PEMBAGIAN TANAH PERMAI (1)
Pembacaan Alkitab: Yos. 13—17
Dalam ekonomi Allah ada satu hal seperti pembagian tanah. Setelah Yosua merebut tanah itu, Allah menyuruh dia untuk membagikan tanah yang telah dimiliki dan bahkan tanah yang belum dimiliki, karena di pandangan Allah seluruh tanah itu adalah bagi orang Israel. Dalam berita ini kita akan mulai membahas pembagian tanah itu. Khususnya, kita akan berusaha melihat makna yang terkandung dalam pembagian tanah permai.
Dalam hikmat-Nya, Allah tidak membagikan seluruh tanah permai kepada seluruh bangsa Israel. Sebaliknya, Dia membagikan tanah itu, yaitu Kristus, kepada berbagai suku. Bagian setiap suku tidak sama.
Dalam Kejadian 49 Yakub, bapak dari kedua belas suku, memberkati setiap anak-anaknya dalam bentuk nubuat (lihat Pelajaran-hayat Kejadian, kuningberita 98-107). Berkat Yakub kepada Yehuda menyatakan bahwa Allah menganggap Yehuda seekor singa tiga ganda: anak singa, singa jantan, dan singa betina (ayat 9). Sebagai anak singa dia bisa bertumbuh dan menjadi kuat, sebagai singa jantan dia bisa berperang, dan sebagai singa betina, dia bisa beranak. Benyamin seperti srigala yang menerkam (ayat 27), dan Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, menghalangi umat Allah maju (ayat 17). Zebulon adalah pangkalan kapal (ayat 13), dan Naftali adalah rusa betina yang terlepas (ayat 21).
Karena setiap suku berbeda, Allah tidak dapat memberikan tanah yang sama luasnya dengan cara yang sama kepada setiap suku. Semua suku adalah pemilik tanah, tetapi setiap suku memiliki bagian tanah khusus menurut apa adanya mereka. Bagian terbaik tanah itu diberikan kepada Yehuda. Dan diberi satu bagian, tetapi mereka tidak mengusir orang Kanaan yang menduduki tanah itu. Mereka adalah umat Allah, namun tindakan mereka mengikuti prinsip musuh Allah.
Penggenapan lambang pembagian tanah ini ada di antara kita hari ini. Kita semua memiliki Kristus yang sama, tetapi kita mengalami Kristus dengan cara yang berbeda-beda. Tanah (Kristus) yang kita miliki sesuai dengan apa adanya kita.
Dalam Imamat 1 Kristus disingkapkan sebagai kurban bakaran dalam lima lambang: lembu jantan, domba, kambing, burung tekukur, dan anak burung merpati. Butir-butir ini melambangkan satu Kristus saja, tetapi mereka dipersembahkan menurut kemampuan orang yang mempersembahkan, menunjukkan bahwa pengalaman kita atas Kristus berbeda menurut ukuran dan jenisnya. Ukuran dan jenisnya tidak tergantung pada Kristus, melainkan tergantung pada kenikmatan kita atas Kristus. Kristus yang dialami Paulus dilambangkan dengan lembu jantan, Kristus yang dialami oleh banyak orang beriman hari ini dilambangkan oleh anak burung merpati.
Kristus juga disingkapkan oleh tiga jenis kurban sajian dalam Imamat 2: tepung yang terbaik, roti bundar, dan bulir gandum. Kalau kita lemah dan tidak bisa makan roti bundar, kita bisa makan tepung yang terbaik. Saat kita bertumbuh besar, kita bisa mengalami Kristus sebagai roti bundar. Rasul Paulus telah dewasa, penuh kekuatan, ia bisa makan bulir gandum. Sekali lagi kita nampak bahwa hanya ada satu Kristus, satu Kristus dalam banyak lambang dan ukuran , tetapi kita dapat mengalami Dia dengan cara yang berbeda dan dalam tingkatan yang berbeda seperti tepung yang terbaik, roti bundar, dan bulir gandum.
Makna yang terkandung dalam pembagian tanah ini adalah para pemilik tanah itu berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa pengalaman atas Kristus di antara umat Allah berbeda-beda. Dalam ketentuan Allah tanah permai dibagikan kepada umat-Nya dengan tingkatan yang berbeda. Perjanjian Baru dengan jelas mengatakan bahwa “menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Roma 12:3). Kita juga diberi tahu bahwa “tetapi tidak semua anggota memiliki tugas yang sama” (ayat 4). Karena itu, Allah memberikan anugerah kepada setiap anggota menurut fungsinya dalam Tubuh (Efesus 4:7). Inilah ketentuan Allah dan pembagian ilahi.
Kidung kita, yang disusun tahun 1963 dan 1964, mengilustrasikan pembagian ini. Saya minta kalian membandingkan lagu John Nelson Darby (kuningKidung #110) tentang menjunjung Kristus dengan lagu Charles Wesley (kuningKidung #74) tentang inkarnasi Kristus. Inilah teks lagu Darby:
1. Dengar, suara menggelegar,
Junjung tinggi Sang Domba;
Laksaan saleh beresonan,
Harmonis pun tak hingga.
2. Tiap penjuru puji Domba,
Genap surga bergita;
Semua mulut nyanyi riang,
Penuh luap pujian.
3. Wangi syukur p’ri ukupan,
Membubung pada Bapa;
Semua lutut sembah Putra,
Memujilah serentak.
4. Terang Putra menyatakan,
Mulia Bapa sepenuh;
Hikmat Bapa ‘nyatakan jua,
Sang Putra sama agung.
5. Roh Kudus ’nembus segala,
Kaum surga selaras;
Kelilingi Domba Suci,
Memuji Dia Sang Kekal.
6. Ciptaan baru puas kini,
Lega, riang, dan pasti;
Berkat s’lamat yang diberi,
Bebas, tak t’rikat lagi.
7. Dengar! Surga riuh kembali,
Kidung puji menggema;
Cakrawala penuh amin!
Amin atas kurnia-Nya.
Sekarang mari kita melihat teks lagu Wesley:
1. Dengar, m’laikat memuji,
“Jurus’lamat t’lah lahir!
Mulia bagi Allah,
sejahtera di bumi.”
Bangkitlah, hai s’mua bangsa!
Ikutlah pujian surga!
Semua memproklamirkan,
Dia lahir di Betlehem.
Semua memproklamirkan,
Dia lahir di Betlehem.
2. Kristuslah, gambar Allah,
Cahaya mulia Allah;
Dalam waktu, Dia datang,
Lahir dari sang dara.
Kenakan tubuh daging,
Allah berinkarnasi,
Tinggal di tengah insan,
Yesuslah Imanuel.
Tinggal di tengah insan,
Yesuslah Imanuel.
3. Mulia, Sang Raja Damai!
Dia Surya Kebenaran!
Beri terang dan hayat,
Bangkit, maut tertelan.
Dia tinggalkan mulia-Nya,
Jadi Juruselamat,
Mati, bangkit, naik surga,
Lahir ulangkan insan.
Mati, bangkit, naik surga,
Lahir ulangkan insan.
4. Dambaan semua bangsa,
Dalam kami Kau tinggal;
Benih dara t’lah menang,
Hancurkan k’pala ular;
Adam lama terhapus,
Rupa Kristus terwujud;
K’limpahan “Adam akhir,”
Ubahku serupa Dia.
K’limpahan “Adam akhir,”
Ubahku serupa Dia.
Setelah kita bandingkan dua lagu ini, kita nampak bahwa lagu Darby lebih tinggi daripada lagu Wesley. Ini menunjukkan bahwa pengalaman Darby atas Kristus seperti yang dinyatakan dalam lagunya, lebih tinggi daripada pengalaman Wesley. Meskipun Darby dan Wesley mengalami Kristus sebagai lembu jantan, lembu jantan Darby lebih besar daripada lembu jantan Wesley.
Jika kita membandingkan pengalaman mereka atas Kristus dengan pengalaman yang dinyatakan dalam kuningKidung, #416, kita akan nampak bahwa lagu ini menyatakan pengalaman yang jauh lebih rendah atas Kristus:
1. Aku telah percaya, wafat-Nya ku terima;
P’lataran kulalui, haleluya puji Dia!
Demi darah adi-Nya, kujadi milik Allah.
Tak lagi dalam dosa, haleluya, puji Dia!
Haleluya! Haleluya! Tirai terb’lah ku masuk,
Mulianya tak terhingga! Haleluya!
Haleluya! Kini ku hidup di depan Sang Raja!
2. Tirai luar ku tembus, masuk ke tempat kudus,
Ku mendapat suplai-Nya, haleluya, puji Dia!
Ku damai dengan Allah, tersisih demi mezbah,
Selain Allah ku tolak, haleluya, puji Dia!
3. Tirai dalam ku tembus, ke tempat mahakudus,
Takhta rahmat ku dekat, haleluya, puji Dia!
Depan Allah ku hidup, semayam di dalam-Nya,
Sirna semua sekatan, haleluya, puji Dia!
4. Ku jadi imam Allah, karena tebusan-Nya,
Ini betapa mulia, haleluya, puji Dia!
Di dalam roh ku kini hidup depan mulia-Nya,
Siang malam tak bersekat, haleluya, puji Dia!
Lagu-lagu dalam kidung kita disusun menurut urutan teologis dan menurut pengalaman rohani. Asalnya ada 1080 nomor, kurang lebih 700 dipilih dari berbagai buku kidung. Di antara kidung ini ada sesuatu yang kurang mengenai Kristus yang almuhit dan alwasi, Roh pemberi-hayat Kristus yang majemuk, hayat ilahi, dan gereja. Untuk menutupi kekurangan ini, kita menyusun lebih dari 200 lagu baru tentang Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja. Perhatikan, misalnya,kuning Kidung, #378:
1. Hayat dan alangkah teduh!
Di batinku Kristus hidup!
Bersama-Nya tersalibku,
Fakta mulia tebusan Hu!
Bukan lagi aku hidup,
Tapi Kristus penggantiku!
Bukan lagi aku hidup,
Tapi Kristus penggantiku!
2. Riang dan alangkah ‘ngaso!
Batinku Kristus terbentuk!
Hayat Tuhan sifat kudus,
Atas diriku tersusun;
Sudah tamat segalaku
Kadar-Nya kini s’galaku!
Sudah tamat segalaku
Kadar-Nya kini s’galaku!
3. Mulia dan alangkah megah!
Kristus ‘tiasa diperbesar!
Mati, hidup, mara, bah’gia,
Tiada satu mengaibkan;
Apa suasana, p’ristiwa,
Kristus selalu tertampak!
Apa suasana, p’ristiwa,
Kristus selalu tertampak!
4. Nasib dan berkat mulia!
Aku hidup, Kristus nyata!
Kehendak-Nya aku gemar,
Mulia-Nya ku utarakan;
Lain tak mau, lain tiada,
Sasaranku Kristus s’mata!
Lain tak mau, lain tiada,
Sasaranku Kristus s’mata!
Kata-kata lagu ini sederhana, tetapi sangat kaya tentang pengalaman Kristus sebagai hayat. Ini menunjukkan bahwa kidung dalam pemulihan Tuhan penuh dengan kebenaran dan menjamah pengalaman atas Kristus dengan cara yang kaya, menunjukkan bagian ilahi kita yang kaya.
Lagu adalah puisi, dan setiap bentuk puisi adalah ungkapan sentimen penulisnya, Kata sentimen berarti lebih dari sekadar satu perasaan. Kata ini menyiratkan perasaan, kesadaran, pemahaman, dan apresiasi. Semakin memperhatikan perasaan kita, kita akan berbeban menulis puisi. Jenis sentimen yang dinyatakan dalam suatu lagu adalah ukuran kenikmatan penulisnya atas Kristus; menunjukkan “ukuran” Kristus yang dialami dan dinikmati si penulis. Maka, Wesley menulis lagunya tentang inkarnasi Kristus menurut sentimennya, dan Darby menulis lagunya tentang penjunjungan Kristus menurut sentimennya. Kedua lagu ini ditulis menurut ukuran Kristus yang dinikmati penulisnya.
Pada butir ini saya hendak menyampaikan perkataan mengenai kuningKidung #115, sebuah lagu tentang peninggian Kristus yang ditulis oleh saya menurut sentimen saya:
1. Tengok, Yesus duduk surga!
Kristus Tuhan bertakhta;
Dia insan nan terangkat,
Hormat mulia Dia dapat.
2. Mengenakan sifat insan,
Hidup taat murad-Nya!
Mati, bangkit, d’ngan tubuh-Nya,
Tetap insan di surga.
3. Di dalam-Nya Allah m’rendah,
Datang tengah manusia;
Di dalam-Nya insan t’rangkat,
Bersama-Nya di surga.
4. Dialah Allah bawa insan,
Pamer, ‘nyatakan Allah;
Insan—Allah pada esa,
Insan beroleh mulia.
5. Dari Yesus t’rangkat, mulia,
Roh almuhit turunlah;
Persona dan karya Putra,
Roh itu yang buktikan.
6. Dengan Yesus t’rangkat, mulia,
Bersatulah gereja;
Dalam Roh Yesus inilah,
Anggota hidup sama.
7. Tengok, insan duduk surga!
Raja s’mesta bertakhta!
Dialah Yesus Jurus’lamat,
Mulia, hormat, s’lamanya.
Jika kita membahas apa yang dikatakan lagu ini tentang Kristus adalah Allah berbaur dengan manusia, Dia mengenakan sifat insan, kematian-Nya menurut rencana Allah, kebangkit-Nya dengan mengenakan satu tubuh, kenaikan-Nya sebagai seorang manusia, duduk-Nya di surga dan dimahkotai-Nya dengan kemuliaan Allah, kita akan menyadari bahwa lagu ini penuh dengan kebenaran dan terang. Lagu ini adalah satu ekspresi sentimen saya yang kudus, surgawi, dan rohani; inilah ekspresi Kristus yang saya kenal dan yang saya dapatkan, alami, dan nikmati.
Kita telah nampak bahwa makna yang terkandung dari pembagian tanah permai adalah bahwa kita, sebagai pemilik tanah itu, mengalami satu Kristus dengan cara yang berbeda-beda. Sekarang mari kita membahas rincian mengenai pembagian tanah yang digambarkan dalam Yosua 13-17.
I. TANAH YANG BELUM DIDUDUKI
Yosua 13:1-7 membicarakan tanah yang belum diduduki. Ketika Yosua telah tua, TUHAN berkata kepadanya, “Engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki” (ayat 1).
A. Daerah-daerah yang Belum Diduduki
Daerah-daerah yang belum diduduki termasuk tanah orang-orang Filistin, Gesur, Kanaan, dan Gebal dan seluruh Gunung Libanon (ayat 2-6a).
B. Janji TUHAN
Dalam ayat 6b kita memiliki janji TUHAN bahwa Dia akan menghalau semua penduduk yang tinggal di negeri itu di hadapan bangsa Israel.
C. Yosua Diperintahkan untuk Membagikan
Sisa Negeri di Sebelah Barat Yordan
TUHAN memerintahkan Yosua untuk membagikan sisa negeri itu kepada orang Israel sebagai warisan seperti yang telah Dia perintahkan. TUHAN menyuruh Yosua untuk membagi negeri ini sebagai satu warisan kepada sembilan suku dan setengah suku Manasye (ayat 6c-7; 14:1-2).
III. TANAH DI SEBELAH TIMUR YORDAN
DIBAGIKAN KEPADA DUA SETENGAH SUKU
OLEH MUSA
Tanah di sebelah timur Yordan dibagikan kepada dua setengah suku oleh Musa (13:8-13, 15-32; 14:3a).
III. TIDAK ADA TANAH YANG DIBAGIKAN
KEPADA SUKU LEWI
Tidak ada tanah yang dibagikan kepada suku Lewi karena persembahan-persembahan TUHAN, Allah Israel, adalah warisan mereka (13:14). Ayat 33 selanjutnya mengatakan bahwa Allah Israel akan menjadi warisan suku Lewi. Jadi, bangsa Israel membagikan tanah itu seperti yang TUHAN perintahkan kepada Musa. Mereka tidak memberikan bagian tanah kepada orang-orang Lewi di negeri itu, selain kota-kota untuk didiami dengan tanah penggembalaannya untuk ternak dan hewan mereka (14:4-5).
IV. TANAH YANG DIBAGIKAN KEPADA SUKU YEHUDA
Yosua 14:6—15:63 menggambarkan tanah yang dibagikan kepada suku Yehuda.
A. Tuntutan Kaleb
Perkara pertama yang dibahas di sini adalah tuntutan Kaleb (14:6-15; 15:13-19). Kaleb menuntut Hebron dengan pegunungannya (14:10-15). Tuntutannya sesuai dengan sumpah Musa dan janji TUHAN (14:6-9a; Bilangan 14:24; 32:12; Ulangan 1:36). Tanah ini dijanjikan kepada Kaleb karena dia telah sepenuhnya mengikuti TUHAN Allahnya (Yosua 14:9b). Kaleb merebut negeri yang dijanjikan kepada dia melalui Musa dan TUHAN (15:13-15), dan kemudian menantu Kaleb mendapat mata air di daerah itu (ayat 16-19).
B. Bagian Paling Selatan Tanah Permai
Bagian yang diundikan untuk suku Yehuda meluas ke batas tanah Edom, sampai ke padang gurun Zin di selatan, di ujung selatan tanah permai (15:1).
C. Seratus Dua belas Kota dengan segala Anak Kota dan Desa-desanya
Tanah yang dibagikan kepada suku Yehuda termasuk seratus dua belas kota dengan segala anak kota dan desa-desanya (ayat 21-62).
D. Bani Yehuda tidak dapat Menghalau Orang Yebus
Bani Yehuda tidak dapat menghalau orang Yebus, penduduk Yerusalem, yang diam bersama bani Yehuda di Yerusalem (ayat 63).
V. TANAH YANG DIBAGIKAN KEPADA SUKU YUSUF
Yosua 16-17 menggambarkan tanah yang dibagikan kepada suku Yusuf.
A. Dari Yerikho sampai Betel dan ke Laut
Bagian bani Yusuf terbentang dari Yerikho sampai Betel dan ke laut (16:1-4).
B. Tanah yang Dibagikan kepada Bani Efraim,
Putra Kedua Yusuf
1. Dari Yerikho melalui Sungai Yordan sampai Laut
Tanah yang dibagikan kepada bani Efraim, putra kedua Yusuf, terbentang dari Yerikho melalui Sungai Yordan sampai laut (ayat 5-8).
2. Dengan Kota-kota di Tengah-tengah
Warisan Bani Manasye
Bagian tanah ini termasuk kota-kota dengan desa-desa yang dikhususkan bagi bani Efraim di tengah-tengah warisan bani Manasye (ayat 9).
3. Tidak Menghalau Orang Kanaan
yang Diam di Gezer
Bani Efraim tidak menghalau orang Kanaan yang diam di Gezer. Jadi, orang-orang Kanaan diam di tengah-tengah Efraim dan menjadi budak rodinya (ayat 10).
C. Tanah yang Dibagikan kepada Manasye,
Putra Sulung Yusuf
Dalam 17:1-18 kita memiliki catatan tanah yang dibagikan kepada Manasye, putra sulung Yusuf.
1. Gilead dan Bashan telah Dibagikan kepada Makhir, Putra Sulung Manasye
Gilead dan Bashan, sebelah timur Yordan, dibagikan kepada Makhir, putra sulung Manasye (ayat 1b, 5b, 6b).
2. Tanah yang Dibagikan kepada Sisa Bani Manasye
Tanah yang dibagikan kepada sisa bani Manasye di selatan sampai ke Efraim, di barat sampai ke laut, di utara sampai ke Asyer, dan di timur sampai ke Isakhar (ayat 1a, 2, 5a, 7-10).
3. Manasye Memiliki Beberapa Kota dengan segala Anak Kotanya di Negeri Suku Isakhar dan Asyer
Manasye juga memiliki beberapa kota dengan segala anak kotanya di negeri suku Isakhar dan Asyer (ayat 11).
4. Anak-anak Perempuan Zelafehad Menuntut Warisan di antara Saudara-saudaranya
Zelafehad, generasi keempat Manasye, tidak memiliki anak laki-laki tetapi anak-anak perempuan. Anak-anak perempuannya menuntut satu warisan di antara saudara-saudaranya berdasarkan perintah TUHAN kepada Musa (ayat 3-5a, 6a; Bilangan 27:1-11).
5. Bani Manasye tidak dapat Menduduki
Kota-kota di Tanah Mereka
Bani Manasye tidak dapat menduduki kota-kota di tanah mereka, tetapi orang Kanaan bertahan tetap diam di tanah itu. Ketika bani Manasye menjadi kuat, mereka membuat orang Kanaan itu menjadi orang rodi, tetapi orang Kanaan itu sama sekali tidak dihalaunya (Yosua 17:12-13).
6. Bani Yusuf Meminta Tanah Lagi
Bani Yusuf meminta tanah lagi karena mereka bangsa yang banyak jumlahnya. Yosua mendorong mereka untuk merebut pegunungan dengan lembah-lembahnya, walaupun orang Kanaan memiliki kereta-kereta besi dan sekalipun mereka kuat (ayat 14-18).