← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (2) · bab 4/9

SUPAYA HATI ORANG TIMBUL KEDAMBAAN ORANG BEROLEH SELAMAT KARENA HATINYA MENJAMAH TUHAN

Kita sudah membicarakan, ketika seorang berdosa menerima anugerah keselamatan, apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Seseorang bisa beroleh selamat karena hatinya sejenak menjamah Tuhan, bukan karena ia mempunyai pengetahuan tentang anugerah keselamatan, bukan karena ia mengerti berita tentang Injil, melainkan karena dia dengan segenap hati sejenak menjamah Tuhan, demikianlah dia beroleh selamat. Kita yang belajar memberitakan Injil harus mempelajari apa yang sebenarnya Allah kerjakan ketika seseorang beroleh selamat. Semakin kita mengetahui pengalaman subyektif seseorang ketika ia beroleh selamat, semakin mudah membawa orang percaya Tuhan.

HATI ADALAH PUSAT KUMPULAN SELURUH DIRI MANUSIA

Kita mengatakan begitu hati seseorang menjamah Tuhan, orang tersebut akan beroleh selamat. Tetapi sebenarnya, apakah hati itu? Istilah hati dalam Alkitab sangat khusus. Tubuh jasmani manusia memiliki hati (hati fisik), jiwa manusia memiliki hati (hati psikis), roh manusia juga memiliki hati (hati nurani). Sebab itu, hati adalah pusat kumpulan seluruh diri manusia. Pikiran manusia keluar dari hati (Kej. 6:5; Mat. 15:19); kemauan (fungsi tekad) manusia keluar dari hati (Kis. 11:23); kegembiraan (fungsi emosi) manusia keluar dari hati (Yoh. 16:22). Surat Ibrani 10:22 mengatakan, hati nurani berada dalam hati. Efesus 3 mengatakan, oleh imam kita, Kristus tinggal di dalam hati kita (ayat 17). Perkataan manusia juga keluar dari hati (Mat. 12:34b). Tubuh manusia dengan hati sebagai pusatnya, jiwa dan roh manusia juga dengan hati sebagai tempat kumpulannya, sebab itu boleh dikatakan hati adalah pusat kumpulan seluruh diri manusia, adalah tempat perhimpunan hayat manusia. Hati boleh dikatakan adalah wakil dari jati diri kita. Semua hal-hal dari hayat kita, semua keluar dari hati. Sebab itu Amsal 4:23 mengatakan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Hati adalah jati diri kita. Tempat berkumpulnya roh, jiwa, dan tubuh kita, adalah hati kita.

SEORANG YANG MEMILIKI KESADARAN DITANGGULANGI OLEH ALLAH,

AGAR BEROLEH ANUGERAH KESELAMATAN

Hati manusia lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu; siapakah yang dapat mengetahuinya (Yer. 17:9). Hati manusia penuh dengan kegelapan, yang tidak terlihat oleh siapa pun. Orang yang belum beroleh selamat, hatinya keras, karena hatinya gelap. Orang yang telah jatuh, rohnya mati, tubuhnya tidak ada kaitan dengan keselamatan, jiwanya juga tidak mau Allah, karena segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej. 6:5; Mat. 15:19). Seorang yang pikirannya gelap, seorang yang perasaannya mati, tidak ada niat memilih Allah, juga tidak damba terhadap anuegerah keselamatan, bagaimana dia bisa menerima anugerah keselamatan? Roh manusia bukan organ untuk mengerti, lagi pula telah mati; tubuh manusia tidak berguna dalam menerima anugerah keselamatan; kalau pikiran manusia gelap, emosinya tidak ada kedambaan, tekadnya tidak bisa mengambil keputusan. Lalu bagaimana? Kalau Anda memberi dia musik yang baik, udara yang baik, itu masalah tubuh, tidak ada hubungan dengan menerima anugerah keselamatan. Tubuh manusia tidak bisa membuat orang beroleh keselamatan, karena Tuhan tidak bekerja di tubuh manusia, tubuh adalah milik dosa (Rm. 7:14). Setelah manusia jatuh dan menjadi milik daging, Allah tidak lagi tinggal dalam manusia, atau tidak lagi berebutan dengan daging (Kej. 6:3 Tl.). Kalau Anda memberi tahu perkara rohani kepada orang yang jatuh, dia tidak bisa menerima, karena rohnya mati. Kalau roh tidak hidup, tidak bisa mengerti perkara Kerajaan Allah. Karena secara fisik dan rohani tidak bisa membawa orang beroleh selamat, maka Allah hanya menanggulangi kesadaran manusia, yaitu menanggulangi pikiran, emosi, dan tekad manusia, supaya dia beroleh selamat. Pikiran, emosi, dan tekad orang digabungkan menjadi satu, terbentuklah satu manusia yang mempunyai kesadaran. Lalu, bagaimana sikap orang yang berkesadaran ini terhadap Allah, bagaimana sikapnya terhadap anugerah keselamatan?

Atas Pikiran

Surat Roma 1:21 mengatakan bahwa orang yang belum percaya Tuhan, pikiran mereka gelap, sia-sia. Terhadap anugerah keselamatan mereka adalah orang yang tak berpengetahuan, adalah orang yang bodoh. Ketika kita memberitakan Injil, orang berdosa yang harus kita hadapi adalah orang berdosa yang demikian. Jadi, bisakah kita mengubah pikiran mereka yang bodoh menjadi mengerti, bisakah kita mengubah pikiran mereka yang gelap menjadi terang? Tidak mungkin. Kalau kita tidak bisa berkata kepada ruangan yang gelap, jadilah terang, demikian juga kita tidak bisa mengubah pikiran orang yang gelap menjadi terang. Sebab itu, jangan mengira kalau memberitakan kebenaran dengan jelas bisa mengubah pikiran manusia yang gelap menjadi terang. Sering kali kita berdebat dengan orang berdosa, akhirnya malah kehilangan dia. Sering kali kita mengalahkan pembicaraan orang berdosa, tetapi pikirannya tetap masih gelap. Adakalanya Anda menang dalam perdebatan, tetapi jiwa orang berdosa itu hilang. Satu Korintus 1:21 mengatakan bahwa manusia dalam pikiran, bersandarkan hikmatnya, tidak bisa mengenal Allah, karena hati manusia gelap. Satu Korintus 2:9 juga mengatakan, anugerah keselamatan Allah tidak pernah timbul di dalam pikiran manusia. Sebab itu, pikiran manusia terhadap anugerah keselamatan sama sekali gelap.

Atas Emosi

Bagimana kedambaan emosi manusia? Roma 3:11 mengatakan, "Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah." Tidak ada seorang pun yang berakal budi, ini adalah di aspek pikiran; tidak ada seorang pun yang mencari Allah, ini di aspek emosi. Dalam Yohanes 5:40, Tuhan Yesus berkata kepada orang Farisi, "Namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu." Tidak mau datang kepada Tuhan untuk memperoleh hidup, karena tidak mempunyai hati yang damba, tidak ada hati yang mencari. Dalam Matius 13:15 Tuhan Yesus berkata, "Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka." Mengapa orang Yahudi tidak bisa mengerti, karena hatinya tidak mau; dalam hati mereka tidak ada kedambaan untuk memperoleh keselamatan. Karena mereka tidak mau, maka mereka tidak bisa mengerti. Kalau mata mereka bisa melihat, telinga mereka bisa mendengar, dengan sendirinya pikiran mereka bisa mengerti. Sebab itu, supaya orang berdosa yang jatuh beroleh selamat, langkah pertama adalah supaya dia mengerti, langkah kedua adalah dia harus "mau". Akan tetapi terlebih dulu orang harus senang beroleh selamat, damba beroleh selamat, mengharapkan beroleh selamat, barulah ia mau beroleh selamat; kalau tidak, dia justru takut beroleh selamat. Yohanes 15:23-25 mengatakan bahwa emosi manusia tidak saja tidak mendambakan Tuhan, malah tanpa alasan membenci Tuhan, dan sering tanpa alasan menertawakan kaum beriman; ia merasa malu menjadi orang Kristen; karena ia tidak mengerti, maka ia tidak mendambakan Tuhan, sebaliknya malah membenci Tuhan.

Atas Tekad

Selanjutnya kita akan membicarakan tentang tekad. Tekad adalah organ manusia untuk mengambil keputusan. Orang yang tidak percaya Tuhan adalah orang yang memutuskan tidak mau Tuhan. Dalam Matius 23:37 Tuhan Yesus berkata, "Berkali-kali Aku rindu . . . tetapi kamu tidak mau." Di sini Tuhan berkata, Aku memutuskan mau, tetapi kamu memutuskan tidak mau. Orang Yahudi memutuskan tidak mau Tuhan, maka sejak itu, orang Yahudi sepenuhnya dibuang. Mari kita lihat Roma 6:17, "Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu." Orang Yahudi dibuang oleh Tuhan karena tidak mau Tuhan, tetapi hari ini kita adalah orang-orang yang percaya Tuhan, karena hati kita taat, memutuskan mau Tuhan. Allah memerintahkan manusia harus bertobat; asal manusia mau percaya, Roh Kudus akan memberi hati yang taat kepada manusia.

MEMBERITAKAN INJIL AGAR HATI ORANG BERPALING

Alkitab mengatakan, manusia harus percaya baru bisa beroleh selamat; dan percaya adalah cerita dalam hati manusia. Karena itu, Surat Ibrani mengatakan, hati yang tidak percaya adalah hati yang jahat (Ibr. 3:12). Surat Roma mengatakan, manusia harus percaya dalam hatinya (Rm. 10:9-10). Kalau orang berdosa mau percaya, pengertiannya harus mengerti, emosinya harus mendambakan, tekadnya harus memutuskan; pikiran, emosi, dan tekadnya harus berpaling. Karena itu, orang yang memberitakan Injil harus mengetahui bagaimana memalingkan pengertian orang berdosa, memancing kedambaannya, menetapkan keputusannya, demikian barulah sukses.

Hari ini orang yang memberitakan Injil sering menghadapi satu pencobaan yang mendasar, sering melakukan satu kesalahan yang mendasar, yaitu menitikberatkan perubahan pengertian manusia; mereka ingin dengan jelas memberitakan Injil untuk didengar oleh pengertian orang, supaya otak orang bisa mendengarkan dengan jelas. Orang yang demikian tidak mengetahui apa susunan orang berdosa itu. Mereka selalu mengira bahwa orang harus mendengarkan Injil dengan jelas baru bisa beroleh selamat. Mereka tidak mengetahui pikiran orang berdosa itu sangat dangkal; meskipun mereka telah dengan jelas mendengarkan Injil, tetapi sedikit pun tidak menerima, lalu, Anda harus bagaimana?

Kita harus mengetahui bahwa pikiran seseorang tidak bisa mewakili diri orang itu. Kalau orang yang memberitakan Injil sangat memperhatikan pikiran orang, ini salah. Pikiran adalah bagian yang paling dangkal, bagian yang paling luar dari manusia. Meskipun orang yang memberitakan Injil bisa meyakinkan orang berdosa, tetapi mereka masih tidak percaya. Karena pikiran adalah bagian yang paling dangkal, juga bagian yang paling luar dari manusia. Bila Anda ingin menyentuh hati orang, jalan yang paling cepat adalah turun tangan dari pikiran. Tetapi turun tangan dari pikiran juga paling tidak dapat dipercayai, paling tidak efisien, karena pikiran manusia adalah bagian yang paling dangkal dalam hati manusia.

KIAT MEMBERITAKAN INJIL

Kita mengetahui bahwa terhadap Injil seluruh hati manusia adalah gelap. Hati manusia sepenuhnya keras, dan sepenuhnya licik, milik Iblis, daging, dan dunia, sama sekali tidak mungkin bisa percaya Tuhan. Sebelum Roh Kudus bekerja, sasaran Injil kita tidak mungkin bisa percaya Tuhan. Sebab itu, ketika kita memberitakan Injil, kita harus bersandarkan Roh Kudus, memakai firman yang diucapkan Allah, memasukkan firman itu ke dalam hati orang yang berdosa, sehingga di dalamnya menghasilkan sesuatu yang asalnya tidak dimiliki oleh orang berdosa. Tujuan memberitakan Injil adalah terlebih dulu mendapatkan satu titik pijak di dalam hati manusia, kemudian dari titik ini meluas lagi. Inilah kunci pemberitaan Injil. Hati orang yang jatuh sama sekali tidak mau Allah, penuh dengan kejahatan. Sebab itu kalau kita mau supaya orang berdosa beroleh selamat, harus lebih dulu memakai firman Injil, bagi Allah menciptakan satu kedudukan di dalam hati manusia, orang yang demikian baru mau menerima Injil. Ketika perkataan kita keluar, itu berarti diletakkan ke dalam pikiran manusia; pikiran adalah jalan untuk menerima Injil. Namun Allah juga mau mendapatkan kedambaannya dan keputusannya. Sebab itu hanya mendapatkan pikiran orang masih belum cukup. Begitu firman Allah masuk ke dalam pikiran orang berdosa, Allah segera memberinya satu pikiran yang baru. Begitu memiliki pikiran yang baru, akan menghasilkan satu kedambaan yang baru, lalu dia mau beroleh selamat, kemudian dia memutuskan untuk beroleh selamat. Begitu ia memutuskan mau beroleh selamat, pemberitaan Injil ini sudah sukses.

Sebab itu, tujuan memberitakan Injil adalah memperhatikan supaya orang mempunyai kedambaan. Dalam proses pemberitaan Injil, harus mencapai tiga tujuan: Pertama, supaya orang mempunyai sedikit pemikiran tentang anugerah keselamatan, mengerti Allah, mengerti anugerah keselamatan; kedua, tujuan paling besar dalam pemberitaan Injil yaitu supaya orang mau Allah, mendambakan Allah, senang beroleh selamat; ketiga, tujuan terakhir, supaya orang memutuskan mau Allah, mau mendapatkan Allah. Jadi, Injil bukan masuk melalui jalur pengertian, melainkan masuk melalui jalur kedambaan. Kedambaan adalah tujuan utama dalam pemberitaan Injil. Ketika kita memberitakan Injil, pertama memakai firman Allah untuk diletakkan ke dalam pikiran manusia sebagai landasan, terakhir supaya orang memutuskan menerima. Pertama, kita memasukkan firman Allah, firman yang paling dapat dipercayai, ke dalam pikiran manusia. Kemudian, kalimat kedua harus berdasarkan kalimat pertama, menggugah dia, supaya dia mempunyai kedambaan, kemudian membiarkan dia mengambil keputusan. Jadi, kalimat Injil yang pertama adalah kail yang lurus, kalimat Injil yang kedua adalah kail yang bengkok. Kalimat pertama sebagai landasan dalam pikiran, kalimat selanjutnya sebagai sarana untuk menggugah emosi; terakhir supaya tekadnya memutuskan mau beroleh selamat.

"DAMBA" ADALAH MASALAH YANG PALING BESAR

Semua orang yang bisa memberitakan Injil selalu terlebih dulu memberi beberapa kata kepada orang berdosa, meletakkan kata-kata itu ke dalam pikirannya; kemudian memakai kata-kata itu menggugah dia, supaya dia mempunyai kedambaan; kemudian mengundang dia percaya, menyuruh dia percaya. Dengan demikian memalingkan dia. Matius 13:15 mengatakan tiga hal: supaya jangan, mengerti, berbalik. "Mengerti" adalah masalah pikiran, "supaya jangan" adalah masalah kedambaan, "berbalik" adalah masalah keputusan. Mengapa seseorang tidak mengerti? Karena "supaya jangan". Mengapa seseorang tidak bisa melihat terang? Karena hatinya "tidak mau". Dalam otak manusia, dalam pikiran manusia, mungkin tidak ada masalah; masalah manusia terdapat dalam motivasinya. Kalau kita ingin supaya pikiran seseorang mengerti, perlu orang tersebut mau untuk mengerti; sebab itu, ini adalah masalah motivasi. Mengapa seseorang tidak bisa beroleh selamat? Karena dia bermotivasi tidak mau percaya. Kalau seseorang hanya mendengarkan Injil dan mengerti, tetapi tidak mau percaya, menyuruh dia mengambil keputusan juga tidak berguna. Sebab itu masalah yang paling besar dalam pemberitaan Injil adalah masalah kedambaan. Asal hati seseorang mengarah kepada Tuhan, pemberitaan Injil itu sudah hampir sukses.

Kitab Amsal mengatakan bahwa hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan ke mana Ia ingini (Ams. 21:1). Masalah yang paling penting dalam pemberitaan Injil adalah mendapatkan hati orang. Asal bisa mendapatkan hati orang, selanjutnya mudah ditangani. Kita perlu mengeluarkan waktu dan tenaga untuk mempelajari, juga harus bersandar Roh Kudus, memberi kita perkataan yang cocok, yaitu perkataan yang mempunyai kail. Perkataan kita harus seperti kail, bisa mengail kedambaan orang, sehingga mendapatkan hatinya. Kalau demikian, pemberitaan Injil kita akan sukses.