MAKNA ROHANI YUSUF DAN BENYAMIN (1)
Saya sudah lama sekali hafal dengan sejarah kedua belas putra Yakub sebelum saya menyadari betapa manis dan menakjubkan sejarah mereka. Semakin banyak waktu yang saya curahkan pada Kejadian 49, saya semakin mengapresiasi kedua belas putra ini. Sungguh sangat ber-harga mendalami sejarah mereka. Keempat putra yang pertama — Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda — semua-nya penuh dosa. Tetapi Yusuf dan Benyamin, dua putra yang terakhir, tidak memiliki keburukan atau cacat-cela. Mereka sempurna. Di antara empat orang putra yang pertama dan dua orang putra yang terakhir masih ada enam putra lainnya. Pada Dan kita nampak kemurtadan; pada Gad, kemenangan; pada Asyer, kelimpahan, dan pada Naftali, kebangkitan. Jika Anda menjajarkan catatan tentang kedua belas putra ini menurut Kejadian 49, Anda akan mendapatkan sebuah gambar diri Anda sendiri. Di satu pihak, saya nampak kedua belas putra Yakub ini menakjubkan; di pihak lain, saya bersyukur kepada Allah, karena atas mereka, saya menemukan gambar diri saya. Saya juga nampak Kristus yang telah saya alami beserta penyelamatan dan pengubahan dalam Kristus. Dulu, kita semua adalah Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda, tetapi hari ini kita adalah Yusuf dan Benyamin.
Dua orang di antara orang-orang yang berdosa itu, Lewi dan Yehuda, telah dipindahkan ke dalam sesuatu yang positif. Lewi dipindahkan ke dalam jabatan imam, sedang Yehuda dipindahkan ke dalam jabatan raja. Jadi di antara kedua belas putra Yakub, akhirnya terdapat jabatan imam, jabatan raja, dan penggenapan akhir yang sempurna, yakni di dalam Yusuf dan Benyamin. Dalam berita selanjutnya kita akan nampak bahwa penggenapan akhir mencakup dua hal: berkat dan tempat kediaman. Kita akan dibawa sepenuhnya oleh Allah ke dalam berkat universal, dan kemudian kita akan menjadi tempat kediman-Nya. Orang dosa menjadi imam dan raja bagi Allah, akhirnya mereka berada di bawah berkat universal Allah dan menjadi tempat kediaman-Nya yang kekal. Jika kita nampak makna dari catatan ini, kita akan berseru lantang sambil memuji Tuhan. Kita akan berkata, “Dulu aku adalah Ruben, namun hari ini aku adalah Lewi, Yehuda, Yusuf, dan Benyamin!” Sampai kekal kita akan menjadi raja-raja di bawah berkat Allah, dan menjadi tempat kediaman Allah.
Pernahkah Anda menyadari bahwa Alkitab begitu ajaib? Nampakkah Anda bahwa dalam satu pasal, Kejadian 49, kita menemukan inti sari seluruh Alkitab beserta ringkasan sejarah kedua belas putra Yakub, sejarah bangsa Israel, sejarah gereja, dan sejarah kerohanian kita? Semuanya ada di sini. Meskipun pasal ini merupakan puisi dan amat dalam, namun juga sangat sederhana. Pasal ini bersifat almuhit, mencakup seluruh Alkitab, merangkum sejarah kedua belas suku, menunjukkan sejarah gereja, dan menggambarkan sejarah pribadi kita. Alangkah ajaib! Tidak dapat diragukan lagi bahwa pasal ini merupakan ikhtisar penanggulangan Allah terhadap umat pilihan-Nya. Penanggulangan Allah terhadap umat-Nya dimulai dari orang dosa, melewati pengubahan, dan akhirnya mencapai penggenapan sempurna, yaitu berkat dan tempat kediaman Allah.
Di antara kedua belas putra Yakub, terdapat berbagai model orang yang berbeda. Saya sungguh berterima kasih kepada Allah, karena memberikan dua belas putra kepada Yakub. Entah bagaimana kalau Yakub hanya memiliki seorang putra saja. Dalam pandangan Allah, Abraham dan Ishak masing-masing mempunyai putra tunggal, sebab Allah hanya memperhitungkan Ishak dan Yakub, bukan Ismael atau Esau. Tetapi ekonomi Allah memerlukan kedua belas suku ini. Untuk itu, Yakub harus mempunyai dua belas putra. Sepuluh suku saja masih belum cukup. Suatu hari, setelah Salomo wafat, kerajaan Israel terbagi menjadi dua bagian, yaitu sepuluh suku merupakan satu bagian, dan dua suku membentuk satu bagian lainnya. Akan tetapi, memiliki sepuluh suku ini tidaklah cukup; harus dua belas. Kita perlu mengingat kedua belas nama putra-putra Yakub: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin. Dalam berita ini, kita akan memperhatikan makna rohani Yusuf dan Benyamin, yang meliputi tiga hal: berbuah banyak, menang, dan percaya. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat berkat dan tempat kediaman.
I. BERBUAH BANYAK
A. RANTING POHON
YANG BERBUAH BANYAK
Kejadian 49:22 mengatakan, “Yusuf adalah ranting pohon yang berbuah banyak, ranting pohon yang berbuah banyak di tepi mata air; dahan-dahannya naik mengatasi tembok” (TL.). Yusuf berbuah banyak. Dia khusus memperhatikan hal berbuah, sehingga tidak ada waktu untuk yang lainnya. Ia tidak mempunyai waktu untuk berbantahan dengan saudara-saudaranya atau berkelahi dengan yang lain. Orang-orang diduduki oleh hal-hal yang negatif dikarenakan mereka tidak diduduki oleh hal-hal yang positif. Bukanlah hal yang menguntungkan bagi kaum saleh yang berjumlah besar datang berhimpun tanpa terisi dengan tepat. Dalam keadaan demikian, mereka tidak akan terisi dengan hal-hal yang positif, sebaliknya dengan sendirinya mereka akan diduduki oleh hal-hal yang negatif, sama seperti orang dalam Matius 12, yang kosong dan dirasuki tujuh setan (ayat 43-45). Orang itu keadaannya seperti sebuah rumah yang bersih dan tanpa penghuni. Banyak orang saleh yang bersih, namun mereka dalam keadaan kosong dan tanpa penghuni. Karena itu mereka kemasukan hal-hal yang negatif. Kaum saleh perlu diisi hal-hal yang positif, barulah mereka tidak memiliki kapasitas, waktu, dan energi untuk hal-hal semacam gosip atau pergunjingan. Adanya gosip atau pergunjingan membuktikan bahwa energi kita belum digunakan sepenuhnya. Yusuf bukanlah orang yang diduduki oleh hal-hal yang negatif. Seperti yang akan kita lihat dalam berita-berita nanti, sejak masa mudanya, Yusuf telah dipenuhi dengan hal-hal yang positif. Ia telah diisi oleh kehendak ayahnya, pikiran ayahnya, kesukaan ayahnya, dan amanat ayahnya. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi “tikus-tikus” atau “anjing-anjing” untuk memasukinya. Jika suatu ruangan sudah terisi oleh dua puluh orang, niscaya tidak akan ada tikus-tikus yang berani masuk ke dalamnya. Jika ruangan itu dalam keadaan kosong, maka tikus-tikus dan anjing-anjing akan mencoba memasukinya. Jalan terbaik untuk menjauhkan kaum saleh dari hal-hal yang negatif ialah mengisi mereka dengan hal-hal yang positif. Sekali lagi saya katakan bahwa sejak masa mudanya, Yusuf telah dipenuhi dengan hal-hal yang positif, terutama disibukkan oleh hal berbuah.
Ketika ayah Yusuf dan kesebelas saudaranya beserta keluarganya masing-masing pergi ke Mesir, mereka menjadilah saluran bagi penjuluran berbuahnya Yusuf. Pada saat itu Yusuf bukan lagi menjulur sendirian di Mesir; dia menjulurkan administrasi Allah bersama dengan ketujuh puluh orang tersebut. Yusuf berbuah sangat banyak. Seluruh dunia berada di bawah penjuluran Yusuf. Yusuf merupakan sebuah gambar, sebuah lambang. Ini berarti penggenapan lambang ini harus melalui gereja. Umat gereja seharusnya orang-orang yang paling banyak berbuah. Kisah Para Rasul 2 mewahyukan betapa Petrus dan kesebelas rasul lainnya berbuah. Abad demi abad, semua orang yang mengasihi Tuhan dan yang telah diisi oleh-Nya juga berbuah banyak.
Kejadian 49:22 mengatakan bahwa Yusuf adalah ranting dari pohon yang berbuah banyak. (Ada versi yang menerje-mahkan kata “ranting” di sini sebagai “anak”). Ini berarti Yusuf adalah dahan atau ranting dari pohon yang berbuah banyak. Di alam semesta ini hanya ada satu pohon yang berbuah banyak atau lebat, dan pohon itu adalah Kristus. Sebagai ranting dari Allah, Kristus merupakan pohon yang berbuah banyak. Zakharia 6:12 mengatakan, “Inilah orang yang bernama Tunas (Ranting)”. Ranting ini adalah Kristus. Kristus sebagai ranting Allah, telah menjulurkan Allah kepada manusia, yang akhirnya menjadi sebatang pohon. Dalam Yohanes 15 tentang berbuah banyak, Tuhan Yesus berkata, “Akulah pokok anggur yang benar” (ayat 1). Kristus adalah pokok anggur. Dalam Yohanes 15:5 Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” Sebagai ranting-ranting dari pohon yang berbuah banyak ini, kita semua perlu berbuah banyak.
Jangan memperhatikan kelemahan, kegagalan, atau keadaan sekeliling yang kasihan. Sejarah gereja mempunyai dua aspek — aspek kegelapan dan aspek kemuliaan. Ketika kita memandang pada aspek yang mulia, kita nampak buah-buah yang berlimpah. Bukan hanya Petrus atau Paulus, tetapi semua orang yang mengasihi Tuhan akan berbuah banyak. Adakalanya kita mungkin berkata, “Kami lemah, keadaan kami tidak menjanjikan, pertambahannya terlalu lambat, dan jumlahnya tetap saja sedikit.” Akan tetapi jika Anda memiliki pandangan surgawi, Anda akan nampak bahwa gereja itu berbuah banyak, sejarah gereja justru sejarah yang berbuah banyak. Saya ulangi, jangan sekali-kali memandang situasi dari sudut yang gelap, melainkan dari sudut yang mulia. Allah itu pemenang, dan gereja itu berbuah banyak. Ranting-ranting itu terus menjulur. Petrus, Paulus, dan semua pencinta Kristus dari abad ke abad telah bercabang banyak.
B. NAIK MENGATASI TEMBOK
Ranting-ranting ini naik (menjulur) mengatasi tembok (49:22), berarti mereka itu memperluas Kristus melampaui segala pembatas, memperbesar Kristus dalam segala situasi (Flp. 1:20). Kejadian 49:22 mengatakan bahwa ranting-ranting Yusuf telah melampaui tembok. Tembok mengiaskan pembatasan. Sejak hari Pentakosta, tembok demi tembok didirikan untuk membatasi perkembangan ranting-ranting tersebut. Bahkan pada suatu hari Petrus dijebloskan ke dalam penjara (Kis. 12:3-4). Namun, tidak peduli betapa kuatnya benteng itu, tetap tidak bisa membatasi perkembangan tersebut. Tahun demi tahun, tembok-tembok didirikan oleh para penentang dan oleh musuh-musuh agar jangan sampai gereja berbuah lebat. Tetapi setiap kali ranting-ranting itu justru mengatasi tembok-tembok tersebut. Saya dapat memberi kesaksian atas hal ini dari apa yang telah saya lihat dan saya alami selama 50 tahunan ini. Dalam tahun-tahun ini saya telah nampak adanya buah-buah yang lebat pada ranting-ranting itu. Saudara Watchman Nee dibangunkan oleh Tuhan di China, sudah tentu merupakan ranting yang besar dari pohon yang berbuah banyak ini; ia adalah ranting dari Kristus yang berbuah banyak. Ketika saya bersama-sama dia, saya sangat jelas bahwa tidak ada sesuatu yang dapat membatasi kesaksiannya. Saudara Watchman Nee mempunyai beban untuk menanggung kesaksian Yesus yang berlawanan dengan kekristenan yang terorganisir. Akibatnya, banyak orang Kristen mendirikan tembok-tembok untuk membatasinya, menyebarkan desas-desus memfitnah dirinya. Izinkan saya memberi tahu Anda satu contoh dari desas-desus jahat itu. Setelah Saudara Watchman Nee beroleh selamat, ia menerima bantuan yang sangat besar dari seorang saudari yang bernama Margaret E. Barber. Saudari Barber mempunyai kawan sekerja yang bernama Miss Groves. Mereka berdua, Miss Barber dan Miss Groves, adalah misionaris yang datang dari Inggris. Akan tetapi, ketika Saudara Watchman Nee beroleh selamat, mereka telah meninggalkan misi mereka dan menetap di China dengan hidup beriman kepada Allah. Karena Saudara Watchman Nee banyak menerima bantuan dari Miss Barber, maka dengan sendirinya ia juga mengenal Miss Groves. Saudara Watchman Nee berada di bawah bantuan Miss Barber, maka ia pun berada di bawah bantuan Miss Groves. Pada tahun 1929, Miss Barber berpulang kepada Tuhan, sedang Miss Groves tetap tinggal dan pindah ke Shanghai. Suatu hari, Miss Groves mendengar kabar bahwa seorang perempuan tinggal bersama Saudara Watchman Nee, lalu ia datang untuk mencek kebenaran kabar itu. Waktu itu Saudara Watchman Nee masih bujangan, dan Miss Groves (sebagaimana Miss Barber), sebagai saudari yang lebih tua, mengasihinya dan sangat menaruh perhatian kepadanya. Miss Groves berkata, “Aku mendengar ada seorang perempuan tinggal bersamamu. Benarkah itu?” Saudara Watchman Nee menjawab, “Benar.” Miss Groves segera memarahinya, mana boleh seorang bujangan tinggal bersama seorang perempuan. Saudara Watchman Nee sendiri yang menceritakan peristiwa ini kepada saya, maksudnya untuk membantu saya memahami perkara tentang membela diri. Ia memberi tahu saya bahwa ia senang dimarahi. Ia juga memberi tahu saya bahwa perempuan yang tinggal bersamanya itu adalah ibunya sendiri. Ia me-ngisahkan ini bukan untuk membela dirinya sendiri, melainkan untuk memberi suatu bantuan kepada saya. Saya bertanya kepada Saudara Watchman Nee, mengapa ia tidak memberitahukan hal ini kepada Miss Groves. Ia menjawab, “Dia tidak bertanya siapa perempuan itu. Dia hanya bertanya benarkah seorang perempuan tinggal bersamaku. Dan ketika aku menjawab benar, ia segera memarahi aku. Aku pun tidak berkata apa-apa lagi.” Inilah salah satu contoh desas-desus mengenai Saudara Watchman Nee.
Contoh lain: Setelah pernikahannya, timbullah gejolak di Shanghai. Kejadian ini merupakan tembok lain yang di-dirikan oleh musuh. Saudara Watchman Nee menunjukkan sebuah surat kabar kepada saya, surat kabar yang terkenal di Shanghai dan mungkin juga di seluruh daratan China. Dengan huruf yang besar-besar, dimuat sebuah artikel negatif yang menyangkut pernikahannya. Saudara Watchman Nee berkata kepada saya, “Saudara Witness, selama hidupku, aku tidak pernah mendengar hal yang demikian terjadi setelah suatu pernikahan.”
Hari ini, kabar-kabar angin juga tersebar di sekeliling kita, tetapi tidak satu pun yang lebih jahat dan lebih kejam daripada kabar angin yang tersebar tentang Saudara Watchman Nee. Adanya kabar angin yang tersebar mengenai seorang perempuan tinggal bersama Saudara Watchman Nee menunjukkan bahwa musuh tak henti-hentinya berupaya mendirikan tembok dengan tujuan membatasi kemampuannya berbuah. Namun, buah-buah Saudara Watchman Nee telah naik mengatasi tembok. Kini buah-buahnya dapat ditemukan di seluruh dunia. Tidak seorang pun mampu membatasinya. Bahkan sekalipun ada orang yang mendirikan tembok setinggi 144 hasta, ranting-ranting itu tetap akan menjulur ke atas melampauinya.
Pada tahun-tahun itu, saya menyaksikan semua perkara yang menimpa Saudara Watchman Nee. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya diizinkan melihat semuanya itu dan ikut mengalaminya bersama Saudara Watchman Nee. Karena itu, ketika saya mendengar kabar-kabar angin yang disebarkan tentang diri saya, saya hanya tertawa dan berkata, “Aku telah siap bagi hal ini. Dulu aku telah nampak tembok setinggi 1000 kaki. Tembok kalian ini tidak lebih dari 15 kaki.” Saya ingin memberi tahu semua penentang di seluruh Amerika Serikat, “Aku pikir kalian tidak akan mampu mendirikan tembok setinggi 1000 kaki. Tembok kalian yang tertinggi hanyalah 500 kaki. Aku pernah melampaui tembok setinggi 1000 kaki.” Tuhan tahu, saya bukan membual. Sedikitnya ada dua saudara tua dari China yang ada di antara kami dapat bersaksi bahwa pada masa silam saya telah ikut menderita bersama Saudara Watchman Nee. Tersebarnya kabar angin tentang kami berdua bukanlah hal yang baru. Jika mungkin, kita harus memberi tahu para penentang itu bahwa mereka sedang menyia-nyiakan waktu mereka, karena mereka tidak akan dapat memadamkan kesaksian ini. Semakin tinggi tembok yang didirikan untuk membatasi kita, semakin cepat pula ranting-ranting akan mengatasi tembok itu.
Dalam Kisah Para Rasul 5:38-39, Gamaliel telah mengucapkan perkataan yang bagus sekali, “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mung-kin ternyata kamu justru melawan Allah.” Jika ini bukan pemulihan Tuhan, tentulah akan lenyap sendiri. Jika ini bukan pemulihan Tuhan, ini akan tenggelam ke dasar Lautan Pasifik. Tetapi jika ini pemulihan Tuhan, maka para penentang harus berhati-hati, jangan-jangan mereka akan menderita malu. Mereka takkan mungkin mengalahkan kesaksian ini. Semakin mereka berupaya menekan kesaksian ini, kesaksian ini akan naik semakin tinggi. Sejarah gereja telah membuktikan hal ini.
Izinkanlah saya mengutarakan sedikit pengalaman pribadi saya. Setelah saya diselamatkan, oleh belas kasihan Tuhan, saya menjadi seorang Kristen yang menuntut, seorang yang mendambakan Tuhan. Orang-orang Kristen di kampung halaman saya mengasihi saya. Namun, pada suatu hari, saya didapatkan oleh Tuhan bagi pemulihan-Nya, ada satu gereja dibangkitkan di kampung halaman saya. Menurut orang-orang luar, saya adalah pengkhotbah dan pengajar di sana. Sebelum gereja dibangunkan, orang-orang Kristen pernah mengundang saya berbicara pada pertemuan-pertemuan mereka. Bahkan mereka memberikan ongkos transportasi pulang pergi. Di China, itu dianggap sebagai suatu ekspresi kasih dan penghargaan. Tetapi setelah gereja muncul di sana, orang-orang yang dulu mengundang saya dan yang menyumbang ongkos perjalanan, bahkan berpura-pura tidak kenal saya ketika berjumpa di tengah jalan. Kemudian kabar angin pun tersebarlah tentang diri saya. Di antara kabar angin itu ada yang mengatakan bahwa saya mengajarkan bidah. Sejak kali pertama saya masuk ke dalam hidup gereja, saya segera dipersalahkan sebagai bidah. Tetapi ini bukanlah hal yang baru bagi saya.
Lima puluh tahunan yang lalu, kampung halaman saya merupakan kota yang paling terkenal di China utara atas pengetahuan Alkitabnya. Mendengar kabar angin bahwa pengajaran saya adalah bidah, ada sejumlah pemuda, putra para pengkhotbah Kristen fundamental, sengaja datang ke pertemuan ingin menyaksikan atau membuktikan sendiri apa yang sedang terjadi. Sebelum itu, mereka tidak hanya tidak menghadiri perhimpunan di denominasi-denominasi ayah mereka, sebaliknya malah pergi ke gedung-gedung opera, bioskop, dan rumah-rumah judi. Ketika kaum muda itu melakukan aktivitas kedosaan seperti itu, orang tua mereka berdiam diri tanpa perasaan prihatin. Namun, begitu sebagian dari mereka ada yang tertarik kepada hidup gereja dan didapatkan oleh hidup gereja, pendeta-pendeta mulai memperingatkan mereka untuk tidak menghadiri sidang-sidang gereja. Salah satu di antara mereka berkata kepada seorang pendeta, “Ketika aku pergi ke tempat judi dan bioskop, Anda tidak datang dan memperingatkan aku tentang apa yang kuperbuat. Sekarang aku pergi ke tempat di mana aku dapat mendengarkan firman Allah dan menerima banyak bantuan dalam kehidupan rohani, Anda malah datang dan memperingatkan aku untuk tidak datang ke sana. Jangan mencari aku lagi. Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan ini aku beroleh banyak bantuan, aku akan terus menerima bantuan ini.” Ini membuktikan bahwa ranting-ranting telah mengatasi tembok.
Sepanjang tahun, para penentang selalu menguntit saya, dari kota kelahiran saya sampai ke tempat-tempat lainnya, termasuk Taiwan. Seorang pengkhotbah dengan sengaja dari kampung halaman saya datang ke Taiwan untuk mencoba menghancurkan ministri saya. Ketika saya merasa terganggu oleh tentangan-tentangan ini, Tuhan berkata, “Lihatlah Paulus, dan bacalah sekali lagi Kitab Kisah Para Rasul. Ke mana pun rasul-rasul itu pergi, orang-orang Yahudi penentangnya selalu menguntit sambil menimbulkan masalah.”
Baru-baru ini, seorang saudara menerima sepucuk surat dari Australia, yang ditulis oleh seorang pengkhotbah keliling. Surat tersebut penuh dengan berita-berita negatif mengenai diri saya. Tidak ada satu hal pun yang positif. Tetapi beberapa tahun sebelumnya, orang yang sama telah menulis surat yang lain yang memuji-muji saya. Demikian bunyinya: “Bagiku, Witness Lee selalu merupakan hamba Allah yang agung dalam hidup pribadinya, seorang hamba yang berbuah lebat dalam ministrinya. Aku percaya aku tidak layak mengikat tali sepatunya. Aku akan merasa cukup bahagia apabila Tuhan mau memberiku separuh atau bahkan sepersepuluh dari pahala yang Tuhan anugerahkan kepada hamba-Nya yang unggul ini.” Namun akhir-akhir ini, orang ini telah menulis sepucuk surat yang berisi kata-kata fitnah atas diri saya. Sungguh sulit dipercaya bahwa kedua surat itu ditulis oleh orang yang sama. Surat yang kedua ini ia tulis karena ranting pohon yang berbuah banyak telah menjangkau Sydney. Beberapa orang yang nampak perkembangan ini di Australia merasa resah dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian mereka menulis surat ini dengan tujuan membatasi perkembangan pemulihan Tuhan di Australia. Ketika saya memperhatikan hal-hal semacam ini dalam sorotan terang Kejadian 49:22, saya sangat gembira, karena ranting-ranting ini terus menjulur mengatasi tembok. Apa yang terjadi hari ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam ayat ini. Penentang-penentang telah menyia-nyiakan waktu mereka. Semakin tinggi tembok yang mereka dirikan, semakin tinggi perkembangan ranting-ranting itu.
Bagaimana mungkin seorang pengkhotbah keliling, seorang yang menginjil dalam nama Tuhan Yesus dan mengajarkan Alkitab bisa berbohong, bahkan memfitnah orang? Inilah keadaan yang kasihan dalam kekristenan hari ini. Tidak ada hati nurani, juga tidak ada standar moral. Asal ada yang dapat menghalangi pemulihan Tuhan, mereka merasa senang. Namun tidak ada tembok apa pun yang mampu menghalangi perkembangan ranting-ranting ini. Pada faktanya, penentang-penentang itu justru malah membantu perluasan Tuhan. Inilah pengalaman Yusuf.
Pada tahun 1958, saya diundang ke Inggris. Sejak saat itu, ada beberapa orang berusaha mencegah perkembangan pemulihan Tuhan ke Eropa. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ranting-ranting itu menjulur mengatasi tembok, ke Jerman, Swiss, bahkan ke Denmark dan Swedia. Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi perkembangan Yusuf. Jika kita Yusuf hari ini, siapa yang mampu membatasi kita?
Kabar angin mengenai kita tersebar juga di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tetapi puji Tuhan, pemulihan-Nya di Brasil berkembang seperti api yang “liar”. Tidak ada seorang pun dari “anggota pemadam kebakaran” yang tahu harus bagaimana menghadapinya. Sebelum api liar ini mulai berkobar, penentang-penentang dalam kekristenan menyiarkan kabar angin mengenai diri saya dan gereja-gereja. Saya persilakan Anda semua untuk menunggu beberapa saat, lihatlah apa yang akan terjadi. Segalanya tergantung pada apakah kita adalah Yusuf-Yusuf hari ini atau bukan. Asal kita adalah Yusuf-Yusuf hari ini, tidak akan ada seorang pun atau sesuatu apa pun yang sanggup merintangi penjuluran ranting-ranting ini ke atas tembok.
II. MENANG
A. MENGALAHKAN SERANGAN
PARA PEMANAH
Kejadian 49:23-24 mengatakan, “Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh.” Yusuf mengalahkan serangan para pemanah. Makna rohani hal ini ialah dalam segala penderitaan, kita sudah lebih daripada menang (Rm. 8:36-37). Penderitaan tidak dapat menindas kita, malahan kita yang menaklukkan penderitaan-penderitaan.
B. DIKUATKAN OLEH YANG MAHAKUAT
Meskipun Yusuf dianiaya, diusik, dan diserang, ia tetap kokoh. Ia tidak hanya kokoh, tetapi juga liat (kuat). Ayat 24 mengatakan, “Lengan tangannya tinggal liat (kuat) oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub.” Semakin menderita dan diserang, Yusuf menjadi semakin kuat dan kokoh. Penderitaannya juga menggemblengnya menjadi kuat. Kalau kita ingin lengan dan kaki kita liat (kuat), kita perlu dilatih oleh penderitaan. Yusuf adalah orang yang telah mengalami pelatihan; ia dilatih melalui penderitaannya. Hal ini sama dengan kita hari ini. Semua tentangan dan kabar angin tidak lain menolong kita menjadi kokoh dan kuat.
Tentu, Yusuf menjadi kokoh dan kuat dikarenakan Yang Mahakuat pelindung Yakub. Allah adalah sumber tenaga dan kekuatannya. Jika Anda membaca sejarah Yusuf, Anda akan nampak bahwa Allah senantiasa menyertainya. Sewaktu ia digoda oleh istri Potifar, ia berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (39:9). Ini menunjukkan bahwa Allah menyertainya. Tenaga dan kekuatannya berasal dari Allah.
C. SEPERTI SERIGALA
YANG MEROBEK-ROBEK
Dalam Kejadian 49:27 Benyamin diumpamakan seperti serigala yang merobek-robek (LAI: menerkam). “Benyamin adalah seperti serigala yang merobek-robek; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya.” Istilah “serigala” bukanlah istilah yang menyenangkan. Kapankala Anda merobek-robek sesuatu, Anda tidaklah kelihatan manis; sebaliknya Anda pasti seperti seekor serigala. Ketika membongkar sesuatu bagi perampungan pembangunan balai sidang di Anaheim, saya mengamati ekspresi dari orang-orang yang melakukan pe-kerjaan ini; setiap wajah kelihatan galak. Orang yang lemah-lembut tidak dapat merobek-robek sesuatu. Kalau Anda ingin merobek-robek sesuatu, Anda harus seperti serigala. Benyamin adalah serigala.
Dalam 2 Korintus 10:5 Paulus mengatakan, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Ketika saya masih muda, saya menganggap berkata demikian ini menunjukkan kalau Paulus itu sombong. Berbicara tentang mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu serta menawan segala pikiran bukanlah sikap yang manis, rendahhati, atau ramah. Ketika Paulus menulis kata-kata ini, ia adalah serigala yang merobek-robek. Sering kali, ketika berkontak dengan orang lain, saya selalu rendah hati dan manis. Tetapi pada saat-saat tertentu, saya seperti serigala yang merobek-robek sesuatu sampai menjadi potongan-potongan kecil. Dalam percakapan biasa, saya bersikap sopan santun, namun adakalanya saya tidak sungkan sedikit pun. Adakalanya kawan sekerja saya dan bahkan istri saya yang terkasih meminta saya menaruh simpati kepada orang-orang lain. Tetapi dapatkah Anda meminta serigala yang sedang merobek-robek untuk bersimpati? Andaikata serigala bisa berbicara, ia akan berkata, “Dalam bahasaku, tidak ada kata-kata belas kasihan.” Serigala yang sedang merobek-robek tidaklah menunjukkan belas kasihan. Kita bukan merobek-robek manusia menjadi potongan-potongan kecil, melainkan merobek-robek Iblis. Kita juga merobek hingga hancur semua pikiran dan alasan yang menyimpang menjadi kepingan-kepingan. Segala perkara ini wajib dirobek hingga berkeping-keping.
D. MENANDUK SEPERTI LEMBU
Ulangan 33:17 mengatakan, “Anak sulung lembu sapinya adalah kegemilangannya, dan tanduk-tanduknya seperti tanduk-tanduk lembu hutan, dengan itu ia akan menanduk bangsa-bangsa, seluruh bumi, dari ujung ke ujung. Itulah orang Efraim yang puluhan ribu, dan itulah orang Manasye yang ribuan.” Yusuf laksana lembu yang menanduk. Dalam berita sebelum ini telah saya tunjukkan bahwa ketika Kristus kembali, ia akan menanduk orang-orang Rusia keluar dari tanah permai. Saya yakin sekali dengan hal ini. Hari ini, kita pun bisa mengalami Yusuf sebagai lembu yang menanduk. Bila saya mengenang pengalaman-pengalaman saya di waktu-waktu yang silam serta pengalaman-pengalaman Saudara Watchman Nee, saya tahu bahwa saya benar-benar telah nampak kemenangan yang menanduk ini. Para penentang menyatukan tenaga untuk menekan kita, tetapi di sini terdapat kemenangan yang menanduk, tenaga yang menanduk, dan tanduk-tanduk yang menanduk. Tunggulah sejenak lagi, Anda akan nampak tenaga menanduk dari Yusuf. Yusuf berbuah banyak dan ia mempunyai kemenangan dalam hal menanduk dan merobek-robek. Dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita adalah Yusuf-Yusuf yang kuat untuk merobek-robek para lawan dan menanduk para penentang sampai tersingkir.
Banyak di antara kalian telah membaca buklet yang berjudul: Alangkah bidahnya — Dua Bapa Ilahi, Dua Roh Pemberi hayat, dan Tiga Allah! (What a heresy — Two Divine Fathers, Two Life Giving Spirits, and Three Gods!). Meskipun buklet ini telah diedarkan beberapa bulan lamanya, namun belum ada seorang pun yang menulis buku untuk menanggapinya. Mulut para penentang terkatup, dan tangan-tangan penulis mereka telah terpenggal, mereka tidak sanggup menghadapi kata-kata dalam Yesaya 9:5 dan 1 Korintus 15:45. Bagaimanapun orang memutar balikkan Yesaya 9:5, mereka tidak dapat menghapuskan nama Bapa yang terdapat di sana. Ayat ini mengatakan bahwa seorang Putra telah diberikan kepada kita dan nama-Nya disebut: Bapa yang kekal. Bapa ini sudah tentu Bapa Allah. Jika Anda berkata bahwa Bapa dalam Yesaya 9:5 bukanlah Bapa dari ke-Allahan, berarti Anda adalah orang bidah yang mempercayai dua Bapa ilahi. Tetapi dalam alam semesta hanya ada satu sumber, yakni Bapa yang di dalam ke-Allahan. Janganlah bercerita kepada saya tentang sejarah, atau pengakuan iman Nicea atau pengakuan-pengakuan lainnya. Saya tidak mau tahu pengakuan macam itu — saya hanya mau firman yang murni dalam Yesaya 9:5.
Satu Korintus 15:45 mengatakan, “Adam yang akhir menjadi Roh pember-hayat” (Tl.—life-giving Spirit). Beberapa penentang kita telah memutar balikkan ayat ini, mengatakan, “Ayat ini mengatakan ‘roh’, bukan ‘Roh itu’.” Tetapi janganlah melupakan kata keterangannya “pemberi-hayat”. Ayat ini menyinggung perihal Roh pemberi-hayat. Percayakah Anda bahwa Roh yang ini berbeda dengan Roh Kudus dari ke-Allahan? Jika demikian, berarti Anda telah mempercayai adanya dua Roh pemberi-hayat. Itu justru bidah! Dalam memerangi keadaan ini, saya seperti serigala yang merobek-robek musuh hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Ada penentang-penentang yang mencari bantuan kepada pengakuan iman Nicea. Padahal pengakuan iman Nicea tak lain bagaikan sepatu yang berukuran dua inci, sedangkan kaki Anda berukuran dua belas inci. Apakah Anda harus memotong kaki-kaki Anda agar dapat masuk ke dalam sepatu yang kecil itu, ataukah Anda harus mencari sepasang sepatu yang seukuran dengan kaki Anda? Dalam Kitab Wahyu terdapat tujuh Roh, adakah tujuh Roh ini dalam pengakuan iman Nicea? Tidak! Perjanjian Baru juga membicarakan tentang Roh pemberi-hayat, tetapi adakah pengakuan iman Nicea memuat keterangan-keterangan tentang Roh Pemberi-hayat? Tidak! Jadi pasangan sepatu itu terlalu kecil! Visi yang kita miliki jauh lebih besar daripada yang terkandung dalam pengakuan itu. Kita tidak seharusnya mengurangi visi ini untuk disesuaikan dengan ukuran sepatu itu; sebaliknya, kita harus menyingkirkan sepatu-sepatu yang lama itu serta menerima firman yang murni dari Alkitab. Biarlah dunia kekristenan menentang kita. Akhirnya kita akan nampak hasilnya. Dalam pemulihan Tuhan, kita mempunyai kekuatan untuk merobek dan kekuatan untuk menanduk. Cepat atau lambat, musuh-musuh bukan hanya akan dikalahkan dan ditundukkan, tetapi juga akan menyerah tanpa syarat. Allah selalu memimpin kita di dalam kemenangan (2 Kor. 2:14). Kebenaran itu kebenaran, Yusuf itu Yusuf, dan Benyamin itu Benyamin.
III. PERCAYA
Kejadian 49:24 juga menyinggung tentang gembala, gunung batu Israel. Ayat 25 mengatakan, “Oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Maha-kuasa (Allah yang serba cukup) yang akan memberkati engkau.” Ayat-ayat ini menunjukkan mengapa Yusuf dan Benyamin menjadi penggenap terakhir: yaitu mereka percaya kepada Sang Mahakuat pelindung Yakub. Mereka percaya kepada gembala Israel, mereka berdiri di atas gunung batu Israel. Mereka percaya kepada Sang serba cukup. Perjanjian Baru mencantumkan tentang percaya kepada Sang serba cukup dalam Filipi 4:13, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Tentang Gembala Israel dapat kita jumpai dalam 1 Petrus 5:4 yang mengatakan bahwa Kristus, Gembala Agung, akan datang. Akhirnya dalam Perjanjian Baru, gunung batu Israel terlihat dalam Kristus, sebagai batu karang gereja. Satu Korintus 10:4 mengatakan, “Sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”
Dalam nubuat pemberkatan Yakub kepada Yusuf, kita nampak bahwa Yusuf bisa berbuah banyak dan menang dikarenakan ia percaya kepada Tuhan. Jika kita ingin menjadi Yusuf dan Benyamin hari ini, kita harus menjadi orang-orang yang percaya kepada Sang Mahakuat, gembala Israel, batu karang gereja, dan kepada Sang serba cukup. Hati nurani saya boleh bersaksi bahwa tanpa percaya kepada Tuhan, saya tidak dapat berbuat apa-apa. Jika saya tidak mendoakan segala sesuatu yang saya lakukan bagi pemulihan Tuhan, saya tidak memiliki damai sejahtera. Saya selalu mendoakan segala yang saya lakukan dalam pemulihan Tuhan, sampai saya merasa damai dan penuh keyakinan. Sebelum saya menyampaikan sebuah berita, saya terus berdoa sampai saya penuh dengan inspirasi dan kekuatan. Hidup Yusuf adalah hidup yang percaya, hidup yang bersandar kepada Allah. Inilah rahasia banyaknya buah dan kemenangan Yusuf.
Meskipun bahasa puisi itu ekonomis, namun Yakub menggunakan berbagai sebutan nama Allah, Allah yang patut kita sandari: Sang Mahakuat, gembala, gunung batu, Sang serba cukup, dan Allah ayahmu. Kita bukanlah generasi yang pertama dalam hal percaya kepada Allah, melainkan generasi belakangan. Kita nampak kesaksian nenek moyang kita dalam hal percaya kepada Allah, dan sekarang Allah mereka telah menjadi Allah kita. Karena itu kita mengikuti jejak-jejak mereka yang percaya kepada Allah mereka, yaitu Sang Mahakuat, Sang serba cukup, gembala, batu karang dan pondasi. Haleluya, kita berdiri di atas-Nya dan percaya kepada-Nya! Karena itu, kita berbuah banyak dan menang.