← Daftar isi Yosua · bab 9/15

PENYELAMATAN ORANG GIBEON

Pembacaan Alkitab: Yos. 9

Untuk mempelajari sejarah dan nubuat Perjanjian Lama, kita harus ada pandangan yang menyeluruh, dan penglihatan yang sempurna atas ekonomi kekal Allah, terhadap Kristus dan gereja yang rampung dalam Yerusalem Baru. Beban saya dalam berita ini adalah menerapkan prinsip ini kepada Yosua 9 sehingga kita dapat nampak makna yang terkandung dalam pasal ini.

Yosua 9 mencatat bagaimana bangsa Israel ditipu oleh orang Gibeon. Mereka tertipu karena mereka seperti seorang istri yang melupakan suaminya. Apa yang mereka lakukan di sini sama persis dengan apa yang Hawa lakukan dalam Kejadian 3. Ular yang licik itu ingin menggoda Adam, membujuk Adam, tetapi ia tidak berani langsung mencari Adam. Maka, ia pergi kepada pasangan Adam, perempuan, karena ia tahu perempuan lebih mudah ditipu (2Korintus 11:3; 1Timotius 2:14).

Alkitab mewahyukan bahwa di alam semesta ada roman ilahi antara Allah dengan umat pilihan-Nya. Alkitab adalah catatan satu roman, yang sangat murni dan kudus, dari pasangan alam semesta. Laki-laki dari pasangan ini adalah diri Allah sendiri, dan perempuannya adalah umat tebusan Allah sebagai makhluk yang korporat. Alkitab memperlihatkan bahwa kita sebagai umat pilihan Allah, adalah istri-Nya dan antara Dia dengan kita akan ada kesatuan pernikahan yang berdasarkan saling mengasihi. Karena itu, alam semesta menjadi tempat pernikahan, tempat di mana Suami, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung, bersatu dalam pernikahan dengan manusia tiga bagian yang ditebus, dilahirkan kembali, dikuduskan, diubah, dan dimuliakan. Sang Suami bersifat tritunggal dan sang istri bersifat tripartit, dan mereka sangat cocok satu sama lain untuk hidup bersama sebagai pasangan yang unik dalam alam semesta. Perampungan roman ini, kehidupan pernikahan ini, dapat dilihat di Wahyu 21 dan 22, dua pasal yang perlu kita baca lagi dan lagi sampai kita mendapat pandangan yang jelas mengenai kehidupan pernikahan pasangan alam semesta ini.

Roman ilahi ini diwahyukan berulang-ulang di seluruh Alkitab. Setelah manusia jatuh, Allah memilih satu orang, yaitu Abraham. Orang ini bersama seluruh keturunannya, orang Yahudi dan bukan Yahudi, menjadi istri Allah. Dalam Perjanjian Lama Allah sering menyebut diri-Nya sebagai Suami dan umat-Nya sebagai istri (Yesaya 54:5; 62:5; Yeremia 2:2; 3:1, 14; 31:32; Yehezkiel 16:8; 23:5; Hosea 2:7, 19). Akhirnya, Alkitab ditutup dengan Yerusalem Baru sebagai perampungan akhir umat pilihan Allah dalam langit baru dan bumi baru, sebagai istri universal sampai selama-lamanya (Wahyu 21:9-10).

Dalam Yeremia 2:2 TUHAN berkata kepada orang Israel, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin...” Di sini ada beberapa “waktu menjadi pengantin,” satu masa ketika Allah “berpacaran dengan” orang Israel. Waktu Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir ke Gunung Sinai, orang Israel benar-benar telah “jatuh cinta” kepada Lelaki universal ini, Pahlawan yang unik ini. Apa saja yang orang Israel inginkan, Dia dapat mengerjakannya. Apa yang mereka perlukan, Dia miliki. Dia memiliki hikmat, kapasitas, kecakapan, kekuatan, kuasa, kemampuan, dan wewenang untuk melakukan segala sesuatu. Dia seakan-akan berkata kepada orang Israel, “Aku Lelaki unik bagi kalian, dan Aku cukup untuk kalian. Karena Aku adalah Yang terbaik, kalian seharusnya tidak pergi kepada orang lain tetapi hanya mengambil Aku. Aku adalah Yang mengasihi, dan kalian adalah kekasih-Ku.” Saya percaya ketika orang Israel sampai di Gunung Sinai mereka berketetapan untuk “menikahi” Lelaki ini.

Di Gunung Sinai mereka menikah, dan mereka hidup bersama sebagai satu pasangan. Kemana saja mereka pergi, mereka berjalan sebagai satu pasangan, suami dan istri, Allah Tritunggal dan umat pilihan-Nya, berjalan sebagai satu kesatuan. Itulah gambaran manusia-Allah, sebagian Allah sebagian manusia. Bagian Allah adalah sang suami dan bagian manusia adalah sang istri.

Seorang istri seharusnya tidak pernah meninggalkan suaminya. Namun ia seharusnya selalu bersandar kepadanya dan menjadi satu dengannya. Jika Hawa memegang prinsip ini ketika Satan datang untuk membujuk dia, dia akan lari kepada suaminya. Hal itu akan menjadi perlindungan baginya, keselamatannya.

Misalnya saya adalah seorang istri dan seorang perempuan miskin datang kepada saya meminta pertolongan. Sebagai seorang istri, haruskah saya melakukan sesuatu secara langsung, sendiri, bagi perempuan miskin tersebut? Memang ini adalah perkara kecil, saya bisa memberinya sedikit uang atau makanan tanpa bertanya kepada suami saya. Inilah yang terjadi dalam Yosua 9. Orang Gibeon seperti perempuan miskin, datang kepada perempuan kaya dan berkedudukan tinggi. Orang Israel, sebagai istri, harus datang kepada Suaminya, bertanya kepada-Nya; tetapi Israel “tidak meminta keputusan TUHAN” (ayat 14). Orang Israel malah tertipu oleh orang Gibeon, dan membuat perjanjian dengan mereka. Begitu umat Israel membuat perjanjian ini, bersumpah kepada orang Gibeon dengan nama TUHAN, perjanjian itu tidak dapat diubah, dan orang Israel tidak dapat menjamah orang Gibeon.

Kehidupan pernikahan sejati adalah ketika istri hidup bersama suaminya, istri selalu bersatu dengan suami. Ini berarti satu-satunya jalan untuk menempuh kehidupan pernikahan yang baik adalah istri harus bersatu dengan suami. Tetapi istri yang terkasih ini, orang Israel, belum terbiasa demikian. Di Kota Ai mereka telah gagal, dan belajar bersatu dengan Tuhan, tetapi belum tuntas. Dalam Yosua 9, orang Gibeon datang dengan cara yang lain kepada mereka. Orang Ai dengan kekuatan mereka berperang melawan orang Israel, tetapi orang Gibeon datang kepada mereka dengan cara meminta menjadi hamba mereka. Hasilnya, Israel, istri yang mandiri dan individualistis ini tertipu. Israel tidak memiliki perlindungan, tidak memiliki pengamanan. Dari pasal ini kita perlu belajar, bahwa sebagai istri Tuhan, kita harus belajar bersatu dengan Dia senantiasa. Inilah makna yang terkandung di dalam Yosua 9.

Sekarang, setelah kita nampak makna yang terkandung dalam pasal ini, mari kita membahas apa yang dikatakan mengenai penyelamatan orang Gibeon.

I. RAJA-RAJA

DI SEBERANG SUNGAI YORDAN MERASA TERANCAM DAN BERKUMPUL UNTUK MEMERANGI ORANG ISRAEL

Raja-raja di seberang Sungai Yordan, di pegunungan, di daerah bukit dan sepanjang tepi pantai Laut Besar sampai ke seberang gunung Libanon merasa terancam dan berkumpul untuk memerangi orang Israel (ayat 1-2).

II. MUSLIHAT ORANG-ORANG GIBEON

Ayat 3-15 memperlihatkan muslihat orang-orang Gibeon.

A.

Menipu Orang Israel

dengan Kecerdikannya

Orang-orang Gibeon menipu orang Israel dengan kecerdikannya (ayat 3-13). Mereka berangkat seperti utusan-utusan, membawa karung-karung yang buruk dimuatkan di atas keledai, kirbat anggur yang buruk-buruk dan yang robek dijahit kembali, dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka. Segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka. Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu, “Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami” (ayat 6). Berkatalah orang-orang Israel kepada orang-orang Hewi itu, “Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu?” (ayat 7). Mereka memberi tahu Yosua bahwa mereka akan menjadi pelayan-pelayannya. Ketika Yosua bertanya, siapakah mereka dan dari manakah mereka datang? Mereka menjawab, mereka datang dari negeri yang sangat jauh, mereka telah mendengar kabar tentang TUHAN dan segala yang telah Dia lakukan di Mesir dan terhadap kedua raja orang Amori, Sihon raja Hesybon dan Og raja Basan. Mereka pergi dengan pesan bahwa tua-tua mereka dan seluruh penduduk negeri mereka berkata kepadanya, bawalah bekal, pergilah untuk bertemu bangsa Israel, dan katakanlah kepada mereka, “Kami ini adalah hamba-hambamu, maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami” (ayat 11). Mereka menyatakan bahwa roti mereka masih panas ketika mereka bawa sebagai bekal tetapi sekarang sudah menjadi kering, bahkan kirbat-kirbat anggurnya yang masih baru ketika diisi sekarang telah robek, dan pakaian dan kasutnya telah menjadi buruk karena perjalanan yang sangat jauh. Dari sini kita nampak bahwa orang-orang Gibeon bertindak cerdik.

B.

Israel mengadakan Perdamaian

dan Perjanjian dengan Mereka

untuk Membiarkan Mereka Hidup,

tanpa Menanyakan Keputusan TUHAN

Orang-orang Israel mengambil bekal orang Gibeon itu, tetapi mereka tidak meminta keputusan TUHAN. Yosua kemudian mengadakan perdamaian dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka bahwa ia akan membiarkan mereka hidup. Selanjutnya, para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka (ayat 14-15).

III. ORANG ISRAEL MENYINGKAPKAN MUSLIHAT ORANG GIBEON

Akhirnya orang Israel menyingkapkan muslihat orang Gibeon (ayat 16-27). Setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka.

A. Masih Menjaga Sumpahnya

karena Kesetiaan TUHAN

Orang Israel masih menjaga sumpahnya kerena kesetiaan TUHAN (ayat 16-20, 22-25). Bangsa Israel datang ke kota-kota orang Gibeon, tetapi tidak menyerang mereka, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Ketika umat itu menggerutu terhadap para pemimpin itu, para pemimpin berkata kepada umat itu bahwa mereka telah bersumpah demi TUHAN kepada orang-orang Gibeon, mereka tidak boleh menjamah orang Gibeon itu. Mereka membiarkannya hidup sehingga murka tidak menimpa orang Israel karena sumpah yang telah mereka ucapkan terhadap orang-orang Gibeon.

Yosua memanggil orang-orang Gibeon dan bertanya kepada mereka mengapa mereka menipu orang Israel dengan berkata bahwa mereka datang dari jauh, padahal mereka tinggal di antara orang Israel. Orang-orang Gibeon menjawab Yosua bahwa mereka tahu bahwa TUHAN, Allah Israel telah memerintahkan Musa hamba-Nya untuk memberikan seluruh negeri itu kepada Israel dan memusnahkan seluruh penduduk negeri itu. Kemudian mereka berkata, “Maka sekarang, kami ini dalam tanganmu; perlakukanlah kami seperti yang kaupandang baik dan benar untuk dilakukan kepada kami” (ayat 24b-25).

B. Mengambil Mereka menjadi Budak-budak

Yosua menyelamatkan orang-orang Gibeon dari tangan bangsa Israel, dan mereka tidak membunuh orang Gibeon itu. Malahan, Yosua mengambil orang-orang Gibeon itu menjadi budak-budak, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk seluruh umat dan untuk rumah Allah dan untuk mezbah TUHAN (ayat 21, 23, 26-27).

IV.MENUNJUKKAN BAHWA TUHAN

TELAH MEMBUAT UMAT PILIHAN-NYA, ISRAEL, SANGAT KUAT

DI MATA SELURUH ORANG KANAAN

Kisah penyelamatan orang-orang Gibeon ini menunjukkan bahwa TUHAN telah membuat umat pilihan-Nya, orang Israel, sangat kuat di mata seluruh orang Kanaan.