KETUJUH MATA ANAK DOMBA UNTUK PEMBANGUNAN ALLAH
Banyak orang Kristen mengetahui bahwa menurut Wahyu 5, Kristus, Anak Domba yang telah tersembelih, sangat layak, dan banyak kidung Kristen memuji Tuhan ka-rena kelayakan-Nya itu. Namun, kebanyakan kidung ten-tang kelayakan Anak Domba hanya memuji Kristus layak karena penebusan-Nya. Sulit menemukan sebuah kidung tentang kelayakan Tuhan yang lebih maju lagi dari pene-busan-Nya. Mengatakan Anak Domba itu layak karena Ia telah menebus dan membeli kita, mutlak alkitabiah. Namun, menurut Wahyu 5, kelayakan Anak Domba itu terutama bukan karena penebusan-Nya, melainkan karena Ia mam-pu membuka rahasia ekonomi Allah. Kristus layak mem-buka meterai ekonomi Allah, karena Ia telah mengalahkan musuh dan telah menebus kita. Sebagai Yang membawa kuasa Allah ke bumi, Ia adalah Singa pemenang dari suku Yehuda dan Anak Domba yang telah menggenapkan pene-busan yang sempurna bagi umat pilihan Allah. Karena itu, Ia benar-benar memenuhi syarat dan berhak membuka rahasia ekonomi Allah. Inilah salah satu butir penting dalam Wahyu 5.
KETUJUH MATA, KETUJUH PELITA,
DAN KETUJUH ROH
Butir besar lainnya dalam Wahyu 5, yaitu Kristus se-bagai Singa-Anak Domba “bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah” (ayat 6). Ketujuh mata ini juga adalah ketujuh pelita (LAI: obor) yang menyala-nyala di hadapan takhta Allah (4:5). Karena itu, dalam pasal-pasal ini kita memiliki tujuh pe-lita, tujuh mata, dan tujuh Roh. Kitab Wahyu merupakan satu-satunya kitab dalam Alkitab yang menyebutkan tujuh Roh. Tetapi di sini kita nampak bahwa ketujuh Roh ini adalah ketujuh mata Kristus, dan ketujuh mata Kristus adalah tujuh pelita di hadapan takhta Allah.
Sebutan pertama terhadap tujuh pelita terdapat dalam Keluaran 25. Di sana kita nampak tujuh pelita di atas satu kaki pelita. Tetapi jika kita hanya memiliki Keluaran 25, kita tidak akan mengetahui makna kaki pelita dengan ke-tujuh pelitanya. Menurut pengertian manusia, kita tentu akan mengatakan bahwa ketujuh pelita adalah untuk memper-kuat terang. Sekalipun hal itu benar dan masuk akal, makna ketujuh pelita lebih dalam dari ini. Mengapa kaki pelita tidak memiliki enam atau delapan pelita? Dalam Ki-tab Zakharia kita melihat sesuatu yang lebih maju lagi me-ngenai ketujuh pelita ini, karena dalam Zakharia 3 dan 4 kita melihat bahwa ketujuh pelita ini adalah ketujuh mata (Za. 3:9; 4:2, 10). Sekalipun Zakharia 4:10 membicarakan ketujuh mata Tuhan, hubungan antara mata, pelita, dan Roh itu tidaklah jelas. Jadi, kita perlu maju lagi ke Kitab Wahyu. Di sana kita melihat ketujuh pelita, ketujuh mata, dan ketujuh Roh. Kita perlu melihat gerak maju dari Kitab Keluaran melalui Kitab Zakharia ke Kitab Wahyu. Dalam Kitab Keluaran kita memiliki ketujuh pelita, dalam Kitab Zakharia kita mempunyai ketujuh mata, dan dalam Kitab Wahyu kita mempunyai ketujuh Roh. Dalam Kitab Keluaran disinggung tentang ketujuh pelita, namun tidak sedikit pun disinggung tentang mata atau Roh. Dalam Kitab Zakharia ada ketujuh pelita dan ketujuh mata, namun tentang Roh hanya disinggung secara samar-samar. Tetapi dalam Kitab Wahyu kita memiliki ketujuh pelita, ketujuh mata, dan ketujuh Roh.
Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita kede-lapan, kaki pelita merupakan lambang Allah Tritunggal. Emas melambangkan hakiki ilahi Bapa; kaki pelita, yang merupakan perwujudan emas itu, melambangkan Kristus sebagai perwujudan Bapa; dan ketujuh pelita melambang-kan Roh itu sebagai ekspresi Kristus yang adalah perwujud-an Bapa. Karena itu, kita mempunyai Bapa (emas) sebagai hakiki, mempunyai Anak (kaki pelita) sebagai perwujudan, dan mempunyai Roh (pelita) sebagai ekspresi. Kita memiliki hakiki, perwujudan, dan ekspresi. Dalam Kitab Keluaran kita tidak nampak bahwa ketujuh pelita adalah ketujuh Roh Allah. Kita harus maju lagi ke Kitab Zakharia dan ter-akhir ke Kitab Wahyu untuk bisa nampak hal ini. Dalam pemulihan wahyu Allah, hal ini mutlak baru.
PEMBANGUNAN ALLAH
Pelita dalam Keluaran 25 adalah bagi pembangunan Kemah Pertemuan, terutama untuk pergerakan di dalam Kemah Pertemuan. Tanpa terang, tidak mungkin bisa ber-gerak. Terang adalah untuk pergerakan, dan pergerakan ada-lah untuk pembangunan Allah. Karena itu, ketujuh pelita adalah untuk pembangunan Kemah Pertemuan, tempat ke-diaman Allah di bumi.
Ketujuh pelita dalam Zakharia 3 dan 4 adalah untuk pemulihan pembangunan Allah. Prinsip pembangunan kem-bali Bait Allah sama seperti prinsip pembangunan Kemah Pertemuan. Demikian juga dengan Kitab Wahyu. Jika kita membaca kitab ini dengan pandangan jarak pendek, kita tidak akan mampu melihat bahwa ketujuh Roh, yang ada-lah ketujuh mata Anak Domba dan ketujuh pelita di hadap-an takhta Allah, adalah untuk pembangunan Allah. Tetapi jika kita mempunyai wawasan yang jauh, kita akan nam-pak bahwa ketujuh Roh mutlak untuk pembangunan Allah. Kitab Wahyu diawali dengan ketujuh gereja lokal, dan ber-akhir dengan Yerusalem Baru. Sekalipun kitab ini juga men-cakup penghakiman Allah, penghakiman itu sendiri bukan-lah tujuan akhir. Penghakiman bukan untuk penghakiman, melainkan untuk pembangunan Allah. Yerusalem Baru, tempat kediaman kekal Allah, keluar dari penghakiman ter-sebut. Jadi, ketujuh pelita, ketujuh mata, dan ketujuh Roh adalah untuk pembangunan Allah. Kita di sini adalah un-tuk mewujudkan tujuan kekal Allah dalam pembangunan ilahi-Nya.
KETUJUH MATA UNTUK PEMBANGUNAN ALLAH
Zakharia 3:9 mengatakan, “Sebab sesungguhnya per-mata yang telah Kuserahkan kepada Yosua — satu permata yang bermata tujuh — sesungguhnya Aku akan mengukirkan ukiran di atasnya, demikianlah firman Tuhan semesta alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.” Ayat ini mengungkapkan bahwa ketujuh mata bukan hanya ketujuh mata Tuhan, tetapi juga ke-tujuh mata batu permata. Batu permata itu akan diukir dalam waktu satu hari karena kesalahan umat Allah. Peng-ukiran batu permata itu adalah penanggulangan oleh ke-adilan Allah di salib untuk penebusan kita. Kristus, Domba Penebus, juga adalah batu permata yang bermata tujuh itu. Ketujuh mata adalah ketujuh pelita untuk pembangunan Allah. Ketika membaca Kitab Wahyu, kita dengan jelas nampak bahwa ketujuh pelita adalah ketujuh mata Sang Penebus, yaitu ketujuh Roh Allah untuk pembangunan Allah.
Menurut Kitab Wahyu, Tuhan Yesus mempunyai tujuh mata yang menyala-nyala. Sekalipun ketujuh mata itu un-tuk memeriksa, menghakimi, membersihkan, dan mene-rangi, namun akhirnya ketujuh mata itu adalah untuk mentransfusi kita dengan esens-Nya, unsur ilahi-Nya. Ba-gaimanakah esens ilahi Allah bisa digarapkan ke dalam kita? Melalui transfusi oleh ketujuh mata-Nya. Ketika kita diperiksa, dibersihkan, dimurnikan, disaring, dan dihakimi oleh mata Kristus yang menyala-nyala, kita memperoleh unsur-unsur-Nya. Tidak hanya beberapa unsur diri kita dimurnikan, tetapi beberapa unsur-Nya ditransfusikan ke dalam kita. Berbagai hal alamiah dibersihkan, dan hal-hal ilahi ditransfusikan ke dalam kita. Melalui proses ini, Tuhan membangun kita bersama-sama dan melaksanakan pemba-ngunan Allah. Kitab Wahyu terutama bukan untuk meme-riksa dan menghakimi, melainkan untuk menghasilkan dan membangun Yerusalem Baru, kesimpulan akhir dari kitab ini. Sebagai hasil dari transfusi ketujuh mata Kristus, Yerusalem Baru akan terbangun. Ketujuh mata Kristus me-mandang umat pilihan Allah, menerangi, memeriksa, meng-hakimi, memurnikan, dan membersihkan mereka, dan ter-akhir menginfus mereka dengan apa adanya Dia. Melalui menginfus kita dengan esens-Nya, Ia menjadikan kita sama seperti apa adanya Dia, dengan itu pula, Ia mengubah kita dari yang alamiah menjadi sama seperti Dia. Demikianlah kita menjadi bahan-bahan yang telah diubah untuk pemba-ngunan Yerusalem Baru. Kita semua harus nampak bahwa ketujuh mata, yang tidak lain adalah ketujuh Roh Allah dan Anak Domba, mutlak untuk pembangunan Allah.
ROH ITU ADALAH MATA KRISTUS
Ketujuh Roh itu adalah Roh Kudus. Sebagai Roh Kudus, ketujuh Roh itu tidak dapat terpisah dari Kristus. Menurut doktrin, Roh itu dan Kristus adalah dua persona yang ter-pisah, tetapi menurut pengalaman, Mereka adalah satu. Sa-ma seperti seseorang dengan matanya adalah satu, demi-kian pula Kristus dan Roh itu adalah satu. Bila seseorang memandang Anda, ia memandang dengan matanya, dan bi-la matanya memandang Anda, maka ia memandang Anda. Sungguh adalah lelucon bila ada yang mengatakan bahwa mata seseorang terpisah dari orangnya. Dalam pengalaman kita, Roh itu adalah mata Kristus. Orang-orang yang men-coba menentang hal ini mengukuhi doktrin dalam benak-nya, namun tidak memiliki pengalaman. Jika mereka meng-alami semua doktrin ini, mereka akan menemukan bahwa memisahkan Kristus dari Roh adalah keliru. Allah Tritung-gal tidak bisa dialami secara doktrinal. Ada orang mungkin mencoba mendefinisikan atau menerangkan tentang Allah Tritunggal; tetapi ketika kita mengalami Allah Tritunggal, kita tahu bahwa Anak adalah perwujudan Bapa dan Roh itu adalah ekspresi Anak. Mereka adalah satu. Bapa diwujudkan di dalam Anak dan Anak direalisasikan, diekspresikan, dan dialami sebagai Roh itu.
PENGALAMAN TERHADAP ALLAH TRITUNGGAL
ADALAH PEMBANGUNAN ALLAH
Allah Tritunggal adalah untuk pembangunan Allah. Agar Allah bisa memiliki pembangunan, Allah Tritunggal harus disalurkan ke dalam kita. Hal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Kitab Wahyu. Visi utama dalam Alkitab adalah pem-bangunan Allah. Jika Anda tidak nampak pembangunan Allah, Anda akan sulit memahami Alkitab dengan benar. Seluruh Alkitab berkaitan dengan pembangunan Allah, dan pembangunan Allah digenapi oleh Allah Tritunggal yang di-salurkan ke dalam kita. Ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita harus memegang visi ini. Jika kita berbuat demikian, kita akan mampu memahami kitab ini dan nampak bahwa kitab ini bukan hanya sebuah kitab penghakiman, melain-kan sebuah kitab untuk pembangunan Allah
PENGHAKIMAN ALLAH
ADALAH PEMBANGUNAN-NYA
Untuk menggenapkan pembangunan Allah, diperlukan penghakiman-Nya. Penghakiman Allah dilakukan oleh Kristus sebagai Yang bermata tujuh yang menyala-nyala untuk membakar, menerangi, memeriksa, memurnikan, dan membersihkan kita. Terakhir, mata yang menyala-nyala ini menginfus kita dengan segala apa adanya Dia, secara meta-bolis mengubah kita ke dalam diri-Nya. Seluruh kota Yerusalem Baru akan memiliki esens dan penampilan yang sama de-ngan Allah. Seperti yang telah kita tunjukkan berulang-ulang, Allah yang duduk di atas takhta dalam pasal 4 nam-paknya bagaikan permata yaspis (4:3), dan penampilan Yerusalem Baru, terutama temboknya dalam pasal 21 juga adalah permata yaspis (21:11, 18-19). Jadi, esens serta pe-nampilan Allah dan Yerusalem Baru adalah sama. Bagai-mana bisa demikian? Karena Allah tergarap ke dalam kita. Esens Allah tergarap ke dalam kita dengan cara transfusi.
Jangan meremehkan ketujuh mata, ketujuh Roh itu. Kitab Wahyu bukan membahas satu Roh, melainkan mem-bahas ketujuh Roh, ketujuh mata Kristus; melalui ketujuh Roh, ketujuh mata ini, Kristus yang menebus, menang, dan membangun ini mentransfusikan diri-Nya ke dalam seluruh anggota-Nya. Ketika Ia mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita, Ia memeriksa, menerangi, menghakimi, memurnikan, dan membersihkan kita. Dengan demikian Ia mengubah ki-ta. Betapa kita perlu nampak visi ini! Inilah pemulihan Allah hari ini!
VISI PENGENDALI DALAM ALKITAB
Meskipun Alkitab tidak bisa dikembangkan, namun ke-benaran dalam Alkitab itu maju, dan pemulihan berbagai kebenaran ilahi dalam Alkitab bahkan lebih maju lagi. Le-bih dari empat ratus tahun yang lalu, sangat sedikit kebe-naran dalam firman Allah yang telah dipulihkan, tetapi hari ini tidak demikian. Pemulihan berbagai kebenaran seka-rang ini lebih kaya daripada dua puluh tahun yang lalu. Ini tidak berarti Alkitab berubah atau kita mengubah Alkitab, karena tidak seorang pun berhak berbuat demikian. Namun, ini menunjukkan Tuhan sedang bergerak dalam memulihkan berbagai kebenaran-Nya.
Pemulihan Allah terhadap kebenaran Alkitab mutlak untuk pembangunan-Nya. Saya mulai ditentang orang pada tahun 1958; dan sejak tahun itulah saya mulai berbeban memberitakan tentang pembangunan Allah. Perihal pemba-ngunan itulah yang menimbulkan semua tentangan dan kritik. Namun, saya hanya memperhatikan pembangunan Allah. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena Ia telah mem-benarkan pemulihan ini. Kata-kata manusia tidak berarti apa-apa, hanya perkataan Allah yang terhitung. Allah telah berkata bahwa Ia adalah untuk pembangunan. Seluruh Al-kitab adalah untuk pembangunan. Pada awalnya, dalam Ki-tab Kejadian, ada pohon hayat dan aliran sungai yang meng-hasilkan emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras (permata) (Kej. 2:9-12). Pada akhir Alkitab, dalam Kitab Wahyu, kita memiliki kota yang terbangun dengan bahan-bahan yang berharga itu, dengan emas, mutiara, dan batu-batu permata (Why. 21). Jadi, seluruh Alkitab adalah un-tuk tujuan kekal Allah, yaitu untuk memperoleh tempat kediaman-Nya yang kekal, yaitu dengan menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam umat pilihan-Nya. Inilah visi yang mengendalikan itu.
KEINGINAN HATI ALLAH
Jika kita memiliki pandangan lain, berarti kita berpandangan sempit. Allah tidak menuntut kekudusan atau kerohanian. Ia memerlukan pembangunan. Pada tahun 1958, saya pernah berkata bahwa kerohanian kita harus diuji oleh pembangunan Allah, yaitu oleh hidup gereja. Ketika saya mengatakan bahwa Allah tidak memperhatikan kerohanian kita, para penentang mengutip kalimat ini terlepas dari konteksnya dan menyalahkan saya. Mereka berkata, “De-ngar! Saudara Lee mengatakan bahwa Allah tidak memper-hatikan kerohanian. Bukankah ini bidah?” Jika Anda mem-perhatikan pernyataan ini di dalam konteksnya, maka perkataan saya itu sama sekali bukan bidah. Allah tidak memperhatikan soal kerohanian kita, Ia hanya memper-hatikan berapa banyak kita sudah terbangun di dalam gereja-Nya. Kerohanian individu itu bersifat kanker. Setiap anggota gereja yang menyendiri adalah kanker di dalam Tubuh Kristus. Anda mungkin berkata bahwa Anda rohani atau kudus, tetapi kerohanian dan kekudusan Anda itu ha-rus diuji melalui hidup gereja. Boleh jadi kekudusan Anda itu bersifat individu. Jika demikian halnya, keadaan Anda itu kurang sehat, karena kekudusan yang sejati adalah un-tuk pembangunan Allah.
Allah tidak menginginkan sekelompok orang rohani individu, Ia menginginkan pembangunan. Ia tidak mengharapkan setumpuk batu permata untuk dipamerkan. Allah memang memerlukan orang-orang, tetapi Ia memerlukan mereka sebagai bahan untuk pembangunan. Semua batu yang sendiri-sendiri itu harus dibangun. Ini bukan hanya doktrin, melainkan satu fakta yang serius. Sudahkah Anda dibangun ke dalam pembangunan Allah? Atau apakah Anda seorang yang telah beroleh selamat, yang takut akan Allah, yang mengasihi Tuhan, dan yang berdoa, tetapi berkata, “Aku tidak peduli dengan gereja”? Apakah Anda berkata, “Tidak baik berbicara terlalu banyak tentang gereja, lebih baik sendirian dengan Tuhan dan membaca Alkitab”? Anda bisa menikmati hal itu, tetapi Allah tidak suka yang Anda su-kai. Ia ingin Anda kehilangan diri Anda sendiri. Anda ha-rus disoroti, diperiksa, dimurnikan, dibersihkan, dan kemu-dian diinfus dengan semua apa adanya Dia sehingga Anda bisa diubah menjadi sebuah batu permata bagi pembangun-an Allah. Inilah keinginan Allah hari ini.
Mengapa Allah memanggil bangsa Israel keluar dari Mesir? Untuk pembangunan tempat kediaman-Nya di bu-mi. Terakhir, Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah di bumi menjadi pusat dari bangsa Israel. Bila mereka bersalah terhadap Kemah Pertemuan, mereka akan kalah perang. Tetapi bila mereka benar terhadap Kemah Pertemu-an, mereka menang. Setelah umat Israel masuk ke tanah permai, mereka mendirikan Bait Suci sebagai pusat kehi-dupan mereka sebagai umat Allah. Bila mereka benar ter-hadap Bait, maka mereka benar terhadap Allah, dan bila mereka bersalah terhadap Bait, mereka bersalah terhadap Allah. Inilah ringkasan singkat dari Perjanjian Lama. Lalu apakah yang kita miliki dalam Perjanjian Baru? Kita me-miliki gereja hari ini dan Yerusalem Baru kelak. Karena itu, ringkasan singkat dari seluruh Alkitab adalah pem-bangunan Allah.
PERLU INFUS YANG DIPERKUAT
Karena kegelapan dan kemerosotan zaman ini, Allah terpaksa menjadikan diri-Nya sendiri sebagai Roh tujuh kali untuk bergerak, menerangi kita. Kita memerlukan pe-meriksaan dan penerangan dari ketujuh Roh ini. Mungkin Anda telah memegang teguh berbagai doktrin selama berta-hun-tahun. Kebaikan apakah yang telah Anda peroleh dari doktrin-doktrin itu? Gereja terpulih yang kemudian merosot lagi pun memiliki sangat banyak doktrin, tetapi apa kata Tuhan kepada mereka? Ia berkata bahwa mereka tidak pa-nas dan tidak dingin, mereka suam-suam kuku, karena itu mereka akan dimuntahkan dari mulut-Nya (3:16). Inilah kondisi gereja di Laodikia.
Kita bersyukur kepada Tuhan karena hari ini terang mengenai pembangunan-Nya lebih jelas daripada sebelum-nya. Terang ini menyoroti kita. Hal ini bukan masalah menjadi pemenang individu dalam beberapa hal kecil, me-lainkan menjadi pemenang dalam perkara-perkara besar untuk pembangunan Allah. Banyak orang Kristen tidak memahami makna menjadi pemenang dalam Kitab Wahyu. Menang dalam kitab ini berarti menang atas kekristenan yang telah merosot. Bagi pembangunan Allah, kita harus menang atas situasi yang telah merosot dari apa yang di-sebut gereja. Bacalah Kitab Wahyu berulang-ulang dan Anda akan nampak bahwa visi pengendalinya adalah pembangun-an Allah. Kita harus memegang hal ini. Segala sesuatu adalah untuk pembangunan Allah. Wahyu Kristus dalam pasal 1 adalah untuk pembangunan; ketujuh surat kepada ketujuh gereja dalam pasal 2 dan 3 adalah untuk pemba-ngunan Allah; dan suasana di surga setelah kenaikan Kristus dan visi Kristus sebagai Singa-Anak Domba dalam pasal 5 juga untuk pembangunan Allah. Kristus mempu-nyai tujuh mata, yang tidak lain adalah pelita dan ketujuh Roh Allah. Itu bukan agar kita kudus secara individu, me-lainkan mutlak bagi pembangunan Allah. Kiranya Allah merahmati kita. Dalam zaman ini, kita hidup di malam yang gelap, karena itu kita memerlukan Roh tujuh kali sebagai tujuh pelita yang menyorot untuk menerangi, me-meriksa, membersihkan, dan memurnikan kita. Terakhir, yang kita butuhkan adalah infus yang diperkuat dari Tuhan. Kita perlu diinfus dengan semua apa adanya Dia sehingga kita diubah menjadi batu-batu permata bagi pembangunan Allah.