BATU BERMATA TUJUH UNTUK PEMBANGUNAN ALLAH BATU YANG TELAH DIUKIR
Zakharia 3:9 mengatakan, “Lihatlah, batu yang telah Kuletakkan di hadapan Yosua — batu yang bermata tujuh. Sesungguhnya Aku akan mengukirkan ukiran di atasnya, demikianlah firman TUHAN semesta alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja” (Tl.) Di sini dikatakan tentang mengukir batu, menyatakan bahwa batu ini adalah Kristus. Perihal mengukir batu ini sulit dipahami. Secara sederhana dapat dikatakan, Tuhan Yesus adalah batu untuk pembangunan, batu yang telah di-ukir, ditanggulangi oleh Allah di atas salib untuk mengha-puskan dosa-dosa umat Allah. Dalam satu hari, melalui pengukiran di atas salib, Tuhan Yesus telah menghapus se-mua dosa umat Allah. Hal ini sesuai dengan Yohanes 1:29, yang mengatakan, “Lihatlah, Anak Domba Allah, yang meng-hapus dosa dunia!” Melalui Zakharia 3:9 bagian akhir, kita tahu bahwa batu yang bermata tujuh itu adalah Kristus.
TUJUH MATA DAN TUJUH PELITA
Zakharia 4:2 mengatakan, “Maka berkatalah ia kepada-ku: ‘Apa yang engkau lihat?’ Jawabku: ‘Aku melihat: tam-pak sebuah kandil (kaki pelita), dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu.’” Dalam Zakharia 3:9, batu untuk pembangunan itu bermata tujuh, sedang dalam ayat ini, kandil (kaki pelita) itu memiliki tujuh pelita. Jika kita menggunakan roh kita untuk melihat hal ini, kita akan tahu bahwa kaki pelita itu juga adalah batu itu. Keduanya adalah Kristus. Jelas sekali, batu adalah untuk pembangun-an, dan kaki pelita adalah untuk bercahaya, memancarkan terang. Di atas batu itu ada tujuh mata, dan di atas kaki pelita ada tujuh pelita. Karena itu, ketujuh pelita dari kaki pelita itu pasti adalah ketujuh mata pada batu itu.
Beralih kepada Zakharia 4:10, ayat ini mengatakan, “Sebab siapa yang memandang hina (remeh) hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi.” Ayat ini diawali dengan “hari peristiwa-peristiwa yang kecil”. Dalam pan-dangan manusia, pemulihan pembangunan bukanlah suatu perkara yang besar. Namun, tidak seorang pun boleh me-mandang remeh perkara itu. Demikian juga, dalam pan-dangan manusia, pemulihan hidup gereja hari ini bukanlah suatu perkara besar, mereka menganggapnya hal yang ke-cil. Tetapi tidak seorang pun boleh memandang remeh hal ini. Ayat ini juga membicarakan tentang “yang tujuh ini”, yang ditujukan kepada ketujuh pelita dalam ayat 2. Kemu-dian kita diberi tahu bahwa “yang tujuh ini” adalah “mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi”. Ini membuktikan bahwa batu bagi pembangunan dengan ketujuh mata itu tidak lain adalah Yehova, Tuhan Allah sendiri.
KETUJUH ROH ALLAH
Setelah memiliki pengertian di atas, baiklah kita balik ke Kitab Wahyu. Saya ulangi lagi, kebanyakan di antara lambang-lambang dan butir-butir penting lainnya dalam Kitab Wahyu bukanlah hal baru, itu merupakan perkem-bangan lanjutan dari hal-hal yang terdapat dalam Perjan-jian Lama. Dalam Wahyu 4—5, kita melihat perkembang-an yang lebih baru dan lebih lanjut dari ketujuh mata dan ketujuh pelita. Wahyu 4:5 mengatakan, “Dari takhta itu ke-luar kilat dan bunyi (suara-suara) guruh yang menderu, dan tujuh obor (pelita) menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah.” Perhatikan, ketujuh pelita di sini bukan terletak di atas kaki pelita, melainkan me-nyala-nyala di hadapan takhta itu. Ketujuh pelita yang me-nyala-nyala di hadapan takhta itu adalah ketujuh Roh Allah. Dalam Zakharia 3—4 ada ketujuh mata dan ketujuh pelita, bukan ketujuh Roh. Namun, dalam Kitab Wahyu, ketujuh pelita ini telah berkembang menjadi ketujuh Roh. Jadi, da-lam Kitab Wahyu kita memiliki suatu perkembangan yang baru dan lebih lanjut dari ketujuh pelita itu sebagai ke-tujuh Roh. Dalam Wahyu 4:5 kita dengan tegas diberi tahu bahwa ketujuh pelita itu adalah ketujuh Roh Allah.
Wahyu 5:6 mengatakan, “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” Anak Domba di sini memiliki tujuh mata, yang adalah ketujuh Roh Allah. Dalam Wahyu 4:5 ketujuh obor (pelita) adalah ketujuh Roh Allah, dan dalam 5:6 ketujuh mata Anak Dom-ba adalah ketujuh Roh Allah. Di sini kita kembali memiliki perkembangan lebih lanjut yang melampaui Kitab Zakharia, karena ketujuh mata itu bukan hanya ketujuh mata yang terdapat pada batu itu, tetapi juga ketujuh mata Anak Domba. Ketujuh mata Anak Domba ini adalah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Ini berdasarkan Zakharia 4:10, yang mengatakan bahwa ketujuh mata TUHAN “men-jelajah ke seluruh bumi”. Dalam Zakharia 3—4 kita nam-pak ketujuh mata pada batu itu, ketujuh pelita pada kaki pelita, dan ketujuh mata TUHAN. Jadi, TUHAN adalah batu itu, dan batu itu adalah juga kaki pelita itu. Batu itu adalah kaki pelita juga Tuhan Allah itu sendiri. Ketiganya — TUHAN, kaki pelita, dan batu — adalah satu. Dalam Ki-tab Zakharia, kita nampak bahwa ketujuh mata itu adalah ketujuh pelita. Tetapi ketika kita sampai kepada perkem-bangan selanjutnya dalam Kitab Wahyu, ketujuh pelita (obor) tidak lagi hanya pada kaki pelita, tetapi juga menya-la-nyala di depan takhta itu. Ketujuh obor itu adalah ketu-juh Roh Allah. Akhirnya, ketujuh Roh ini merupakan ketu-juh mata Anak Domba yang adalah pusat administrasi Allah. Kiranya kita semua mempunyai kesan yang dalam terhadap gambaran ini.
SEGALA SESUATU
UNTUK PEMBANGUNAN ALLAH
Menurut konteks Kitab Zakharia dan Kitab Wahyu, se-muanya ini adalah untuk pembangunan Allah. Batu dan kaki pelita telah disebutkan dalam Kitab Zakharia pada saat Zerubabel membangun kembali Bait Suci. Dalam Ki-tab Wahyu, kita terlebih dulu memiliki ketujuh kaki pelita yang melambangkan ketujuh gereja lokal. Kemudian, kita melihat takhta, dan di hadapannya ada tujuh obor (pelita) yang menyala-nyala. Terakhir, takhta ini menjadi pusat Yerusalem Baru. Ini mewahyukan bahwa Yerusalem Baru itu dihasilkan melalui ketujuh Roh yang menyala-nyala di depan takhta itu. Dari semuanya ini kita nampak bahwa ketujuh mata, ketujuh pelita, ketujuh Roh, batu, kaki peli-ta, TUHAN, Allah, dan Anak Domba, semuanya adalah un-tuk pembangunan. Pembangunan ini menghasilkan Bait Suci, yaitu gereja hari ini, dan yang adalah Yerusalem Ba-ru, tempat kediaman Allah yang kekal, dalam kekekalan.
Andaikata kita hanya memiliki dua buah kitab, Kitab Injil Yohanes dan Kitab Wahyu, yang keduanya ditulis oleh Rasul Yohanes. Kita membaca kitab-kitab ini berkali-kali, apakah yang akan kita lihat? Baiklah kita mulai dengan Yohanes 1:1 yang mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah,” dan ayat 14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi daging dan berkemah di antara kita . . . penuh anugerah dan realitas” (Tl.). Ayat 29 mengatakan, “Lihat-lah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Me-nurut Yohanes 1, banyak kata yang dipakai untuk meng-gambarkan Dia: Firman, Allah, daging, dan Anak Domba. Ayat 4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Pada-Nya juga terdapat anugerah dan realitas. Ketika Petrus dibawa ke hadapan Sang ajaib ini, Dia mengubah nama Simon menjadi Kefas, yang ber-arti batu (ayat 42). Ketika Natanael menjumpai-Nya, Ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (ayat 51). Kata-ka-ta ini mengingatkan kita kepada mimpi Yakub, yang inti-nya adalah Betel (Kej. 28:10-22). Yohanes 1, terentang dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan mendatang, me-liputi sangat banyak perkara. Dalam kekekalan yang lam-pau ada Firman, dan dalam kekekalan mendatang akan ada Betel, rumah Allah, tempat kediaman Allah, yang akan menjadi Yerusalem Baru. Pasal 1 ini mencakup kekekalan sampai kekekalan. Sudah tentu, Yohanes menempatkan ke-dua puluh pasal lainnya untuk mengembangkan semua bu-tir yang tercantum dalam pasal 1.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Yohanes telah tua dan dibuang ke Pulau Patmos, Tuhan menyuruhnya menu-lis Kitab Wahyu, bukan saja merupakan tulisannya yang terakhir, tetapi juga merupakan kitab yang terakhir dari seluruh Alkitab. Wahyu 1:4-5 mengatakan, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu . . . dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya.” Dalam pasal 4 dan 5 kita nampak ketujuh Roh adalah ketujuh pelita dan ketu-juh mata yang tercantum dalam Kitab Zakharia. Ketujuh pelita, yang menurut Kitab Zakharia, merupakan ketujuh mata pada batu itu dan ketujuh mata TUHAN, sekarang adalah ketujuh Roh Allah, dan ketujuh Roh Allah adalah ketujuh mata Anak Domba yang menebus kita. Wahyu 5:5 dan 6 menunjukkan bahwa Anak Domba penebus ini adalah Singa yang menang. Sebagai Singa yang menang, Ia telah mengalahkan musuh Allah dengan mutlak. Semua musuh — ular dan kalajengking — telah ditelan oleh Singa itu. Karena Ia telah mengalahkan semua musuh, Ia layak men-jadi Anak Domba penebus. Sebagai Anak Domba, Ia telah menghapus semua dosa, kesalahan, dari umat Allah pada hari Allah mengukir-Nya di salib. Karena Ia telah mengge-napkan hal ini sebagai Anak Domba penebus, maka akhir-nya Ia menjadi batu bagi pembangunan. Ketika orang-orang Yahudi yang sebagai tukang-tukang bangunan itu menolak Dia, dalam pandangan Allah, mereka bukan saja menolak Anak Domba itu, tetapi juga menolak batu penjuru bagi pembangunan Allah. Pada hari kematian-Nya, Ia adalah Anak Domba, tetapi pada hari kebangkitan-Nya, Allah menja-dikan Dia kepala batu penjuru. Jadi, setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Ia sekarang adalah Singa-Anak Domba-batu. Semua musuh telah dikalahkan, semua dosa telah di-singkirkan, dan Ia telah menjadi batu bagi pembangunan Allah. Pada batu ini terdapat tujuh mata, yang bersinar dan menyala-nyala di hadapan takhta Allah untuk meram-pungkan ekonomi kekal Allah. Hari ini, masalahnya bukan hanya tentang Singa atau Anak Domba, melainkan tentang batu itu. Di manakah kita hari ini? Apakah kita hanya bersama Singa dan Anak Domba, atau kita bersama batu itu? Kebanyakan orang Kristen hanya bersama Anak Dom-ba; sangat sedikit yang bersama Singa itu. Kebanyakan ki-dung mengatakan, “Domba layak!”, tetapi saya menginginkan kidung yang mengatakan, “Singa layak!” Kita juga perlu memiliki kidung yang bersyair, “Batu yang layak!” dan “Ke-tujuh mata yang layak!” Betapa kurangnya hal-hal ini da-lam kekristenan hari ini! Banyak orang berdebat, berban-tahan, dan bahkan bertengkar, namun sama sekali tidak mengetahui bahwa Kristus adalah batu bagi pembangunan.
MENGALAMI KETUJUH PELITA,
KETUJUH MATA, DAN KETUJUH ROH
Sekarang kita beralih kepada ketujuh mata yang terda-pat pada batu itu. Kita telah nampak bahwa ketujuh mata adalah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Ketujuh mata ini, seperti ketujuh pelita, menyala-nyala di hadapan takhta. Tidak diragukan, perihal menyala-nyala ini adalah untuk menerangi, memeriksa, menyingkapkan, dan menghakimi. Kalau pelita adalah untuk penghakiman, maka ketujuh mata adalah untuk mentransfusi dan meng-infus. Saat mata saya menatap Anda, entah saya merasa senang atau sedih, kedua mata saya akan mentransfusikan sesuatu yang berasal dari diri saya ke dalam Anda. Mata saya bukanlah pelita untuk membakar, melainkan untuk mentransfusikan. Seorang saudara yang bekerja sebagai tu-kang set huruf, (penyusun huruf), menggunakan mesin yang disebut “phototypesetter”. Mesin ini bisa mengopi huruf-hu-ruf dari lembaran naskah ke atas kertas foto yang peka. Empat buah lampu yang menyala, yang mirip dengan em-pat buah mata, mengirimkan pancaran sinar yang kemu-dian dipantulkan melalui dua buah cermin kepada kertas foto itu. Dengan cara ini gambaran yang persis sama de-ngan huruf-huruf aslinya akan tercetak pada kertas foto itu. Kita bisa mengatakan bahwa melalui proses ini gambar pada naskah itu ditransfusikan ke atas kertas tersebut. Demikian pula, melalui ketujuh mata, sesuatu yang dari Kristus ditransfusikan ke dalam kita.
Kita tidak hanya memiliki ketujuh pelita yang menya-la-nyala, memeriksa, menyingkapkan, dan menghakimi, memiliki ketujuh mata untuk mentransfusi, tetapi juga me-miliki ketujuh Roh untuk menyalurkan hayat. Karena Roh itu adalah Roh hayat (Rm. 8:2), maka ketujuh Roh itu terutama adalah untuk menyalurkan hayat. Jika kita hanya memiliki tujuh pelita dan tidak memiliki ketujuh mata atau ketujuh Roh, kita akan hangus. Ketujuh pelita bukan sekadar tujuh pelita saja, tetapi juga merupakan tujuh mata yang mentransfusi dan menginfus kita, dan juga ke-tujuh Roh yang menyalurkan hayat ke dalam kita. Puji Tuhan, karena penerangan-Nya, pemeriksaan-Nya, penying-kapan-Nya, dan penghakiman-Nya adalah untuk menyalur-kan hayat. Ia bukan hanya ketujuh pelita, tetapi juga ke-tujuh Roh.
Perhatikan pengalaman Anda. Ketika kita menempuh hidup gereja, kita semua merasakan sesuatu yang bersinar di batin kita, di atas kita, dan di sekeliling kita. Penyinar-an ini memeriksa, menyingkapkan, dan bahkan mengha-kimi kita. Setiap orang yang menempuh hidup gereja meng-alami penyinaran ini, yang memeriksa dan menghakimi segala perkara yang tersembunyi di dalam diri kita. Bila segala perkara yang tersembunyi itu telah tersingkap, kita dihakimi. Tetapi puji Tuhan, melalui penghakiman ini, ha-yat pun disalurkan ke dalam kita. Mungkin dulu kita be-lum memiliki istilah “diinfus” oleh firman, tetapi kita telah dengan jelas mengalaminya. Sejak saat itu, kita merasa Tuhan Yesus demikian indah. Karena infus itu, kita mulai mengasihi Tuhan lebih daripada yang sebelumnya.
Pengalaman ini adalah untuk pembangunan. Hanya ada satu tempat yang memungkinkan kita memiliki peng-alaman seperti ini, yaitu Betel. Dengan penuh keyakinan saya berani berkata bahwa jika maksud Anda bukan bagi pembangunan Allah, Anda pasti tidak akan memiliki peng-alaman ini. Mendengar perkataan ini, mungkin ada yang berkata, “Tuhan tidaklah sesempit engkau.” Dalam bebe-rapa hal, Tuhan bahkan lebih sempit daripada saya; Ia le-bih keras dan tegas. Anda takkan bisa mengalami semua perkara yang kita gambarkan dalam berita ini, kalau Anda tidak berada di Betel. Saat kita berniat pergi ke Betel, kita akan seperti Yakub, akan mengalami perkara-perkara ini. Hanya di gereja lokallah kita bisa mengalami segala per-kara tentang tempat kediaman Allah. Pengalaman ini tidak bisa kita jumpai di tempat lain.
MENGALAMI ALLAH TRITUNGGAL
BAGI PEMBANGUNAN ALLAH
Kita kembali lagi ke masalah tritunggal. Menurut peng-ajaran tradisional, tritunggal ini, yaitu Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga persona yang terpisah dan yang berlainan. Dari pengertian yang baik dan positif, saya setuju dengan hal itu. Saya sendiri juga menggunakan istilah itu. Sebagai contoh, salah satu dari syair kidung tulisan saya mengata-kan, “Bapa, Putra, dan Roh itulah Allah. Tiga person, tapi esa saja.” Saya hafal semua perkara ini. Dalam pengajaran tradisional, Putra adalah persona yang kedua, dan Roh adalah persona yang ketiga. Tetapi dalam Kitab Wahyu, Roh Kudus telah menjadi ketujuh Roh. Pernahkah Anda nampak bahwa ketujuh Roh ini adalah ketujuh mata per-sona yang kedua? Lalu, bagaimanakah ketujuh Roh ini bisa menjadi persona yang terpisah? Apakah persona kedua dan ketujuh Roh itu, yaitu mata dari persona kedua, adalah dua persona yang terpisah? Kita benar-benar tidak dapat memahami tritunggal ini dengan menggunakan istilah-isti-lah tradisional. Semakin kita menggunakan istilah-istilah itu, kita akan semakin kabur. Mengatakan bahwa ketujuh Roh adalah ketujuh mata dari persona kedua bukanlah penafsiran atau definisi saya; ini adalah gambaran dari pembacaan ayat-ayat dalam Kitab Wahyu. Orang-orang yang berada dalam Konsili Nicea mungkin tidak jelas tentang ketujuh Roh ini. Karena mereka sendiri tidak jelas, bagai-mana kita bisa mengikuti pengakuan iman mereka? Jika kita mengikutinya, maka kita adalah orang buta. Kita ti-dak mengikuti sesuatu dengan membabi buta. Para penen-tang kita berkata bahwa mereka mempercayai pengakuan iman itu, tetapi kita percaya kepada firman murni dalam Alkitab. Jika para Bapak gereja sebermula nampak bahwa Roh Kudus adalah ketujuh Roh itu, yang merupakan mata dari persona kedua, mereka pasti tidak akan mau meru-muskan pengakuan iman itu. Mereka akan nampak bahwa mereka mustahil mampu membuat pengakuan iman. Peng-akuan iman mana saja yang kekurangan firman yang ada dalam Alkitab, tidaklah sempurna. Selama lebih dari lima puluh tahun ini, kita menyatakan bahwa kita tidak me-merlukan pengakuan iman. Satu-satunya pengakuan iman kita adalah Kitab Suci dengan kedua perjanjiannya. Sudah tentu, ketika kita menyatakan hal ini lebih dari lima puluh tahun yang silam, kita tidak mengetahui tentang ketujuh Roh itu. Kita baru mengetahuinya kira-kira dua puluh ta-hun yang lalu. Kemudian secara berangsur-angsur, sekitar dua belas tahun yang lalu, perkara ini menjadi sangat jelas.
Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada pe-nentang-penentang kita, “Tidakkah kalian percaya bahwa Roh Kudus, yang merupakan persona ketiga, dalam Kitab Wahyu disebut ketujuh Roh? Tetapi ketujuh Roh itu adalah mata dari persona kedua. Lalu apakah Mereka merupakan dua persona yang terpisah?” Saya bukan berdebat soal dok-trin; saya sedang membicarakan realitas bagi pembangunan Allah. Bagi kita hari ini, tritunggal seharusnya bukan per-kara doktrin, melainkan menjadi pengalaman terhadap Allah Tritunggal yang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita.
Menurut Injil Yohanes, kita nampak bahwa Firman yang kekal, yang adalah Allah, telah menjadi daging; dan daging ini tidak lain adalah Anak Domba Allah. Dalam Ki-tab Wahyu kita nampak bahwa Anak Domba ini telah men-jadi Singa. Anak Domba itu juga merupakan batu yang ber-mata tujuh, dan mata itu merupakan tujuh pelita yang menerangi, memeriksa, menyingkapkan, dan menghakimi. Ketujuh pelita juga merupakan ketujuh Roh Allah yang menyalurkan hayat ke dalam orang-orang yang telah diha-kimi. Selanjutnya, ketujuh Roh juga adalah ketujuh mata Sang Penebus, yang mentransfusi dan menginfuskan apa adanya diri-Nya dan apa yang telah digenapkan-Nya ke da-lam diri kita, sehingga kita memiliki sifat-Nya, menjadi se-buah batu bagi pembangunan Allah. Jangan puas dengan berbagai pengajaran tradisional dan juga jangan berpegang kepada pengertian doktrinal mana pun. Kita harus nampak bahwa Allah Tritunggal terlalu menakjubkan, terlalu ajaib! Dia adalah Firman, juga Allah; Dia telah menjadi daging, menjadi Anak Domba Allah. Yohanes 14 menunjukkan bahwa Ia dan Bapa adalah satu, dan Roh itu adalah diri-Nya sen-diri. Sang ajaib ini adalah Singa, Anak Domba, dan batu de-ngan tujuh mata. Dengan ketujuh mata-Nya, Ia menatap kita dan mentransfusikan apa adanya diri-Nya, apa yang telah dirampungkan-Nya, apa yang telah dicapai-Nya dan diperoleh-Nya ke dalam diri kita, sehingga kita menjadi bahan-bahan pembangunan Allah. Ketujuh mata ini adalah ketujuh Roh yang diutus oleh Allah dari takhta-Nya ke se-luruh bumi.
Janganlah kita memiliki tritunggal ini di dalam dok-trin saja, tetapi alamilah kekayaan Allah kita yang menak-jubkan, yang rahasia, dan unggul itu. Semua kekayaan-Nya ini bukan hanya untuk penebusan dan kelahiran kem-bali kita, tetapi juga untuk pengubahan dan pembangunan kita. Oh, betapa kita memerlukan terang untuk nampak perkara-perkara ini! Janganlah begitu dangkal, dan jangan-lah disimpangkan oleh kekristenan hari ini. Sebaliknya, abaikan apa yang dikatakan oleh para penentang kita, dan berpegang saja pada Alkitab dengan firman murni dan te-rang yang paling baru. Kita semua harus nampak terang ini. Bila kita mencoba memahami Alkitab secara “teologis” atau membaca Alkitab untuk mencari teologi, kita akan terbunuh. Kita tidak akan mampu memahami Alkitab seca-ra “teologis”.
SEPULUH ISTILAH PENTING
Baiklah kita sekarang melihat lebih lanjut beberapa istilah penting yang terdapat dalam Injil Yohanes dan da-lam Kitab Wahyu. Yang pertama, dalam Yohanes 1:1, ada Firman yang kekal. “Pada mulanya” dalam ayat ini, sudah tentu mengacu kepada kekekalan yang lampau, menunjuk-kan bahwa Firman ini adalah Firman yang kekal. Selan-jutnya dikatakan dengan jelas, Firman ini adalah Allah. Pada suatu hari, Firman ini, yang adalah Allah, menjadi daging (Yoh. 1:14 Tl.). Menurut pikiran teologis, kita bisa mengatakan bahwa Putra Allah telah berinkarnasi. Me-mang ini tidak salah. Namun, jika Anda membaca Perjan-jian Baru, Anda tidak akan menemukan perkataan yang mengatakan bahwa Putra Allah telah berinkarnasi. Meski-pun fakta itu benar, Perjanjian Baru tidak mengungkap-kannya secara demikian. Ini adalah pengajaran teologi tra-disional terhadap inkarnasi. Namun jangan salah paham terhadap saya dan mengira saya tidak percaya bahwa in-karnasi itu berhubungan dengan Putra Allah. Taraf keper-cayaan saya sedikitnya sama dengan Anda; saya percaya bahwa yang berinkarnasi ini adalah Putra Allah. Tetapi Perjanjian Baru mengatakan bahwa Firman, yang ada pada mulanya, menjadi daging. Jadi, bukan hanya Putra Allah yang menjadi daging, melainkan Allah itulah yang berinkarnasi. Tentang Firman yang telah menjadi daging ini Yohanes Pembaptis, pelopor Kristus, berkata, “Lihatlah, Anak Domba Allah!” Jadi, dalam setengah pasal yang pertama dalam Injil Yohanes 1, kita memiliki Firman, Allah, daging, dan Anak Domba.
Dalam Kitab Wahyu, kita melihat bahwa Anak Domba Allah adalah Singa. Salah satu di antara tua-tua malaikat (bukan manusia), memperkenalkan Kristus sebagai Singa dari suku Yehuda (5:5). Wahyu 5:6 mengatakan bahwa Anak Domba ini bermata tujuh. Sebutan Singa mengacu kepada Kejadian 49, dan istilah ketujuh mata merujuk kepada Ki-tab Zakharia, yang membicarakan tentang ketujuh mata yang ada pada batu itu. Jadi, Anak Domba itu juga adalah batu. Dengan kata lain, Penebus yang mengangkut dosa du-nia telah menjadi batu bangunan, telah menjadi Sang pem-bangun.
Konsepsi ini tidaklah baru. Sebelum Tuhan Yesus disa-libkan, Ia mengatakan kepada tukang-tukang bangunan bang-sa Yahudi bahwa mereka bukan saja menolak Penebus, tetapi juga menolak batu penjuru (Mat. 21:42). Saya yakin, ketika Tuhan Yesus berkata demikian kepada mereka, Ia sangat jelas bahwa diri-Nya adalah batu yang tertulis da-lam Zakharia 3:9, yaitu batu bermata tujuh yang akan me-lalui pengukiran, menghapus kesalahan umat itu dalam sa-tu hari saja. Ia tahu bahwa Ia akan diukir oleh Allah untuk mengangkut kesalahan umat Allah dalam satu hari saja, agar Allah bisa memiliki bangunan-Nya.
Baik Anak Domba maupun batu, penebusan dan pem-bangunan, dihubungkan dengan ketujuh mata, yang adalah ketujuh Roh Allah dan ketujuh pelita yang menyala-nyala di hadapan takhta administrasi-Nya. Karena itu, kita mem-punyai Firman, Allah, daging, Anak Domba, Singa, batu, ketujuh mata, ketujuh Roh, dan ketujuh pelita. Terakhir, kita memiliki bangunan, tempat kediaman Allah yang ke-kal, Yerusalem Baru. Semua istilah ini bukanlah interpretasi saya, kata-kata ini saya kutip dari Alkitab. Saya hanya me-nunjukkan kesepuluh istilah penting yang terdapat dalam Alkitab: Firman, Allah, daging, Anak Domba, Singa, batu, ketujuh mata, ketujuh Roh, ketujuh pelita, dan Yerusalem Baru. Bila kita menyatukan semua istilah ini, seperti me-nyusun potongan-potongan gambar yang tersebar di berba-gai kitab dalam Alkitab, kita sungguh-sungguh akan meli-hat sesuatu. Jika kita mau mendoakan kesepuluh hal ini, kita akan melihat visi bahwa Yerusalem Baru merupakan perluasan Allah yang terakhir.
ZAMAN BATU
Pada mulanya ada Firman, ekspresi Allah. Pada suatu hari, Allah ini, yang diekspresikan sebagai Firman, telah menjadi daging. Inilah langkah pertama dari perluasan diri-Nya. Daging ini merupakan Anak Domba Allah yang adil, Allah yang menghakimi dan menghukum dosa. Anak Dom-ba menghapus dosa untuk memuaskan tuntutan keadilan Allah. Inilah langkah kedua dari perluasan Allah. Ketika Ia disalibkan, Ia diukir, dan pengukiran itu menghapuskan kesalahan umat Allah dalam satu hari. Di samping itu, Ia juga adalah Singa, menyatakan bahwa Ia telah mengalah-kan semua musuh. Sebagai Singa Ia telah mengalahkan musuh dengan mutlak. Ia adalah Anak Domba Penebus dan Singa pemenang untuk perluasan Allah. Singa-Anak Domba ini sekarang adalah batu itu. Tahukah Anda, apa-kah Tuhan Yesus hari ini? Ia adalah batu. Ia adalah Anak Domba juga Singa untuk menjadi batu itu. Setelah meng-hapuskan kesalahan dan mengalahkan semua musuh, Ia sekarang sedang membangun. Zaman ini bukan saja zaman Anak Domba dan Singa; zaman ini terutama adalah zaman batu. Sekarang kita bisa mengerti, mengapa dalam kun-jungan-Nya yang terakhir ke Yerusalem, Tuhan Yesus me-nyatakan kepada tukang-tukang bangunan bangsa Yahudi bahwa yang mereka tolak bukan saja Anak Domba, Sang Penebus, dan Singa, pemenang itu, tetapi juga batu, batu penjuru itu. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, da-tanglah zaman gereja, yaitu zaman pembangunan Allah. Untuk pembangunan gereja, Kristus adalah batu karang. Seperti yang dikatakan-Nya kepada Petrus, “Engkau adalah batu, dan di atas batu karang ini Aku akan membangun gereja-Ku” (Mat. 16:18 Tl.). Setelah penyaliban dan kebang-kitan, zaman ini menjadi zaman batu karang, zaman batu, zaman pembangunan.
Kekristenan telah menyimpang, dan hampir-hampir menjadikan zaman ini melulu sebagai zaman penebusan. Sebagian orang yang menyebut dirinya orang Kristen aliran hayat batini, lebih maju sedikit. Mereka membahas tentang Singa yang menang. Berabad-abad lamanya hampir-hampir tidak ada orang yang mengenal bahwa zaman ini bukan hanya zaman penebusan dan zaman kemenangan, tetapi yang lebih utama ialah zaman pembangunan. Kristus hari ini adalah batu itu. Kita semua harus nampak bahwa za-man ini adalah zaman pembangunan. Puji Tuhan! Dia se-karang adalah Singa-Anak Domba-batu. Kemenangan-Nya dan penebusan-Nya adalah untuk menjadikan Dia itu batu. Jika Dia tidak mengalahkan musuh dan menghapuskan ke-salahan, tidak ada jalan bagi-Nya untuk menggenapkan pekerjaan pembangunan Allah! Haleluya! Tuhan Yesus kita sekarang adalah Singa-Anak Domba-batu!
Batu ini bermata tujuh. Ini merupakan butir penting. Ketujuh mata ini adalah ketujuh Roh Allah, dan ketujuh Roh Allah adalah pelita yang menyala-nyala, bersinar-sinar. Apakah fungsi mata? Sudah tentu untuk melihat. Namun, ketujuh mata Kristus bukanlah untuk melihat berbagai perkara, melainkan untuk melihat kita, menatap kita. Tidak diragukan, ketujuh mata dari batu pembangunan ini ada-lah untuk mentransfusi dan menginfus. Bila Ia menatap kita, kita akan mengerti Ia senang atau susah. Ia tidak perlu berkata apa-apa. Melalui menatap kita, Ia mentrans-fusikan semua apa adanya diri-Nya ke dalam diri kita. Karena itu, mata adalah untuk mentransfusi dan mengin-fus. Seperti yang telah kita sebutkan, ketujuh Roh Allah adalah untuk menyalurkan hayat karena, dalam Alkitab, Roh itu adalah Roh hayat. Ketujuh pelita adalah untuk me-nerangi, memeriksa, menyingkapkan, dan menghakimi da-lam pergerakan Allah. Ini adalah untuk administrasi Allah. Transfusi melalui mata, menyalurkan hayat melalui Roh Allah, dan penerangan, pemeriksaan, penyingkapan, dan penghakiman oleh ketujuh pelita semuanya terdapat dalam Kitab Wahyu. Semuanya adalah untuk Yerusalem Baru. Se-belum kita memasuki dan menempuh hidup gereja, kita tidak pernah mendengar segala perkara ini. Tetapi setelah kita berada di dalam gereja, kita mengalami sesuatu yang bersinar di dalam kita untuk memeriksa setiap rahasia se-umur hidup kita.
KESAKSIAN PRIBADI
Sebelum masuk ke dalam gereja, saya telah beroleh selamat dan mengasihi Tuhan. Saya tidak mengasihi dunia. Saya, seorang pemuda Kristen yang polos yang menuntut Tuhan, mempelajari Alkitab, dan berdoa setiap hari. Na-mun, setelah saya masuk ke dalam gereja, saya mutlak di-periksa, bukan oleh guru mana pun, melainkan oleh se-suatu yang di dalam, di batin. Pada saat itu, saya tidak mempunyai istilah yang kita miliki hari ini. Bagaimanapun saya mengalami pemeriksaan dan dengan tuntas saya mengaku dosa kepada Tuhan. Sebelum masuk ke dalam si-dang-sidang gereja, saya biasanya membuat suatu pengaku-an dosa yang tuntas, satu hal demi satu hal. Banyak di antara kita memiliki pengalaman yang sama, yaitu dite-rangi, diperiksa, disingkapkan, dan dihakimi oleh Tuhan.
Saya masih ingat penghakiman yang saya alami ke-tika saya datang bersidang. Saya benci kepada diri saya sendiri, sifat saya, manusia lama saya, dan watak saya. Oh, betapa saya membenci dan menghakimi diri saya sen-diri! Saya mengalami hal ini khususnya di hadapan meja Tuhan (sidang pemecahan roti). Di satu pihak, saya meng-ingat Tuhan, tetapi di pihak lain, Saya berada di bawah penghakiman-Nya. Ia seolah-olah berkata, “Kamu sangat karnal ( bersifat daging), sangat alamiah, dan terlalu di da-lam dirimu sendiri. Kamu masih terlalu berada dalam cip-taan lama.” Sewaktu saya duduk di depan meja Tuhan, saya di bawah penghakiman batiniah ini. Ini merupakan peker-jaan pelita yang menyala-nyala di dalam gereja. Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Akibat penyinaran ketujuh pelita itu, Tuhan Yesus terasa semakin indah dan mustika, semakin manis dan menyenangkan bagi saya. Sebelum itu saya tidak pernah mempunyai perasaan sedemikian dalam terhadap kemustikaan dan keelokan Tuhan. Ini merupakan transfusi dan infus da-ri Tuhan Yesus sendiri. Betapa berharganya, mustikanya, dan tersedianya Tuhan bagi saya! Dia merupakan satu mus-tika yang indah bagi saya. Saya mengasihi-Nya lebih dari-pada sebelumnya. Saya sungguh-sungguh telah diinfus de-ngan-Nya. Saya bisa bersaksi bahwa pada saat itu saya berada di langit tingkat ketiga dan setiap dosa serta kele-mahan berada di bawah kaki saya. Saya tidak perlu men-coba mengalahkan apa-apa lagi.
Setelah infus ini, terjadilah penyaluran hayat. Ketujuh pelita menjadi ketujuh mata, dan ketujuh mata menjadi ketujuh Roh. Penerangan, pemeriksaan, penyingkapan, dan penghakiman menghasilkan transfusi Tuhan Yesus ke da-lam saya, dan transfusi ini menghasilkan penyaluran ha-yat. Saya menerima lebih banyak hayat, hayat yang tidak lain adalah diri Kristus sendiri. Semakin banyak Kristus ditambahkan ke dalam saya, masuk ke seluruh bagian diri saya. Meskipun saat itu saya tidak mempunyai istilah ini, tetapi saya mempunyai pengalaman. Hasilnya, saya meng-alami pengubahan, saya mengasihi gereja, dan mengasihi kaum saleh yang bersidang bersama saya. Inilah pemba-ngunan.
KETUJUH PELITA MENJADI SUNGAI AIR HAYAT
Terakhir, pembangunan ini akan rampung di Yerusalem Baru, yang merupakan perluasan terakhir dan yang kekal dari Allah kita yang ajaib. Jika Anda ingin memahami Injil Yohanes dan Kitab Wahyu, dan bahkan seluruh Alki-tab, Anda harus nampak ketujuh pelita, ketujuh mata, dan ketujuh Roh Allah. Akhirnya, Yerusalem Baru akan muncul, sedang ketujuh Roh di hadapan takhta administrasi Allah akan menjadi aliran sungai air hayat yang mengalir keluar dari takhta. Di Yerusalem Baru, ketujuh pelita di hadapan takhta administrasi akan menjadi air hayat yang mengalir keluar dari takhta pemberi-hayat, dan batu yang adalah di-ri-Nya sendiri akan menjadi pelita yang menyinarkan Allah ke seluruh kota itu hingga kekal. Inilah butir-butir penting yang diwahyukan di dalam Alkitab. Semoga kita semua nampak hal-hal tersebut.
?
PELAJARAN HAYAT
WAHYU
KEPADA YOHANES
BERITA
01 02 03 04 05 06 07 08
09 10 11
12 13 14 15 16