CARA MENIKMATI KESELAMATAN ALLAH -- TERMASUK PENGUDUSAN TAHAP PERTAMA
Dalam tiga volume sebelumnya, kita telah membahas tiga puluh judul tentang perkara-perkara antara Allah dengan kita, dan antara kita dengan Allah. Dalam volume keempat ini, kita masih perlu membahas secara menyeluruh keselamatan sempurna Allah. Terlebih dahulu kita akan melihat cara menikmati keselamatan sempurna Allah, kemudian kita akan melihat berbagai aspek dari keselamatan sempurna Allah. Menurut wahyu ilahi di dalam Alkitab, jelas ada tiga langkah yang menyusun cara menikmati keselamatan sempurna Allah.
I. PENGUDUSAN ROH KUDUS
1. "Orang-orang yang dipilih sesuai dengan pengenalan diri Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya" (1 Ptr. 1:2; Tl.).
Perkataan di atas memperlihatkan kepada kita, bagaimana Allah Tritunggal membuat keselamatan-Nya mencapai diri kita: Allah Bapa memilih kita menurut pengenalan diri-Nya, Allah Roh menguduskan kita, agar kita mendapatkan penebusan Allah Putra, yang di sini dinyatakan dengan darah Kristus. Menurut pengalaman kita terhadap keselamatan sempurna Allah, pengudusan Allah Roh adalah langkah pertama dalam menikmati keselamatan sempurna Allah. Allah Bapa memilih kita dalam kekekalan lampau menurut pengenalan diri-Nya. Setelah kita dilahirkan, Allah Roh datang menguduskan kita dari dunia, menurut pilihan Bapa, agar kita dapat menikmati penebusan Allah Putra. Jadi, pengudusan Allah Roh merupakan langkah pertama dalam kenikmatan kita akan keselamatan sempurna Allah. Namun, langkah tersebut bukanlah perbuatan kita, melainkan pekerjaan Allah Roh.
Pengudusan Allah Roh memisahkan kita dari dunia, agar kita dapat menjadi milik Allah dan menikmati keselamatan sempurna Allah. Pengudusan di dalam kita tersebut terbagi dalam tiga tahap. Pertama adalah untuk pertobatan kita, kedua adalah untuk pembenaran kita, dan ketiga adalah untuk pengubahan kita. Jadi, kedatangan Allah Roh untuk memisahkan kita, supaya kita bertobat, adalah tahap pertama dari pengudusan sempurna-Nya di dalam kita. Dalam pengudusan tahap pertama itu, ia menerangi kita, membuat kita sadar akan dosa (Yoh. 16:8), mengenali diri sendiri (Luk. 15:17), dan bertobat berpaling kepada Allah (Kis. 26:20).
II. PERTOBATAN KITA
1. "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk. 1:15).
Perkataan di atas memberi tahu kita untuk menikmati keselamatan sempurna Allah, kita harus bertobat dan percaya kepada Injil; yaitu kita harus menerima keselamatan Allah. Jadi, pertobatan kita adalah langkah kedua dalam kenikmatan kita akan keselamatan sempurna Allah.
2. "Menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat . . . satu orang berdosa yang bertobat . . . ia menyadari keadaannya" (Luk. 15:8, 10, 17).
Dalam ayat-ayat ini, menyalakan pelita. menyapu rumah, dan mencari dengan cermat, menandakan bahwa ketika kita mendengar Injil, Allah Roh (Roh Kudus, yang menguduskan kita) menerangi kita dari dalam dan menyingkapkan dosa-dosa kita satu per satu, agar kita mengenal dosa-dosa kita dan bertobat. Jadi, potongan Alkitab ini menunjukkan, bahwa karena penerangan dan penyingkapan Roh Kudus di dalam kita, kita yang berdosa ini sadar dan bertobat. Roh Kudus menerangi dan menyingkapkan kita secara batini untuk menguduskan kita dari dunia, membuat kita berbalik kepada Tuhan dan menerima keselamatan sempurna Allah. Jadi, pengudusan Roh Kudus adalah langkah pertama kita dalam menerima keselamatan, dan pertobatan kita adalah langkah kedua.
3. "Bertobat dan berbalik kepada Allah" (Kis. 26:20).
Pertobatan secara harfiah berarti perubahan dalam pikiran yang menghasilkan penyesalan dan mengakibatkan perubahan tujuan. Kita bertobat dan percaya kepada Tuhan dikarenakan setelah kita mendengar Injil, pikiran kita dikuduskan oleh Roh Kudus, sehingga kita menyesal dan berubah, berbalik kepada Allah, untuk menerima-Nya sebagai sasaran kita dalam segala hal, sejak kini dan seterusnya.
4. "Memberitakan baptisan tobat . . . persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan . . . akan melihat keselamatan yang dari Tuhan" (Luk. 3:3-6).
Melalui banyak pelurusan dan perataan di dalam hati kita, kita melihat (yaitu memiliki) pertobatan dalam keselamatan Allah. Lembah, gunung, yang berliku-liku, dan yang berlekuk-lekuk, adalah ungkapan vang melukiskan keadaan hati manusia terhadap Allah dan terhadap satu sama lain, serta hubungan antar manusia. Ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan, pertobatan kita meluruskan segala yang berliku-liku serta meratakan segala yang berlekuk-lekuk di dalam hati kita, menjadikan seluruh diri kita lurus dan rata bagi Allah, hingga Ia bisa masuk dan menggenapkan keselamatan sempurna-Nya.
III. PERCAYA DAN DIBAPTISNYA KITA
A. Percaya
1. "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk. 1:15).
Perkataan di atas memberitahu kita, bahwa untuk menikmati keselamatan Allah, kita harus bertobat dan percaya. Di pihak negatifnya, ketika kita bertobat, kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita untuk membereskan dan meluruskan keadaan kita yang jatuh dan jauh dari Allah. Di pihak positifnya, ketika kita percaya, kita percaya ke dalam Kristus dan menerima Allah ke dalam kita, agar kita memiliki Dia dan hayat kekal-Nya.
2. "Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya . . . beroleh hidup [hayat] yang kekal" (Yoh. 3:16).
Ketika kita percaya Tuhan, kita percaya ke dalam Tuhan agar kita disatukan dengan-Nya dalam hayat kekal Allah untuk menikmati keselamatan sempurna yang Allah siapkan di dalamnya. Sebab itu, fakta "percaya" adalah "percaya ke dalam" dengan tegas mengandung arti digabungkan dan disatukan.
3. "Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yoh. 1:12).
Percaya tidak hanya percaya ke dalam, tetapi juga menerima. Percaya ke dalam sama dengan disatukan dengan, mengacu kepada disatukannya kita dengan Kristus yang kita percayai. Menerima berarti menerima Kristus yang kita percayai dan yang telah masuk ke dalam kita untuk bersatu dengan kita. Percayanya kita ke dalam Kristus membuat kita berada di dalam Kristus; dengan menerima Kristus, kita membuat-Nya berada di dalam kita. "Di dalam Kristus" adalah awal penyatuan kita dengan-Nya, yang memberi kita kedudukan dan suasana untuk menikmati keselamatan sempurna Allah. Kristus di dalam kita adalah lanjutan dari penyatuan itu, yang selanjutnya memberi kita pengalaman dan unsur-unsur kenikmatan akan keselamatan sempurna Allah. Jika kita membiarkan pengalaman kita atas kedua hal itu -- beradanya kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita -- berlanjut tanpa rintangan atau gangguan, kita akan menikmati keselamatan sempurna Allah dengan kaya dan tanpa henti di dalam Kristus.
4. "Kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman yang sama yang berharga dalam keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" (2 Ptr. 1:1; Tl.).
Iman, yang olehnya kita percaya ke dalam Kristus dan menerima Kristus, dan yang dengannya kita diselamatkan (Ef. 2:8), adalah iman yang berharga yang diberikan kepada kita. "Diberikan" menunjukkan bahwa iman itu bukan dari diri kita; kita memperolehnya dari Allah. Selanjutnya, iman itu "sama", yaitu berasal dari satu sumber yang sama. "Iman yang sama" menunjukkan bahwa iman yang dimiliki oleh kita, yang telah percaya ke dalam Kristus dan telah menerima Kristus, berasal dari satu sumber yang sama, yang dari-Nya kita semua telah menerima bagian. Hal ini seperti seluruh tanah Kanaan yang dibagi-bagikan kepada orang Israel dalam Perjanjian Lama (Yos. 14:1-5). Tanah permai Kanaan melambangkan Kristus yang almuhit dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah memberikan Kristus yang kaya sebagai warisan kepada semua orang yang telah dipilihnya. Warisan itu tercakup di dalam iman, dan melalui iman kita diberi dan telah menerima warisan tersebut. Jadi, iman kita adalah warisan yang kita terima dari Allah. Iman itu juga iman yang olehnya kita diberi dan telah menerima warisan tersebut dari Allah. Maka, warisan yang Allah berikan dan iman yang olehnya kita diberi dan telah menerima warisan Allah adalah satu dan sama, yaitu Kristus sendiri yang Allah berikan kepada kita. Di satu pihak, Kristus yang Allah berikan kepada kita adalah warisan yang kita terima dari Allah; di lain pihak, itu pun iman yang olehnya kita diberi dan telah menerima warisan Allah. Keduanya adalah Kristus. Ketika kita mendengar dan percaya Injil, Roh Kudus yang menguduskan kita dan yang mendorong kita bertobat, membawakan Kristus ke dalam kita, di satu pihak, sebagai warisan yang kita terima dari Allah, di lain pihak, menjadi iman yang olehnya kita diberi dan telah menerima warisan Allah. Keduanya adalah bagian yang Allah berikan kepada kita, yaitu bagian kaum saleh dari Allah (Kol. 1:12). Pula, Roh Kudus yang membawakan Kristus ke dalam kita adalah ekspresi ultima Allah Tritunggal yang mencapai kita dan masuk ke dalam kita untuk membawa masuk Kristus ke dalam kita sebagai bagian kekal kita dari Allah. Jadi, Allah Tritunggal masuk ke dalam umat pilihan-Nya menjadi iman mereka, yang membuat mereka masuk ke dalam-Nya, bersatu dengan-Nya dalam hayat ilahi-Nya. Itulah makna ultima dari iman yang dengannya kita masuk ke dalam Kristus.
B. Dibaptis
1. "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan" (Mrk. 16:16).
Firman yang sederhana dan tegas di atas lebih jauh menampakkan kepada kita, bahwa untuk menikmati keselamatan sempurna Allah, kita tidak hanya harus percaya, tetapi juga harus dibaptis. Percaya dan dibaptis bukan dua langkah, melainkan satu langkah yang memerlukan kedua kaki kita. Keduanya diperlukan untuk melengkapi satu langkah. Percaya adalah realitas batini dari masuknya kita ke dalam Kristus, dan dibaptis adalah pengakuan luaran, kesaksian, tanda, dan pernyataan masuknya kita ke dalam Kristus.
2. "Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal. 3:27).
Percayanya kita secara batini adalah masuknya kita ke dalam Kristus, demikian pula dibaptisnya kita di luar. Bila keduanya digabungkan, baru kita dengan sepenuhnya dan konkrit masuk. Melalui iman dan baptisan kita masuk ke dalam Kristus secara utuh dan konkrit, mengenakan Kristus sebagai kebenaran yang kita peroleh dengan percaya ke dalam-Nya. Demikianlah kita menjadi pewaris Allah (Luk. 15:21-23) yang mewarisi Kristus Allah sebagai warisan kita (Gal. 3:29).
3. "Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya" (Rm. 6:3); ". . . dengan Dia [Kristus] kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan" (Kol. 2:12).
Ketika kita dibaptis ke dalam Kristus, kita juga dibaptis ke dalam kematian-Nya. Dengan dibenamkan ke dalam-Nya, kita bersatu dengan-Nya, dan apa pun yang dialami-Nya menjadi pengalaman kita. Karena Ia telah mengalami maut dan kebangkitan, dengan dibaptis ke dalam-Nya, bersatu dengan-Nya, kita berbagian dalam maut dan kebangkitan yang dialami-Nya. Kita mati bersama-Nya dalam kematian-Nya dan dengan demikian terlepas dari segala hal milik ciptaan lama. Kita pun bangkit bersama-Nya dalam kebangkitan-Nya untuk memasuki segala sesuatu dari ciptaan baru.
4. "Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya [dari air] yaitu baptisan - maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah - melalui kebangkitan Yesus Kristus" (1 Ptr. 3:21).
Seperti air bah menyelamatkan keluarga Nuh dari angkatan yang rusak (Kel. 6:11, 17), baptisan menyelamatkan kita dari dunia yang rusak. Baptisan bukanlah penanggalan kenajisan daging, melainkan permohonan hati nurani yang baik terhadap Allah. Permohonan tersebut adalah permohonan mereka yang dibaptis, agar mereka dapat bersaksi di depan manusia, bahwa semua persoalan mereka dengan Allah telah beres, tidak ada lagi tuduhan dalam hati nurani mereka, sebaliknya mereka penuh damai dan iman, dan mereka telah dibaptis ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19). Selanjutnya, melalui kebangkitan Kristus, yaitu melalui Kristus yang menjadi Roh hayat dalam kebangkitan, mereka secara organik bersatu dengan-Nya.
Pengudusan Roh Kudus, pertobatan kita, percaya dan dibaptisnya kita, yang telah kita bahas di atas adalah tiga langkah yang kita perlukan untuk menikmati keselamatan sempurna Allah di dalam Kristus. Pula, di dalam kita yang mengalami keselamatan sempurna Allah, pengalaman atas realitas ketiga langkah itu hendaknya berulang-ulang seperti suatu peredaran.