PERLINDUNGAN ALLAH TERHADAP UMAT-NYA
Dalam Kitab Wahyu ada sejumlah sisipan, dan pasal 7 merupakan sisipan yang pertama. Pasal ini bukan lanjutan pasal 6, melainkan sisipan antara meterai keenam dan me-terai ketujuh, yang menunjukkan bagaimana Allah meme-lihara umat-Nya ketika Ia akan melaksanakan penghakim-an atas bumi. Pasal 8 barulah lanjutan pasal 6. Pada akhir pasal 6 ada meterai keenam, dan pada awal pasal 8 ada meterai ketujuh. Pembukaan meterai ketujuh akan menda-tangkan ketujuh sangkakala. Ketiga sangkakala yang ter-akhir merupakan kesusahan besar (8:1-2). Tetapi sebelum hal itu terjadi, Allah akan memeteraikan umat Israel yang ingin dilindungi-Nya (7:3).
Allah akan melindungi dua kelompok umat-Nya — bang-sa Israel dan kaum saleh tebusan-Nya. Mengapa sisipan tentang perlindungan Allah terhadap umat-Nya diletakkan di sini? Karena dalam meterai keenam kita nampak pe-ringatan atas kesusahan besar yang akan datang. Seperti yang telah kita ketahui, meterai kelima adalah seruan kaum saleh martir yang menuntut balas, dan meterai ke-enam merupakan jawaban Allah terhadap seruan itu, yang juga merupakan peringatan kepada penghuni bumi bahwa kesusahan besar akan segera tiba. Sejak kenaikan Kristus, sering terjadi gempa bumi dan malapetaka lainnya. Semua-nya merupakan bencana alam biasa. Namun, pada awal pembukaan meterai keenam, malapetaka yang terjadi bu-kan lagi bencana biasa, melainkan yang adikodrati. Benca-na alam yang biasa maupun yang adikodrati merupakan hukuman Allah atas bumi. Bumi pemberontak ini patut di-hukum oleh Allah, dan tangan penghukuman Allah tidak pernah beralih darinya. Sampai taraf tertentu, Allah meng-hukum bumi untuk tujuan-Nya. Sejak kenaikan Kristus, Allah terus melaksanakan penghukuman atas bumi.
Salah satu aspek dari penghakiman Allah dapat kita li-hat pada penghancuran kota Yerusalem oleh Titus dan ten-taranya. Penghancuran ini telah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:2. Saat itu, menyinggung Bait Suci Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu melihat semua-nya itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Yerusalem dibumihangus-kan oleh Titus karena dua alasan: karena agama Yahudi te-lah memberontak melawan ekonomi Allah dan karena aga-ma ini berpengaruh negatif terhadap gereja di Yerusalem. Dalam Kisah Para Rasul 21 kita nampak betapa besarnya pengaruh agama Yahudi yang usang terhadap gereja. Akhir-nya pada tahun 70 Masehi, Tuhan tak bisa lagi mentolerir pemberontakan agama Yahudi serta pengaruhnya terhadap gereja, karena itu Ia mengutus bala tentara Romawi untuk menghancurkan Yerusalem dan baitnya. Penghancuran itu merupakan suatu penghukuman yang mengerikan dengan diiringi oleh bencana kelaparan, penyakit sampar, dan maut. Setelah itu, sepanjang abad, bencana alam terus dipakai oleh Allah untuk menghukum bumi hingga meterai keenam.
Pada saat meterai keenam, bencana alam ini akan ber-ubah, bukan lagi merupakan bencana alam yang biasa, me-lainkan yang adikodrati. Bumi akan diguncangkan, mata-hari, bulan, dan bintang-bintang akan dirusak. Bencana alam ini merupakan pendahuluan dari meterai ketujuh. Sewaktu meterai ketujuh dibuka, situasinya akan sangat mengeri-kan, tak seorang pun sanggup menghadapinya. Tak lama setelah meterai ketujuh dibuka, sangkakala pertama akan ditiup, dan terbakarlah “sepertiga dari bumi” (8:7). Ketika sangkakala kedua ditiup, “sepertiga dari laut itu menjadi darah” (8:8). Pada waktu sangkakala ketiga ditiup, jatuh-lah dari langit sebuah bintang besar menimpa “sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air” dan “sepertiga dari air” akan menjadi apsintus, pahit rasanya (8:10-11). Pada waktu sangkakala keempat ditiup, terpukullah “sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiganya menjadi gelap” (8:12). Allah menjadikan bumi untuk kehidupan manusia. Mata-hari, bulan, dan bintang-bintang semuanya membantu mem-pertahankan kehidupan di bumi. Tetapi karena penghuni bumi selama berabad-abad bertindak kurang ajar kepada-Nya, sampai pada waktunya, Allah tidak dapat bertoleransi lagi terhadap hal tersebut. Ia datang menghakimi bumi, laut, sungai-sungai, juga matahari, bulan, dan bintang-bin-tang. Bumi adalah untuk keberadaan manusia, dan setiap bentuk kehidupan di bumi adalah untuk kepentingan ma-nusia. Aneka binatang, sayur-mayur, dan berbagai mineral, semuanya adalah untuk keberadaan manusia. Hal-hal ini ada bukan secara kebetulan, melainkan telah direncanakan dan diciptakan oleh Allah. Misalnya, di bulan tidak ada udara, namun di bumi ada. Di sekeliling bola bumi terda-pat satu lapisan udara yang oleh Alkitab disebut cakrawala (Kej. 1:7). Bumi merupakan sebuah planet yang memiliki cakrawala. Allah menciptakannya sedemikian rupa sehing-ga menghasilkan berbagai suplai untuk mempertahankan hidup manusia. Udara, sinar matahari, dan air, semua itu diperlukan untuk keberadaan manusia. Tetapi setelah Allah menghakimi bumi dan langit, bumi tak lagi merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi manusia.
Dalam Matius 24:6-7 Tuhan menubuatkan munculnya dua jenis perang — perang antar suku dan perang antar bangsa, yaitu perang saudara dan perang internasional. Setelah kenaikan Kristus, perang-perang itu mulai terjadi. Dalam Matius 24 Tuhan juga menubuatkan bahwa akan terjadi “gempa bumi di berbagai tempat” (ayat 7). Belakang-an ini suatu artikel mengatakan bahwa setiap tahun kira-kira terjadi lima sampai enam ribu kali gempa pada skala dua sampai delapan skala Richter. Itu merupakan pengge-napan terhadap nubuat Tuhan. Dalam nubuat-Nya Tuhan seolah-olah berkata, “Jangan hidup di bumi ini dengan rasa puas terhadap diri sendiri, tanpa mempedulikan tujuan Allah. Kalian harus tahu bahwa Allah mempunyai satu tujuan di bumi ini, dan kalian harus berpaling kepada-Nya untuk menggenapkan tujuan-Nya.” Allah berulang-ulang mempe-ringatkan semua orang melalui perang dan gempa bumi dan hal itu berlangsung terus hingga saat meterai kelima dibuka. Waktu itu jiwa-jiwa kaum saleh martir tak bisa lagi mentolerir situasi tersebut. Kaum saleh martir saat itu akan berseru, katanya, “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan ti-dak membalaskan darah kami kepada mereka yang tinggal di bumi?” (6:10). Jawaban Allah muncul dalam meterai ke-enam ketika bumi akan diguncangkan dan benda-benda langit akan dipukul sebagai suatu pendahuluan dan peringatan terhadap kesusahan besar yang akan datang. Meterai ke-enam dan kelima sangkakala yang pertama sangat erat hu-bungannya.
Pada peristiwa ini kita perlu membahas Yoel 2. Yoel mengatakan bahwa beberapa hal akan terjadi sebelum hari Tuhan. Jika Anda membaca nubuat Perjanjian Baru bersa-maan dengan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, Anda akan nampak ada suatu waktu yang disebut hari Tuhan. Itulah kesusahan besar. Hari Tuhan berarti hari murka Tuhan, hari kedatangan-Nya untuk menanggulangi bumi dengan malapetaka yang adikodrati. Hari Tuhan akan sangat mengerikan. Beberapa nabi dalam Perjanjian Lama menyebutkan hari Tuhan, dan mereka semua menyatakan bahwa hari itu adalah hari yang mengerikan (Yl. 1:15; 2:1, 11, 31; 3:14; Za. 14:1; Mal. 4:5). Meterai keenam akan dibu-ka sebelum hari Tuhan, berarti sebelum kesusahan besar. Kesusahan besar akan dimulai pada saat sangkakala keli-ma ditiup. Keempat sangkakala yang pertama merupakan permulaan dari kesusahan besar. Itu sama dengan men-starter mobil. Mula-mula kunci kontak diputar, motor atau mesin dihidupkan, kemudian mobil akan berjalan. Demikian pula, setelah keluar peringatan dari meterai keenam, ke-empat sangkakala yang pertama akan menjadi pendahuluan kesusahan besar. Seperti sebuah mobil yang sedang dipa-nasi tetapi masih belum bergerak, demikian pula keempat sangkakala merupakan persiapan bagi terjadinya kesusahan besar. Tetapi sangkakala-sangkakala itu pun menimbulkan penderitaan yang hebat. Kerusakan bumi, air, dan benda-benda langit, jauh lebih besar daripada yang disebabkan oleh gempa bumi dalam meterai keenam. Mulai dari meterai keenam, tidak ada sesuatu pun yang baik bagi manusia di bumi.
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa para pemenang awal, yaitu anak laki-laki dan buah sulung, akan diangkat dari bumi menjelang meterai keenam. Namun, kita tidak bisa menetapkan saat yang tepat. Menurut Kitab Wahyu, Matius, dan bagian-bagian firman lainnya, kita bisa menga-takan bahwa pengangkatan yang pertama, yaitu pengang-katan anak laki-laki dan buah sulung, akan terjadi sebe-lum meterai keenam. Ingatlah bahwa Tuhan telah berjanji kepada gereja di Filadelfia, akan melindungi mereka dari hari pencobaan yang akan menimpa atas seluruh dunia (3:10). Jadi, orang-orang yang mengasihi dan mencari Tuhan akan diangkat sebelum meterai keenam dibuka. Segera se-telah meterai keenam dibuka, kita memasuki pasal 7, se-buah sisipan yang mewahyukan bahwa sebelum kesusahan besar Allah akan melakukan dua perkara untuk melindungi umat-Nya: Ia akan memeteraikan orang-orang pilihan dari bangsa Israel yang tersisa dan akan mulai mengangkat umat tebusan di dalam gereja.
I. PEMETERAIAN SISA
BANGSA ISRAEL TERPILIH
Wahyu 7:1 mengatakan, “Setelah itu aku melihat em-pat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mere-ka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” Pasal ini adalah sisipan di antara meterai yang keenam (6:12-17) dan meterai yang ketujuh (8:1), memperlihatkan bagaimana Allah memelihara umat-Nya, ketika Ia akan melaksanakan penghakiman-Nya di bumi. Angin di sini adalah untuk peng-hakiman Allah (Yun. 1:4; Yes. 11:15; Yer. 22:22; 49:36; 51:1). Ayat berikutnya mengatakan, “Lalu aku melihat se-orang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut.” “Malaikat lain” di sini sama dengan yang disebutkan dalam 8:3; 10:1; dan 18:1; mengacu kepada Kristus. Dalam Perjanjian Lama, Kristus disebut Malaikat TUHAN; Malaikat ini adalah Allah sendiri (Kej. 22:11-12; Kel. 3:2-6; Hak. 6:11-24; Za. 1:11-12; 2:8-11; 3:1-7). Dalam Perjanjian Baru, Ia sekali lagi disebut sebagai Malaikat. “Malaikat lain” menunjukkan bahwa Kristus bu-kan malaikat biasa, melainkan malaikat khusus yang di-utus oleh Allah.
Meskipun saya mengasihi bangsa Israel, namun saya juga menyesali mereka, karena menurut nubuat dan si-tuasi mereka sekarang ini, mereka telah kembali ke tanah nenek moyang mereka dalam keadaan tidak percaya. Mere-ka masih berpegang teguh kepada agama usang mereka, dan tidak mau percaya kepada Allah sesuai dengan ekonomi perjanjian baru-Nya. Sebenarnya mereka memberontak se-cara tidak langsung terhadap Allah. Sewaktu Tuhan Yesus datang, Allah mengubah zaman yang ada, yaitu dari zaman memelihara hukum Taurat ke zaman percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi orang-orang Yahudi tidak mau mene-rima perubahan ini, dan mereka tidak mau berpaling dari memelihara hukum Taurat kepada percaya Tuhan Yesus. Itulah pemberontakan, kedegilan, dan pelanggaran mereka. Selama berabad-abad Allah bersabar terhadap mereka, dan menurut kedaulatan-Nya, mereka telah kembali dan dipu-lihkan sebagai satu bangsa; tetapi mereka tetap masih tidak mau percaya. Mereka tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus. Menurut beberapa informasi yang bisa dipercaya yang saya terima, pemerintah Israel dengan segala daya upaya sebisanya melarang masuk segala jenis gerakan ke-kristenan. Mereka tidak mengingini para penginjil yang ma-na pun melakukan pekerjaan misi mereka. Berbagai nubuat tentang Israel menunjukkan bahwa mereka akan tetap da-lam ketidakpercayaan mereka hingga saat terakhir. Na-mun, Allah berdaulat dan Ia akan senantiasa memelihara bangsa Israel, bukan untuk kepentingan mereka, melainkan untuk ekonomi-Nya. Ia tahu bahwa di antara orang-orang Yahudi yang tidak percaya, ada sebagian orang yang setia, dan sebelum Ia menghakimi bumi dengan malapetaka yang adikodrati, Ia akan memeteraikan mereka.
A. Sebelum Keempat Sangkakala yang Pertama
Sangkakala pertama merusakkan bumi dan pepohonan (8:7), sangkakala kedua merusakkan laut (8:8-9), sangka-kala ketiga merusak sungai-sungai (8:10-11), dan sangkakala keempat merusakkan benda-benda langit (8:12). Sebelum keempat sangkakala pertama ini dilaksanakan, Allah akan memeteraikan orang-orang Israel pilihan-Nya dan melindungi mereka dari malapetaka yang adikodrati yang ditimbulkan oleh keempat sangkakala itu.
B. Melindungi Bumi Terutama dari Siksaan Sangkakala Kelima
Keempat sangkakala pertama hanya akan merusakkan bumi, laut, sungai-sungai, dan benda-benda langit. Namun sangkakala kelima akan menyiksa manusia secara lang-sung. Pemeteraian Allah terhadap orang-orang Israel pilih-an-Nya terutama untuk melindungi mereka dari siksaan sangkakala kelima (9:4).
C. Dua Belas Ribu Orang
dari Setiap Suku Dimeteraikan
Dalam 7:4-8 kita nampak Allah memeteraikan seratus empat puluh empat ribu orang “dari semua suku keturunan Israel”, dari setiap suku dimeteraikan dua belas ribu orang. Mereka adalah orang-orang Israel yang memelihara perin-tah Allah selama kesusahan besar (12:17; 14:12). Seluruh-nya, seratus empat puluh empat ribu orang Israel yang setia akan diberi meterai pada dahi mereka. Saya tidak tahu meterai apakah itu, tetapi meterai itu akan menjadi tanda pengenal terhadap malaikat-malaikat yang diutus untuk menghakimi bumi. Itulah cara Allah melindungi umat Israel pilihan-Nya, ketika Ia melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi.
D. Yusuf Memperoleh Bagian Ganda
Dalam ayat 6 dan 8 kita nampak Yusuf memperoleh bagian ganda (lihat 1 Taw. 5:1-2; Yeh. 48:4-5). Karena Manasye, salah seorang dari kedua putra Yusuf (Kej. 48:5), dan Yusuf (ayat 8) menjadi dua suku, maka selama Keraja-an Seribu Tahun (Yeh. 48:4-5), Yusuf masih tetap mempu-nyai bagian ganda karena hak kesulungannya (1 Taw. 5:1-2).
Pada mulanya Ruben adalah anak sulung Israel, tetapi karena berbuat dosa, ia kehilangan hak kesulungan, dan Yehuda melebihi saudara-saudaranya (1 Taw. 5:1-2). Karena itu, di sini suku Yehuda disebut lebih dulu.
E. Dan Ditiadakan
Dalam Wahyu 7, Dan ditiadakan. Catatan di sini, sama dengan catatan dalam 1 Tawarikh 2—9, menghapus suku Dan karena dia menyembah berhala (Hak. 18:30-31; 1 Raj. 12:29-30; 2 Raj. 10:29; lihat Kej. 49:17). Tetapi, pada masa Kerajaan Seribu Tahun, suku Dan tetap terhitung (Yeh. 48:1) karena berkat Yakub atasnya, sehingga oleh keselamatan Tuhan, suku Dan masih tetap terhitung sebagai salah satu dari suku-suku Israel (Kej. 49:16-18).
II. PENGANGKATAN KAUM TEBUSAN
DI DALAM GEREJA
Di samping sisa orang Israel terpilih, Allah masih mempunyai umat lainnya — umat tebusan di dalam gereja (7:9-17). Dalam sisipan ini kita nampak satu visi yang mewahyukan bagaimana Allah melindungi kaum saleh tebusan-Nya selama kesusahan besar. Cara Allah melindungi sisa bangsa Israel pilihan-Nya adalah dengan memeterai-kan mereka dan membiarkan mereka di bumi. Sementara bangsa Israel adalah umat Allah yang bumiah, orang-orang Kristen adalah umat Allah yang surgawi. Allah berjanji memberi Abraham keturunan sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej. 22:17). Umat surgawi, yaitu orang-orang Kristen, adalah bintang-bintang, sedang umat yang bumiah, yaitu orang-orang Israel, adalah pasir di tepi laut. Untuk melindungi umat-Nya yang bumiah, Allah me-meteraikan mereka dan memelihara mereka di bumi. Ia ti-dak akan mengangkat mereka dari bumi ke surga. Namun, cara Allah melindungi kaum saleh tebusan-Nya bukan dengan menaruh mereka di bumi, melainkan dengan cara meng-angkat mereka. Pengangkatan ini bukan hanya terjadi se-kali atau hanya satu macam saja. Sekurang-kurangnya ter-dapat dua atau tiga macam pengangkatan. Terakhir, seluruh kaum saleh tebusan di dalam gereja akan diangkat dari bumi. Sisipan dalam visi ini menyinggung perihal gereja, memberi kita suatu pandangan yang menyeluruh dari saat pengangkatan hingga kekekalan. Dengan kata lain, Wahyu 7 berakhir dengan kekekalan. Dalam kekekalan, seluruh gereja akan berada di bawah pemeliharaan Allah dan peng-gembalaan Anak Domba.
A. Dimulai Sebelum Meterai Keenam
Pengangkatan Allah terhadap kaum saleh tebusan-Nya akan dimulai dengan pemenang awal, yang terdiri dari anak laki-laki dalam 12:5 dan buah sulung dalam 14:1-6. Hal ini akan terjadi sebelum meterai keenam, karena meterai keenam merupakan awal malapetaka yang adikodrati yang dilaksanakan oleh Allah sebagai “pencobaan yang akan da-tang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi” (3:10). Pengangkatan Allah terhadap kaum saleh tebusan-Nya akan dilanjutkan dengan dua saksi da-lam 11:12, para pemenang akhir dalam 15:12, dan tuaian dalam 14:14-16 (mayoritas kaum beriman yang akan me-nempuh sebagian besar kesusahan besar), hingga seluruh kaum saleh diangkat untuk berbagian dalam pemeliharaan Allah dan penggembalaan Anak Domba sampai kekal.
B. Kumpulan Besar Orang Banyak yang Tidak Terhitung Banyaknya
Ayat 9 mengatakan, “Setelah itu aku melihat: Sesung-guhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak da-pat dihitung jumlahnya.” Kumpulan besar orang banyak itu terdiri atas orang-orang yang ditebus dari segala bangsa dan dari segala zaman. Mereka terbentuk menjadi gereja (5:9; Rm. 11:25; Kis. 15:14, 19).
C. Dari Segala Bangsa, Suku, Umat, dan Bahasa
Kumpulan orang banyak yang besar jumlahnya ini terdiri dari orang-orang yang telah dibeli dengan darah Anak Domba dari setiap bangsa, suku, umat, dan bahasa (7:9; 5:9) menjadi bahan pembentuk gereja.
D. Telah Keluar dari Kesusahan Besar dengan Memegang Daun Palem
Berbicara tentang orang banyak yang tercantum dalam ayat 9, salah seorang dari tua-tua berkata, “Mereka ini orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di da-lam darah Anak Domba” (ayat 14). Kesusahan besar di sini berbeda dengan siksaan yang dahsyat dalam Matius 24:21. Kesusahan besar di sini mengacu kepada kesusahan dalam pengertian yang umum. Setiap orang tebusan Allah akan mengalami berbagai kesulitan, penderitaan, penganiayaan, dan kesesakan. Tak seorang Kristen pun bisa menghindar dari hal-hal tersebut. Dalam roh, kita sebagai orang Kristen adalah orang yang menikmati; tetapi dari segi jasmani, ki-ta adalah orang yang menderita. Namun, suatu hari kita akan keluar dengan jaya dari kesusahan besar itu dan ber-diri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba. Setiap orang dalam kumpulan besar pada pasal ini memegang daun palem, melambangkan kemenangan mereka atas kesengsa-raan yang mereka alami karena Tuhan (Why. 7:14, lihat Yoh. 12:13). Pohon palem juga tanda atas kepuasan karena mendapat dirisan (Kel. 15:27). Tangkai pohon palem dipakai pada hari raya Pondok Daun. Pada hari raya itu, umat Allah bersukaria karena puas menikmati (Im. 23:40; Neh. 8:15). Hari raya Pondok Daun merupakan suatu lambang yang akan digenapi oleh kumpulan besar orang banyak yang dite-bus Allah ini. Mereka akan menikmati hari raya Pondok Daun yang kekal. Dalam Bait Allah, mereka akan semarak bagaikan pohon palem (Mzm. 92:13-14).
E. Berdiri di Depan Takhta dan di Depan Anak Domba
“Berdiri di depan takhta” menyatakan bahwa kumpulan besar orang banyak yang telah ditebus ini pasti sudah diangkat ke hadirat Allah. “Berdiri di hadapan Anak Dom-ba” bersesuaian dengan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk. 21:36). Hal ini dengan jelas menunjukkan keterang-katan. Hal ini disebutkan langsung setelah pembukaan me-terai keenam, menyiratkan terangkatnya kaum beriman tentu dimulai dari sebelum pembukaan meterai keenam. Ca-tatan dalam ayat 9-17 secara umum menggambarkan sua-sana dari saat terangkatnya kaum beriman sampai kenik-matan mereka dalam kekekalan.
F. Memakai Jubah Putih yang Telah
Dibasuh dalam Darah
Dalam ayat 9 kita nampak kumpulan besar orang itu “memakai jubah putih” karena mereka “telah mencuci ju-bah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (ayat 14). “Jubah” di sini dalam bentuk jamak, me-lambangkan kebenaran perbuatan kaum beriman. “Putih” menunjukkan bahwa perbuatan mereka murni dan sudah diperkenan Allah melalui penyucian dalam darah Anak Domba.
G. Memuji Allah dan Anak Domba
Ayat 10 mengatakan, “Dengan suara nyaring mereka berseru, ‘Keselamatan ada pada Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!’” Pujian nyaring yang hanya memuji-muji karunia keselamatan, menyatakan bah-wa orang yang memuji-muji ialah orang yang beroleh sela-mat. Kumpulan besar orang banyak, yaitu orang-orang yang beroleh selamat ini, penuh dengan rasa syukur atas ka-runia keselamatan Allah.
H. Melayani Allah Siang Malam di Bait Suci-Nya
Ayat 15 mengatakan, “Karena itu, mereka berdiri di ha-dapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya.” Kumpulan besar orang banyak yang telah dite-bus ini keluar dari kesusahan besar, lalu memasuki wila-yah surgawi, masuk ke dalam Bait Allah. Pelayanan mereka terhadap Allah adalah hasil dari karunia keselamatan Allah.
I. Allah Membentangkan Kemah-Nya di Atas Mereka
Ayat 15 juga mengatakan, “Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” Kum-pulan besar orang banyak itu akan menikmati Allah dan pemeliharaan-Nya. Ia akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka, berarti Ia akan membuat tempat kediaman-Nya menjadi tempat kediaman mereka. Allah akan mem-buat umat tebusan-Nya diam bersama-sama dengan-Nya. Dalam pengertian yang sangat positif, Allah malah akan menjadi tempat kediaman kita, kemah kita. Ketika Ia me-ngembangkan diri-Nya di atas kita sebagai satu kemah, kita akan menikmati Dia dengan sepenuhnya. Kristus ialah kemah Allah (Yoh. 1:14 Tl.), dan Yerusalem Baru sebagai perluasan akhir Kristus akan menjadi kemah kekal Allah (21:2-3). Di sana, semua orang yang tertebus akan selama-nya tinggal bersama Allah. Allah akan menaungi mereka dengan diri-Nya sendiri seperti yang terwujud di dalam Kristus. Sebagai perwujudan Allah, Kristus akan menjadi kemah mereka. Catatan dalam ayat 15-17 sangat serupa de-ngan catatan dalam 21:3-7.
J. Anak Domba Akan Menggembalakan Mereka,
Menuntun Mereka ke Mata Air Hayat
Ayat 16-17 mengatakan, “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan (hayat).” Di sini kita nampak bahwa Anak Domba akan menggem-balakan mereka dan menuntun mereka ke mata air hayat. Menggembalakan meliputi merawat. Di bawah penggemba-laan Kristus, “takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1). Anak Domba juga akan membimbing kita ke mata air hayat. Isti-lah “mata air” di sini, dalam bahasa aslinya berbentuk ja-mak. Dalam kekekalan, kita akan minum dari banyak mata air dan menikmati bermacam-macam air. Betapa baiknya hal ini!
K. Allah Menghapus Segala Air Mata dari Mata Mereka
Ayat 17 juga mengatakan, “Dan Allah akan mengha-pus segala air mata dari mata mereka.” Air mata adalah tanda ketidakpuasan. Air hayat adalah untuk memuaskan mereka. Karena Anak Domba akan menyuplai mereka de-ngan air hayat, supaya mereka puas, maka mereka tidak akan mencucurkan air mata ketidakpuasan. Air hayat akan disuplaikan, dan air mata akan dihapus. Di sana tidak akan ada air mata, kelaparan, atau dahaga; yang ada hanyalah kenikmatan.
L. Semua Malaikat, Tua-tua, dan Keempat Makhluk Ciptaan Menyembah Allah
Ayat 11-12 mengatakan, “Semua malaikat berdiri me-ngelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka sujud di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata, ‘Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hik-mat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!’” Ayat-ayat ini serupa dengan perkataan dalam Lukas 15:7, yang me-ngatakan akan ada sukacita di surga jika seorang dosa bertobat. Di sini para malaikat mengatakan “amin” terha-dap puji-pujian keselamatan dari orang-orang yang tertebus.
Dalam pasal ini kita nampak bagaimana Allah meme-lihara umat-Nya. Menjelang penghakiman-Nya atas bumi, Ia akan memeteraikan umat-Nya yang bumiah dan meng-angkat umat-Nya yang surgawi. Sisa orang Israel terpilih dimeteraikan; sedangkan kaum beriman dilahirkan kem-bali, karena Allah telah menaruh diri-Nya ke dalam kita se-bagai hayat. Ia tidak hanya menaruh tanda pada dahi kita, Ia juga menaruh diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat. Jadi, kita bukan umat-Nya yang bumiah, melainkan umat-Nya yang surgawi. Anda lebih suka menjadi orang Kristen yang dilahirkan kembali atau orang Israel yang termeterai? Kita, orang-orang Kristen, tidak memiliki meterai ini, kita me-miliki Allah di dalam kita, dan ini jauh lebih baik. Kita tidak seperti sisa orang Israel terpilih itu, kita tidak akan mene-tap di bumi. Kita akan terlindung melalui diangkat ke ha-dapan Allah. Kita akan berada dalam keadaan menikmati rawatan Allah yang ilahi dan kekal serta menikmati penggembalaan Anak Domba sampai kekal. Betapa menyenang-kan hal ini! Sisa kaum Israel yang dimeteraikan memang baik, namun kita akan menjadi orang-orang yang paling baik.
Namun, jika kita ingin diangkat ke hadapan Allah, ki-ta harus matang. Jika kita masih mentah dan hijau, Allah tidak akan mengangkat kita; sebaliknya, Ia akan mening-galkan kita di ladang untuk menderita hingga kita bisa di-tuai. Meskipun seluruh gereja akan diangkat, namun itu memerlukan satu syarat, yaitu telah matang. Kita semua harus menjadi matang dan masak. Kondisi yang demikian-lah yang melayakkan kita diangkat dari bumi oleh Allah. Itulah yang diwahyukan dengan jelas dan sepenuhnya da-lam Kitab Wahyu. Sebagai contoh, dalam pasal 14, kita de-ngan jelas melihat buah sulung dan tuaian. Dalam bagian firman itu, dengan tegas dikatakan bahwa setelah hasil la-dang menjadi masak, matang, saat menuai pun tiba. Jadi, kita semua perlu bertumbuh. Mustahil kita bisa bertumbuh di dalam agama, karena di sana tidak ada makanan dan tidak ada gizi. Di satu pihak, di sana malah tidak ada la-dang. Satu-satunya tempat umat Kristen bisa bertumbuh adalah gereja, karena di dalam gereja ada padang rumput itu — Kristus — tempat kawanan domba mendapat makan-an dan zat bergizi untuk pertumbuhan mereka. Demi peng-aturan anugerah Tuhan, kita menikmati padang rumput ini. Kita semua bisa bersaksi bahwa sejak kita masuk ke dalam hidup gereja, kita berada di padang rumput yang hijau dengan rumputnya yang segar dan lembut. Hari demi hari kita makan rumput yang segar dan lembut, yaitu Kristus sendiri. Di sini, di dalam hidup gereja, kita makan Kristus dan bertumbuh. Di sini kita menyerap semua makanan yang segar, lembut, ke dalam kita. Syukur kepa-da Tuhan, hari demi hari kita bertumbuh. Puji Tuhan ka-rena kita bertumbuh dan karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk pengangkatan kita. Kita tidak berharap meng-hadapi kesusahan besar. Kita bertumbuh terus hingga ma-tang, bertumbuh terus hingga terangkat, bertumbuh terus hingga kita sampai ke hadirat-Nya. Suatu hari, kita akan berada di sana.