Berita Kedelapan Belas
SINGA-ANAK DOMBA YANG LAYAK
Dalam pasal 4 kita tampak suasana (pemandangan) di surga setelah Kristus naik ke surga. Takhta Allah adalah pusat dari suasana dalam pasal 4 ini, Allah duduk di atasnya, siap melaksanakan administrasi-Nya di alam semesta untuk merampungkan tujuan kekal-Nya. Dalam pasal 5 kita tampak suasana yang sama di surga setelah kenaikan Kristus. Seperti yang akan kita lihat dalam berita ini, pusat suasana di sini adalah Singa-Anak Domba yang layak.
I. RAHASIA ADMINISTRASI ALLAH
Wahyu 5:1 mengatakan, “Lalu aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.” Administrasi Allah merupakan satu misteri, satu rahasia. Sepanjang abad, banyak cerdik pandai dengan sungguh-sungguh mencoba mempelajari rahasia alam semesta, tetapi gagal, karena mereka tidak memiliki wahyu. Dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab, ekonomi Allah terbuka bagi kita.
Dalam 5:1, Dia yang duduk di atas takhta memegang gulungan kitab yang dimeterai dengan tujuh meterai. Ketujuh meterai yang memeteraikan gulungan kitab ini sesungguhnya adalah isi gulungan kitab ini, juga isi Kitab Wahyu. Kitab Wahyu membuka dan mewahyukan ketujuh meterai ini. Gulungan kitab ini pasti perjanjian yang baru, surat kuasa terbesar dalam alam semesta yang disahkan dengan darah Anak Domba, untuk menebus gereja, bani Israel, dunia, dan alam semesta. Kitab ini mencantumkan pemikiran Allah terhadap gereja, bani Israel, dunia, dan alam semesta. Ketika Kristus mati di atas salib, Ia merasakan maut bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk segala sesuatu (Ibr. 2:9). Di sini kita tampak rahasia administrasi Allah dalam alam semesta. Ketika Perjanjian Baru disahkan oleh kematian Kristus, hal itu merupakan satu rahasia bagi umat manusia. Perjanjian Baru adalah rahasia alam semesta dan isi dari Kitab Wahyu. Ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita harus memahami bahwa di dalam visi demi visi, kita tampak apa yang terkandung dalam Perjanjian Baru ini, dan apa yang termuat dalam gulungan kitab yang rahasia dan yang termeterai ini.
Sekarang, setelah Kristus naik ke surga, hal itu bukan rahasia lagi, karena meterai itu telah dibuka melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Sebelum kematian-Nya, semuanya masih merupakan satu rahasia, tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya. Tetapi melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, Ia telah memuaskan semua tuntutan Allah. Karena itu, seperti yang akan kita lihat, Ia telah membukakan rahasia itu, mewahyukan-nya kepada Yohanes, dan menyuruhnya menuliskannya. Jadi, kitab ini tak lain adalah gulungan kitab dalam tangan Allah yang telah dibuka. Ini tidak lagi merupakan rahasia, melainkan rahasia yang telah terbuka. Sekarang, ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita membaca isi gulungan kitab yang telah dibuka oleh Kristus yang naik ke surga. Ini adalah perkara besar, namun sedikit sekali orang Kristen yang memahaminya. Kebanyakan orang Kristen memiliki Kitab Wahyu, tetapi tidak banyak yang memiliki gulungan kitab yang terbuka, karena mereka tidak mengetahui bahwa Kitab Wahyu adalah gulungan kitab yang sudah terbuka.
II. TAK SEORANG PUN LAYAK
Dalam 5:2-4 kita tampak bahwa tidak seorang pun baik yang di surga, di bumi, atau di bawah bumi yang layak membuka gulungan kitab itu atau melihat isinya. Kali pertama Yohanes tampak gulungan kitab itu, gulungan itu masih termeterai. Jika kita berada di sana, seperti halnya Yohanes, kita pasti ingin melihat dan mengetahui apa isi gulungan kitab itu. Tetapi Yohanes “menangis dengan sangat sedih, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.” Jika dalam alam semesta benar-benar tidak ada seorang pun yang layak membuka gulungan kitab itu, kita tentu perlu menangis, sebab alam semesta akan menjadi sia-sia, bila tidak ada seorang pun yang layak menyingkapkan rahasianya. Jika tidak ada Kristus di alam semesta ini, alam semesta akan menangis. Tetapi karena ada Kristus, kita tidak perlu menangis.
III. SINGA-ANAK DOMBA YANG LAYAK
A. Singa Suku Yehuda
Sementara Yohanes menangis, salah satu di antara tua-tua itu berkata kepadanya, “Jangan menangis! Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Singa melambangkan Kristus, menggambarkan Dia adalah laskar perkasa yang menentang musuh, seperti yang dinubuatkan dalam Kejadian 49:8-9. Kita telah menunjukkan bahwa hampir segala sesuatu yang terdapat dalam Kitab Wahyu merupakan penggenapan dari apa yang tercantum dalam Perjanjian Lama. Kristus adalah Singa yang berperang, mengalahkan, dan menang. Ia telah menang perang. Karena itu, kemenangan-Nya membuat Dia layak membuka gulungan kitab itu dan ketujuh meterainya.
Meskipun malaikat memberi tahu Yohanes untuk melihat Singa suku Yehuda, namun ayat 6 mengatakan, “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.” Malaikat memperkenalkan Kristus sebagai Singa, tetapi Yohanes melihat-Nya sebagai Anak Domba. Sebagai Singa, Dia adalah Laskar yang melawan musuh; sebagai Anak Domba, Dia adalah Penebus kita. Dia berperang untuk menebus kita, kini Dia sudah mengalahkan musuh dan telah merampungkan penebusan untuk kita. Terhadap musuh, Dia adalah Singa; terhadap kita, Dia adalah Anak Domba. Walaupun para malaikat tidak memerlukan penebusan, namun mereka memerlukan seseorang untuk mengalahkan musuh Allah, karena salah satu di antara mereka telah menjadi musuh Allah. Jadi, para malaikat mengharapkan adanya seseorang yang mengalahkan pemberontak itu. Terhadap malaikat, Kristus adalah Singa yang mengalahkan pemberontak; tetapi terhadap kita, termasuk juga Rasul Yohanes, Kristus adalah Anak Domba, Sang Penebus. Kita memerlukan penebusan Kristus. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam alam semesta terdapat dua kesulitan besar, Iblis dan dosa. Sebagai Singa, Kristus telah mengalahkan dan memusnahkan Iblis; dan sebagai Anak Domba, Ia telah menghapus dosa kita. Ia telah memperoleh kemenangan dan juga menggenapkan penebusan. Sekarang Ia adalah Singa-Anak Domba.
Ayat 6 menyatakan bahwa Anak Domba berdiri di tengah-tengah takhta. Mengenai penebusan, setelah kenaikan-Nya, Kristus duduk di sebelah kanan Allah di surga (atas segala langit), (Ibr. 1:3; 10:12); sedangkan mengenai perampungan administrasi Allah, Ia tetap berdiri dalam kenaikan-Nya.
B. Akar Daud
Dalam ayat 5 Kristus diberi sebutan “akar Daud” (LAI: tunas Daud). Sebutan akar Daud (juga akar ayah Daud, Isai Yes. 11:1 Tl.) melambangkan bahwa Kristus adalah sumber Daud. Karena itu, meskipun Daud adalah nenek moyangnya, ia juga menyebut Dia “Tuan” (Mat. 22:42-45). Ia adalah akar Daud. Menurut konsepsi kita, Kristus dilahirkan dari Daud, karena itu Ia adalah keturunan Daud. Tetapi di sini dikatakan bahwa Kristus adalah akar Daud, berarti Daud timbul dari Kristus. Alkitab juga mengatakan bahwa Kristus adalah Tunas adil Daud (Yer. 23:5). Jadi, Ia adalah akar juga tunas dari Isai.
Kita telah melihat bahwa Kristus adalah keturunan juga akar dari Daud. Dalam pandangan Allah, Daud adalah persona yang unik yang berperang dan mendapatkan kekuasaan; dia berperang bagi Allah dan mendapatkan kekuasaan yang penuh. Kristus, Singa-Anak Domba itu, adalah akar dari orang ini, berarti Ia lebih besar daripada Daud. Itulah sebabnya dikatakan: Ia memegang kunci Daud (Why. 3:7). Apa adanya Daud, milik Daud, dan perbuatan Daud, semuanya berasal dari akar ini. Karena itu, sebagai akar Daud, Kristus lebih berkuasa, lebih menang daripada Daud, dan lebih memiliki kuasa ilahi Allah.
C. Anak Domba yang Tersembelih
Dalam ayat 6 Yohanes berkata bahwa ia melihat “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Menurut bahasa aslinya, kata “seperti telah disembelih” seharusnya adalah “baru saja disembelih”, menunjukkan bahwa Anak Domba ini baru saja disembelih. Ketika Yohanes tampak Kristus sebagai Anak Domba, Ia terlihat baru saja disembelih. Ini juga menunjukkan bahwa pemandangan di surga yang digambarkan dalam pasal ini terjadi segera setelah Kristus naik ke surga.
D. Telah Menang
Sebagai Singa dari suku Yehuda, Kristus sudah mengalahkan Iblis (Satan), musuh Allah. Dia telah membereskan masalah ini bagi Allah, yaitu menyingkirkan halangan untuk menggenapkan kehendak Allah. Sebab itu, Ia layak membuka gulungan kitab mengenai ekonomi Allah.
E. Layak Membuka Gulungan Kitab dan Ketujuh Meterainya
Untuk mencapai maksud Allah, diperlukan seseorang yang bisa melaksanakan dan membereskan semua masalah Allah. Masalah yang dihadapi Allah adalah adanya pemberontakan yang dilakukan oleh Iblis dan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sebagai Singa, Kristus telah mengalahkan Iblis yang memberontak, dan sebagai Anak Domba, Ia telah menghapus dosa manusia yang jatuh. Jadi, Ia telah membereskan kedua masalah Allah. Karena itu, Ia layak membuka gulungan kitab ekonomi Allah.
F. Bertanduk Tujuh
Dalam ayat 6 Yohanes berkata bahwa Anak Domba itu mempunyai tujuh tanduk. Tanduk mengibaratkan kekuatan untuk berperang (Ul. 33:17). Meskipun Kristus adalah Anak Domba yang menebus, tetapi Ia mempunyai tanduk untuk berperang. Ia adalah Penebus yang berperang, peperangan-Nya dalam pergerakan Allah adalah sempurna dan lengkap, seperti yang dilambangkan oleh angka tujuh tersebut.
G. Bermata Tujuh
Ayat 6 juga mengatakan bahwa Anak Domba ini “bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi”. Mata adalah untuk memeriksa dan menyelidiki. Sebagai Anak Domba yang menebus, Kristus mempunyai tujuh mata pemeriksa dan penyelidik, untuk melaksanakan penghakiman Allah terhadap alam semesta, guna menggenapkan kehendak kekal Allah, yang akan rampung dalam pembangunan Yerusalem Baru. Sebab itu, Zakharia 3:9 menubuatkan Dia adalah batu, batu utama (Za. 4:7), dengan tujuh mata untuk pembangunan Allah. Ketujuh mata ini adalah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi, menjelajahi seluruh bumi (Za. 4:10).
Dalam Injilnya, Yohanes berkata bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Tetapi dalam Wahyu 5 ini, Yohanes tampak Anak Domba itu bermata tujuh. Meskipun Yohanes tampak Anak Domba itu telah disembelih, namun ia tidak melihat adanya darah yang teralir. Sebaliknya, yang dilihatnya adalah tujuh mata yang adalah ketujuh Roh Allah. Ketujuh mata pasti bukan untuk penebusan. Anak Domba dalam Injil Yohanes telah menumpahkan darah-Nya dan dari rusuk-Nya mengalir air. Tetapi Anak Domba dalam Kitab Wahyu mempunyai tujuh mata yang bersinar dan menyoroti orang banyak. Menurut huruf-huruf hitam di atas putih, ini adalah untuk penghakiman, tetapi sesungguhnya adalah untuk pembangunan Allah. Anda mungkin merasa heran, berdasarkan apa saya berkata bahwa ketujuh mata yang memeriksa dan menerangi itu untuk pembangunan Allah. Alkitab dengan tegas memberi tahu kita bahwa ketujuh mata ini adalah ketujuh pelita (Za. 3:9; 4:2, 10). Tujuh pelita pertama-tama disebutkan dalam Keluaran 25. Di sana, pelita ini bukan untuk memeriksa juga bukan untuk menghakimi, melainkan untuk pembangunan Allah. Ketujuh pelita yang tercantum di sana adalah untuk pembangunan Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah di tengah-tengah manusia di bumi. Kelihatannya, ketujuh mata Anak Domba yang menyorot itu untuk memeriksa dan menghakimi. Namun, pemeriksaan dan penghakiman ini merupakan satu prosedur untuk mencapai tujuan akhir dari pembangunan. Terakhir, Kitab Wahyu bukan saja untuk penghakiman, tetapi juga untuk pembangunan. Kebanyakan para penafsir Kitab Wahyu mengatakan bahwa kitab ini merupakan kitab penghakiman. Tetapi penghakiman ini sebenarnya adalah satu prosedur yang akan mewujudkan Yerusalem Baru. Apa yang muncul setelah penghakiman itu dilaksanakan? Yerusalem Baru. Yerusalem Baru muncul dari penghakiman Allah yang dilaksanakan oleh ketujuh mata itu.
Seperti yang telah kita bahas, mata seseorang tidak bisa dipisahkan dari orang itu; karena mata seseorang merupakan ekspresinya. Manusia batiniah kita terutama diekspresikan melalui mata kita. Demikian juga, ketujuh Roh adalah ketujuh mata Kristus, dan dengan mata itu Kristus mengekspresikan diri-Nya. Jika seseorang berkata bahwa Roh itu terpisah dari Kristus, maka ia pasti kekurangan pengertian dan berpandangan sempit. Bagaimanakah seseorang bisa berkata bahwa matanya terpisah dari dirinya? Itu mustahil! Bukankah ketujuh Roh adalah Roh Kudus, dan bukankah ketujuh Roh adalah mata Kristus? Lalu bagaimana orang bisa mengatakan bahwa Roh Kudus, yang adalah ketujuh Roh, terpisah dari Kristus? Anak adalah perwujudan Bapa, dan Roh itu adalah ekspresi Anak. Ketujuh mata Kristus, ketujuh Roh Allah, adalah ekspresi Kristus di dalam penghakiman, di dalam pergerakan Allah bagi pembangunan Allah. Bahkan sekarang, mata Kristus yang menyala-nyala menyoroti kita untuk menerangi, me-meriksa, membersihkan, dan menghakimi kita; ini bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk membersihkan, mengubah, dan menyerupakan kita dengan gambar-Nya bagi pembangunan Allah. Penghakiman Allah dimotivasi oleh kasih. Karena Ia mengasihi gereja, Ia datang untuk me-meriksa, menerangi, menghakimi, membersihkan, dan memurnikan guna mengubah kita menjadi batu-batu permata. Terakhir, kitab ini berakhir dengan Yerusalem Baru yang dibangun dengan batu-batu permata. Dari manakah batu-batu itu? Mereka berasal dari ketujuh mata Kristus, yaitu dari Roh pemberi-hayat yang mengubah.
Dalam Kitab Wahyu, Roh itu bukan disebut Roh pemberi-hayat atau Roh pengubahan, melainkan ketujuh Roh, yaitu pelita yang membakar, memeriksa, dan menghakimi. Bagi gereja yang telah merosot, Roh yang memberikan hayat itu haruslah menjadi Roh tujuh kali yang membakar. Hari ini, Roh pemberi-hayat menjadi Roh yang menyoroti dan Roh pengubahan menjadi Roh yang memeriksa dan menghakimi. Pemeriksaan dan penghakiman-Nya bertujuan memurnikan dan mengubah. Tak seorang pun bisa diubah menjadi batu permata tanpa mengalami pemeriksaan-Nya. Betapa saya menengadah kepada Tuhan agar Ia memeriksa kita semua. Kita di sini bukan untuk menerima doktrin dan pengajaran; kita di sini di bawah terang firman murni dan di bawah pemeriksaan ketujuh Roh itu. Kita semua perlu secara keseluruhan diperiksa, dimurnikan, dan dibersihkan. Jika keadaan kita demikian, kita pasti akan sangat berbeda dengan yang dulu.
Dalam Keluaran 25, ketujuh pelita adalah untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi, dan dalam Zakharia 3 ketujuh mata adalah ketujuh mata dari batu itu. Dalam Kitab Wahyu ada Singa-Anak Domba, dan dalam Kitab Zakharia ada batu. Karena dalam Kitab Wahyu ketujuh mata terdapat pada Anak Domba dan dalam Kitab Zakharia mata itu terdapat pada batu, maka kita boleh mengatakan bahwa Anak Domba itu adalah “Anak Domba-batu”. “Anak Domba-batu” ini adalah untuk pembangunan Allah. Kristus itu, Anak Domba Allah, adalah batu untuk pembangunan dengan ketujuh mata. Hal ini membuktikan bahwa ketujuh mata Kristus adalah untuk pembangunan Allah. Dalam pemulihan Tuhan, setiap orang berada di bawah pemeriksaan, penghakiman, dan pemurnian Roh Kristus, dan hari ini Roh Kristus adalah Roh tujuh kali yang menyala-nyala. Meskipun Ia adalah Roh pemberi-hayat dan Roh pengubahan, namun terhadap gereja yang telah merosot Ia adalah ketujuh Roh yang membakar. Kita bukan hanya memberitakan Anak Domba dalam Yohanes 1, tetapi juga memberitakan Anak Domba dalam Wahyu 5. Kita memberitakan Anak Domba sebagai batu bangunan dengan ketujuh Roh. Juruselamat kita adalah yang demikian ini, Dia memiliki tujuh Roh untuk memperluas diri-Nya, mengekspresikan diri-Nya, dan menginfuskan diri-Nya ke dalam semua anggota Tubuh-Nya guna mengubah kita menjadi bahan-bahan yang berharga bagi pembangunan Allah.
IV. SEMBAH DAN PUJIAN DARI KEEMPAT
MAKHLUK HIDUP DAN KEDUA PULUH EMPAT
TUA-TUA KEPADA ANAK DOMBA
A. Memegang Kecapi dan Cawan Emas
Penuh dengan Dupa
Dalam ayat 8-10 kita tampak sembah dan pujian dari keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua kepada Anak Domba. Keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua memegang kecapi dan cawan emas penuh dengan dupa. Dalam ayat 8, kata “itulah” ditujukan kepada cawan itu, bukan dupanya. Cawan adalah doa orang-orang kudus yang dibawa oleh tua-tua malaikat kepada Allah (lihat 8:3-4), sedangkan dupa adalah Kristus yang ditambahkan kepada doa orang-orang kudus. Pada saat menyembah Allah, kedua puluh empat tua-tua malaikat memegang cawan emas yang penuh dengan dupa, ini menunjukkan bahwa mereka adalah imam-imam yang melayani Allah dengan membawa doa orang-orang kudus kepada Allah. Ini mewahyukan bahwa sebelum orang-orang Kristen menjadi imam-imam dalam Kerajaan Seribu Tahun, kedua puluh empat tua-tua itu adalah imam-imam hari ini. Kelak, kita akan menggantikan mereka. Ini juga dibuktikan oleh 4:10 yang mengatakan bahwa kedua puluh empat tua-tua “melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu”, menyatakan bahwa mereka akan berhenti dari jabatan mereka. Ketika kaum saleh tebusan telah disempurnakan dan dimuliakan menjadi imam dan raja yang tepat, maka imam-imam yang sementara, yaitu tua-tua malaikat, akan meletakkan jabatannya. Pada zaman Kerajaan Seribu Tahun, kaum saleh pemenang akan menjadi imam dan raja yang disempurnakan, diperlengkapi, dan tepat bagi Allah. Ketika hari itu tiba, imam-imam dan orang-orang yang memerintah untuk sementara waktu itu akan meletakkan jabatan mereka. Tetapi di sini, dalam pasal 5, mereka masih menjadi imam-imam yang mempersembahkan doa-doa kaum saleh dengan Kristus sebagai dupa kepada Allah.
B. Menyanyikan Nyanyian Baru,
Memuji Anak Domba
Dalam ayat 9 dan 10 kita tampak tua-tua menyanyikan satu lagu pujian yang baru bagi Anak Domba. Ayat 9 mengatakan, “Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya, ‘Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa.” Nyanyian di sini adalah nyanyian baru, sebab Anak Domba yang mereka puji baru saja disembelih. Nyanyian baru ini memuji Anak Domba yang layak. Seperti yang telah kita lihat, dalam alam semesta, selain Kristus, Singa yang menang dan Anak Domba yang menebus, tidak ada satu pun yang layak membuka rahasia ekonomi Allah. Sebagai Singa yang menang, Dia mengalahkan Iblis (Satan) bagi Allah; sebagai Anak Domba yang menebus, Dia menghapus dosa untuk kita. Hanya Dialah yang layak membuka dan merampungkan rahasia ekonomi Allah.
Berbicara tentang mereka yang telah dibeli bagi Allah dengan darah Anak Domba, kedua puluh empat tua-tua dalam ayat 10 menyanyikan, “Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” Kata “mereka” dalam ayat ini membuktikan bahwa tua-tua yang memuji ini bukanlah tua-tua gereja, melainkan tua-tua malaikat. Kerajaan adalah untuk jabatan raja, guna melaksanakan kekuasaan Allah; imam-imam adalah untuk tugas keimaman, guna merampungkan ministri ilahi.
V. PUJIAN ALAM SEMESTA KEPADA ALLAH DAN ANAK DOMBA
Dalam ayat 11-14 kita tampak pujian alam semesta kepada Allah dan Anak Domba oleh para malaikat di bawah pimpinan kedua puluh empat tua-tua (ayat 11-12) dan oleh semua ciptaan di bawah pimpinan keempat makhluk hidup (ayat 13-14). Para malaikat yang diwakili oleh kedua puluh empat tua-tua, mengikuti tua-tua itu mempersembahkan puji-pujian malaikat kepada Anak Domba. Semua makhluk ciptaan yang diwakili oleh keempat makhluk hidup, mengikuti mereka mempersembahkan puji-pujian alam semesta dari seluruh makhluk ciptaan selain malaikat kepada Anak Domba.
Ekonomi Allah dengan penebusan-Nya adalah untuk merampungkan tempat kediaman kekal-Nya, Yerusalem Baru. Kristus yang diurapi Allah adalah Singa, Anak Domba, dan batu. Ia telah memusnahkan musuh, menebus kita, dan telah menjadi batu itu. Dalam Matius 21:42 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi yang menentang-Nya, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Di sini Tuhan menunjukkan bahwa penebusan-Nya adalah agar Dia bisa menjadi batu penjuru. Kita menemukan pemikiran yang sama dalam Kisah Para Rasul 4:11-12. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Nama ini adalah nama Kristus, batu penjuru itu, dan ini diwahyukan dalam ayat sebelumnya yang mengatakan, “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”. Jadi, nama batu penjuru adalah nama yang olehnya kita diselamatkan. Untuk apa kita diselamatkan? Untuk ke surga? Tidak, kita diselamatkan untuk menjadi sebuah batu bagi bangunan Allah. Konsepsi dalam Kitab Wahyu ialah Kristus menjadi Singa untuk mengalahkan dan memusnahkan musuh, menjadi Anak Domba untuk menebus kita, dan menjadi batu untuk membangun tempat kediaman kekal Allah. Dengan cara apa Kristus membangun tempat kediaman Allah? Melalui ketujuh Roh sebagai ketujuh mata yang membakar, menerangi, memeriksa, menghakimi, dan menginfus. Dengan ketujuh Roh Ia mengubah kita menjadi batu-batu permata untuk membangun Yerusalem Baru.