Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 5/12

Beritahukan Kepada-Nya

Pembacaan Alkitab: Matius 14:1-12; Markus 6:30-32

Kedua bagian ayat ini menunjukkan dua keadaan yang berlainan. Pertama, keadaan dukacita; kedua, keadaan sukacita. Yang satu memperlihatkan murid-murid Yohanes Pembaptis melihat gurunya mati dipenggal. Sungguh suatu perkara yang menyedihkan! Setelah mereka menguburkannya, mereka pergi memberi tahu Tuhan Yesus. Yang lainnya memperlihatkan kedua belas murid Tuhan diutus untuk memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Ini perkara yang menggembirakan. Mereka pun datang memberi tahu Tuhan.

Alkitab sering mencantumkan perihal Tuhan memberitakan firman kepada orang, tetapi jarang mengisahkan perihal orang memberitahukan sesuatu kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan kita adalah Tuhan yang kepada-Nya orang boleh memberitahukan sesuatu. Tuhan Yesus adalah Orang yang sangat mudah menerima pemberitahuan orang lain. Pemberitahuan apa saja Ia selalu bersedia mendengarkannya. Kedua bagian ayat di atas justru memperlihatkan simpati Tuhan terhadap kita.

Sering kali kita sedih, sering kali kita gembira. Saat itulah kita perlu ada orang yang mau mendengar kesedihan atau kegembiraan kita. Tetapi tak seorang pun mau. Kadangkala kita memberi tahu orang lain, tetapi orang itu tidak mau mendengarnya. Ketika kita menemui perkara yang sangat sulit dibereskan, dan kita memberi tahu kepada orang lain, namun orang itu menganggap perkara tersebut sepele. Kita memberi tahu seseorang tentang perkara yang sangat berat dan penting, namun orang itu tidak menanggapinya. Kadangkala kita memberi tahu seseorang suatu kabar gembira, orang itu pun tidak dapat mengerti atau ikut bergembira bersama kita. Kadangkala kita merasa kesal, tetapi orang lain tak bisa menerima perasaan kita. Walaupun mereka yang pernah mempunyai pengalaman yang sama bisa merasakannya, tetapi saat itu mereka tetap tidak mau bersimpati. Kadangkala karena mereka sendiri sudah cukup banyak kesedihan atau kegembiraan yang seakan-akan tak sanggup ditanggung, mereka tidak dapat lagi menerima perasaan kita. Kadangkala kita mengharap ada orang mau mendengarkan luapan hati kita tentang hal-hal yang menyedihkan atau menggembirakan, tetapi kalau ada orang mau mendengar saja sudah cukup baik, sukar sekali bisa mendapat simpatinya.

Banyak orang mengira bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahabesar. Memang Tuhan itu Mahabesar, namun Ia tidak meremehkan perkara-perkara kecil. Mungkin Anda mengira perkara-perkara yang besar saja yang Tuhan mau dengar, tetapi ternyata Ia tidak pernah melalaikan perkara yang kecil. Tidak ada sesuatu yang dipandang Tuhan terlalu kecil sehingga Ia tidak mau mendengar. Ia mau mendengar segala masalah Anda. Ia mau mendengar pemberitahuan murid-murid-Nya sendiri, juga mau mendengar pemberitahuan murid-murid Yohanes Pembaptis.

Murid-murid Yohanes sudah lama mengikuti gurunya, pasti hubungan mereka sangat akrab. Ketika gurunya dibunuh, tak mungkin mereka tidak sedih. Namun dalam Alkitab tidak tertulis bahwa mereka mengatakan keburukan Herodes atau mereka menangis sepanjang hari. Di situ hanya tertulis setelah mengambil dan mengubur mayat Yohanes Pembaptis, pergilah murid-muridnya memberi tahu Yesus.

Ada orang setelah menguburkan mayat berkata, “Habislah segala sesuatuku, putuslah harapanku. Dia sudah mati, aku pun kehilangan segalanya.” Siapa tahu, justru inilah saatnya menghampiri Tuhan. Anda boleh memberitahukan kesedihan Anda. Dia tak mungkin berkata, “Kamu terlalu duniawi, emosional, atau terlalu terpengaruh oleh kematiannya.” Ia mengetahui perasaan Anda dan mengerti kesedihan Anda.

Ada orang yang belum pernah mengalami kesedihan ditinggal orang tua, istri, sanak saudara, atau keluarganya, tetapi kadangkala pernah mengalami kehilangan sesuatu, seperti peristiwa kematian Yohanes, sehingga merasa putus asa. Anda merasa langit Anda tidak biru lagi, semua pemandangan membosankan, jalan pun buntu. Bila pada saat demikian Anda hanya menangisi mayat itu sepanjang hari, memandanginya dengan sedih, dan menempatkannya di hadapan Anda, ini sama sekali tak akan berguna. Anda harus seperti murid-murid Yohanes, menguburkan mayat itu, lalu pergi memberi tahu Tuhan.

Tahukah Anda, begitu Anda utarakan, begitu Anda curahkan isi hati Anda di hadapan Tuhan, Anda akan menjadi lebih akrab dan lebih mengenal-Nya. Pada saat demikian, mendekati-Nya satu kali akan lebih baik daripada persekutuan biasa ratusan kali. Hanya dengan demikianlah hayat Anda baru bisa bertumbuh. Bawalah dan beritahukanlah kesulitan Anda kepada-Nya. Dia bisa menghibur, menunjang, dan membantu Anda.

Orang yang tidak pernah mencucurkan air mata di hadapan Tuhan, tidak pernah membawa kesedihan dan kegembiraannya kepada Tuhan, untuk ditanggung bersama Tuhan, tidak pernah memberitahukan rahasia pribadinya kepada Tuhan, belumlah mempunyai persekutuan dan pergaulan yang intim dengan Tuhan. Ini bukan berarti Anda tidak bisa meminta orang lain mendoakan dan membantu Anda, tetapi jika Anda mau memberi tahu sendiri kepada Tuhan, pasti Anda akan lebih akrab dengan-Nya.

Murid-murid Yohanes memberi tahu kesedihannya kepada Tuhan, maka bereslah segala persoalan mereka. Perkara apa pun boleh diberitahukan kepada Tuhan. Dia selalu bersedia mendengar. Setiap orang tidak selalu dapat bersimpati kepada orang lain, tetapi Tuhan dapat! Dia bersimpati atas setiap kesukaran kita. Dia memperhatikan setiap masalah orang. Di dalam hati-Nya, seakan-akan hanya ada urusan Anda semata. Dia mau memikul segala penderitaan Anda. Bagaimanapun lemahnya Anda, Ia tetap bersimpati dan bersedia menanggung beban Anda. Tuhan mau memikul segala kekhawatiran kita, Ia pun sabar mendengar pemberitahuan kita. Jangan sekali-kali mengira Ia tidak menghiraukan, sehingga kita malas memberitahukan kepada-Nya. Ia selalu menunggu dan bersedia mendengar pemberitahuan Anda.

Tuhan tidak hanya mau mendengar masalah-masalah kesedihan kita, juga mau mendengarkan hal-hal kegembiraan kita. Kita lebih mudah menangis dengan orang yang menangis daripada bersukacita dengan orang yang bersukacita. Banyak orang mengira “mengasihani” adalah “bersimpati”. Padahal “kasihan” itu bukanlah “simpati”. “Simpati” ialah dapat bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis. Kadangkala Anda melihat seseorang yang sangat gembira, Anda merasa ia terlalu gembira dan lepas kendali. Ini berarti Anda tidak bersimpati kepadanya. Paulus berkata, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15). Inilah artinya bersimpati. Tuhan mau bersedih bersama kita, Tuhan mau bergembira dengan kita.

Markus 6:30 mengatakan, “Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.” Apa yang mereka kerjakan adalah hal-hal yang menggembirakan (Mrk. 6:7; Luk. 10:17). Mereka lari mendapatkan Tuhan dan memberitahukan segala kegembiraannya. Banyak orang dapat memohon kepada Tuhan ketika mengalami kesedihan, tetapi berapa orangkah yang tetap berdoa ketika gembira? Ketika sedih, otomatis bisa minta tolong kepada Tuhan. Tetapi ketika gembira, orang mudah lupa memberi tahu Dia.

Pada suatu hari, Spurgeon merasa lelah setelah menginjil. Kemudian bersama seorang kawan ia berkuda ke desadesa. Saat itu ia sangat gembira dan turun dari kuda sambil mengajak kawannya. Kawannya heran, bertanya kepadanya untuk apa. Jawabnya, “Allah mengaruniakan kegembiraan besar kepada kita, saat ini kita wajib berterima kasih kepada-Nya.” Lalu berdoalah mereka sambil berlutut di tepi jalan.

Kita tak selalu gembira, namun ketika gembira beritahukanlah kepada Tuhan. Ingatlah dan berilah bagian kegembiraan Anda kepada-Nya. Tuhan tidak akan menegur kita karena kegembiraan kita itu. Ia bersimpati akan perasaan kita. Karena itu, jangan lupa memberitahukan kegembiraan kita kepada-Nya.

Apa reaksi Tuhan setelah mendengar kata-kata murid-Nya? Ia berkata, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Tuhan berbuat demikian supaya mereka beroleh perhentian. Kadang kala kita sendirian pergi ke tempat sunyi untuk beristirahat. Kita berbuat demikian karena mengalami kesebalan dan kesusahan. Tetapi setelah itu perasaan kita sering malah lebih buruk daripada sebelum pergi. Tuhan tidak berkata, “Pergilah kamu ke tempat sunyi, untuk beristirahat,” melainkan Ia berkata, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak.” Penyertaan Tuhanlah yang membuat mereka memperoleh kekuatan dan kelegaan yang mesra.

Tuhan senang mendengarkan kesedihan maupun kegembiraan kita. Perkara apa pun boleh diberitahukan kepada-Nya. Bila kita sudah mempunyai Tuhan yang demikian, mengapa kita tak mau menuangkan seluruh isi hati kita kepada-Nya?