MENGALAMI HAYAT KRISTUS YANG MENGUBAH DAN MEMBANGUN
Sejak 1925 saya mulai membaca, mempelajari, dan me-nyelidiki Kitab Wahyu. Perkara paling sulit yang saya ha-dapi adalah memahami ketiga pasal yang pertama, teruta-ma kedua pasal mengenai ketujuh gereja. Dalam ketujuh Surat Kiriman kepada ketujuh gereja, banyak ayat yang sulit yang hampir-hampir tidak dapat diterangkan oleh sia-pa pun. Satu ayat yang paling sulit adalah 3:12. Di situ Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan ke-luar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem Baru, yang turun dari surga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.” Ketika saya membaca ayat ini lima puluh satu tahun yang lalu, saya sulit memahaminya. Apakah artinya perkataan: Tuhan akan menjadikan kita tiang dalam Bait Suci Allah dan Ia akan menuliskan nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama-Nya yang baru di atas diri kita. Saya memeriksa banyak buku untuk mengetahui masalah ini, namun tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan saya ini. Sekalipun murid kelas empat bisa mengerti kata-kata ini, namun sulit sekali memahami makna sesungguhnya dari ayat ini. Wahyu 3:12 merupakan sebuah ayat yang sulit bagi para penafsir Alkitab, karena tidak satu pun di antara mereka yang mempunyai pengalaman cukup. Bertahun-ta-hun kemudian, akhirnya saya berangsur-angsur nampak bahwa janji ini merupakan janji terbesar di antara ketujuh janji dalam ketujuh Surat Kiriman dalam Wahyu 2 dan 3. Dalam berita ini kita perlu membahas janji Tuhan, yang diberikan kepada para pemenang dalam gereja di Filadelfia.
BERKAT YANG PALING BESAR
Kita tidak dapat memahami 3:12 tanpa kita memiliki pengalaman yang cukup. Di sini Tuhan tidak berjanji mem-beri kita sesuatu, melainkan akan membuat kita menjadi sesuatu. Setiap kali kita memikirkan janji Tuhan, kita se-lalu membayangkan bahwa Ia akan memberi kita sesuatu. Menurut konsepsi kita, sebuah janji berkaitan dengan ber-kat. Bagi kita, tanpa berkat, tidak ada janji. Tetapi dalam 3:12 Tuhan tidak berkata, “Aku akan memberi dia”, me-lainkan “Ia akan Kujadikan tiang.” Dalam 3:12 Tuhan ti-dak berjanji memberi kita kekudusan atau berkat surgawi. Tidak, di sini Ia berjanji membuat kita menjadi sesuatu — tiang dalam Bait Suci Allah.
Menjadi tiang dalam Bait Suci Allah meliputi dua perkara — pengubahan dan pembangunan. Sejak saya datang ke Amerika, saya berbeban atas kedua hal ini. Berkat paling besar yang Tuhan berikan kepada kita adalah mengubah kita dan membangun kita menjadi bait-Nya. Kebanyakan orang Kristen tidak bisa memahami apa artinya dijadikan tiang dalam Bait Allah. Apa artinya ini? Apa pula yang dimaksud dengan pada kita dituliskan nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama baru Tuhan? Tetapi orang-orang yang te-lah mencapai standar gereja di Filadelfia akan memiliki pengertian yang tepat tentang istilah-istilah tersebut. Jika kita berada pada standar ini, kita siap untuk diubah oleh Tuhan. Jika kita menggunakan sedikit kekuatan yang te-lah kita terima dari Tuhan berdasarkan firman-Nya dan bersungguh-sungguh terhadap Dia, kita siap diubah dan berada dalam posisi yang benar sehingga Tuhan bisa men-jadikan kita tiang. Untuk itu terlebih dulu kita perlu diubah menjadi bahan yang berharga, dan kemudian kita dibangun menjadi sebuah tiang. Bagaimana kita, yang adalah tanah liat, dapat menjadi tiang dalam Bait Suci Allah? Tidak ada jalan lain kecuali mengubah tanah liat itu menjadi batu permata dan kemudian dibangun menjadi bangunan Allah. Sebelum 3:12, kita memiliki janji Tuhan dalam 2:17 yang menyatakan bahwa kita bisa diubah menjadi sebuah batu putih dengan makan Dia sebagai manna yang tersembunyi. Ini benar-benar berkat yang paling besar, dan berkaitan de-ngan seluruh diri kita, karena berkaitan dengan apa ada-nya kita. Berkat terbesar bukanlah apa yang Tuhan berikan kepada kita, melainkan Tuhan hendak menjadikan kita apa.
Misalkan, saya adalah segumpal tanah liat. Apa pun yang Anda berikan kepada saya, entah itu emas atau berlian, saya tetap tanah liat. Bahkan walau Anda membawa saya ke surga dan menaruh diri saya di depan Allah, saya tetap adalah tanah liat. Berkat terbesar adalah Tuhan mengubah saya menjadi sesuatu yang berkaitan dengan tempat kediaman Allah. Dalam hidup gereja kita tidak sepatutnya mengharapkan berkat yang obyektif. Kita harus nampak, berkat Tuhan selalu menjadikan kita sesuatu, mengubah kita menjadi barang berharga, dan kemudian membangun kita menjadi bangunan Allah. Jika Anda menerima perka-taan ini, maka perkataan ini mutlak akan mengubah kon-sepsi Anda. Jika Anda nampak visi ini, masihkah Anda mengharapkan Tuhan memberkati Anda dengan berbagai perkara yang di luar? Tidak, kita akan membuang pengha-rapan yang seperti itu. Jika kita sungguh-sungguh nampak visi ini, kita akan menyadari bahwa dalam hidup gereja, Tuhan tidak bermaksud melakukan sesuatu di luar kita, melainkan sesuatu yang sepenuhnya berkaitan dengan diri kita. Ia akan membuat kita menjadi orang yang lain.
KETIGA NAMA ITU
DITULISKAN PADA DIRI KITA
Tuhan tidak hanya menjadikan kita tiang, juga akan menuliskan tiga nama pada diri kita: nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama-Nya yang baru. Menuliskan se-buah nama di atas sesuatu berarti memberikan gelar. Jika saya menanyakan nama Anda, apa jawaban Anda? Berani-kah Anda berkata, “Namaku adalah Allah”? Berkata demi-kian bukanlah menghujat, karena Tuhan berjanji akan me-nuliskan nama Allah pada diri kita. Andaikata saya adalah orang yang ditulisi Tuhan nama Allah, dan Anda menanya-kan nama saya; saya akan berkata, “Silakan baca apa yang tertera pada diriku — A-l-l-a-h. Itulah namaku, gelarku.” Orang-orang yang menentang saya boleh jadi akan meng-kritik saya karena berkata demikian. Tetapi jangan menya-lahkan atau menuduh saya menghina Tuhan. Saya hanyalah orang yang ditulisi dan Dia adalah Penulisnya. Jadi Anda harus menyalahkan Dia.
Tuhan juga akan menuliskan nama Yerusalem Baru pada diri saya. Berapa banyak dari Yerusalem Baru yang tertulis pada Anda? Mungkin yang terbaca pada diri Anda hanyalah huruf Y-e-r-u-s-a. Namun akhirnya, setelah se-jangka waktu, setiap huruf dari nama Yerusalem Baru akan tertulis pada diri Anda.
Terakhir, Tuhan akan menuliskan nama-Nya yang baru pada diri kita. Karena Tuhan itu selalu baru, pastilah Ia tidak mempunyai nama yang usang, melainkan nama yang baru. Apakah nama baru Tuhan? Kristus yang kita alami. Setelah kita memiliki pengalaman yang memadai, barulah kita akan menerima gelar baru ini. Dari semua hal ini ki-ta bisa nampak bahwa berkat terbesar adalah Tuhan men-jadikan kita seperti Allah, menjadikan kita satu bagian dari Yerusalem Baru, dan menjadikan kita ekspresi Kristus secara baru.
CARA ALLAH MENULIS PADA DIRI KITA
Kita yang di dalam gereja harus nampak bahwa berkat terbesar adalah Ia berjanji akan membuat kita menjadi sesuatu. Cara-Nya menggenapkan hal ini adalah mengga-rapkan diri-Nya ke dalam kita. Menuliskan nama Allah, na-ma Yerusalem Baru, dan nama baru Tuhan pada diri kita sesungguhnya mengacu kepada hal menggarapkan diri Allah ke dalam kita, menggarapkan Yerusalem Baru ke dalam kita, dan menggarapkan semua pekerti Kristus ke dalam kita sebagai ekspresi-Nya yang baru. Akhirnya, melalui pengga-rapan ini, ketiga nama baru ini akan tertulis pada diri kita. Penggarapan unsur-Nya ke dalam kita berarti menuliskan nama-nama ini pada diri kita.
Perhatikan kayu yang membatu. Mula-mula, kita me-miliki sepotong kayu biasa. Sewaktu air mengalir melewati-nya, aliran air ini mengangkut unsur alamiah kayu itu dan menggantikannya dengan unsur mineral yang padat. Ketika proses ini berlangsung, kayu ini berangsur-angsur mem-batu. Setelah proses ini rampung, kita bisa menuliskan di atas potongan kayu itu kata-kata “kayu yang membatu”. Nama ini melukiskan apa yang telah tergarap ke dalam se-rat-serat kayu tersebut.
Saya katakan sekali lagi, penulisan ketiga nama ini menggambarkan penggarapan unsur ilahi ke dalam diri ki-ta. Karena itu, berkat terbesar dalam hidup gereja bukan-lah Tuhan memberi kita sesuatu, melainkan sekarang ini Ia sedang menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, menjadi-kan kita satu bagian dari Yerusalem Baru. Melalui peng-garapan ini, kita bisa memiliki sesuatu dari Allah seperti beberapa pengalaman baru atas Kristus yang almuhit. Kita mungkin tidak memiliki berkat-berkat yang di luar. Walau-pun Tuhan memelihara kita, kita tidak menganggap peme-liharaan yang di luar itu sebagai berkat yang sejati. Berkat yang sejati adalah Ia menjadikan kita tiang dalam Bait Allah yang padanya dituliskan ketiga nama yang ajaib.
KESIMPULAN TERAKHIR
Kebanyakan orang Kristen tidak bisa memberi tahu Anda apa makna 3:12, karena sepanjang abad perkara tujuan kekal Allah yang dilaksanakan melalui pembangunan Allah telah diabaikan. Bahkan hari ini di dalam kekristenan Anda hampir-hampir tidak mendengar perkataan tentang pembangunan Allah. Banyak orang menyalahpahami kata pembangunan ini. Mereka kira artinya sama dengan pembi-naan. Bagi banyak orang, membangun sama dengan mem-bina. Sekalipun banyak orang menekankan pembinaan, tidak seorang pun memperhatikan pembangunan gereja Allah secara riil yang menghasilkan tempat kediaman-Nya yang kekal. Bagaimanapun, apa kesimpulan akhir dari Al-kitab? Jika kita sampai kepada dua pasal yang terakhir dari Alkitab, kita tidak menemukan agama, moralitas, eti-ka, atau pembinaan, kita melihat sebuah kota, Yerusalem Baru. Banyak orang Kristen mengira bahwa Yerusalem Ba-ru adalah sebuah rumah besar yang surgawi. Nampaknya mereka tidak pernah memperhatikan bahwa kota ini akan turun dari surga (21:2). Sementara banyak orang Kristen sangat damba pergi ke surga, Allah sendiri ingin turun dari surga. Yerusalem Baru merupakan kesimpulan akhir dari garapan Allah baik dalam ciptaan lama maupun cip-taan baru. Setiap buku pasti ada kesimpulannya. Meskipun buku itu memuat banyak perkara, kata-kata yang terakhir dari buku itu merupakan kata-kata yang paling penting. Apakah kesimpulan Alkitab? Tidak lain adalah kesimpulan terakhir Allah, kota kudus, Yerusalem Baru, sebagai tem-pat kediaman Allah yang kekal. Surat kepada gereja di Filadelfia merupakan hal yang paling penting di antara ke-tujuh surat itu. Surat ini menjangkau hal pokok dari tu-juan kekal Allah, Yerusalem Baru. Surat ini menjangkau kesimpulan akhir dari seluruh Alkitab, karena baik Alkitab maupun surat ini berakhir dengan Yerusalem Baru. Karena itu, surat ini tidak hanya pokok dari ketujuh surat itu, tetapi juga menjangkau hal pokok dari seluruh Alkitab.
KEPERLUAN KITA ADALAH
PENGUBAHAN DAN PEMBANGUNAN
Ketika Rasul Yohanes memakan gulungan kitab yang kecil itu, dalam mulutnya terasa manis namun terasa pahit dalam perutnya (10:10). Pengalaman kita sama. Ketika kita nampak visi ini, kita senang karena visi ini sangat manis. Tetapi setelah nampak visi ini, bertahun-tahun kita merasa pahit. Perasaan pahit ini menyangkut situasi yang kasihan di antara orang-orang Kristen hari ini. Bahkan di antara kita yang demikian dekat dengan ministri Tuhan pun ba-nyak yang tidak mempedulikan pembangunan Allah. Mere-ka hanya memperhatikan berkat-berkat mereka dan kero-hanian mereka pribadi. Yang lain sibuk menjadi orang yang tepat dalam azas pokok dan doktrin, namun tidak mau tahu tentang pembangunan Allah. Mereka perlu dirombak dan diubah. Saya ingin berkata terus terang, jujur, dan penuh kasih kepada saudara-saudara yang terkasih ini: Lupakan-lah doktrin dan perhatikan diri Anda sendiri. Orang yang bagaimanakah Anda? Doktrinnya benar atau salah, itu per-kara kecil. Yang sungguh-sungguh penting adalah bagaima-nakah Anda. Bertahun-tahun Anda menggumuli doktrin, adakah perubahan di dalam Anda? Atau Anda masih tetap seperti dua puluh lima tahun yang lampau? Boleh jadi An-da tidak pernah mengalami pengubahan dan pembangunan. Anda menganggap diri Anda rohani, alkitabiah, fundamen-tal, dan benar. Tetapi bagian mana dari diri Anda yang tidak mengalami pengubahan, dan dengan siapa Anda telah terbangun? Hari demi hari, Anda mengenggam Alkitab, ber-usaha menjadi orang yang fundamental dan tepat dalam doktrin, tetapi bagaimana dengan Anda sendiri? Adakah perubahan di dalam Anda?
DIUBAH MELALUI ALLAH MENYALURKAN DIRINYA SENDIRI KE DALAM KITA
Apakah pembangunan Allah itu? Pembangunan Allah adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita dan mengga-rapkan diri-Nya ke dalam kita. Perhatikan sekali lagi ilus-trasi tentang kayu yang membatu tadi. Kayu itu bersifat alamiah, tidak memiliki unsur mineral apa pun yang bisa memberinya substansi batu. Dalam pembangunan kekal Allah tidak ada kayu. Dalam bangunan itu, yang ada hanya batu-batu permata, emas, dan mutiara. Kedua belas dasar dari Yerusalem Baru adalah lapisan batu-batu permata (21:19-20), dan seluruh temboknya dibangun dengan perma-ta yaspis (21:18). Dalam Yerusalem Baru tidak ada lumpur atau kayu. Asalnya kita semua kalau bukan lumpur tentu kayu. Setiap orang lebih suka kayu daripada lumpur, ka-rena menurut mereka kayu lebih unggul daripada lumpur. Namun, baik lumpur maupun kayu tidak berguna dalam tangan pembangunan Allah. Kita perlu diubah. Orang-orang yang seperti lumpur perlu diubah menjadi batu permata, sedang orang-orang yang seperti kayu perlu dijadikan batu. Cara untuk membuat sepotong kayu menjadi batu adalah dengan membiarkan air hidup mengalirinya untuk mengha-nyutkan kadar kayu dan menggantinya dengan unsur mi-neral yang kukuh. Proses pembatuan dalam dunia fisik ini merupakan lambang dari realitas rohani. Hari ini sesungguhnya Allah “sedang membatukan” kita melalui aliran hayat ilahi-Nya. Aliran ini dengan jelas diwahyukan dalam Wahyu 22:1 yang mengatakan, “Lalu Ia menunjuk-kan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.” Sungai itu mengaliri seluruh kota.
Saya sering mempunyai perasaan yang pahit dalam ba-tin, perasaan pahit terhadap umat kristiani hari ini. Mere-ka kelihatannya tahu banyak, namun sesungguhnya mere-ka itu hampir-hampir tidak tahu apa-apa. Yang penting bukanlah apa yang Anda ketahui. Anda mungkin mengeta-hui banyak perkara, tetapi setiap bagian Anda masih beru-pa lumpur atau kayu, itu menyatakan Anda masih belum diubah. Kita harus diubah melalui penyaluran diri Allah ke dalam kita. Lupakan pengetahuan Alkitab Anda, lupakan agama Anda, perhatikan satu perkara saja — berapa ba-nyak Anda telah diubah oleh Allah yang hidup yang me-nyalurkan diri-Nya ke dalam Anda! Inilah yang sungguh-sungguh penting. Mungkin saja Anda mampu menghafal-kan sangat banyak ayat Alkitab, namun Anda sendiri tidak terhitung apa-apa. Tidak satu pun yang terhitung dalam ekonomi Allah selain dari diri-Nya sendiri disalurkan ke dalam diri Anda. Saya harap banyak di antara kalian bisa berkata, “Aku tidak tahu banyak tentang Alkitab. Aku hanya tahu satu perkara: Hari demi hari Allah sedang me-nyalurkan diri-Nya ke dalamku. Setiap hari, sesuatu yang dari Allah mengalir untuk menyingkirkan unsur alamiah-ku dan menggantinya dengan substansi ilahi-Nya.”
Beban saya sangat berat! Masalahnya bukan Anda itu baik atau buruk, kudus atau tidak kudus, rohani atau tidak rohani. Yang penting adalah apakah Anda telah dija-mah oleh Tuhan dan diubah. Kita harus rela membuka diri kita seraya berkata, “Tuhan, alirilah aku. Tuhan, meng-alirlah masuk, melewati aku, dan keluar dariku, dan ang-katlah setiap unsur alamiahku. Tuhan, aku benci perbaik-an yang di luar dan aku jemu dengan koreksi luaran. Aku juga jemu dengan agama dan pengetahuan Alkitab. Aku je-mu menjadi orang rohani perorangan. Tuhan, aku merasa putus asa melihat kondisiku karena aku hanya mempunyai sedikit sekali substansi ilahi-Mu. Aku telah diajari dan ‘di-bina’ selama bertahun-tahun. Tetapi aku tetap adalah aku yang usang.”
KASIH PERSAUDARAAN YANG SEJATI
Gereja di Filadelfia sering disalahtafsirkan. Ya, gereja ini memang gereja kasih persaudaraan. Namun kasih yang bagaimanakah itu? Adakah hanya saling peluk yang di luar? Apakah itu kasih persaudaraan yang sesungguhnya? Bukan, kasih persaudaraan adalah Kristus sendiri digarap-kan ke dalam kita dan diperhidupkan melalui kita. Dalam perlambangan, kasih alamiah kita seperti madu dan tidak mungkin diperkenan Allah. Hayat alamiah dan kasih ala-miah bukanlah dupa (kemenyan), melainkan madu yang di-benci dalam pandangan Allah. Kasih persaudaraan alamiah juga dibenci oleh Allah sama seperti ragi. Kasih persauda-raan yang sejati merupakan ekspresi Kristus yang tergarap ke dalam kita. Substansi dan unsur alamiah kita harus di-singkirkan oleh aliran hayat ilahi dan diganti dengan unsur ilahi Allah sendiri.
MAKNA DIJADIKAN TIANG
Apakah makna dijadikan tiang dan ditulisi oleh Tuhan? Bagaimana Tuhan bisa menjadikan kita, yang demikian alamiah, yang bersifat kayu atau lumpur, menjadi tiang? Cara satu-satunya adalah dengan mengubah kita, yaitu menyingkirkan unsur alamiah kita dan menggantikannya dengan substansi ilahi-Nya. Makna kata “dijadikan” dalam 3:12 adalah membentuk kita menjadi sesuatu, membangun kita secara kreatif. Inilah pengubahan. Sebagai kesaksian Tuhan dalam pemulihan-Nya hari ini, tidaklah cukup kalau kita hanya alkitabiah. Untuk menggenapkan tujuan kekal Allah, kita semua harus berkata, “Tuhan, aku ada di sini. Aku telah nampak visi bahwa aku memerlukan proses pem-batuan-Mu. Tuhan, aku adalah kayu dan perlu Kaujadikan batu. Tuhan, mengalirlah melaluiku, singkirkanlah semua diri alamiahku, dan gantilah dengan diri-Mu sendiri.”
Surat kepada gereja di Filadelfia tidak pernah terbuka kepada anak-anak Tuhan sejelas yang Tuhan buka hari ini. Bertahun-tahun, umat kristiani kekurangan pengalaman yang sejati terhadap pengubahan dan pembangunan Allah. Karena itu, mereka tidak bisa memahami 3:12. Sekali lagi saya katakan, hanya melalui pengalamanlah kita bisa me-mahami makna ayat ini. Hari ini, dalam hidup gereja yang tepat Tuhan sedang membuat kita, potongan-potongan kayu ini, menjadi tiang dalam Bait Allah. Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Dalam gereja di Filadelfia Tuhan tidak mengoreksi kita, atau bahkan sekadar membakar ki-ta. Ia sedang membuat kita, yang lama dan yang baru, men-jadi tiang dalam Bait Allah. Hal ini sudah pasti merupakan perkara yang besar. Satu-satunya cara agar Tuhan bisa menggenapkan hal ini adalah dengan menjadi aliran ilahi yang mengalir ke dalam kita. Tuhan tidak akan tergesa-gesa mengerjakannya. Dengan sabar Ia menggarapkan diri-Nya sebagai aliran ilahi ke dalam kita, bukan mengoreksi tingkah laku kita yang di luar, melainkan dengan me-nyingkirkan substansi alamiah kita. Allah tidak hanya menginginkan perbaikan tingkah laku kita yang di luar saja. Hari ini, Tuhan menginginkan hidup gereja yang te-pat. Untuk ini, Ia damba masuk ke dalam kita saat ini ju-ga. Jangan menunggu hingga besok dan jangan ingin tahu tentang orang lain. Perhatikan diri Anda sendiri. Pekerjaan Tuhan di dalam gereja adalah menggarapkan diri-Nya seba-gai aliran ilahi ke dalam Anda untuk menyingkirkan diri alamiah Anda dan menggantikannya dengan substansi ilahi-Nya sehingga Anda secara berangsur-angsur diproses dengan unsur pengubahan-Nya. Inilah yang kita perlukan. Ketika Allah mengubah kita, kita akan menjadi sesuatu yang lain — bahan-bahan berharga untuk pembangunan-Nya. Semakin kita menjadi bahan yang demikian, Ia akan semakin membangun kita ke dalam pembangunan-Nya. Terakhir, pembangunan ini akan menjadi Yerusalem Baru.
Tuhan menandai garapan-Nya, menulisinya dengan na-ma yang cocok. Setelah menyelesaikan suatu karya, seorang tukang kayu akan menaruh sebuah label pada karyanya itu. Label itu merupakan tanda dari benda yang telah di-buatnya. Demikian juga, Tuhan sedang menjadikan kita tiang di dalam bait-Nya. Dalam beberapa berita selanjutnya kita akan nampak bahwa bait itu akan diperluas menjadi sebuah kota. Seluruh kota adalah bait yang diperluas. Jadi, menjadi sebuah tiang di dalam bait akhirnya berarti men-jadi satu bagian dari Yerusalem Baru. Dalam 3:12 dikatakan bahwa pemenang dalam Filadelfia akan dijadikan tiang da-lam Bait Allah, namun nama Tuhan yang ditaruh di atasnya bukanlah “Bait Allah”, melainkan “Yerusalem Baru”. Ter-akhir, kita bukan hanya menjadi bagian dari bait, tetapi juga bagian dari Yerusalem Baru. Cepat atau lambat, Tuhan akan menuliskan nama Yerusalem Baru pada diri kita. Ia akan menandai kita sesuai dengan dijadikan apa kita oleh-Nya.
MENGALAMI PENGUBAHAN DAN
PEMBANGUNAN OLEH HAYAT KRISTUS
Semuanya ini berdasar pada realisasi dan pengalaman yang baru terhadap Kristus. Pengalaman Anda terhadap Kristus boleh jadi telah terlalu usang. Bila Anda berdiri dan bersaksi tentang pengalaman Anda terhadap Kristus, penga-laman itu terasa usang. Kita semua memerlukan pengalaman yang baru dan mutakhir terhadap Kristus. Pengalaman yang baru terhadap Kristus inilah dasar Ia menjadikan kita tiang dan penulisan nama Yerusalem Baru pada diri kita. Ini ada-lah pengalaman baru, dan karena inilah kita memiliki na-ma baru-Nya. Hanya Anda yang tahu apakah nama baru itu, karena hanya Andalah yang memiliki pengalaman-pengalaman yang menghasilkan nama itu. Kita semua ha-rus memiliki pengalaman-pengalaman baru atas diri Kristus agar kita bisa menjadi tiang. Saya harap banyak di antara kita yang sudah lama mengenal Tuhan akan berkata, “Tuhan, aku memuji Engkau. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku memerlukan pengubahan-Mu. Tuhan, selama bertahun-tahun aku menjadi orang Kristen yang individualistis. Tetapi sekarang aku mohon Engkau meng-aliriku dan menyingkirkan semua individualitasku yang alamiah dan menggantinya dengan substansi-Mu sendiri. Aku ingin diubah dan dibangun oleh-Mu bersama anggota lain di dalam Tubuh-Mu. Tuhan, aku benci alamiahku dan sifat individualistisku. Aku ingin memiliki beberapa peng-alaman baru atas Kristus yang mengubah dan memba-ngun. Aku ingin mengalami hayat Kristus yang mengubah dan membangun.” Mungkin Anda telah mengalami hayat penyelamatan Kristus. Hayat-Nya telah menyelamatkan Anda dari kedosaan dan keduniawian. Tetapi, mungkin An-da tidak pernah mengalami hayat pengubahan Kristus dan hayat pembangunan-Nya. Sekalipun Anda telah diselamat-kan dari dosa dan dunia, namun sudahkah Anda diubah dan dibangun bersama yang lain? Selama bertahun-tahun, Anda bersifat alamiah dan individualistis. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan, bukalah mataku agar aku nampak visi ini dan mengalami Engkau dengan cara yang baru, sebagai hayat pengubahan dan ha-yat pembangunan, agar Engkau mempunyai kesempatan untuk menjadikan aku tiang dalam Bait Allah dan agar aku menjadi satu bagian dari Yerusalem Baru.”