← Daftar isi Wahyu (1) · bab 1/17

SUASANA DI SURGA SETELAH KRISTUS NAIK KE SURGA

Semua orang Kristen tahu bahwa Kristus telah naik ke surga dan hari ini Ia berada di surga. Namun tidak banyak yang memahami suasana (pemandangan) di surga setelah Kristus naik ke surga. Suasana ini sangatlah istimewa, kita perlu meninjaunya dengan sangat jelas.

Wahyu 4:1 mengatakan, “Setelah itu aku melihat: Se-sungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangka-kala, ‘Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepada-mu apa yang harus terjadi sesudah ini.” Rencana Allah ter-sembunyi di surga. Ketika Allah menemukan seseorang di bumi yang sesuai dengan maksud hati-Nya, surga terbuka terhadap orang itu. Surga pernah terbuka kepada Yakub (Kej. 28:12-17), Yehezkiel (Yeh. 1:1), Yesus (Mat. 3:16), Stefanus (Kis. 7:56), dan Petrus (Kis. 10:11). Di sini dan dalam 19:11, surga juga terbuka kepada Yohanes, penulis kitab ini. Da-lam kekekalan, surga pun akan terbuka kepada semua orang beriman di dalam Tuhan (Yoh. 1:51).

I. TAKHTA DI SURGA

Ayat 2 mengatakan, “Segera aku berada di dalam roh; dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk seorang” (Tl.). Di surga, pertama-tama ada sebuah takhta, dan Kitab Wahyu berfokus padanya. Mulai pasal 4, kitab ini mengungkapkan administrasi universal Allah. Takhta Allah dalam Kitab Wahyu adalah pusat administrasi Allah. Takhta dalam Surat-surat Kiriman adalah takhta anugerah, yang da-rinya kita menerima rahmat, dan menemukan anugerah (Ibr. 4:16). Takhta dalam kitab ini adalah takhta penghakim-an. Dari takhta ini dunia menerima penghakiman. Inilah takhta Allah di surga. Alam semesta, terutama bumi, ber-ada di bawah takhta ini. Apa saja yang diperbuat oleh Iblis di angkasa dan apa saja yang diperbuat manusia di bumi, semuanya berada di bawah takhta Allah yang di surga. Hari ini, manusia mungkin melakukan apa saja yang disukainya, tetapi takhta Allah yang di surga tetap berkuasa atas se-luruh manusia dan atas segala sesuatu. Tidak seorang pun dapat melakukan sesuatu, dan tidak mungkin sesuatu ter-jadi di luar pengaturan takhta Allah. Nampaknya, takhta ini tidak terlihat dan tidak diketahui oleh manusia, tetapi sesungguhnya takhta ini mengatur setiap orang dan segala sesuatu dari balik layar. Sesuai dengan waktu Allah dan untuk menggenapkan tujuan Allah, takhta ini selalu meng-hakimi umat manusia dan segala perkara yang terjadi di bumi. Dalam Kitab Wahyu, kesimpulan terakhir berasal dari penggenapan pelaksanaan penghakiman Allah. Pengha-kiman ini berasal dari takhta dan akan membereskan ke-kacauan yang disebabkan oleh pemberontakan Iblis dan ke-jatuhan manusia, baik di surga maupun di bumi.

A. Suatu Pelangi Melingkungi Takhta Itu Gilang-gemilang bagaikan Zamrud Rupanya

Dalam ayat 3 kita nampak, “suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud”. Pelangi ada-lah tanda perjanjian Allah dengan manusia dan semua makhluk hidup bahwa Dia tidak akan memakai air bah lagi untuk memusnahkan mereka (Kej. 9:8-17). Dalam kitab ini, Allah hendak menghakimi bumi beserta semua penghuni-nya. Pelangi yang mengelilingi takhta-Nya, menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang mengadakan perjanjian, Allah yang setia, yang akan berpegang pada perjanjian-Nya pada waktu melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi. Dia ti-dak akan memakai air bah untuk menghakimi manusia, juga tidak akan memusnahkan seluruh umat manusia, me-lainkan akan menyisakan sebagian orang, menjadi bangsa-bangsa di bumi yang baru untuk kemuliaan-Nya (21:24, 26). Pelangi ini menunjukkan Allah setia dalam administrasi-Nya terhadap umat manusia. Dalam pasal ini, Allah hen-dak menghakimi umat manusia, tetapi dalam melaksana-kan penghakiman-Nya, Ia akan mengingat perjanjian-Nya dengan Nuh. Ia adalah Allah yang menghakimi, Ia pun Allah yang memegang janji-Nya.

Pelangi yang mengelilingi takhta Allah coraknya seperti permata zamrud. Permata zamrud berwarna hijau rumput, melambangkan hayat di bumi. Hal ini menyatakan ketika Allah melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi, Dia akan mengingat perjanjian-Nya dan akan menyisakan sebagian hayat di bumi, seperti yang dinyatakan dalam Kejadian 9:11. Zamrud, sebagai batu berharga, bentuknya kukuh, padat. Benda pengingat Allah untuk memegang janji-Nya adalah yang kukuh. Ada pengingat yang kukuh di sekitar takhta itu.

B. Dari Takhta Itu Keluar Kilat dan Bunyi Guruh yang Menderu

Dalam ayat 5 dikatakan, “Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu.” Hal-hal ini melambang-kan murka Allah dalam penghakiman-Nya. Dalam Surat Kiriman, dari takhta anugerah keluar rahmat dan anuge-rah Allah bagi setiap orang yang menghampiri-Nya melalui darah penebusan Kristus. Tetapi di sini, dari takhta peng-hakiman keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu seba-gai peringatan kepada dunia yang penuh dosa. Dalam Kitab Wahyu, setelah semua penghakiman Allah dilaksanakan, takhta Allah akan menjadi takhta penyuplai hayat kekal yang darinya akan mengalir sungai air hayat dengan pohon hayat yang tumbuh di dalamnya. Semua orang beriman yang berbagian dalam rahmat dan anugerah Allah hari ini, demi menghampiri takhta anugerah Allah, akan menikmati sungai hayat dan pohon hayat yang keluar dari takhta Allah seba-gai suplai hayat mereka sampai kekal. Sementara itu, orang-orang yang tidak percaya akan dihakimi di takhta pengha-kiman Allah, dan tidak akan berbagian dalam kenikmatan kekal yang berasal dari takhta kekal Allah.

C. Tujuh Obor Menyala-nyala di Hadapan Takhta Itu

Ayat 5 juga memberi tahu kita bahwa, “dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah”. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan me-nanggulangi bumi dengan ketujuh obor, yaitu ketujuh Roh-Nya yang membakar, menyoroti, mengamati, menyelidiki, dan menghakimi. Ketujuh obor di sini berdasar pada ketu-juh pelita kaki pelita dalam Keluaran 25:37 dan Zakharia

4:2. Ketujuh obor, yang adalah ketujuh Roh Allah, menun-jukkan sorotan dan penyelidikan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali. Dalam Keluaran 25 dan Zakharia 4, ketujuh pe-lita yang menunjukkan sorotan Roh Allah dalam pergerak-an Allah adalah untuk pembangunan Allah, atau untuk membangun Kemah Pertemuan atau untuk membangun kem-bali Bait Suci. Ketujuh obor di sini adalah untuk pengha-kiman Allah, yang pada akhirnya juga akan mendatangkan pembangunan Allah, yaitu pembangunan Yerusalem Baru. Ketika Allah melaksanakan penghakiman-Nya, Roh-Nya yang diperkuat tujuh kali akan merampungkan pembangunan kekal Allah melalui menyelidiki, menerangi, menghakimi, dan menginfus. Hal ini sepenuhnya dikembangkan dalam pasal-pasal berikutnya. Hasilnya adalah terwujudnya kota kudus, Yerusalem Baru.

D. Di Hadapan Takhta Itu Ada Lautan Kaca

Ayat 6 mengatakan, “Di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal.” Lautan kaca di sini adalah tempat pengumpulan segala sesuatu yang telah dihakimi Allah. Lautan kaca ini tidak berair, tetapi berapi (15:2). Setelah air bah, sesuai dengan janji-Nya, Allah tidak akan mengha-kimi bumi dan semua makhluk hidup dengan memakai air bah lagi (Kej. 9:15), melainkan selalu memakai api dalam melaksanakan penghakiman-Nya atas manusia (Kej. 19:24; Im. 10:2; Bil. 11:1; 16:35; Dan. 7:11; Why. 14:10; 18:8; 19:20; 20:9-10; 21:8). Takhta penghakiman Allah seperti nyala api, dari nyala api ini ada api seperti sungai yang mengalir ke-luar (Dan. 7:9-10). Nyala api penghakiman Allah akan me-nyapu semua perkara negatif dalam alam semesta ke dalam lautan kaca ini, yang akhirnya menjadi lautan api (20:14). Lautan kaca adalah kumpulan besar semua api penghakim-an Allah, bagaikan kristal, menunjukkan segala perkara negatif jernih seperti kristal di bawah penghakiman Allah. Apa saja yang dihakimi dan berada di dalam lautan kaca itu disingkapkan seluruhnya; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi. Dalam pasal ini, kita nampak pelangi menge-lilingi takhta Allah, menunjukkan bahwa Allah akan me-melihara janji-Nya yang tercatat dalam Kejadian 9:8-17. Kita juga nampak lautan kaca yang disertai nyala api, menun-jukkan bahwa Allah akan memakai api untuk menghakimi semua perkara negatif.

II. ALLAH DUDUK DI ATAS TAKHTA

A. Nampaknya bagaikan Permata Yaspis dan Permata Sardis

Ketika Yohanes nampak takhta di surga, ia melihat “di takhta itu duduk Seorang. Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud”. Allah yang duduk di atas takhta me-miliki penampilan bagaikan permata yaspis. Menurut 21:11, yaspis adalah “permata yang paling indah, . . . jernih seperti kristal”. Warnanya tentu hijau tua, melambangkan hayat yang limpah ruah. Yaspis di sini, seperti yang dijelaskan dalam 21:11, melambangkan kemuliaan dalam hayat Allah yang berlimpah yang bisa disalurkan (Yoh. 17:22, 2). Yaspis ialah corak penampilan Allah, juga adalah corak penampil-an kota kudus Yerusalem Baru (21:11). Tembok kota dan dasar yang pertama juga terbuat dari yaspis (21:18-19). Da-lam Alkitab, hijau menyatakan hayat. Jadi, warna permata yaspis menunjukkan bahwa Allah yang duduk di atas takhta itu adalah Allah hayat. Warna pertama untuk Allah ada-lah hijau, mempersaksikan bahwa Ia adalah sumber hayat.

Allah yang duduk di atas takhta juga berpenampilan seperti permata sardis. Permata Sardis juga permata yang sangat berharga; warnanya yang merah melambangkan pe-nebusan. Hari ini, Allah bukan hanya Allah hayat, juga Allah penebusan. Yaspis melambangkan Allah sebagai Allah yang mulia dalam kelimpahan hayat-Nya. Permata sardis melambangkan Allah sebagai Allah yang menebus. Karena kita sebagai orang-orang ciptaan-Nya telah jatuh, maka Ia datang untuk menebus kita melalui darah Kristus. Karena itu, Ia memiliki dua macam warna — warna hayat dan war-na penebusan. Ia adalah Allah pemberi-hayat, juga Allah Penebus. Dalam Perjanjian Lama, permata pertama yang ditatahkan di atas tutup dada imam besar adalah permata sardis (yaspis merah), yang terakhir adalah permata yaspis (nefrit), (Kel. 28:17, 20). Hal ini melambangkan bahwa umat tebusan Allah berawal dari penebusan Allah dan rampung pada kemuliaan hayat Allah.

B. Di Tangan Kanan-Nya Terdapat

Sebuah Gulungan Kitab

Menurut 5:1, di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu ada sebuah gulungan kitab. Allah pemberi-hayat dan Penebus ini memiliki satu rahasia yang dipegang di tangan kanan-Nya. Rahasia ini menyangkut nasib alam se-mesta dan itu dimeterai dengan tujuh meterai. Rahasia, misteri, alam semesta dipegang oleh Allah hayat dan Pene-bus ini.

III. DUA PULUH EMPAT TUA-TUA DUDUK

DI ATAS DUA PULUH EMPAT TAKHTA

DI SEKELILING TAKHTA ITU

Ayat 4 mengatakan, “Di sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua yang memakai pakaian putih dan mah-kota emas di kepala mereka.” Tua-tua dalam ayat ini bu-kanlah penatua gereja, melainkan tua-tua malaikat, sebab sebelum Tuhan datang lagi, mereka sudah duduk di atas takhta (bandingkan dengan Mat. 19:28; Why. 20:4). Di an-tara ciptaan Allah, malaikat adalah yang paling kuno. Da-lam Alkitab ada beberapa macam tua-tua: tua-tua umat Israel, tua-tua (penatua) gereja, dan seperti ditunjukkan di sini, ada tua-tua malaikat. Tua-tua malaikat adalah tua-tua seluruh ciptaan Allah. Mereka duduk di atas takhta dan kepalanya mengenakan mahkota emas. Hal ini menyatakan bahwa mereka pasti orang-orang yang mengatur alam se-mesta sampai Kerajaan Seribu Tahun tiba. Pada saat itu, kuasa untuk mengatur bumi ini akan diserahkan kepada orang-orang kudus pemenang (Ibr. 2:5-9; Why. 2:26-27; 20:4). Pakaian putih di sini menyatakan bahwa tua-tua malaikat ini tidak berdosa, berbeda dengan orang-orang kudus yang tertebus, mereka tidak perlu dibasuh oleh darah Anak Domba (7:14).

Kedua puluh empat tua-tua itu mengenakan pakaian putih dan memakai mahkota emas di kepala mereka. Mere-ka mengenakan pakaian putih dan masing-masing meme-gang “satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan dupa” (5:8). Ini menyatakan bahwa sekarang mereka juga adalah imam-imam di hadapan Allah. Namun dalam Kera-jaan Seribu Tahun, para pemenang yang memerintah akan menjadi imam Allah dan Kristus (20:6). Kedua puluh empat malaikat ini tentu imam-imam secara universal. Mahkota emas mereka juga menyatakan bahwa mereka adalah pe-nguasa. Sebab itu mereka adalah imam-imam yang mela-yani Allah, juga raja-raja yang memerintah atas ciptaan Allah. Sebelum menciptakan manusia, Allah telah menun-juk para pemuka malaikat sebagai imam-imam-Nya dan sarana pemerintahan-Nya. Menurut Yehezkiel 28, sebelum jatuh, Iblis mempunyai kedudukan yang demikian. Ia ada-lah imam Allah juga raja. Bahkan ketika si Iblis, Satan, mencobai Tuhan Yesus, ia memperlihatkan kepada-Nya “se-mua kerajaan dunia dengan segala kemegahannya,” Iblis berkata kepada Tuhan, “Segala kuasa itu serta kemuliaan-nya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki” (Luk. 4:5-6). Dunia diberikan kepa-da Iblis sebelum zaman Adam. Jadi, ada satu zaman, ketika itu Allah memberikan kuasa kepada Iblis, menjadikannya raja untuk memerintah atas alam semesta. Demikian juga, kedua puluh empat tua-tua ini adalah imam-imam Allah dan juga raja-raja.

Angka dua puluh empat dari tua-tua malaikat itu, terdiri dari dua kali dua belas. Dua belas adalah angka ge-nap administrasi Allah (Mat. 19:28). Daud membagi imam-imam dan orang-orang Lewi menjadi dua puluh empat rombongan (1 Taw. 24-25) untuk melaksanakan pelayanan di hadapan Allah. Angka dua puluh empat menunjukkan bahwa sebelum gereja dilantik untuk menggantikan mere-ka, para tua-tua malaikat inilah yang melaksanakan ad-ministrasi Allah. Dua belas kali dua menyatakan kekuatan ganda, menunjukkan bahwa administrasi ilahi yang dilak-sanakan oleh tua-tua malaikat ini adalah kuat.

IV. KEEMPAT MAKHLUK HIDUP YANG ADA DI

TENGAH-TENGAH DAN DI SEKELILING TAKHTA

Dalam Alkitab, angka makhluk hidup adalah empat, mewakili empat penjuru, mencakup seluruh alam semesta atau seluruh bumi. Dalam Kejadian 2:10, satu sungai itu pecah menjadi empat cabang yang kemudian mengaliri selu-ruh bumi. Dalam Yeremia 49:36 disebutkan empat penjuru langit, dan dalam Yesaya 11:12, Wahyu 7:1, dan 20:8 ada em-pat penjuru bumi. Karena itu, angka makhluk hidup me-nyatakan bahwa mereka mewakili semua ciptaan di bumi dan di surga kecuali para malaikat, yang diwakili oleh ke-dua puluh empat tua-tua.

A. Penuh dengan Mata, di Sebelah Muka, di Sebelah Belakang, dan di Sebelah Dalam

Ayat 6 mengatakan, “Di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.” Menurut ayat 8, “sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan ma-ta.” Ciri-ciri yang paling ditekankan dari keempat makhluk hidup ini adalah mata mereka. Mereka penuh dengan mata, di sebelah depan, di sebelah belakang, dan di sebelah dalam-nya, dan mereka bisa melihat ke segala arah tanpa perlu memalingkan badan. Mata diberikan kepada makhluk hi-dup untuk menerima terang dan visi. Keempat makhluk hi-dup itu penuh dengan mata, bukan hanya di depan dan di belakangnya, tetapi juga di sekelilingnya dan di sebelah da-lamnya (ayat 8), menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak buram, melainkan bening bagaikan kristal dalam se-tiap aspek. Umat Kristen seharusnya demikian, penuh de-ngan mata. Bila kita penuh dengan mata, keadaan kita akan transparan, tembus cahaya. Jika seseorang tidak mem-punyai mata, keadaannya gelap. Mata kita menjadikan kita transparan. Jika pada tubuh kita ada seratus mata, baik yang di dalam maupun yang di luar, maka seluruh tubuh kita akan transparan. Di hadapan Allah, kita sebagai orang yang tertebus harus demikian.

B. Masing-masing Bersayap Enam

Ayat 8 mengatakan, “Keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam.” Secara luaran, keempat makhluk hidup itu seperti kerub dalam Yehezkiel 1:5-10 dan 10:14-15; dilihat dari enam sayap yang masing-masing mereka miliki (ayat 8), mereka seperti serafim dalam Yesaya 6:2 (kerub dalam Kel. 25:20 dan 1 Raj. 6:27 mempunyai dua sayap; ke-rub dalam Yeh. 1:6 mempunyai empat sayap). Keempat makhluk hidup itu pastilah gabungan dari kerub dengan serafim. Sebagai serafim, mereka adalah untuk kekudusan Allah (Yes. 6:3), mengacu kepada sifat Allah; sebagai kerub, mereka adalah untuk kemuliaan Allah (Yeh. 10:18-19; Ibr. 9:5), mengacu kepada ekspresi Allah. Jadi, keempat makhluk hidup itu mewakili sifat dan ekspresi Allah.

C. Dalam Rupa Singa, Anak Lembu, Manusia, dan Burung Nasar yang Sedang Terbang

Ayat 7 mengatakan, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.” Kedua puluh empat tua-tua di sekeliling takhta Allah mewakili semua malaikat, sedangkan keempat makhluk hidup mewakili se-mua makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup yang pertama seperti singa, mewakili binatang buas; makhluk hidup yang kedua seperti anak lembu, mewakili ternak; makhluk hidup yang ketiga mempunyai mata seperti manusia, mewakili umat manusia; makhluk hidup yang keempat seperti bu-rung nasar, mewakili unggas. Di antara keenam jenis makhluk hidup ciptaan Allah (Kej. 1:20-28), ada dua jenis yang tidak terwakili di sini, yaitu makhluk yang merayap di bumi dan makhluk yang hidup dalam air. Kepala makh-luk yang merayap adalah ular, lambang musuh Allah, Iblis, yang akan dibuang ke dalam lautan api, dan tidak akan mendapat tempat di dalam langit baru dan bumi baru. Makhluk hidup dalam air adalah di dalam air penghakiman Allah, yang tidak akan ada lagi di dalam langit baru dan bumi baru (21:1). Karena itu, kedua jenis makhluk hidup ini tidak mempunyai wakil di hadapan Allah, sampai selama-lamanya.

Di antara keempat makhluk hidup, anak lembu adalah tahir, tetapi singa dan burung nasar adalah haram (Im. 11:3, 27, 13-19). Setelah ditebus, mereka semua menjadi ta-hir (Kis. 10:11-16). Di antara keempat makhluk hidup itu, anak lembu dan manusia adalah makhluk yang lemah lembut dan halus, tetapi singa dan burung nasar itu buas dan ganas. Melalui penebusan, mereka tinggal berdiam ber-sama-sama (Yes. 11:6-9). Penebusan Kristus bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk segala sesuatu (Kol. 1:20), sebab Ia mati bagi segala sesuatu (Ibr. 2:9).

V. PENYEMBAHAN TERHADAP ALLAH

Dalam 4:8-11 kita nampak penyembahan terhadap Allah. Di sini belum ada penyembahan terhadap Anak Domba, ka-rena Anak Domba baru muncul dalam pasal 5. Pasal 4 hanya menyajikan pemandangan, situasi sebelum Kristus naik ke surga. Penyembahan terhadap Allah di sini dilakukan oleh keempat makhluk hidup yang mewakili semua ciptaan (ayat 8-9) dan oleh kedua puluh empat tua-tua yang mewakili se-mua malaikat (ayat 10-11). Di tempat ini, semua ciptaan menyembah Allah. Dalam ayat 8 para makhluk hidup itu berkata, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Ma-hakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Di sini kata “kudus” diucapkan tiga kali, seperti dalam Yesaya 6:3, menyiratkan bahwa Allah itu tritunggal. Pemakaian tiga bentuk waktu di sini dalam membicarakan eksistensi Allah, juga menyiratkan bahwa Allah itu tri-tunggal. Puji-pujian keempat makhluk hidup dalam ayat 9 dan puji-pujian kedua puluh empat tua-tua dalam ayat 11, semuanya terdiri atas tiga hal, menyiratkan mereka sedang memuji Allah Tritunggal. Dua hal pertama dalam kedua pujian itu, yaitu kemuliaan dan hormat adalah sama, tetapi hal yang terakhir berbeda. Dalam puji-pujian keempat makhluk hidup, hal yang terakhir adalah ucapan syukur, karena mereka adalah kaum tertebus, mereka bersyukur atas anugerah penebusan Allah; tetapi dalam puji-pujian ke-dua puluh empat tua-tua, hal yang terakhir adalah kekuat-an, karena mereka bukan makhluk ciptaan yang ditebus, melainkan bersandarkan kekuatan Allah mengatur alam se-mesta; itulah sebabnya mereka mengapresiasi kekuatan Allah. Dalam ayat 11 kedua puluh empat tua-tua berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan.” Allah adalah Allah yang mempunyai tu-juan, mempunyai kehendak yang diperkenan-Nya. Bagi ke-hendak-Nya sendiri, Dia telah menciptakan segala sesuatu, agar Dia dapat menggenapkan dan merampungkan tujuan-Nya. Kitab ini, yang menyingkapkan administrasi univer-sal Allah, menampakkan tujuan Allah kepada kita. Karena itu, dalam puji-pujian kedua puluh empat tua-tua itu kepa-da Allah sehubungan dengan penciptaan-Nya, penciptaan-Nya dihubungkan dengan kehendak-Nya.

Sebagai orang-orang yang mengemban administrasi Allah di dalam alam-semesta ini, kedua puluh empat tua-tua malaikat ini dalam puji-pujian mengungkapkan kehen-dak Allah dalam penciptaan. Orang dapat dengan mudah memahami penciptaan Allah, tetapi hampir-hampir tidak mengetahui kehendak dan tujuan Allah dalam penciptaan. Puji-pujian para tua-tua malaikat merupakan suatu kata pengantar dari keseluruhan isi kitab ini, yang menunjuk-kan kehendak dan tujuan dalam penciptaan Allah, yaitu mendapatkan tempat kediaman yang kekal untuk kepuasan dan ekspresi Allah, yaitu kota suci, Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru, kehendak Allah dalam penciptaan akan ternyata dan tergenap dengan sempurna. Allah akan sepe-nuhnya dipuaskan dan diekspresikan secara sempurna di dalam dan melalui Yerusalem Baru. Inilah kehendak Allah dalam penciptaan-Nya dan juga tujuan akhir Kitab Wahyu. Puji-pujian para tua-tua malaikat menunjukkan kepada kita hal ini, sedang Kitab Wahyu mengarah ke arah ini dan akhirnya membawa kita kepada hal ini, yaitu perwujudan akhir kehendak Allah di dalam penciptaan-Nya.