← Daftar isi Kepemimpinan DI dalam Perjanjian Baru · bab 1/4

KEPEMIMPINAN DI DALAM EKONOMI PERJANJIAN BARU KONSEP TUHAN ATAS KEPEMIMPINAN

Makna kepempimpinan di dalam Alkitab mutlak berbeda dengan konsep alamiah kita. Apa yang Tuhan katakan tentang kepemimpinan di dalam Matius 20:20-28 dan 23:8, 10 dan 11 menghancurkan pemikiran manusia atas kepemimpinan. Menurut konsep alamiah manusia, seorang pemimpin adalah lebih tinggi dari pada orang lain. Tetapi dalam pasal ini Tuhan berkata bahwa siapa saja yang ingin menjadi yang lebih besar di antara umat-Nya harus menjadi seorang hamba. Maka, konsep Tuhan atas kepemimpinan bertentangan dengan konsep alamiah. Memang diperlukan pemimpin-pemimpin di antara anak-anak Tuhan hari ini. Namun, pemimpin-pemimpin ini perlu menyadari bahwa di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, kepemimpinan berarti perhambaan. Jika kalian mau menjadi seorang pemimpin di antara anak-anak Tuhan, kalian harus menjadi seorang hamba.

Jika kita murni dan jujur, kita harus mengakui bahwa kita mengasihi kepemimpinan, tetapi tidak untuk perhambaan. Sedemikianlah hati manusia. Bahkan saudari-saudari muda ingin menjadi pemimpin. Jika mereka tidak dapat menjadi nomor satu, atau paling sedikit menjadi nomor dua, mereka mengecewakan. Jangan membawa konsep alamiah atas kepemimpinan ke dalam pembacaan Alkitabmu. Di dalam Alkitab, saya ulangi, kepemimpinan berarti perhambaan. Jika kalian seorang hamba yang sesungguhnya di antara umat Tuhan, kalian harus mau membersihkan WC, mevakum lantai, mengatur kursi-kursi, dan melayani sebagai seorang penerima tamu. Betapa berbedanya hal ini dengan pandangan duniawi atas kepemimpinan! Di dalam pemulihan Tuhan kita harus tidak meminta kepada pembantu ketika kita melihat yang perlu dibersihkan. Sebaliknya, kita semuanya harus melayani sebagai seorang pembantu. Mari kita membuang konsep alamiah kita atas kepemimpinan dan kembali kepada Firman yang murni.

KRISTUS, SEORANG PEMIMPIN

Menurut ekonomi Allah, hanya ada satu pemimpin di antara umat-Nya – Tuhan Yesus Kristus: ”Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias [Kristus](Mat. 23:10). Setiap orang yang menganggap saya pemimpin di dalam pemulihan Tuhan tidak melaksanakan kebenaran. Jika setiap orang menanyai kalian siapakah pemimpin di dalam gereja, kalian perlu berkata bahwa pemimpinnya adalah Kristus. Menjawab secara demikian menunjukkan bahwa kita mengenal kebenaran dan melaksanakan kebenaran. Jika seseorang menyatakan bahwa Witness Lee adalah pemimpin, kalian perlu memberi tahu dia, “Witness Lee adalah hamba kita.”

Gereja Katolik menyatakan bahwa Petrus ditunjuk oleh Kristus untuk menjadi pemimpin satu-satunya. Namun, Perjanjian Baru mewahyukan sebaliknya. Memang di dalam Injil dan bagian pertama Kisah Para Rasul Petrus adalah orang pertama, dan namanya disebut pertama. Tetapi Galatia 2:9 mengatakan, “Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai tiang utama jemaat.” Di sini Petrus (Kefas) disebutkan bukan yang pertama tetapi yang kedua. Ketika Petrus berdiri bersama sebelas rasul pada hari Pentakosta, dia kuat seperti seekor singa. Namun, dalam Galatia 2 dia pengecut, sebab ketika rombongan Yakobus datang, Petrus menolak makan bersama orang Kafir (ay. 12). Sejangka waktu, dia melaksanakan kebenaran mengenai makan dengan kaum beriman Kafir menurut visi yang dia terima di Kisah Para Rasul 10. Tetapi ketika rombongan Yakobus datang, dia tidak lagi melaksanakan kebenaran dalam perkara ini. Ketika Paulus melihat bahwa Petrus dan orang lain tidak berjalan secara tepat menurut kebenaran injil, ia menghardik Petrus di hadapan mereka semua (Gal. 2:14). Melalui kelemahannya, Petrus merusak kebenaran injil, kebenaran bahwa kaum beriman Kafir dan Yahudi adalah sama. Ini menunjukkan bahwa dalam Galatia 2 kapasitas rohani Petrus telah berkurang. Petrus tidak berbalik, tetapi kapasitas rohaninya semakin berkurang dibandingkan Yakobus. Untuk alasan ini, dalam Galatia 2:9 nama Yakobus disebutkan sebelum nama Petrus. Lebih jauh lagi, fakta bahwa rombongan dari “Yakobus” datang menunjukkan bahwa Yakobus mewakili gereja di Yerusalem.

Petunjuk lain bahwa Yakobus, dan bukan Petrus, yang mewakili gereja di Yerusalem terlihat di dalam Kisah Para Rasul 21:17 dan 18: “Ketika kami tiba di Yerusalem, semua saudara seiman menyambut kami dengan senang hati. Keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.” Di sini kita diberi tahu bahwa Paulus dan sekerjanya tidak mengunjungi Petrus tetapi ke Yakobus, kepada semua penatua, termasuk Petrus, di rumah Yakobus. Yakobus adalah seorang yang mewakili gereja di kota itu.

Petunjuk selanjutnya terlihat di sidang yang diadakan di Kisah Para Rasul 15. Di dalam sidang para rasul dan penatua ini, Petrus pertama-tama berbicara dan kemudian Paulus. Di dalam sidang seorang pemimpin tidak berbicara yang pertama, tetapi yang terakhir. Kata kesimpulan di dalam sidang ini disampaikan oleh Yakobus, seperti ditunjukkan oleh perkataan ini: “Hai saudara-saudara dengarkanlah aku” (Kis. 15:13). Kemudian di dalam ayat 19 Yakobus menyampaikan keputusannya: “Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah.” Ketika kita menempatkan semua ayat ini bersama-sama, kita melihat bahwa Petrus bukan pemimpin satu-satunya di dalam Perjanjian Baru. Ketika Katolik menyatakan bahwa Petrus adalah seorang pemimpin yang demikian, kita perlu memberi tahu bagaimana memotong Firman dengan lurus yang berhubungan dengan hal ini maka kita dapat menyajikan satu gambaran yang jelas kepada mereka.

KEPEMIMPINAN TERGANTUNG PADA KAPASITAS ROHANI

Di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah kepemimpinan di antara anak-anak-Nya bukan jabatan, permanen, atau organisasional. Sebaliknya, kepemimpinan tergantung atas kapasitas rohani. Seorang yang berkapasitas besar adalah pemimpin. Pada suatu waktu kapasitasnya mungkin sama dengan saudara tertentu, tetapi di lain waktu kapasitasnya mungkin berbeda dengan saudara ini. Pada hari Pentakosta kapasitas terbesar adalah Petrus, tetapi di dalam Kisah Para Rasul 15 yang terbesar adalah Yakobus.

Hubungan antara Barnabas dan Paulus adalah ilustrasi selanjutnya untuk prinsip ini. Kisah Para Rasul 13:2 mengatakan, “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, ‘Kuduskanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’” Di sini kita melihat bahwa Barnabas disebut sebelum Paulus (Saulus). Tetapi ketika mereka berada pada tugas mereka, Paulus secara spontan mengambil pimpinan (Kis. 13:9) karena dia memiliki kapasitas rohani lebih besar. Tetapi Barnabas tidak berbantahan dengan Paulus ketika Paulus mengambil pimpinan pada tugas itu. Barnabas tidak berkata, “Paulus, kembalilah. Jangan lupa bahwa namaku disebut yang pertama ketika kita dipanggil. Mengapa kamu mengambil pimpinan?” Karena Barnabas menyadari bahwa kapasitas Paulus lebis besar dibandingkan dengannya, dia tidak membantahnya karena mengambil pimpinan.

Semua kasus ini membuktikan bahwa kepemimpinan di antara anak-anak Allah hari ini seharusnya bukan menjadi satu jabatan, permanen, atau organisasional. Sebaliknya, hal ini tergantung selalu atas kapasitas rohani. Allah menentukan hal ini dalam cara demikian untuk mengesampingkan konsep manusia atas kepemimpinan. Di dalam Perjanjian Lama raja-raja menundukkan satu dengan yang lain. Tidak pernah ada tiga atau empat raja pada waktu yang sama. Tetapi di dalam Perjanjian Baru Tuhan menunjuk bukan satu rasul tetapi dua belas. Kemudian, Dia menambahkan yang lainnya, seperti Paulus, Barnabas, dan Timotius. Saya percaya bahwa ada banyak rasul. Jika tidak, dalam 2 Korintus 11:13 betapa banyak ditemukan rasul palsu? Terlebih lagi, di setiap gereja lokal selalu ada sejumlah penatua. Kejamakan dalam kepenatuaan menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada kepemimpinan yang tertentu di dalam gereja.

MELAKSANAKAN KEBENARAN MENGENAI KEPEMIMPINAN

Alasan saya menyebutkan perkara ini sekarang adalah pada tahun-tahun yang lampau ada seseorang yang menganggap menjadi pemimpin pemulihan Tuhan bukan saja di negeri ini, tetapi di seluruh dunia. Jika kaum saleh telah jelas tentang kebenaran mengenai kepemimpinan dan telah melaksanakan kebenaran ini, tidak seorangpun akan menerima pernyataan demikian. Jika kita jelas tentang kebenaran dan melaksanakan kebenaran ini, sejak sekarang tidak seorangpun akan berani mengatakan bahwa dia adalah pemimpin.

Menganggap saya pemimpin di dalam pemulihan Tuhan adalah tidak jelas tentang situasi sesungguhnya: hal ini bertentangan dengan pelaksanaan kebenaran. Sepanjang tahun saya selalu bersama kalian, saya tidak pernah menginginkan menjadi pemimpin. Saya tidak memberi pengaturan tertentu kepada gereja-gereja atau kepada kaum saleh mengenai apa yang mereka harus kerjakan. Sebaliknya, sering kali para penatua gereja-gereja tertentu meminta saya untuk memberi tahu mereka apa yang akan dikerjakan. Saya selalu memberi tahu mereka untuk menghampiri Tuhan dalam doa dan membiarkan Tuhan memimpin mereka. Tidak ada kepemimpinan yang diorganisir di dalam pemulihan Tuhan. Ketika kita meninggalkan denominasi waktu yang lampau, kita terutama meninggalkan hirarki, organisasi. Kita semua harus membenci hirarki dan tidak menerimanya dalam bentuk apapun. Walaupun demikian, selama beberapa tahun satu hirarki mulai muncul dan mengambil pimpinan. Karena begitu banyak yang berada di dalam kegelapan dan tidak melaksanakan kebenaran, hal ini ditoleransi. Sekarang kita semua harus mengenal kebenaran yang berhubungan dengan perkara ini. Kita harus berada di bawah penyinaran terang dan penuh kebenaran.

Orang tertentu menyatakan ditunjuk menjadi pemimpin di dalam pemulihan. Kita seharusnya tidak menerima perkataannya; sebaliknya, kita harus pergi kepada orang yang mengatakan telah menunjuk dia. Jika seorang pembantu yang bekerja di Gedung Putih menyatakan bahwa presiden telah memberi dia mengaturan mengenai Anda, jangan menerima perkataannya mengenai hal ini. Sebaliknya, temui presiden dan menanyainya tentang hal ini. Anda seharusnya tidak mengikuti pengaturan pembantu itu karena dia datang dalam nama presiden. Jika Anda mengambil perkataan pembantu itu secara buta, Anda tidak dapat terbantu tetapi tertipu, sebab Anda ada di dalam kegelapan dan dangkal atas kebenaran. Anda seharusnya tidak melakukan setiap hal atau percaya setiap hal karena pernyataan yang dibuat saudara tertentu yang berkata demikian. Perkara apa yang Tuhan katakan dan perkara apa yang Alkitab ajarkan, bukan apa yang saudara katakan. Betapa kita harus belajar kebenaran dan melaksanakan kebenaran mengenai hal ini!

Saya bersama Saudara Nee bertahun-tahun. Kita tidak pernah menganggap dia yang menjabat pemimpin, dan dia tidak pernah menganggap dirinya secara demikian. Siapa saja yang berpikir bahwa Saudara Nee sebagai pemimpin dan datang kepada dia untuk diarahkan, Saudara Nee tidak pernah mau mengatakan sepatah katapun. Hanya ketika seseorang datang kepada dia untuk bersekutu, dia akan membuka dirinya untuk membagikan sesuatu. Dia tidak pernah menginginkan bahwa dia adalah yang menjabat pemimpin. Demikian juga, saya tidak menganggap diriku sendiri sebagai yang menjabat pemimpin di dalam pemulihan Tuhan hari ini.

SATU KEPALA

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa semua anak Allah adalah satu Tubuh. Sekalipun ada banyak anggota, hanya ada satu Kepala. Namun, menurut konsep alamiah kita, ada banyak kepala cadangan. Kita menganggap bahu, lengan, tangan, dan jari-jari adalah kepala cadangan. Walaupun demikian, ada satu Kepala yang memberi pengaturan untuk mengarahkan semua anggota, bukan melalui kepala cadangan. Di dalam pemulihan Tuhan tidak ada organisasi; hanya ada satu organisme, Tubuh. Karena itu, tidak ada kepala cadangan apapun. Jangan menganggap lengan atau bahu sebagai kepala cadangan. Tubuh memiliki satu kepala yang unik – Kristus. Jika visi kita mengenai kepemimpinan jelas, tidak seorangpun akan dapat menipu kita.

MENAATI ORANG-ORANG YANG MEMIMPIN

Kita telah melihat satu aspek kebenaran mengenai kepemimpinan, aspek ini di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah bukanlah jabatan, kepemimpinan yang permanen. Sekarang kita perlu memperhatikan aspek lain. Ibrani 13:17 mengatakan, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya, supaya mereka melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Kita semua perlu menaati orang-orang yang memimpin. Ini bukan berarti bahwa para penatua melaksanakan otoritasnya atas kita; ini berarti bahwa sebagai mereka yang tua dan lebih berpengalaman, mereka mengambil pimpinan dan kita perlu mengikuti mereka. Taat berarti mengikuti.

Sehubungan para penatua, Petrus berkata, “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1 Ptr. 5:3). Para penatua mengambil pimpinan melalui menjadi teladan, bukan melalui memerintah atas kaum saleh. Jika para penatua melihat bahwa lantai belum divakum (disedot), mereka seharusnya tidak duduk di takhta dan seharusnya mengambil pimpinan untuk mevakum lantai dan melaluinya meletakkan satu contoh untuk orang lain ikuti.

Sekalipun para penatua seharusnya tidak penjadi tuan atas kawanan domba Allah, Petrus mengatakan, “Hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua” (1 Ptr. 5:5a). Terlebih lagi, ada masanya ketika orang-orang tua perlu tunduk kepada orang-orang muda. Seperti Petrus katakan, “Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain” (ay. 5b). Maka, bukan saja orang-orang muda tunduk kepada orang-orang tua, tetapi semuanya, tercakup orang-orang tua, merendahkan diri seorang terhadap yang lain. Betapa indahnya gambaran ini! Ini mutlak berbeda dari konsep alamiah atas kepemimpinan dalam mentalitas yang jatuh. Kepemimpinan di dalam gereja bukan dari Nimrod, yang membangun kota Babel. Sebaliknya, ini adalah satu kepemimpinan yang membangun Tubuh.

OTORITAS PARA RASUL

Akhirnya, kita perlu mengatakan sepatah kata tentang para rasul. Apakah para rasul memiliki otoritas? Menurut pengenalanku atas Perjanjian Baru, para rasul tidak memiliki otoritas di dalam diri mereka sendiri untuk mengontrol gereja. Hanya firman yang dilayankan oleh mereka memiliki kuasa. Jika gereja-gereja dan kaum saleh melangkah menurut firman, menurut juru bicara Allah, para rasul tidak memiliki otoritas untuk menjamah gereja-gereja. Tetapi jika gereja sesat atau tersesat, kemudian para rasul memiliki pengaturan dan bertanggung jawab untuk menanggulangi situasi menurut firman Allah, yang memiliki otoritas. Karena itu Paulus berkata, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskan aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan lemah lembut? (1 Kor. 4:21). Dia juga memberi tahu mereka bahwa dia hadir di dalam roh untuk menanggulangi seorang yang penuh dosa di antara mereka dan mengusir dia keluar (1 Kor. 5:3-5). Otoritas para rasul adalah rohani dan ada dalam ministri firman mereka. Mereka tidak memiliki otoritas dalam posisi untuk mencampuri urusan gereja.

Di antara anak-anak Allah di dalam ekonomi Perjanjian Baru hari ini, sebenarnya tidak ada kepemimpinan di dalam pengertian alamiah. Tidak ada jabatan, permanen, pemimpin organisasional di antara para rasul. Sama seperti menganggap para penatua di satu gereja lokal. Lebih jauh lagi, semua gereja ada pada tingkat yang sama. Karena itu, semua rasul, semua gereja lokal, semua penatua, dan semua wilayah pekerjaan ada pada tingkat yang sama. Tidak ada organisasi, tidak ada hirarki, dan tidak ada jabatan, pemimpin permanen. Sebaliknya, kita semua respek dan menghormati kekepalaan Tuhan Yesus Kristus. Jika kita melihat hal ini, kita harus memotong firman kebenaran dengan lurus mengenai kepemimpinan di antara umat Allah hari ini.