KETERANGKATAN KAUM BERIMAN (2)
I. KETERANGKATAN PARA PEMENANG
C. Berbagai Fakta
1. Yang Satu Dibawa dan yang Lain Ditinggalkan
Dalam Matius 24:39-42 kita nampak fakta keterangkat-an. Ayat 40 dan 41 mengatakan, “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Di sini kita nampak dua saudara di ladang dan dua saudari di penggilingan. Seorang saudara dan seorang saudari akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Beberapa di antara kita, terutama kaum muda, boleh jadi mengasihi Tuhan dan beranggapan bahwa mereka tidak perlu memperhatikan kehidupan insani mere-ka. Tetapi dalam ayat-ayat ini kita nampak dua saudara sedang bekerja di ladang dan dua saudari sedang memutar batu giling. Yang mereka lakukan itu adalah untuk men-cari makan. Selama kita masih hidup di bumi, kita tidak bisa mengabaikan kebutuhan makan ini. Kita harus beker-ja agar bisa makan. Karena itu, jika Anda sungguh-sung-guh mengasihi Tuhan, Anda harus menyadari bahwa se-mentara Anda mengasihi Dia, Anda tetap harus mencari nafkah bagi diri Anda sendiri. Dari dua orang yang bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, yang seorang akan dibawa dan yang seorang akan ditinggalkan. Dari luaran mereka kelihatannya sama, tetapi secara ba-tiniah mereka berbeda. Jika Anda membaca konteksnya, Anda akan nampak bahwa yang seorang berjaga-jaga dan bersiap sedia, sedang yang lainnya tidak. Yang satu bersiap sedia, yang lainnya tidak berjaga-jaga.
2. Anak Laki-laki Dilarikan kepada Allah
Fakta keterangkatan para pemenang juga tercantum dalam Wahyu 12:5. Ayat ini mengatakan, “Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.” Perhati-kan bahwa anak laki-laki itu bukan dilarikan ke angkasa, melainkan ke takhta Allah. Takhta Allah berada di langit tingkat ketiga. Keterangkatan ini akan terjadi sebelum tiga setengah tahun kesusahan besar (12:6, 14).
3. Seratus Empat Puluh Empat Ribu Orang Menjadi Buah Sulung bagi Allah dan Anak Domba
Fakta keterangkatan juga tercantum dalam 14:1-5. Di sana tercantum tentang seratus empat puluh empat ribu orang menjadi buah sulung bagi Allah dan Anak Domba. Se-bagai buah sulung, mereka dibawa ke dalam rumah Allah, Bait Allah di surga, bukan ke angkasa. Seratus empat pu-luh empat ribu orang itu akan diangkat ke Sion di surga sebelum Antikristus memaksa semua orang menyembahnya selama kesusahan besar.
Fakta mengenai keterangkatan para pemenang ini tidak bisa disangkal. Orang yang di ladang dan orang yang di penggilingan lebih dini diangkat daripada yang lain. Anak laki-laki dilarikan ke takhta Allah sebelum tiga setengah ta-hun yang terakhir, dan buah sulung diambil sebelum tuai-an. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa tuaian akan di-ambil pada saat yang sama seperti buah sulung. Seperti yang dijelaskan oleh Wahyu 14, buah sulung dituai terlebih dulu, kemudian tuaian dituai.
D. Waktunya
Sekarang kita akan melihat waktu pengangkatan para pemenang. Menurut Wahyu 3:10, peristiwa itu akan terjadi sebelum “hari pencobaan”. Selain itu, pasal 12 menyatakan bahwa anak laki-laki akan dilarikan ke takhta Allah sebe-lum tiga setengah tahun itu, yaitu sebelum kesusahan be-sar (12:5-6, 14, 17). Selanjutnya, seratus empat puluh empat ribu buah sulung akan berdiri di Bukit Sion sebelum Anti-kristus memaksa semua orang untuk menyembahnya dan menyembah patungnya pada saat kesusahan besar (14:1-5, 9-12). Jika Anda membaca pasal 14 dengan cermat, Anda akan nampak bahwa setelah buah sulung itu dibawa ke Bukit Sion di surga, Antikristus di bumi akan menegakkan patungnya di Bait Allah dan memaksa semua orang me-nyembahnya. Kalau Anda tidak mempercayai Alkitab, tidak akan ada perbantahan tentang hal ini. Jika kita percaya apa yang dikatakan Alkitab, kita harus mengakui bahwa sebagian orang Kristen akan diangkat ke surga tingkat ke-tiga, bukan ke angkasa, sebelum Antikristus menganiaya umat Allah.
E. Tempatnya
1. Berdiri di Hadapan Anak Manusia
Para pemenang akan diangkat ke hadapan Anak Manu-sia di surga (Luk. 21:36). Pada saat para pemenang diang-kat, Kristus masih belum meninggalkan surga dan turun ke angkasa. Tentu, Ia pun belum turun ke bumi. Para pe-menang yang telah mengalahkan jerat Iblis akan berdiri di hadapan Anak Manusia di surga.
2. Dibawa ke Takhta Allah
Seperti ditunjukkan 12:5, anak laki-laki akan dibawa ke takhta Allah di surga. Mungkin sebagian besar orang Kristen tahu bahwa 1 Tesalonika 4 mengatakan bahwa orang-orang yang masih hidup dan tertinggal akan diangkat ke angkasa. Tetapi di sini kita nampak bahwa anak laki-laki akan dibawa ke takhta Allah di surga.
3. Berdiri di Bukit Sion
Fakta bahwa buah sulung akan berdiri di Bukit Sion yang di surga juga membuktikan bahwa tempat para peme-nang pada saat diangkat adalah di surga. Semua ayat ini menyatakan bahwa para pemenang bukan diangkat ke ang-kasa, melainkan ke langit tingkat ketiga. Karena itu, baik mengenai waktu maupun tempat, keterangkatan terhadap para pemenang mutlak berbeda dengan keterangkatan ma-yoritas kaum beriman.
F. Syaratnya
1. Berjaga-jaga dan Senantiasa Berdoa
Sekarang kita melihat syarat keterangkatan terhadap para pemenang. Yang dimaksud dengan syarat di sini ada-lah sesuatu atau harga yang harus dibayar untuk keter-angkatan awal ini. Pertama-tama, kita harus berjaga-jaga dan senantiasa berdoa (Luk. 21:36). Berjaga-jaga dan senan-tiasa berdoa bukan berarti kita hanya berdoa dan tidak be-kerja, tidak makan dan tidak tidur. Maksudnya adalah se-mentara kita bekerja, kita mempunyai roh yang berdoa dan terus-menerus berdoa. Untuk memiliki doa yang berkesi-nambungan, kita tidak perlu berhenti bekerja. Jika Anda tidak mampu berdoa sementara Anda bekerja, maka doa Anda tentu tidak sejati, melainkan merupakan suatu per-tunjukan yang formal, yang agamawi. Doa yang paling baik adalah sementara Anda sibuk bekerja, Anda tetap menenga-dah kepada Tuhan dengan roh yang hidup. Inilah doa yang sejati dan yang riil. Kita semua bisa senantiasa berdoa.
Bahkan ketika saya berbicara, saya pun berdoa. Sewaktu Anda bersekutu dengan orang lain, Anda seharusnya juga berdoa. Kita perlu menjadi sekelompok orang yang memiliki roh doa dan yang berdoa. Kita perlu berdoa setiap waktu. Inilah artinya berdoa senantiasa.
2. Berjaga-jaga dan Siap sedia
Syarat kedua adalah kita harus berjaga-jaga dan siap sedia (Mat. 24:40-44; Luk. 12:35-40). Kita seharusnya bisa berkata, “Tuhan, aku memang sibuk bekerja, namun setiap saat aku siap Kauangkat. Tuhan, di sini aku membersih-kan segala barangku dan mengaturnya dengan rapi, namun aku tidak ingin tinggal di sini untuk selama-lamanya. Tuhan, aku siap diangkat.” Bisakah Anda berkata demikian kepada Tuhan? Siap, tidak berarti kita berhenti bekerja dan tidak melakukan apa-apa. Dalam abad yang lalu ada orang yang berbuat demikian. Pernah seorang pengajar memberi tahu orang-orang bahwa pada hari tertentu Kristus akan datang. Setelah mendengar itu, orang-orang segera mandi, member-sihkan diri seluruhnya, mengenakan jubah putih, dan tidak mengerjakan apa-apa selain berdoa. Itu bukan cara yang benar untuk menantikan kedatangan Tuhan. Cara yang benar adalah menempuh hidup yang normal. Alkitab tidak pernah menyuruh kita agar kita mandi, mengenakan jubah putih dan menunggu kedatangan Tuhan. Sebaliknya, Tuhan Yesus berkata bahwa tidak seorang pun yang mengetahui waktunya. Ketika dua orang saudara sedang bekerja di la-dang, sesuatu yang mengherankan terjadi, tiba-tiba salah seorang akan diangkat dan yang lainnya akan ditinggalkan.
Kita tidak seharusnya memahami Alkitab menurut konsepsi manusia kita. Banyak orang Kristen yang karena ingin menantikan kedatangan Tuhan memegang konsepsi yang salah, yaitu karena Tuhan segera datang, maka lebih baik mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak! Segala per-kara tergantung pada kehidupan yang normal dan juga pa-da persekutuan dengan Tuhan setiap saat dengan roh yang hidup. Katakanlah kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak mem-punyai ikatan apa pun di bumi ini. Aku siap diangkat ka-pan saja sesuai dengan waktu-Mu.” Inilah cara berjaga-jaga dan bersiap sedia.
3. Merindukan Kedatangan Tuhan
Syarat ketiga adalah merindukan kedatangan Tuhan. Dalam 2 Timotius 4:8 Paulus berkata, “Sekarang telah ter-sedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; te-tapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Paulus berkata bahwa mahkota kebenaran telah disediakan untuk semua orang yang merindukan kedatangan Tuhan. Kita perlu ber-kata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan merindukan kedatangan-Mu. Karena aku mengasihi Engkau, maka aku merindukan kedatangan-Mu.” Namun, merindukan kedatangan Tuhan tidak berarti kita tidak per-lu menempuh kehidupan dengan normal, malahan sebalik-nya, semakin merindukan kedatangan-Nya, kita semakin perlu pada hari ini menempuh kehidupan yang normal.
4. Menuruti Firman Ketekunan Tuhan
Syarat lainnya adalah menuruti firman ketekunan Tuhan (Why. 3:10). Untuk menjadi kesaksian Yesus, kita harus menuruti firman dalam Alkitab. Namun, jika kita melakukan hal ini, kita akan dianiaya. Sepanjang abad, kaum saleh dianiaya dan mati sebagai martir karena me-reka setia kepada firman Tuhan. Hari ini, kita juga harus setia kepada firman Tuhan. Kita tidak mengikuti berbagai tradisi atau memperhatikan agama. Kita hanya mau fir-man Tuhan, yaitu firman ketekunan-Nya. Karena itu, kita menderita aniaya. Untuk ini kita memerlukan ketekunan Tuhan. Kita harus menahan penganiayaan dari agama. Firman yang kita turuti adalah firman ketekunan Tuhan.
5. Menang dan Melakukan Pekerjaan Tuhan
Terakhir, jika kita ingin berbagian dalam keterangkat-an yang pertama, kita harus menang atas kekristenan yang telah merosot dan melakukan pekerjaan Tuhan. Dalam 2:26 Tuhan berkata kepada orang-orang yang ada di Tiatira, “Siapa yang menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa.” Tak seorang pun dapat membantah fakta bahwa gereja di Tiatira (kekristenan tertentu) telah meno-lak pekerjaan Tuhan. Apakah pekerjaan Tuhan itu? Perta-ma-tama, kematian-Nya di atas salib. Tetapi gereja di Tiatira justru menolak hal ini, karena gereja ini tidak mengajar orang untuk bersandar dan percaya kepada kematian Tuhan bagi keselamatan mereka. Sebaliknya, mengajar orang un-tuk berdoa kepada orang-orang tertentu yang mereka sebut sebagai “orang suci” (santo), untuk menyumbangkan uang, berkelakuan baik, dan bahkan untuk melakukan tirakat atau pertapaan. Dengan berbuat demikian, gereja ini mengabaikan pekerjaan Tuhan dalam penyaliban-Nya un-tuk penebusan kita. Gereja ini juga meremehkan kebangkit-an Tuhan, sama sekali melupakan apa yang telah Tuhan kerjakan. Aliran ini bahkan mengajarkan bahwa dengan mempersembahkan uang, seseorang bisa memperpendek waktu pencucian dosa sanak saudaranya di dalam purgatori (tempat penyucian dosa). Inilah sebuah contoh meremehkan apa yang telah Tuhan kerjakan melalui kebangkitan-Nya. Dalam surat untuk Tiatira, Tuhan seolah-olah berkata, “Kalian harus menang atas aliran ini dan menerima peker-jaan-pekerjaan-Ku. Kalian harus menerima semua yang te-lah Kulakukan bagi kalian. Kalian tidak seharusnya menyem-bah Maria, melainkan menerima penebusan-Ku, kenaikan-Ku, dan hal berhuni-Ku. Semua itu adalah pekerjaan-Ku. Jangan-lah mempercayai perbuatan-perbuatan baik kalian — seper-ti sumbangan-sumbangan kalian, doa-doa kalian kepada orang suci, puasa, dan tirakat kalian.” Meskipun firman Tuhan mengatakan demikian, namun mereka yang di dalam gere-ja di Tiatira tetap tidak mau menerima pekerjaan Tuhan.
Kita harus menang atas aliran ini dan menerima se-mua yang telah Tuhan lakukan bagi kita. Jangan sekali-kali menyembah Maria, ia hanyalah seorang saudari, dan kita memang seharusnya hanya menyebutnya demikian. Kita sekali-kali tidak dapat menyebutnya sebagai “bunda kudus Maria”. Ia bukanlah ibu dari Allah, dan sungguh me-ngerikan bila kita menyebutnya begitu. Aliran ini mengajar-kan bahwa Kristus adalah Anak Maria, tetapi dalam surat untuk Tiatira, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah Anak Allah (2:18). Karena ajaran aliran ini memandang remeh segala pekerjaan Kristus, maka orang-orang yang berada dalam aliran ini tidak akan diangkat sebelum kesusahan besar. Sebaliknya, menurut Wahyu 17:16, Allah akan memakai Antikristus dan kesepuluh rajanya untuk membunuh banyak orang yang ada dalam gereja di Tiatira. Dalam 2:23 Tuhan Yesus menubuatkan tentang mereka yang ada di Tiatira, “Anak-anaknya pun akan Kubunuh.” Jadi mereka itu tidak akan diangkat. Kita harus menang atas aliran yang telah jatuh dan kembali sepenuhnya kepada pekerjaan Tuhan Yesus. Dia telah mati bagi kita, telah bangkit, dan telah naik ke surga, dan akan kembali bagi kita. Kita ha-rus menerima segala pekerjaan-Nya sampai kesudahannya.
II. KETERANGKATAN MAYORITAS KAUM BERIMAN
Sekarang kita sampai kepada keterangkatan mayoritas kaum beriman.
A. Fakta
Fakta keterangkatan mayoritas kaum beriman adalah “tuaian telah masak” (14:14-16). Dalam 14:1-5 kita nampak buah sulung dibawa ke Bukit Sion di surga. Dalam ayat 6-13 disebutkan penganiayaan di bawah pimpinan Antikristus, yang mendirikan patungnya dan memaksa semua orang menyembahnya. Setelah itu kita diberi tahu bahwa tuaian telah masak. Jadi, menurut Wahyu 14, terdapat dua jenis keterangkatan: keterangkatan buah sulung dan keterang-katan tuaian.
B. Orang yang Diangkat
1. Kaum Saleh yang Dibangkitkan
Orang-orang yang diangkat dalam keterangkatan ma-yoritas kaum beriman, pertama-tama adalah kaum saleh yang telah dibangkitkan (1 Tes. 4:15; 1 Kor. 15:23). 1 Tesalonika 4:15 mengatakan bahwa mereka “yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal”. Pada saat sangkakala terakhir ditiup, yaitu sangkakala ketujuh, kaum saleh yang telah mati akan dibangkitkan, dan bersa-ma kaum saleh yang masih hidup, mereka semua akan dibawa ke angkasa menjumpai Tuhan di sana.
2. Kaum Beriman yang Hidup, yang Masih Tinggal
1 Tesalonika 4:15 dan 17 mengatakan tentang me-reka yang “hidup, yang masih tinggal”. Ungkapan ini mem-beri kesan yang mendalam dan luas, sebab dalam ungkapan ini tersirat bahwa terdapat sebagian orang yang masih hidup yang sudah tidak tinggal di bumi ini. Jika tidak demikian, pastilah Paulus tidak akan pernah menggunakan istilah “yang masih tinggal”; ia hanya akan menggunakan istilah “hidup”. Ini menunjukkan bahwa kaum saleh yang masih hidup dibedakan menjadi dua kategori: yaitu mereka yang hidup tetapi tidak lagi tinggal di bumi, dan mereka yang hidup dan masih tinggal di bumi. Orang-orang hidup yang tidak lagi tinggal di bumi adalah orang-orang yang sudah diangkat. Pada saat itu, sebagian kaum saleh yang masih hidup diangkat ke takhta Allah di langit tingkat ketiga.
C. Waktunya
1. Pada Saat Sangkakala Terakhir
Keterangkatan mayoritas kaum beriman akan terjadi pada sangkakala terakhir, yaitu sangkakala ketujuh, men-jelang akhir kesusahan besar (1 Kor. 15:52; 1 Tes. 4:16; Why. 10:7; 11:14-15). Ada yang berkata bahwa sangkakala terakhir dalam 1 Tesalonika 4 dan 1 Korintus 15 bukanlah sangkakala ketujuh dalam Wahyu 11, melainkan sangka-kala lainnya, boleh jadi mirip dengan sangkakala yang di-tiup untuk pergerakan pasukan Yahudi. Tafsiran semacam itu aneh. Saya tidak mengerti bagaimana orang-orang bisa menerimanya, karena tafsiran itu tidak sesuai dengan Alki-tab. Sewaktu Rasul Paulus menulis 1 Korintus 15, ia mem-bicarakan sangkakala terakhir. Percayakah Anda kalau sangkakala yang dimaksud oleh Paulus ini adalah sangka-kala terakhir dari pasukan Yahudi? Sungguh tidak masuk akal! Dari mana mereka memperoleh konsepsi seperti itu? Cara menafsirkan Alkitab yang keliru! Mereka menafsir-kan begitu karena kepada orang banyak mereka katakan bahwa semua orang kudus akan diangkat sebelum kesusah-an besar. Tetapi mereka tahu bahwa sangkakala terakhir, yaitu sangkakala ketujuh, akan ditiup menjelang akhir ke-susahan besar. Jadi, untuk mengatakan bahwa semua orang kudus akan diangkat sebelum kesusahan besar, mereka harus mengatakan bahwa sangkakala terakhir dalam 1 Korintus 15 dan 1 Tesalonika 4 bukanlah sangkakala ter-akhir dalam Kitab Wahyu. Mereka menyimpang dari kebe-naran Alkitab yang menyatakan bahwa mayoritas kaum beriman akan diangkat pada saat sangkakala ketujuh ditiup, yang merupakan sangkakala terakhir, menjelang akhir kesusahan besar. Karena itu, ajaran yang mengatakan bahwa semua orang beriman akan diangkat sebelum kesusahan besar mutlak tidak sesuai dengan Alkitab.
2. Setelah Manusia Durhaka, Antikristus, Dinyatakan
Pengangkatan terhadap mayoritas kaum beriman akan terjadi setelah manusia durhaka, Antikristus, dinyatakan (2 Tes. 2:1-4). Dua Tesalonika 2 memberi kita dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa keterangkatan mayoritas kaum beriman akan terjadi pada akhir kesusahan besar. Potongan firman ini dengan tegas mengatakan sebelum kaum saleh diangkat, manusia durhaka, Antikristus, akan dinya-takan dan ia akan duduk di Bait Allah, “mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tes. 2:4). Penyembahan berhala ini akan terjadi sebelum keterangkatan mayoritas kaum ber-iman. Setiap kali orang-orang dari golongan Newton menun-jukkan ayat-ayat ini kepada orang-orang dari golongan Darby, orang-orang dari golongan Darby itu merasa kesulitan. Darby berpendapat bahwa semua orang beriman akan di-angkat sebelum kesusahan besar, tetapi seperti yang telah ditunjukkan oleh golongan Newton, Antikristus haruslah dinyatakan terlebih dulu dan mendirikan patungnya di dalam Bait Suci serta memaksa orang banyak menyembah-nya; hal ini terjadi sebelum Tuhan datang kembali dan kaum saleh dikumpulkan kepada-Nya. Ketika potongan fir-man ini dikemukakan, mulut guru-guru yang mengatakan bahwa semua orang beriman akan diangkat sebelum kesu-sahan besar menjadi bungkam.
3. Setelah Binatang itu, Antikristus,
Memaksa Orang Banyak Menyembah Dia dan Patungnya pada Masa Kesusahan Besar
Keterangkatan mayoritas kaum beriman akan terjadi setelah binatang itu, Antikristus, memaksa orang banyak menyembah dia dan patungnya pada masa kesusahan besar (14:9-16). Hal ini dengan jelas diwahyukan dalam Wahyu 14.
4. Setelah Iblis Berperang Melawan Umat Allah Lainnya
Keterangkatan ini juga akan terjadi setelah Iblis, naga besar itu, memerangi umat Allah lainnya pada masa kesu-sahan besar (12:17, 14, 5). Hal ini akan terjadi setelah ke-terangkatan anak laki-laki. Menurut Wahyu 12, anak laki-laki akan dilarikan ke takhta Allah pada awal tiga sete-ngah tahun yang terakhir. Kira-kira tiga setengah tahun kemudian, mayoritas keturunan perempuan itu akan diang-kat. Ini berarti setelah anak laki-laki diangkat, keturunan lainnya dari perempuan itu akan mengalami aniaya dari Iblis. Karena itu, mayoritas kaum beriman masih tinggal di bumi dan akan diangkat pada akhir kesusahan besar.
5. Pada Akhir Zaman
Pengangkatan mayoritas kaum beriman akan terjadi pada “akhir zaman” (Mat. 13:39). Akhir zaman adalah akhir dari kesusahan besar. Menurut Matius 13:39, saat itu me-rupakan saat penuaian. Kristus datang untuk menaburkan benih di ladang agar menghasilkan tuaian bagi Allah. Tuai-an ini akan dituai pada akhir zaman ini. Akhir zaman ini adalah ketiga setengah tahun yang terakhir itu. Sejak pembangunan kembali kota Yerusalem, ditetapkanlah satu periode waktu yang terdiri dari tujuh puluh kali tujuh ma-sa. Keenam puluh sembilan kali tujuh masa yang di depan, dimulai dari keputusan untuk membangun kembali Yerusalem hingga penyaliban Kristus, meliputi waktu selama empat ratus delapan puluh tiga tahun. Setelah penyaliban Kristus, ada satu selang waktu yang panjang. Akhirnya, selang waktu itu akan diakhiri, dan satu kali tujuh masa yang terakhir, yaitu tujuh tahun yang terakhir, akan dimulai. Paruh terakhir dari satu kali tujuh masa terakhir, yaitu dari salib hingga akhir kesusahan besar, akan menjadi ke-sudahan zaman Perjanjian Baru. Tak seorang pun mengeta-hui betapa panjangnya kekosongan waktu antara penyaliban Kristus hingga dimulainya satu kali tujuh masa yang ketu-juh puluh. Tetapi Daniel 9 mengungkapkan dengan jelas bahwa zaman ini akan berakhir dengan satu kali tujuh ma-sa terakhir itu. Kesudahan zaman ini adalah paruh ter-akhir dari ketujuh tahun ini. Menjelang akhir dari ketiga setengah tahun ini, mayoritas kaum beriman akan diang-kat. Para pemenang akan diangkat beberapa waktu sebe-lum tiga setengah tahun yang terakhir itu. Waktunya ti-daklah diketahui. Di satu pihak, waktu keterangkatan para pemenang tidak diketahui; namun di pihak lain, waktu ke-terangkatan terhadap mayoritas kaum beriman bisa diketa-hui, karena kita diberi tahu bahwa hal itu akan terjadi pada sangkakala ketujuh, yaitu menjelang akhir kesusahan besar.
D. Tempatnya
Sekarang kita sampai ke tempat tujuan keterangkatan mayoritas kaum beriman. 1 Tesalonika 4:17 mewahyukan bahwa tempat itu adalah “di angkasa”, dan Wahyu 14:14-16 menyatakan “di atas awan”. Para pemenang akan diangkat ke takhta, ke hadapan Anak Manusia di langit tingkat ketiga. Tetapi 1 Tesalonika 4 memberi tahu kita dengan je-las bahwa mayoritas kaum beriman akan diangkat ke ang-kasa, sedang Wahyu 14 mewahyukan bahwa tuaian akan dibawa ke awan-awan. Pada saat itu, Kristus tidak lagi me-ngenakan selubung awan-awan, melainkan akan duduk di atas awan-awan di angkasa.
E. Syaratnya
Diangkatnya mayoritas kaum beriman adalah karena tuaian itu telah masak. Wahyu 14:15 mengatakan, “Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu, ‘Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.’” Jadi, kematangan merupakan syarat bagi keterangkatan mayoritas kaum beriman.
III. DUA KETERANGKATAN LAINNYA
Di samping kedua macam keterangkatan ini, keterangkatan para pemenang dan keterangkatan mayoritas kaum beriman, masih ada dua jenis lainnya: keterangkatan dua orang saksi (11:12) dan keterangkatan kaum saleh yang akan mengalahkan binatang itu, patungnya, dan bilangan namanya (15:2).