← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 1/23

LAMBANG ISRAEL

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 10:1-13

Satu Korintus 10:1-13 merupakan bagian khusus dari Firman Tuhan, bagian yang ditulis dengan latar belakang sejarah bani Israel. Paulus menulis surat ini tidak hanya menurut situasi di Korintus, tetapi juga dengan latar belakang sejarah bani Israel. Israel merupakan lambang yang lengkap dari sejarah gereja. Alkitab terdiri atas dua sejarah sejarah Israel dan sejarah gereja. Sejarah bani Israel merupakan lambang, dan sejarah gereja merupakan penggenapan atas lambang tersebut. Maka, seluruh Alkitab memberi kita satu wahyu, wahyu tentang ekonomi Allah. Dalam Perjanjian Lama kita memiliki lambang, gambaran ekonomi Allah, sedangkan dalam Perjanjian Baru ekonomi Allah dilaksanakan.

Baik dalam 1Korintus maupun dalam Ibrani, Paulus memberikan pandangan yang jelas tentang sejarah Israel sebagai lambang dan potret dari sejarah gereja. Kita telah melihat bahwa dalam 5:7-8 Paulus menyinggung Paskah dan berhari raya. Bani Israel mengalami Paskah dan memelihara Hari Raya Roti Tidak Beragi. Sebagai orang-orang Kristen dalam zaman Perjanjian Baru, kita juga memiliki Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi. Dalam 10:1-13, bagian yang berhubungan dengan memakan makanan persembahan berhala, Paulus menyinggung lagi sejarah Israel, mengambilnya sebagai lambang gereja.

I. ILUSTRASI TENTANG BERLARI

DALAM GELANGGANG PERLOMBAAN

Jika kita ingin mengerti mengapa dalam 10:1-13 Paulus menyinggung kembali Israel sebagai lambang, kita harus ingat bahwa pasal 9 merupakan sisipan yang berhubungan dengan persona Paulus sendiri. Kenyataan bahwa 10:1-13 merupakan lanjutan dari sisipan ini dibuktikan dengan ka-ta “karena” dalam 10:1 (Tl.), yang menunjukkan bahwa apa yang tercantum merupakan kelanjutan dan penjelasan atas apa yang telah lampau. Pasal 10 bukan hanya merupakan kelanjutan dari pasal 9, tetapi juga merupakan definisi lebih lanjut dari berlari dalam perlombaan yang dijelaskan dalam 9:24-27, dengan menggunakan contoh penempuhan orang-orang Israel di padang gurun untuk masuk ke dalam tanah yang dijanjikan. Pada akhir pasal 9 Paulus menyuruh kita berlari pada jalur pertandingan orang Kristen, dan dalam pasal 10 dia menggunakan bani Israel sebagai ilustrasi berlari dalam jalur pertandingan ini. Jalur pertandingan orang Kristen yang ditetapkan Allah dilambangkan dengan sejarah bani Israel. Orang Israel berlari dari Mesir, melalui padang gurun, dan menuju ke tanah permai. Mereka membutuhkan 40 tahun untuk menyelesaikan pertandingan ini.

Kita telah melihat bahwa dalam pasal 9 Paulus menyajikan dirinya sendiri sebagai teladan orang yang murni dan setia. Jika kita mengambil Kristus sebagai hayat kita dan mempraktekkan menjadi satu roh dengan Dia, kita, seperti Paulus, akan menjadi murni dan setia. Dalam pasal 9 Paulus seolah-olah berkata, “Saudara-saudara, kalian harus meniru saya dan mengambil saya sebagai teladan. Saya mendorong kalian mengambil Kristus sebagai hayat dan menjadi satu roh dengan Dia. Ini akan membuat kalian menjadi murni dan setia dan membuat kalian memperhatikan tubuh kalian, yang merupakan anggota-anggota Kristus dan bait Roh Kudus. Jika kalian memiliki pandangan yang tepat terhadap tubuh kalian, kalian akan makan dengan cara yang tepat dan menempuh kehidupan pernikahan yang tepat. Jika tidak, kalian akan merusak tubuh kalian, yang merupakan bait Allah. Kalian mungkin juga menghancurkan anggota-anggota Tubuh Kristus yang lain.”

Cara Paulus menanggulangi problem riil tentang makan ini, penuh dengan hayat dan pengertian rohani. Dia dapat menanggulangi problem ini dengan cara yang sedemikian karena dia penuh dengan Kristus, bersatu dengan Tuhan, dan dijenuhi dengan Roh pemberi hayat.

Setelah memberikan dirinya sendiri sebagai teladan yang positif, Paulus menggunakan bani Israel sebagai teladan yang negatif. Dalam melakukan hal ini, dia memberikan peringatan kepada orang-orang Korintus dan menunjukkan bahwa mereka seharusnya meniru dia, teladan yang positif, bukan bani Israel, teladan yang negatif.

II. DIBAPTIS KEPADA MUSA — KRISTUS

Dalam 10:1-2 Paulus berkata, “Aku mau, supaya kamu mengetahui, Saudara-saudara bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Kata “semua” menunjukkan bahwa semua orang Israel yang telah menikmati Paskah, masuk ke dalam perlombaan lari dan mulai berlari sejak saat mereka meninggalkan Ramses (Kel. 12:37).

Mengapa Paulus mengatakan “nenek moyang kita”, sedangkan kebanyakan dari kaum beriman Korintus adalah orang-orang Yunani bukan orang-orang Yahudi? Alasannya mungkin karena Paulus menganggap umat pilihan Allah, baik orang Yahudi maupun orang Yunani adalah satu keluarga besar. Karena itu, umat Allah dalam Perjanjian Lama adalah nenek moyang kita.

Ayat 1 mengatakan bahwa semua nenek moyang kita “berada di bawah perlindungan awan”. Awan yang menutupi bangsa Israel melambangkan Roh Allah yang menyertai kaum beriman Perjanjian Baru. Setelah kaum beriman Perjanjian Baru menerima Kristus sebagai Paskah mereka (5:7), Roh Allah segera menyertai mereka dan memimpin mereka menempuh perlombaan kristiani mereka, sama seperti tiang awan yang memimpin bangsa Israel (Kel. 13:21-22; 14:19-20).

Dalam ayat 2 Paulus berkata bahwa “untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Orang Israel melalui Laut Merah (Kel. 14:21-30) melambangkan baptisan kaum beriman Perjanjian Baru (Rm. 6:4).

Bangsa Israel dibaptis kepada Musa untuk memulai perlombaan ilahi bagi penggenapan ketetapan kehendak Allah, yaitu masuk ke dalam tanah permai dan membangun bait, supaya Allah dapat memiliki Kerajaan dengan ekspresi diri-Nya di bumi. Ini melambangkan pembaptisan kaum ber-iman Perjanjian Baru ke dalam Kristus (Gal. 3:27), supaya Allah bisa memiliki Kerajaan-Nya dengan gereja sebagai ekspresi-Nya di bumi.

Dalam awan menandakan di dalam Roh itu, dan dalam laut mengacu kepada di dalam air. Kaum beriman Perjanjian Baru dibaptis dalam air dan dalam Roh itu (Mat. 3:11; Kis. 1:5; 1Kor. 12:13).

Menurut kiasan Paulus dalam Alkitab, menyeberangi Laut Merah berarti dibaptis. Dia bahkan berkata bahwa bangsa Israel dibaptis kepada Musa. Tidak diragukan lagi, Musa dianggap sebagai lambang Kristus. Mereka dibaptis kepada Musa dalam awan dan dalam laut, dan kita dibaptis kepada Kristus dalam Roh dan dalam air. Ketika kita dibaptis, baik Roh dan air ada di sekitar kita. Awan melambangkan Roh; ini berhubungan dengan hayat. Laut melambangkan air kematian. Karena itu, baptisan merupakan perihal hayat dan kematian. Hal ini menyangkut meletakkan ciptaan lama kepada kematian, sehingga kita bisa dilahirkan dalam hayat.

III. MAKAN MAKANAN ROHANI YANG SAMA

Dalam ayat 3 Paulus meneruskan berkata, “Mereka semua makan makanan rohani yang sama.” Hal ini mengacu kepada manna (Kel. 16:14-18), yang melambangkan Kristus sebagai suplai hayat sehari-hari kita (Yoh. 6:31-35) bagi perjalanan kristiani. Kita kaum beriman seharusnya makan makanan rohani yang sama, dan tidak seharusnya makan apa pun yang di luar Kristus.

IV. MINUM MINUMAN ROHANI YANG SAMA

Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Minuman rohani di sini mengacu kepada air hidup yang mengalir keluar dari batu karang yang terbelah (Kel. 17:6), melambangkan Roh itu yang mengalir keluar dari Kristus yang disalibkan dan bangkit, sebagai minuman kita yang almuhit (Yoh. 7:37-39; 1Kor. 12:13). Untuk berlari dalam perlombaan, kita semua harus minum minuman rohani yang sama, tidak seharusnya minum apa pun yang di luar Roh yang almuhit.

Batu karang yang dipukul dan terbelah untuk mengalirkan air hidup bagi umat pilihan Allah (Kel. 17:6) adalah batu karang yang bersifat fisik. Tetapi rasul Paulus menyebutnya batu karang rohani karena batu karang itu melambangkan Kristus yang dipukul dan terbelah oleh Allah demi mengalirkan air hayat (Yoh. 19:34) untuk memuaskan dahaga kaum beriman-Nya. Itulah sebabnya rasul berkata bahwa batu karang itu adalah Kristus. Karena batu karang itu adalah batu karang rohani yang melambangkan Kristus, maka batu karang itu dapat mengikuti bangsa Israel. Ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai batu karang sejati mengikuti kaum beriman-Nya.

Paulus berani memberi tahu kita bahwa batu karang fisik dalam Keluaran 17:6 adalah batu karang rohani dan batu karang itu adalah Kristus. Mereka yang mempelajari Firman dengan pikirannya, tidak mungkin menjelaskan Alkitab secara demikian. Mereka tidak akan menyebut batu karang fisik itu batu karang rohani. Batu karang dalam Keluaran 17 itu fisik atau rohani? Dalam kenyataannya batu karang itu adalah batu karang fisik. Namun, kita perlu memiliki pandangan rohani tentang batu karang fisik itu dan melihat batu karang fisik itu sampai tembus ke dalam yang rohani. Ya, batu karang itu bersifat fisik, tetapi Paulus melihatnya menurut pandangan rohaninya. Maka, dalam pandangannya itu adalah batu karang yang rohani. Ini merupakan jalan yang tepat untuk membaca Alkitab. Ini bukan mengubah Alkitab; tetapi melampaui huruf hitam di atas kertas putih dan menjamah roh. Karena Paulus melakukan hal ini mengenai batu karang fisik, baginya batu karang itu adalah Kristus. Dia tidak ragu-ragu, dan dia tidak berkata bahwa batu karang itu melambangkan Kristus. Dia menyatakan dengan berani bahwa batu karang itu adalah Kristus, adalah batu karang rohani yang mengikuti umat. Apa yang kita miliki di sini adalah ucapan dari orang yang dipenuhi dengan Roh dan yang memiliki pandangan Roh itu. Kita juga perlu memiliki pandangan rohani ketika kita membaca Alkitab.

V. SEBAGIAN BESAR DARI MEREKA

DIBINASAKAN DI PADANG GURUN

A. Allah Tidak Menyukai Mereka

Ayat 1-4 membicarakan bangsa Israel secara positif, tetapi ayat 5-11 menggambarkan mereka secara negatif. Dalam ayat 5, suatu peringatan kuat, Paulus berkata, “Sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada sebagian be-sar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun.” Secara harfiah, ini berarti mereka dibinasakan di sepanjang jalan, yaitu, mereka dijatuhkan dengan dibunuh. Ini mengacu kepada Bilangan 14:16, 29.

Dari bangsa Israel yang keluar dari Mesir, hanya dua orang, Yosua dan Kaleb, yang dapat masuk ke tanah permai. Ini menunjukkan bahwa hanya sedikit orang-orang Kristen yang hidup yang akan masuk ke dalam tanah permai ketika Tuhan Yesus datang. Selain itu, tubuh Yusuf dan Yakub juga dibawa ke dalam tanah Kanaan. Ini menunjukkan bahwa beberapa orang Kristen yang mati akan dibangkitkan dan sebagai para pemenang, mereka akan masuk dalam Kerajaan yang akan datang.

Dalam ayat 5 Paulus memberi tahu kita bahwa sebagian besar dari bangsa Israel tidak disukai Allah. Karena Dia tidak menyukai mereka, mereka dibinasakan di padang gurun. Tubuh mereka yang mati berserakan di padang gurun tanpa adanya penguburan yang layak. Hanya dalam satu hari, lebih dari dua puluh ribu orang dibinasakan dan diserakkan di tanah, tubuh mereka diserakkan di padang gurun. Ini seharusnya memperingatkan kita untuk tidak mendengarkan pengajaran yang dangkal dan takhayul yang mengajarkan, asalkan seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan beroleh selamat, segala sesuatunya pasti baik. Ini sama dengan mengatakan, karena bangsa Israel telah mengalami Paskah, segala sesuatu mengenai mereka baik-baik saja. Namun, orang yang menumpahkan darah anak domba Paskah, yang keluar dari Mesir, yang menyeberangi Laut Merah, dan bahkan menerima wahyu Allah di Gunung Sinai dan makan manna dan minum air hidup, diserakkan di padang gurun. Kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa bangsa Israel ditebus dan diselamatkan. Namun, banyak dari mereka yang jatuh di padang gurun.

Bahkan Musa dan Harun tidak masuk ke tanah permai. Harun meninggal karena kesalahannya, dan Miriam meninggal karena pemberontakannya. Bahkan Musa meninggal, bukan karena usia yang tua, tetapi karena dia telah melakukan sesuatu yang serius melawan pemerintahan Allah. Dia diperbolehkan melihat tanah permai, tetapi dia tidak diizinkan memasukinya. Ulangan 34:4 mengatakan, “Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.’” Tuhan mengasihi Musa, menganggapnya sebagai teman akrab, tetapi untuk kepentingan pemerintahan-Nya, Dia tidak dapat mengizinkan Musa masuk ke tanah permai. Musa telah melakukan sesuatu melawan pemerintahan Allah, dan Tuhan harus menjunjung pemerintahan-Nya. Karena alasan ini Dia tidak dapat mengizinkan Musa memasuki tanah permai. Di sini kita melihat bahwa Musa, seorang yang benar-benar manusia milik Allah, tidak diizinkan memasuki tanah permai. Musa, Harun, dan Miriam, tiga pemimpin di antara umat itu, meninggal di padang gurun. Tentu saja meninggal dengan cara ini tidaklah baik.

B. Menginginkan Hal-hal yang Jahat

Dalam ayat 6 Paulus melanjutkan, “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat.” Di sini Paulus berkata bahwa hal-hal ini terjadi sebagai contoh bagi kita. Karena itu, dia mencakupkan dirinya dengan semua orang beriman dalam hal berlari pada jalur perlombaan kristiani. Lambang ini menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya menginginkan hal-hal yang jahat, seperti orang-orang Israel. Kata “seperti” dalam ayat 6 menunjukkan bahwa orang-orang Korintus menginginkan hal-hal yang jahat. Karena itu, Paulus memperingatkan mereka untuk tidak menjadi orang yang penuh nafsu seperti mereka.

Penggunaan kata “contoh” oleh Paulus sangat bermakna. Kata Yunaninya juga berarti lambang-lambang dari fakta-fakta atau dari kebenaran-kebenaran rohani. Kitab ini mengambil sejarah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama sebagai lambang kaum beriman Perjanjian Baru. Dalam pasal 5:7-8 kaum beriman mengalami Kristus sebagai Paskah mereka dan mulai memelihara Hari Raya Roti Tidak Beragi. Di sini, dalam pasal ini, mereka dibaptis kepada Musa (Kristus) mereka, melalui Laut Merah (kematian Kristus) mereka. Sekarang mereka makan makanan rohani dan minum minuman rohani, supaya dapat menempuh perjalanan (perlombaan kristiani) mereka menuju tanah permai (Kristus yang almuhit). Juga, mereka diperingatkan (ayat 11) untuk tidak mengulang sejarah bangsa Israel yang melakukan perbuatan jahat melawan Allah, seperti yang digambarkan dalam ayat 6-11.

Sasaran panggilan Allah terhadap bangsa Israel adalah agar mereka dapat masuk ke dalam tanah yang dijanjikan untuk menikmati kelimpahannya sehingga mereka dapat mendirikan Kerajaan Allah dan menjadi ekspresi Allah di bumi. Namun, walaupun bangsa Israel telah ditebus melalui Paskah, dibebaskan dari kelaliman Mesir, dan dibawa ke gunung Allah untuk menerima wahyu tempat kediaman Allah, Kemah Suci, hampir semuanya jatuh dan tewas di padang gurun, gagal mencapai sasaran ini (Ibr. 3:7-19) karena perbuatan jahat dan ketidakpercayaan mereka. Hanya Kaleb dan Yosua mencapai sasaran ini dan masuk ke dalam tanah permai (Bil. 14:27-30). Ini menunjukkan bahwa walaupun kita telah ditebus oleh Kristus, dibebaskan dari belenggu Iblis, dan juga dibawa masuk ke dalam wahyu ekonomi Allah, kita masih dapat gagal mencapai sasaran panggilan Allah, yaitu masuk ke dalam warisan tanah permai kita, Kristus (Flp. 3:12-14), dan menikmati kekayaan-Nya bagi Kerajaan Allah, supaya kita dapat menjadi ekspresi-Nya dalam zaman ini dan mengambil bagian dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus dalam zaman Kerajaan (Mat. 25:21, 23). Ini seharusnya menjadi peringatan yang serius bagi semua orang beriman Perjanjian Baru, lebih-lebih untuk orang-orang Korintus, yang berada dalam bahaya mengulangi kegagalan bangsa Israel di padang gurun.

C. Menjadi Penyembah-penyembah Berhala

Ayat 7 mengatakan, “Dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: ‘Duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.’” Penyalahgunaan hal makan oleh bangsa Israel berhubungan dengan penyembahan berhala, penyembahan anak lembu emas (Kel. 32:1-6). Perkataan rasul di sini menyiratkan bahwa orang-orang Korintus makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala tanpa tenggang rasa, sedikit banyak juga berhubungan dengan penyembahan berhala.

Dalam ayat 7 kita memiliki interpretasi alkitabiah tentang penyembahan berhala. Menyembah berhala berarti makan, minum, dan bersukaria. Ketika bangsa Israel menyembah anak lembu emas, mereka duduk makan dan minum, dan mereka bersukaria. Bersukaria di sini berarti memiliki hiburan. Makan, minum, dan bersukaria sama dengan menyembah berhala. Hari ini orang-orang di mana-mana melakukan penyembahan berhala dengan cara ini. Kapan saja ada hari libur atau akhir pekan yang panjang, mereka bersukaria, mencari berbagai macam hiburan. Selain itu, dalam ibadah orang-orang Kristen hari ini ada praktek-praktek penyembahan berhala. Dalam pandangan Allah, musik dan drama yang ada dalam ibadah tertentu adalah penyembahan berhala. Di banyak tempat orang-orang Kristen sebenarnya tidak menyembah Allah mereka mempraktekkan penyembahan berhala. Cara ibadah mereka merupakan penyembahan berhala di pandangan Allah. Kita juga harus berhati-hati dalam menggunakan alat musik dalam sidang-sidang. Nyanyian kita seharusnya untuk menyembah, bukan untuk kesenangan. Sewaktu kita bernyanyi dalam sidang-sidang, kita perlu memiliki roh penyembahan yang sejati. Jika nyanyian kita menjadi seperti hiburan, itu adalah penyembahan berhala. Nyanyian dalam sidang-sidang gereja bukan untuk bersukaria, melainkan harus menjadi penyembahan yang sejati yang dipersembahkan kepada Allah.

D. Melakukan Percabulan

Ayat 8 melanjutkan, “Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.” Percabulan mengiringi penyembahan berhala (Bil. 25:1-2). Karena itu, di sini dua hal itu disebutkan bersama-sama, seperti juga dalam Kisah Para Rasul 15:20, 29. Tidak diragukan lagi, di sini tersirat bahwa kedua kejahatan itu ada di antara kaum beriman Korintus. Jadi dua hal utama itulah yang ditanggulangi dalam pasal 5 sampai pasal 10.

Dalam ayat ini Paulus menggunakan kata “tewas”. Ini berarti jatuh ke tanah karena dibunuh. Mereka yang tewas secara demikian tidak dikubur dengan layak, melainkan diserakkan di padang gurun.

E. Mencobai Tuhan

Dalam ayat 9 Paulus meneruskan, “Janganlah kita mencobai Kristus, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.” Secara harfiah, kata “mencobai” berarti mencoba sampai puncaknya, mencobai dengan sekuatnya. Menurut Bilangan 21:6, mereka yang mencobai Tuhan dibinasakan oleh ular.

F. Bersungut-sungut kepada Tuhan

Ayat 10 mengatakan, “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” Sungut-sungut bangsa Israel (Bil. 16:41) melambangkan perkataan negatif kaum beriman Korintus terhadap rasul (1Kor. 4:3; 9:3). Bangsa Israel yang bersungut-sungut dibinasakan, mereka dimusnahkan, jatuh berserakan. Pembinasa yang disebutkan dalam ayat 10 adalah malaikat pelaksana dari Allah (Kel. 12:23; 2 Sam. 24:16-17). Tidak diragukan lagi, dengan menyinggung sungut-sungut bangsa Israel Paulus menunjukkan bahwa kaum beriman Korintus harus berhati-hati terhadap sungut-sungut yang melawan diri Paulus.

G. Peringatan bagi Kita, Orang-orang yang Hidup pada Akhir Zaman

Dalam ayat 11 Paulus menjelaskan, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba.” Kembali Paulus berkata bahwa hal-hal yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun merupakan lambang. Lambang ini ditulis untuk menasihati kita. Nasihat di sini menyiratkan sebuah peringatan.

Dalam ayat 11 Paulus membicarakan akhir zaman. Kata Yunani untuk “akhir” juga berarti “penggenapan” atau “perampungan”. Zaman di sini mengacu kepada semua zaman yang lalu. Zaman akhir mengacu kepada diakhirinya semua zaman yang lalu pada permulaan zaman Perjanjian Baru; demikianlah zaman akhir ini tiba pada orang-orang pada waktu ini. Dalam zaman Perjanjian Baru, orang-orang ini dapat menerima peringatan dari sejarah bangsa Israel. Setelah zaman Perjanjian Baru adalah zaman kerajaan. Pada zaman itu contoh-contoh tersebut tidak berguna lagi bagi perlombaan lari orang Kristen.

Dalam ayat ini Paulus seolah-olah berkata, “Zaman ini, zaman kasih karunia, merupakan akhir zaman. Saudara-saudara, kalian semua berada dalam zaman kasih karunia. Apa yang terjadi pada bangsa Israel masih merupakan lambang nasihat bagi kalian. Jika kalian tidak memperhatikan peringatan dari lambang ini dan berjalan dalam terang peringatan ini, kalian akan kehilangan kesempatan. Ketika zaman ini berakhir, lambang-lambang dari bangsa Israel ini tidak akan bermanfaat lagi bagi kalian.”

H. Berhati-hati Agar Tidak Jatuh

Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Berdasarkan peringatan dalam ayat 5-11, rasul memperingatkan orang-orang Korintus agar jangan menyangka bahwa mereka sedang berdiri teguh, tanpa ada bahaya jatuh tewas seperti yang terjadi pada bangsa Israel. Kata “jatuh” di sini mengacu kepada bangsa Israel yang gagal, jatuh dan tewas di padang gurun. Beberapa orang beriman Korintus benar-benar jatuh dan tewas karena mereka berdosa terhadap Tubuh Tuhan (11:27-30).

Dalam ayat 12 Paulus memberi tahu orang-orang Korintus filosofis untuk berhati-hati agar mereka tidak jatuh. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka kuat, teguh, dan kokoh. Tetapi Paulus memperingatkan mereka agar tidak jatuh, seperti bangsa Israel. Seperti yang akan kita lihat, dalam pasal 11 Paulus menekankan bahwa mereka yang melawan Allah dalam hal meja Tuhan menjadi lemah, sakit, dan bahkan meninggal. Ini adalah jatuh. Setiap orang beriman Perjanjian Baru yang meninggal tanpa kemenangan adalah orang yang jatuh. Paulus meninggal, tetapi dia tidak meninggal dalam keadaan kalah. Dia tidak jatuh di padang gurun. Sebaliknya, dia meninggal dalam keadaan menang. Dia seperti Yosua dan Kaleb, yang tidak meninggal di padang gurun. Namun, kebanyakan orang Kristen meninggal sebagai orang yang dikalahkan. Bagi orang Kristen, meninggal karena kalah oleh dosa, dunia, daging, hawa nafsu, Iblis, atau apa pun yang jahat adalah jatuh di padang gurun. Sebenarnya itu adalah diserakkan di padang gurun. Ini merupakan hal yang sangat serius.

Peringatan Paulus dalam ayat ini merupakan perkataan kebenaran ( Ibr. 5:13). Hari ini di mana Anda dapat mendengar perkataan kebenaran yang sedemikian diberitakan di antara orang-orang Kristen? Tidak ada perkataan kebenaran, sebaliknya ada khotbah berlapis gula yang sering mendorong orang-orang mempraktekkan penyembahan berhala. Ini merupakan situasi yang serius, dan membutuhkan perkataan peringatan yang serius.

I. Tidak Ada Pencobaan yang Tidak Bisa

Diterima Manusia

Dalam ayat 13 Paulus meneruskan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Ayat ini merupakan kelanjutan dari peringatan dalam ayat 12, yang menunjukkan, pada satu pihak kita seharusnya berjaga-jaga agar tidak tergoda, tidak jatuh, dan tewas. Pada pihak lain, menunjukkan bahwa Allah di dalam kesetiaan-Nya tidak akan mengizinkan percobaan apa pun menimpa kita melampaui apa yang dapat kita tanggung, tetapi bersamaan dengan pencobaan itu, Ia akan memberikan jalan keluar kepada kita. Perkataan yang mendorong ini menyusul peringatan keras yang diberikan dalam ayat-ayat sebelumnya.

Beberapa pembaca 1 Korintus berpikir bahwa kata pencobaan dalam ayat 13 berarti penjara atau cobaan. Menurut pengertian mereka, ayat ini mengatakan bahwa cobaan apa pun yang kita derita adalah pencobaan biasa bagi semua manusia. Sebenarnya, di sini maksud Paulus bukanlah kesusahan, melainkan pencobaan. Dalam Matius 6:13 Tuhan Yesus mengajar kita berdoa untuk dilepaskan dari hal-hal yang jahat dan juga agar tidak dibawa ke dalam pencobaan. Hal-hal yang jahat di sini mengacu kepada masalah seperti kecelakaan dan lain-lain. Cobaan mengacu kepada hal-hal di sekitar kita yang mencobai kita. Jadi, kita perlu berdoa agar setiap hari Tuhan melepaskan kita dari kesulitan dan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu menanggung cobaan. Dalam 10:13 Paulus berbicara tentang pencobaan, bukan kesulitan atau ujian.

Perkataan Paulus dalam ayat 13 merupakan hiburan dan koreksi bagi orang-orang Korintus. Orang-orang Korintus mungkin berpikir bahwa pencobaan terlalu kuat untuk dilawan. Tetapi Paulus menekankan bahwa pencobaan yang mereka alami adalah pencobaan yang biasa bagi manusia. Dia juga mengatakan bahwa Allah setia dan tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan mereka, tetapi bersamaan dengan pencobaan itu, Ia akan memberikan jalan keluar sehingga mereka dapat menanggungnya. Ini merupakan perkataan janji dan dorongan. Namun, kalau kita dicobai, kitalah yang harus bertanggung jawab, bukan Allah. Ketika kita dicobai, kita tidak boleh menyalahkan Allah. Menurut ayat ini, tanggung jawab dicobai terletak pada kita. Pada waktu yang sama, kita mungkin didorong untuk mengetahui bahwa Allah yang setia akan menyediakan jalan keluar bagi kita.