Berita Kedua Puluh Empat
PENGHAKIMAN ATAS MANUSIA — SANGKAKALA KELIMA
Dalam berita ini saya berbeban membahas kesusahan besar. Wahyu 8:13 mengatakan, “Lalu aku melihat dan mendengar seekor burung nasar terbang tinggi di langit dan berkata dengan suara nyaring, ‘Celaka, celaka, celakalah mereka yang tinggal di bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.” Tiga sangkakala terakhir akan merupakan tiga macam celaka yang terakhir (9:12; 11:14) pada kesusahan besar (siksaan yang dahsyat) (Mat. 24:21), yang akan terjadi pada setengah bagian terakhir dari minggu ketujuh puluh (Dan. 9:27), yakni tiga setengah tahun (Dan. 7:25; 12:7; Why. 12:14), 42 bulan (Why. 11:2; 13:5), atau 1.260 hari (Why. 11:3; 12:6).
I. AWAL MULA KESUSAHAN BESAR
Banyak orang Kristen mengira bahwa kesusahan besar akan berlangsung selama tujuh tahun. Sebagian orang percaya hal ini karena mereka memahami Alkitab secara tradisional dan tidak cermat. Firman Alkitab sangatlah jelas dan tepat, untuk memahaminya kita perlu memiliki terang wahyu. Dalam Alkitab tidak ada satu kata pun yang sia-sia, setiap kata sangatlah bermakna dan tepat.
Mari kita membahas Daniel 9:24-27. Ayat 24 mengatakan, “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.” Sebutan “bangsa” di sini ditujukan kepada bangsa Daniel dan “kota kudus” mengacu kepada Yerusalem. Menurut Alkitab, tujuh masa di sini bukan berarti tujuh hari, melainkan tujuh tahun. Jika Anda berkata bahwa tujuh puluh kali tujuh masa ditujukan kepada tujuh puluh masa kali tujuh hari, Anda tidak mungkin bisa menafsirkan bagian ini dengan benar dan tepat.
Ayat 25 mengatakan, “Maka ketahuilah dan pahami-lah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.” Di sini kita melihat “tujuh kali tujuh masa” dan “enam puluh dua kali tujuh masa”. Selanjutnya ayat 26 mengatakan, “Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.” “Disingkirkan” seorang yang telah diurapi ditujukan kepada tersalibnya Kristus di atas salib. Pemusnahan kota dan tempat kudus ditujukan kepada pemusnahan terhadap Bait Suci dan kota Yerusalem oleh Titus pada tahun 70. Ayat 27 mengakhiri, “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan kurban sembelihan dan kurban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.” Di sini kita tampak bahwa raja itu akan menegaskan perjanjian itu selama satu kali tujuh masa. Tetapi pada pertengahan tujuh masa itu, yakni tiga setengah tahun, ia akan menghentikan kurban sembelihan dan kurban santapan. Ini berarti ia akan menghentikan penyembahan terhadap Allah.
Tujuh puluh kali tujuh masa sama dengan 490 tahun, dimulai dari tahun kedua puluh zaman Artahsasta, yang mengeluarkan ketetapan untuk membangun kembali tembok Yerusalem (Neh. 1:1; 2:1). Ketujuh masa yang pertama, 49 tahun, adalah untuk menyelesaikan pembangunan kota dan tembok Yerusalem. Dari saat pembangunan sampai Kristus “disingkirkan” ada enam puluh dua masa, yakni 434 tahun. Setelah masa ke enam puluh sembilan kali tujuh masa ini lewat, terdapat satu periode penundaan yang panjang. Sesudah itu, masa terakhir, yakni tujuh tahun yang terakhir, akan tiba. Inilah sumber pikiran yang mengatakan bahwa kesusahan besar akan berlangsung selama tujuh tahun.
Seperti yang akan kita lihat, konsepsi itu tidak tepat. Tujuh tahun terakhir dari masa terakhir, adalah waktu Antikristus mengadakan persetujuan dengan orang-orang Yahudi. Selama paruh pertama dari ketujuh tahun ini, Antikristus akan bersahabat dengan bangsa Yahudi. Tetapi setelah tiga setengah tahun, ia akan berubah pikiran. Kalau semula ia menyetujui orang-orang Yahudi menyembah Allah di dalam Bait dan mempersembahkan kurban persembahan, saat itu ia berubah pikiran, ia meninggikan dirinya sendiri sebagai Allah, mendirikan patungnya sendiri di dalam Bait, dan memaksa semua orang menyembah dia dan patungnya. Kemudian ia mulai menganiaya orang-orang Yahudi. Jadi, paruh pertama dari tujuh tahun belumlah kesusahan besar, karena selama waktu itu Antikristus bersahabat dengan orang-orang Yahudi. Menurut Daniel 9:27, “pada pertengahan tujuh masa itu” Antikristus “akan menghentikan kurban sembelihan dan kurban santapan,” dan menyuruh orang-orang Yahudi berhenti menyembah Allah serta berhenti mempersembahkan kurban persembahan kepada-Nya. Antikristus juga akan mendirikan pembinasa keji di tempat kudus. Menurut Kitab Wahyu, pembinasa keji adalah patung Antikristus yang didirikan sebagai berhala di dalam Bait Suci.
Baiklah kita sekarang kembali ke Matius 24, sebuah pasal yang menyinggung tentang kesusahan besar ini. Dalam ayat 15 Tuhan Yesus berkata, “Jadi, apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan melalui Nabi Daniel.” Kapankah hal itu akan terjadi? Hal itu bukan terjadi pada awal dari ketujuh tahun itu, melainkan pada pertengahan dari ketujuh tahun itu, pada saat Antikristus menghentikan penyembahan terhadap Allah, meninggikan dirinya sendiri sebagai Allah, dan menaruh patungnya di dalam Bait Suci. Dalam pandangan Allah, hal itu adalah suatu kekejian. Kemudian dalam ayat 21 Tuhan menetapkan, “Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Dari sini kita tampak bahwa kesusahan besar, akan dimulai pada paruh terakhir ketujuh tahun yang terakhir, jadi lamanya hanya tiga setengah tahun. Pengajaran tradisional yang mengatakan bahwa kesusahan besar ini akan berlangsung selama tujuh tahun tidaklah tepat, janganlah kita mengikutinya. Pengajaran itu tidak memberikan rincian secara tepat untuk mempelajari nubuat. Orang-orang yang berpegang pada pengajaran tradisional mengatakan tujuh tahun. Mereka lupa bahwa di tengah-tengah ketujuh tahun itu Antikristus akan mengubah pikirannya dan hal itu mendatangkan kesusahan besar, yaitu pada tiga setengah tahun yang terakhir, paruh kedua dari satu kali tujuh masa yang terakhir.
Kita juga perlu memperhatikan beberapa ayat dari Wahyu 12. Ayat 5 dan 6 mengatakan, “Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari.” Seribu dua ratus enam puluh hari sama dengan tiga setengah tahun. Setelah anak lelaki diangkat, akan terdapat satu periode tiga setengah tahun, yaitu paruh terakhir dari masa ketujuh puluh. Saat itu patung Antikristus akan didirikan di Bait Suci. Kemudian ayat 7-13 mewahyukan akan terjadi perang di surga, naga beserta para malaikatnya akan dilemparkan dari surga ke bumi, dan naga itu akan menganiaya perempuan yang melahirkan anak laki-laki. Ayat 14 mengatakan, “Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.” Satu masa dan dua masa dan setengah masa mengacu kepada tiga setengah tahun yang terakhir itu. Dalam potongan firman ini kita tampak bahwa Iblis akan dilemparkan dari surga ke bumi, yaitu pada awal dari tiga setengah tahun terakhir. Dengan tegas hal ini membuktikan bahwa kesusahan besar akan berlangsung selama tiga setengah tahun, bukan selama tujuh tahun.
Bukti berikutnya tentang hal ini terdapat dalam Wahyu 11:2, yang mengatakan, “Tetapi kecualikan halaman Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci selama empat puluh dua bulan.” Dalam ayat ini dikatakan bahwa kota Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa kafir selama empat puluh dua bulan. Orang-orang kafir yang akan menginjak-injak kota suci adalah Antikristus dan bala tentaranya. Hal ini sesuai dengan nubuat dalam Daniel 9. Saat itu Antikristus melanggar perjanjian, mengangkat dirinya sebagai Allah, menyuruh orang banyak menyembahnya. Saat itu juga ia menginjak-injak kota suci. Hal ini akan terjadi selama kesusahan besar. Karena itu, kesusahan besar akan dimulai pada awal tiga setengah tahun terakhir ketika Iblis dilemparkan dari surga ke bumi. Seperti telah kita lihat, ini dengan jelas disebutkan dalam pasal 12.
II. IBLIS DILEMPARKAN DARI SURGA KE BUMI
Dengan hal ini sebagai latar belakang, kita sekarang memasuki sangkakala kelima. Wahyu 9:1 mengatakan, “Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lubang jurang maut.” Bintang di sini mengacu kepada Iblis (Satan), yang akan dicampakkan dari langit ke bumi. Malaikat diumpamakan sebagai bintang (Ayb. 38:7; Why. 12:4). Sebagai penghulu malaikat, Iblis asalnya ialah bintang yang gilang gemilang (Yes. 14:12). Dalam Lukas 10:18 dia sudah dihakimi. Di sini dan dalam 12:9-10, adalah pelaksanaan penghakiman itu. Jurang maut (lubang tak berdasar) adalah tempat tinggal setan-setan (Luk. 8:31).
Kapankah Iblis dilemparkan dari surga ke bumi? Jawaban atas pertanyaan ini terdapat dalam pasal 12. Pasal itu mewahyukan bahwa setelah anak laki-laki diangkat ke surga, ia akan berperang melawan Iblis dan seolah-olah berkata kepadanya, “Iblis, karena sekarang kami ada di sini, tidak ada lagi tempat untukmu. Kamu harus dilemparkan!” Menurut pasal itu, Iblis akan dibuang dari surga pada permulaan tiga setengah tahun terakhir. Kita telah menunjukkan bahwa ini merupakan bukti kuat bahwa kesusahan besar tidak akan dimulai sebelum waktu itu, karena sebelum waktu itu, Iblis masih ada di surga.
Ketika Iblis dilemparkan dari surga ke bumi, kunci jurang maut akan diberikan kepadanya sehingga ia bisa membuka jurang maut dan melepaskan belalang-belalang yang kerasukan setan untuk menyiksa manusia selama lima bulan.
III. BELALANG-BELALANG
Karena kesusahan besar dimulai dengan celaka pertama pada saat sangkakala kelima ditiup, kesusahan besar tidak termasuk meterai keenam maupun keempat sangkakala yang pertama. Dibukanya meterai keenam menimbulkan malapetaka yang adikodrati, sedang keempat sangkakala yang pertama merupakan penghakiman atas bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit. Tetapi penghakiman itu sendiri tidak termasuk dalam kesusahan besar. Keempat sangkakala yang pertama sangatlah hebat dan berat, namun semuanya itu belum melukai manusia secara langsung. Setelah itu baru datang kesusahan besar yang menyiksa manusia secara langsung. Sebelum sangkakala kelima ditiup, manusia belum dijamah secara langsung; hanya bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit yang akan dirusak. Hal itu bisa dianggap sebagai pendahuluan dari kesusahan besar yang akan datang. Penghakiman Allah terhadap bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit merupakan suatu peringatan bagi manusia. Pada saat sangkakala kelima ditiup, manusia akan mengalami siksaan secara langsung.
Ayat 3-5 mengatakan, “Dari asap itu keluarlah belalang-belalang ke atas bumi dan kepada mereka diberikan kuasa sama seperti kuasa kalajengking-kalajengking di bumi.
Kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusak rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya. Mereka diperkenankan bukan untuk membunuh manusia, melainkan hanya untuk menyiksa mereka selama lima bulan, dan siksaan itu seperti siksaan kalajengking, apabila ia menyengat manusia.” Belalang di sini tidak sama dengan belalang pada Keluaran 10:12-15, sebab ekor mereka bagaikan kalajengking, mempunyai sengat yang beracun, bisa menyakiti manusia (ayat 10). Mereka pasti dirasuk oleh setan, sebab mereka muncul dari asap yang keluar dari jurang maut yaitu tempat tinggal setan (ayat 2). Malapetaka keempat sangkakala pertama tidak langsung menimpa manusia, sedangkan celaka ketiga sangkakala terakhir langsung menimpa manusia. Hanya bani Israel yang dahinya sudah dimeterai oleh Allah tidak akan disakiti oleh belalang yang kerasukan setan itu (7:3-8).
Dalam ayat 7-10 kita melihat ciri khas belalang-belalang itu. Ayat 7 dan 9 pada pasal ini sangat mirip dengan Yoel 2:4-5, 25; dan 1:6, semuanya adalah perkataan yang membicarakan bani Israel. Perkataan tersebut, disertai fakta bahwa bani Israel pasti akan menerima pemeteraian Allah (7:3-8) agar terhindar dari belalang yang menyakiti orang itu, mungkin menunjukkan bahwa celaka sangkakala kelima secara khusus akan menimpa bani Israel. Ayat 7 mengatakan, “Rupa belalang-belalang itu sama seperti kuda yang disiapkan untuk peperangan, dan di atas kepala mereka ada sesuatu yang menyerupai mahkota emas, dan muka mereka sama seperti muka manusia.” Belalang-belalang ini seperti satu pasukan, mirip dengan belalang-belalang yang tercantum dalam Kitab Yoel. Di sana dikatakan bahwa Allah akan mengutus satu pasukan belalang. Belalang-belalang dalam Wahyu 9 tidak sama dengan belalang-belalang dalam Kitab Yoel, namun ada kaitannya satu sama lain. Kesama-annya adalah belalang-belalang ini seperti kuda-kuda yang dipersiapkan untuk berperang, dan mereka memiliki mahkota seperti emas di atas kepala mereka. Rambutnya seperti rambut perempuan, dan gigi mereka seperti gigi singa (ayat 8). Mereka mempunyai baju zirah, seperti baju zirah dari besi, dan “bunyi sayap mereka” bagaikan “bunyi kereta-kereta yang ditarik banyak kuda, yang sedang lari ke medan peperangan” (ayat 9).
Ayat 10 mengatakan, “Ekor mereka sama seperti kalajengking dan ada sengatnya.” Dalam Alkitab, kalajengking menunjukkan setan, roh-roh jahat yang mengikuti Iblis. Dalam Lukas 10:19 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh.” Kita, kaum beriman di dalam Kristus, telah mengalahkan kalajengking, para pelayan Iblis yang jahat. Ayat 10 juga mengatakan bahwa “di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa mereka untuk menyakiti manusia selama lima bulan.” Sekalipun siksaan dalam celaka pertama akan merugikan manusia secara langsung, namun saatnya masih dibatasi oleh Allah, yaitu hanya lima bulan. Siksaan itu akan demikian menyiksa sehingga “pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka” (ayat 6). Selama lima bulan itu, mereka yang disiksa oleh belalang-belalang yang mengerikan yang dirasuk setan, lebih suka mati daripada hidup. Sudah tentu gempa bumi dan menghitamnya matahari tidak bisa dibandingkan dengan perkara ini. Inilah celaka pertama dari ketiga celaka yang diumumkan oleh burung nasar dari tengah-tengah langit dalam 8:13.
IV. ANTIKRISTUS
Berbicara tentang belalang-belalang, ayat 11 mengatakan, “Raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion.” Malaikat jurang maut ialah binatang itu, Antikristus, yang akan muncul dari jurang maut (11:7; 17:8). Dalam bahasa Ibrani, malaikat jurang maut ini disebut “Abadon”, yang berarti “kerusakan”, “kebinasaan”, istilah ini juga dipakai dalam Ayub 26:6; 28:22, dan Amsal 15:11. Dalam bahasa Yunani, malaikat itu disebut “Apolion”, yang berarti “perusak”. Sebagai perusak, Antikristus akan melakukan banyak perusakan (Dan. 8:23-25).
Antikristus adalah satu oknum yang khusus, karena terjadi dari dua orang: roh milik Kaisar Nero dan tubuh kaisar lainnya dari Kekaisaran Romawi. Nero mulai menganiaya umat Kristen pada abad pertama, dan rohnya adalah roh yang berada di dalam jurang maut itu, sampai suatu hari, roh ini dibebaskan dan memasuki tubuh kaisar lainnya. Kaisar yang tubuhnya akan dimasuki roh Nero itu akan dibunuh dan akan dibangkitkan dengan roh dari Kaisar Nero. Inilah Antikristus. Iblis kemudian akan melepaskan belalang-belalang yang akan dibentuknya menjadi satu pasukan tentara di bawah pimpinan binatang buas itu, Antikristus, yang akan menjadi raja mereka. Belalang-belalang itu kemudian akan menyiksa setiap orang yang tidak memiliki meterai Allah di dahi mereka selama lima bulan.
Menurut Alkitab, alam semesta terdiri dari tiga bagian: surga, bumi, dan bagian bawah bumi (Flp. 2:10). Pada awal kesusahan besar, yaitu setelah paruh pertama dari tujuh tahun yang terakhir, Iblis akan dicampakkan dari surga ke bumi, dan secara serentak Antikristus, raja dari belalang-belalang jahat yang kerasukan setan, akan dilepaskan dari jurang maut dan naik menjumpai Iblis. Jadi, satu roh yang jahat dan kejam akan bertemu dengan seorang manusia yang jahat dan kejam. Sekalipun mereka akan datang dari dua arah, yaitu Iblis dari atas dan Antikristus dari bawah, mereka mempunyai satu tujuan — menyiksa manusia yang diciptakan oleh Allah. Kedua oknum itu akan berkumpul dan akan bekerja sama untuk menyiksa umat manusia semampu mereka. Kita akan membahas Antikristus lebih terinci bila kita sampai ke pasal 13—17.
Seperti yang telah kita lihat, kesusahan besar akan berlangsung tiga setengah tahun. Sebelum waktu itu, akan terjadi malapetaka yang adikodrati pada meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama. Tetapi menurut Matius 24:22, kesusahan besar akan dipersingkat waktunya, yaitu dimulai setelah Antikristus mendirikan pembinasa keji di tempat kudus.
Di manakah Anda berada ketika kesusahan besar itu berlangsung? Janganlah berkata, “Selama aku berada di antara umat surgawi, semuanya akan baik-baik saja.” Sebagai umat surgawi Allah, kita tidak memiliki tanda atau meterai seperti yang terdapat pada sisa umat pilihan dari bangsa Israel. Umat surgawi tidak seharusnya ada di sana, karena Allah tidak berniat meninggalkan kita di bumi bersama-sama dengan sisa umat Israel itu. Kehendak Allah adalah mengangkat kita ke surga. Namun, jika kita ingin diangkat ke surga, ada satu syarat yang harus dipenuhi — kita harus matang. Cara Allah memperlakukan umat Israel berbeda dengan cara-Nya memperlakukan kaum beriman. Jika saya orang Israel, saya boleh berseru kepada Allah, dan mungkin Ia akan berbelaskasihan kepada saya dan menaruh meterai di dahi saya. Kemudian saya akan terlindung selama kesusahan besar itu. Tetapi Allah tidak memeteraikan kaum beriman-Nya, melainkan mengangkat mereka ke surga. Namun untuk terangkat mereka harus matang.
Beban saya dalam berita ini ialah menunjukkan kapan kesusahan besar itu dimulai dan apa tandanya. Seperti yang telah kita ketahui, Iblis akan dilemparkan dari surga ke bumi dan akan memiliki kunci untuk membuka pintu jurang maut dan melepaskan belalang-belalang yang kerasukan setan. Pada saat yang sama, binatang buas itu, Antikristus, raja para belalang itu, akan dilepaskan dari jurang maut. Pasukan belalang kemudian akan menyiksa orang banyak selama lima bulan. Siksaan itu demikian hebat sehingga orang-orang itu ingin mati, namun maut lari dari mereka. Hari ini, orang-orang berupaya menghindari maut, namun maut mengejar mereka. Pada saat itu, mereka ingin mati, tetapi maut menjauhi mereka. Betapa berat penderitaan saat itu! Betapa hebat kesusahan besar itu! Namun, itu barulah celaka yang pertama, awal dari kesusahan besar. Dua celaka yang lain belum datang.
Tiga celaka dari ketiga sangkakala yang terakhir merupakan kesusahan besar itu. Celaka pertama terjadi setelah peniupan sangkakala kelima, celaka kedua pada sangkakala keenam, dan celaka yang terakhir adalah ketujuh cawan dari sangkakala ketujuh. Ketiga celaka itu ditampilkan dengan serius. Kita telah melihat 8:13 mengatakan, “Celaka, celaka, celakalah mereka yang tinggal di bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.” Wahyu 9:12 mengatakan, “Celaka yang pertama sudah lewat. Sekarang akan menyusul dua celaka lagi.” Terakhir, dalam memperkenalkan celaka yang terakhir, 11:14 mengatakan, “Celaka yang kedua sudah lewat: Lihatlah, celaka yang ketiga segera menyusul.” Meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama hanya merupakan pendahuluan terhadap penderitaan dalam kesusahan besar.
Kesusahan besar yang kira-kira bersamaan dengan malapetaka yang adikodrati dari meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama merupakan “pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi” (3:10). Tuhan berjanji kepada gereja di Filadelfia bahwa Ia akan melindungi mereka dari saat itu. Jika Anda ingin terlindung pada hari pencobaan itu, Anda harus siap-siap diangkat dari bumi ini. Janganlah kita membicarakan tentang kedatangan Tuhan atau tentang pengangkatan kaum saleh secara acuh tak acuh. Menurut firman Tuhan yang murni, jika kita ingin diangkat sebelum kesusahan besar, kita harus matang dan siap untuk diangkat oleh-Nya dari bumi ini. Jika kita telah matang dan siap, maka apa pun yang terjadi di bumi ini tidak akan mempengaruhi kita. Puji Tuhan, kita mempunyai jalan keluar.