← Daftar isi W.l Visi Dispensi Ilahi dan Petunjuk Pelaksanaan Jalan Baru · bab 8/10

DIPELIHARA DALAM HAYAT ILAHI

Pembacaan Alkitab :

Kol. 3:4a; Gal. 2:20a; Flp. 1:21a; Ef. 3:17,19; 4:15;

Kol. 2:19; Ef. 4:13; Kol. 1:28

GARIS BESAR

I. Kristus adalah hayat kita - Kol. 3:4a

II. Kristus hidup dalam kita - Gal. 2:20a

III. Begitu hidup adalah Kristus - Flp- 1:21 a

IV. Kristus diam di dalam hatiku, agar aku dipenuhi, menjadi segala kepenuhan Allah - Ef. 3:17,19

V. Bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala - Ef. 4:15

VI. Berpegang teguh kepada Kepala, menerima pertumbuhan ilahi - Kol. 2:19

VII. Bertumbuh dewasa dalam Kristus - Ef. 4:13; Kol. 1:28

Dalam berita yang lalu, kita telah nampak dilatih dalam wahyu ilahi; sekarang kita akan melihat dipelihara dalam hayat ilahi.

KRISTUS ADALAH HAYAT KITA

Pertama, kita perlu nampak, Kristus adalah hayat kaum imani (Kol. 3:4a). Hayat asal kita adalah hayat manusia; ketika kita percaya Tuhan, kita mendapatkan lagi hayat yang lain, yaitu hayat ilahi. Dalam karunia keselamatanNya, Allah sudah menggarapkan diriNya ke dalam kita, menjadi hayat kita. Sebab itu, di dalam kita ada dua hayat, hayat manusia ditambah hayat Allah.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Kejadian 2:7 mengatakan, "TUHAN Allah membentuk manusia itu dan debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi jiwa yang hidup" (Tl.). Sebab itu manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai hayat, dan juga seperti Allah, memiliki pikiran, emosi, tekad, pula memiliki kegembiraan, kesedihan, dukacita, sukacita. Ketika kita percaya Yesus, di dalam kita bertambah satu hayat lagi, sehingga lebih rumit. Ini sama seperti seorang yang telah menikah, asalnya seorang diri, sekarang mulai hidup berdua, lebih repot, lebih sulit. Sekarang timbul satu masalah yang riil, karena kita mempunyai dua hayat, lalu kita akan hidup berdasarkan hayat yang mana?

Perkara ini memperlihatkan kepada kita, karunia keselamatan yang Aillah berikan kepada kita adalah satu persona, persona ini adalah Kristus sendiri. Karunia keselamatan kita adalah Kristus, persona yang hidup ini, masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Untuk itu kita perlu bekerja sama dengan Dia. Dan untuk bekerja sama dengan Allah, kita perlu banyak diajar dan belajar. Sebab itu, Allah tidak saja di dalam kita memberi Roh Kudus, menjadi hayat kita, juga di luar memberi kita satu Alkitab, mengajar kita bagaimana bekerja sama denganNya.

KRISTUS HIDUP DI DALAM KITA

Kristus adalah hayat kita, juga hidup di dalam kita. Galatia 2:19b-20a mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Knstus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Ini bukan berarti setelah kita mendapatkan Kristus sebagai hayat kita, lalu kita tukar hayat dengan Kristus, hayat Kristus yang tinggi itu menggantikan hayat kita yang rendah. Meskipun bagian depan ayat ini mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup" tetapi bagian belakangnya mengatakan, "Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging,"sebab itu tetap aku yang hidup. Yang disalibkan, yang diakhiri adalah aku yang lama; yang dilahirkan kembali, yang mempunyai Kristus menjadi hayat di dalamnya adalah aku yang baru. Di satu pihak kita sudah diakhiri, di pihak lain kita tetap hidup. Sama seperti yang dikatakan Roma 6:6, manusia lama kita sudah tersalib bersama Kristus; ayat 11 mengatakan, kita di dalam Kristus mati terhadap dosa, tetapi hidup terhadap Allah. Jadi apa yang kita miliki bukan penggantian hayat, melainkan kesatuan hayat.

Kesatuan hayat ini boleh dibuktikan dengan okulasi yang dibicarakan dalam Roma pasal 11. Di sana dikatakan, kita orang kafir asalnya adalah pohon zaitun yang liar, yang diokulasikan pada pohon zaitun sejati (ayat 17,24), menjadi cabang Kristus, pohon anggur yang benar (Yoh. 15:1). Okulasi adalah kesatuan organik, bukan mengganti hayat yang jelek dengan hayat yang lebih baik, melainkan menggandengkan hayat ini menjadi satu hayat, mempunyai satu hayat dan penghidupan yang berbaur. Kesatuan cabang dengan pohon bukan kesatuan di luar saja, tetapi perbauran di dalam. Karena suplai getah dari akar membawa kadar hayat yang baru, sehingga menghasilkan buah yang manis. Hayat yang diperoleh orang Kristen adalah hayat kesatuan di luar dan pembauran di dalam; Kristus dengan kita, kita dengan Kristus, hidup bersama.

BAGIKU HIDUP ADALAH KRISTUS

Kita sudah bersatu dan berbaur dengan Kristus dalam hayat, lalu menempuh penghidupan dua hayat menjadi satu hayat, dua roh menjadi satu roh. Kunci penghidupan ini tidak pada diri Tuhan, tetapi pada diri kita. Pembicaraan dan perbuatan kita, ditentukan oleh Tuhan atau oleh kita? Kristus sudah hidup di dalam kita, entah kita merasakan atau tidak, Dia benar-benar hidup dalam kita; kita sudah bersatu dengan Dia, berbaur menjadi satu. Sebab itu, kita sebagai orang Kristen tidak perlu bertekad sendiri, jangan karena Tuhan berkata menanglah, lalu kita ingin menang; Tuhan berkata kuduslah, lalu kita ingin kudus. Jangan karena menyesal lalu bertekad. Ini tidak benar. Kalau berbuat demikian akan memutuskan kesatuan kita dengan Tuhan, sama seperti menutup sakelar, listriknya putus. Karena kalau kita bertekad, berarti kita ingin berbuat baik berdasarkan kekuatan sendiri. Paulus dengan jelas membicarakan hal ini dalam Roma pasal 7. Ia berkata, "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yakni di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini, jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku" (ayat 18-21). Dosa tinggal di dalam daging kita. Dosa adalah hayat dan sifat jahat Iblis. Ketika bersembunyi di dalam kita, ia hanya sebagai dosa, tetapi ketika digugah oleh tekad berbuat baik kita, ia menjadi kejahatan. Begitu kita bertekad, akan memacu peperangan antara kebaikan dalam pikiran dengan kejahatan dalam daging. Inilah yang disebut peperangan pikiran dan nafsu oleh tokoh moralis Cina. Akhirnya kita ditawan oleh dosa, mengalami kegagalan total (ayat 23-24).

Sebab itu kita harus terlepas dari peperangan ini, jangan terlibat dalam peperangan daging dengan pikiran, cukup dengan sederhana tinggal dalam roh kelahiran kembali kita. Kita harus menolak alamiah, tidak mempedulikan daging, bahkan membuang pikiran berbuat baik, lalu kembali dan tetap tinggal dalam roh kita. Adakalanya kita tidak begitu mudah tinggal dalam roh, saat itu kita boleh dengan menyanyi, berdoa, dan bersaksi membantu kita hidup dalam roh. Dengan demikian, Tuhan akan mempunyai kedudukan, menjadi tuan di dalam, kita. Dengan sendirinya kita akan menerima bimbinganNya, dan mengikutiNya. Dia yang memulai, kita yang menuruti. Kita bergerak bersamaNya, pasti hidup menampilkan Dia. Inilah yang disebut "Bagiku hidup adalah Kristus " (Flp. 1:21a). Bukan Kristus sendiri, tetapi Kristus melalui kela sama kita, kesatuan dan pembauran kita denganNya, tertampil dari diri kita.

KRISTUS DIAM DALAM HATIKU,

AGAR AKU DIPENUHI,

MENJADI SEGALA KEPENUHAN ALLAH

Menurut tuntutan Pedanjian Baru, Mstus tidak saja hidup di dalam kita, Dia juga akan diam (bersemayam) di hati kita (Ef. 3:17). Bersemayam berbeda dengan bertamu; bersemayam adalah mengatur setiap ruangan dalam rumah dan hidup di dalamnya. Kristus tidak saja tinggal di dalam roh kita, Dia juga akan bersemayam di setiap bagian hati kita. Kapan saja, dalam perkara apa saja, Tuhan ingin mempunyai tindakan dalam seluruh diri kita, bertindak dalam pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani kita, ingin berbicara sampai memenuhi, memiliki keempat bagian hati kita, demikianlah Ia bersemayam di dalamnya.

Ketika Kristus bersemayam di dalam hati kita, setiap bagian hati kita, pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani, semuanya mengambil Dia sebagai tuan, bukan kita yang sebagai tuan, demikian kita bisa memperoleh pimpinanNya, bertindak mengikutiNya. Kita bekerja sama denganNya, menempuh satu penghidupan yang bersatu dan berbaur denganNya. Dengan demikian aktivitas kita adalah aktivitasNya; pembicaraan kita adalah pembicaraanNya; pekerjaan kita adalah pekerjaanNya. Inilah Kristus bersemayam di dalam kita, yang juga sebagai pertumbuhan hayat kita. Sampai taraf ini, kita akan dipenuhi sehingga menjadi segala kepenuhan Allah (Ef. 3:19).

DALAM SEGALA HAL BERTUMBUH KE ARAH DIA,

KRISTUS YANG ADALAH KEPALA

Kalau dalam segala hal kita tidak menjadi tuan, juga

tidak bertindak sendiri, tetapi membiarkan Kristus menjadi tuan, kita tinggal mengikutiNya, kita akan mendapatkan Kristus bertambah di dalam kita, dan kita bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus, yang adalah Kepala (Ef. 4:15). Meskipun dalam perkara yang kecil, seperti menggunting rambut, menyisir rambut, berpakaian, membeli barang, berkontak, berbicara dengan orang, dan lain sebagainya, kita harus membiarkan Kristus menjadi tuan, mementingkan perasaanNya di dalam kita, mengikutiNya dan hidup bersamaNya.

BERPEGANG TEGUH KEPADA KEPALA,

MENERIMA PERTUMBUHAN ILAHI

Kalau kita berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, dalam segala hal bertumbuh ke arah Dia, kadar Allah akan bertambah di dalam kita, supaya kita karena kadar Allah bertambah di dalam kita, bertumbuh besar dalam hayat dan fungsi (Kol. 2:19).

BERTUMBUH DEWASA DI DALAM KRISTUS

Ketika kita terus bertumbuh besar dengan pertumbuhan ilahi, kita bisa mencapai kedewasaan penuh (Ef. 4:13; Kol. 1:28). Begitu kita bertumbuh dewasa di dalam Kristus, maka kemenangan, kekudusan, kerohanian, kekayaan, bahkan otoritas, semua menjadi milik kita. Lagi pula, kita bisa bersatu dengan orang banyak, menjadi Tubuh Kristus yang limpah.

Yang saya harapkan adalah kalian di samping menerima pelatihan dalam kebenaran, juga menerima perawatan dalam hayat. Kalian harus meletakkan dasar yang baik dalam kebenaran, Setiap hari harus ada pembacaan Alkitab untuk mendapatkan perawatan hayat rohani, setiap pagi membaca dua atau tiga ayat Alkitab, baik-baik makan firman Tuhan, menikmati Tuhan, menyuplai keperluan penghidupan sehari Anda. Setiap haii peiiu mempelajari Alkitab, memasuki kedan satu kitab, jangan membaca dengan ala kadarnya, perlu menuntut dengan sungguh-sungguh. Di samping itu setiap hari perlu membaca dengan cepat, membaca tiga pasal Perjanjian Lama, satu pasal Perjanjian Baru. Kalian harus menerima latihan dalam tiga aspek ini; ini akan menjadi modal di kemudian hari dalam penghidupan, pekerjaan, dan pelayanan kalian sebagai orang Kristen. Selain itu, kalian juga perlu bertumbuh dalam hayat. Dengan demikian, dengan sendirinya kalian pasti memiliki jalan dalam pelayanan terhadap Tuhan.

Kalau amanat Tuhan di atas diri Anda banyak, sehingga Anda tidak ada waktu untuk membawa pekerjaan, Anda boleh mengikuti pimpinan Tuhan, bersandar iman, menengadah kepada Tuhan, untuk sepenuh waktu melayani Tuhan. Kalau dalam situasi tidak ada kaum saleh atau gereja yang bisa menyuplai Anda, Anda harus belajar teladan Paulus, bekerja dengan tangan sendiri untuk menyuplai diri sendiri dan keperluan orang yang bersama Anda. Di tengah kita tidak ada sistem penginjil sebagai profesi. Kalau Anda merasa di tangan Tuhan kegunaan Anda tidak begitu besar, Anda boleh mengambil 50% waktu bekerja, mendapatkan sedikit uang untuk menyambung hidup, supaya tidak merepotkan orang lain. Atau lewat pelatihan dua tahun ini, Tuhan memimpin Anda kembali ke sekolah menuntut ilmu, atau Tuhan mengatur Anda bekerja satu dua tahun, lalu menurut perasaan di dalam Anda, ditambah pengaturan Tuhan dalam situasi, Anda boleh melayani sepenuh waktu.

Saya harap persekutuan singkat ini bisa membantu kalian lebih jelas, sehingga kalian bisa dengan lega menyerahkan diri. Jangan mengatakan yang sepenuh waktu itu betul, yang tidak sepenuh waktu itu salah, kita tidak perlu ada perasaan semacam itu. Yang merasa bisa mengatasi keperluan dirinya boleh sepenuh waktu; yang tidak mampu mengatasi keperluan dirinya, boleh melakukan sedikit pekerjaan, waktu yang sisa dipakai untuk mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan. Masalahnya hanya bisa mengeluarkan waktu lebih banyak atau sedikit, bukan mau atau tidak mau. Bagaimanapun juga, kita semua harus menuntut Tuhan dalam dua hal ini : Terbina dan makin dalam atas kebenaran, dan bertumbuh besar dalam hayat.

Disampaikan oleh Sdr. Witness Lee di Taipei, pada tanggal 18-10-1990