SINGA-ANAK DOMBA YANG LAYAK
Dalam pasal 4 kita nampak suasana (pemandangan) di surga setelah Kristus naik ke surga. Takhta Allah adalah pusat dari suasana dalam pasal 4 ini, Allah duduk di atas-nya, siap melaksanakan administrasi-Nya di alam semesta untuk merampungkan tujuan kekal-Nya. Dalam pasal 5 ki-ta nampak suasana yang sama di surga setelah kenaikan Kristus. Seperti yang akan kita lihat dalam berita ini, pu-sat suasana di sini adalah Singa-Anak Domba yang layak.
I. RAHASIA ADMINISTRASI ALLAH
Wahyu 5:1 mengatakan, “Lalu aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.” Administrasi Allah meru-pakan satu misteri, satu rahasia. Sepanjang abad, banyak cerdik pandai dengan sungguh-sungguh mencoba mempela-jari rahasia alam semesta, tetapi gagal, karena mereka tidak memiliki wahyu. Dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab, ekonomi Allah terbuka bagi kita.
Dalam 5:1, Dia yang duduk di atas takhta memegang gulungan kitab yang dimeterai dengan tujuh meterai. Ke-tujuh meterai yang memeteraikan gulungan kitab ini sesungguhnya adalah isi gulungan kitab ini, juga isi Kitab Wahyu. Kitab Wahyu membuka dan mewahyukan ketujuh meterai ini. Gulungan kitab ini pasti perjanjian yang baru, surat kuasa terbesar dalam alam semesta yang disahkan dengan darah Anak Domba, untuk menebus gereja, bani Is-rael, dunia, dan alam semesta. Kitab ini mencantumkan pe-mikiran Allah terhadap gereja, bani Israel, dunia, dan alam semesta. Ketika Kristus mati di atas salib, Ia merasakan maut bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk se-gala sesuatu (Ibr. 2:9). Di sini kita nampak rahasia adminis-trasi Allah dalam alam semesta. Ketika Perjanjian Baru disahkan oleh kematian Kristus, hal itu merupakan satu rahasia bagi umat manusia. Perjanjian Baru adalah raha-sia alam semesta dan isi dari Kitab Wahyu. Ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita harus memahami bahwa di dalam visi demi visi, kita nampak apa yang terkandung da-lam Perjanjian Baru ini, dan apa yang termuat dalam gu-lungan kitab yang rahasia dan yang termeterai ini.
Sekarang, setelah Kristus naik ke surga, hal itu bukan rahasia lagi, karena meterai itu telah dibuka melalui kema-tian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Sebelum kemati-an-Nya, semuanya masih merupakan satu rahasia, tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya. Tetapi melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, Ia telah memuas-kan semua tuntutan Allah. Karena itu, seperti yang akan kita lihat, Ia telah membukakan rahasia itu, mewahyukan-nya kepada Yohanes, dan menyuruhnya menuliskannya. Jadi, kitab ini tak lain adalah gulungan kitab dalam tangan Allah yang telah dibuka. Ini tidak lagi merupakan rahasia, me-lainkan rahasia yang telah terbuka. Sekarang, ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita membaca isi gulungan kitab yang telah dibuka oleh Kristus yang naik ke surga. Ini ada-lah perkara besar, namun sedikit sekali orang Kristen yang memahaminya. Kebanyakan orang Kristen memiliki Kitab Wahyu, tetapi tidak banyak yang memiliki gulungan kitab yang terbuka, karena mereka tidak mengetahui bahwa Ki-tab Wahyu adalah gulungan kitab yang sudah terbuka.
II. TAK SEORANG PUN LAYAK
Dalam 5:2-4 kita nampak bahwa tidak seorang pun baik yang di surga, di bumi, atau di bawah bumi yang layak membuka gulungan kitab itu atau melihat isinya. Kali per-tama Yohanes nampak gulungan kitab itu, gulungan itu masih termeterai. Jika kita berada di sana, seperti halnya Yohanes, kita pasti ingin melihat dan mengetahui apa isi gulungan kitab itu. Tetapi Yohanes “menangis dengan sangat sedih, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebe-lah dalamnya.” Jika dalam alam semesta benar-benar tidak ada seorang pun yang layak membuka gulungan kitab itu, kita tentu perlu menangis, sebab alam semesta akan men-jadi sia-sia, bila tidak ada seorang pun yang layak me-nyingkapkan rahasianya. Jika tidak ada Kristus di alam semesta ini, alam semesta akan menangis. Tetapi karena ada Kristus, kita tidak perlu menangis.
III. SINGA-ANAK DOMBA YANG LAYAK
A. Singa Suku Yehuda
Sementara Yohanes menangis, salah satu di antara tua-tua itu berkata kepadanya, “Jangan menangis! Lihat-lah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah me-nang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Singa melambangkan Kristus, menggambarkan Dia adalah laskar perkasa yang menentang musuh, seperti yang dinubuatkan dalam Kejadian 49:8-9. Kita telah menunjukkan bahwa hampir segala se-suatu yang terdapat dalam Kitab Wahyu merupakan peng-genapan dari apa yang tercantum dalam Perjanjian Lama. Kristus adalah Singa yang berperang, mengalahkan, dan menang. Ia telah menang perang. Karena itu, kemenangan-Nya membuat Dia layak membuka gulungan kitab itu dan ketujuh meterainya.
Meskipun malaikat memberi tahu Yohanes untuk me-lihat Singa suku Yehuda, namun ayat 6 mengatakan, “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.” Malaikat memperkenalkan Kristus sebagai Singa, tetapi Yohanes melihat-Nya sebagai Anak Domba. Sebagai Singa, Dia adalah Laskar yang mela-wan musuh; sebagai Anak Domba, Dia adalah Penebus kita. Dia berperang untuk menebus kita, kini Dia sudah menga-lahkan musuh dan telah merampungkan penebusan untuk kita. Terhadap musuh, Dia adalah Singa; terhadap kita, Dia adalah Anak Domba. Walaupun para malaikat tidak memer-lukan penebusan, namun mereka memerlukan seseorang untuk mengalahkan musuh Allah, karena salah satu di an-tara mereka telah menjadi musuh Allah. Jadi, para malai-kat mengharapkan adanya seseorang yang mengalahkan pemberontak itu. Terhadap malaikat, Kristus adalah Singa yang mengalahkan pemberontak; tetapi terhadap kita, ter-masuk juga Rasul Yohanes, Kristus adalah Anak Domba, Sang Penebus. Kita memerlukan penebusan Kristus. Seper-ti yang telah kita tunjukkan, dalam alam semesta terdapat dua kesulitan besar, Iblis dan dosa. Sebagai Singa, Kristus telah mengalahkan dan memusnahkan Iblis; dan sebagai Anak Domba, Ia telah menghapus dosa kita. Ia telah mem-peroleh kemenangan dan juga menggenapkan penebusan. Sekarang Ia adalah Singa-Anak Domba.
Ayat 6 menyatakan bahwa Anak Domba berdiri di tengah-tengah takhta. Mengenai penebusan, setelah kenaik-an-Nya, Kristus duduk di sebelah kanan Allah di surga (atas segala langit), (Ibr. 1:3; 10:12); sedangkan mengenai peram-pungan administrasi Allah, Ia tetap berdiri dalam kenaik-an-Nya.
B. Akar Daud
Dalam ayat 5 Kristus diberi sebutan “akar Daud” (LAI: tunas Daud). Sebutan akar Daud (juga akar ayah Daud, Isai Yes. 11:1 Tl.) melambangkan bahwa Kristus adalah sumber Daud. Karena itu, meskipun Daud adalah nenek moyang-nya, ia juga menyebut Dia “Tuan” (Mat. 22:42-45). Ia ada-lah akar Daud. Menurut konsepsi kita, Kristus dilahirkan dari Daud, karena itu Ia adalah keturunan Daud. Tetapi di sini dikatakan bahwa Kristus adalah akar Daud, berarti Daud timbul dari Kristus. Alkitab juga mengatakan bahwa Kristus adalah Tunas adil Daud (Yer. 23:5). Jadi, Ia adalah akar juga tunas dari Isai.
Kita telah melihat bahwa Kristus adalah keturunan juga akar dari Daud. Dalam pandangan Allah, Daud adalah persona yang unik yang berperang dan mendapatkan ke-kuasaan; dia berperang bagi Allah dan mendapatkan kekua-saan yang penuh. Kristus, Singa-Anak Domba itu, adalah akar dari orang ini, berarti Ia lebih besar daripada Daud. Itulah sebabnya dikatakan: Ia memegang kunci Daud (Why. 3:7). Apa adanya Daud, milik Daud, dan perbuatan Daud, semuanya berasal dari akar ini. Karena itu, sebagai akar Daud, Kristus lebih berkuasa, lebih menang daripada Daud, dan lebih memiliki kuasa ilahi Allah.
C. Anak Domba yang Tersembelih
Dalam ayat 6 Yohanes berkata bahwa ia melihat “se-ekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Menurut baha-sa aslinya, kata “seperti telah disembelih” seharusnya ada-lah “baru saja disembelih”, menunjukkan bahwa Anak Domba ini baru saja disembelih. Ketika Yohanes nampak Kristus sebagai Anak Domba, Ia terlihat baru saja disembelih. Ini juga menunjukkan bahwa pemandangan di surga yang di-gambarkan dalam pasal ini terjadi segera setelah Kristus naik ke surga.
D. Telah Menang
Sebagai Singa dari suku Yehuda, Kristus sudah mengalahkan Iblis (Satan), musuh Allah. Dia telah membereskan masalah ini bagi Allah, yaitu menyingkirkan halangan untuk menggenapkan kehendak Allah. Sebab itu, Ia layak membuka gulungan kitab mengenai ekonomi Allah.
E. Layak Membuka Gulungan Kitab dan Ketujuh Meterainya
Untuk mencapai maksud Allah, diperlukan seseorang yang bisa melaksanakan dan membereskan semua masalah Allah. Masalah yang dihadapi Allah adalah adanya pembe-rontakan yang dilakukan oleh Iblis dan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sebagai Singa, Kristus telah mengalahkan Iblis yang memberontak, dan sebagai Anak Domba, Ia telah menghapus dosa manusia yang jatuh. Jadi, Ia telah membe-reskan kedua masalah Allah. Karena itu, Ia layak membu-ka gulungan kitab ekonomi Allah.
F. Bertanduk Tujuh
Dalam ayat 6 Yohanes berkata bahwa Anak Domba itu mempunyai tujuh tanduk. Tanduk mengibaratkan kekuat-an untuk berperang (Ul. 33:17). Meskipun Kristus adalah Anak Domba yang menebus, tetapi Ia mempunyai tanduk untuk berperang. Ia adalah Penebus yang berperang, pepe-rangan-Nya dalam pergerakan Allah adalah sempurna dan lengkap, seperti yang dilambangkan oleh angka tujuh tersebut.
G. Bermata Tujuh
Ayat 6 juga mengatakan bahwa Anak Domba ini “ber-mata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke selu-ruh bumi”. Mata adalah untuk memeriksa dan menyelidiki. Sebagai Anak Domba yang menebus, Kristus mempunyai tujuh mata pemeriksa dan penyelidik, untuk melaksanakan penghakiman Allah terhadap alam semesta, guna menggenap-kan kehendak kekal Allah, yang akan rampung dalam pem-bangunan Yerusalem Baru. Sebab itu, Zakharia 3:9 menu-buatkan Dia adalah batu, batu utama (Za. 4:7), dengan tujuh mata untuk pembangunan Allah. Ketujuh mata ini adalah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi, menjela-jahi seluruh bumi (Za. 4:10).
Dalam Injilnya, Yohanes berkata bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Tetapi dalam Wahyu 5 ini, Yohanes nampak Anak Domba itu bermata tujuh. Meskipun Yohanes nampak Anak Dom-ba itu telah disembelih, namun ia tidak melihat adanya da-rah yang teralir. Sebaliknya, yang dilihatnya adalah tujuh mata yang adalah ketujuh Roh Allah. Ketujuh mata pasti bukan untuk penebusan. Anak Domba dalam Injil Yohanes telah menumpahkan darah-Nya dan dari rusuk-Nya meng-alir air. Tetapi Anak Domba dalam Kitab Wahyu mempu-nyai tujuh mata yang bersinar dan menyoroti orang ba-nyak. Menurut huruf-huruf hitam di atas putih, ini adalah untuk penghakiman, tetapi sesungguhnya adalah untuk pembangunan Allah. Anda mungkin merasa heran, berda-sarkan apa saya berkata bahwa ketujuh mata yang meme-riksa dan menerangi itu untuk pembangunan Allah. Alkitab dengan tegas memberi tahu kita bahwa ketujuh mata ini adalah ketujuh pelita (Za. 3:9; 4:2, 10). Tujuh pelita perta-ma-tama disebutkan dalam Keluaran 25. Di sana, pelita ini bukan untuk memeriksa juga bukan untuk menghakimi, melainkan untuk pembangunan Allah. Ketujuh pelita yang tercantum di sana adalah untuk pembangunan Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah di tengah-tengah manu-sia di bumi. Kelihatannya, ketujuh mata Anak Domba yang menyorot itu untuk memeriksa dan menghakimi. Namun, pemeriksaan dan penghakiman ini merupakan satu prose-dur untuk mencapai tujuan akhir dari pembangunan. Ter-akhir, Kitab Wahyu bukan saja untuk penghakiman, tetapi juga untuk pembangunan. Kebanyakan para penafsir Kitab Wahyu mengatakan bahwa kitab ini merupakan kitab peng-hakiman. Tetapi penghakiman ini sebenarnya adalah satu prosedur yang akan mewujudkan Yerusalem Baru. Apa yang muncul setelah penghakiman itu dilaksanakan? Yerusalem Baru. Yerusalem Baru muncul dari penghakiman Allah yang dilaksanakan oleh ketujuh mata itu.
Seperti yang telah kita bahas, mata seseorang tidak bisa dipisahkan dari orang itu; karena mata seseorang me-rupakan ekspresinya. Manusia batiniah kita terutama di-ekspresikan melalui mata kita. Demikian juga, ketujuh Roh adalah ketujuh mata Kristus, dan dengan mata itu Kristus mengekspresikan diri-Nya. Jika seseorang berkata bahwa Roh itu terpisah dari Kristus, maka ia pasti kekurangan pengertian dan berpandangan sempit. Bagaimanakah sese-orang bisa berkata bahwa matanya terpisah dari dirinya? Itu mustahil! Bukankah ketujuh Roh adalah Roh Kudus, dan bukankah ketujuh Roh adalah mata Kristus? Lalu ba-gaimana orang bisa mengatakan bahwa Roh Kudus, yang adalah ketujuh Roh, terpisah dari Kristus? Anak adalah perwujudan Bapa, dan Roh itu adalah ekspresi Anak. Ketu-juh mata Kristus, ketujuh Roh Allah, adalah ekspresi Kristus di dalam penghakiman, di dalam pergerakan Allah bagi pembangunan Allah. Bahkan sekarang, mata Kristus yang menyala-nyala menyoroti kita untuk menerangi, me-meriksa, membersihkan, dan menghakimi kita; ini bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk membersihkan, mengubah, dan menyerupakan kita dengan gambar-Nya ba-gi pembangunan Allah. Penghakiman Allah dimotivasi oleh kasih. Karena Ia mengasihi gereja, Ia datang untuk me-meriksa, menerangi, menghakimi, membersihkan, dan me-murnikan guna mengubah kita menjadi batu-batu permata. Terakhir, kitab ini berakhir dengan Yerusalem Baru yang dibangun dengan batu-batu permata. Dari manakah batu-batu itu? Mereka berasal dari ketujuh mata Kristus, yaitu dari Roh pemberi-hayat yang mengubah.
Dalam Kitab Wahyu, Roh itu bukan disebut Roh pem-beri-hayat atau Roh pengubahan, melainkan ketujuh Roh, yaitu pelita yang membakar, memeriksa, dan menghakimi. Bagi gereja yang telah merosot, Roh yang memberikan ha-yat itu haruslah menjadi Roh tujuh kali yang membakar. Hari ini, Roh pemberi-hayat menjadi Roh yang menyoroti dan Roh pengubahan menjadi Roh yang memeriksa dan menghakimi. Pemeriksaan dan penghakiman-Nya bertuju-an memurnikan dan mengubah. Tak seorang pun bisa diubah menjadi batu permata tanpa mengalami pemeriksaan-Nya. Betapa saya menengadah kepada Tuhan agar Ia memeriksa kita semua. Kita di sini bukan untuk menerima doktrin dan pengajaran; kita di sini di bawah terang firman murni dan di bawah pemeriksaan ketujuh Roh itu. Kita semua perlu secara keseluruhan diperiksa, dimurnikan, dan diber-sihkan. Jika keadaan kita demikian, kita pasti akan sangat berbeda dengan yang dulu.
Dalam Keluaran 25, ketujuh pelita adalah untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi, dan dalam Zakharia 3 ketujuh mata adalah ketujuh mata dari batu itu. Dalam Kitab Wahyu ada Singa-Anak Domba, dan da-lam Kitab Zakharia ada batu. Karena dalam Kitab Wahyu ketujuh mata terdapat pada Anak Domba dan dalam Kitab Zakharia mata itu terdapat pada batu, maka kita boleh me-ngatakan bahwa Anak Domba itu adalah “Anak Domba-batu”. “Anak Domba-batu” ini adalah untuk pembangunan Allah. Kristus itu, Anak Domba Allah, adalah batu untuk pembangunan dengan ketujuh mata. Hal ini membuktikan bahwa ketujuh mata Kristus adalah untuk pembangunan Allah. Dalam pemulihan Tuhan, setiap orang berada di ba-wah pemeriksaan, penghakiman, dan pemurnian Roh Kristus, dan hari ini Roh Kristus adalah Roh tujuh kali yang me-nyala-nyala. Meskipun Ia adalah Roh pemberi-hayat dan Roh pengubahan, namun terhadap gereja yang telah mero-sot Ia adalah ketujuh Roh yang membakar. Kita bukan hanya memberitakan Anak Domba dalam Yohanes 1, tetapi juga memberitakan Anak Domba dalam Wahyu 5. Kita membe-ritakan Anak Domba sebagai batu bangunan dengan ketu-juh Roh. Juruselamat kita adalah yang demikian ini, Dia memiliki tujuh Roh untuk memperluas diri-Nya, mengeks-presikan diri-Nya, dan menginfuskan diri-Nya ke dalam se-mua anggota Tubuh-Nya guna mengubah kita menjadi ba-han-bahan yang berharga bagi pembangunan Allah.
IV. SEMBAH DAN PUJIAN DARI KEEMPAT
MAKHLUK HIDUP DAN KEDUA PULUH EMPAT
TUA-TUA KEPADA ANAK DOMBA
A. Memegang Kecapi dan Cawan Emas
Penuh dengan Dupa
Dalam ayat 8-10 kita nampak sembah dan pujian dari keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua kepada Anak Domba. Keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua memegang kecapi dan cawan emas pe-nuh dengan dupa. Dalam ayat 8, kata “itulah” ditujukan kepada cawan itu, bukan dupanya. Cawan adalah doa orang-orang kudus yang dibawa oleh tua-tua malaikat kepada Allah (lihat 8:3-4), sedangkan dupa adalah Kristus yang ditam-bahkan kepada doa orang-orang kudus. Pada saat menyem-bah Allah, kedua puluh empat tua-tua malaikat memegang cawan emas yang penuh dengan dupa, ini menunjukkan bahwa mereka adalah imam-imam yang melayani Allah de-ngan membawa doa orang-orang kudus kepada Allah. Ini mewahyukan bahwa sebelum orang-orang Kristen menjadi imam-imam dalam Kerajaan Seribu Tahun, kedua puluh empat tua-tua itu adalah imam-imam hari ini. Kelak, kita akan menggantikan mereka. Ini juga dibuktikan oleh 4:10 yang mengatakan bahwa kedua puluh empat tua-tua “me-lemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu”, menyata-kan bahwa mereka akan berhenti dari jabatan mereka. Ketika kaum saleh tebusan telah disempurnakan dan dimuliakan menjadi imam dan raja yang tepat, maka imam-imam yang sementara, yaitu tua-tua malaikat, akan meletakkan jabat-annya. Pada zaman Kerajaan Seribu Tahun, kaum saleh pemenang akan menjadi imam dan raja yang disempurna-kan, diperlengkapi, dan tepat bagi Allah. Ketika hari itu tiba, imam-imam dan orang-orang yang memerintah untuk sementara waktu itu akan meletakkan jabatan mereka. Te-tapi di sini, dalam pasal 5, mereka masih menjadi imam-imam yang mempersembahkan doa-doa kaum saleh dengan Kristus sebagai dupa kepada Allah.
B. Menyanyikan Nyanyian Baru,
Memuji Anak Domba
Dalam ayat 9 dan 10 kita nampak tua-tua menyanyi-kan satu lagu pujian yang baru bagi Anak Domba. Ayat 9 mengatakan, “Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya, ‘Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disem-belih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa.” Nyanyian di sini adalah nyanyian baru, sebab Anak Domba yang mereka puji baru saja disembelih. Nyanyian baru ini memuji Anak Domba yang layak. Seperti yang te-lah kita lihat, dalam alam semesta, selain Kristus, Singa yang menang dan Anak Domba yang menebus, tidak ada satu pun yang layak membuka rahasia ekonomi Allah. Se-bagai Singa yang menang, Dia mengalahkan Iblis (Satan) bagi Allah; sebagai Anak Domba yang menebus, Dia meng-hapus dosa untuk kita. Hanya Dialah yang layak membu-ka dan merampungkan rahasia ekonomi Allah.
Berbicara tentang mereka yang telah dibeli bagi Allah dengan darah Anak Domba, kedua puluh empat tua-tua da-lam ayat 10 menyanyikan, “Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” Kata “mereka” dalam ayat ini membuktikan bahwa tua-tua yang memuji ini bukanlah tua-tua gereja, melainkan tua-tua malaikat. Kerajaan adalah untuk jabatan raja, guna melaksanakan kekuasaan Allah; imam-imam adalah untuk tugas keimaman, guna merampungkan ministri ilahi.
V. PUJIAN ALAM SEMESTA KEPADA ALLAH DAN ANAK DOMBA
Dalam ayat 11-14 kita nampak pujian alam semesta kepada Allah dan Anak Domba oleh para malaikat di bawah pimpinan kedua puluh empat tua-tua (ayat 11-12) dan oleh semua ciptaan di bawah pimpinan keempat makhluk hidup (ayat 13-14). Para malaikat yang diwakili oleh kedua puluh empat tua-tua, mengikuti tua-tua itu mempersembahkan puji-pujian malaikat kepada Anak Domba. Semua makhluk ciptaan yang diwakili oleh keempat makhluk hidup, meng-ikuti mereka mempersembahkan puji-pujian alam semesta dari seluruh makhluk ciptaan selain malaikat kepada Anak Domba.
Ekonomi Allah dengan penebusan-Nya adalah untuk merampungkan tempat kediaman kekal-Nya, Yerusalem Baru. Kristus yang diurapi Allah adalah Singa, Anak Dom-ba, dan batu. Ia telah memusnahkan musuh, menebus kita, dan telah menjadi batu itu. Dalam Matius 21:42 Tuhan ber-kata kepada orang-orang Farisi yang menentang-Nya, “Be-lum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Di sini Tuhan menunjukkan bahwa pe-nebusan-Nya adalah agar Dia bisa menjadi batu penjuru. Kita menemukan pemikiran yang sama dalam Kisah Para Rasul 4:11-12. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Di ba-wah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Nama ini adalah nama Kristus, batu penjuru itu, dan ini diwahyukan dalam ayat sebelumnya yang mengatakan, “ba-tu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah men-jadi batu penjuru”. Jadi, nama batu penjuru adalah nama yang olehnya kita diselamatkan. Untuk apa kita diselamat-kan? Untuk ke surga? Tidak, kita diselamatkan untuk men-jadi sebuah batu bagi bangunan Allah. Konsepsi dalam Kitab Wahyu ialah Kristus menjadi Singa untuk mengalahkan dan memusnahkan musuh, menjadi Anak Domba untuk menebus kita, dan menjadi batu untuk membangun tempat kediaman kekal Allah. Dengan cara apa Kristus membangun tempat kediaman Allah? Melalui ketujuh Roh sebagai ketujuh mata yang membakar, menerangi, memeriksa, menghakimi, dan menginfus. Dengan ketujuh Roh Ia mengubah kita men-jadi batu-batu permata untuk membangun Yerusalem Baru.