Daftar isi Wahyu (2) · Berita Kedua Puluh Delapan · bab 12/17

Berita Kedua Puluh Delapan

SANGKAKALA KETUJUH

Dalam Wahyu 11:14-18 disebutkan sangkakala ketujuh. Tanpa sangkakala ketujuh, ekonomi Allah dan pergerakan-Nya tidak akan dapat dirampungkan. Dengan membaca pasal 8—11, kita tampak sangkakala ketujuh benar-benar suatu perkara besar. Ketika sangkakala ketujuh ditiup, banyak hal akan terjadi. Sangkakala ini akan dibunyikan sampai sejangka waktu, dan akan berlangsung sampai ke-kekalan, untuk menyatakan, mengumumkan, dan memprok-lamasikan rencana kekal Allah. Dalam keenam sangkakala yang pertama, masing-masing sangkakala hanya menimbulkan satu perkara, tetapi dalam sangkakala ketujuh banyak perkara akan terjadi.

Sangkakala ketujuh adalah sangkakala terakhir (1 Kor. 15:52), memiliki dua aspek, negatif dan positif. Di aspek negatif meliputi: (1) malapetaka terakhir, malapetaka ketujuh cawan. Dalam ketujuh cawan ini murka Allah ditumpahkan sampai habis (15:1; 16:1-21), sebagai celaka terakhir bagi orang-orang yang tinggal di bumi (8:13; 9:12; 11:4) — ay. 18; dan (2) kebinasaan orang-orang yang membinasakan bumi, segera sesudah Tuhan kembali ke bumi (17:14; 18:1-2; 19:19—20:3) — ay. 18. Aspek positif meliputi: (1) kedatangan kerajaan kekal Kristus, yaitu kerajaan dalam manifestasinya - ay. 15, 17; (2) penghakiman atas orang mati (lihat cat. 182) sebelum kaum saleh bangkit - ay. 18; dan (3) pemberian pahala kepada para nabi dan kaum saleh, di takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10), setelah kebangkitan dan keterangkatan kaum saleh (1 Kor. 15:23, 52; 1 Tes. 4:16-17); dan pemberian upah kepada orang-orang yang takut akan nama Allah (14:6-7) di takhta kemuliaan Allah (Mat. 25:31-34) - ay. 18.

Jadi, sangkakala ketujuh meliputi segala hal dari akhir kesusahan besar, sampai kekekalan yang akan datang, misalnya: malapetaka yang terakhir, yaitu ketujuh cawan (ps. 16); kebangkitan dan keterangkatan kaum saleh (termasuk kedua orang saksi); pemberian pahala atau ganjaran kepada kaum saleh; pernikahan Anak Domba (19:7-9); kembalinya Kristus ke bumi; pemusnahan Antikristus, nabi palsu, para pengikut mereka, Babel besar yang materi, dan Iblis (18:1— 19:4; 19:11—20:3); pemerintahan dalam Kerajaan Seribu Tahun (20:4-6); penghakiman yang terakhir terhadap bumi dan Iblis (20:7-10); penghakiman yang terakhir terhadap orang-orang mati (20:11-15); dan perampungan sempurna langit yang baru dan bumi yang baru dengan Yerusalem Baru, sampai selamanya (21:1—22:5).

I. AKHIR KESUSAHAN BESAR

Wahyu 11:14 mengatakan, “Celaka yang kedua sudah lewat: Lihatlah, celaka yang ketiga segera menyusul.” Celaka yang ketiga ialah sebagian isi negatif dari sangkakala ketujuh, yang meliputi ketujuh cawan murka Allah (pasal 16). Karena peniupan sangkakala ketujuh dicantumkan setelah visi perusakan Yerusalem pada tiga setengah tahun yang terakhir (11:2), dan karena ketujuh cawan adalah malapetaka terakhir pada puncak murka Allah (15:1; 16:1), maka celaka dari sangkakala ketujuh pastilah menandai kesusahan besar (Mat. 24:21).

II. PENGAKHIRAN ZAMAN INI

Ketika sangkakala ketujuh ditiup, bukan hanya kesusahan besar yang akan berakhir, zaman ini pun akan berakhir. Rahasia Allah akan genap (10:7) dan kerajaan dunia akan menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya (11:15). Kemudian zaman yang lain, yaitu zaman kerajaan, Kerajaan Seribu Tahun, akan dimulai.

III. MENDATANGKAN

KERAJAAN SAMPAI KEKAL

Sangkakala ketujuh akan mendatangkan kerajaan sampai kekekalan. Ayat 15 mengatakan, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam surga katanya, ‘Kerajaan dunia telah menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya’” (Tl.). Ungkapan “Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya” mengacu kepada pemerintahan Tuhan dalam Kerajaan Seribu Tahun, dan dalam langit yang baru dan bumi yang baru, sampai selama-lamanya (22:5). Hal ini menyatakan bahwa sangkakala ketujuh meliputi langit yang baru dan bumi yang baru beserta Yerusalem Baru.

IV. TERDIRI DARI:

A. Ketujuh Cawan Murka Allah sebagai Celaka Ketiga

Sangkakala ketujuh meliputi ketujuh cawan murka Allah sebagai celaka ketiga (11:14, 18; 15:1, 7-8; 16:1-21). Ayat 18 mengatakan, “Dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang.” “Amarah” di sini mengacu kepada murka yang ditampung dalam ketujuh cawan dalam pasal 16, yaitu sebagian isi negatif dari sangkakala ketujuh. Celaka terakhir terdiri atas ketujuh cawan dari sangkakala ketujuh. Ketujuh cawan merupakan murka Allah yang paling dahsyat. Dengan dituangnya cawan-cawan itu, murka Allah akan terlampiaskan. Cawan-cawan itu akan dituang, bukan ke atas bumi atau langit, melainkan ke atas manusia, terutama kepada Antikristus dan kerajaannya. Pada saat celaka terakhir tiba, Antikristus akan berperang melawan Allah, dan Kristus turun ke bumi dengan tentara pemenang-Nya untuk berperang melawan Antikristus. Ketujuh cawan dari celaka ketiga akan seperti tujuh bom yang dijatuhkan dari langit, yang dipakai Allah untuk menghancurkan Antikristus dan kerajaannya. Boleh jadi ketujuh cawan itu akan dituangkan dalam waktu yang berdekatan. Dengan dituangnya ketujuh cawan itu, kesusahan besar akan diakhiri dan zaman akan disudahi.

B. Kerajaan Kekal Kristus

Sangkakala ketujuh juga mencakup kerajaan kekal Kristus (11:15, 17). Ayat 15 mengatakan bahwa kerajaan dunia akan menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya dan Ia akan memerintah sebagai Raja untuk selama-lamanya. Kerajaan dunia akan menjadi kerajaan Kristus pada saat Dia kembali setelah Dia melaksanakan penghakiman atas bangsa-bangsa (Dan. 7:13-14; 2:44-45). Pada saat itu, kedua puluh empat tua-tua akan bersujud dan menyembah Allah, kata mereka, “Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja” (ayat 17).

C. Penghakiman terhadap Orang-orang Mati

Ketika sangkakala ketujuh ditiup, Kristus akan menghakimi orang-orang mati. Ayat 18 mengatakan, “Saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi.” Penghakiman terhadap orang-orang mati yang tercantum dalam ayat ini bukan ditujukan kepada penghakiman pada takhta putih besar. Karena perihal “orang-orang mati dihakimi” disebutkan lebih dulu daripada “memberi pahala kepada hamba-hamba-Mu”, maka hal itu tidak mungkin ditujukan kepada penghakiman terhadap orang mati pada takhta putih besar setelah Kerajaan Seribu Tahun (20:11-15); melainkan mengacu kepada pengakhiran zaman ini, sebelum Kerajaan Seribu Tahun, menurut apa yang dikatakan dalam Yohanes 5:27-29 bahwa orang mati akan dihakimi untuk menentukan siapa yang boleh berbagian dalam kebangkitan hayat sebelum Kerajaan Seribu Tahun (1 Kor. 15:23; Why. 20:4-6) dan siapa yang akan tinggal sampai kebangkitan penghakiman setelah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:11-12). Sebelum Kristus membangkitkan orang-orang kudus, Ia terlebih dulu akan menghakimi orang-orang mati untuk menentukan apakah mereka dapat berbagian dalam kebangkitan hayat yang pertama, atau berbagian dalam kebangkitan penghakiman yang kedua. Setelah Ia memutuskan hal ini, kebangkitan orang-orang kudus akan berlangsung.

Begitu orang kudus dibangkitkan, mereka akan diangkat. Surat 1 Tesalonika 4 menunjukkan bahwa orang kudus yang telah mati akan bangkit, bukan turun ke bawah. Banyak orang Kristen berpandangan keliru bahwa orang kudus yang mati berada di surga dan ketika Tuhan Yesus datang, mereka akan turun bersama Dia. Bacalah Alkitab Anda sekali lagi. Orang kudus bukannya turun ke bawah, melainkan akan bangkit menuju ke atas, dengan orang-orang yang hidup bersama terangkat ke angkasa untuk menjumpai Tuhan. Sungguh tidaklah alkitabiah mengatakan bahwa orang kudus yang mati sekarang ini ada di surga.

D. Pemberian Pahala

1. Kepada Nabi-nabi dan Kaum Saleh

Ayat 18 juga mengatakan bahwa saatnya telah tiba “untuk memberi upah (pahala) kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar.” Pahala akan Tuhan berikan kepada orang-orang-Nya yang setia pada saat Tuhan datang kembali (22:12; Mat. 16:27). Setelah kaum saleh bangkit dan terangkat (1 Kor. 15:23, 52; 1 Tes. 4:16-17), pada takhta penghakiman-Nya, Kristus akan menghakimi semua nabi dan kaum saleh (2 Kor. 5:10) untuk menetapkan siapa dari orang-orang yang beroleh selamat layak memperoleh pahala, dan siapa yang perlu diganjar.

Sangkakala ketujuh dalam Wahyu 11 merupakan sangkakala terakhir dalam 1 Korintus 15. Pada sangkakala terakhir, orang kudus yang telah mati akan dibangkitkan, dan bersama orang kudus yang masih hidup, akan diangkat ke angkasa. Jadi tidaklah alkitabiah mengatakan bahwa terangkatnya mayoritas orang kudus akan terjadi sebelum masa kesusahan besar. Bagaimanakah seseorang bisa berkata bahwa Kristus akan datang kembali secara terbuka sebelum kesusahan besar? Alkitab memaparkan hal ini dengan sangat jelas. Paulus berkata bahwa orang kudus yang masih hidup tidak akan mendahului mereka yang telah mati, dan pada sangkakala terakhir orang kudus yang mati akan dibangkitkan. Setiap orang harus mengakui bahwa sangkakala terakhir adalah sangkakala ketujuh. Sebelum sangkakala ketujuh, ada sangkakala kelima dan keenam sebagai bagian-bagian utama dari kesusahan besar. Karena banyak sekali orang kudus yang akan diangkat pada waktu sangkakala ketujuh, yaitu pada akhir kesusahan besar, bagaimana orang bisa mengatakan bahwa pengangkatan mayoritas orang kudus akan terjadi sebelum masa kesusahan besar? Janganlah mengikuti ajaran tradisional yang dangkal dan tidak tepat. Kita harus mengambil firman tepat dalam Alkitab. Pada saat sangkakala ketujuh, orang kudus yang telah mati akan bangkit dan kaum saleh yang masih hidup akan diangkat bersama mereka ke angkasa. Jadi, bahkan pada saat itu, Kristus masih belum datang. Pada awal dibunyikannya sangkakala ketujuh, Ia masih berada di angkasa. Setelah keterangkatan ini, Kristus akan mendirikan takhta penghakiman-Nya untuk menetapkan siapa yang akan menerima pahala dan menjadi bagian dari tentara pemenang-Nya, dan siapa yang perlu diganjar lebih lanjut serta dihukum.

2. Kepada Orang-orang yang Takut Akan Allah

Kristus juga akan memberikan pahala kepada orang-orang yang takut akan Allah. Wahyu 11:18 juga dengan khusus menyebutkan bahwa pahala akan diberikan kepada “mereka yang takut akan nama-Mu”. Orang-orang yang takut akan nama Allah adalah orang-orang yang telah menerima Injil kekal, takut kepada Allah, menyembah Allah, dan tidak menyembah Antikristus dan patungnya (14:6-7). Dalam kesusahan besar, mereka memperhatikan umat Allah yang kekurangan (Mat. 25:33-40). Kemudian, setelah Kristus datang kembali ke bumi dan mendirikan takhta kemuliaan-Nya di Yerusalem, pusat kerajaan-Nya, Ia akan menghakimi segala bangsa, semua orang yang tidak percaya yang masih hidup. Perjanjian Baru mengatakan bahwa Kristus telah ditetapkan untuk menghakimi orang-orang yang hidup dan yang sudah mati (Kis. 10:42; 2 Tim. 4:1). Kapankah Ia menghakimi orang-orang yang masih hidup? Setelah Ia berperang di Harmagedon dan menghancurkan Antikristus, nabi palsu, serta semua pengikut mereka (Why. 19:11-21). Pada saat itu, sejumlah besar orang yang tidak percaya masih hidup di bumi. Menurut Matius 25:31-46, Kristus akan mengumpulkan semua bangsa ke hadapan takhta-Nya di Yerusalem dan menghakimi mereka.

Banyak orang mengira penghakiman ini ditujukan kepada penghakiman yang dilaksanakan terhadap orang-orang Kristen untuk menentukan siapa yang sejati dan siapa yang palsu. Tetapi perhatikanlah apa yang dikatakan dalam Matius 25:31-32, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya.” Dalam Perjanjian Baru kata “bangsa-bangsa” ditujukan kepada orang-orang kafir. Matius 25:32 juga mengatakan, “Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing.” Penghakiman ini bukanlah menurut hukum Taurat atau menurut Injil anugerah, melainkan berdasarkan Injil kekal yang diberitakan oleh malaikat dalam Wahyu 14:6-7. Selama tiga setengah tahun Antikristus akan memaksa orang banyak menyembah patungnya, namun seorang malaikat di angkasa akan memberitakan Injil kekal, memberi tahu orang-orang di bumi agar tidak menyembah patung itu, melainkan agar takut kepada Allah dan menyembah-Nya. Sebagian penduduk bumi akan mendengarkan Injil kekal itu. Mereka akan takut kepada Allah dan menyembah Dia, juga tidak menyembah patung binatang itu, dan memperhatikan orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang kekurangan, dan yang akan menderita di bawah penganiayaan Antikristus. Karena itu, dalam Matius 25:34-36, dikatakan, “Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Sewaktu orang-orang yang benar itu bertanya kepada Tuhan bilakah mereka melakukan hal itu bagi-Nya, Ia akan menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). “Domba-domba” ini kemudian akan dipindahkan ke dalam Kerajaan Seribu Tahun untuk menjadi bangsa-bangsa di bumi (2:26; 12:5). Selama seribu tahun ini, orang Kristen pemenang akan meraja bersama-sama dengan Kristus, orang-orang Yahudi yang beroleh selamat akan menjadi imam-imam, dan orang-orang yang benar ini akan menjadi rakyat yang akan diperintah oleh para pemenang. “Kambing-kambing”, orang jahat yang mengikuti Antikristus dan tidak mau menerima Injil kekal, akan dilemparkan ke dalam lautan api “yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat. 25:41). Hal ini akan terjadi pada masa sangkakala ketujuh, terjadi setelah seluruh bumi menjadi kerajaan Kristus.

E. Membinasakan Pembinasa Bumi

Sangkakala ketujuh juga mencakup pembinasaan pembinasa bumi. Ayat 18 mengatakan bahwa Kristus akan “membinasakan siapa saja yang membinasakan bumi”. Pembinasa bumi adalah Babel besar (18:2-3), Antikristus (13:3), nabi palsu (13:14), dan Iblis (20:7-10), serta pengikut mereka (17:12-24; 19:19; 20:8-9). Mereka semua akan dibinasakan pada saat sangkakala ketujuh itu.

Tuhan akan membinasakan Antikristus, nabi palsu, dan para pengikut mereka di dalam perang Harmagedon. Antikristus dan pasukannya akan dibinasakan Kristus dalam waktu satu jam (Why. 17:12-14; 19:19-21), Babel besar materi juga akan dibinasakan Tuhan dalam waktu satu jam (Why. 18:10, 17, 19). Keduanya mungkin dibinasakan dalam waktu satu jam yang sama ketika Tuhan datang ke bumi dalam terang kemulian-Nya (Why. 18:1; 2 Tes. 2:7). Antikristus dan nabi palsu akan dilemparkan ke dalam lautan api, Iblis juga akan dibinasakan. Sesungguhnya, Tuhan akan menanggulangi Iblis sebanyak dua kali, pertama dengan mengikatnya dan melemparkannya ke dalam jurang maut sebelum Kerajaan Seribu Tahun, dan kedua dengan melemparkannya ke dalam lautan api setelah Kerajaan Seribu Tahun. Antikristus akan lebih dulu dilemparkan ke dalam lautan api. Antikristus, nabi-nabi palsu, dan para pengikut mereka, yang sebagian di antaranya akan menjadi “kambing” dalam Matius 25, akan dilemparkan ke dalam lautan api mendahului Iblis (Why. 19:20; Mat. 25:41); Iblis akan disekap dalam jurang maut selama seribu tahun, dan akhirnya akan dilemparkan ke dalam lautan api. Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, semua orang yang tidak percaya yang telah mati juga akan dilemparkan ke lautan api (20:15). Pada saat itu, setiap perkara negatif dalam alam semesta ini akan disapu bersih.

V. SUASANA DI SURGA SETELAH

SANGKAKALA KETUJUH DITIUP

Jika kita ingin memahami nubuat kitab ini, kita harus hafal seluruh isi meterai ketujuh. Inilah rahasia untuk memahami nubuat kitab ini. Selagi muda, saya mengira sangkakala ketujuh hanya terdiri dari ketujuh cawan dan bahwa ketujuh sangkakala merupakan satu-satunya isi dari meterai ketujuh. Dengan mengukuhi konsepsi tersebut, saya kesulitan memahami seluruh Kitab Wahyu. Namun, bertahun-tahun kemudian, saya tampak bahwa ketujuh sangkakala memang merupakan satu-satunya isi dari meterai ketujuh, tetapi ketujuh cawan merupakan sebagian dari isi sangkakala ketujuh. Sangkakala ketujuh bukan hanya terdiri dari ketujuh cawan, tetapi meliputi lebih banyak lagi. Seperti yang telah kita tunjukkan, sangkakala ketujuh meliputi perkara-perkara negatif dan positif.

Ayat 19 membukakan suasana di surga setelah sangkakala ketujuh ditiup. Ayat ini mengatakan, “Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.” Dalam kitab ini dinubuatkan terjadinya gempa bumi sebanyak empat kali. Yang pertama dalam 6:12, terjadi ketika meterai keenam dibuka; yang kedua dalam 8:5, terjadi sebelum sangkakala ketujuh ditiup; yang ketiga dalam 11:13, terjadi sewaktu dua orang saksi terangkat, pada hari permulaan sangkakala ketujuh sebelum ketujuh cawan dituang; dan yang keempat dalam ayat ini, juga terjadi ketika sangkakala ketujuh ditiup, pada saat cawan yang ketujuh ditumpahkan (16:18-20), yaitu bencana paling serius dari isi negatif sangkakala ketujuh.

Di sini, dalam ayat ini, yang dilanjutkan oleh 15:5, kita tampak bahwa Bait Suci Allah terbuka. Takhta dengan pelangi dalam 4:2-3 adalah pusat dari seluruh penghakiman yang dilaksanakan atas bumi dalam pasal 6—11, dari segi negatifnya; sedangkan Bait Suci dengan tabut merupakan pusat dari semua penggenapan Allah dalam alam semesta yang dilaksanakan dalam pasal 12—22, dari segi positifnya. Takhta beserta pelangi, pusat dari bagian yang pertama, adalah untuk penghakiman Allah. Bait dengan tabutnya, pusat dari bagian yang kedua, adalah untuk pembangunan Allah. Pertama-tama, di segi negatifnya, kita mempunyai penghakiman Allah; dan kedua, di segi positifnya, kita mempunyai pembangunan Allah. Untuk penghakiman Allah, takhta dengan pelanginya merupakan pusat; dan untuk pembangunan Allah, bait dengan tabut-Nya adalah pusatnya.

Penghakiman Allah sepenuhnya digenapi dalam bagian pertama kitab ini. Pikiran utama dari bagian kedua adalah pembangunan Allah. Lalu siapakah bait itu? Umat Allah, terutama gereja. Siapakah tabut itu? Kristus. Karena itu, pusat pembangunan Allah dalam kekekalan adalah Kristus dan gereja. Kita bukan berada di bawah takhta dengan pe-langinya — kita ada di dalam bait bersama Allah. Kita tidak berada di bawah penghakiman Allah — kita ada di dalam pembangunan Allah. Antikristus dan semua orang yang tidak percaya ada di bawah takhta Allah dan pelangi itu, tetapi kita di sini, ada di dalam bait dengan tabutnya, dalam pembangunan Allah beserta Kristus.

Betapa jelas terang yang ditunjukkan Allah kepada kita! Dalam bagian yang pertama setelah peniupan sangkakala ketujuh, segala rahasia itu telah berlalu, semua penghakiman telah dilaksanakan, dan semua pelaksanaan administrasi Allah telah digenapi. Hanya satu perkara yang akan terus dilanjutkan — pembangunan Allah. Karena itu, pemandangan, suasana, penglihatan di surga akan berubah, dari takhta dengan pelangi akan diganti dengan bait dan tabut. Apakah yang Anda lihat hari ini — takhta dengan pelangi ataukah bait dengan tabut? Kita melihat bait dengan tabut. Kita melihat Kristus dan gereja. Visi ini bukan agar kita menjadi kudus atau rohani, melainkan agar kita terbangun. Kita semua harus mengetahui bahwa bait dengan tabut adalah untuk pembangunan Allah.

Sewaktu Bait Allah di surga terbuka dan tabut perjanjian-Nya terlihat di dalam bait-Nya, terjadilah suara kilat, deru guruh, gempa bumi, dan hujan es yang lebat (ayat 19). Keadaan yang sama akan terjadi setelah isi cawan ketujuh ditumpahkan (16:17-21). Kilat dan deru guruh merupakan pernyataan yang serius atas murka Allah di dalam penghakiman-Nya. Gempa bumi dan hujan es yang lebat merupakan penghakiman yang nyata. Melalui gempa bumi, yang paling hebat dalam sejarah, kota-kota, termasuk Yerusalem yang di bumi dan Roma, Babel besar, akan diguncangkan dan akan runtuh (16:19). Melalui hujan es yang lebat, manusia akan sangat menderita (16:21). Hal itu akan menjadi akhir dari kesusahan besar.

Kitab Wahyu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, terdiri dari pasal 1—11, memberikan satu sketsa ringkas dan satu pandangan umum dari berbagai perkara kepada kita. Karena hanya sebuah sketsa, di dalamnya tidak ada rinciannya. Jadi, bagian berikutnya, yang terdiri dari pasal 12—22, memberikan rincian perkara penting yang terkandung dalam bagian pertama. Setiap pasal memuat beberapa rincian. Sebagai contoh, tanpa pasal 21 dan 22, kita tidak mungkin mengetahui rincian Yerusalem Baru yang tercantum dalam 3:12. Kedua bagian dari Kitab Wahyu mirip dengan pasal 1 dan pasal 2 Kitab Kejadian. Kejadian 1 memberikan catatan umum tentang penciptaan, khususnya tentang penciptaan manusia. Kejadian 2 memberikan rincian mengenai Allah menciptakan manusia. Sebagaimana kita memerlukan Kejadian 2 untuk melengkapi gambaran umum Kejadian 1, demikian juga kita memerlukan bagian kedua dari Kitab Wahyu untuk menyuplai rincian dari hal-hal penting yang tercantum secara umum dalam bagian pertama.