Daftar isi Sepatah Kata bagi Saudari · (2) · bab 2/2

(2)

Para Ibu Yang Penuh Kasih Di Dalam Hidup Gereja

Pembacaan Alkitab :

Yohanes 19:25-27; I Petrus 5: 13b;

I Timotius 1:2-3a; Titus 1:4a; Roma 16:13

Roma 16 merupakan sebuah pasal yang sepenuhnya menyinggung tentang hidup gereja yang praktis. Pasal ini menggunakan istilah gereja atau gereja-gereja sebanyak lima kali; dan istilah ini digunakan mutlak bukan secara doktrin. Pertama-tama pasal 16 menggunakan istilah gereja, yaitu gereja lokal, gereja di Kengkrea. Beberapa pasal lainnya dalam surat-surat kiriman berulangkali menggunakan istilah gereja atau gereja-gereja.

Tambahan pula, tak satu pasal pun dalam surat-surat kiriman yang menggunakan istilah saudari lebih dari sekali. Istilah saudara lebih sering dipakai dalam Perjanjian Baru daripada istilah saudari. Di tempat-tempat lain tak akan kita temukan istilah "saudari kita". Paulus memulai pasal ini dengan ucapan, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita." Dalam ayat-ayat berikutnya ia menyampaikan salam kepada saudara-saudara, tetapi ia tidak mengatakan "saudara kita". Hanya dalam rekomendasinya terhadap Febe ia mengucapkan "saudari kita".

Ibunya adalah juga Ibuku

Ada sesuatu hal lagi yang merupakan konsep yang tak umum dalam pasal ini yang menyangkut hidup gereja dalam ayat 13, "Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Penekanan dalam Roma 16 adalah pada saudari-saudari bukan saudara-saudara. Di sana ada sebutan ibu, namun tak ada sebutan bapa. Baik sebutan saudari atau ibu, sebutan ini bukanlah dalam daging. "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita", bukanlah saudari yang di dalam daging. Sebutan ibu dalam pasal ini adalah ibu Rufus di dalam daging, tetapi ia juga adalah ibu Paulus. Memang ia bukanlah ibu Paulus di dalam daging. Tak satu ayat pun yang memberitahu nama ibu dan ayah Paulus di dalam daging. Sebutan ibu dalam ayat 13 adalah ibu di dalam daging dari Rufus, namun bukan ibu Paulus yang sebenarnya dalam daging.

Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa sedikitnya Paulus mempunyai dua anak, yang bernama Timotius dan Titus, tetapi mereka ini bukanlah anak di dalam daging. Paulus menggunakan suatu ungkapan yang akrab dengan menyebut mereka anak. "Kepada Timotius, anakku", dan "Kepada Titus, anakku yang sah" (I Tim.l 2; Tit.1:4). Akan tetapi, Perjanjian Baru sanga sedikit sekali memberitahu kita tentang pertal an di dalam daging secara langsung di antara ara rasul. Kita tak bisa menemukan sebuah ayat pun yang memberitahu kita berapa banya putra putri Petrus. Tetapi Petrus justru memberitahu kita kalau ia mempunyai seorang putra yang bernama Markus, "Markus, anakku." Sudah tentu Markus bukanlah anak Petrus di dalam daging. Alkitab memberitahu kita ibu Markus bernama Maria, namun tidak memberitahu kita nama ayahnya di dalam daging. Petru adalah ayah Markus, bukan ayah di dalam daging, melainkan ayah di dalam roh, ayah dalam iman.

Tak satu pun kata-kata dalam Alkitab yang sia-sia. Menurut catatan Yohanes 19, ketika Tuhan Yesus di salib, di mana Ia merasakan penderitaan, mendekati akhir penyalibanNya, Ia memandang ibuNya di dalam daging. Pada seat itu empat saudari berdiri dekat salib, memandang Tuhan yang tersalib. Maria ada di sana beserta saudara perempuannya, dan dua saudari lainnya yang juga bernama Maria. Saudara perempuan Maria adalah ibu Yakobus dan Yohanes; jadi Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu Yesus. Menjelang akhir penyalibanNya, Tuhan Yesus memandang ibuNya di dalam daging, dan berkata kepadanya, "Ibu, janganlah melihatKu, tetapi pandanglah anakmu." Pada saat yang bersamaan Ia berkata kepada sepupuNya, yakni Yohanes, "Inilah ibumu!" (Yoh.19:25-27). Kisah ini tak bisa dipandang sebagai cerita saja, pasti ada sebabnya mengapa hanya dicatat dalam Injil Yohanes bukan dalam ketiga Injil lainnya.

Masing-masing Injil mengandung catatan-catatan tertentu yang sangat bermakna. Sebagai contoh, Injil Lukas merupakan sebuah kitab tentang penyelamatan, memberikan kita sebuah catatan yang istimewa tentang dua orang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, yang sering mengejek Tuhan, sedang lainnya mengomeli si pengejek serta berseru kepada Tuhan. Tuhan kemudian memberitahu bahwa pada hari ini ia dan Tuhan akan bersama-sama di dalam Firdaus (Luk.23:39-43). Catatan dalam Injil Lukas ini pun bukan sekadar kisah belaka. Perkataan Tuhan kepada penjahat di atas salib itu menunjukkan keselamatan, dan Injil Lukas merupakan sebuah kitab tentang keselamatan. Catatan ini tidak tercantum dalam Injil Yohanes, karena Injil Yohanes bukan kitab tentang keselamatan. Catatan Lukas tidak tercantum dalam Injil Yohanes, dan catatan dalam Injil Yohanes tidak diulangi dalam Injil Lukas.

Suatu Pengalihan Hayat

Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, bukan hayat alamiah, tetapi hayat yang telah dialihkan dan diubah. Untuk menggenapkan tujuannya, Yohanes memberi kita sebuah catatan yang menunjukkan bagaimana hayat orang yang percaya Kristus bisa dialihkan oleh salib Yesus dan oleh kebangkitanNya. Jika anda memandang pada salib Yesus, anda akan memperoleh pengalihan. Perkataan Tuhan Yesus kepada Yohanes dan ibunya, merupakan sebuah kata yang menunjukkan kepada kita, bahwa pembagian hayatNya, pelepasan hayat melalui kematianNya mengalihkan hayat orang-orang.

Pengalihan oleh Salib Kristus dan KebangkitanNya

Asalnya, Yohanes bukan putra Maria, dan Maria bukan ibu Yohanes. Tetapi karena penyaliban Yesus, Maria, ibu Yesus, menjadi ibu Yohanes. Yohanes, yang adalah putra saudara perempuan Maria, menjadi putra Maria. Ini bukanlah kisah adopsi, dan tidak berarti Tuhan Yesus adalah seperti seorang hakim yang melaksanakan pengadopsian ketika mereka semua yang berdiri dekat salib. Ini bukan peristiwa adopsi, melainkan suatu pengalihan. Menurut hayat di dalam daging, Yohanes adalah keponakan Maria, dan Maria adalah bibi Yohanes. Tetapi melalui memandang pada salib, mereka menerima hayat yang lain. Hayat yang lain masuk ke dalam mereka. Dalam hayat kedua, keponakan menjadi anak yang sah, dan bibi menjadi ibu yang sah.

Perjanjian Baru tidak memberitahu kita tentang nama-nama anak Petrus maupun Paulus menurut daging. Tetapi memberitahu kita tentang Markus, Timotius dan Titus. Perjanjian baru sebagai suatu catatan rohani tidak memberitahu kita tentang hubungan keluarga di dalam daging; melainkan mencantumkan catatan tentang keluarga rohani kita. Kita mempunyai suatu kebiasaan menyebut yang lain dengan saudara dan saudari di dalam gereja, tetapi hal ini boleh jadi hanyalah suatu istilah keagamaan tanpa kita memiliki realisasi yang sesungguhnya bahwa kita adalah saudara-saudara dan saudari-saudari yang memiliki hayat yang sama. Jika di hadapan seseorang anda memberikan rekomendasi terhadap saudari anda di dalam daging, pastilab di dalam anda ada suatu realisasi yang dalam bahwa orang ini mempunyai hubungan yang khusus dengan anda. Kalau anda tak mempunyai realisasi yang demikian sewaktu anda merekomendasi seorang saudari di dalam Tuhan, tetapi anda menyebutnya saudari anda, maka sebutan yang anda pakai hanyalah suatu istilah keagamaan.

Catatan tentang keluarga rohani kita

Sekalipun dalam hidup gereja kita, saling menyebut-memanggil dengan saudara atau saudari kita, namun aku tak pernah mendengar kaum saleh menyinggung tentang anak-anak mereka di dalam gereja, anak-anak mereka di dalam roh. Perkataan ini kelihatannya sulit diterima dan bahkan mungkin akan menyalahi orang, tetapi kita memerlukan sepatah kata yang kuat dan tajam yang menembus ke dalam kita. Saya berharap harinya akan tiba dan banyak kaum saleh akan memiliki anak-anak yang sesuai dengan catatan rohani ini. Janganlah kita hanya memanggil satu sama lain dengan sebutan saudara atau saudari dengan tanpa arti.

Paulus berkata, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita", dan "Salam kepada Rufus,... ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Paulus menyebutnya ibunya. Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Paulus mempunyai seorang ibu, dan dua putra. Ibunya adalah ibu Rufus, sedang kedua putranya adalah Timotius dan Titus. Tetapi tak seorang pun dari mereka ini mempunyai pertalian secara daging.

Ibu-ibu Dalam Hidup Gereja

Untuk memiliki praktik hidup gereja yang tuntas, dalam gereja lokal harus ada saudari-saudari yang sejati dan ibu-ibu yang sejati. Dalam berita terdahulu, bebanku adalah memberitakan bahwa kalian perlu menjadi saudari yang melayani, tetapi sekarang bebanku adalah : kalian perlu menjadi ibu. Selama di tengah-tengah kita kekurangan saudari-saudari yang seperti Febe, hidup gereja belumlah Namun, pelayanan saudari itu adalah pada awal Roma 16, dalam ayat pertama. Agar hidup gereja yang riil mencapai puncaknya, setiap gereja harus memiliki ibu-ibu yang sejati.

Kalau di depan, saya mengusulkan para saudari perlu dilatih menjadi orang-orang yang melayani, sama seperti para perawat dilatih di rumah-rumah sakit untuk merawat orang-orang sakit, tetapi sekarang aku harus berkata, di atas bumi ini, tak pernah ada sekolah yang melatih para ibu untuk menjadi ibu-ibu. Aku tak pernah mendengar ada seorang menerima latihan untuk memahami bagaimana menjadi seorang ibu sebelum is menjadi ibu. Satu– satunya cara agar seseorang itu bisa menjadi seorang ibu adalah melalui melahirkan seorang anak. Dan dengan adanya anak itu memaksa ia melatih diri sendiri.

Berlatih menjadi ibu

Banyak orang tua mencoba melatih anak-anak mereka. Namun akhirnya mereka menyerah karena latihan itu tidak praktis. Hal seperti ini tidak riil seperti sesuatu dalam mimpi. Bagi seorang wanita muda, latihan yang paling praktis untuk menjadi seorang ibu adalah adanya seorang anak kecil lahir darinya. Dulu ia tidak mengerti bagaimana menjadi ibu, tetapi hari ini, setelah seorang bayi terlahir, esok paginya ia mulai berlatih. Dan tak lama kemudian, ia akan lulus dari latihan ini.

Ada sejumlah prinsip yang baik dan mendasar, yang hampir-hampir terlupakan di antara kaum imani bagi generasi-generasi selanjutnya. Jika hal ini dipraktikkan, yaitu setiap kaum imani baru mempunyai seseorang yang merawat mereka dengan sungguh-sungguh sebagai orang tua rohani, maka banyak kaum imani baru yang bisa mendapatkan bantuan dalam hidup rohani serta hidup gereja mereka.

Dalam latihan pada tahun 1948, saudara Nee memberitahu kaum saleh, terutama kepada para saudari, yaitu mereka seharusnya menjadi ibu bagi kaum saleh muda lainnya. Banyak saudari yang masing-masing bisa merawat dua atau tiga anak di dalam roh.

Kebanyakan anak-anak kurang begitu menghargai orang tuanya sendiri, terutama ketika mereka menginjak umur belasan tahun. Tetapi jika saya mengambil anak-anak anda sebagai anak-anakku, mereka akan lebih menghargai kata-kataku. Jika anak— anakku mempunyai problem yang sama, mereka tak mau terbuka terhadapku. Tetapi jika anda mengambil mereka sebagai anak-anak anda, mereka akan mengungkapkan semua kesulitan mereka kepada anda. Jadi, sekali pun mereka tak mau menerima perkataanku, namun mereka mau menerima nasihat anda. Seringkali timbul banyak masalah antara orang tua dengan anak-anak belasan tahun. Sedikit sekali anak-anak yang seumur itu mau patuh dan that. Banyak anak yang bandel senang mendengar nasihat orang lain daripada orang tua mereka sendiri.

Peralihan hayat melalui memandang pada salib

Kita semua memerlukan kelahiran yang kedua, dan kita pun memerlukan ibu yang kedua. Jika kalian pare saudari mengambil beban dengan menengok pada salib, membiarkan diri kalian memiliki pengalihan hayat, dan menerima beberapa kaum muda yang berusia sekolah tingkat lanjutan menjadi anak-anak anda, dalam waktu lima tahun, pasti akan ada suatu kebangunan dalam gereja. Cara terbaik untuk memiliki pengalihan hayat adalah dengan memandang pada salib. Anda perlu membawa seorang muda kepada salib dan memandang Yesus yang tersalib. Ia akan berkata, "Pandanglah ibumu. Inilah ibumu." Dan Ia akan berkata kepada kalian, "Lihatlah anakmu. Inilah putramu", atau, "Inilah putrimu."

Kelahiran yang kedua

dengan keluarga yang kedua dalam hidup gereja

Setiap saudari dari segala umur perlu menjadi seorang ibu bagi orang-orang lainnya. Dengan merawat seorang anak, anda akan bertumbuh dan menjadi matang. Dalam hayat alamiah, cara terbaik untuk orang-orang muda agar menjadi matang yaitu memiliki dua anak. Demikian juga, dengan mengambil beberapa kaum muda sebagai anak-anak rohani anda akan membuat anda bertumbuh.

Tetapi, merawat beberapa orang dengan cara ini merupakan suatu ujian besar. Jika hayat alamiah anda belum tersalib, belum pernah memiliki suatu pengalihan, praktik seperti ini akan menjadi jerat. Anda akan jatuh ke dalam kasih alamiah dan terjerat oleh emosi yang bersifat daging. Praktik seperti ini akan berhasil hanya melalui pengalihan hayat lewat salib.

Dalam hidup gereja kita memerlukan saudari-saudari dan saudara-saudara yang sejati, teristimewa kita memerlukan ibu-ibu yang sejati. Semua saudari perlu terdorong untuk merawat beberapa anak rohani. Hal ini bukan perkara yang ditetapkan kepada para saudari, namun perlu para saudari menerima beban ini.

Pelindung dan penunjang

Tanpa beberapa anak rohani, para saudari lebih mudah undur. Tak peduli betapa mudanya usia anda, satu atau dua anak rohani akan menjadi pelindung anda dan penunjang anda dalam banyak aspek. Perawatan atas anak-anak ini akan membawa suatu perubahan besar di dalam anda. Seorang wanita muda yang belum mempunyai anak akan terlalu bebas. Tak ada sesuatu yang mengikat dan membatasinya, namun ia pun tak memiliki pelindung dan penunjang. Dua orang anak akan menjadi pelindung, penjaga dan pembatas terhadap ibu tersebut, selain itu mereka pun akan menjaganya dari kegagalan. Tanpa anak-anak, mudah sekali saudari-saudari melakukan kesalahan-kesalahan, tetapi dengan adanya dua atau tiga anak, anak-anak ini akan menjaga ibu-ibu dari keadaan melakukan kesalahan-kesalahan.

Karena itu semua saudari perlu menjadi saudari-saudari dalam realitas. Saudari kita Febe, dalam Roma 16:1, adalah seorang saudari yang sejati. Ia adalah seorang pelayan, ia pun merawat saudara saudari lainnya seperti seorang perawat, seorang penunjang, ia seorang wanita yang memenuhi segala kebutuhan orang lain. Tetapi menjadi seorang saudari seperti itu dalam hidup gereja masih belum berada di puncaknya. Dalam hidup gereja perlu memiliki ibu-ibu, bahkan hamba-hamba Tuhan pun perlu memiliki ibu-ibu. Rasul Paulus memerlukan seorang ibu. Ibu Rufus itulah ibunya. Tanpa seorang saudari sebagai ibu yang merawat mereka, semua orang yang mengemban beban bagi pelayanan Tuhan akan merasakan sedih.

Banyak saudari perlu menjadi ibu-ibu yang sejati dalam hidup gereja. Cara terbaik untuk menanggulangi para saudari yang banyak bicara adalah memberi mereka dua belas anak. Semakin banyak anak yang mereka miliki, mereka semakin tak ingin berbicara karena mereka harus bersifat praktis. Mereka tahu berbicara yang sia-sia adalah terlalu banyak teori. Pembicaraan sia-sia mereka berubah menjadi permohonan minta tolong. Setelah selesai memandikan sembilan anak, masih ada tiga orang anak lagi yang masih kecil-kecil yang perlu dimandikan. Mereka tak ada perhatian, tak ada semangat, tak ada tenaga, tak ada Kati, tak mempunyai kapasitas, serta tak ada waktu lagi untuk mempercakapkan siapa-siapa yang segera menikah. Anak-anak akan mengubah seluruh situasinya.

Jika kalian sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, anda perlu memandang pada keluarga gereja, dengan sejumlah reme1a yang memerlukan ibu-ibu rohani untuk merawat mereka. Kalian masing-masing perlu menerima beban untuk merawat sedikitnya seorang sebagai anak rohani kalian. Semua orang tua akan memberitahu anda bahwa mereka memerlukan bantuan kalian.

Hubungan Keluarga yang Riil

Jika kita saling menyebut saudara dan saudari antar satu sama lain dalam hidup gereja, namun ketika kita menghadapi perkara-perkara yang riil, kita tidak saling merawat anak-anak saudara atau saudari lainnya, maka semua anak generasi kedua akan tahu bahwa persaudaraan dan persaudarian kita tidak sejati. Bagi mereka, persaudaraan dalam hidup gereja adalah sesuatu gema di udara saja. Tetapi jika ada orang yang mau mengambil orang-orang muda itu dan merawat mereka seperti merawat anak sendiri, persaudaraan dalam hidup gereja akan menjadi persaudaraan yang riil. Kedua pihak akan mendapatkan keuntungan. Inilah konsepsi Paulus ketika ia menulis Roma 16. Kalau tidak, bagaimana ia bisa menulis seperti ini, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita". "Salam kepada Rufus, ... ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Ini berarti semua orang pada zaman itu dalam hidup gereja memiliki pengalihan hayat melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus.

Pengalihan Hayat

melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus

Salib ada di sini. Pada sisi salib ini, Maria adalah Maria, dan Yohanes adalah Yohanes. Keduanya dalam darah ataupun daging saling tak ada sangkut pautnya. Tetapi pada sisi kebangkitan, Yohanes menjadi putra Maria, dan Maria menjadi ibu Yohanes. Mereka mempunyai hubungan keluarga yang kedua, bukan yang pertama. Hubungan yang pertama ada di dalam daging, tetapi yang kedua ada di dalam hayat yang telah dialihkan. Perkara ini tercantum dalam Alkitab, tetapi hal ini telah dilalaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini.

Dalam Perjanjian Baru sangat sulit menelusuri urutan keluarga rasul-rasul yang di dalam daging. Yang mudah dilihat di antara kaum imani semula adalah kelahiran kedua dengan hubungan keluarga yang kedua. Di antara orang-orang Kristen hari ini, banyak yang berbicara tentang kelahiran yang kedua, tetapi hampir-hampir tak pernah terdengar tentang hubungan yang kedua. Jika kita memiliki kelahiran yang kedua, seharusnya pastilah kita juga mempunyai keluarga yang kedua. Jika kita memiliki keluarga yang kedua, pasti juga ada hubungan keluarga. Tidaklah cukup hanya mengatakan bahwa kita berada di dalam keluarga besar. Kita harus mempunyai hubungan keluarga yang sejati dengan saudari-saudari dan ibu-ibu.

Merawat orang lain bukanlah suatu hal yang mudah. Namun setelah kita bertumbuh, kita lebih sulit lagi menerima pemeliharaan orang lain. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita semua perlu rawatan orang lain. Rawatan mereka adalah suplai makanan kita yang sejati, pelindung kita yang sejati. Saudari-saudari yang lebih tua tidak seharusnya menganggap bahwa mereka bukan lagi anak-anak karena mereka telah menjadi ibu. Mereka perlu belajar menjadi anak-anak dan mengizinkan orang lain jugs merawat mereka.

Semua orang di antara kita memiliki kelahiran yang kedua, dan kita pun memiliki keluarga yang kedua. Dalam keluarga kedua, kite semua perlu memiliki hubungan keluarga yang kedua. Keluarga ada di dalam hubungan. Jika tidak ada hubungan keluarga, maka tak ada keluarga yang sejati. Tanpa hubungan keluarga, kita takkan merasa terdorong terhadap situasi yang ada dalam hidup gereja. Tanpa realitas ke.semuanya ini, kita tak mempunyai pelaksanaan hidup gereja.

Para saudari perlu dilatih menjadi orang-orang yang melayani, dan mereka perlu belajar menjadi ibu. Sebelum ada ibu-ibu yang sejati di dalam hidup gereja, hidup gereja belumlah riil, belum mencapai puncaknya.

Hal menjadi ibu akan mendatangkan banyak pelajaran, bahkan dalam banyak aspek akan menempatkan anda pada ujian yang sejati. Anda akan tampak betapa anda mengasihi diri sendiri lebih daripada mengasihi orang lain, betapa anda hanya memperhatikan diri sendiri. Semua ini akan diuji dan disingkapkan. Tanpa ujian ini, anda tak akan pernah menyadari betapa egoisnya anda dan betapa anda lebih banyak di dalam diri anda sendiri. Perkara-perkara ini tidak akan tersingkap sebelum anda mengambil beberapa saudara saudari sebagai anak-anak anda. Anak-anak rohani yang baik ini akan menyingkapkan dengan tuntas keadaan anda yang sebenarnya.

Anda mungkin berbicara tentang peremukan diri. Seringkali saya berkata, bahwa para saudari memerlukan suami-suami dengan beberapa penolong-penolong kecil untuk meremukkan mereka, tetapi yang paling baik untuk melakukan peremukan ini adalah anak-anak rohani. Betapa banyak peremukan yang akan anda alami bila anda menjadi seorang ibu yang merawat orang lain. Kita benar-benar memerlukan kasih karunia untuk menempuh jalan ini. Tidaklah cukup hanya menjadi seorang saudara atau seorang saudari secara umum saja. Semua saudari harus menjadi saudari yang melayani, dan tak peduli apakah kita telah memiliki anak atau tidak, kita harus menjadi ibu. Inilah cara terbaik untuk menerima berkat, pertumbuhan, kerohanian, dan kenikmatan yang riil akan Tuhan.

Setiap perkara dalam hidup gereja adalah riil

Kapan anda menjadi ibu yang demikian, sepia sesuatu dalam hidup gereja pasti menjadi riil. Tak akan ada lagi percakapan yang sia-sia. Para saudari sangat suka bicara karena tidak ada anak-anak dan tidak ada yang harus mereka asuh dan rawat. Jika anda mengambil seorang anak dan merawat anak itu, segeralah anda berubah menjadi sangat riil. Tak ada satu pun lainnya yang bisa menolong anda demikian banyak untuk meninggalkan watak alamiah anda. Anak itu akan membawa anda dari bumi ke langit tingkat ketiga.

Berita ini bukanlah doktrin, melainkan sesuatu yang riil. Seperti kata-kata yang pendek ini, "Salam kepada Rufus,... ibunya yang bagiku adalah juga ibu," sungguh sangat limpah maknanya. "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita." Suatu penghargaan yang singkat tapi sangat bermakna. Hidup gereja ada di sini, diwahyukan dalam ayat ini, juga diwahyukan dalam ibu itu. Semua saudari perlu menjadi ibu-ibu.

Dalam pandangan Allah, anak-anak di dalam daging tidaklah terhitung. Kita memerlukan anak-anak kategori kedua, juga memerlukan ibu untuk merawat kita. Anak-anak rohani kita barulah terhitung di pandangan Allah.

Tak perlu diragukan, Petrus memang mempunyai beberapa anak di, dalam daging, tetapi itu tidak tercatat dalam Perjanjian Baru. Ketika Petrus dilepaskan dari penjara, ia mempertimbangkan ke mama ia harus pergi, karena ia tabu di sana banyak rumah dengan kelompok-kelompok orang yang sedang berdoa. Akhirnya ia pergi ke rumah ibu Markus. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara Petrus dan Markus. Dalam surat kiriman Petrus, Petrus memberitahu kita, kalau Markus adalah anaknya. Sejarah memberitahu kita bahwa Injil Markus kebanyakan Petruslah yang mendiktekannya. Beberapa penelaah Alkitab menyebut Injil Markus sebagai Injil Petrus. Banyak ayat dalam Injil Markus memberikan indikasi bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Petrus. Karena Markus adalah anak rohani Petrus, maka ia mewarisi semua kekayaan Petrus di dalam roh.

Roma 16 adalah sebuah pasal tentang hidup gereja yang riil, bukan di dalam doktrin, melainkan secara praktis. Jika kita tidak bisa melihat adanya saudari-saudari yang benar-benar melayani serta banyaknya, ibu-ibu, hidup gereja kita belumlah riil dan belum mencapai puncaknya.

Pembangunan hidup gereja yang riil

Jika saudari-saudari mau melayani seperti Febe, dan penuh kasih sebagaimana layaknya ibu-ibu, saya berani menjamin bahwa gereja akan terbangun tujuh puluh persen. Tujuh puluh persen terbangunnya hidup gereja yang riil tergantung pada para saudari. Tanpa koordinasi dalam hal ini dari pare saudari, tak peduli berapa banyaknya saudara-saudara yang berlelah dalam hidup gereja, hasil pembangunan yang dapat dicapai sangatlah sedikit. Kapan pare saudari mau melayani dan mau menjadi ibu-ibu, segeralah gereja akan terbangun. Melalui ini akan ada persatuan yang kukuh dalam pembangunan rohani itu, dan bahkan kebangunan yang menang secara spontan akan terbawa masuk. Iblis akan dikalahkan.

Hal ini membuktikan betapa besar dukung an yang dibutuhkan dari pare saudari. Tujuh Puluh persen dari pembangunan yang riil tergantung pada para saudari. Kita semua hams berdoa agar Tuhan merahmati gereja, sehingga semua saudari bisa menjadi Febe-Febe dan menjadi ibu-ibu.

Witness Lee Anaheim, California 18 Maret 1975