← Daftar isi Wahyu (1) · bab 4/17

SERUAN KAUM SALEH MARTIR DAN JAWABAN ALLAH — METERAI KELIMA DAN KEENAM

Dalam berita ini kita akan membahas meterai kelima dan keenam. Menurut Kitab Wahyu, keempat meterai per-tama bukan terjadi secara berurutan, melainkan secara se-rentak. Keempat meterai itu berlangsung pada saat yang hampir sama dan berakhir pada waktu yang sama. Jadi mi-rip dengan pacuan kuda, kuda-kuda itu mulai berlari dan berakhir pada waktu yang hampir sama. Ketujuh meterai terbagi menjadi dua kelompok, terdiri dari empat meterai yang pertama dan tiga meterai yang terakhir. Keempat meterai pertama bukan terjadi secara berurutan, namun ketiga meterai yang terakhir berlangsung secara berurutan.

Seperti yang telah kita lihat, keempat meterai yang pertama membukakan zaman Perjanjian Baru, yaitu za-man pemberitaan Injil. Di antara kenaikan Kristus sampai kedatangan-Nya kembali, Injil akan terus diberitakan. Per-kara-perkara lainnya, yaitu peperangan, kelaparan, dan maut, bekerja sama untuk kemajuan pemberitaan Injil. Allah mempunyai satu tujuan yang unik di zaman ini, yaitu Injil diberitakan untuk menghasilkan dan membangun gereja bagi penggenapan rencana kekal-Nya. Kita perlu memiliki pandangan yang menyeluruh ini. Tetapi kebanyakan orang besar di muka bumi tidak memiliki pandangan ini, demi-kian juga raja-raja maupun para presiden, mereka tidak mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Tetapi kita mengetahui. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh para penguasa itu membantu pemberitaan Injil. Allah berdaulat dalam hal ini.

Kitab Wahyu diawali oleh gereja-gereja lokal dengan Kristus di tengah-tengahnya, dan berakhir pada Yerusalem Baru dengan Kristus sebagai inti dan penyebarannya. Di antara kedua ujung itu, awal dan akhir Kitab Wahyu, ada zaman gereja dan zaman kerajaan. Dalam zaman gereja, za-man perjanjian baru, Allah sedang melakukan satu perkara: Ia menghasilkan gereja-gereja melalui pemberitaan Injil yang lengkap. Kedua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru tercakup dalam Injil yang lengkap ini. Tujuan Allah bukan hanya menyelamatkan sekelompok orang dosa yang kasihan; konsepsi semacam itu terlalu dangkal, dan itu membuat banyak filsuf menolaknya. Mereka perlu nampak bahwa pemberitaan Injil mempunyai tujuan yang jauh lebih tinggi dan berada pada taraf yang paling tinggi, yaitu untuk meng-hasilkan gereja-gereja bagi pembentukan Yerusalem Baru. Setelah zaman gereja, tibalah zaman kerajaan. Dalam za-man kerajaan, Allah akan menggenapkan apa yang masih belum tergenap dan belum sempurna dalam zaman gereja. Setelah zaman kerajaan, tujuan Allah akan mutlak terge-nap seluruhnya. Kemudian kita memasuki zaman kekekalan dengan langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru yang terdiri dari semua orang kudus yang tertebus. Inilah pandangan umum dari alam semesta.

Seperti telah kita tunjukkan, melalui keempat meterai yang pertama, kita mempunyai visi tentang apa yang se-dang terjadi di antara waktu kenaikan Kristus sampai ke-datangan-Nya kembali. Empat perkara yang sedang ber-langsung yaitu: pemberitaan Injil, peperangan, kelaparan, dan maut. Kuda kedua, ketiga, dan keempat membantu mempercepat pemberitaan Injil. Jika tidak ada peperangan, saya tidak akan sampai ke Amerika Serikat. Dahulu, tak seorang pun di antara kami dalam pemulihan Tuhan di China, berhasrat datang ke belahan barat. Menurut pikiran kami, setelah kami menyelesaikan sejumlah pekerjaan pe-mulihan, Tuhan akan memakai orang, atau cara lain, mung-kin para misionaris atau terjemahan dari beberapa buku, membawakan pemulihan Tuhan ke belahan barat. Namun, di luar dugaan, pada tahun 1949 di daratan China timbul perang. Akibatnya, pemulihan Tuhan terbawa ke Amerika Serikat. Setelah diutus ke Taiwan oleh pekerjaan, batin sa-ya risau dan sedih karena hilangnya pemulihan Tuhan di daratan China. Siang malam saya bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana ini? Mengapa pekerjaan itu terhenti?” Akhir-nya, Tuhan yang berdaulat membawa pemulihan-Nya ke Amerika Serikat. Ini menyatakan bahwa dalam tangan ke-daulatan Tuhan, hanya ada satu perkara di zaman ini, yaitu pemberitaan Injil yang lengkap untuk menghasilkan gereja-gereja lokal bagi pembangunan tempat kediaman ke-kal Allah, Yerusalem Baru. Bila kita memiliki visi yang menyeluruh ini, barulah kita dapat membaca Kitab Wahyu serta memahaminya secara tepat dan memadai.

I. SERUAN KAUM SALEH MARTIR —

METERAI KELIMA

Ketujuh meterai terlebih dulu dibagi menjadi empat dan tiga, lalu dibagi lagi menjadi enam dan satu. Angka empat melambangkan makhluk ciptaan, seperti yang dilam-bangkan oleh keempat makhluk hidup; angka enam me-lambangkan penciptaan, sebab penciptaan dirampungkan dalam waktu enam hari; angka tiga melambangkan Allah Tri-tunggal; dan angka satu melambangkan Allah yang unik. Karena itu, empat ditambah tiga dan enam ditambah satu menunjukkan bahwa ketujuh meterai melalui penghakiman Allah, membawa penciptaan Allah beserta semua makhluk ciptaan kepada Allah.

Meterai kelima menyingkapkan kemartiran orang-orang Kristen martir dari abad pertama sampai menjelang akhir zaman ini. (Mungkin juga mencakup kemartiran orang-orang kudus perjanjian lama — Mat. 23:34-36). Sewaktu Injil dise-barluaskan, seperti yang dinyatakan oleh meterai pertama, selalu ada orang saleh setia yang menjadi martir.

A. Para Martir

Selama zaman pemberitaan Injil, banyak orang kudus menjadi martir karena firman Allah dan kesaksian Yesus. Stefanus, Petrus, dan hampir semua rasul lainnya telah men-jadi martir. Rasul Yohanes dibuang, Paulus dipenjarakan dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Sepanjang abad, di mana saja Injil diberitakan, di sana ada martir. Ribuan orang yang setia kepada kesaksian Tuhan telah menjadi martir. Boleh dikatakan, Saudara Watchman Nee juga martir. Hampir semua sekerja senior yang seangkatan dengan saya adalah para martir pada tahun 1950-an, mereka dipenjara hingga wafat.

Kaum saleh itu menjadi martir bukan karena mereka menentang pemerintahan manusia, tetapi karena firman Allah dan kesaksian Yesus. Firman Allah adalah berita su-kacita, Injil, yang mereka beritakan kepada orang banyak. Kesaksian Yesus adalah kehidupan yang mereka tempuh. Masyarakat manusia dengan kebudayaan manusia, seluruh-nya berada di bawah pengaruh jahat si Iblis, seperti yang dikatakan dalam 1 Yohanes 5:19, “Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” Pemberitaan firman Allah maupun hidup yang menampilkan kesaksian Yesus, keduanya ber-tentangan dengan jalan Iblis di dunia ini. Tentu saja Iblis membencinya. Karena itu, kapan saja dan di mana saja kaum saleh memberitakan firman Allah dan menampilkan kesaksian Yesus, Iblis menghasut orang banyak untuk meng-aniaya mereka, bahkan membunuh mereka. Ini adalah suatu peperangan, bukan antara manusia dengan kaum saleh, melainkan antara Iblis dengan Allah. Waktunya akan tiba, Allah akan menuntut balas bagi kaum saleh dengan melak-sanakan penghakiman-Nya yang adil atas bumi yang ber-ada di bawah pengaruh jahat Iblis.

B. Seruan Itu

Wahyu 6:9-10 mengatakan, “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka mi-liki. Mereka berseru dengan suara nyaring, ‘Berapa lama-kah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang tinggal di bumi?’” Dalam ayat 9 kita nampak bahwa jiwa-jiwa itu berada di bawah mezbah. Ini menyata-kan bahwa mereka adalah kurban yang terbunuh di atas mezbah. Sewaktu binatang kurban dibunuh di atas mezbah, darahnya akan mengalir turun ke bawah, ke dasar mezbah; sedang nyawa makhluk hidup itu ada di dalam darah (Im. 17:11). Jadi, jiwa kaum saleh martir yang ada di bawah mezbah itu menyatakan bahwa dalam pandangan Allah, mereka semua telah dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban di atas mezbah dan bahwa darah mereka, yaitu ji-wa mereka, ditumpahkan di sana. Sekarang posisi mereka berada di bawah mezbah. Menurut tanda, mezbah berada di pelataran luar Kemah Pertemuan dan Bait Suci, pelataran luar melambangkan bumi. Karena itu, “di bawah mezbah” berarti di bawah bumi, tempat jiwa kaum saleh martir ber-ada. Inilah Taman Firdaus yang dituju oleh Tuhan Yesus setelah Ia wafat (Luk. 23:43). Tempat ini berada di dalam rahim bumi (Mat. 12:40), dan merupakan bagian dari alam maut (Kis. 2:27; dunia orang mati), bagian yang nyaman, tempat Abraham berada (Luk. 16:22-26).

Hari ini, kaum saleh martir berada di Firdaus di ba-wah mezbah, yaitu di bawah bumi. Sangatlah keliru bila kita mengatakan bahwa kaum saleh ini berada di surga. Scofield Reference Bible cetakan awal menerangkan Lukas 16:23 bahwa Firdaus berada di bawah bumi sebelum kebangkitan Kristus, tetapi oleh dan dengan kebangkitan Kristus, Firdaus ini dipindahkan dari bawah bumi ke surga tingkat ketiga. Namun, pada hari Pentakosta, lima puluh hari sete-lah kebangkitan Tuhan, Petrus berkata, “Sebab bukan Daud yang naik ke surga” (Kis. 2:34). Bahkan pada hari Penta-kosta, Daud masih belum berada di surga. Dalam bukunya, Firstfruits and Harvest, halaman 54, G.H. Lang, seorang mantan guru di antara Kaum Saudara mengatakan, “Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa setelah kenaikan Kristus, Firdaus dipindahkan dari bawah bumi ke langit tingkat ketiga, sebaliknya, apa yang dikatakan dalam Alkitab se-penuhnya berlawanan dengan hal itu.” Ia juga menunjuk-kan ayat dalam Kisah Para Rasul 2. Dalam ayat itu Petrus berkata bahwa Daud tidak berada di surga. Saya menyebut-kan hal ini agar kita memahami bahwa semua orang saleh martir masih tetap di Firdaus di bawah mezbah.

Kebanyakan orang Kristen tidak mengetahui bahwa Firdaus ada di alam maut. Bukti paling tegas yang menun-jukkan bahwa Firdaus ada di alam maut adalah perkataan Tuhan kepada penjahat dalam Lukas 23:43, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Kisah Para Rasul 2:27, 31 mengungkapkan bahwa setelah Tuhan Yesus mati, Ia pergi ke dunia orang mati. Matius 12:40 menun-jukkan bahwa alam maut ada di dalam “rahim bumi”, tem-pat yang dikunjungi Tuhan Yesus selama tiga hari tiga ma-lam setelah kematian-Nya. Di dalam alam maut terdapat satu bagian yang menyenangkan yang digambarkan seper-ti pangkuan Abraham, dan Lazarus pergi ke sana (Luk. 16:23). Itu bukanlah Firdaus di dalam surga, melainkan Firdaus di alam maut. Dengan menggunakan 2 Korintus 12:2-4, sebagian orang menyanggah bahwa ketika Paulus “diangkat ke Firdaus” ia “diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga”. Tetapi 2 Korintus 12:2-4 tidak membuktikan bahwa firdaus berada di surga tingkat ketiga; malahan membuktikan sebaliknya. Kata “dan” pada awal ayat 3 mem-buktikan bahwa Paulus “diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga” dan “diangkat ke Firdaus”, keduanya tercan-tum dalam ayat 3 dan 4 dan merupakan dua perkara yang berbeda. Di satu pihak, Paulus hidup di bumi, tetapi di pi-hak lain, ia “diangkat” ke surga dan ke “Firdaus”. Dengan cara ini, Paulus menerima visi yang lengkap tentang alam semesta ini. Sepanjang menyangkut umat manusia, alam semesta terdiri dari tiga bagian: surga, bumi, dan bawah bumi (lihat Flp. 2:10). Paulus mengerti berbagai perkara di bumi, perkara di dalam surga, dan perkara di Firdaus. Ia mendapatkan wahyu yang paling besar tentang alam se-mesta ini dalam kaitannya dengan manusia.

Setelah seorang saleh meninggal, ia tidak memiliki tu-buh lagi, menjadi telanjang. Orang yang tidak memiliki tu-buh berarti telanjang, berada dalam keadaan yang tidak wajar. Tidak seorang pun bisa berdiri di hadapan Allah di langit tingkat ketiga dalam keadaan telanjang, dalam ke-adaan yang tidak wajar seperti itu. Karena itu kaum saleh yang telah mati harus ditempatkan di tempat yang nyaman hingga saat kebangkitan mereka. Saat itu Allah akan me-ngenakan tubuh kebangkitan kepada mereka dan mereka akan menjadi orang yang sempurna dalam keadaan wajar.

Sebagian orang mungkin merasa heran dengan Filipi 1:23. Dalam ayat itu Paulus berkata bahwa ia ingin “ting-gal bersama-sama dengan Kristus”. Paulus seolah-olah berkata, “Jika aku mati, aku akan bersama-sama dengan Kristus.” Bersama-sama dengan Kristus bukanlah satu per-kara yang mutlak, melainkan sesuatu yang relatif. Seka-rang pun kita bersama-sama dengan Kristus. Di mana saja kita berada, kita bersama-sama dengan-Nya. Tentu saja, saat kita masih berada dalam tubuh jasmani, kita dengan Kristus masih belum sedekat seperti kalau kita mati, me-ninggalkan dunia ini dan masuk ke dalam alam lainnya. Tetapi ini tidak berarti ketika kaum beriman meninggal, mereka akan dibawa ke surga. Hal itu baru akan terjadi pada hari kebangkitan dan pengangkatan.

Mungkin ada orang lain menggunakan 1 Tesalonika 4 menyatakan bahwa kaum saleh yang mati sudah bersama-sama dengan Kristus di surga. Mereka mengatakan bahwa apabila Kristus kembali, Ia akan membawa kaum beriman yang telah mati bersama-Nya, dan ini membuktikan bahwa mereka seharusnya ada bersama-sama dengan Kristus di surga sekarang. Tetapi bacalah pasal itu dengan cermat. Di sana dikatakan bahwa “mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” dan “kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan” (1 Tes. 4:16-17). Menurut 1 Tesalonika 4, kaum saleh yang telah mati akan dibangkitkan, dan bersamaan dengan itu, mereka yang masih hidup, akan diangkat ke angkasa menjumpai Kristus. Kita perlu membaca Alkitab dengan cermat dan tidak mengikuti pengajaran tradisional hari ini yang begitu dangkal. Kita harus jelas bahwa kaum saleh yang telah mati bukan berada di dalam surga, me-lainkan di tempat yang menyenangkan yang dalam Alkitab disebut Firdaus, tempat yang dikunjungi oleh Tuhan Yesus setelah Ia mati.

Setelah menunggu sejangka waktu, menjelang akhir zaman ini, kaum saleh martir berseru menuntut balas, mendesak Tuhan untuk menghakimi dan membalaskan darah mereka “kepada mereka yang tinggal di bumi”.

C. Diperkenan Tuhan

Ayat 11 mengatakan, “Mereka masing-masing diberi-kan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara seiman mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” Jubah putih di sini menunjukkan bahwa kemartiran mere-ka diperkenan oleh Allah. “Yang akan dibunuh sama seperti mereka”, mengacu kepada orang-orang yang akan menjadi martir selama kesusahan besar (20:4).

Menurut perkataan “sedikit waktu lagi hingga genap jumlahnya”, menunjukkan seruan kaum saleh martir akan terjadi menjelang akhir zaman ini. Kita masih berada di dalam keempat meterai yang pertama. Meterai kelima ma-sih belum datang. Namun, saya yakin bahwa kita telah dekat dengan saat meterai kelima.

II. JAWABAN ALLAH — METERAI KEENAM

A. Awal Malapetaka yang Adikodrati

Meterai keenam (6:12-17), yang menandai permulaan malapetaka yang adikodrati, adalah jawaban Allah terhadap seruan kaum saleh yang martir dalam meterai kelima. Setelah meterai keenam dibuka, Tuhan datang untuk meng-guncangkan bumi dan benda-benda langit. Bumi akan ber-guncang dengan dahsyatnya, matahari akan menjadi hitam bagaikan karung rambut, bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah, dan bintang-bintang di langit akan berja-tuhan ke bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia diguncang angin yang kencang. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan ki-tab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya (6:12-14). Guncangan yang dahsyat ini merupakan suatu peringatan kepada penghuni bumi, agar mereka bertobat dan kembali kepada Allah. Allah se-olah-olah berkata kepada mereka, “Kalian penghuni bumi ini hidup hanya bagi diri kalian sendiri. Kalian tidak mem-pedulikan Aku. Sekarang saat-Ku mengguncangkan bumi sebagai peringatan bagi kalian.” Sementara sebagian orang menghina Allah dengan berkata bahwa diri mereka adalah Allah, Tuhan akan mengguncangkan bumi dan langit se-bagai suatu peringatan kepada mereka bahwa Dialah Allah. Guncangan ini benar-benar mengerikan! Bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya akan guncang.

B. Reaksi Penghuni Bumi

Dalam ayat 15-17 kita nampak reaksi penghuni bumi. Mereka akan menyembunyikan diri mereka dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung, dan mereka me-minta kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu untuk menyembunyikan diri mereka dari wajah Allah dan dari murka Anak Domba. Ayat 15 menunjukkan perasaan hati nurani mereka, karena mereka takut menghadapi penghakiman Allah, mengira bahwa hari murka yang dahsyat dari Allah dan Anak Domba telah tiba. Sebenar-nya, meterai keenam bukan merupakan pernyataan akan datangnya penghakiman Allah. Sebaliknya, merupakan suatu peringatan bagi penghuni bumi. Raja-raja dan semua pembesar, orang-orang kaya, dan kaum bangsawan di bumi akan terguncang karena gempa bumi ini dan mengira hari murka Allah serta Anak Domba telah datang. Sesungguh-nya hari itu belum tiba; itu hanyalah suatu pencicipan diri, peringatan bagi mereka agar mereka bertobat. Dalam peringatan ini seolah-olah Allah berkata, “Kembalilah kepa-da-Ku. Jangan berkata bahwa kalian adalah Allah. Kalian adalah penghuni malang dari bumi yang Kuciptakan. Aku menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang bagi ke-hidupan kalian. Tetapi kalian melupakan Aku, menentang Aku, dan menghina Aku. Sekarang kalian diperingatkan agar kalian bertobat.”

C. Makna Malapetaka Ini

Malapetaka ini adalah suatu peringatan bagi penghuni bumi, namun masih belum merupakan murka Tuhan yang sesungguhnya. Boleh dikatakan ini merupakan jawaban Allah terhadap seruan kaum saleh martir dalam meterai kelima, mengungkapkan bahwa Allah segera datang untuk membalaskan dendam mereka dan juga untuk menegaskan diri-Nya sendiri. Allah segera datang membalaskan darah kaum saleh yang dikasihi-Nya.

III. PERINGATAN SEBELUM DATANGNYA

HARI TUHAN

Meterai keenam, sebagai suatu pendahuluan atas kesu-sahan besar, merupakan suatu peringatan sebelum datang-nya hari Tuhan. Menurut Yoel 2:30-31, tenggang waktu meterai keenam dengan kelima sangkakala pertama (9:1-11) tidak berselisih banyak. Yoel 2:30-31 terlebih dahulu menye-butkan darah dari sangkakala pertama dan kedua, api dari sangkakala pertama, kedua, dan ketiga (8:7-10), dan asap dari sangkakala kelima (9:1-3), kemudian ada matahari dan bulan dari meterai keenam. Perbandingan pasal 9:4 dengan 7:3 pada kitab ini menyatakan bahwa sangkakala kelima dan meterai keenam sangat dekat waktunya.

Akan terjadi dua kali malapetaka dengan terguncang-nya dan berubahnya bumi dan langit. Yang pertama akan terjadi pada permulaan kesusahan besar (Yl. 3:11-16; 2:30-31; Luk. 21:11), dan yang kedua akan terjadi setelah kesu-sahan besar (Mat. 24:29-30; Luk. 21:25-26). Yang tercakup dalam meterai keenam adalah malapetaka yang pertama. Ini tidak hanya bisa dipandang sebagai peringatan, juga adalah permulaan dari kesusahan besar yang akan datang. Setelah meterai keenam, pada saat pembukaan meterai ke-tujuh, ada keempat sangkakala pertama sebagai tanda-tanda bahwa kesusahan besar sedang melanda (8:1-2, 6-13). Kemu-dian kesusahan besar akan usai dalam ketiga sangkakala yang terakhir (9:1-21; 11:14-19).