← Daftar isi Markus (2) · bab 25/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (19)

Pembacaan Alkitab:

Why. 1:4-5a, 11-13, 20; 2:7, 11, 17, 26-28;

3:5-6, 12-13, 21-22; 4:5; 5:6; 14:13-16; 21:1-3a, 9-12, 14,

18-19a, 21; 22:1-2, 14, 17

RINGKASAN EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Dalam berita sebelumnya kita membahas bagan yang menyajikan ringkasan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Me-nurut bagan ini, keseluruhan Perjanjian Baru dapat dibagi menjadi tiga bagian: keempat Injil sebagai awal, Kitab Kisah Para Rasul sampai Kitab Yudas sebagai perkembang-an, dan Kitab Wahyu sebagai perampungan. Dalam bagian pertama kita nampak Putra bersama Bapa dan oleh Roh sebagai perwujudan Allah Tritunggal dalam Yesus Kristus sebagai kemah Allah dan Bait Allah, memperhidupkan ha-yat Allah untuk berkembang menjadi Kerajaan Allah. Dalam bagian kedua kita nampak Roh sebagai Putra bersama Bapa menjadi perampungan sempurna Allah Tritunggal dalam gereja sebagai Tubuh Kristus, Bait Allah, Kerajaan Allah, dan rumah Allah, memperhidupkan Kristus sampai menjadi kepenuhan Allah. Dalam bagian ketiga kita nampak ketu-juh Roh keluar dari Sang kekal dan dari Sang Penebus untuk menjadi intensifikasi Allah Tritunggal dalam gereja yang menang, rampung sempurna dalam kaki pelita emas dan Yerusalem Baru. Dalam berita ini, berita terakhir Pel-ajaran-Hayat Markus ini, baiklah kita membahas intensifi-kasi Allah Tritunggal yang rampung sempurna dalam kaki pelita emas dan Yerusalem baru.

Menurut catatan Injil Markus, para murid mengikuti Tuhan Yesus dalam proses dibawa ke dalam Dia. Mereka di-bawa oleh Tuhan, Sang almuhit, ke mana pun Dia pergi. Karena itu, Dia membawa murid-murid ke dalam diri-Nya sendiri. Dia membawa mereka ke dalam kematian-Nya yang almuhit, kematian yang mengakhiri segala hal yang usang, dan juga ke dalam kebangkitan-Nya yang almuhit, di mana mereka ditunaskan untuk menjadi reproduksi dan penerus-Nya. Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita dapat nampak bahwa para murid berbagian dalam Kristus dan menikmati Dia melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang almuhit. Selain itu, melalui murid-murid gereja mulai muncul. Ke-dua puluh satu Surat Kiriman dari Kitab Roma sampai Kitab Yudas diperlukan untuk menjelaskan apa yang disaji-kan dalam ringkasan dalam Kitab Kisah Para Rasul.

KAKI PELITA EMAS

Setelah definisi yang rinci dalam Surat-surat Kiriman, kita memiliki perampungan sempurna ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam Kitab Wahyu. Dalam perampungan sem-purna ini ketujuh Roh, Roh tujuh ganda Allah memainkan peranan yang penting. Melalui, oleh, dan dengan Roh yang diperkuat gereja menjadi kaki pelita emas yang murni. Ini adalah perkara besar.

Lambang Allah Tritunggal

Kaki pelita emas adalah lambang Allah Tritunggal. Emas dari kaki pelita itu melambangkan sifat ilahi, sifat Allah Bapa. Model atau bentuk kaki pelita melambangkan Putra Allah sebagai perwujudan Bapa. Ketujuh lampu pada kaki pelita melambangkan Roh Allah sebagai ekspresi. Ka-rena itu, dalam kaki pelita kita melihat Allah Bapa sebagai sifat, Allah Putra sebagai bentuk, dan Allah Roh sebagai ekspresi.

Melambangkan Gereja

Kaki pelita bukan hanya melambangkan Allah Tri-tunggal, tetapi juga melambangkan gereja. Tetapi bagaima-na gereja yang penuh dengan orang-orang dosa yang dise-lamatkan bisa menjadi kaki pelita dari emas murni? Ya, kita semua beroleh selamat, tetapi kita masih terlalu ala-miah, terlalu banyak dalam daging, diri sendiri, dan cipta-an lama. Bagaimana orang-orang seperti kita dapat menjadi kaki pelita emas?

Perkataan Dorongan

Beberapa orang beriman memberi tahu saya bahwa mereka patah semangat dan bahkan kecewa dengan kondisi gereja. Beberapa mengatakan, “Beberapa tahun yang lalu situasi sangat penuh pengharapan, tetapi sekarang kondisi gereja mengecewakan.” Jika Anda merasa begitu, itu adalah suatu petunjuk bahwa Anda tidak nampak Roh tujuh gan-da. Perjanjian Baru tidak berakhir dalam kekecewaan. Se-baliknya, Perjanjian Baru terampung dengan penuh peng-harapan, dengan ketujuh Roh yang mengubah gereja yang tampaknya tidak berpengharapan menjadi kaki pelita emas yang murni.

Pada tahun 1961 saya menulis sejumlah kidung ten-tang gereja dan Yerusalem Baru. Saya terutama gembira menyanyikan kidung mengenai gereja yang menang. Suatu hari seorang saudara berkata kepada saya, “Apakah me-nurut Anda kita dapat memiliki Yerusalem Baru hari ini?” Saya menjawab, “Saudara, aku tidak berkata bahwa kita dapat memiliki Yerusalem Baru hari ini. Tetapi menurut Kitab Wahyu, gereja-gereja dalam zaman ini seharusnya adalah miniatur Yerusalem Baru.” Saya terus berkata ke-padanya bahwa saya benar-benar percaya gereja dapat men-jadi miniatur Yerusalem Baru. Saya harap kalian semua akan mempercayai hal yang sama. Perjanjian Baru berak-hir dengan perkataan dorongan. Puji Tuhan bagi Roh tujuh ganda dalam gereja yang menang, yang rampung dalam kaki pelita emas!

Pengintensifan Allah Tritunggal bagi Hidup Gereja

Dalam bagian pertama dari Perjanjian Baru, keempat Injil, kita memiliki perwujudan Allah Tritunggal, dan dalam bagian kedua kita memiliki perampungan sempurna Allah Tritunggal. Yang kita miliki dalam bagian ketiga, dalam Kitab Wahyu, adalah pengintensifan Allah Tritunggal. Ini berarti Roh itu sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal diintensifkan menjadi tujuh Roh.

Bukankah kita memiliki ketujuh Roh dalam Kitab Wahyu? Ya, Kitab Wahyu menekankan ketujuh Roh. Anda memilih untuk tinggal dengan Roh itu dalam Kitab Kisah Para Rasul, atau memilih ketujuh Roh itu dalam Kitab Wahyu? Di manakah Anda hari ini, dalam Kitab Kisah Para Rasul atau dalam Kitab Wahyu? Kita semua seharusnya dapat bersaksi bahwa kita berada dalam Kitab Wahyu. Ka-rena kita berada dalam Kitab Wahyu, maka semua gereja seharusnya menyadari bahwa sekarang bukanlah waktu kekecewaan. Sebaliknya, hari ini adalah hari pengintensif-an, suatu hari yang penuh dengan pengharapan dan dorongan.

Dalam Kitab Wahyu kita memiliki Allah Tritunggal yang diperkuat tujuh ganda bagi hidup gereja. Namun, jika kita memandang kondisi gereja-gereja, kita akan kecewa. Tetapi jika kita memalingkan pandangan kita kepada pe-nguatan tujuh ganda dari Allah Tritunggal, kita akan dipenuhi dengan pujian terhadap Tuhan.

Dalam Kitab Wahyu Roh tujuh ganda ditekankan ber-kali-kali. Dalam 1:4 kita temukan ketujuh Roh yang ada di depan takhta Allah. Kemudian dalam pasal 2 dan 3 Roh itu ditekankan berulang-ulang. Tujuh kali perkataan ini: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Wahyu 4:5 mengatakan, “Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah.” Wahyu 5:6 mengatakan, “Berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ke-tujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” Di sini kita nampak bahwa Roh itu diperkuat menjadi tujuh Roh yang adalah tujuh mata Anak Domba, Penebus. Dalam Wahyu 14:13 kita memiliki perkataan ini: “‘Sungguh,’ kata Roh.” Akhirnya, dalam 22:17 Roh dan pengantin perempuan itu disebutkan bersama: “Roh dan pengantin perempuan itu ber-kata, ‘Marilah!’” Di sini kita nampak bahwa pada akhir Kitab Wahyu, pengantin perempuan, yang adalah gereja, menjadi satu dengan Roh itu.

Dalam Kitab Wahyu judul “Roh Allah” dan “Roh Kudus” tidak digunakan. Tetapi, kita memiliki Roh dan ketujuh Roh. Kita perlu mengapresiasi ketujuh Roh. Roh tujuh ganda ini mampu mengubah gereja yang tidak berpengharapan menjadi kaki pelita emas murni.

Mengenai gereja, kita tidak seharusnya kecewa atau patah semangat. Biarlah kita terdorong karena kaki pelita emas dan Yerusalem Baru. Alkitab berakhir dengan dorong-an yang kuat. Lihatlah kaki pelita emas yang bersinar da-lam zaman yang gelap ini, bersinar dalam angkatan yang bengkok ini. Dalam kekekalan Yerusalem Baru akan men-jadi perampungan dari intensifikasi Allah Tritunggal. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa Allah kita tidak dapat dikalahkan oleh Iblis. Bahkan hari ini Allah tidak kalah, gereja-Nya tidak kalah, dan kita tidak kalah. Tetapi, jika Anda berpikir Anda kalah, Anda akan kalah. Jangan ber-pikir seperti ini, kita seharusnya berkata, “Haleluya, dalam Kristus aku tidak kalah! Melalui Roh tujuh ganda, aku ti-dak akan pernah dikalahkan!”

YERUSALEM BARU

Lambang dari Keseluruhan Umat Pilihan Allah

Perampungan sempurna dari intensifikasi Allah Tri-tunggal adalah Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah suatu lambang dari keseluruhan umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Karena itu, Yerusalem Baru adalah suatu susunan dari semua orang beriman Perjanjian Lama, yang diwakili oleh nama kedua belas suku Israel (Why. 21:12), dan semua orang beriman Perjanjian Baru, yang diwakili oleh nama kedua belas rasul (Why. 21:14). Karena itu, Yerusalem Baru adalah komposisi yang hidup dari umat yang Allah pilih, tebus, selamatkan, lahirkan kembali, dan ubah. Umat Allah akan diubah men-jadi emas, mutiara, dan batu permata. Semua benda ini mengacu kepada pembangunan tempat kediaman Allah.

Esens Batini Pembangunan Allah

Meskipun dalam Yerusalem Baru yang diwahyukan dalam Kitab Wahyu kita nampak benda-benda berharga seperti emas, mutiara, dan batu berharga, pada benda-benda itu kita tidak dapat nampak esens batini pembangunan ilahi secara khusus. Esens batini pembangunan Allah sesungguhnya adalah Allah Tritunggal sebagai hayat di dalam kita.

Air Hayat dan Pohon Hayat

Di pusat kota Yerusalem Baru ada takhta Allah, dan dari takhta itu mengalir sungai air hayat (Why. 22:1-2). Pohon hayat seperti pohon anggur tumbuh sepanjang kedua sisi sungai itu. Sebagaimana ditunjukkan oleh Kitab Wahyu, air hayat dalam sungai itu adalah untuk kita minum, dan pohon hayat yang tumbuh sepanjang sungai itu adalah untuk kita makan. Minum adalah memasukkan sesuatu ke dalam diri kita. Sama halnya, makan adalah memasukkan sesuatu ke dalam kita. Dengan makan dan minum, kita di-suplai dengan esens dari apa yang kita makan dan minum. Jadi sungai hayat dan pohon hayat menunjukkan esens batini dari sifat kota ini. Esens batini ini adalah Allah Tritunggal sendiri sebagai hayat dan suplai hayat kita.

Dari sungai yang mengalir dan pohon hayat, kita nampak Allah Tritunggal. Sungai itu mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba. Menurut Yohanes 7:38-39, sungai yang mengalir ini adalah Roh itu. Jadi, kita memiliki Allah, Anak Domba, dan Roh itu. Inilah Allah Tritunggal yang mengalir untuk menyuplai kita dengan diri-Nya sebagai hayat. Allah Tritunggal yang mengalir ini bukan hanya menjenuhi kita, juga menyuplai kita dengan esens ilahi.

Kita boleh menggunakan proses pembatuan kayu seba-gai suatu ilustrasi bagaimana aliran Allah Tritunggal mem-berikan esens ilahi kepada kita. Aliran air menyebabkan kayu membatu. Air yang mengalir menjenuhi kayu dengan unsur mineral tertentu. Ketika kayu dijenuhi dengan esens mineral-mineral ini, kayu itu diubah menjadi batu. Ini ada-lah gambaran dari aliran Roh yang membawa esens ilahi ke dalam diri kita. Esens ini menggenapkan pekerjaan pengu-bahan kita, manusia debu, menjadi batu-batu permata. Gam-baran ini membantu kita untuk melihat bahwa esens batini dari komposisi bangunan Allah, Yerusalem Baru, adalah Allah Tritunggal sendiri sebagai hayat dan suplai hayat bagi kita.

Dalam Wahyu 22 kita nampak bahwa kita perlu mi-num Allah Tritunggal. Dalam 1 Korintus 12:13 Paulus ber-kata bahwa kita semua dibaptis dalam satu Roh dan kita semua diberi minum dari satu Roh ini. Nasib kita adalah minum Allah Tritunggal. Sebagai umat pilihan Allah, kita telah ditentukan untuk minum Allah Tritunggal. Ini adalah nasib kita yang kekal dan kenikmatan kita yang kekal. Se-lama kekekalan minuman kita yang unik adalah Allah Tritunggal sebagai hayat ilahi. Haleluya bagi minuman yang almuhit ini!

Dalam Wahyu 22:1-2 kita nampak bahwa pohon hayat datang bersama dengan air hayat. Hayat Allah adalah minuman kita untuk menjenuhi kita dan juga makanan untuk memuaskan kita.

Jalan Hayat dan Terang Hayat

Dalam Yerusalem Baru sungai air hayat mengalir di tengah-tengah jalan itu. Ini menunjukkan bahwa dalam Yerusalem Baru kita akan berjalan sepanjang jalan hayat. Dalam kota ini hanya akan ada satu jalan, jalan di mana mengalir sungai hayat. Sungai adalah sungai hayat, pohon adalah pohon hayat, dan jalan adalah jalan hayat. Jalan ini akan memimpin, menuntun, mengatur, dan menjaga kita.

Dalam Yerusalem Baru Allah Tritunggal juga akan men-jadi terang kita. Wahyu 21:23 mengatakan, “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Dalam Yerusalem Baru, Anak Domba akan menjadi lampu di mana Allah akan menjadi terang kita.

Dalam Yerusalem Baru Allah Tritunggal akan menjadi hayat kita untuk menjenuhi, memuaskan, mengatur, me-mimpin, dan menuntun kita. Allah Tritunggal juga akan menjadi terang kita untuk menerangi kita. Di sini kita memiliki esens batini Yerusalem Baru.

Esens Batini Hidup Gereja

Esens batini Yerusalem Baru seharusnya juga adalah esens batini hidup gereja hari ini. Dalam hidup gereja se-harusnya ada takhta Allah yang darinya mengalir Allah Tritunggal sebagai minuman kita, dengan pohon hayat se-bagai makanan kita untuk memberi kita jalan hayat dan terang hayat. Ini adalah esens batini hidup gereja, esens yang mengubah kita menjadi kaki pelita emas yang murni hari ini dan yang akan mengubah kita menjadi batu-batu permata bagi pembangunan Yerusalem Baru dalam zaman yang akan datang. Dengan esens batini ini kita bisa me-nempuh suatu kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

?

PELAJARAN HAYAT

INJIL MARKUS

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11 12 13 14 15

16 17 18 19 20 21 22 23