← Daftar isi Kristus dan Allah · bab 1/4

PENELITIAN TERHADAP ALLAH PERSOALAN UTAMA

Kita akan membahas kepercayaan orang Kristen dari dasarnya. Persoalan pertama yang akan kita lihat adalah tentang Allah.

Baiklah kita terlebih dulu membaca beberapa ayat Alkitab Perjanjian Lama: Mazmur 14:1, “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’” Orang yang dalam hatinya berkata tidak ada Allah, kesudahannya adalah seperti kalimat selanjutnya, “Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”

Marilah kita baca pula Perjanjian Baru, yaitu Surat Ibrani 11:6, kita baca mulai bagian tengah, “Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada.”

TIGA GOLONGAN ORANG

Baik Anda orang Kristen, maupun bukan orang Kristen, atau orang yang bersikap meneliti kekristenan, kita akan memulai pembahasan kita dengan melihat soal tentang Allah. Sikap orang dunia terhadap hal ini boleh dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah golongan ateis, yang tidak percaya adanya Allah. Golongan kedua adalah golongan agnostik, yang tidak mengetahui apakah Allah itu ada; mengatakan tidak ada, namun tidak berani; mengatakan ada, namun juga tidak tahu. Golongan ketiga adalah orang yang sama dengan kita, yaitu percayabahwa Allah itu ada.

PENGHAKIMAN

Sebenarnya adakah Allah itu? Di sini saya tidak mengatakan ada atau tidak ada. Saya anggap saja tempat ini adalah pengadilan untuk menghakimi hal ini. Saya mengundang Anda menjadi hakim, dan saya yang menjadi jaksanya. Apakah tugas hakim itu? Hakim memutuskan benar atau salah, ada atau tidak, dan tugas jaksa ialah mengetengahkan semua dasar, alasan dan bukti yang bisa ia dapatkan, setelah itu Anda yang mengambil keputusan.

Akan tetapi ada satu hal yang perlu dijelaskan lebih dulu, semua jaksa tidak pernah melihat langsung kesalahan yang diperbuat oleh seseorang. Jaksa bukan polisi. Polisi bisa langsung melihat apa yang diperbuat oleh seseorang (tertuduh), tetapi jaksa mengetahui semuanya secara tidak langsung. Jaksa membeberkan semua bukti, dasar dan alasan yang ia dapat dan ia dengar di hadapan hakim, kemudian membiarkan hakim yang mengambil keputusan. Demikian juga saya. Saya akan mengajukan semua bukti yang saya dapatkan kepada Anda. Kalau Anda bertanya, “Apakah engkau pernah melihat Allah?” Saya menjawab, “Tidak pernah.” Saya hanya membacakan dan menunjukkan apa yang saya peroleh secara langsung atau tidak langsung kepada Anda, biar Anda sekalian yang sebagai hakim mengambil keputusan sendiri, sebenarnya Allah ada atau tidak. Di sini saya mencari fakta, bukti dan alasan, juga mengundang saksisaksi. Mengundang seorang menjadi saksi, mengucapkan kesaksian, sebenarnya apakah Allah itu ada. Lalu mengundang seorang saksi lagi. Dengarlah kesaksiannya tentang adanya Allah. Kita meneliti saksi-saksi dan barang-barang bukti ini, kemudian baru menentukan soal apakah Allah itu ada.

PATUT MENGATAKAN ATAU TIDAK

Banyak orang mengatakan, “Tidak ada Allah.” Sebagai seorang jaksa, saya persilakan Anda melihat apakah mereka patut berkata demikian atau tidak. Kita perlu terlebih dulu melihat apakah moral (budi pekerti) orang yang mengatakan “tidak ada Allah” itu baik atau jahat, jangan terlebih dulu mendengarkan alasan mereka. Jika membicarakan alasan, perampok dan penyamun juga mempunyai alasan untuk melakukan kejahatannya, tetapi alasan-alasan itu adalah alasan perampok dan penyamun. Kalaupun mereka mengulas tentang perkara negara atau masyarakat, tidak akan ada orang yang mau mendengar, karena mereka tidak bersyarat mengucapkan kata-kata itu. Kalau seseorang mempunyai perilaku dan moral yang baik, perkataannya masih layak kita pertimbangkan. Namun, kalau perilaku dan moral seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan, tentunya apa yang ia katakan tidak bernilai, lebih-lebih mengenai hal ada atau tidaknya Allah. Suatu hal yang mengherankan sekali, moral orang-orang yang mengatakan “tidak tahu” apakah Allah itu ada atau tidak masih lumayan, tetapi bagaimana keadaan moral mereka yang khusus berkata “tidak ada Allah”? Meskipun yang saya ketahui tidak banyak, sedikitnya ada beberapa puluh ribu orang semacam itu dan keadaan mereka sungguh-sungguh tidak bermoral. Kalau Anda mengatakan bahwa seorang ateis mempunyai moral yang baik, mungkin hanya ada seorang saja, tetapi ia sudah mati, atau masih ada yang lainnya, tetapi ia belum lahir. Untuk kelak, saya tidak berani mengatakannya, tetapi hari ini tidak ada.

ORANG YANG TIDAK BERMORAL

Pada suatu kali, ketika saya memberitakan Injil di Universitas Kim-Leng, saya berkata, semua orang ateis adalah orang yang tidak bermoral. Saat itu di universitas ini banyak mahasiswa ateis yang sangat tidak puas setelah mendengar perkataan itu. Hari berikutnya, mereka hadir lagi mendengarkan Injil. Saya di atas memberitakan Injil, mereka di bawah menggosok-gosokkan sepatu di lantai, dengan tujuan agar saya tidak bisa memberitakan Injil dengan baik. Hari ketiga mereka datang lagi, bukan saja menggosok sepatu, ditambah mengacung-acungkan tangan, mulutnya dicibirkan ke kanan ke kiri, terus mengganggu, mengacau. Hari keempat, wakil dekan, Tuan William, datang kepada saya dan katanya, “Hari ini mari kita ganti tempat memberitakan Injil, karena mereka sangat marah ketika mendengarkan Anda pada hari pertama berkata, orang yang tidak mempunyai Allah adalah orang yang tidak bermoral. Hari ini mereka tidak memakai kaki, tidak memakai mulut, melainkan akan memakai tinju. Kabarnya mereka menunggu di depan pintu gedung kebaktian, begitu Anda masuk, langsung melayangkan tinju kepada Anda.” Hari itu saya menurut penetapan mereka, berkhotbah di tempat yang baru. Ketika menuju ke sana, banyak mahasiswa dan mahasiswi juga menuju ke sana, saya berjalan di tengah-tengah mereka. Sambil berjalan saya mendengarkan obrolan mereka. Meskipun mereka menentang saya, setelah mendengar perkataan saya merasa tidak senang, tetapi mereka tetap datang mendengarkan. Ketika saya berada di tengah-tengah mereka, saya mendengar ada orang berkata, “Tuan Nee berkata bahwa orang yang tidak mempunyai Allah adalah orang yang tidak bermoral, perkataan ini benar, memang benar! Kalau mereka bermoral, mana mungkin ketika orang lain berkhotbah, mereka di bawah menggosok-gosokkan sepatu di lantai? Kemarin mereka mengacau, hari ini mereka akan melakukan kekerasan, benar-benar tidak bermoral. Orang yang tidak mempunyai Allah, sungguhsungguh tidak bermoral! Ayo, kita pergi mendengarkan khotbah, jangan menghiraukan mereka! Mari kita pergi mendengarkan khotbah!”

Pada suatu kali, ada seorang remaja berkata kepada seorang penginjil, “Tuan penginjil, ketika saya duduk di bangku sekolah menengah, saya masih percaya ada Allah; sekarang, saya duduk di universitas, malah menjadi tidak percaya.” Penginjil ini berusia hampir 50 tahun, sambil menepuk bahu remaja itu ia berkata, “Anakku! Hari ini engkau sudah tidak percaya kepada Allah? Saya ingin bertanya satu soal, sejak engkau tidak percaya Allah, apakah moralmu lebih baik? Setelah engkau menjadi ateis, apakah paham ateis tersebut membantumu bermoral lebih baik, berpikiran lebih bersih, hati lebih tulus? Atau sebaliknya?” Remaja itu dengan malu mengakui, sejak ia tidak percaya kepada Allah, moralnya lebih merosot. Penginjil itu berkata, “Mungkin engkau bukan tidak percaya ada Allah, melainkan mengharapkan tidak ada Allah!”

TIDAK DAPAT MEMUTUSKAN BERDASARKAN HARAPAN

Sebenarnya, banyak orang bukan sungguh-sungguh yakin tidak ada Allah, melainkan mengharapkan tidak ada Allah. Mereka mengharapkan di alam semesta paling baik tidak ada Allah, jika tidak ada Allah, maka mereka dapat dengan leluasa melakukan banyak perkara.

Saya sendiri demikian. Sewaktu menjadi murid di sekolah, saya juga mengatakan “tidak ada Allah”. Walau di mulut saya berkata dengan keras, tetapi di dalam saya terasa ada seseorang yang menentang dan mengatakan, “ada Allah, ada Allah”. Meskipun hati saya mengetahui ada Allah, tetapi mulut saya berkata “tidak ada Allah”. Mengapa demikian? Supaya saya lebih mudah berbuat dosa! Dengan mengatakan tidak ada Allah, saya bisa pergi ke tempat dosa; karena tidak ada Allah, bisa dengan leluasa berdosa. Dulu karena percaya ada Allah, Anda tidak berani berbuat; sekarang tidak ada Allah, Anda boleh melakukan dosa yang paling besar, Anda bisa dengan leluasa melakukannya. Kalau dengan percaya tidak ada Allah moral Anda semakin luhur, maka keyakinan Anda itu bernilai. Namun, jika Anda percaya tidak ada Allah, hanya karena mengharapkan tidak ada hukum, tidak ada moralitas, tidak ada peraturan, tidak ada kewajiban sebagai manusia, maka seluruh alasan Anda tidak layak dibicarakan. Karena itu, persoalannya sekarang adalah layak atau tidak Anda mengatakan “tidak ada Allah”. Kalau orang hanya berharap terhindar dari keadilan, maka ia tidak bersyarat mengatakan “tidak ada Allah”.

APAKAH MANUSIA PALING BESAR

Pada suatu hari, ada seorang remaja berkata kepada saya, “Saya tidak percaya ada Allah! Di dunia tidak ada yang lebih besar daripada manusia, manusia adalah inti segala sesuatu. Sebab itu dalam alam semesta hanya ada manusia, tidak ada Allah!”

Mulanya kami duduk berhadapan, begitu mendengar perkataannya, saya langsung berdiri, berjalan menuju ke tempat duduknya, berjongkok dan memandangnya. Saya berkata, “Oh, Anda sungguh besar!” Kemudian saya berjalan ke sisi yang lain, dengan cara yang sama melihat dia. Saya berkata lagi, “Oh, Anda sungguh besar!” Dari sisi sini ke sisi sana, sambil melihat dia sambil berkata, “Anda sungguh besar! Orang yang sebesar Anda ini, di propinsi Jiang-Shu ada 30 juta orang! Oh, Anda sungguh besar! Orang yang sebesar Anda, di China berjumlah 400 juta lebih! Anda sungguh besar! Terlalu besar! Di seluruh dunia orang yang sebesar Anda hanya beberapa milyar orang! Beberapa hari ini di daerah selatan terjadi banjir, tanggul sungai dalam keadaan kritis, seluruh penduduk Sing-Hwa menjadi panik, dikerahkan 200 ribu lebih orang kerja bakti untuk memperbaiki tanggul, memikul tanah menguruk tanggul, tetapi masih belum bisa memperbaiki. Misalnya semua penduduk di dunia kerja bakti, ingin melubangi matahari, membuat satu lubang besar di matahari, lalu setiap orang memikul satu pikulan besar tanah, kalaupun manusia tidak bisa mati terbakar, seluruh penduduk dunia ini masuk, bisakah mengisi penuh matahari? Jangankan manusia, kalaupun ratusan bumi dimasukkan ke dalam matahari dan Anda menggoyanggoyangkannya, matahari masih tetap kosong melompong! Lagi pula apakah di antara langit dan bumi hanya ada satu matahari? Entah ada berapa ratus juta tata surya di alam semesta ini!”

APAKAH MANUSIA BISA MEMANDANG KECIL ALAM SEMESTA INI?

Saya berkata lagi kepada remaja itu, “Anda sungguh besar! Bumi saja belum Anda jelajahi semua, tetapi Anda sudah berani memandang kecil alam semesta, sesumbar bahwa diri sendiri besar! Saya bertanya lagi kepada Anda, berapa besarnya alam semesta ini? Kecepatan cahaya satu detik kurang lebih tiga ratus ribu kilometer. Bayangkan, satu detik berjalan tiga ratus ribu kilometer, satu menit berjalan berapa jauh, satu jam berjalan berapa jauh, satu hari berjalan berapa jauh? Lalu satu tahun berjalan berapa jauh? Tetapi di langit banyak bintang yang cahayanya menempuh tiga ribu tahun lebih baru sampai ke bumi. Ini jarak yang luar biasa, hitunglah berapa besar jarak ini!” Sebab itu saya menganjuri orang yang tidak percaya ada Allah dan kaum remaja, manusia bukan saja dalam aspek moral tidak bersyarat mengucapkan tidak ada Allah, dari segi ilmu pengetahuan dan intelektual juga belum bersyarat mengatakan tidak ada Allah.

APAKAH MANUSIA BISA MELAMPAUI BATASAN RUANG DAN WAKTU

Suatu kali di Kaifung saya bertemu dengan seorang muda yang juga bersikeras mengatakan tidak ada Allah. Lalu saya berdiri di hadapannya, sambil menepuk bahunya berkata kepadanya, “Hari ini saya telah melihat Allah.” Dia sangat heran, matanya terbuka lebar-lebar, ingin mengetahui bagaimana saya bisa melihat Allah. Saya berkata, “Anda adalah Allah. Anda tahu tidak ada Allah, maka Anda adalah Allah.” Ia bertanya, “Mengapa demikian?” Saya menjawab, “Anda mengetahui tidak ada Allah, tentu Anda telah menjelajahi seluruh dunia. Kalau di Shanghai tidak ada Allah, mungkin di Nanking ada Allah! Sebab itu Anda bukan saja pernah ke Shanghai juga pernah ke Nanking. Kalau di Nanking tidak ada Allah, mungkin di Tien-Ching ada Allah! Jadi Anda pasti telah ke Nanking juga telah ke Tien-Ching. Di China tidak ada Allah, mungkin Allah berada di luar negeri. Sebab itu Anda tentu juga pernah ke luar negeri. Allah tidak di sini, mungkin Allah di sana! Jadi Anda tentu telah menjelajahi seluruh dunia. Mungkin Allah bersembunyi di Kutub Utara atau di Kutub Selatan, mungkin Allah bersembunyi di hutan belantara atau padang gurun, sebab itu, Anda tentu pernah mengunjungi Kutub Utara dan Kutub Selatan, dan menelusuri seluruh hutan belantara dan padang gurun. Karena Anda telah menjelajah, pernah menelusuri, sudah memeriksa, maka Anda bisa berkata, tidak ada Allah. Mungkin Allah tidak tinggal di bumi, tetapi tinggal di bulan, maka Anda tentu sudah ke bulan juga. Mungkin Allah tinggal di planet yang lain, atau di atas ruang angkasa, jadi Anda harus sudah pergi ke planet yang lain, menjelajah ruang angkasa. Sebab itu, kalau Anda telah menjelajahi seluruh alam semesta, telah memeriksa setiap sudut alam semesta, barulah layak mengatakan tidak ada Allah, karena itu kalau Anda mengatakan tidak ada Allah, Andalah Allah.”

“Bukan saja demikian, jika hari ini di Shanghai tidak ada Allah, bagaimana Anda mengetahui kemarin di Shanghai juga tidak ada Allah? Mungkin besok Ia baru datang? Tahun ini tidak ada Allah, bagaimana Anda tahu tahun yang lalu tidak ada Allah? Bagaimana Anda tahu tahun yang akan datang tidak ada Allah? Kalau tahun ini tidak ada Allah, bagaimana Anda tahu seribu tahun yang lalu tidak ada Allah? Sebab itu Anda pasti hidup selama-lamanya, mengetahui urusan yang lampau dan yang akan datang, Anda adalah orang yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Anda pasti seorang yang hari ini berada di sini, juga berada di luar negeri, berada di barat, timur, utara dan selatan, yang mahaada. Saya tidak perlu mencari yang lain, karena Anda adalah Allah! Kalau tidak demikian, Anda tidak bersyarat mengatakan tidak ada Allah, sebab itu jangan bermulut besar!”

MARI MELIHAT BUKTI

Ada orang langsung berkata, “Aku tidak tahu, aku tidak tahu apakah ada Allah.” Baiklah, kalau Anda tidak tahu, saya akan mengundang saksi yang saya anggap dapat dipercayai, yang beralasan, untuk memberi tahu Anda bahwa Allah ada. Saya akan mengundang Anda sendiri sebagai hakim, saya yang menjadi jaksa, saya hanya mengajukan buktibukti kepada Anda, biar Anda sendiri yang menyimpulkan sebenarnya Allah ada atau tidak!

LIHATLAH ALAM SEMESTA

Pertama-tama, mari melihat yang di luaran. Lihatlah alam yang berada di luar kita, dan segala gejalanya. Kita tahu apa yang disebut ilmiah. Bila Anda melihat suatu gejala, Anda menjelaskannya dengan terperinci, itu disebut ilmu pengetahuan. Misalnya Anda melihat suhu badan seorang penderita sakit telah turun, turunnya suhu badan adalah suatu gejala, mengetahui mengapa suhu badan turun adalah ilmu pengetahuan. Anda melihat sebuah apel jatuh, ini adalah gejala. Anda mengutarakan satu teori yang menjelaskan mengapa buah apel jatuh ke tanah, tidak melayang di udara, ini adalah ilmu pengetahuan. Sebab itu siapa yang mengetahui sesuatu, dan tahu mengapa sesuatu itu demikian, adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan.

HANYA ADA DUA MACAM PENJELASAN

Alam semesta adalah satu gejala yang besar, di dalamnya terdapat beraneka ragam benda dengan macam-macam warna, bentuk, ukuran dan sifat. Gejala ini terbentang di hadapan kita, dan kita tidak bisa mengabaikannya. Kita akan melihat mengapa alam semesta bisa demikian, inilah ilmu pengetahuan. Banyak ahli pikir dalam dunia menjelaskan asal usul alam semesta hanya dalam dua cara. Kalau Anda tidak percaya yang ini, pasti percaya yang itu, pokoknya salah satu di antara keduanya.

Apakah kedua penjelasan itu? Yang pertama, mereka percaya bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya, lewat evolusi alami, ada secara kebetulan. Yang kedua, percaya bahwa alam semesta diciptakan oleh satu pribadi yang disebut Allah, mempunyai pribadi, pikiran, dan rencana. Itulah dua penjelasan yang terpikir oleh ahli pikir di dunia. Tidak ada penjelasan yang ketiga.

Sebenarnya dari manakah alam semesta? Alam semesta dengan segala isinya ada dengan sendirinya, ada secara kebetulan, atau diciptakan oleh Allah? Silakan Anda pertimbangkan dan putuskan. Suatu benda yang ada secara kebetulan pasti ada ciri-cirinya, catatlah ciri-ciri itu, lebih terperinci lebih baik. Lalu cocokkan dengan gejala dalam alam semesta, cocok atau tidak. Kalau alam semesta diciptakan oleh Allah, pasti ada cirinya juga, coba Anda tulis satu butir demi satu butir, lalu cocokkan dengan keadaan alam semesta, maka Anda akan mendapatkan satu jawaban yang tepat.

GEJALA YANG TERDAPAT PADA KEADAAN

YANG TERJADI SECARA KEBETULAN

Apakah ciri-ciri benda-benda yang terjadi secara kebetulan dalam dunia ini? Kita tahu, benda-benda yang terjadi secara kebetulan semuanya tidak terorganisir, hanya benar sebagian, tidak bisa benar seluruhnya. Mungkin sekali atau dua kali bisa tepat secara kebetulan, tetapi tidak mungkin setiap kali tepat secara kebetulan. Hanya tepat sebagian, tidak bisa tepat secara keseluruhan. Misalnya, saya melemparkan sebuah kursi ke sana, mungkin kursi itu secara kebetulan berdiri tegak. Saya lemparkan lagi satu kursi, mungkin secara kebetulan berdiri tegak di samping kursi yang pertama, saya lemparkan lagi kursi yang ketiga, keempat, . . . , tidak mungkin setiap kursi kebetulan berada di sisi kursi yang lebih dulu saya lempar. Sebab itu, secara kebetulan hanya benar sebagian, tidak bisa benar secara keseluruhan. Lagi pula, semua hal yang terjadi secara kebetulan, tidak mempunyai tujuan tertentu, tidak terorganisir, tidak teratur. Hal yang terjadi secara kebetulan, semuanya berantakan, berserakan, kacau-balau, tidak mengandung tujuan yang positif. Sebab itu kita bisa berkata, prinsip dari kejadian yang kebetulan ialah tidak terorganisir, tidak teratur, tidak ada hukumnya, tidak bertujuan, tidak bermakna. Kita akan memaparkan kelima hal itu di sini.

ADA HUKUMNYA DAN TERORGANISASI

Sekarang, mari kita meneliti benda-benda dalam alam semesta dan mencocokkan hal-hal itu dengan prinsip-prinsip tadi. Mari kita lihat manusia. Seorang manusia lahir setelah ibunya mengandung sekitar sembilan bulan, lambat laun bertumbuh besar, dan akhirnya mati. Anda lihat, seorang demikian, dua orang juga demikian, tiga, empat orang juga demikian, bahkan setiap orang pun demikian. Dalam hal ini pasti ada satu hukum, tidak sembarangan. Coba Anda lihat matahari! Asal Anda menengadahkan kepala, Anda pasti akan melihat bahwa ia di sana bukannya tidak bertujuan, ia bertujuan, bahkan sangat bermakna. Coba Anda lihat bulan, periksalah bintang-bintang dengan teleskop. Ada planet yang mempunyai beberapa satelit. Bintang-bintang di langit semua mempunyai hukum, juga terorganisir. Keadaan peredaran mereka bisa dihitung. Kalender adalah hasil dari satu perhitungan; kalender tahun depan sudah dapat disediakan sekarang. Gejala-gejala ini menunjukkan semuanya itu ada hukumnya, terorganisir dan mempunyai tujuan.

LIHATLAH BENDA-BENDA YANG KECIL

Mari kita melihat sebuah benda yang kecil, misalnya sekerat kayu. Kalau kita menaruh sekerat kayu di bawah mikroskop, lihatlah serat-seratnya, lihatlah susunannya, ada aturannya, ada hukumnya, sedikit pun tidak kacau. Lihatlah sehelai daun, setangkai bunga, sedikit pun tidak kacaubalau, tidak berantakan, melainkan terorganisir, teratur, bermakna. Sekian banyak orang, sekian banyak benda, baik yang terbesar, maupun yang terkecil, semuanya dapat memberikan kesaksian kepada Anda, bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam alam semesta: teratur, terorganisir, bertujuan, dan bermakna. Dapatkah Anda mengatakan ini kebetulan? Tidak!

ADAKAH ORANG YANG TINGGAL DI DALAMNYA

Pernah sekali saya bersama seorang sekerja pergi ke suatu desa memberitakan Injil. Dalam perjalanan pulang, kami sangat haus, tetapi sepanjang jalan tidak ada warung, juga tidak ada sungai, bahkan rumah pun tidak ada. Setelah berjalan kaki beberapa waktu, nampak ada sebuah gubuk, kami cepat-cepat lari ke sana, lalu mengetuk pintu. Mengetuk terus, tetapi tidak ada yang menjawab. Pikir kami, pasti tidak ada yang menghuni. Kami mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah itu, ternyata lantainya tersapu bersih, dalam kamar tidur ada sebuah tempat tidur, selimutnya terlipat rapi, yang lebih aneh di atas meja bukan saja ada teko, bahkan air teh dalam teko itu masih panas. Saya berkata, “Ini membuktikan rumah ini ada yang menghuni, karena keadaan rumah ini membuktikan di sini ada orang. Kita tidak bisa minum teh dari teko ini, kalau tidak, orang akan menganggap kita adalah pencuri!” Lalu kami menunggu di luar pintu, sampai tuan rumahnya datang.

Jadi, dengan melihat keadaan rumah, meskipun tidak nampak orangnya, sudah bisa diketahui di sini pasti ada orang yang menghuni. Meskipun kita tidak nampak Allah, tetapi melihat keadaan dalam alam semesta, bisa mengetahui ada Allah. Keadaan alam semesta begitu teratur, berhukum, bermakna, bertujuan; bisakah Anda mengatakan ini terjadi secara kebetulan? Saya tidak percaya ini terjadi secara kebetulan. Alkitab berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya, ‘Tidak ada Allah.’” Hanya orang yang bodoh, dalam hatinya berkata, “Tidak ada Allah”.

YANG DIRENCANAKAN ATAU SECARA KEBETULAN

Alam semesta ini pasti diciptakan oleh pribadi yang penuh hikmat, berilmu pengetahuan tinggi, berencana besar. Mengenai asal usul alam semesta, kalau Anda tidak setuju dengan paham terjadi secara kebetulan, pasti ia diciptakan oleh Allah Sang Pencipta, ini tidak ada penjelasan yang ketiga. Sekarang Anda sendiri harus menetapkan, alam semesta terjadi secara kebetulan atau diciptakan oleh Allah!

SATU TUNTUTAN DAN SATU SASARAN

Satu saksi mungkin masih kurang, sekarang saya undang seorang saksi lagi, kali ini kita akan melihat hati manusia. Sebelum kita melihat hati manusia, kita akan melihat satu keadaan/gejala. Anda tahu, setiap ada satu tuntutan dari manusia, pasti ada satu sasaran. Misalnya, seorang anak yatim yang belum pernah melihat ayahnya, dengan sendirinya dalam batinnya ada semacam tuntutan, yaitu ingin mendapatkan kasih ayah. Saya pernah bertanya kepada beberapa anak yatim, mereka merasakan kekurangan ini, yang tidak bisa diganti oleh benda yang lain. Sebab itu tuntutan yang timbul dalam hati kita, pasti ada sasarannya dalam dunia ini.

Misalnya lagi, sebagai manusia, kita mempunyai tuntutan bermasyarakat, tuntutan berteman, tuntutan hidup berkelompok. Bahkan orang yang dibesarkan di pulau yang terpencil dan gersang, tanpa orang-orang di sekitarnya, belum pernah berjumpa dengan orang lain, dalam lubuk hatinya selalu ada tuntutan ini, yaitu mengharapkan mendapatkan orang sebagai temannya. Tuntutan itu mengatakan, dalam bagian dunia yang lain masih ada “orang”. Lagi pula, sampai usia tertentu manusia bisa ingin mempunyai keturunan, bisa memikirkan anak-anak dan cucu-cucu. Manusia bukan saja berpikir demikian, di dunia juga ada sasaran anak-anak, keturunan. Sebab itu di dalam kita ada tuntutan, di luar kita ada sasaran bagi tuntutan itu.

DALAM HATI ADA TUNTUTAN MAU ALLAH

Selain tuntutan terhadap masyarakat dan keturunan, kita masih ada tuntutan apa lagi? Kita nampak, semua orang dalam dunia ada tuntutan mempunyai “Allah”. Lihatlah, orang yang berbudaya tinggi ada tuntutan ini, orang berbudaya kuno juga ada tuntutan ini, bahkan orang-orang yang primitif, yang belum terbuka, juga ada satu tuntutan — Allah. Setiap orang yang berada di bumi, tak peduli bangsa apa, suku apa, hatinya selalu ada tuntutan mengenai Allah. Ini adalah fakta yang tidak bisa Anda bantah. Setiap orang ingin mencari Allah; di mana pun orang tinggal, manusia ingin mencari Allah, ini adalah fakta yang jelas dan tegas.

Jika kita menggunakan prinsip di atas dalam hal ini, kita dapat berkata, dalam kita ada tuntutan mau Allah, maka di luar, dalam alam semesta ini, pasti ada Allah. Dalam hati ada tuntutan mengenai Allah, dalam alam semesta pasti ada Allah. Kalau tidak ada Allah, dalam hati Anda tidak mungkin timbul tuntutan ini. Kita semua ada kecenderungan terhadap Allah. Kalau ada nafsu makan, tetapi tidak ada makanan, tentu tidak bisa hidup. Demikian juga ada kecenderungan terhadap Allah, tetapi tidak ada Allah, juga tidak bisa hidup.

APAKAH ANDA TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN ALLAH?

Pada satu kali, ada seorang ateis dengan sikap yang sangat kasar dan dengan suara yang lantang berkata kepada saya, “Anda berkata, dalam hati manusia ada satu kebutuhan terhadap Allah, saya tidak percaya hal itu! Tidak ada hal yang demikian!” Saya menjawab, “Baiklah. Saya ingin bertanya, apakah dalam setahun ini, Anda tidak pernah satu kalipun berpikir tentang Allah? Sebenarnya, ketika Anda berkata, tidak ada Allah, Anda sebelumnya telah berpikir mengenai Allah. Ini membuktikan Anda mempunyai kecenderungan terhadap Allah. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah berpikir tentang Allah; mungkin ia tidak membiarkan dirinya berpikir lebih lanjut saja. Kalau di dalam Anda ada pikiran ini, di luar Anda pasti ada sasaran ini.

YANG DIUCAPKAN MULUT LAIN DENGAN YANG DIPIKIRKAN HATI

Pernah sekali, ada seorang remaja datang kepada saya untuk berdebat mengenai ada tidaknya Allah. Ia menentang adanya Allah, menentang dengan hebat. Ia mengucapkan alasan pertama, kedua, ketiga . . . , mengucapkan banyak alasan tidak ada Allah. Saya tidak mendebat, diam seribu bahasa, dengan tenang mendengarkan dia berbicara. Akhirnya, saya berkata kepadanya, “Meskipun Anda terus berkata tidak ada Allah, dan mengemukakan sekian banyak alasan, tetapi saya beri tahu Anda bahwa Anda tetap kalah.” Ia berkata, “Bagaimana bisa demikian?” Saya berkata, “Meskipun mulut Anda mengatakan tidak ada Allah, tetapi hati Anda tetap berdiri di pihak saya.” Akhirnya ia mengakui, meskipun mulutnya terus mengutarakan alasan-alasan, tetapi hatinya tetap percaya ada Allah. Orang yang sombong, mungkin mulutnya bisa mengatakan seribu alasan, seribu satu alasan tidak ada Allah, tetapi Anda boleh berkata kepadanya, “Dalam batin, Anda sendiri benar-benar tahu ada satu Allah.” Untuk apa mencari bukti di luar? Tidak perlu!

SEWAKTU BAHAYA MENCARI ALLAH

Ada seorang penginjil memberitakan Injil di Amerika Selatan. Pada suatu hari ia melihat seseorang sedang pidato di lapangan terbuka di suatu hutan, dan ada beberapa orang mendengarkannya. Lalu ia mendekati orang-orang itu, nampak orang yang berpidato itu dengan berkobar-kobar mengatakan tidak ada Allah. Ia mengajukan satu alasan, dua alasan, tiga alasan, sekaligus mengajukan belasan alasan, dengan tegas mengatakan tidak ada Allah. Selesai berpidato, masih berkata, “Di antara kalian siapa yang akan mendebat boleh naik.”

Setelah menunggu beberapa waktu, tidak ada orang yang naik mendebat. Penginjil itu berpikir, aku seorang penginjil, mau tak mau harus naik menjawab. Lalu ia berdiri berkata kepada pendengar, “Teman-teman, saya tidak mengutarakan sebegitu banyak alasan, saya hanya bisa mengatakan fakta, hanya bisa cerita. Kemarin, ketika saya berjalan di pinggir sungai besar, seperti yang kalian ketahui, aliran sungai itu sangat deras, dan tak jauh dari sana ada satu air terjun yang besar. Siapa saja yang terhanyut jatuh dari atas air terjun itu pasti mati. Ketika saya berjalan menelusuri sungai itu, terdengar seseorang berteriak minta tolong. Saya dengan jelas mendengar ia berteriak, “Ya, Allah, tolonglah saya! Ya, Allah, tolonglah saya!” Saya segera lari ke tempat suara itu, menemukan seseorang jatuh ke dalam sungai terbawa oleh arus yang deras, sudah tidak jauh dari air terjun. Tanpa berpikir panjang lagi, saya langsung melompat ke dalam sungai menolongnya. Airnya deras, untung tenaga saya cukup kuat, satu tangan memegang dia, satu tangan mengayuh, menggunakan sekuat tenaga saya, menarik dia ke tepi sungai, dan menolong dia naik ke darat. Setelah melakukan hal ini, hati saya sangat gembira. Siapakah orang yang pernah berseru dengan sekuat tenaga, “Ya, Allah, tolonglah saya! Ya, Allah, tolonglah saya!” Boleh saya kenalkan kepada kalian, yaitu tuan yang berpidato ini. Kemarin, berseru sekuatkuatnya, “Ya, Allah, tolonglah saya!”. Tetapi sekarang bisa dengan belasan alasan mengatakan tidak ada Allah. Inilah orang ateis.

Sebab itu, semua persoalan adalah persoalan yang di dalam. Kemarin, pada saat jiwanya terancam, berseru kepada Allah, memohon kepada Allah; hari ini jiwanya tidak terancam, bisa mengeluarkan alasan, tidak mau Allah. Di dalam kita mengetahui ada Allah, itu tidak jadi soal, karena di dalam kita ada “kecenderungan terhadap Allah”. Dalam Anda ada “kecenderungan terhadap Allah”, maka Anda tahu ada Allah.

APAKAH DOA MENDAPAT JAWABAN

Kita tentu tidak hanya melihat hal-hal yang obyektif. Kini kita akan melihat pengalaman kita yang subyektif, yaitu Allah benar-benar mengabulkan doa manusia. Pada suatu kali, saya berkata kepada orang yang dengan tegas mengatakan tidak ada Allah, “Anda jangan terlalu berani, jangan terlalu sembrono.” Saya berkata, sejarah yang diketahui manusia kira-kira 5.000 - 6.000 tahun. Dalam 5.000 - 6.000 tahun ini, entah ada berapa banyak orang yang pernah hidup di dunia. Di antara sekian banyak orang ini, yang berdoa memohon kepada Allah entah berapa banyaknya. Bukan saja dalam agama Kristen, di luar agama Kristen, entah berapa banyak juga orang yang pernah berdoa kepada Allah. Saya ingin bertanya, bisakah Anda membuktikan, sekian lamanya, di antara sekian banyak orang, sekian banyak doa yang dipanjatkan kepada Allah, tidak ada satu doa pun yang dikabulkan oleh Allah? Mereka menengadah ke atas, beranikah Anda mengatakan satu permohonan pun tidak terjawab? Bukan saja terjawab, bahkan tak dapat terhitung banyaknya jawaban dari Allah. Hanya ada satu jawaban saja sudah cukup membuktikan ada Allah. Teman, apakah satu jawaban saja tidak ada? Apakah semua jawaban bukan dari Allah? Apakah semua jawaban itu palsu? Saya sendiri mengalami sedikitnya 200 - 300 kali berdoa mendapat jawaban. Apakah semua jawaban ini kebetulan? Banyak orang mempunyai pengalaman doa mendapat jawaban, bisakah Anda mengatakan semuanya ini kebetulan?

Pernah sekali, seorang penginjil menumpang kapal menyeberang Lautan Atlantik. Tiba-tiba laut berkabut tebal, sehingga kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa membuang sauh, berhenti menunggu. Penginjil ini menemui kapten kapal dan berkata kepadanya, “Anda harus memberangkatkan kapal ini, karena saya telah berjanji pada hari Selasa akan berkhotbah di London.” Kapten kapal menjawab, “Lihatlah, kabut ini sangat tebal, kapal tidak dapat berlayar. Kalau Anda dapat berdoa sehingga kabut ini sirna, saya akan memberangkatkan kapal ini.” Penginjil ini berkata, “Baiklah, sekarang saya berdoa, Anda pun membongkar sauh, karena waktunya sudah sangat sempit.” Dia mulai berdoa, kapten kapal mulai membongkar sauh, sambil berdoa, sambil membongkar sauh, selesai membongkar sauh, kabut pun sirna, dan kapal pun sampai di tujuan tepat pada waktunya. Apakah ini kebetulan?

ALLAH SEJATI YANG MENDENGARKAN DOA

Pada suatu kali, saya dengan beberapa saudara pergi ke suatu desa memberitakan Injil, banyak penduduk di desa itu berkata, dewa mereka paling manjur, dewa mereka adalah ‘raja agung’. Setiap tahun raja agung diarak keliling desa satu kali. Ketika raja agung diarak, cuaca pasti cerah. Setiap tahun demikian, tidak pernah hujan. Kami menerima petunjuk dari Allah, lalu berkata, “Besok ketika raja agung diarak, pasti turun hujan.” Benar, keesokan harinya, pukul 10.00, raja agung akan diarak, mulai dari pukul 09.00 sudah turun hujan lebat, air hujan seperti dituang dari langit, sehingga raja agung tidak bisa keluar. Mereka tidak mau menyerah. Mereka berkata, hitungan tanggal arakan raja agung salah, seharusnya tanggal 14, bukan tanggal 11. Kami berkata, “Tanggal 14 juga akan turun hujan lebat.” Benarbenar pada tanggal 14 turun hujan lebat lagi. Mereka memaksa diri memikul raja agung keluar untuk diarak, orang yang memikul berkali-kali jatuh, sehingga raja agung tercerai menjadi beberapa potongan. Apakah peristiwa itu kebetulan?

Hal-hal seperti itu banyak, saya hanya menceritakan sedikit pengalaman orang Kristen. Kalau akan memaparkan semua peristiwa doa mendapat jawaban, Anda pasti tidak bisa menghitungnya. Jawaban-jawaban ini membuktikan adanya Allah.

BARANG KIRIMAN DARI AMERIKA

Ketika saya masih kecil, pikiran saya sangat liar, bukan saja saya tidak percaya ada Allah, juga tidak percaya ada Amerika; meskipun saya pernah melihat peta Amerika, saya masih tidak percaya ada Amerika. Sampai suatu hari, ayah saya mengirim uang ke Amerika untuk membeli suatu barang, lalu saya pun minta sepasang sepatu kulit dan sebuah kapal layar mainan. Ketika ayah mengambil suatu bungkus paket di kantor pos dan menyerahkan sepatu dan kapal mainan kepada saya, barulah saya percaya ada Amerika; karena barang itu dikirim dari Amerika. Di kemudian hari, ketika saya ke Amerika, saya sengaja pergi ke toko serba ada yang di Chicago itu, menunjuk toko itu dan berkata kepada diri saya sendiri, inilah yang membuat saya percaya ada Amerika.

Biar Anda mengatakan ada Allah atau tidak ada Allah, saya tidak bisa memberi Anda bukti yang langsung, juga tidak memberi jawaban langsung, saya membentangkan fakta doa mendapat jawaban ini di hadapan Anda. Anda tentu tidak akan berkepala batu lagi, dan tetap berkata, “Tidak ada Allah, tidak ada peristiwa doa dikabulkan.”

BERHUBUNGAN DENGAN ALLAH MELALUI DOA

Pada suatu kali, saya berjumpa dengan seorang mahasiswa Universitas Yenching. Ia berkata kepada saya, “Ketika aku berada di bangku sekolah menengah, guru-guru mengajar ada Allah, sebab itu aku percaya ada Allah. Kemudian, ketika aku masuk universitas, aku mendengar orang-orang berkata tidak ada Allah, dunia ada dengan sendirinya, alam semesta terjadi secara kebetulan. Yang ini berkata demikian, yang itu berkata begitu, sebenarnya Allah ada atau tidak? Aku jadi bingung. Dalam beberapa bulan ini, soal ini terus menggangguku. Sebenarnya Allah ada atau tidak? Aku memilih salah satu dari kedua kemungkinan ini. Pertama-tama aku mempertimbangkan kemungkinan terjadi karena kebetulan, beberapa benda ditaruh, dicampur aduk, lalu kebetulan menjadi manusia, menjadi lagi dunia, selanjutnya menjadi alam semesta. Aku pikir, itu tidak masuk akal. Lalu, jawaban yang tepat bagaimana? Akhirnya aku kehabisan akal, terpaksa berlutut berdoa kepada Allah. Aku berkata, ’Ya, Allah, apakah Engkau ada, aku tidak tahu, semakin memikirkan, aku semakin bingung, kiranya Engkau memberitahuku.’ Setelah berdoa demikian, dua minggu lagi, aku tidak percaya kebetulan, aku percaya alam semesta diciptakan oleh Allah. Aku tidak bisa mengatakan apa sebabnya, aku percaya Allah telah mendengarkan doaku, telah membawaku keluar dari kebingungan ini. Sekarang aku percaya ada Allah.” Ini juga salah satu bukti Allah mendengarkan doa. Saya sangat kenal Allah, karena sudah berkalikali berhubungan dengan Allah, berurusan dengan Allah. Saya tahu, asal Anda bersentuhan dengan Allah, pasti akan tahu juga.

PENGHAKIMAN YANG SERIUS

Sebab itu teman-teman, bagaimana tanggapan Anda? Lihatlah alam semesta, jamahlah perasaan batin Anda, dengarkanlah pengalaman orang banyak. Anda sendirilah yang memutuskan apakah Allah ada. Akan tetapi, jangan kita bersikap tidak bertanggungjawab, jangan bersikap acuh tak acuh, karena kita harus siap berjumpa dengan Allah. Pada suatu hari, kita akan berdiri di hadapan Allah. Semua perkara yang berkenaan dengan kita akan dibentangkan di hadapan Allah. Pada hari itu, siapa saja pasti mengenal Allah. Hari ini adalah saatnya kita mempersiapkan diri, kita harus mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah.