← Daftar isi Markus (2) · bab 10/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (4)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 1:1, 4, 9-10

Dalam berita ini kita akan melanjutkan melihat dari Injil Markus kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Bukanlah suatu hal yang mudah mempelajari Injil Markus. Karena kita bisa disimpangkan dalam memahami kitab ini, untuk mempelajari kitab ini memang agak sulit. Pada waktu yang lampau banyak dari antara kita yang sa-lah dalam memahami Injil ini. Beberapa orang menganggap Injil ini hanyalah buku biografi Tuhan Yesus. Yang lain menganggap Injil ini hanyalah buku cerita mengenai Yesus. Memang, tidak salah mengatakan bahwa Injil Markus ada-lah suatu buku biografi atau buku cerita. Buku ini adalah biografi Tuhan dan berisi banyak cerita mengenai kehidup-an-Nya. Tetapi jika kita memasuki kedalaman Injil Markus, kita akan nampak bahwa Injil ini lebih dari sekadar buku biografi atau buku cerita. Injil Markus menyajikan kehidupan yang sepenuhnya menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah.

PERMULAAN INJIL YESUS KRISTUS

Dalam berita ini kita perlu mencurahkan perhatian khusus pada Markus 1:1, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Ayat ini bukanlah judul dari su-atu biografi atau suatu buku cerita. Di sini ada tiga istilah utama: permulaan, Injil, dan Yesus Kristus.

Kata “Injil” digunakan dalam Markus 1:1 secara baru, cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dari Adam sampai Yesus Kristus tidak satu pun dalam kebudayaan atau peradaban manusia yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh kata “Injil” dalam Perjanjian Baru.

Baik Yohanes 1:1 maupun Markus 1:1 menggunakan kata “mula”. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di sini “mulanya” menunjukkan kekekal-an lampau. Penggunaan perkataan ini dalam Injil Yohanes sangat misterius. Injil Markus, sebaliknya, membicarakan permulaan Injil. Injil Markus begitu unik di antara keempat Injil karena dibuka dengan ungkapan yang jelas “permulaan Injil”.

Kita perlu terkesan dalam-dalam dengan pembukaan Injil Markus. Frase “permulaan Injil” menunjukkan bahwa kitab ini bukan hanya biografi dari satu orang Nazaret yang bernama Yesus Kristus, juga bukan hanya sebuah buku cerita. Kitab ini berbicara mengenai permulaan Injil. Sedikitnya sampai tingkat tertentu atau dalam arti tertentu, kita dapat menganggap keseluruhan Injil Markus sebagai permulaan Injil.

Kelanjutan Injil

Jika Injil Markus adalah permulaan Injil, di manakah kelanjutan Injil? Kelanjutan Injil terlihat pada hari raya Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan ke atas murid-murid yang telah dipilih dan dipersiapkan. Petrus, Yakobus, Yohanes, dan para murid yang lain telah dipilih oleh Allah dan secara pribadi dipanggil oleh Yesus Kristus. Setelah me-reka terpanggil, mereka dipersiapkan oleh Tuhan. Selama sepuluh hari sebelum Pentakosta, keseratus dua puluh orang murid itu berdoa. Tahukah Anda di mana mereka berada pa-da hari-hari itu? Mereka berada di surga, dalam kenaikan Tuhan. Mereka telah dibawa ke dalam kematian, kebang-kitan, dan kenaikan Kristus. Pada hari Pentakosta mereka menerima pencurahan Roh Kudus. Karena itu, pada hari itu ada kelanjutan Injil. Karena itu, Injil Markus adalah permu-laan Injil, dan Kitab Kisah Para Rasul adalah kelanjutan Injil. Kelanjutan ini belum selesai. Ini berarti hari ini kita masih berada dalam kelanjutan Injil.

Pengakhiran Hal-hal yang Usang

Kata “permulaan” dalam Markus 1:1 menyiratkan pengakhiran banyak hal. Perhatikan apa yang muncul pada Markus 1:1: kebudayaan, bangsa-bangsa lain (bukan Yahudi), umat pilihan Allah, janji, hukum Taurat, Perjanjian Lama, bait, sistem pelayanan imam, jalan yang tepat untuk menyembah Allah menurut aturan-Nya. Melalui hal ini kita nampak bahwa ada banyak hal yang baik, yang positif, bahkan banyak hal yang diatur oleh Allah. Perjanjian Lama dibe-rikan oleh Allah. Semua hukum, ketetapan, ritual, praktek, peraturan dan pelayanan dalam Perjanjian Lama telah di-atur oleh Allah. Bait, keimaman, dan sistem penyembahan tentunya dikuduskan oleh Allah. Sekarang, dalam 1:1, diantara semua hal yang baik, yang positif ini, kita membaca permulaan yang lain — permulaan Injil Yesus Kristus.

Permulaan Injil Yesus Kristus menyiratkan pengakhiran banyak hal yang sudah ada selama ribuan tahun. Faktanya, permulaan ini menyiratkan pengakhiran segala sesuatu yang bukan diri Allah. Hal-hal tertentu telah berlangsung selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Sekarang tiba-tiba ada permulaan baru, permulaan yang mengakhiri segala hal yang bukan diri Allah.

Ada perbedaan pendapat di antara orang yang menje-laskan Alkitab mengenai waktu permulaan Injil. Beberapa orang mengatakan bahwa waktu permulaan Injil adalah ketika Yohanes Pembaptis keluar untuk melayani. Yang la-in mengatakan bahwa waktu permulaan Injil adalah ketika Yesus mulai memberitakan. Yang lain lagi mengklaim bah-wa waktunya adalah pada hari Pentakosta.

Para pembaca Perjanjian Baru sulit memahami bahwa permulaan Injil Yesus Kristus mencakup pengakhiran hal-hal yang usang secara mutlak. Ketika kita mempertim-bangkan hal ini, kita perlu mengingat bahwa Injil Markus mewahyukan Yesus Kristus sebagai pengganti yang menye-luruh, universal, dan almuhit.

Bayangkan apa yang terjadi di Gunung Pengubahan (9:2-13). Tuhan Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes dan membawa mereka naik ke atas gunung yang tinggi. Kemudian Dia “berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada se-orang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu” (9:2-3). Kemudian Elia dan Musa menampakkan diri kepada mereka (ayat 4). Karena sangat bersukacita, bah-kan sampai lupa diri, Petrus berkata kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (ayat 5). Di satu pihak, perkataan Petrus agak beralasan, karena Tuhan Yesus dan dua tokoh besar dari Perjanjian Lama hadir di atas gunung. Sesung-guhnya, apa yang Petrus katakan adalah “ngawur”. Akhir-nya, “. . . datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, ‘Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia’” (ayat 7). Ketika para murid melihat se-kitar, “mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri” (ayat 8).

Kita dapat mengatakan bahwa baik Musa, yang mewa-kili hukum Taurat Perjanjian Lama, maupun Elia, yang mewakili nabi-nabi Perjanjian Lama telah digantikan oleh Kristus. Menurut adat istiadat Yahudi, Perjanjian Lama di-anggap memiliki dua bagian besar: hukum Taurat dan nabi-nabi. Karena itu, kalau Musa dan Elia, wakil-wakil Perjanjian Lama telah digantikan, berarti semua hal dalam Perjanjian Lama telah digantikan oleh Kristus.

Di sisi negatif, permulaan Injil berarti pengakhiran, dan pengakhiran ini mencakup kita. Pengakhiran yang almuhit ini mencakup kebudayaan, bangsa-bangsa, Israel, hukum Taurat, nabi-nabi, praktek-praktek Perjanjian Lama dan cara-cara penyembahan, bait, mezbah, keimaman, dan kurban persembahan. Sekarang ketika kita membaca Markus 1:1, kita perlu memahami bahwa permulaan Injil berarti pengakhiran hal-hal yang usang.

ALLAH TRITUNGGAL MENGGARAPKAN

DIRI-NYA SENDIRI KE DALAM KITA

SEBAGAI HAYAT

Markus 1 menunjukkan bahwa kebudayaan, agama, etika, dan usaha manusia agar menjadi bermoral, kudus, alkitabiah, dan menang perlu diakhiri. Namun, dalam lebih dari 19 abad sejak Tuhan Yesus ada di bumi, situasi di an-tara orang-orang Kristen penuh dengan kebudayaan, agama, etika, dan usaha untuk menjadi kudus, alkitabiah, dan me-nang. Sesungguhnya, dalam pengalaman kaum beriman, se-dikit sekali kadar Kristusnya. Tetapi banyak buku telah ditulis mengenai kekudusan, kerohanian, dan kemenangan.

Kita tidak dapat menyangkal bahwa Surat Yakobus adalah surat yang bagus. Surat Kiriman ini menolong kita untuk bertekun dan bersabar. Yakobus membicarakan kete-kunan dari nabi-nabi dan ketabahan Ayub. Dalam Surat Kirimannya, dia mengajar kita bagaimana berdoa seperti yang Elia lakukan. Tulisan Yakobus berisi hikmat, sama seperti yang terdapat dalam Amsal Salomo. Semua hal itu sangat baik. Walaupun demikian, bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah semua hal itu perlu diakhiri dan digantikan oleh Kristus. Sebagaimana telah kita tekankan dalam berita ini, permulaan dalam Markus 1:1 menyiratkan pengakhiran yang sedemikian ini.

Jika Yakobus beserta kita pada hari ini, kita akan menanyai dia apakah dia menyadari bahwa hal-hal dari Perjanjian Lama seharusnya diakhiri. Sebagai penatua yang memimpin di Yerusalem, dia mengalamatkan Surat Kirimannya bukan untuk gereja atau kaum beriman Perjanjian Baru, tetapi kepada kedua belas suku. Kita juga heran mengapa dalam Surat Kiriman ini Yakobus tidak mengajar kita untuk berdoa dengan cara Perjanjian Baru.

Yakobus telah menjadi teladan kesalehan, pengabdian, kekudusan, etika, kerohanian, dan kemenangan. Banyak orang beriman sepanjang abad telah mengambil Yakobus sebagai teladan mereka dalam hal-hal ini.

Saya harap Anda merenungkan apakah Anda masih me-megang konsepsi bahwa sebagai orang Kristen Anda perlu berusaha berdasarkan diri sendiri untuk memperbaiki diri, lebih mengasihi Allah, dan berperilaku yang memuliakan Allah. Ketika saya menyebutkan hal-hal ini, mungkin ada yang berkata dalam hati, “Apa salahnya berusaha memper-baiki diri, mencoba lebih mengasihi Allah, dan hidup bagi kemuliaan-Nya? Apakah Anda menentang perbaikan karak-ter? Apakah Anda tidak peduli kaum beriman mengasihi Allah dan memuliakan Allah? Apakah Anda mengajar kami untuk tidak mempedulikan etika? Jenis pengajaran apa yang Anda promosikan?” Tentu, kita tidak menyangkal pen-tingnya karakter dan kelakuan yang baik; kita juga tidak berkata bahwa kita seharusnya beretika atau bermoral atau bahwa kita tidak seharusnya mengasihi Allah dan memulia-kan Dia. Terkait dengan kehidupan manusia dalam masya-rakat, kita semua harus memperhatikan moralitas, etika, perilaku, dan karakter. Tetapi butir yang penting adalah bahwa ekonomi Perjanjian Baru mencakup sesuatu yang lebih tinggi daripada ini. Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah masalah Allah Tritunggal menggarapkan diri-Nya sen-diri ke dalam kita sebagai hayat sehingga kita dapat mem-perhidupkan Dia dan karenanya menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus bagi ekspresi-Nya.

KEBAJIKAN-KEBAJIKAN KRISTIANI

SEBAGAI HASIL DARI HAYAT ILAHI

Mungkin saya dapat mengilustrasikan perbedaan anta-ra etika manusia dan hayat yang sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan memberi tahu Anda tentang pengajaran misionaris tertentu di China di masa lampau. Be-berapa misionaris dengan jelas mengatakan bahwa Alkitab dan Kong Hu Cu mengajarkan hal yang sama. Mereka me-nunjukkan bahwa baik Alkitab maupun Kong Hu Cu meng-ajarkan tentang menghormati orang tua dan kewajiban istri tunduk kepada suaminya. Misionaris ini juga mengatakan bahwa baik Alkitab maupun Kong Hu Cu mengajarkan ke-rendahan hati, kejujuran, ketulusan, kesetiaan, dan keba-jikan-kebajikan lain. Kali pertama saya mendengar hal ini adalah ketika saya berada di Sekolah Dasar. Kemudian, se-bagai seorang remaja, saya mulai berkata kepada diri saya sendiri, “Jika Alkitab dan Kong Hu Cu mengajarkan hal yang sama, untuk apa misionaris itu datang ke China? Jika ajaran Alkitab tidak berbeda dengan ajaran Kong Hu Cu, berarti misionaris itu tidak perlu mengajarkan Alkitab ke-pada kami.”

Oleh belas kasihan Tuhan, saya beroleh selamat pada umur 19 tahun. Saya masih terganggu oleh pertanyaan mengenai adakah perbedaan antara ajaran-ajaran Alkitab dengan ajaran Kong Hu Cu. Saya masih ingin tahu apa perbedaan antara kebajikan-kebajikan insani yang diajar-kan oleh Kong Hu Cu dengan kebajikan-kebajikan kristiani yang diajarkan dalam Alkitab. Selama bertahun-tahun saya tidak mengetahui perbedaannya. Setelah hampir 10 tahun mempelajari Alkitab, mata saya terbuka dan nampak Kristus yang almuhit. Saya mulai nampak Kristus sebagai inti dan ruang lingkup ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kemudian saya mulai membedakan kebajikan insani yang diajarkan oleh Kong Hu Cu dengan kebajikan-kebajikan kristiani yang diajarkan oleh Alkitab. Saya menyadari bahwa kebajikan insani yang diajarkan oleh Kong Hu Cu adalah produk dari usaha manusia. Kebajikan-kebajikan itu tidak memiliki unsur apa pun dari Allah secara esensial. Tetapi kebajikan-kebajikan kristiani yang murni yang diajarkan oleh Alkitab bukanlah hasil dari usaha manusia. Sebaliknya, kebajikan-kebajikan kristiani adalah hasil dari hayat ilahi yang diper-hidupkan melalui kaum beriman. Selain itu, kebajikan-kebajikan kristiani berhubungan secara esensial dengan sifat ilahi. Betapa besar perbedaan kebajikan insani sebagai hasil usaha manusia dengan kebajikan kristiani sebagai hasil dari hayat dan sifat ilahi yang ada di dalam kita!

Kita dapat mengilustrasikan perbedaan kebajikan insa-ni yang diajarkan oleh Kong Hu Cu dengan kebajikan kris-tiani yang diajarkan oleh Alkitab dengan membandingkan batu bata dengan emas. Ketika kita meneliti batu bata, mungkin tidak ada yang buruk. Tetapi jika kita memban-dingkan batu bata dengan emas, kita akan nampak bahwa ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Demikian pu-la, ada perbedaan besar antara kebajikan insani dengan ke-bajikan kristiani yang dihasilkan oleh hayat dan sifat ilahi.

Sungguh tragis, kebanyakan orang Kristen, termasuk guru-guru Kristen, tidak memiliki pandangan yang jelas akan perbedaan antara kebajikan insani dengan kebajikan kristiani yang murni. Kebajikan yang diajarkan oleh Kong Hu Cu dan filsuf yang lain tidak lebih dari hal yang insani. Kebajikan insani itu tidak berkaitan dengan esens ilahi, tidak berkaitan dengan hayat dan sifat Allah, lebih-lebih dengan diri Allah.

Kebajikan kristiani yang diajarkan oleh Alkitab sangat berbeda dari sekadar kebajikan insani. Bedanya adalah sifat kebajikan kristiani adalah sifat Allah. Mengenai hal ini, Petrus berkata dalam Surat Kirimannya yang kedua bahwa kita telah berbagian dalam sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Karena itu, kebajikan kristiani bukanlah hasil dari usaha luaran, tetapi hasil dari sifat batini, sifat ilahi yang kita terima da-ri kelahiran kembali. Kebajikan kristiani berkaitan secara esensial dengan hayat ilahi, sifat ilahi, dan Allah sendiri.

Dari segi insani, untuk kebaikan masyarakat, kita se-mua harus memperhatikan etika, moralitas, perilaku, dan karakter. Bagi kehidupan manusia yang tepat, dalam masya-rakat kita harus menekankan hal-hal itu. Namun, berkait-an dengan memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Dia, hanya kebajikan insani tidaklah bermanfaat. Sebalik-nya, hal-hal itu akan menjadi gangguan bagi perihal mem-perhidupkan dan mengekspresikan Tuhan.

Jika kita ingin memperhidupkan Allah dan mengeks-presikan Allah, kita perlu nampak bahwa kebajikan insani yang alamiah pun perlu diakhiri. Pengakhiran ini perlu dila-kukan demi permulaan Injil Yesus Kristus. Permulaan Injil menyiratkan pengakhiran segala hal yang bukan Allah.