SEJARAH DUNIA DARI KENAIKAN KRISTUS HINGGA AKHIR ZAMAN INI — METERAI PERTAMA HINGGA
METERAI KEEMPAT
Dalam berita ini kita akan melihat keempat meterai yang pertama dengan keempat kuda dan keempat penunggangnya (6:1-8).
I. ANAK DOMBA MEMBUKA RAHASIA
ADMINISTRASI ALLAH
Wahyu 6:1 mengatakan, “Lalu aku melihat Anak Dom-ba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh, ‘Mari!’” Pem-bukaan ketujuh meterai oleh Anak Domba terjadi segera sesudah kenaikan Kristus. Melalui inkarnasi-Nya, kemati-an-Nya di salib, dan kebangkitan-Nya, Kristus sepenuhnya layak dalam kenaikan-Nya membuka rahasia ekonomi Allah yang terkandung dalam ketujuh meterai itu. Karena eko-nomi Allah terhadap makhluk ciptaan terkandung dalam ketujuh meterai itu, maka keempat makhluk hidup itu dengan antusias masing-masing memproklamirkan pembukaan keempat meterai yang pertama.
II. EMPAT EKOR KUDA BERLOMBA
MENYUSUN SEJARAH DUNIA
Keempat meterai yang pertama terdiri atas empat ekor kuda beserta penunggangnya, seperti pacuan empat ekor kuda. Keempat penunggangnya bukan manusia sebenarnya, melainkan perkara yang dipersonifikasikan. Sudah pasti, penunggang kuda kedua (kuda merah) adalah peperangan (ayat 4); penunggang kuda ketiga (kuda hitam) adalah kelaparan (ayat 5); penunggang kuda keempat (kuda abu-abu — hijau kuning) adalah maut (ayat 8). Berdasarkan fakta sejarah, penunggang kuda pertama (kuda putih) pastilah Injil, bukan Kristus atau Antikristus seperti yang dijelas-kan oleh beberapa orang. Menyusul kenaikan Kristus, ke-empat hal ini — Injil, peperangan, kelaparan, dan maut — mulai berlari seperti keempat penunggang kuda yang me-nunggangi kudanya, dan mereka akan terus berlari sampai Kristus kembali. Dari abad pertama, Injil telah tersebar luas sepanjang dua puluh abad ini. Dalam waktu yang sa-ma, peperangan di antara umat manusia terus-menerus terjadi. Peperangan selalu menyebabkan kelaparan, dan ke-laparan mendatangkan maut. Semua ini akan berlangsung terus sampai akhir zaman ini.
A. Penunggang Kuda Putih
Penunggang kuda putih adalah pemberitaan Injil. Putih melambangkan bersih, murni, adil, dan diperkenan. Kuda putih melambangkan pemberitaan Injil, yang bersih, murni, adil, dan diperkenan di pandangan Allah maupun manusia.
Sebagian orang mengatakan bahwa penunggang kuda putih adalah Kristus, sedang yang lain mengatakan bahwa penunggang kuda putih itu adalah Antikristus. Setelah mem-pelajarinya dengan teliti, kami menyimpulkan bahwa kedua konsepsi itu tidak benar. Dalam menafsirkan Alkitab, kita harus mengikuti suatu prinsip. Prinsipnya di sini adalah pe-nunggang keempat kuda itu bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang dipersonifikasikan (dianggap seperti manusia). Penunggang kuda kedua adalah peperangan, penunggang kuda ketiga adalah kelaparan, dan penunggang kuda ke-empat adalah maut. Tidak satu pun di antara para penung-gang kuda tersebut adalah benar-benar orang, semuanya adalah sesuatu yang dipersonifikasikan. Sesuai dengan prin-sip ini, penunggang kuda pertama tentunya sesuatu yang dipersonifikasikan. Jadi, penunggangnya pasti bukan Kristus atau Antikristus. Setelah mempertimbangkan baik-baik, kami nampak bahwa penunggang kuda ini tentu adalah pemberitaan Injil.
1. Memegang Sebuah Busur, Menyatakan Perang Telah Berlangsung
Ayat 2 mengatakan, “Aku melihat: Sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya meme-gang sebuah busur dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan” (Tl.). Busur dengan anak panah adalah untuk berperang. Tetapi di sini hanya ada busur tanpa anak panah. Ini menunjukkan bahwa anak panahnya sudah dipanahkan untuk menghancurkan musuh, dan kemenangan sudah di-dapat, supaya Injil damai sejahtera bisa terbentuk. Kini peperangan telah usai dan Injil damai sejahtera diberitakan dengan damai. Di atas salib, anak panah telah dipanahkan dan menembus jantung musuh, peperangan telah berlang-sung, dan kemenangan telah diraih. Karena itu, busur tan-pa anak panah menunjukkan bahwa peperangan telah usai dan kemenangan telah diraih.
2. Dikaruniakan Mahkota, Menyatakan Kemuliaan Injil
Ayat 2 juga mengatakan, “Kepadanya dikaruniakan se-buah mahkota.” Mahkota adalah tanda kemuliaan. Injil sudah dimahkotai dengan “kemuliaan Kristus” (2 Kor. 4:4), kare-na itu disebut Injil kemuliaan Kristus. Injil yang kita beri-takan adalah Injil yang telah dimahkotai dengan kemuliaan Kristus. Kita tidak hanya memberitakan Injil anugerah, te-tapi juga Injil kemuliaan.
3. Maju sebagai Pemenang
Ayat 2 juga mengatakan bahwa penunggang di atas kuda putih “maju sebagai pemenang untuk merebut keme-nangan” (dalam bahasa aslinya juga berarti “sudah menak-lukkan dan akan menaklukkan lagi”). Dari zaman ke zaman, ke mana pun Injil diberitakan, Injil selalu menaklukkan dan mengalahkan segala macam tantangan dan serangan. Kita tidak diberi tahu bahwa penunggang kuda kedua, ketiga, dan keempat maju untuk memperoleh kemenangan. Hanya penunggang kuda pertama, yaitu pemberitaan Injil, yang terus-menerus memperoleh kemenangan. Di mana saja Injil diberitakan, di sana ada kemenangan.
B. Penunggang Kuda Merah
Ayat 3 dan 4 mengatakan, “Ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata, ‘Mari!’ Lalu majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah seperti nyala api dan orang yang me-nungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membu-nuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang be-sar.” Merah di sini menyatakan penumpahan darah. Kuda merah mengibaratkan berkecamuknya peperangan, yang se-penuhnya merupakan hal penumpahan darah. “Mengambil damai sejahtera dari atas bumi,” “sehingga mereka saling membunuh,” dan “kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar,” semuanya dengan jelas menyatakan peperang-an. Sejak Kristus naik ke surga, selain ada pemberitaan Injil, juga ada peperangan.
C. Penunggang Kuda Hitam
Ayat 5 dan 6 mengatakan, “Ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata, ‘Mari!’ Aku melihat: Sesungguhnya, ada se-ekor kuda hitam dan orang yang menungganginya meme-gang sebuah timbangan di tangannya. Aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata, ‘Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Te-tapi janganlah merusak minyak dan anggur itu.’” Hitam di sini menunjukkan kelaparan (Yer. 14:1-4), menyatakan raut muka orang yang kelaparan (Rat. 4:8-9; 5:9-10). Kuda hi-tam melambangkan meluasnya kelaparan yang membuat wajah manusia menjadi hitam. Timbangan di sini adalah neraca (alat pengukur berat) yang dipakai untuk menim-bang benda-benda berharga. Tetapi di sini dipakai untuk menimbang makanan (ayat 6), dengan demikian menunjuk-kan adanya kekurangan makanan (lihat Im. 26:26; Yeh. 4:16). Minyak dan anggur adalah untuk menyukakan hati manusia (Mzm. 104:15). Pada waktu kelaparan, minyak dan anggur pasti berkurang dan menjadi barang berharga. Sela-ma kelaparan, minyak dan anggur harus dijaga dan jangan dirusakkan. Kelaparan selalu mengikuti peperangan, karena peperangan membuat makanan menjadi jarang. Jika hari ini di dunia ada peperangan lagi, dunia pasti akan keku-rangan makanan.
D. Penunggang Kuda Abu-abu
Ayat 7 dan 8 mengatakan, “Ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata, ‘Mari!’ Aku melihat: Se-sungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning (abu-abu) dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.” Penunggang kuda keempat dengan jelas diperkenalkan sebagai Maut. Kata “hijau ku-ning” di sini juga bisa diterjemahkan sebagai “abu-abu”, “hijau pucat”; menyatakan warna wajah orang yang terserang ben-cana. Kuda abu-abu adalah lambang pembantaian oleh maut, menimbulkan penampilan yang abu-abu pucat. Alam maut adalah tempat di bawah tanah, tempat penyimpanan jiwa orang yang tidak beroleh selamat, sebelum orang-orang ma-ti dibangkitkan untuk dihakimi di depan takhta putih besar (20:11-15). Sesudah dihakimi, orang-orang yang tidak ber-oleh selamat akan dilemparkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya. Alam maut dapat dianggap seperti tempat tahanan sementara, dan lautan api seperti penjara yang kekal. Di sini alam maut mengikuti kematian, untuk mene-rima orang-orang yang dibunuh oleh maut. Pembunuhan oleh binatang-binatang buas, yang tercantum dalam ayat 8, adalah penghakiman Allah (2 Raj. 2:24; 17:25; Bil. 21:6).
Melalui keempat meterai ini kita nampak pemberitaan Injil, peperangan, kelaparan, dan maut. Selama dua puluh abad ini, keempat perkara tersebut telah menandai sejarah umat manusia. Setiap perkara yang terjadi selama zaman ini telah tercakup dalam keempat perkara tersebut. Segera setelah Kristus naik ke surga, pemberitaan Injil dimulai. Kuda putih mulai memasuki arena perlombaan dan berlari, dan penunggangnya adalah Injil kemuliaan Kristus. Pada 70 setelah Masehi, Titus, pangeran Romawi, dengan pasukan tentaranya membinasakan Kota Yerusalem. Sejak itu, abad demi abad, terus-menerus timbul perang. Ada perang, tentu ada kelaparan, dan kelaparan menyebabkan penyakit dan maut. Karena itu, dalam sejarah selama dua ribu tahun ini, tidak ada yang lainnya, kecuali pemberitaan Injil, peperangan, kelaparan, dan maut. Inilah cara mempelajari sejarah dunia.
Kitab Wahyu, yang ditulis pada akhir abad pertama, adalah nubuat dari segala perkara yang akan datang. Jika seperti yang dikatakan oleh beberapa orang bahwa penung-gang kuda putih adalah Kristus atau Antikristus, maka keempat meterai pastilah mengacu kepada zaman yang akan datang. Jika demikian halnya, maka tidak akan ada nu-buat tentang apa yang akan terjadi selama dua puluh abad ini. Hal itu menunjukkan bahwa nubuat dalam kitab ini tidaklah lengkap, karena nubuat ini tidak menunjukkan apa-apa dari sejarah selama dua ribu tahun ini, yakni dari abad pertama sampai pada penampakan Antikristus atau pada kembalinya Kristus. Dalam prinsipnya, seharusnya tidak ada jurang pemisah yang besar dalam nubuat kitab ini. Karena itu, berdasarkan prinsip ini, keempat meterai tentu merupakan sejarah dunia, dari naiknya Kristus ke surga sampai akhir zaman ini.
Kita tidak perlu terlalu memperhatikan doktrin, kita harus memperhatikan sejarah dan pengalaman. Sejarah adalah pengalaman. Kita harus menerapkan nubuat kepada sejarah. Jika kita berbuat demikian, kita akan segera me-mahami bahwa sejak kenaikan Kristus, terdapat sebuah pacuan empat kuda, yaitu pemberitaan Injil, peperangan, kelaparan, dan maut. Hari ini seluruh dunia bersiap-siap menghadapi perang. Bahkan para diplomat di PBB pun ber-siap-siap untuk hal itu. Sementara mereka berperang satu sama lain, kita memberitakan Injil, karena Injil adalah ku-da pelopor. Sebagai contoh, dalam dua abad yang lalu, bu-kan peperangan yang pertama datang ke China, melainkan Injil. Pemberitaan Injil kemudian diikuti oleh peperangan, kelaparan, dan maut. Hal itu telah menjadi bagian dari se-jarah dunia sepanjang dua puluh abad ini.
Kristus telah membuka keempat meterai itu, dan keempat ekor kuda yang berlomba pun telah diwahyukan. Janganlah mencoba memahami nubuat Alkitab hanya me-nurut otak Anda. Kita harus memperhatikan pengalaman. Untuk memahami nubuat Alkitab, kita harus memperhati-kan sejarah karena nubuat-nubuat itu adalah ramalan dari segala perkara yang akan datang. Apa yang terjadi selama dua puluh abad ini? Empat perkara — pemberitaan Injil, peperangan, kelaparan, dan maut.
Setelah inkarnasi-Nya, Kristus menggenapkan pene-busan melalui kematian di atas salib, masuk ke dalam ke-bangkitan, dan kemudian naik ke surga. Sejarah manusia tidak pernah memberi kita catatan yang demikian. Namun sesungguhnya inilah sejarah dunia. Ketika membaca seja-rah, saya menemukan bahwa sejarah dunia yang diajarkan oleh para guru sejarah memiliki satu kekurangan besar — di sana tidak ada inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Jika Anda mengambil keempat perkara tersebut dari sejarah dunia, dunia yang bagaimanakah yang kita miliki? Dalam catatan sejarah Allah, keempat perkara di atas sangatlah penting. Setelah kenaikan Kristus, seluruh lintasan sejarah dunia telah berubah. Kristus telah mem-buka ekonomi Allah, Kristus juga menuliskan sejarah umat manusia selama dua puluh abad ini.
Kita bisa melihat sejarah umat manusia yang tepat melalui firman murni. Catatan sejarah dalam Alkitab me-rampungkan ekonomi Allah. Setelah kenaikan Kristus dan sebelum Ia datang kembali, berlangsunglah sejarah dunia. Sejarah ini diringkas dalam suatu pacuan empat ekor kuda. Seperti yang telah kita lihat, penunggang kuda pertama adalah pemberitaan Injil. Ekonomi Allah bukanlah untuk yang lain, hanya untuk pemberitaan Injil bagi penggenapan tujuan kekal-Nya. Dari manakah sumber pemberitaan Injil itu? Dari inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaik-an Kristus. Keempat hal ini merupakan sumber Injil. Seja-rah selama dua puluh abad ini adalah untuk pemberitaan Injil. Inilah hikmat Allah. Pemberitaan Injil selalu memim-pin pacuan keempat kuda ini. Untuk apakah generasi kita? Untuk memberitakan Injil. Pemberitaan Injil adalah untuk merampungkan ekonomi Allah. Bagaimanakah gereja bisa terwujud? Hanya melalui pemberitaan Injil. Bagaimanakah Yerusalem Baru bisa terwujud? Hanya melalui pemberitaan Injil.
Tiga perkara negatif; peperangan, kelaparan, dan maut, membantu kemajuan pemberitaan injil. Orang yang berlari dalam perlombaan, pasti berlari lebih cepat daripada bila ia berlari sendirian. Peperangan, kelaparan, dan maut adalah perkara-perkara yang mengerikan, tetapi hal-hal itu mem-percepat pengabaran Injil. Di China, pada tahun-tahun awal, sulit sekali membuka pintu Injil. Tahukah Anda, apakah yang membuka pintu Injil di sana? Peperangan. Pintu te-lah terbuka, bukan hanya oleh perang saudara, tetapi juga oleh perang dunia yang diawali oleh serbuan bangsa Jepang ke China. Setelah perang antara China dengan Jepang ber-akhir, ribuan orang China beroleh selamat. Tambahan pula, melalui perang saudara di tahun 1940-an, banyak orang dari daratan China mengungsi ke Taiwan, dan ribuan di antara-nya telah diselamatkan. Jika mereka tetap tinggal di darat-an China, mungkin mereka tetap tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi pada tahun 1949 dan 1950, setelah ter-paksa bermigrasi ke Pulau Taiwan, ribuan orang berbondong-bondong masuk gereja untuk memperoleh keselamatan. Pa-da tahun-tahun itu, kami memberitakan Injil di taman-ta-man setiap Minggu sore. Setiap Minggu kira-kira tiga ribu orang mendengarkan Injil. Banyak orang beroleh selamat, dan sebagian di antara mereka akhirnya menjadi penatua dan diaken di gereja-gereja di Taiwan dan menjadi sekerja dalam pekerjaan Tuhan. Peperangan membuat mereka me-ngenal Injil. Karena itu, peperangan telah dan akan tetap menjadi pembantu yang baik bagi pemberitaan Injil.
Hikmat Allah menjadikan zaman ini, dari kenaikan Kristus hingga kedatangan-Nya kembali, sebagai zaman Injil diberitakan. Setiap perkara di bumi hari ini adalah un-tuk pemberitaan Injil. Pabrik, percetakan, pesawat udara, radio, televisi, dan bahkan senjata nuklir pun berfaedah un-tuk pemberitaan Injil. Zaman ini adalah zaman pemberita-an Injil. Sejarah dunia sejak Kristus naik ke surga adalah sejarah pemberitaan Injil. Apa yang kita lakukan hari ini? Kita memberitakan Injil. Injil yang kita beritakan bukan Injil yang sebagian saja, melainkan Injil yang lengkap, Injil yang utuh, Injil yang penuh. Tahukah Anda bahwa Injil yang lengkap ini meliputi hidup gereja, kerajaan, dan bah-kan Yerusalem Baru? Injil yang lengkap meliputi setiap hal dari Kitab Matius sampai Kitab Wahyu. Dalam hari-hari ini kita memberitakan Injil yang lengkap, Injil yang me-liputi gereja hari ini, kerajaan di masa yang akan datang, dan Yerusalem Baru di dalam kekekalan. Apa pun yang ter-jadi pada hari ini, termasuk tentangan terhadap kita, se-muanya merupakan bantuan bagi pemberitaan Injil. Inilah visi dari keempat meterai yang pertama. Kita tidak seha-rusnya menjadi seperti seekor katak di bawah tempurung yang memiliki visi hanya sebatas langit-langit tempurung itu saja. Kita harus memiliki visi yang menyeluruh untuk melihat makna keempat meterai yang pertama. Jadi bukan seperti katak di bawah tempurung, melainkan kita harus memiliki wawasan yang dari atas. Penunggang kuda perta-ma bukan Kristus, juga bukan Antikristus, melainkan pem-beritaan Injil kemuliaan Kristus. Inilah faktor yang penting pada zaman ini, dan ketiga kuda lainnya membantu kuda yang pertama untuk terus berpacu. Kita bukan di pihak ketiga penunggang kuda lainnya; kita di pihak penunggang kuda pertama. Kita memiliki busur tanpa anak panah, ka-rena kita memberitakan Injil damai sejahtera, Injil yang me-rebut kemenangan, penuh damai sejahtera. Haleluya! Pem-beritaan Injil yang mulia terus maju ke seluruh bumi. Puji Tuhan, kita ada di atas kuda yang pertama.