Bocor dan Hanyut
“Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan ditegaskan kepada kita oleh mereka yang telah mendengar-Nya? Allah juga meneguhkan kesaksian mereka dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan dengan berbagai-bagai penyataan kuasa dan pemberian Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.”
Ibrani 2:1-4
Dalam Kitab Ibrani ada beberapa kata-kata peringatan. Setiap kali ada peringatan, selalu dikarenakan ada bagian firman yang sangat penting yang dikatakan sebelum atau sesudahnya. Terlebih dulu ada bagian firman yang sangat penting, kemudian disusul oleh kata peringatan; atau jika di bawahnya ada bagian firman yang sangat penting, maka sebelumnya ada kata peringatan. Inilah ciri khas Kitab Ibrani. Bagian pertama dari Kitab Ibrani pasal 2 adalah peringatan yang pertama. Peringatan ini diletakkan di antara pasal 1 dan pasal 2. Pasal 1 menyinggung tentang kemuliaan; pasal 2 menyinggung tentang penderitaan. Pasal 1 membicarakan siapakah Kristus dalam kekekalan; pasal 2 membicarakan Kristus dalam waktu telah menggenapkan manusia yang bagaimana bagi kita. Pasal 1 membicarakan status Kristus; pasal 2 membicarakan pekerjaan Kristus. Di antara kedua pasal inilah tersisip sebuah kata peringatan. Peringatan ini berkenaan dengan sikap apa yang seharusnya kita miliki terhadap status dan pekerjaan Kristus.
Sebelum kita melihat peringatan ini, terlebih dulu kita harus jelas apakah latar belakang penulisan kitab ini. Kita tahu bahwa Kitab Ibrani ditulis untuk orang Ibrani. Ada sekelompok orang Yahudi telah beroleh selamat, mereka mengerti Perjanjian Lama, Bait Allah, dan perkara penyembahan dalam Bait Allah, selain itu mereka juga sudah mengerti Perjanjian Baru dan perkara penyembahan dalam Perjanjian Baru. Mereka telah mengenal Kristus, percaya kepada-Nya, menerima Dia, mereka telah beroleh selamat. Mereka memiliki pengetahuan Perjanjian Lama, juga memiliki pengetahuan Perjanjian Baru; orang-orang ini adalah orang-orang Kristen. Surat Kiriman ini bukan ditujukan kepada orang kafir, juga bukan ditujukan kepada orang yang belum mengenal karunia keselamatan, melainkan ditulis untuk orang Ibrani yang telah mengenal karunia keselamatan.
“Ibrani” berarti “menyeberangi” atau “menyeberang sungai”. Orang Ibrani pertama adalah Abraham. Dulu Abraham tinggal di sebelah timur sungai, kemudian ia menyeberangi Sungai Efrat dan sampai di sebelah barat sungai, karena itu ia adalah orang Ibrani. “Orang Ibrani” berarti “Orang yang menyeberangi sungai”. Rasul menulis Surat Ibrani adalah untuk orang-orang yang telah menyeberangi sungai, yaitu orang-orang yang telah meninggalkan sesuatu di belakang dan telah mendapatkan sesuatu di depan. Di belakang, mereka memiliki dunia lama yang harus ditinggalkan; di depan, demi firman Allah mereka akan menuju ke tempat yang baru. Sekarang Allah melalui rasul menulis surat kepada sekelompok orang yang demikian.
HARUS LEBIH TELITI MEMPERHATIKAN
Ada satu perkara yang mengherankan, yaitu terhadap sekelompok orang tersebut dikatakan perkataan demikian, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Menurut bahasa aslinya, “apa” seharusnya diterjemahkan sebagai “perkara”). Inilah peringatan pertama. Peringatan ini mengatakan, kita harus lebih teliti memperhatikan, jika tidak, akan ada bahaya, yaitu hanyut dibawa arus. Adanya peringatan ini dikarenakan ada bahaya di depannya. Bahaya ini ialah hanyut dibawa arus, kehilangan karunia keselamatan yang begitu besar. Siapakah yang mengerjakan keselamatan yang begitu besar? Allah, Tuhan, dan Roh Kudus yang mengerjakannya. Karena keselamatan ini betapa besar, maka kita harus lebih teliti memperhatikan, jangan sampai hanyut dibawa arus.
Kata “karena itu”, adalah kata sambung dari kalimat di atasnya. Karena Tuhan Yesus betapa tinggi, betapa mulia, betapa unggul, dan di atas semua manusia, bahkan malaikat menyembah Dia, seperti yang dikatakan dalam pasal 1, maka kita harus lebih teliti memperhatikan perkara yang telah kita dengar. Perkara yang tercantum dalam Injil Yohanes tidak sama dengan yang tercantum dalam ketiga kitab Injil lainnya. Matius, Markus, dan Lukas boleh digabungkan menjadi satu kelompok, tetapi Anda tidak dapat menggabungkan mereka dengan Yohanes.
Misalnya peristiwa Maria melahirkan Tuhan Yesus, dalam Injil Yohanes peristiwa ini tidak ditulis. Karena Injil Yohanes dimulai dari alam kekekalan, maka yang ditulis adalah yang dalam kemuliaan, yang jauh melampaui segalanya, yang ada sebelum awal waktu. Sebab itu, Injil yang kita beritakan, baik terhadap orang dosa maupun terhadap orang yang telah beroleh selamat, bukan untuk memperlihatkan seseorang yang berjalan di tepi Laut Galilea pada lebih dari dua ribu tahun yang lalu; bukan untuk memperlihatkan seseorang yang pernah tinggal di Nazaret pada lebih dari dua ribu tahun yang lalu; bukan untuk memperlihatkan seorang manusia Yesus yang lahir dari Maria; melainkan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus telah ada sebelum segala sesuatu ada, sudah ada dalam kemuliaan. Kita menyinggung hubungan Dia dengan kita dari sebermula itu. Sebab itu kita harus lebih teliti memperhatikan; lebih teliti memperhatikan perkara yang kita dengar. Kita telah mendengar banyak perkara mengenai Tuhan Yesus, kita harus lebih teliti memperhatikannya.
“Kita” harus lebih teliti memperhatikan. Di sini rasul juga mencakupkan dirinya di dalam. Siapa sebenarnya yang menulis Surat Ibrani? Ada yang mengatakan Paulus, ada yang mengatakan Lukas. Kalaupun kitab ini tidak mencantumkan siapa penulisnya, maka kita tidak perlu menentukan siapa-siapa, kita pastikan saja kitab itu ditulis oleh rasul. Di sini kita melihat betapa hati-hatinya rasul. Rasul mengatakan “kita”, rasul tidak mengatakan “kamu”. Bahaya hanyut dibawa arus juga berlaku atas diri rasul.
“Hanyut dibawa arus”dalam bahasa aslinya mengandung dua arti. Arti pertama adalah “hanyut”, dan arti lainnya adalah “bocor”. “Hanyut” berarti juga “hanyut”; “dibawa arus” berarti “bocor”. Orang yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menggabungkannya menjadi satu rangkaian yaitu “hanyut dibawa arus”.
B O C O R
Apakah yang dimaksud dengan bocor itu? Misalnya ada sebuah tong air yang berlubang di bawahnya. Jika Anda ingin membawa air dalam tong ini dari sumur ke dapur, Anda harus berlari membawanya, kalau tidak airnya akan habis karena bocor. Rasul mengatakan kita jangan bocor, artinya setelah kita mendengar begitu banyak perkara mengenai Tuhan Yesus Kristus, sekali-kali jangan sampai bocor habis.
Jika Anda bertanya kepada seorang saudara, apakah ia ingat nama anaknya? Dia akan segera menjawab Anda, “Bagaimana mungkin aku bisa melupakan nama anakku!” Tetapi jika Anda bertanya Matius pasal 1 membicarakan apa? Markus pasal 16 membicarakan apa? Mungkin dia telah lupa. Bahkan banyak orang yang lupa apa yang dibicarakan Yohanes pasal 1 sampai pasal 3. Pagi hari mendengarkan khotbah, sore hari mungkin sudah banyak yang dilupakan. Terhadap banyak perkara lainnya selalu ingat, tetapi terhadap perkara Kristus selalu bocor. Ini menunjukkan di manakah sebenarnya hati kita. Di mana rumah kita, kita selalu ingat, tetapi terhadap perkara yang betapa besar dalam Alkitab kita malah lupa. Banyak perkara mengenai Kristus telah kita dengar, tetapi kita telah habis membocorkannya. Ini tidak dapat kita sangkal di hadapan Allah. Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda telah melupakan perkara tentang Kristus. Anda tidak dapat mengatakan bahwa otak Anda tidak mampu. Kalau otak Anda tidak mampu, mengapa ketika membicarakan perkara lain Anda ingat?
Kesulitan di antara orang Kristen ialah membocorkan firman Allah, membocorkan perkataan Kristus. Bocor adalah perkara yang sangat berbahaya. Tidak saja kita menghadapi bahaya ini, rasul pun menghadapinya. Sering kali ketika pencobaan datang, ingin mencari sebuah ayat Alkitab, tetapi bagaimanapun mencarinya tidak juga menemukannya. Karena telah “bocor”, maka ketika memerlukan firman Allah, tidak dapat menemukannya. Ada orang yang jatuh ke tangan Iblis dikarenakan hal ini. Jika mereka tidak bocor, pasti dapat dengan segera memiliki firman untuk menanggulangi Iblis. Anda tidak dapat berkata, “Iblis, aku tahu bahwa engkau mencobai aku, tetapi tunggu dulu, biarkan aku mencari Alkitab dulu.” Kalau demikian, sebentar saja Anda telah gagal. Anda lihat, ketika Tuhan Yesus menanggulangi Iblis, Dia dapat segera memakai ayat-ayat Alkitab, sampai tiga kali Dia tetap tidak gagal. Kesulitan kita adalah membocorkan. Semua perkara lainnya dapat diingat, tetapi perkara mengenai Kristus telah dibocorkan habis. Keadaan ini tak lain membuktikan bahwa hati kita tidak di sana. Hati kita hanya memperhatikan perkara kita sendiri, dan membocor-habiskan perkara Kristus.
Bocor berarti pasti ada lubangnya. Jika berlubang, baik lubang itu besar maupun kecil, pasti akan bocor. Perkara, benda yang lebih diperhatikan seseorang itu merupakan lubang yang membuat dia bocor. Ada orang yang lubangnya lebih besar, seperti orang-orang yang selamanya tidak pernah dengan tuntas menghakimi dosa, orang-orang yang selalu tidak jujur, selalu berbohong. Tidak menghakimi dosa, tidak jujur, berbohong, semua itu adalah lubang yang membuat dia bocor. Kita masing-masing harus menemukan di mana lubang kita. Kalau mengatakan kita tidak berlubang, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita membocorkan perkara-perkara Kristus atau tidak?
Ada seorang saudara telah percaya Tuhan enam tahun lamanya, dia pelupa, tetapi dia tidak berlubang. Terhadap perkara lainnya dia bisa melupakannya, tetapi terhadap perkara Tuhan sedikit pun ia tidak bocor. Kalau Anda berkata tentang Tuhan kepadanya, ingatannya sangat baik. Karena itu, jangan mengira orang yang pandai, yang ingatannya baik dapat dengan mudah mengingat perkara-perkara rohani, lalu memandangnya lebih bernilai daripada orang yang bodoh. Orang pandai dan orang bodoh dalam perkara dunia memang ada bedanya, tetapi dalam perkara rohani tidak ada bedanya. Bukan dengan daya ingat menilai seseorang bisa bocor atau tidak.
Seperti misalnya, saudara yang menulis buku “Keselamatan, Kepastian, Sukacita” ketika dia mencapai umur sembilan puluh tujuh tahun, daya ingat otaknya sudah pudar, terhadap perkara-perkara lain dia telah bocor, tetapi terhadap perkara Tuhan dia tidak bocor. Dia selalu berkata, “Aku tidak bisa tanpa Dia, Dia juga tidak bisa tanpa aku.” Terhadap semua perkara lainnya dia telah lupa, tetapi terhadap perkara Tuhan dia tidak bocor. Kita harus menanggulangi penyebab yang membuat kita bocor.
Anda dapat mengetahui seseorang itu bocor melalui bagaimana dia menggunakan uangnya. Alkitabnya yang telah robek dibiarkan, tetapi kalau membeli ini dan itu ada uang. Ini menunjukkan perkara apa saja yang dia ingat dan perkara apa saja yang dilupakannya; ini menyatakan di manakah hatinya. Ada saudara-saudari, ketika Anda berbicara dengan mereka, mereka selalu bisa menjawab perkara apa saja, mereka tahu seluk-beluknya; tetapi begitu menyinggung masalah rohani, mereka segera diam seribu bahasa, seolah telah berbicara di luar topiknya. Ini suatu gejala yang sangat tidak baik. Oh! Di sini ada lubang, begitu banyak perkara yang telah kita dengar mengenai Kristus itu, kita letakkan di mana? Semoga Allah membelaskasihani kita!
H A N Y U T
Apakah yang dimaksud dengan hanyut? Hanyut adalah keadaan yang tidak perlu memakai tenaga. Mendayung perahu memerlukan tenaga, tetapi jikalau Anda hanyut mengikuti arus aliran air, itu tidak memerlukan tenaga. Hanyut artinya terbawa arus; ke mana arah air mengalir, Anda juga ke mana. Keadaan itu dalam Alkitab disebut “hanyut”. Jika seseorang ingin pergi ke suatu tempat, ia harus mengendalikan perahunya, sekuatnya mengemudikan dan tidak boleh membiarkan perahunya hanyut. Hanyut membuat Anda tidak dapat mencapai tempat tujuan. Jika Anda ingin mencapai tempat tujuan tertentu, Anda harus mengeluarkan tenaga khusus untuk menentang arus. Sebaliknya hanyut paling tidak memerlukan tenaga, karena ia terbawa arus air. Air mengantar aku ke sana, ke sanalah aku pergi, inilah hanyut.
Saudara saudari, perkara rohani, kehidupan rohani, dan semua perkara yang berhubungan dengan Kristus perlu dipegang erat-erat di hadapan Allah, dan selain itu masih perlu kita memakai tenaga untuk maju ke depan. Jika Anda ingin melawan Iblis, Anda harus menolak daging, menolak diri sendiri. Apakah Anda mengira di mana saja Anda bisa damai sejahtera? Apakah Anda mengira menjadi orang Kristen sedemikian mudah? Apakah Anda mengira kita boleh dengan seenaknya hanyut terbawa arus? Tidak semudah ini. Hati kita harus memiliki satu tujuan khusus, tidak boleh hanyut. Hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri demikian, “Apakah sebenarnya tujuanku menjadi orang Kristen?” Kalau aku ingin menuju ke utara, tetapi perahuku hanyut ke selatan, maka hatiku akan sangat gelisah karenanya. Sebab ini berarti aku tidak akan mencapai tempat tujuan. Kalau aku tidak berminat menuju ke utara, dan memang tidak mempunyai tujuan tertentu, maka aku akan hanyut terbawa arus, ke tempat arus itu mengalir.
Setiap orang Kristen harus memiliki satu ambisi untuk mencari perkenan Allah. Kalau mau mencari perkenan Allah, maka tidak dapat dengan seenaknya mengikuti arus. Harus memiliki satu sasaran di depan, dan harus berlari mengarah ke sasaran itu, melupakan apa yang di belakang, giat maju ke depan. Ada orang yang tidak memiliki belakang, juga tidak memiliki depan, karena dia sama sekali tidak memiliki tujuan. Kalau tidak memiliki tujuan, tentu saja tidak ada belakang dan depan, sehingga semua tempat baik baginya. Seperti kerbau petani yang menarik kincir air. Kerbau itu dengan tanpa arah terus menarik kincir air, berkeliling di tempatnya mulai pagi sampai petang tetap saja di sana. Semuanya adalah permulaan tetapi juga adalah akhir, semuanya tanpa awal juga tanpa akhir. Dia diatur oleh situasi sekeliling, mengikuti kincir air terus berputar.
Banyak orang Kristen juga demikian, dari pagi sampai malam terus berputar, tidak ada depan juga tidak ada belakang, terus hanyut. Hanyut karena tidak memiliki tujuan. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya untuk apakah saya menjadi orang Kristen? Kalau saya mau menuruti apa yang dikatakan Alkitab, yaitu memuliakan Allah, maka saya harus memperhatikan sasaran ini dan berlari menuju sasaran ini. Kalau timbul hal-hal yang menentangnya, saya harus mengeluarkan tenaga untuk menolaknya.” Di depan masih ada sepotong perjalanan, Anda harus melupakan apa yang di belakang dan giat berlari terus ke depan. Kalau tidak, Anda akan terhanyut. Saudara saudari, sebagai orang Kristen, kita terhanyut atau mempunyai sasaran?
Ada orang tidak mengetahui bahaya terhanyut, karena terhanyut adalah kejadian yang tidak begitu terasa. Kalau ada angin ribut datang dan melanda Anda, Anda pasti segera merasakannya, karena perubahannya terlalu besar. Tetapi hanyut berlangsung tanpa disadari, secara perlahan-lahan, dari atas menuju ke bawah, dari tinggi menuju ke rendah, pergi mengikuti arah yang menakutkan itu. Hanyut terjadi secara perlahan-lahan, tidak saja tidak perlu tenaga, bahkan tidak terasa. Menit ini dan menit selanjutnya tidak begitu ada perubahan, tiga menit terdahulu dengan tiga menit selanjutnya juga tidak berbeda jauh. Tetapi, justru karena perlahan-lahan, masalahnya telah berbeda jauh. Ada orang tidak melakukan dosa yang besar, masih membaca Alkitab, masih datang mendengarkan khotbah, masih mempersembahkan, seolah sama dengan yang dulu. Tetapi, hari ini berlalu, besok berlalu, bulan depan berlalu, bulan depan lagi berlalu, setelah tiga atau empat tahun, sangat berbeda jauh dengan hari ini.
Dalam perkara rohani selamanya tidak pernah tiba-tiba jatuh, tidak pernah begitu gagal lalu jatuh, melainkan karena terus terhanyut, sampai satu hari barulah ternyata. Hanyut adalah perkara yang paling tidak baik yang akhirnya akan membawa lenyap segala sesuatu. Mungkin Anda tidak berbuat dosa yang besar, tetapi tanpa sadar Anda telah turun, seolah kehidupan kristiani Anda masih sama dengan yang dulu. Tetapi ingatlah, bahwa hanyut tidak pernah membuat Anda menuju ke atas, hanyut selalu membawa Anda ke bawah. Sehari demi sehari bergeser, sehari demi sehari Anda telah turun. Mungkin Anda masih tidak merasakannya, tetapi orang lain merasakannya. Dulu, ada seorang ahli musik berkata, “Jika aku tidak berlatih musik selama satu hari, aku sendiri akan merasakannya; jika aku tidak berlatih selama dua hari, teman-temanku akan merasakannya; jika aku tidak berlatih selama tiga hari, maka para pendengarku akan merasakannya.” Turun sedikit demi sedikit, akhirnya baru ternyata jelas. Pada mulanya perbedaannya tidak banyak, tetapi setelah lewat hari dan bulan, maka perbedaannya banyak.
Allah menghendaki kita dengan segenap kekuatan hati dan jiwa berdiri teguh di hadapan-Nya, tidak hanyut. Jika demikian maka kerohanian kita akan maju. Iblis selalu berusaha membuat kita secara perlahan-lahan berhenti, tidak menuntut kemajuan, membuat kita hanyut mengikuti arus, sampai akhirnya timbullah masalah kejatuhan. Iblis tidak dengan sadis dan kasar menyuruh kita berbuat dosa besar. Jika saat ini Iblis tiba-tiba menipu kita untuk mencelakakan seseorang, kita pasti menolaknya. Iblis datang secara perlahan-lahan, hari ini memberi Anda sebuah hati yang membenci orang, besok memberi Anda sebuah hati yang iri kepada orang, setelah beberapa tahun, mungkin dalam Anda telah ada hati yang mencelakakan orang. Sebab itu, setiap hari kita perlu kekuatan rohani, perlu mohon supaya tangan Allah memegang kita. Jangan karena merasa bahwa hari ini hampir sama dengan kemarin, lalu lengah. Sangat ditakutkan kalau dalam sehari hanya terhanyut sedikit, dengan ukuran yang kecil terus turun ke bawah, sepuluh tahun, dua puluh tahun terus demikian, akhirnya perbedaannya sangat besar.
Semoga Allah membelaskasihani orang Kristen yang tidak memiliki perasaan yang peka terhadap “hanyut”, perkara yang menakutkan ini! Kesimpulan dari hanyut selalu dari atas turun ke bawah, hanyut pasti tidak akan membuat Anda naik ke atas. Jika Anda mengharapkan kemajuan dalam kerohanian, Anda tidak boleh terhanyut. Orang yang tidak rajin menuntut, tidak akan maju. Muller berkata, ia tidak pernah melihat orang yang malas dapat beroleh selamat; tetapi kita mengatakan, tidak pernah melihat orang yang malas dapat maju. Tidak menuntut, tidak akan mendapatkan; tidak lapar dan haus, tidak akan dikenyangkan. Jika dalam hal penuntutan rohani sedikit saja kendor, maka keadaan terhanyut akan muncul.
AKHIR DARI BOCOR DAN HANYUT
Kita perlu tampak betapa berbahaya perkara bocor dan hanyut. Peringatan pertama dalam Surat Ibrani mengatakan, bahaya kita yang paling besar adalah bocor dan hanyut. Marilah kita memandang peringatan pertama ini sebagai peringatan bagi kita. Kita bisa bocor, kita juga bisa hanyut. Kita bisa membocorkan hingga habis segala yang Allah berikan kepada kita; bersamaan dengan itu, karena hanyut, kita tidak mendapatkan apa yang di depan itu. “Hanyut dibawa arus” dalam bahasa aslinya masih ada satu arti lagi yaitu “tergelincir dari samping, tidak dapat menjangkau”. Misalnya, Anda ingin naik ke atas sebuah perahu yang ada di tengah sungai yang lebar dan deras, untuk mencapainya Anda harus naik sebuah sampan kecil. Tetapi karena derasnya arus dan kekuatan Anda tidak cukup melawannya, Anda berusaha namun tetap tidak berhasil, maka Anda tergelincir jatuh dari samping perahu. Inilah arti kata-kata yang diucapkan rasul. Anda hanyut terbawa arus, Anda tidak mampu melawannya, maka Anda tidak bisa mencapai sasaran Anda.
Bahaya kita adalah bocor dan hanyut. Karena itu rasul memperingatkan kita harus lebih teliti memperhatikan, tidak boleh ceroboh. Tidak ada orang yang ceroboh yang dapat menjadi “orang Kristen”. Semua orang Kristen yang ceroboh, tidak akan melihat bahaya hanyut dibawa arus. Hanya mereka yang dengan teliti memperhatikan akan tampak ini; juga, hanya orang yang tampak bahaya ini yang dapat memiliki kemajuan dalam perkara rohani. Sering kali kita kurang teliti memperhatikan, terlalu ceroboh terhadap perkara rohani, maka makin hari kita makin turun ke bawah. Kita harus mengingat apa yang dikatakan rasul, harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar. Paulus mengatakan, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Dalam perkara rohani, takwa kepada Allah adalah keperluan yang mutlak. Banyak orang Kristen dari pagi sampai malam dengan santai melewati hari-hari mereka, apa pun tidak ditakuti, dengan sembarangan melewatkannya, sedikit pun tidak merasakan perlu takwa kepada Allah. Karena demikian, mereka tidak dapat mengenal betapa bernilainya perkara-perkara rohani, pula tidak dapat tampak bahaya hanyut dibawa arus.
Jika kita bocor, jika kita hanyut, kita akan kehilangan apa? Apakah akhir yang berbahaya itu? Ayat ketiga, “Bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?” Kehilangan apa? Kehilangan keselamatan yang sebesar itu. Apakah keselamatan yang dibicarakan dalam Kitab Ibrani? Keselamatan itu adalah keselamatan yang sempurna. Dia hidup selamanya, untuk menyelamatkan kita dengan sempurna, inilah keselamatan yang sempurna. Keselamatan itu tidak hanya bersandarkan darah adi Tuhan yang teralir di kayu salib sehingga kita mendapatkan penebusan dosa, tidak masuk neraka dapat masuk surga; keselamatan ini khususnya menyinggung tentang bagaimana kita dapat menjadi orang yang mutlak beroleh selamat pada hari ini di bumi (dengan sendirinya terlingkup pula salib), dan bahkan mendapat kemuliaan bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun.
Misalnya, Anda sebagai seorang saudara telah berbuat sesuatu yang tidak baik, maka orang lain akan berkata, “Anda, seorang yang percaya Yesus, apakah juga melakukan perkara demikian?” Meskipun dia tidak mengatakan bahwa Anda telah binasa, tidak beroleh selamat, tetapi dia melihat Anda sebagai seorang Kristen yang tidak ada bedanya dengan orang lain, tidak ada ekspresi bahwa Anda adalah orang yang telah beroleh selamat. Atau temperamen Anda mudah bergejolak. Baiklah, Anda telah percaya Tuhan Yesus, juga telah mendengar bahwa Tuhan Yesus menjadi hayat kemenangan Anda, tetapi karena Anda bocor, Anda hanyut, Anda marah-marah. Orang yang tidak percaya akan berkata, “Anda yang percaya Yesus juga marah-marah demikian, apa bedanya dengan kami?” Anda telah kehilangan keselamatan yang demikian besar, Anda tidak membiarkan Tuhan menyelamatkan Anda dari dosa temperamen ini. Jika Anda tidak ada bedanya dengan orang yang tidak percaya, Anda telah kehilangan keselamatan yang demikian besar ini.
Demikian juga pakaian Anda, harta Anda, waktu Anda, kerajinan pelayanan Anda, amal sedekah Anda, haruslah menyatakan kesaksian orang Kristen. Bagaimanapun juga Anda tidak boleh membuat Injil Allah bocor dan hanyut, bagaimanapun juga Anda harus menjaga diri sendiri agar tidak kehilangan keselamatan yang begitu besar ini. Keselamatan Allah tidak hanya mencakup kehidupan di bumi pada masa kini, juga mencakup kehidupan dalam Kerajaan Seribu Tahun bersama Tuhan dalam kemuliaan. Karena kita ingin mendapatkan keselamatan yang sebesar ini, karena kita ingin memiliki bagian dalam kemuliaan kerajaan, maka hari ini kita perlu dikuduskan dalam segala perkara, tidak bocor dan tidak hanyut.
“Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar”; dalam perkara-perkara yang kita dengar, yaitu perkara-perkara yang berhubungan dengan Kristus, kita harus lebih teliti memperhatikan jangan sampai kita hanyut, kehilangan, dan bocor. Mengapa terhadap perkara-perkara mengenai Kristus tidak baik kalau sampai bocor atau hanyut? Karena “firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat” — yaitu hukum Taurat, Perjanjian Lama (Kis. 7:53) — “tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,” (pelanggaran adalah yang positif, ketidaktaatan adalah yang negatif), apalagi jika hari ini kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar ini? Keselamatan ini bukan diberitakan oleh manusia, melainkan oleh Anak Allah; oleh Anak Allah yang begitu mulia. Kalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar ini, bagaimana kita dapat terluput dari dosa ini? Melanggar hukum Taurat yang disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat saja akan menerima balasan yang setimpal; apalagi keselamatan kita hari ini, “diberitakan oleh Tuhan sendiri, dan kemudian oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagibagikan menurut kehendak-Nya.” Kalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar ini, bagaimana kita dapat bebas dari dosa ini? Inilah peringatan yang diberikan rasul kepada kita, menasihati kita supaya tidak bocor, tidak hanyut.
Kiranya Allah memberi karunia kepada kita, supaya dalam perkara rohani yang Allah berikan untuk kita dengar, kita benar-benar tidak sembarangan, tidak kendor, tidak bocor, dan tidak hanyut.