Berita Kedua Puluh Enam
KRISTUS DATANG UNTUK MEMILIKI BUMI
Dalam beberapa berita yang lalu kita telah membahas isi ketujuh meterai. Dalam Kitab Wahyu, angka tujuh terdiri dari dua hitungan: empat tambah tiga dan enam tambah satu. Baik ketujuh meterai maupun ketujuh sangkakala terdiri dari hitungan demikian. Terhadap angka tujuh, yang ada hanyalah penambahan, bukan perkalian. Namun angka dua belas, adalah hasil dari tiga kali empat. Tujuh meterai berarti di dalam pergerakan-Nya yang lengkap, ciptaan-Nya akan dibawa kepada Allah Tritunggal. Ciptaan Allah, manusia, juga akan dibawa kepada Allah yang unik. Jadi, tujuh meterai menunjukkan pergerakan Allah yang lengkap. Tujuh meterai, yang merupakan pergerakan Allah yang lengkap di bumi dan di alam semesta, adalah isi ekonomi Allah. Tujuan pergerakan Allah ialah membawa ciptaan-Nya, yang ditunjukkan oleh angka empat, kepada Allah Tritunggal, dan membawa manusia, yang ditunjukkan oleh angka enam (manusia diciptakan pada hari keenam), kepada Allah yang esa. Tujuh meterai sesungguhnya membawa ciptaan Allah kepada diri-Nya sendiri. Kejatuhan manusia, yang disebabkan oleh Iblis, telah menjauhkan manusia dari Allah. Perihal kejatuhan merupakan satu pengurangan, sedang ekonomi Allah hari ini merupakan penambahan. Kejatuhan membuat manusia meninggalkan Allah yang unik, namun ekonomi Allah dan pergerakan-Nya membawa manusia kembali kepada diri-Nya.
Banyak orang Kristen tidak mengerti perkara tentang meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama. Meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama dari meterai ketujuh terutama menyangkut perihal peng-guncangan dan penghakiman atas bumi serta benda-benda langit. Sebagai akibat pengguncangan dan penghakiman ini, bumi tidak lagi merupakan tempat yang nyaman bagi hidup manusia. Meterai keenam dan kelima sangkakala yang pertama, waktunya satu sama lain sangatlah dekat, jangka waktunya tidak terlalu jauh. Ada orang menghitung dari saat keluarnya kuda pertama, lalu mengatakan bahwa kesusahan besar akan berlangsung selama tujuh tahun. Orang yang berkata demikian tidak tampak bahwa Kitab Wahyu membahas seluruh sejarah umat manusia sejak kenaikan Kristus. Penafsiran mereka meninggalkan satu kekosongan waktu yang panjang di antara kenaikan Kristus dan akhir zaman. Kesenjangan waktu ini kira-kira dua ribu tahun lamanya, dan anggapan yang demikian ini sama sekali tidak logis dan tidak sesuai dengan nubuat yang Tuhan ucapkan, karena dalam abad yang pertama Ia menubuatkan hal-hal yang akan datang (1:19). Selanjutnya, gulungan kitab dalam pasal 5 adalah wahyu lengkap tentang ekonomi Allah. Sebagai wahyu lengkap tentang ekonomi Allah, gulungan kitab itu tentu meliputi pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil untuk menghasilkan gereja merupakan satu butir yang besar dalam ekonomi Allah. Karena tidak logis bila terdapat satu sela waktu yang besar dalam kitab ini, maka kita yakin bahwa keempat kuda dari keempat meterai merupakan garis besar dari sejarah manusia, dari kenaikan Kristus hingga akhir zaman ini.
Melalui mempelajari dengan cermat kita juga tampak bahwa ketujuh tahun yang terakhir tidak mungkin dimulai dari meterai keenam, karena waktu dari meterai keenam hingga sangkakala kelima, yang merupakan awal dari kesusahan besar, sangatlah singkat, tidak sampai tiga setengah tahun. Kesusahan besar akan berlangsung tiga setengah tahun, yaitu paruh kedua dari tujuh tahun yang terakhir. Jika Anda menghitung tujuh tahun yang terakhir dari meterai keenam, maka waktu dari meterai keenam hingga sangkakala kelima seharusnya sedikit-dikitnya adalah tiga setengah tahun. Secara teoritis, masa ini terlalu panjang. Antara meterai keenam dan sangkakala kelima terdapat empat sangkakala, penghakiman atas bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit. Walaupun penghakiman ini tidak terlalu hebat, meterai keenam, yang akan menimbulkan gempa bumi dan rusaknya benda-benda langit, berprin-sip sama seperti keempat sangkakala yang pertama.
Meterai keenam dan keempat sangkakala yang pertama merupakan pendahuluan, permulaan dari kesusahan besar. Dari segala bencana alam itu, tidak ada satu pun yang Allah timpakan secara langsung kepada manusia. Keadaan ini baru akan berlangsung pada hari siksaan dari celaka oleh sangkakala kelima dan pembantaian yang dilakukan oleh dua ratus juta pasukan berkuda sebagai celaka dari sangkakala keenam. Setelah celaka dari sangkakala keenam usai, muncullah tujuh cawan sebagai celaka yang terakhir, yang merupakan sebagian dari isi sangkakala ketujuh. Cawan keenam, yang berkaitan dengan sangkakala keenam, menjadi pengumpul untuk timbulnya perang Harmagedon. Perang itu merupakan gilingan besar anggur murka Allah yang akan digiling oleh Tuhan (14:19-20; 19:15) ketika Ia datang ke bumi untuk berperang melawan Antikristus dan melemparkannya ke dalam lautan api (19:11-21). Bersamaan dengan ini, isi cawan ketujuh ditumpahkan ke udara dan menimbulkan gempa bumi dan hujan es yang paling hebat, yang akan merupakan tulah terakhir dan akhir dari kesusahan besar.
Dalam berita ini, kita sampai kepada pasal 10:1-11, sebuah sisipan di antara sangkakala keenam dan sangkakala ketujuh. Jika kita ingin memahami Kitab Wahyu, kita harus mengetahui bagian-bagian mana yang merupakan kelanjutan dan bagian-bagian mana yang merupakan sisipan. Ketika kita berada di pasal 7, kita telah menunjukkan bahwa pasal itu adalah satu sisipan di antara meterai keenam dan meterai ketujuh, yang menunjukkan bagaimana Allah memelihara umat-Nya. Pasal itu menunjukkan visi dimeteraikan-Nya sisa orang-orang Israel dan visi pengangkatan kaum tebusan Allah. Pasal 10 adalah bagian dari sisipan antara sangkakala keenam dan ketujuh. Sisipan ini terdiri dari tiga visi: visi kedatangan Kristus untuk memiliki bumi (10:1-7), visi tentang diinjak-injaknya Yerusalem yang bumiah oleh Antikristus dan para pasukannya (11:1-2), dan visi tentang dua saksi (11:3-12).
Kita harus membaca dan mempelajari Kitab Wahyu hingga kita memahami dan mampu mengulang semua fakta yang penting. Kita harus mampu meringkas setiap pasal. Dalam pasal 1 ada tujuh kaki pelita dengan Kristus berjalan di tengah-tengahnya; dalam pasal 2 dan 3 ada tujuh gereja; dalam pasal 4 ada situasi di surga; dalam pasal 5 ada Kristus sebagai persona yang layak membuka gulungan kitab; dalam pasal 6 ada keenam meterai; pasal 7 merupakan sisipan yang menunjukkan dua visi tentang pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya; dalam pasal 8 ada keempat sangkakala yang pertama; dalam pasal 9 ada sangkakala kelima dan keenam; dalam pasal 10 ada Kristus datang untuk memiliki bumi; dalam pasal 11 ada dua saksi; dalam pasal 12 ada anak laki-laki; dalam pasal 13 ada binatang buas; dalam pasal 14 ada buah sulung, penyembahan terhadap binatang buas, tuaian, dan gilingan anggur; dalam pasal 15 ada para pemenang berdiri di atas lautan kaca; dalam pasal 16 ada ketujuh cawan; dalam pasal 17 ada Babel agamawi; dalam pasal 18 ada Babel material dan politis, dalam pasal 19 ada pesta pernikahan Anak Domba dan perang di Harmagedon; dalam pasal 20 Iblis diikat, Kerajaan Seribu Tahun, pemberontakan terakhir umat manusia, dan penghakiman di takhta putih yang besar; dan dalam pasal 21 dan 22 ada langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru.
I. KRISTUS SEBAGAI MALAIKAT LAIN
Baiklah kita sekarang membahas rincian pasal 10:1-11. Dalam bagian firman ini kita mempunyai visi yang jelas tentang kedatangan Kristus untuk mengambil alih bumi. Dalam pasal ini Kristus adalah Malaikat lain yang kuat, seperti yang tercantum dalam 7:2; 8:3; dan 18:1.
A. Turun dari Surga
Ayat 1 mengatakan Yohanes melihat seorang Malaikat lain “turun dari surga”. Kristus sekarang sedang turun dari surga. Visi ini merupakan satu petunjuk bahwa sebelum sangkakala ketujuh, Kristus berada dalam perjalanan menuju bumi.
B. Berselubungkan Awan
Ayat 1 juga mengatakan bahwa Kristus “berselubungkan awan”, bukannya mengendari awan (di atas awan-awan) seperti yang tercantum dalam 14:14 dan dalam Matius 24:30; 26:64. Mengendarai awan berarti datang secara terbuka, sedangkan berselubungkan awan ialah datang secara sembunyi-sembunyi. Ini menyatakan, setelah sangkakala keenam, Kristus masih tetap datang secara sembunyi-sembunyi, sampai pada apa yang dikatakan dalam 1:7 dan dalam Matius 24:30, semua bangsa di bumi akan melihat Dia, saat itu barulah Ia datang secara terbuka. Pada saat pasal 10, kedatangan Kristus masih secara rahasia. Bahkan pada saat cawan keenam, ketika seluruh tentara dunia dikumpulkan di Harmagedon, Kristus akan memberikan peringatan bahwa Ia datang sebagai seorang pencuri (16:15). Ia akan diselubungi awan-awan hingga pasal 14, saat itu Ia akan duduk di atas awan dan datang secara terbuka. Dari sini kita tampak bahwa ajaran pada umumnya yang mengatakan Kristus akan datang sebelum kesusahan besar tidaklah tepat.
C. Pelangi Ada di Atas Kepala-Nya
Dalam visi ini Kristus memiliki sebuah “pelangi di atas kepala-Nya”. Di sini pelangi menyatakan, ketika Kristus menghakimi bumi dan dalam kedatangan-Nya untuk mengambil alih bumi, Ia akan berpegang pada janji yang dibuat antara Allah dengan Nuh mengenai bumi (Kej. 9:8-17). Ini juga menyatakan bahwa Kristus akan melaksanakan penghakiman berdasarkan Allah yang duduk di atas takhta yang dilingkungi pelangi (4:2-3), yaitu Allah yang setia janji.
D. Muka-Nya seperti Matahari
Ayat 1 juga mengatakan bahwa “muka-Nya sama seperti matahari”. Menjelang kedatangan-Nya secara terbuka kepada orang-orang di bumi, Kristus bagaikan matahari, tidak lagi seperti bintang timur pada saat yang sangat gelap sebelum fajar merekah.
E. Kaki-Nya bagaikan Tiang Api
Ketika Kristus datang untuk mengambil alih bumi ini, kaki-Nya akan “bagaikan tiang api”. Di sini, tiang menunjukkan keteguhan (Yer. 1:18; Gal. 2:9). Api melambangkan kekudusan Allah (Kel. 19:18; Ibr. 12:29). Kristus akan melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi berdasarkan kekudusan Allah.
F. Dalam Tangan-Nya Memegang Sebuah Gulungan Kitab Kecil yang Terbuka
Dalam pasal ini, Kristus, “dalam tangan-Nya Ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka” (ayat 2, 8). “Gulungan kitab kecil” ini adalah gulungan kitab yang disebutkan dalam 5:1. Hanya Kristus yang layak mengambil kitab itu dari tangan Allah dan membukanya (5:5, 7). Kini kitab itu sudah berada di tangan-Nya. Dalam 5:1 gulungan kitab itu dimeterai; dalam 10:2 dan 8, gulungan kitab itu terbuka. Gulungan kitab itu terbuka karena seluruh meterainya telah dilepaskan. Di sini, yang ada hanya sebagian dari gulungan itu, sebab itu disebut gulungan kitab kecil. Bagian yang penting dari gulungan kitab itu sudah tersingkap, maka bagian yang terakhir ini dianggap sebagai gulungan kitab kecil.
G. Kaki Kanan-Nya Menginjak Laut dan Kaki Kiri-Nya di Atas Bumi
Ayat 2 juga mengatakan bahwa “Ia menginjakkan kaki kanan-Nya di atas laut dan kaki kiri-Nya di atas bumi.” Menginjakkan kakinya di atas laut dan di atas bumi berarti memiliki laut dan bumi (Ul. 11:24; Yos. 1:3; Mzm. 8:7-9). Ini menyatakan bahwa Kristus datang untuk memiliki bumi. Hanya Dia yang layak membuka gulungan kitab ekonomi Allah, dan hanya Dia yang memenuhi syarat untuk memiliki bumi. Dalam Kitab Yosua, Allah memberi tahu umat-Nya bahwa mereka akan memiliki setiap bagian dari tanah yang akan mereka pijak. Mereka berjalan melewati tanah permai, dan ke mana saja mereka memijakkan kaki mereka, tanah itu akan menjadi milik mereka. Dengan prinsip yang sama, Kristus, sebagai Malaikat lain yang diutus oleh Allah, akan datang memijak laut dan bumi, karena bumi dan laut semuanya telah diberikan kepada-Nya sebagai milik pusaka-Nya (Mzm. 2:8). Meskipun bumi dan laut telah dirampas oleh musuh-Nya, dan meskipun Ia telah bersabar selama berabad-abad, suatu hari kelak, Ia tidak akan bersabar lagi. Ia akan datang dan menuntut milik pusaka-Nya yang sah.
H. Berseru dengan Suara Nyaring
Sama seperti Singa yang Mengaum
Ayat 3 mengatakan bahwa Kristus “berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum.” Auman singa seperti murka raja (Ams. 19:12; 20:2). Ini menunjukkan bahwa Kristus, Raja seluruh bumi, telah dibuat marah. Dalam kitab Injil, Kristus berbicara seperti anak domba, tetapi di sini Ia mengaum seperti singa. Pasal 3 menyebutkan kata tentang kesabaran Tuhan. Kesabaran berarti memiliki toleransi. Namun, dalam pasal 10, Tuhan tidak lagi bersabar. Pada saat Ia datang untuk mengambil alih bumi, Ia mengaum seperti singa.
I. Ketujuh Guruh Dimeteraikan
Ketika Kristus berseru dengan suara nyaring, “ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.” Ketujuh guruh tentu adalah pernyataan terakhir seluruh murka Allah. Ayat 4 mengatakan, “Sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari surga berkata, ‘Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!’” Hari ini, kita tidak tahu apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu, tetapi suatu hari kita akan mengetahuinya.
J. Tidak Akan Ada Penundaan Lagi
Ayat 5-6 mengatakan, “Kemudian malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit, dan ia bersumpah demi Dia yang hidup selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya, ‘Tidak akan ada penundaan lagi!’” Yang utama dari isi (benda-benda) langit adalah malaikat, yang utama dari isi (benda-benda) bumi adalah manusia, yang utama dari isi (benda-benda) laut adalah setan. Setelah sangkakala keenam, Allah akan segera menghakimi bumi, tidak ada waktu lagi untuk toleransi. Karena itu, sangkakala ketujuh adalah penghakiman Allah yang paling serius. Penghakiman ini adalah jawaban penuh dari Allah atas doa kaum saleh martir dalam 6:10.
II. PENGGENAPAN RAHASIA ALLAH
A. Pada Peniupan Sangkakala Ketujuh
Ayat 7 mengatakan, “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti (kabar baik) yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi.” Di sini kita tampak bahwa penggenapan atas rahasia Allah akan terlaksana ketika sangkakala ketujuh ditiup.
B. Peniupan Sangkakala Ketujuh
Akan Berlangsung Sejangka Waktu
Sebutan “waktu” ketujuh ditiup, semua dalam ayat 7 menyatakan bahwa peniupan sangkakala ketujuh akan berlangsung sejangka waktu.
C. Akhir dari Rahasia Allah
Ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, maka rahasia Allah akan diakhiri. Dari zaman Adam sampai Musa, dan dari zaman Musa sampai Kristus, setiap perkara diwahyukan, dinyatakan, dan tidak ada yang rahasia. Kelak pada zaman Kerajaan Seribu Tahun dan zaman langit yang baru dan bumi yang baru, juga demikian, segalanya nyata, tidak ada lagi rahasia. Tetapi dari Kristus sampai zaman Kerajaan Seribu Tahun, semuanya rahasia. Inkarnasi Kristus, sebagai awal zaman ini adalah suatu rahasia (1 Tim. 3:16). Kristus sendiri (Kol. 2:2), gereja (Ef. 3:4-6), Kerajaan Surga (Mat. 13:11), Injil (Ef. 6:19), berhuninya Kristus di dalam batin (Kol. 1:26-27), dan kebangkitan yang akan datang serta transfigurasi orang-orang kudus sebagai akhir zaman rahasia ini (1 Kor. 15:51-52), semuanya adalah rahasia yang tersembunyi dari zaman ke zaman (Rm. 16:25; Ef. 3:5; Kol. 1:26). Ketika sangkakala ketujuh ditiup, semua rahasia tersebut akan digenapi, berakhir, bahkan berlalu. Pada waktu peniupan sangkakala ketujuh, bukan hanya penghakiman murka Allah akan menimpa bumi, rahasia Allah pun akan genap.
Hari ini, Kristus yang berhuni dan gereja merupakan satu rahasia. Orang-orang luar tidak bisa memahami kita karena kita merupakan rahasia bagi mereka. Ketika kita berkata, “Puji Tuhan! Kita memiliki Kristus berhuni di dalam kita,” orang-orang luar akan berkata, “Coba tunjukkan kepada kami.” Terhadap tantangan demikian, kita hanya dapat menjawab, “Aku tidak dapat menunjukkan kepada kalian, tetapi aku tahu bahwa Kristus tinggal di dalam ku.” Perihal berhuninya Kristus di dalam kita merupakan satu rahasia. Bila orang-orang yang bukan Kristen menerima uang kembali dari kasir restoran lebih banyak daripada yang seharusnya, mereka sangat senang dan menganggap hal itu keuntungan mereka. Tetapi bila kita menerima uang kembalian yang lebih, kita akan mengembalikannya. Kejadian yang demikian merupakan suatu rahasia bagi ka-sir itu. Orang-orang yang tidak beriman tidak bisa memahami orang apakah kita ini. Janganlah mencoba menguji aku, karena aku seorang yang penuh rahasia. Sekalipun zaman ini merupakan zaman rahasia, namun bila sangkakala ketujuh ditiup, rahasia itu akan berlalu. Pada saat sangkakala ketujuh ditiup, Kristus akan dinyatakan dan seluruh bumi akan mengenal Dia. Saat itu, para kasir akan tahu mengapa kita, orang rahasia ini, mengembalikan uang kembalian yang lebih itu. Boleh jadi mereka akan berkata, “Kami pikir mereka itu bodoh, tetapi sekarang kami tahu.” Meskipun mereka sekarang tidak bisa memahami rahasia ini, namun suatu hari mereka akan mengerti.
Meterai-meterai itu bersifat pribadi dan tersembunyi, sedang sangkakala bersifat terbuka, dinyatakan secara umum. Pada saat meterai dibuka, Kristus berdiam diri, tetapi pada saat sangkakala ditiup, Ia tidak lagi berdiam diri.
D. Seperti Kabar Baik yang Telah Diberitakan kepada Nabi-nabi
Dalam sangkakala ketujuh, “Kabar baik” yang “telah Allah beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi,” seperti yang tercantum dalam Yesaya 2:2-4; 11:1-10; 65:17-20; 66:22, akan tergenapi; perwujudan kerajaan akan tiba (Why. 11:15), langit yang baru dan bumi yang baru dengan Yerusalem Baru juga akan menyusul tiba (21:1-3).
III. YOHANES BERNUBUAT LAGI
A. Mengambil dan Memakan Gulungan Kitab Kecil
Ayat 8-9 mengatakan, “Suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata lagi kepadaku, ‘Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu. Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku, ‘Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu.” Penulis kitab ini bukan hanya menerima gulungan kitab kecil, bahkan memakannya. Makan ialah menerima sesuatu ke dalam manusia. Kita harus menerima wahyu ilahi, lebih-lebih terhadap Kitab Wahyu, secara demikian. Yeremia dan Yehezkiel pernah berbuat demikian (Yer. 15:16; Yeh. 2:8; 3:1-3).
B. Manis di Dalam Mulut, tetapi Pahit di Dalam Perut
Ayat 10 mengatakan, “Aku pun mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: Di dalam mulutku kitab itu terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.” Kita menerima wahyu ilahi dengan jalan memakannya, pada saat kita memakannya terasa manis, tetapi pada saat mencernanya, yaitu pada saat kita mengalaminya, menjadi pahit. Sewaktu kita membaca berita-berita pelajaran-hayat ini, kita merasa semuanya manis, tetapi dalam pengalaman kita, semuanya terasa pahit. Namun, akhirnya, tidak ada lagi air mata yang mengalir dari mata kita, karena kita hanya menikmati air dari “mata air hayat” (7:17). Hari ini, kita mengenal adanya air mata. Tetapi pada akhirnya tidak akan ada lagi air mata. Sebaliknya, kita akan minum air dari sumber yang menakjubkan. Puji Tuhan! Karena akhirnya tidak ada lagi kepahitan, yang ada hanyalah kemanisan yang kekal.
C. Nubuat mengenai Kristus
Mengambil Alih Bumi
Ayat 11 mengatakan, “Lalu ia berkata kepadaku, ‘Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan umat dan bahasa dan raja.’” Setelah Yohanes melihat gulungan kitab kecil itu, yaitu bagian terakhir dari ekonomi Allah, dan memakannya, kitab itu terasa manis di mulutnya namun terasa pahit di perutnya; kemudian ia disuruh bernubuat lagi. Nubuat pada kitab ini terbentuk dari dua bagian. Dari meterai pertama sampai sangkakala keenam (pasal 6-10) adalah bagian pertama, hal ini berlangsung secara tersembunyi. Dari sangkakala ketujuh sampai langit yang baru dan bumi yang baru (pasal 11 — 22) adalah bagian kedua, hal ini terbuka dan nyata. Yohanes sudah bernubuat pada bagian yang pertama. Sekarang ia harus bernubuat lagi, bernubuat dalam bagian yang kedua dari kitab ini, yang membahas kedatangan Kristus untuk memiliki bumi sebagai kerajaan-Nya (11:15). Nubuat ini hanyalah terdiri dari sangkakala ketujuh yang meliputi ketujuh cawan, pengangkatan seluruh umat saleh, takhta penghakiman Kristus, pesta pernikahan Anak Domba, kembalinya Kristus dengan pasukan pilihan-Nya untuk mengalahkan Antikristus dan para nabi palsu, pengikatan diri Iblis, Kerajaan Seribu Tahun, pemberontakan terakhir yang dilakukan umat manusia di bawah hasutan Iblis, penghakiman atas orang-orang mati di takhta putih besar untuk menentukan nasib kekal mereka, dan langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru. Inilah sangkakala ketujuh dan nubuat Yohanes yang kedua. Ini pula isi dari gulungan kitab kecil, bagian terakhir ekonomi Allah.