← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (2) · bab 3/9

BERDASARKAN TUHAN ADALAH SAHABAT ORANG BERDOSA

BEROLEH SELAMAT TIDAK MEMERLUKAN KEBENARAN YANG BANYAK, HANYA PERLU DENGAN TULUS HATI DATANG KE HADAPAN ALLAH

Dari Perjanjian Baru kita nampak, banyak orang beroleh selamat tanpa mengetahui dengan jelas akan kebenaran Injil. Banyak orang yang memberitakan Injil, terpengaruh oleh tradisi yang turun-temurun, mengira harus dengan kebenaran yang sebanyak mungkin, menjelaskan Injil setuntas mungkin, menyelesaikan kesulitan orang, baru orang itu bisa beroleh selamat. Sebab itu banyak orang yang bekerja tidak mengharapkan orang segera beroleh selamat, selalu menyuruh mereka mengerti banyak kebenaran, akibatnya keselamatan orang itu tertunda. Di aspek lain, orang yang memberitakan Injil bersikap demikian, lalu orang berdosa sendiri menunda ketetapan mereka. Mereka mengira harus mengerti lebih jelas lagi tentang Injil, mengerti lebih banyak tentang kebenaran Alkitab, barulah beroleh selamat. Sebab itu, karena mereka sering tidak mengerti tentang Injil, mereka lalu menunda keselamatan diri sendiri.

Tetapi jika kita berpengalaman, juga memperdalam tentang pemberitaan Injil, pasti akan nampak bahwa orang yang tidak terlalu banyak mengerti kebenaran, hanya dengan hati yang sederhana menjamah Tuhan, ia beroleh selamat, kualitas mereka di hadapan Tuhan lebih kuat daripada orang yang setelah dengan jelas mengerti kebenaran baru beroleh selamat. Sebab itu, orang yang beroleh selamat memerlukan berapa banyak kebenaran baru bisa mendorong hatinya mengarah kepada Allah, inilah yang harus kita perhatikan ketika kita memberitakan Injil. Semua orang yang beroleh selamat yang tercatat dalam Alkitab, bukan setelah mengerti cukup banyak kebenaran baru beroleh selamat; tetapi hanya mengenal sedikit saja, sudah cukup membuat mereka datang ke hadapan Allah. Sebab itu, dalam memberitakan Injil, jangan memakai banyak kebenaran, asal memakai sedikit kebenaran sudah cukup. Tentang harus sampai seberapa banyak, harus kita pertimbangkan sendiri; bagaimanapun, asal bisa membuat orang itu mengerti, lalu bisa mendorong dia datang kepada Allah, sudahlah cukup.

HARUS BANYAK MEMPELAJARI BAGAIMANA ORANG BEROLEH SELAMAT

Kita harus bertanya kepada diri sendiri: Sebenarnya aku sudah mengerti berapa banyak kebenaran Alkitab, baru setelah itu aku beroleh selamat? Setelah kita melihat contoh dalam Alkitab, dan mempelajari contoh keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain, maka kita akan tahu: banyak orang hanya mendengar dua atau tiga patah firman kebenaran Injil, sudah beroleh selamat; bahkan ada orang yang mendengarkan kata-kata yang kelihatannya tidak ada hubungan dengan Injil, bisa beroleh selamat. Jadi, keselamatan seseorang sama sekali tidak tergantung pada mendengar berapa banyak perkataan anugerah keselamatan. Kita yang bekerja perlu mempunyai sebuah buku kecil, mencatat perkataan apa yang membuat orang beroleh selamat. Kemudian kita akan berkesimpulan dan mengetahui bahwa orang beroleh selamat bukan karena mendengar perkataan yang panjang lebar, melainkan karena satu dua patah kata, hatinya menjamah Tuhan, demikian ia beroleh selamat. Setelah Anda mempelajari satu per satu, Anda akan mempunyai hikmat dalam pemberitaan Injil. Setelah kita banyak belajar, kita akan nampak bahwa semua orang di dunia hampir sama, tidak ada banyak jenis yang dikualifikasikan. Dalam hal menerima Injil, orang dunia boleh dikata hanya ada beberapa macam saja. Orang macam apa mendengarkan perkataan apa bisa beroleh selamat; orang macam lain lagi mendengarkan perkataan macam apa, juga bisa beroleh selamat. Orang di dunia mempunyai tipenya. Orang macam apa mempunyai temperamen yang tertentu, dan dia bisa beroleh selamat dengan perkataan macam apa; selanjutnya begitu kita berjumpa dengan orang yang macamnya sama, boleh memakai perkataan yang sama untuk membawa dia beroleh selamat. Jadi, kita perlu mengeluarkan banyak waktu dan tenaga mempelajari masalah menyelamatkan orang. Dengan demikian kita akan menjadi orang yang pandai membawa orang beroleh selamat.

YESUS ADALAH SAHABAT ORANG BERDOSA

Sahabat Adalah Hubungan di Luar Hubungan yang Resmi

Dalam Alkitab ada kalimat yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah sahabat orang berdosa (Mat. 11:19). Apakah artinya sahabat? Sahabat adalah orang yang dikasihi di luar hubungan resmi. Jadi, hubungan di luar hubungan resmi, hubungan yang tidak mempermasalahkan kedudukan, itu disebut sahabat. Misalnya, tuan dengan hamba, suami dengan istri, kakak dengan adik, ayah dengan anak, semuanya adalah hubungan resmi; tetapi sahabat di luar hubungan resmi, mempunyai hubungan yang sangat akrab. Jadi, menjadi sahabat berarti tidak ada hubungan yang resmi, kedua belah pihak di luar hubungan resmi saling mengasihi, saling berhubungan. Ada orang yang dalam hubungan resminya adalah ayah dengan anak, tetapi boleh juga di luar hubungan resmi ini mempunyai hubungan sebagai sahabat. Ini adalah hubungan di mana kedua pihak sama-sama tidak mempermasalahkan kedudukan. Ada orang yang dalam hubungan resminya adalah kepala bagian dengan karyawan biasa, menurut kedudukan ada perbedaan atasan dengan bawahan, tetapi mereka boleh menjadi sahabat di luar hubungan resmi ini.

Orang Berdosa Boleh Melalui Prosedur yang Tidak Resmi Datang ke Hadapan Tuhan

Tuhan adalah Allah, kita adalah manusia; Tuhan adalah Juruselamat, kita adalah manusia berdosa; semuanya ini adalah hubungan resmi; tetapi Tuhan juga dengan senang hati di luar hubungan resmi dengan kita mempunyai hubungan sebagai sahabat. Sebab itu Alkitab mengatakan, Abraham adalah sahabat Allah (2 Taw. 20:7; Yak. 2:23b). Allah bisa menjadi sahabat Abraham karena Allah melepaskan kedudukan-Nya sebagai Allah, Abraham juga melepaskan kedudukannya sebagai manusia, dengan demikian kedua belah pihak bisa menjadi sahabat. Tuhan Yesus adalah Juruselamat, kita adalah orang berdosa, ini adalah hubungan yang resmi. Dalam hubungan yang resmi ada hubungan yang formal, misalnya, orang berdosa harus percaya Tuhan dan dibaptis baru bisa beroleh selamat, semuanya ini adalah hubungan resmi. Tetapi dalam Alkitab ada kalimat yang ajaib, yaitu Tuhan Yesus adalah sahabat orang berdosa. Ini adalah satu perkara yang besar. Artinya, di luar hubungan resmi antara Juruselamat dengan orang berdosa, Tuhan Yesus mempunyai hubungan sebagai sahabat dengan orang berdosa. Ini juga berarti, orang berdosa boleh tidak menurut hubungan yang resmi, tetapi menurut hubungan sebagai sahabat, terlebih dulu berunding dengan-Nya, "Bagaimana caranya Engkau menyelamatkan aku?" Dengan kata lain, orang berdosa boleh tidak menurut cara yang resmi, misalnya bertobat, mengaku dosa, percaya, menerima, dibaptis, dan lain-lain, menerima Tuhan sebagai Juruselamat. Pada umumnya seorang berdosa harus melakukan prosedur ini baru beroleh selamat. Tetapi puji Tuhan, Dia juga sebagai sahabat orang berdosa, kita boleh menurut hubungan sebagai sahabat datang ke hadapan-Nya.

Kita, orang-orang yang berdosa ini, meskipun tidak menurut prosedur yang resmi, tetap boleh melalui hubungan sahabat datang ke hadapan Juruselamat untuk mohon pertolongan-Nya. Misalnya, dalam Alkitab ada seorang ingin percaya Tuhan, tetapi tidak mampu percaya kepada-Nya, lalu dengan mengalirkan air mata ia berkata kepada Tuhan, "Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk. 9:24). Orang ini imannya tidak cukup, tetapi tetap datang ke hadapan Tuhan, memohon pertolongan-Nya. Inilah hubungan sebagai sahabat. Misalnya lagi, Lukas 18:18-23 membicarakan seorang pemimpin ingin memperoleh hidup yang kekal, Tuhan menyuruhnya menjual segala yang ia miliki dan membagi-bagikan kepada orang-orang miskin, kemudian datang dan mengikuti Tuhan. Pemimpin itu tidak bisa menjual segala miliknya, lalu pergilah pemimpin muda itu dengan sedih. Tuhan meminta dia menjual segala yang ada, ini adalah prosedur resmi dalam hubungan resmi; pemimpin muda itu merasa tidak mampu melakukannya, seharusnya ia segera dengan hubungan sebagai sahabat Tuhan, datang ke hadapan-Nya berunding dengan-Nya, "Saya tidak mampu melakukan, sekarang bagaimana caranya? Mohon Tuhan membantu saya!" Tuhan pasti akan menolongnya. Sayang, dia tidak memakai hubungan sebagai sahabat berunding dengan Tuhan, akhirnya ia pergi dengan sedih.

Hubungan Sahabat Adalah Tanpa Syarat

Karena Tuhan Yesus adalah sahabat orang berdosa, maka orang berdosa boleh dengan berani menurut apa adanya datang ke hadapan Tuhan, berunding dengan Tuhan, mohon Tuhan membantu. Asalnya orang berdosa menurut prosedur yang resmi datang ke hadapan Tuhan harus melalui beberapa syarat; tetapi karena orang berdosa menurut hubungan sebagai sahabat datang ke hadapan Tuhan, maka tanpa syarat apa pun. Sebab itu orang berdosa boleh dengan berani menurut apa adanya datang ke hadapan Tuhan. Misalnya seorang ayah menuntut anaknya menurut, kalau anaknya tidak menurut, hubungan dengan ayahnya segera terganggu. Tetapi di luar hubungan ayah dan anak, anak ini boleh dalam hubungan sebagai sahabat bertanya kepada ayahnya, "Saya tidak bisa menurut, sekarang baiknya bagaimana? Mohon ayah membantu saya." Saya boleh dalam hubungan sebagai sahabat memberi tahu anak, bagaimana caranya untuk menurut. Dengan demikian hubungan sebagai sahabat boleh membantu kekurangan dalam hubungan resmi. Sebab itu, orang yang memberitakan Injil boleh sekuatnya membuat orang berdosa dalam keadaan apa pun beroleh selamat, bahkan boleh melupakan syarat untuk beroleh selamat, dengan tanpa syarat membawa orang berdosa ke hadapan Tuhan.

Orang berdosa menganggap Tuhan sebagai sahabat, ini adalah langkah pertama Injil; lalu orang berdosa dengan Tuhan sebagai Juruselamat, ini adalah penggenapan Injil. Ada orang mungkin ingin bertanya, "Kalau orang tidak percaya ada Allah, bagaimana ia bisa datang ke hadapan Allah?" Orang tidak percaya ada Allah, juga boleh datang ke hadapan Allah. Dalam hubungan resmi, orang yang tidak percaya ada Allah, tidak bisa datang ke hadapan Allah (Ibr. 11:6). Tetapi asal ia memohon kepada Allah, Allah akan menyelamatkannya. Orang mengira harus ada kepercayaan yang cukup, baru bisa datang ke hadapan Tuhan; sebenarnya tidak. Tuhan Yesus adalah sahabat orang berdosa, siapa saja, asal mau datang ke hadapan Tuhan, sudahlah cukup. Menurut hubungan resmi, orang yang datang ke hadapan Juruselamat harus bertobat; tetapi orang datang ke hadapan Tuhan yang sebagai sahabat orang berdosa, tidak bertobat juga boleh. Dalam memberitakan Injil, kalau kita bisa berdasarkan Tuhan sebagai sahabat orang berdosa, kita akan segera membawa orang berdosa ke hadapan Tuhan. Kalau bisa mendorong orang berdosa ke hadapan Tuhan, pasti akan membuat dia bertemu sesuatu.

SIAPA SAJA BOLEH DATANG KE HADAPAN TUHAN

Kita harus mempersilakan Tuhan sendiri bekerja di atas diri orang berdosa, jangan memberitakan Injil menurut konsepsi diri sendiri. Di bumi tidak ada seorang berdosa pun yang tidak boleh berdoa, juga tidak ada keadaan seorang berdosa pun yang tidak bisa dibawa ke hadapan Allah. Tidak peduli orang melakukan dosa apa pun, tidak peduli orang itu orang macam apa, semuanya boleh datang ke hadapan Tuhan, karena Tuhan adalah sahabat orang berdosa. Apakah orang itu bisa bertobat, atau bisa tidak mengasihi dunia, itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Kalau kita mengenal Tuhan adalah sahabat orang berdosa, mutu Injil akan terangkat tinggi, Injil akan ada perubahan besar. Dalam hal ini kita sendiri harus terlebih dulu ada keyakinan yang dalam, kita sendiri harus terlebih dulu percaya, kemudian saat memberitakan Injil, bisa membawa banyak orang datang ke hadapan Tuhan agar beroleh selamat.