← Daftar isi Wahyu (1) · bab 15/17

EMPAT ASPEK PENGALAMAN ATAS KAKI PELITA

Kitab Kejadian merupakan ladang yang di dalamnya hampir semua benih kebenaran ditaburkan. Dalam Kitab Wahyu kita memiliki tuaian dari berbagai kebenaran yang ditaburkan dalam permulaan Alkitab. Dalam kitab yang merupakan kesimpulan ini, gereja-gereja lokal sangatlah penting. Gereja-gereja lokal juga merupakan inti dari kitab ini. Kita telah nampak bahwa gereja-gereja lokal merupa-kan tujuan dari wahyu serta ekspresi Allah yang progresif. Dalam Alkitab kita tidak hanya memiliki wahyu Allah, tetapi juga ekspresi Allah. Kitab Wahyu bisa dianggap men-dekati doktrin, tetapi ekspresi pastilah berkaitan dengan pengalaman. Karena itu, Alkitab tidak hanya memberi kita doktrin-doktrin, tetapi juga pengalaman; bukan hanya wah-yu Allah, tetapi juga ekspresi Allah. Jika tidak ada gereja-gereja lokal, pastilah tidak akan ada tujuan bagi wahyu dan ekspresi Allah.

Si musuh yang licik, Iblis, membenci gereja-gereja lokal. Sepanjang abad, banyak guru Kristen yang baik telah mencurahkan perhatian mereka kepada banyak perkara lainnya. Kita mengakui perkara-perkara itu memang pen-ting. Namun, kebanyakan di antara guru-guru itu masih melalaikan sasaran, melalaikan tujuan gereja-gereja lokal. Kita harus menyembah dan memuji Allah, Dia adalah Tuhan. Dia tidak mungkin membiarkan perkara ini berlalu. Sete-lah memulihkan demikian banyak hal selama beberapa abad yang silam, akhirnya dalam zaman kita, Ia telah mencapai tujuan ini. Inilah sebabnya siang malam, satu-satunya be-ban kita adalah membangun gereja-gereja lokal. Semua se-rangan dan tentangan yang kita alami tidak lain karena kedudukan kita bagi gereja-gereja lokal.

KAKI PELITA ADALAH LAMBANG GEREJA

Setiap orang tahu bahwa istilah gereja tidak tercantum dalam Perjanjian Lama. Istilah itu kali pertama dipakai da-lam Matius 16:18, di mana Tuhan Yesus berkata, “Aku akan mendirikan gereja-Ku . . .” Namun, dalam Perjanjian Lama, banyak lambang yang menunjukkan gereja. Sebagai contoh, dalam Kejadian 2, sang istri itu melambangkan ge-reja adalah pasangan Kristus. Tak hanya demikian, Ke-mah Pertemuan dan Bait Suci melambangkan gereja adalah tempat kediaman Allah di antara manusia di bumi. Orang-orang Israel sebagai umat korporat melambangkan gereja juga adalah manusia korporat untuk mengekspresikan Allah. Namun, tidak satu pun dari antara lambang-lambang itu yang mencakup begitu banyak aspek seperti kaki pelita.

Kaki pelita mula-mula disebutkan dalam Keluaran 25. Jika kita hanya memiliki pasal ini, kita tidak akan mampu memahami bahwa kaki pelita itu berkaitan dengan gereja atau dengan gereja-gereja. Menjelang akhir Perjanjian La-ma, kita menemukan kaki pelita disebutkan sekali lagi da-lam Zakharia 4. Kitab Zakharia menyinggung kaki pelita lebih maju daripada Kitab Keluaran. Dalam Kitab Keluaran kita hanya memiliki kaki pelita dengan ketujuh pelitanya; namun di sana tidak disebutkan ketujuh pelita itu mengacu kepada apa. Tetapi dalam Kitab Zakharia kita diberi suatu penafsiran yang jelas tentang ketujuh pelita itu, karena da-lam kitab ini kita diberi tahu bahwa ketujuh pelita adalah ketujuh mata Allah (4:10) dan ketujuh mata dari batu (LAI: permata) itu (3:9). Kitab Zakharia memberi tahu kita dua perkara penting berkenaan dengan kaki pelita itu — bahwa ketujuh pelita dari kaki pelita adalah ketujuh mata Allah dan ketujuh mata batu itu. Perhatikanlah gambar yang di-sajikan dalam Kitab Zakharia. Batu itu mempunyai tujuh mata, yaitu ketujuh mata Allah, menunjukkan bahwa ketu-juh mata itu menginfuskan apa adanya Allah ke dalam ki-ta. Allah itu terang, hayat, kasih, kekudusan, dan lain-lain. Semua apa adanya Allah sebagai unsur hayat diinfuskan ke dalam kita melalui ketujuh mata-Nya. Demikianlah keada-an kita sebagai umat manusia, karena sewaktu kita me-mandang orang lain, sesuatu dari kita terinfus ke dalam orang lain melalui mata kita. Apakah makna ketujuh mata Allah juga adalah ketujuh mata batu itu? Tidak salah lagi, batu adalah untuk pembangunan. Jadi, ketujuh mata tidak hanya menginfuskan Allah sebagai unsur hayat ke dalam kita, juga menginfuskan Kristus ke dalam kita sebagai ba-han bangunan, menjadikan kita bahan bangunan bagi pem-bangunan Allah. Zakharia 4:2-6 dan 10 juga menyiratkan bahwa ketujuh mata Allah ini, yang adalah ketujuh pelita dari kaki pelita, adalah Roh itu. Untuk menjawab perta-nyaan, “Apa arti semuanya ini?”, dikatakan, “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan de-ngan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (4:6). Ayat ini menyatakan bahwa oleh Roh itu barulah kita bisa berba-gian dalam pembangunan Allah. Karena itu, kita nampak bahwa kaki pelita dalam Zakharia 4 telah maju secara pro-gresif daripada kaki pelita dalam Keluaran 25. Hanya saja, Kitab Zakharia bukanlah kitab kesimpulan. Kita masih ha-rus maju terus sampai ke kitab terakhir, yaitu Kitab Wahyu.

Dalam Kitab Wahyu ada tujuh kaki pelita dari emas. Kitab ini juga mengungkapkan bahwa ketujuh pelita itu adalah ketujuh Roh Allah dan ketujuh mata Anak Domba (5:6). Jadi, kaki pelita meliputi Allah, Kristus, Roh itu, Penebus, dan bahan bangunan.

EMPAT ASPEK KAKI PELITA

UNTUK KITA ALAMI

Sewaktu kita membahas Keluaran 25, Zakharia 3 dan 4, serta Kitab Wahyu, kita nampak empat aspek kaki pelita yang harus kita alami. Untuk itu, terlebih dulu kita harus berbagian dalam hakiki (esens), yaitu unsur emas dari kaki pelita. Kedua, kita harus mengalami pembentukan emas itu menjadi satu bentuk tertentu — kaki pelita. Emas dalam kaki pelita bukanlah berbentuk bongkahan, melainkan ber-bentuk kaki. Ketiga, berkenaan dengan bentuk, kita harus mengalami ekspresi dari kaki pelita melalui sorotan ketu-juh pelita. Keempat adalah perkara reproduksi kaki pelita. Jadi, kita harus mengalami keempat aspek kaki pelita — unsur, bentuk, ekspresi, dan reproduksinya.

MENGALAMI UNSUR EMAS

Kita semua perlu mengalami unsur emas dari kaki pelita. Jika kita hanya memiliki satu ons emas, bagaimana kita bisa membentuk satu kaki pelita? Ini jelas tidak mung-kin. Kita mungkin hanya bisa membentuk sebuah cincin, bukan kaki pelita. Untuk memiliki kaki pelita, harus ada satu talenta (kurang lebih 34 kilogram) emas (Kel. 25:39). Kita memerlukan lebih banyak emas, lebih banyak kadar Allah. Jika ingin gereja menjadi kaki pelita, terlebih dulu harus memiliki emas sebagai substansi, emas adalah sub-stansi, esens, unsur dari Allah sendiri. Jika kita tidak me-miliki substansi ini, semua percakapan kita tentang gereja adalah kosong. Betapa menyedihkan situasi di antara keba-nyakan orang Kristen hari ini. Substansi yang mereka mi-liki, yaitu emas ilahi, sangat sedikit; mereka bukannya be-lajar mendapatkan substansi ini, malahan sebaliknya, mereka membahas doktrin yang sia-sia. Sekalipun doktrin kita baik, benar, azasi, dan alkitabiah, itu bukanlah diri Allah sendi-ri. Hanya Allah sendiri terhitung sebagai unsur ini. Betapa kita memerlukan Allah sebagai unsur emas kita!

Apakah Allah itu? Dalam Yohanes 4:24 Tuhan Yesus dengan tegas berkata, “Allah itu Roh.” Dalam bahasa asli-nya, tidak ada kata sandang di depan kata “Roh”. Jadi, jangan berkata bahwa Allah adalah “sebuah” Roh, melain-kan Allah itu Roh. Mengatakan Allah itu Roh sepertilah mengatakan meja ini kayu. Sama seperti unsur meja ini adalah kayu, demikian juga unsur Allah adalah Roh. Menu-rut Yohanes 4:24, untuk menyembah Allah kita harus me-nyembah-Nya di dalam roh. Menyembah Allah bukan hanya membungkukkan diri kepada-Nya, melainkan mencapai Dia, menghubungi Dia, dan menerima Dia. Menurut kon-teks Yohanes 4, menyembah Allah berarti minum Dia seba-gai air hayat (ayat 14), yaitu Roh itu mengalir ke dalam kita. Bagaimana kita dapat menerima Dia sebagai air hi-dup? Kita menerima-Nya melalui membuka seluruh diri kita kepada-Nya dan melalui memakai roh kita. Kita harus menerima diri Allah sebagai unsur emas masuk ke dalam diri kita. Siang malam, kita perlu membuka diri kita. Janganlah menutup diri terhadap-Nya atau menutup seba-gian diri Anda terhadap-Nya. Sebaliknya, katakanlah kepa-da-Nya, “Ya Allah, aku mutlak terbuka terhadap-Mu. Aku memakai rohku untuk mengontaki Engkau, Roh ilahi itu. Ya Roh ilahi, masuklah ke dalamku dan penuhilah aku.” Inilah cara memperoleh lebih banyak emas.

Jika kita semua mendapatkan lebih banyak emas, di antara kita mungkin bukan hanya ada satu talenta, me-lainkan boleh jadi seratus talenta. Kita akan sangat kaya dengan unsur ilahi, dengan bahan untuk kaki pelita. Se-mua saudara saudari akan penuh dengan Allah dan ke mana saja kita pergi, kita akan melihat emas. Ketika kita masuk ke dalam rumah kaum saleh, kita akan nampak emas. Ketika saya menjumpai kaum muda, saya menjum-pai emas; dan ketika saya menghubungi penatua, saya akan melihat lebih banyak emas pada dirinya. Para saudari seharusnya bukan kayu atau lumpur, melainkan emas. Saya selalu merasa malu bila mendengar beberapa saudari bergo-sip. Meskipun saya tidak menyalahkan mereka, namun saya merasa malu, karena para saudari di dalam gereja seharus-nya menjadi emas. Seorang saudari yang bergosip tidaklah benar-benar di dalam gereja. Demikian juga saya merasa malu bila melihat seorang saudara yang tanpa kasih ber-tengkar dengan istrinya bukan di dalam kasih. Di mana-kah emas dalam saudara ini? Jika ia adalah seorang sau-dara di dalam gereja, ia seharusnya penuh dengan emas. Ketika saya melihat perkara-perkara itu, saya memaling-kan wajah. Saya tidak ingin melihat situasi yang penuh lumpur di antara kaum saleh. Saya ingin menikmati emas di dalam mereka. Kita semua perlu memiliki lebih banyak emas. Gereja haruslah penuh dengan emas, penuh dengan Allah. Ketika saya melihat hal ini, saya merasa penuh mu-lia dan berada di langit tingkat ketiga.

MENGALAMI EMAS YANG DITEMPA

MENJADI KAKI PELITA

Namun, tidaklah cukup hanya memiliki banyak emas. Kita mungkin memiliki seribu talenta emas, namun tidak memiliki kaki pelita, karena kita hanya memiliki substansi-nya, tanpa bentuk. Bagaimana kita bisa memiliki bentuk itu? Semua pelajar Alkitab golongan fundamental setuju bahwa kaki pelita dibuat dari emas yang ditempa. Seorang saudara mungkin mempunyai sepuluh pon emas, yang lain memiliki tujuh pon, dan lainnya lagi lima pon. Bagaimana semua emas itu bisa dibentuk menjadi kaki pelita? Hanya melalui ditempa bersama-sama. Semua emas harus dilebur menjadi satu. Ini menunjukkan pembangunan. Pertama-ta-ma, kita perlu substansi, kemudian kita memerlukan pem-bangunan melalui ditempa. Sungguh memalukan Tuhan ji-ka hari ini Ia tidak bisa melihat pembangunan apa pun. Banyak orang berbantahan dengan kita perihal gereja de-ngan bertanya: bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita adalah gereja dan mereka itu bukan gereja? Tetapi persoalannya: di manakah pembangunan itu? Anda boleh ja-di memiliki sangat banyak emas, tetapi tanpa bentuk, dari segi pembangunan, Anda tidak memiliki kaki pelita. Itu berarti Anda kaya dengan emas, namun miskin dalam kaki pelita — pembangunan itu.

Jika Anda ingin memiliki kaki pelita, kalian harus di-tempa bersama-sama dengan orang lain. Anda perlu kehi-langan identitas Anda. Janganlah berkata, “Ini emasku. Aku rohani.” Bila Anda rohani hanya untuk diri Anda sen-diri, maka selama menyangkut kaki pelita, hal itu sama sekali tidak bermakna. Pengalaman dan kenikmatan Anda atas Allah harus ditempa bersama-sama dengan pengalam-an dan kenikmatan orang lain. Emas kita harus disatukan, ditempa, dan dibangun menjadi satu kesatuan, sebagai satu unit. Kemudian kita tidak hanya memiliki emas, tetapi juga terbangun menjadi kaki pelita emas. Itulah gereja.

Jika semua orang dalam gereja di Anaheim tidak lain adalah ratusan unit yang terpisah-pisah, maka tamatlah kita. Allah tidak ingin ratusan unit emas yang terpisah-pi-sah. Ia ingin semua emas dikumpulkan menjadi satu dan ditempa menjadi bentuk kaki pelita. Karena itu, pembangun-an benar-benar diperlukan! Jika kita nampak pembangun-an, kita tidak mungkin bersifat individualistis. Sebaliknya, kita akan menyadari bahwa unsur ilahi yang kita peroleh atau kita terima adalah untuk pembangunan kaki pelita. Karena keinginan Allah adalah pembangunan, maka kita menyampaikan berita demi berita yang mengatakan bahwa kita memerlukan Allah di dalam Kristus sebagai substansi kita, agar kita bisa terbangun bersama-sama. Memang baik memiliki banyak emas dan kaya di dalam Allah. Namun, apakah Anda masih bersifat individualistis, atau merupa-kan bagian dari unit yang korporat? Kita memerlukan pembangunan.

MENGALAMI KETUJUH PELITA

SEBAGAI EKSPRESI

Sekalipun kita memiliki emas dan ditempa bersama-sama dan terbangun menjadi satu sebagai kaki pelita, kita masih memerlukan ketujuh pelita, ketujuh Roh Allah se-bagai ekspresi. Jika kita tidak memiliki ketujuh Roh Allah, kita tidak akan mampu bersinar untuk mengekspresikan Allah. Entah kita tua atau muda, setiap hari kita perlu di-isi dengan ketujuh kali Roh Allah. Bila kita diisi dengan ketujuh kali Roh Allah, kita akan hidup dan bersinar. Karena kita penuh dengan ketujuh Roh Allah, kita tidak akan mati atau gelap. Karena diisi dengan ketujuh kali “pneuma” ilahi, kita tidak akan seperti ban kempis. Tidak akan ada yang bisa menindas kita. Karena kita penuh de-ngan Roh Allah; semakin ditekan kita akan semakin me-lambung tinggi. Saya bisa bersaksi, semakin banyak kesu-litan yang saya hadapi, saya akan naik semakin tinggi. Sering kali saudara-saudara menganjuri saya untuk tidak membicarakan hal-hal tertentu, namun saya tidak tahan untuk tidak membicarakan hal-hal itu, karena dalam saya dipenuhi dengan ketujuh Roh Allah. Seseorang pernah ber-tanya kepada saya, “Mengapa Anda demikian hidup, segar, dan tidak pernah usang? Beritahukanlah rahasia Anda ke-padaku.” Rahasia saya adalah saya memiliki Roh itu.

Anda tidak perlu berbuat sedemikian rupa dalam mempersiapkan diri untuk bisa berfungsi di dalam sidang. Kalau Anda begitu, berfungsinya Anda hanyalah suatu san-diwara. Berfungsi tidak lain berarti menjadi apa adanya Anda. Kadang-kadang saudara-saudara yang memimpin de-ngan bersemangat mendorong kaum saleh untuk berfungsi dalam sidang-sidang doa. Tetapi semua fungsi semacam itu bukanlah fungsi yang sejati, melainkan hanya merupakan suatu sandiwara, karena kaum saleh tidak dipenuhi dengan Roh. Sebaliknya, keadaan mereka itu kempis seperti ban kempis. Mereka sudah kempis sebelum datang bersidang. Namun saudara-saudara yang memimpin masih memaksa ban-ban kempis itu ikut bergelinding dalam sidang doa. Ak-tivitas yang demikian bukan berasal dari pemenuhan yang di dalam dan bukan berasal dari berhuninya pneuma, me-lainkan berasal dari dorongan para penatua. Setelah seorang saudara atau saudari dipaksa untuk berfungsi, mungkin ia tidak berdoa selama dua minggu. Saya bisa bersaksi demi-kian karena saya sudah mengalaminya. Dorongan tidak pernah bisa membantu. Bila sebuah ban menjadi kempis, lebih baik Anda tidak menggelindingkannya, karena sema-kin Anda menggelindingkannya, ban itu akan semakin ru-sak. Namun siapa pun di antara kita tidak boleh menjadi ban kempis, sebaliknya, kita harus penuh dengan pneuma. Kita memiliki sebuah “pompa” di langit tingkat ketiga, dan kita bisa senantiasa diisi dengan pneuma surgawi. Bila ki-ta penuh dengan Roh, kita bisa berfungsi kapan saja. Fung-si kita ini bukanlah satu pertunjukan, melainkan merupa-kan kehidupan kita. Ketika saya dipenuhi dengan Roh itu hingga meluap-luap, saya menjadi aktif, agresif dan kelihat-an muda. Bahkan saya bisa menyampaikan suatu berita kepada setan-setan. Jika Iblis datang kepada saya, saya akan memberinya satu ajaran yang baik. Ketika kita dipenuhi dengan ketujuh kali Roh Allah di dalam gereja yang ter-bangun, ketujuh kali Roh Allah ini akan menjadi ekspresi Allah di dalam Kristus.

REPRODUKSI KAKI PELITA

Sekarang tibalah kita pada aspek keempat dari peng-alaman terhadap kaki pelita — reproduksi. Baik dalam Ki-tab Keluaran maupun dalam Kitab Zakharia, kaki pelita itu hanya satu. Tetapi dalam kitab kesimpulan ada tujuh kaki pelita yang melambangkan ketujuh gereja lokal. Ini menyatakan bahwa Kristus yang dilambangkan oleh kaki pelita dalam Kitab Keluaran, dan Roh Allah yang dilam-bangkan oleh ketujuh pelita yang terpasang pada kaki pe-lita dalam Kitab Zakharia, bukan hanya untuk menghasil-kan gereja universal, tetapi juga untuk reproduksi gereja-gereja lokal. Satu kaki pelita direproduksi menjadi tujuh kaki pelita. Semua gereja lokal sebagai banyak kaki pelita merupakan reproduksi Kristus dan Roh itu sebagai satu kaki pelita. Semakin banyak kritisi yang menentang gereja-gereja lokal, reproduksinya akan semakin banyak. Adanya penentangan malahan membuka jalan untuk perkembang-biakan selanjutnya. Jangan pedulikan penentangan. Perha-tikan saja substansi, pembangunan, dan ekspresi. Semakin kita memiliki ketiga perkara ini, kita akan semakin nam-pak adanya reproduksi. Apakah reproduksi itu? Reproduksi tidak lain adalah suatu penggandaan ekspresi Kristus yang ajaib sebagai Roh pemberi-hayat secara riil. Inilah repro-duksi gereja. Saya dengan gembira mengatakan bahwa saya mempunyai jaminan penuh, ini akan menyiapkan jalan bagi Tuhan untuk datang kembali. Melalui reproduksi ini, Tuhan akan mempunyai tempat berpijak ketika Ia datang kembali untuk mengambil alih seluruh bumi.