Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 9/12

Mengenakan Ketopong Keselamatan

Pembacaan Alkitab:

Kejadian 2:9, 17; 3:6-7; 2 Korintus 1:12; Efesus 6:17; 4:23; Roma 12:2; 8:5-6.

POHON KEHIDUPAN DAN POHON KEMATIAN

Di tengah-tengah Taman Eden terdapat pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Allah memberi perintah kepada Adam, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Ini memperlihatkan kepada kita betapa bertolak belakang kedua pohon itu. Di satu pihak ada pohon kehidupan, di pihak lain ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat — pohon yang membawa kepada kematian. Boleh dikatakan, ada sebuah pohon kehidupan juga ada sebuah pohon kematian. Jika manusia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, akibatnya adalah mati. Kita lihat, setelah Adam dan Hawa berdosa, di atas diri mereka ada satu perkara yang sangat berpengaruh, yaitu mereka telah memperoleh pengetahuan. Setelah mereka makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereka mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Dengan kata lain, pengaruh yang timbul dalam jiwa manusia atau hasil subjektif pertama atas diri manusia karena kejatuhannya, ialah otak manusia lebih besar daripada sebelumnya. Sebelum manusia jatuh, manusia memiliki pikiran, memiliki otak; tetapi setelah manusia jatuh, sebagian besar dalam pikiran manusia, dalam otak manusia tidak seperti semula yang ditetapkan Allah dan dikehendaki Allah. Karena itu Paulus dalam Efesus 6:17 mengatakan, “Dan terimalah ketopong keselamatan”. Ini memperlihatkan, bahwa kepala manusia perlu diselamatkan.

Banyak orang setelah percaya Tuhan Yesus, hayat dan cara hidupnya benar-benar telah berubah; tetapi di antara mereka banyak pula yang kepalanya belum beroleh selamat. Jika kepala tidak beroleh selamat, kepala tidak bertudung, maka ketika menghadapi peperangan rohani tidak akan berdaya menanggulangi Iblis. Karena itu, mengenakan ketopong keselamatan sangatlah penting. Dengan kata lain, sangat penting bagi kepala beroleh selamat.

Ada satu kesulitan yang sangat besar di tengah-tengah anak-anak Allah, yaitu Anda bisa menemukan orang yang baik hatinya, Anda pun bisa menemukan orang yang baik kelakuannya, tetapi mereka masing-masing masih membawa sebuah kepala ciptaan lama. Dengan kata lain, hayat mereka adalah hayat Kristus, tetapi kepala mereka adalah kepala Adam. Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat memahami kehendak Allah. Karena itu jika Anda mau mengukur bagaimana hayat rohani seseorang, ukur saja bagaimana kepalanya. Berapa banyak seseorang beroleh selamat terlepas dari kepalanya, berapa banyak pula ia terlepas dari Adam. Berapa banyak orang beroleh selamat terlepas dari kepalanya, berapa banyak pula ia terlepas dari ciptaan lama. Ada satu perbedaan yang mendasar antara hidup dalam ciptaan lama dengan hidup dalam ciptaan baru, dan itu terlihat dari bagaimana kepala Anda di hadapan Allah.

BUKAN OLEH HIKMAT MANUSIA,

TETAPI OLEH KASIH KARUNIA ALLAH

Dua Korintus 1:12 mengatakan, “Bahwa hidup kami di dunia ini, . . . dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.”

Kita perlu mohon Allah memberi karunia menyelamatkan kita, orang-orang yang merasa diri sendiri pandai, orang-orang yang main politik, orang-orang yang merasa diri sendiri luar biasa. Kita harus tampak bahwa prinsip hidup kita sebagai orang Kristen adalah berdasarkan kehendak Allah, bukan berdasarkan kepandaian kita; bersandar pada kasih karunia Allah, bukan bersandar pada hikmat kita. Inilah pelajaran yang perlu kita pelajari.

Misalnya ada satu perkara dibentangkan di hadapan Anda, Anda tidak tahu apakah dapat mengerjakan dengan baik atau tidak, tidak tahu harus bagaimana mengerjakannya baru tepat. Kemudian Anda berpikir panjang pendek, memikirkan ini itu; memikirkan kalau aku berbuat begini harus ada hasil begini, kalau melakukan begitu harus ada hasil begitu; kalau aku berkata ini, orang akan berkata itu, kalau aku berkata itu, orang akan berkata ini; karena itu aku harus pandai sedikit. Bagaimanakah disebut pandai? Yaitu jika aku berkata satu patah kata atau mengerjakan satu pekerjaan, harus bisa menemui kesulitan yang paling sedikit, harus bisa menghindari tentangan yang paling banyak. Tetapi Anda telah lupa bahwa Anak Allah hidup di bumi tidaklah bersandarkan kepandaian manusia. Kita sebagai orang Kristen sangatlah sederhana, hanya perlu bertanya satu pertanyaan, “Ya, Allah, Engkau mau aku berbuat apa?”

Kita harus tahu, sampai hari ini pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat masih tertanam di tengah-tengah anak-anak Allah. Banyak anak Allah yang mulai pagi sampai malam terus makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tidak makan buah pohon kehidupan. Masih terus bertanya sebaiknya begini atau sebaiknya begitu; semuanya adalah masalah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Paulus memberi tahu kita bahwa hari ini kita hidup di hadapan Allah adalah sangat sederhana, kita tidak bersandar pada kepandaian manusia, melainkan bersandar pada kasih karunia Allah. Kita hanya bertanggung jawab pada satu hal, yaitu melaksanakan kehendak Allah.

MEMBEDAKAN MANAKAH KEHENDAK ALLAH

Roma 12:2 mengatakan, “. . . tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.”

Kita masing-masing harus ingat bahwa tanggung jawab kita adalah melaksanakan kehendak Allah; dan tanggung jawab Allah adalah semua akibat yang timbul karena kita melaksanakan kehendak Allah. Kita tidak bertanggung jawab mencari jalan keluar yang lancar. Kalau mau menyinggung masalah kelancaran, maka Putra Allah di bumi ini paling tidak lancar, tetapi Dia bertanggung jawab melaksanakan kehendak Allah, dan Allah bertanggung jawab atas ketidaklancaran itu.

Kita mengatakan kepandaian orang Kristen tidaklah berguna, ini bukan berarti menyuruh orang Kristen melakukan hal yang bodoh. Kepandaian orang Kristen tidak berguna di tangan Allah, kebodohan orang Kristen juga tidak berguna di tangan Allah. Allah tidak memakai kebodohan kita sama seperti tidak memakai kepandaian kita. Kita tidak mengatakan bahwa semua perkara yang bodoh adalah benar, melainkan semua perkara yang berasal dari kehendak Allah itulah yang benar. Kita harus dapat membedakan ini. Bukan ketika aku bertemu dengan seseorang lalu dengan sengaja mengucapkan beberapa kata yang bodoh itu baru benar, bukan pula dengan sengaja aku menimbulkan suatu masalah; melainkan aku harus bertanggung jawab melaksanakan kehendak Allah. Allah mau supaya aku melakukannya, maka aku melakukannya; semua pengaruh yang muncul setelah aku melakukan itu adalah tanggung jawab Allah, bukan urusanku.

Maka kita harus mohon Allah menyelamatkan kita terlepas dari kepala kita, supaya kepala kita diselamatkan, supaya kita mengenakan ketopong keselamatan. Ketika kita menjumpai suatu masalah, pertama haruslah mengakui kepada Allah, “Ya, Allah, kepalaku, kepandaianku bukan menjadi prinsip kehidupan kristianiku. Semua perkara yang ada padaku sebagai orang Kristen adalah untuk mencari kehendak-Mu.” Ini bukan menyuruh Anda pura-pura menjadi orang yang bodoh, pura-pura menjadi orang yang dungu. Kita katakan sekali dan sekali lagi, Allah tidak memakai orang yang bodoh, sama seperti tidak memakai orang yang pandai. Dan kita tegaskan, kita hidup di dunia ini bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh kepala kita, melainkan melalui “membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ada orang yang otaknya boleh dikatakan sebagai otak dagang. Ketika menjumpai masalah apa pun, pertama-tama selalu menghitung untung rugi yang akan diperolehnya. Dalam perkara yang umum dia begitu, demikian pula dalam perkara rohani. Otak sedemikian perlu diberi peringatan. Dalam perkara rohani, masalahnya bukan seseorang itu terhitung atau tidak terhitung, seseorang itu untung atau rugi, tetapi bagaimanakah kehendak Allah. Saudara saudari, kita harus belajar melihat bahwa prinsip hidup kita di dunia ini hanya ada satu, yaitu bersandar pada kasih karunia Allah, melaksanakan kehendak Allah.

PEMBARUAN PIKIRAN

Efesus 4:23 mengatakan, “Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu,” boleh juga diterjemahkan “Supaya kamu dibarui di dalam roh pikiranmu,” yaitu otak manusia perlu dibarui. Roma 12 juga mengatakan hal yang sama — “tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (‘budi’ boleh diterjemahkan sebagai ‘pikiran’), selanjutnya “sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Jika budi Anda telah dibarui, maka Anda dapat membedakan manakah kehendak Allah. Orang bisa memahami atau tidak bisa memahami kehendak Allah bukanlah tergantung cara, melainkan masalah orangnya. Banyak orang yang mengerti cara untuk mengetahui kehendak Allah, tetapi karena orangnya tidak benar, maka mereka tetap tidak dapat memahami kehendak Allah.

Orang yang bagaimana dapat mengetahui kehendak Allah? Yaitu orang yang diselamatkan Allah terlepas dari kekuatan otaknya. Pikiran Anda perlu dibarui, setelah itu baru Anda dapat membedakan manakah kehendak Allah. Kita harus ingat satu hal, bagian yang paling hebat dalam hayat alamiah manusia adalah pikiran manusia. Ada orang yang kekuatan hayat alamiahnya terletak pada tekadnya, ada orang yang kekuatan hayat alamiahnya terletak pada emosinya, tetapi lebih banyak lagi orang yang kekuatan alamiahnya terletak pada pikirannya. Ah, orang yang berotak hebat, ketika Anda menjumpai dia, Anda akan menjumpai kepalanya. Ketika dia datang kepada Anda, pikirannya juga datang. Pikirannya lebih besar daripada rohnya. Dia kelihatannya sangat pandai, keistimewaannya adalah pikirannya. Kalau Tuhan tidak meremukkan bagiannya ini, kalau Tuhan tidak menghancurkan kekuatannya ini, maka orang ini tidak akan dapat memahami kehendak Allah. Karena itu, kita perlu mohon kepada Allah supaya kita dapat belajar tidak percaya kepada otak kita sendiri, belajar tidak percaya kepada pikiran kita sendiri.

Ada orang yang dapat selalu berkata betapa dagingnya tidak benar, hayat alamiahnya tidak benar, tetapi dia tetap menghargai pikirannya, menghargai pendapatnya, menghargai hayat alamiahnya. Meskipun mulutnya berkata begitu, tetapi hatinya masih dipenuhi oleh pikirannya sendiri, masih dipenuhi oleh kepandaiannya sendiri; selalu menganggap pendapatnya lebih baik daripada pendapat orang lain, pandangannya lebih hebat daripada pandangan orang lain. Kepandaiannya tidak dirobohkan oleh Allah, pikirannya tidak ditanggulangi oleh Allah, karena itu dia tidak berdaya mengetahui kehendak Allah. Ada orang yang mulutnya penuh dengan kata-kata kehendak Allah, tetapi kenyataannya sedikit pun ia tidak mengetahui kehendak Allah. Kita harus tahu, kalau orangnya tidak benar, maka ia tidak mungkin dapat mengetahui kehendak Allah. Allah perlu di atas diri kita dengan salib melaksanakan satu pekerjaan yang mendasar, khususnya untuk memperbarui pikiran kita. Allah mau supaya “manusia asal” kita itu dihancurkan, sehingga kita di hadapan-Nya tidak lagi merasa pandai, tidak lagi merasa lebih baik daripada orang lain. Setelah kepala Anda ditanggulangi, Anda baru dapat membedakan manakah kehendak Allah, baru dapat mengetahui kehendak Allah.

Sering kali, kesulitannya adalah pikiran manusia telah menggantikan kehendak Allah, karena itu kepala kita perlu diselamatkan. Tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui salib, dapat mengetahui kehendak Allah. Karena itu semua masalah juga adalah masalah salib. Tahukah Anda bahwa salib menanggulangi hayat alamiah Anda? Tahukah Anda bagaimana salib menanggulangi manusia Anda? Sampai suatu hari, Allah membelaskasihani Anda dan membawa Anda sedemikian rupa sehingga Anda tampak betapa tidak dapat diandalkannya Anda, melihat betapa pikiran Anda tidak dapat diandalkan, sehingga Anda tidak lagi percaya kepada diri sendiri, tidak lagi menghargai kekuatan alamiah Anda itu. Saat itu, banyak masalah akan menjadi jelas. Karena itu, kapan hayat alamiah kita telah ditanggulangi Allah, saat itu pula merupakan permulaan jelasnya kita terhadap kehendak Allah.

KEINGINAN ROH ADALAH HIDUP DAN DAMAI SEJAHTERA

Roma 8:5-6, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Apakah keinginan daging? Keinginan daging memiliki satu keistimewaan yaitu percaya diri sendiri, segalanya tahu, segalanya yakin. Keinginan Roh juga memiliki satu keistimewaan, yaitu tidak percaya diri sendiri, yaitu segalanya tidak berani mengatakan, segalanya takut dan gentar. Keinginan daging sangat sibuk, sangat cepat, sangat memandang diri sendiri pandai, tetapi tidak ada perhentian, hasilnya adalah kematian. Keinginan Roh tidak diatur oleh hikmat alamiah, hanya menerima pengaturan perintah Allah, sedikit pun tidak ada keyakinan daging, sedikit pun tidak berani berdasarkan pandangan otak sendiri, hasilnya adalah hidup dan damai sejahtera. Karena itu, kepala kita perlu diselamatkan agar kita tidak diatur oleh keinginan daging, dan dapat memiliki keinginan Roh yang menghasilkan hidup dan damai sejahtera.

BELAJAR HIDUP BERSANDARKAN KASIH KARUNIA ALLAH

Paulus berkata, “Bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.”

Perhatikanlah kata-kata “khususnya dalam hubungan kami dengan kamu”. Orang Korintus adalah orang yang pandai. Tetapi Paulus berkata, bahwa “Hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” Syukur kepada Tuhan! Menjumpai orang yang makin pandai, kita makin tidak memakai kepandaian; menjumpai orang yang makin bisa berpikir, bisa berkalkulasi, kita makin tidak memakai kepandaian. Kita bersandar pada kasih karunia Allah. Terhadap perkara Allah, terhadap perkara gereja, kita harus lebih lagi tidak memakai hikmat manusia, tidak memakai kepandaian manusia.

Maka kita perlu belajar satu pelajaran, yaitu dalam perkara rohani sekali-kali jangan membawa masuk otak yang duniawi itu. Kita tidak tahu apakah otak duniawi Anda itu berguna dalam perkara lainnya, tetapi satu hal yang kita tahu, yaitu otak duniawi Anda itu pasti tidak berguna dalam perkara rohani. Cara duniawi Anda, metode duniawi Anda, tangan duniawi Anda, kepandaian duniawi Anda mungkin berguna dalam banyak perkara lainnya, tetapi dalam perkara rohani tidaklah berguna. Dalam rumah Allah, bukan tangan manusia atau kepandaian manusia yang membuatnya lebih baik, tetapi tergantung pada apakah kehendak Allah. Di sini hanya ada satu perkara, bukan bagaimana manusia mengatakannya atau bagaimana manusia memikirkannya, melainkan bagaimana Allah berbicara.

Kita harus berkata kepada Allah, “Ya, Allah, pola gambar apakah yang akan Kautunjukkan kepada kami? Selain pola gambar yang Kautunjukkan itu, kami tidak dapat memiliki pola gambar yang lain.” Kita harus belajar melaksanakan kehendak Allah, tidak bersandar pada kepandaian sendiri. Ketika kita melaksanakan kehendak Allah, kita menengadah kepada Allah supaya Ia membawa kita melewati kesulitan yang timbul akibat kita melaksanakan kehendak Allah. Mulai hari ini, kita mohon kepada Allah supaya hidup kita di dunia ini tidak bersandar pada kepandaian manusia, melainkan bersandar pada kasih karunia-Nya untuk melaksanakan kehendak-Nya.