← Daftar isi Markus (2) · bab 12/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (6)

Pembacaan Alkitab:

Mrk. 1:14-15; 4:3, 26, 29; 1 Ptr. 1:23; 1 Yoh. 3:9; 1 Kor. 3:9; Why. 14:14-16

Dalam berita ini kita akan membahas masalah yang sangat misterius. Suatu misteri adalah sesuatu yang sangat tidak mudah dimengerti. Misteri yang akan kita bahas da-lam berita ini adalah misteri Tuhan Yesus sebagai Penabur, benih, dan kerajaan. Penabur, benih, dan kerajaan adalah bagian-bagian dari satu persona yang ajaib dan almuhit, Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana akan kita lihat, dalam Injil Markus Penabur adalah satu persona, benih adalah satu persona, dan kerajaan juga adalah satu persona.

KEHIDUPAN DAN PEKERJAAN TUHAN

Dalam Lukas 17:20 Tuhan “ditanya oleh orang-orang Fa-risi, kapan Kerajaan Allah akan datang”. Dalam jawaban-Nya Dia berkata kepada mereka, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguh-nya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (ayat 21). Ketika di-jajarkan dengan Lukas 17:22-24, ayat-ayat ini membukti-kan bahwa Kerajaan Allah adalah Juruselamat itu sendiri, yang ada di antara orang Farisi ketika Dia ditanyai oleh mereka mengenai kerajaan. Karena Tuhan sendiri adalah ke-rajaan, di mana Dia berada, di sana ada Kerajaan Allah.

Setelah Tuhan Yesus dibaptis, Roh turun ke atas Dia. Kemudian Tuhan melanjutkan pergerakan-Nya untuk bekerja, untuk melayani. Kita telah nampak bahwa pada-Nya tidak ada perbedaan antara kehidupan dengan pekerjaan. Kehidupan-Nya adalah pekerjaan-Nya dan pekerjaan-Nya adalah kehidupan-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa Tuhan Yesus memperhidupkan pekerjaan-Nya; Dia memperhidup-kan sebuah ministri. Tuhan menempuh suatu kehidupan yang memberitakan, mengajar, mengusir setan, menyem-buhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta. Pada-Nya hanya ada satu hal — kehidupan-Nya, yang adalah pekerjaan-Nya, pergerakan-Nya, dan ministri-Nya. Apa pun yang Tuhan lakukan, apa pun yang Dia bicarakan, dan ke mana pun Dia pergi adalah bagian dari kehidupan-Nya.

Ketika Tuhan Yesus bergerak di bumi, memperhidupkan kehidupan Allah, Dia memberitakan Injil kepada orang-orang yang kasihan, Dia mengajarkan kebenaran kepada mereka yang berada dalam kegelapan, Dia mengusir setan dari orang yang kerasukan setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta. Hal ini digambarkan dalam Markus 1. Kemudian dalam Markus 2 dan 3 kita nampak Tuhan Yesus mengampuni dosa, membawa mereka bersama-Nya bersukacita dalam pesta; Tuhan dengan diri-Nya sendiri sebagai kebenaran yang menudungi mereka secara lahiriah dan sebagai hayat mereka yang mengenyangkan mereka secara batiniah. Kemudian Dia menjadi kepuasan dan kebebasan mereka.

ORANG YANG BERBICARA DALAM RUANG MAHA KUDUS

Dalam Markus 4, Tuhan Yesus pergi ke tepi danau. Markus 4:1 mengatakan, “Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.” Di sini perahu melambangkan gereja, dan darat melambangkan orang bukan Yahudi.

Bagi Tuhan Yesus, perahu dalam Markus 4 menjadi ruang maha kudus. Ketika beberapa orang mendengar hal ini, mereka mungkin berkata, “Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa perahu menjadi ruang maha kudus ba-gi Tuhan Yesus? Ruang maha kudus harus berada di bait.” Untuk menjawabnya saya akan mengatakan, suatu tempat disebut ruang maha kudus, tidak tergantung pada tempat itu sendiri; sebaliknya, hal itu tergantung pada Allah. Jika Allah ada di sana, tempat itu adalah ruang maha kudus. Hal ini berarti, karena Tuhan Yesus adalah Allah, perahu tempat Dia berbicara dalam Markus 4 adalah ruang maha kudus. Ketika Tuhan Yesus berbicara dari perahu, yang berbicara sebenarnya adalah Allah. Dalam Perjanjian Lama Allah berbicara di ruang maha kudus, dari tutup tabut. Pada waktu Markus 4, ruang maha kudus telah dilewati oleh Allah, dan ruang maha kudus yang baru adalah perahu tempat Tuhan Yesus berada.

Jika Anda tidak percaya akan hal ini, hal ini bisa jadi menunjukkan bahwa Anda masih belum diakhiri. Jika An-da telah diakhiri, Anda akan nampak bahwa dalam Markus 4 murid-murid menyertai Tuhan Yesus dalam perahu yang adalah ruang maha kudus. Ingat, Orang yang berbicara di dalam perahu ini sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah yang berbicara dalam ruang maha kudus sekarang se-dang berbicara di dalam perahu. Dalam ruang maha kudus ini seorang Manusia sedang berbicara, dan Manusia ini adalah Allah yang berbicara.

PENABURAN BENIH OLEH TUHAN

Kita telah nampak bahwa dalam pelayanan Injil-Nya, Tuhan Yesus memberitakan, mengajar, mengusir setan, me-nyembuhkan orang sakit, mentahirkan orang kusta, dan membawa orang yang telah Dia sentuh ke dalam pengam-punan dosa, dan ke dalam suatu kondisi makan dengan Dia, dengan sukacita, kepuasan, dan kebebasan. Siapa yang me-nyentuh Dia heran akan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Dalam pasal 4 kita memiliki definisi dari apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam pasal 1 sampai 3.

Dalam 4:1, setelah melayani dalam tiga pasal sebelum-nya, Tuhan Yesus masuk ke dalam perahu dan mengajar orang “banyak hal dalam perumpamaan” (ayat 2). Perumpa-maan pertama adalah perumpamaan penabur (4:1-20), yang dibuka dengan perkataan, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur” (ayat 3). Ini menunjukkan bahwa dalam tiga pasal pertama dari Injil Markus, apa pun yang Tuhan kerjakan adalah penaburan benih. Sebagai con-toh dalam 1:14-20 Tuhan Yesus memberitakan Injil, ber-kata, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (ayat 15). Karena Dia memberitakan Injil, kita mungkin menganggap Tuhan Yesus hanya sebagai pengajar. Tetapi perumpamaan pena-bur menunjukkan bahwa Tuhan adalah seorang Penabur. Ini berarti, dalam memberitakan Injil, Ia bukan hanya se-orang pemberita tetapi juga sebagai penabur. Ada suatu perbedaan yang besar antara penabur dengan pemberita. Tampaknya Tuhan Yesus adalah pemberita; sesungguhnya Dia adalah penabur.

Sama halnya dengan mengajarkan kebenaran, meng-usir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta. Kelihatannya Tuhan Yesus adalah seorang guru; sesungguhnya Dia adalah seorang penabur. Sama halnya, kelihatannya Dia adalah Orang yang mengusir setan, me-nyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta. Tetapi ketika mengerjakan hal-hal itu, sesungguhnya Dia adalah seorang penabur. Ketika Dia memberitakan Injil, mengajarkan kebenaran, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta, Dia adalah pe-nabur yang menaburkan benih.

KEHIDUPAN YANG MENABUR

Markus 4 mewahyukan bahwa kehidupan yang menu-rut ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah kehidupan yang menabur. Tuhan Yesus sebagai penabur menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam orang yang Ia sentuh. Kita dapat mengambil peristiwa penyembuhan ibu mertua Petrus seba-gai suatu ilustrasi. Ketika Tuhan Yesus datang kepada ibu mertua Petrus, Tuhan Yesus menyembuhkan dia. Menge-nai hal ini, Markus 1:31 mengatakan, “Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia mem-bangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian pe-rempuan itu melayani mereka.” Menurut Anda, di sini Tuhan Yesus tidak melakukan apa-apa selain menyembuhkan? Jelas, Dia melakukan jauh lebih banyak. Penyembuhan itu sesungguhnya adalah suatu penaburan. Ketika Tuhan me-nyembuhkan ibu mertua Petrus, sesuatu dari diri-Nya dita-burkan ke dalamnya. Tentu saja, pada saat itu dia mungkin tidak sadar ada sesuatu yang ditaburkan ke dalamnya. Wa-laupun demikian, adalah suatu fakta, suatu realitas bahwa ada sesuatu dari Juruselamat yang menabur telah tertanam ke dalamnya.

Tuhan juga sedang menabur benih ketika Dia menyen-tuh orang kusta dan mentahirkan dia (1:40-45). Orang kus-ta itu berkata kepada Tuhan, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (ayat 40). Tergerak oleh belas ka-sihan, Tuhan menyentuh dia dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga lenyaplah pe-nyakit kusta orang itu dan ia sembuh” (ayat 41-42). Ketika Tuhan Yesus menyentuh orang yang sakit kusta dan menta-hirkan dia, tidakkah Anda percaya bahwa sesuatu dari diri-Nya ditaburkan ke dalam orang yang ditahirkan itu? Ketika Tuhan mentahirkan orang kusta, Dia sedang menaburkan diri-Nya ke dalam orang kusta itu.

Orang kusta yang ditahirkan dan ibu mertua Petrus mungkin tidak menyadari fakta bahwa sesuatu telah ditaburkan ke dalam mereka oleh Tuhan. Bagaimanapun, suatu perubahan yang besar terjadi di dalam diri mereka. Setelah ibu mertua Petrus disembuhkan, dia melayani, dan setelah orang kusta itu ditahirkan, dia pergi ke arah yang berlawanan. Ini menunjukkan bahwa sesuatu dari Tuhan telah ditaburkan ke dalam mereka, meskipun mereka tidak sadar akan hal itu dan tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi. Dalam Markus 4 Tuhan mewahyukan bahwa apa yang digarapkan kepada mereka yang dengannya Dia telah berkontak adalah benih yang ditaburkan ke dalam mereka oleh diri-Nya sendiri sebagai penabur. Karena itu, penabur adalah persona yang ajaib dari Tuhan Yesus.

BENIH KERAJAAN

Dalam perumpamaan penabur tidak disebutkan Keraja-an Allah. Tetapi dalam perumpamaan benih (4:26-29), Tuhan Yesus dengan jelas membicarakan kerajaan. Dalam ayat 26 Ia berkata, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.” Hal ini mewahyukan bahwa Kerajaan Allah adalah suatu benih.

Pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan tokoh Kristen yang menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah suatu be-nih? Kebanyakan guru Alkitab, ketika mereka sampai pada masalah Kerajaan Allah, akan mengatakan bahwa kerajaan adalah suatu zaman bagi Allah untuk melaksanakan peme-rintahan-Nya, atau suatu ruang lingkup bagi Allah untuk melaksanakan kekuasaan-Nya, untuk menggenapkan tujuan-Nya. Sebagian orang mengatakan bahwa Kerajaan Allah mu-la-mula ada di antara orang-orang Israel. Namun, karena orang Yahudi menolak Tuhan Yesus, ada orang yang me-ngatakan bahwa kerajaan ditangguhkan dan akan ditang-guhkan sampai zaman yang akan datang, zaman kerajaan. Selain itu, guru-guru ini akan mengatakan bahwa zaman sekarang ini bukan zaman kerajaan, melainkan hanya za-man gereja. Mereka mengatakan bahwa zaman yang akan datang, zaman seribu tahun, akan menjadi zaman kerajaan, yang akan diikuti oleh kerajaan kekal dalam langit dan bumi yang baru. Meskipun saya tidak mengatakan bahwa pengajaran semacam itu tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci, saya akan mengalihkan perhatian Anda kepada fakta bahwa apa yang diajarkan mengenai kerajaan dalam 4:26-29 bukanlah demikian. Di sini perkataan Tuhan mewahyu-kan bahwa Kerajaan Allah adalah suatu benih.

INJIL DAN KERAJAAN

Injil Markus dibuka dengan perkataan ini: “Inilah per-mulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Apakah Injil? Mungkin Anda akan mengatakan Injil adalah kabar sukacita, berita baik. Ini memang benar. Tetapi apakah be-rita baik? Ketika saya masih muda, saya diberi tahu bahwa berita baik adalah apa yang dibicarakan oleh Yohanes dalam Yohanes 3:16: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tidak diragukan, ini memang kabar baik. Namun, dalam Injil Markus kita tidak dapat menemukan apa-apa tentang Allah mengasihi dunia. Sebaliknya, Markus 1:1 membicarakan permulaan Injil Yesus Kristus. Kemudian dalam 1:14 dikatakan bahwa Tuhan Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil Allah. Dalam pembe-ritaan-Nya Dia mengumumkan, “Bertobatlah dan percaya-lah kepada Injil!” Di sini tidak dikatakan bahwa Tuhan Yesus memberitakan tentang kasih Allah atau bahwa Dia mengatakan waktunya telah tiba untuk percaya kepada Dia agar kita dapat memiliki hayat kekal. Dalam 1:15, Tuhan Yesus mengatakan bahwa waktunya telah genap dan Kera-jaan Allah telah dekat. Karena itu, kita perlu bertobat dan percaya kepada Injil.

Jika kita membaca 1:14-15 dengan teliti, kita akan me-nyadari bahwa Injil sesungguhnya adalah Kerajaan Allah. Ayat 14 mengatakan bahwa Tuhan Yesus memberitakan Injil Allah, dan ayat 15 mengatakan, Tuhan mengumum-kan bahwa Kerajaan Allah telah dekat. Karena Kerajaan Allah telah dekat, manusia harus bertobat dan percaya ke-pada Injil. Di sini kita nampak bahwa Injil dan Kerajaan Allah bersinonim. Kerajaan adalah Injil, dan Injil adalah kerajaan.

Jika Kerajaan Allah hanya ruang lingkup bagi Allah untuk melaksanakan kekuasaan atau zaman bagi Dia untuk melaksanakan pemerintahan-Nya, sepertinya kerajaan yang sedemikian ini tidak dapat menjadi Injil bagi kita. Tetapi dalam Injil Markus diwahyukan bahwa Kerajaan Allah adalah Injil. Ketika Tuhan Yesus memberitakan Injil Allah, Dia memberitakan Kerajaan Allah.

DEFINISI KERAJAAN

Apakah Kerajaan Allah? Tegasnya, Kerajaan Allah adalah satu persona, dan persona ini adalah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia yang bernama Yesus Kristus. Pertama, persona ajaib ini datang sebagai penabur. Kedua, Dia adalah benih yang ditaburkan oleh diri-Nya sen-diri sebagai penabur. Ketika penabur menaburkan benih ke dalam kita, inilah kerajaan. Kita mungkin mengatakan bahwa menurut 1 Korintus 3:9, kerajaan adalah ladang Allah. Karena itu, kerajaan adalah penabur yang menaburkan benih ke dalam umat manusia. Hari ini kerajaan ini adalah ladang Allah, dan ladang ini adalah hidup gereja yang tepat.

Apa yang tumbuh pada ladang Allah? Ladang Allah menumbuhkan Kristus. Ini adalah konsepsi bukan hanya tentang Injil Markus, tetapi juga kitab-kitab yang lain da-lam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, dalam Surat Ki-rimannya yang pertama Petrus berkata, “Karena kamu te-lah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hi-dup dan yang kekal” (1 Ptr. 1:23). Di sini kita nampak bahwa kita telah dilahirkan kembali dari Allah, karena kita memiliki benih Allah di dalam kita.

Dalam kitab terakhir dari Perjanjian Baru, Kitab Wahyu, kita memiliki tuaian dari benih yang ditaburkan dalam Injil. Dalam Injil, Tuhan Yesus adalah penabur. Tetapi dalam Wahyu 14, Dia akan datang sebagai penuai. Apa yang ditaburkan oleh Tuhan dalam Injil bertumbuh da-lam Surat-surat Kiriman. Akhirnya, akan matang dalam Wahyu 14, dan akan ada tuaian. Perhatikanlah Wahyu 14:14-15: “Lalu aku melihat: Sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya. Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu, ‘Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.’” Tuaian ini akan menjadi kumpulan dari kaum beriman yang matang. Akhir-nya, kaum beriman ini akan menjadi raja-raja bersama Tuhan Yesus.

Kita sudah menekankan fakta bahwa dalam Injil Markus kita nampak suatu hayat yang hidup menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Apa pun yang Tuhan Yesus lakukan dalam pemberitaan, pengajaran, pengusiran setan, penyem-buhan orang sakit, dan pentahiran orang kusta adalah me-nurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sekarang, dalam Markus 4 kita nampak bahwa kehidupan ini adalah ke-hidupan yang menabur. Kehidupan yang sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah kehidupan yang menabur.