah akan menghakimi bumi. Betapa mengerikannya bumi saat itu!

Setelah sungai besar Efrat dikeringkan, raja-raja dari timur beserta pasukan tentaranya menyeberang sungai itu menuju Harmagedon. Harmagedon sangat dekat dengan Yerusalem. Seperti yang telah kita lihat, seluruh tentara dunia akan berkumpul di sana untuk merampas segala ke-kayaan yang terdapat di tempat itu. Banyak bangsa di dae-rah itu menjadi kaya karena sumber minyak mereka. Na-mun sesungguhnya hal itu merupakan pengaturan ilahi Allah untuk mengumpulkan mereka seperti mengumpulkan ang-gur di tempat pemerasan anggur (14:17-20; 19:15). Wahyu 19:15 mengatakan, Kristus akan “memeras anggur dalam gilingan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Maha-kuasa.” Dalam pasal 14, pertama-tama ada buah sulung (ayat 1, 4), kedua, tuaian (ayat 15-16), dan ketiga, penggi-lingan anggur (ayat 18-19). Ayat 20 mengatakan, “Buah-buah anggur itu digiling di luar kota dan dari gilingan itu mengalir darah, tingginya sampai ke kekang kuda dan jauh-nya dua ratus mil.” Pengumpulan pasukan tentara selu-ruh dunia di tempat yang disebut Harmagedon adalah se-perti mengumpulkan anggur-anggur di penggilingan anggur. Semua anggur akan dikumpulkan ke dalam gilingan besar murka Allah. Sewaktu Kristus kembali ke bumi, Ia akan memusnahkan pasukan-pasukan yang jahat itu ke dalam gilingan anggur murka Allah. Hasilnya adalah sungai da-rah setinggi kekang kuda, kira-kira dua ratus mil jauhnya.

Kita telah nampak bahwa tiga belas bulan, satu hari, dan satu jam mungkin merupakan waktu yang ditempuh kedua ratus juta orang berkuda yang berangkat dari “arah terbitnya matahari” ke Timur Tengah. Sambil berjalan, mereka akan membunuh sepertiga bagian dari umat ma-nusia. Pembantaian itu sungguh mengerikan. Ketika pasuk-an berkuda ini sampai ke sungai besar Efrat, tidak lama sebelum terjadi peperangan di Harmagedon, isi cawan ke-enam akan dituangkan. Catatan ini sangatlah serius. Ca-tatan sejarah ini telah ditulis sebelum semua itu terjadi. Para penulis dunia ini berwawasan sempit, dangkal, dan bebal. Tuhan sendirilah yang telah menuliskan catatan se-jarah manusia ini. Saya tidak berani membicarakan hal ini secara remeh.

Saya telah diselamatkan lebih dari lima puluh tahun. Sejak tahun 1918 saya telah mengeluarkan banyak waktu untuk mengamati situasi dunia dan mempelajari nubuat-nubuat dalam Alkitab. Saya bisa bersaksi, terhadap pengge-napan nubuat dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi waktu yang lebih dekat daripada sekarang ini. Berita-berita dunia hari ini terfokus pada Timur Tengah. Kebanyakan berita koran mengenai Timur Tengah sesuai dengan apa yang te-lah dikatakan dalam Alkitab. Ini berarti Tuhan menggenapi firman-Nya dan segala nubuat itu sekarang sedang digenapi satu demi satu. Tidak diragukan lagi, kita sudah sangat de-kat dengan saat pembukaan meterai keenam. Aspek utama dari meterai ini adalah gempa bumi dahsyat. Namun, da-lam pelajaran-hayat ini, kita tidak berminat hanya untuk memuaskan keingintahuan kita tentang nubuat. Tuhan membuka mata kita untuk pemulihan-Nya. Kita tidak buta, terselubung, atau tertutup. Jika ada orang Kristen yang mengetahui kehendak Allah dan ekonomi Allah, kita harus menjadi orang itu. Lalu apakah yang akan kita lakukan? Kita hanya akan berkata, “Amin, Tuhan. Amin atas fir-man-Mu. Amin atas segala yang Engkau lakukan. Amin atas ekonomi-Mu, dan amin atas pergerakan-Mu. Tuhan, amin atas segala rahasia yang telah Engkau tunjukkan kepada kami.”

Sebagai seorang saudara yang lebih tua, izinkanlah saya berkata sepatah kata kepada kaum muda: Kalian sangat bahagia karena telah dibawa masuk ke dalam pemulihan Tuhan di masa muda kalian. Sepanjang hidup kalian, pasti banyak perkara yang telah dinubuatkan dalam Alkitab akan digenapi. Kalau kita memperhatikan segala perkara yang diungkapkan dalam berita-berita pelajaran-hayat ini, tidak seorang pun di antara kita yang bisa mengatakan bahwa ia masih belum melihat sesuatu, atau ia belum tahu apa-apa tentang zaman yang akan datang. Kaum muda, se-kalipun lima puluh tahun yang silam saya telah menge-luarkan banyak waktu untuk mempelajari buku-buku ten-tang nubuat, saya tidak mempunyai visi sejelas seperti yang kalian terima hari ini. Puji Tuhan, karena selubung ini telah disingkirkan, karena ekonomi Allah telah dinyata-kan kepada kita, dan karena kita sekarang memiliki visi yang jelas tentang apa yang akan datang. Dalam hari-hari ini, pemandangan, terang, dan visi yang kita terima sangat-lah jelas. Kita tahu apa yang akan terjadi dalam meterai kelima, apa yang terjadi pada meterai keenam, dan apa yang akan terjadi pada saat keempat sangkakala yang per-tama ditiup. Kita tahu bahwa sangkakala kelima yang sebagai celaka yang pertama akan menandai dimulainya kesusahan besar dan sangkakala keenam sebagai celaka yang kedua akan melanjutkan kesusahan besar itu. Kita telah nampak bahwa sangkakala keenam akan berkaitan dengan cawan keenam. Ringkasnya, kita telah diberi visi yang jelas tentang masa yang akan datang. Setelah meterai keenam dibuka, di bumi ini tidak ada satu pun yang baik buat kita. Bersiap-sedialah! Bumi akan diguncangkan, laut akan dirusak, sungai-sungai akan dijadikan pahit airnya, dan benda-benda langit akan dibuat-Nya gelap. Terakhir, Iblis dan Antikristus akan bekerja sama untuk menyiksa umat manusia selama lima bulan. Berikutnya, pada saat sangkakala keenam ditiup, dua ratus juta pasukan berkuda akan mulai melintasi sebagian besar bumi sambil membu-nuh sepertiga bagian dari umat manusia, di sepanjang jalan yang mereka lalui. Terakhir, seluruh pasukan tentara dunia akan dikumpulkan di suatu tempat yang disebut Harmagedon. Kemudian, anggur-anggur ini, yaitu tentara dunia, akan digiling oleh Kristus dalam gilingan anggur murka Allah.

III. KELANJUTAN KESUSAHAN BESAR

Sudahlah jelas bahwa celaka yang kedua dari sangka-kala keenam itu merupakan celaka yang paling hebat dari lanjutan kesusahan besar (11:14). Wahyu 9:20-21 mengata-kan, “Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malape-taka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan me-reka: Mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan, dan mereka tidak bertobat dari pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.” (Perhatikan: ayat 20 ini tidak mengatakan berhala-berhala di sini tidak dapat berbi-cara, seperti dalam Mazmur 115:5 dan 135:16, karena me-nurut Wahyu 13:15, patung Antikristus dapat berbicara). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa maksud penghakiman Allah adalah agar manusia bertobat. Meskipun Allah ber-maksud melalui penghakiman-Nya membuat manusia bisa bertobat, namun ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manu-sia tidak mau bertobat.