← Daftar isi Mengetahui Telah Beroleh Selamat · bab 24/48

PERSEMBAHAN HARTA

(Dianjurkan pelajaran yang panjang ini dapat dibaca dalam dua kesempatan, yang kedua dimulai dari PENGGUNAAN).

Sejak manusia bermasalah terhadap Allah karena kejatuhan dan meninggalkan posisi yang memungkinkannya mendapatkan Allah sebagai segala sesuatu, harta telah menjadi soal peka dalam kehidupan manusia yang telah jatuh. Dalam kejatuhannya, manusia terjerumus ke dalam kegelapan, sehingga hanya mengetahui kekayaan materi dan tidak mengenal Allah, hanya percaya kepada harta dan tidak percaya kepada Allah, bahkan melayani harta benda, memandangnya sebagai Allah dan membiarkan harta benda menggantikan kedudukan Allah. Musuh Allah, yakni Iblis, Satan, memperhebat kejatuhan manusia ini dengan masuk dan menipu manusia untuk menyembah berhala, seperti dewa kekayaan, untuk minta kekayaan dan keuntungan. Di belakang berhala-berhala itu, Iblis merampas penyembahan manusia dan pelayanannya yang seharusnya untuk Allah. Karena alasan itulah Tuhan Yesus memberitahu kita, bahwa orang "tidak dapat melayani Allah dan mamon" (Mat. 6:24). Dalam bahasa aslinya, pelayanan yang disebut Tuhan di sini mengacu pada pelayanan seorang hamba, seperti yang telah kita lihat pada pelajaran sebelumnya. Satan memakai harta kekayaan menggoda manusia untuk menyembahnya, juga memperbudak manusia dalam kekayaan materi, seperti pada orang-orang kikir. Namun, kita telah menerima rahmat Allah dan keselamatan Tuhan, yang membebaskan kita dari kuasa Satan dan memalingkan kita kepada Allah (Kis. 26:18). Setelah kita menerima keselamatan dari Allah, kita dihadapkan pada satu fakta dalam kehidupan nyata, yaitu apa yang harus kita perbuat terhadap harta benda yang dulu dipakai Satan untuk menipu kita dan semua orang di dunia? Bagaimana sikap dan minat kita terhadap harta benda? Bagaimana kita mengatasi masalah harta benda? Apakah sama seperti waktu kita belum beroleh selamat? Atau, haruskah ada perubahan sesuai dengan keselamatan yang telah membebaskan kita dari kuasa Satan dan memalingkan kita kepada Allah? Dalam Alkitab ada petunjuk yang jelas mengenai hal ini. Dalam kedua puluh tiga pelajaran sebelumnya, tercakup tujuh belas pokok tentang berbagai hal penting antara kita dengan Allah. Kini kita akan melihat perkara persembahan harta.

I. PEMBERIAN ALLAH

1. "Jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1 Tim. 6:17).

Firman ini dengan jelas menyingkapkan tipu muslihat Satan, menampakkan kepada kita, bahwa semua benda materi dan kenikmatan dalam hidup kita seolah-olah berasal dari kekayaan yang tidak tentu, tetapi sebenarnya berasal dari Allah. Semua itu berasal dari pemberian Allah yang kaya. Jadi, tidak seharusnya kita menggantungkan harapan kita pada harta benda yang tidak tentu, melainkan kepada Allah, yang memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati.

2. "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu" (3 Yoh. 2).

Baik-baik dalam segala sesuatu mengacu kepada kelimpahan materi, menunjukkan bahwa kenikmatan materi bagi mereka yang beroleh selamat dan yang menjadi milik Allah, berasal dari Allah, Allah yang membuat seorang berkelimpahan dalam materi. Kita harus giat bekerja. Alkitab juga menuntut kita belajar mengerjakan pekerjaan yang baik bagi keperluan kita (Tit. 3:14, 8). Tetapi, tanpa berkat Allah, semua jerih payah kita sedikit hasilnya. Karena itu, dalam perkara suplai materi, berbeda dengan orang dunia yang hanya percaya kepada kekuatannya sendiri, kita harus belajar menaruh harapan kita pada Allah.

3. "Ia yang menyediakan benih bagi penabur . . ." (2 Kor. 9:10).

Alkitab memandang persembahan harta benda sebagai menabur. Benih itu diberi oleh Allah dan berasal dari Allah. Ini menunjukkan bahwa harta benda yang dipersembahkan kaum beriman kepada Allah sebenarnya berasal dari Allah dan diberikan oleh Allah. Jadi, kita hanya mempersembahkan kepada Allah apa yang Allah berikan kepada kita.

II. PESAN TUHAN

1. "Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi . . . tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga" (Mat. 6:19-20).

Kita perlu melihat firman Tuhan ini dari sudut penyimpanan harta benda. Menyimpan harta benda adalah menyimpan kelebihan perolehan seseorang setelah kebutuhan hidupnya terpenuhi. Di sini Tuhan berpesan untuk tidak menyimpan kelebihan harta itu di bumi, melainkan menyimpannya di surga, yakni memakainya demi kepentingan Bapa surgawi, membantu mereka yang kekurangan, berteman dengan mereka (Luk. 16:9), memajukan Injil-Nya (Flp. 1:5), dan lain-lainnya.

2. "Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya" (1 Tim. 6:17-20).

Ini adalah anjuran Rasul, yang sebenarnya adalah pesan Tuhan kepada kita. Orang-orang kaya mengacu kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan dari pemenuhan keperluan hidup mereka. Berbuat baik dan kaya dalam perbuatan baik mengacu kepada membagikan kelebihannya kepada orang yang memerlukan. Suka memberi dan membagi adalah siap membagi dan rela memberi. Ini pun berarti menyimpan harta di surga, meletakkan dasar yang baik sebagai harta di masa yang akan datang. Berbuat demikian berarti mempertahankan, yaitu memiliki, memakai, dan menikmati hidup sejati, hayat kekal Allah. Menyimpan kelebihan harta untuk hidup kita di bumi adalah mempertahankan dan memakai hayat alamiah kita, sedangkan menyimpannya di surga, memakainya demi Allah, adalah mempertahankan dan memanfaatkan hayat kekal Allah.

III. JANJI TUHAN

1. "Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu" (Luk. 6:38).

Ini adalah janji yang diucapkan Tuhan sendiri. Jika kita rela membagi harta benda kita kepada yang memerlukan demi Allah, Ia pasti mencurahkan ke pangkuan kita suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar. Ia tidak akan memberikan ke genggaman kita yang begitu sedikit dan terbatas. Janji yang sungguh menguntungkan!

2. "Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima" (Kis. 20:35).

Mengenai harta benda, manusia yang telah tertipu Satan hanya mau menerima tanpa memberi. Sikap itu adalah siasat Satan, yang menyebabkan manusia kehilangan berkat Allah. Cara terbaik untuk diberkati Allah dalam hal materi adalah memberi, bukan menerima, sama seperti yang dilakukan Tuhan sendiri untuk kita. Tuhan sendiri berjanji, lebih berbahagia memberi daripada menerima. Laksaan orang beriman sepanjang zaman yang percaya firman Tuhan dan melaksanakannya, menegaskan keterandalan janji ini dari pengalaman mereka.

3. "Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga" (2 Kor. 9:6).

Ini adalah hukum alam yang Tuhan tetapkan di dunia biologis. Hukum ini mengandung janji-Nya. Mempersembahkan harta seperti menabur. Menabur akan menghasilkan tuaian; yang menabur sedikit, menuai sedikit, yang menabur banyak akan menuai banyak. Dalam pandangan manusia, mempersembahkan harta adalah mendermakan harta. Namun, dalam pandangan Allah, persembahan itu seperti menabur yang menghasilkan tuaian. Yang mempersembahkan sedikit, akan menuai sedikit; yang mempersembahkan banyak, akan menuai banyak. Kita wajib percaya janji Allah dalam hukum ini.

4. "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (Mal. 3:10).

Persembahan persepuluhan adalah jumlah persembahan yang ditetapkan Allah bagi bangsa Israel atas panen mereka dalam Perjanjian Lama. "Rumah perbendaharaan" mengacu kepada tempat dalam Bait Suci Perjanjian Lama, tempat menyimpan semua persembahan kepada Allah.

"Rumah-Ku" mengacu kepada Bait Suci Perjanjian Lama. Firman ini dengan sangat tegas menunjukkan janji Allah yang kaya tak terbatas. Meskipun janji itu ditujukan kepada orang Israel dalam Perjanjian Lama, pada prinsipnya juga berlaku bagi kaum beriman Perjanjian Baru. Jika kita sepenuhnya mempersembahkan yang seharusnya untuk Allah kepada Allah, agar gereja tersuplai dengan limpah, Allah pasti membuka tingkap-tingkap langit bagi kita dan mencurahkan berkat kepada kita, sampai tidak tertampung. Inilah janji TUHAN semesta alam. Kita boleh mempersembahkan kepada-Nya menurut janji-Nya untuk menguji-Nya.

IV. PENGGUNAAN

1. Untuk keperluan gereja

Dalam Perjanjian Lama, Allah ingin setiap umat-Nya, orang Israel, mempersembahkan uang tebusan bagi nyawanya kepada-Nya. Persembahan itu dipakai untuk tempat kediaman Allah, yakni Kemah Pertemuan dan Bait (Kel. 30:11-16). Gereja hari ini adalah kemah Allah yang sejati (tempat kediaman--Ef. 2:22) dan bait yang sejati (1 Kor. 3:16-17). Kita, kaum beriman Perjanjian Baru, juga wajib mempersembahkan kepada Allah untuk memenuhi berbagai kebutuhan gereja di tempat kita berada.

2. Untuk kemajuan injil -- "Karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini" (Flp. 1:5).

Persekutuan dalam ayat ini mengacu kepada berbagian, menikmati. Dari hari pertama mereka beroleh selamat, sampai saat Paulus menulis surat ini kepada mereka, kaum beriman Filipi terus-menerus menunjang kebutuhan Paulus dengan harta benda dalam pemberitaan Injilnya, bagi kemajuan Injil. Dengan demikian mereka berbagian dan menikmati bersama Paulus dalam kemajuan Injil. Hal ini memberi tahu kita, begitu kita beroleh selamat, kita harus mempersembahkan kelebihan harta benda kita kepada Allah, yang diberikan-Nya kepada kita untuk kemajuan Injil-Nya.

3. Menyuplai hamba-hamba Allah -- "Orang-orang Filipi . . . kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku [Rasul Paulus]" (Flp. 4:15-16).

Mereka yang melayani Tuhan sepenuh waktu tidak mempunyai waktu mencari nafkah bagi diri sendiri. Karena itu perlu ada kaum beriman yang menyuplai mereka dengan harta benda yang mereka persembahkan kepada Tuhan. Satu Timotius 5:17 mengatakan, kaum beriman wajib menyuplai penatua yang baik pimpinannya, juga yang berjerih lelah dalam pelayanan firman dan mengajar (penatua setempat), dengan harta benda.

4. Membantu kaum saleh yang kekurangan:

a. "Turutlah menanggung kekurangan orang-orang kudus (Rm. 12:13).

Ayat ini menampakkan kepada kita, bahwa kita harus membantu kaum saleh yang kekurangan harta benda. Ini juga salah satu penggunaan persembahan harta kita.

b. "Hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin" (Gal. 2:10).

Kita juga harus mengingat orang-orang miskin (khususnya kaum saleh yang miskin), menyuplai mereka dengan harta benda yang kita terima dari Allah.

V. JUMLAH

1. ". . . sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing" (Kis. 11:29); "Hendaklah kamu masing-masing - sesuai dengan apa yang kamu peroleh - menyisihkan sesuatu .. ." (1 Kor. 16:2).

Kita telah nampak, bahwa menurut 3 Yohanes 2, kekayaan (harta) adalah berkat Allah yang diberikan kepada kita. Kita harus menetapkan jumlah persembahan kita kepada Allah berdasarkan berkat-Nya kepada kita. Setiap orang harus menetapkan sendiri berdasarkan miliknya, bukan berdasarkan yang tidak dimilikinya (2 Kor. 8:12).

2. "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Kor. 9:6-7).

Dalam hal persembahan harta, kita menuai sedikit jika kita menabur sedikit, dan menuai banyak jika kita menabur banyak. Setiap orang harus menetapkan dalam hatinya berapa banyak persembahannya, tanpa sedih atau paksaan, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

VI. PELAKSANAANNYA

1. "Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus . . . Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami" (2 Kor. 8:4-5).

Gereja-gereja di Makedonia memberikan harta benda mereka kepada kaum saleh yang kekurangan di Yudea, sepihak karena memohon kepada rasul-rasul untuk berbagian dalam anugerah dan persekutuan ministri ini, di lain pihak, lebih-lebih karena berdasarkan kehendak Allah, dengan memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Tuhan, dan kemudian kepada rasul-rasul. Ini menampakkan kepada kita bahwa persembahan harta benda yang paling diperkenan Tuhan adalah mempersembahkan diri kita dahulu kepada Tuhan, lalu kepada rasul-rasul, yang memperhatikan kita, terakhir meminta mereka memberi kita bagian dalam anugerah dan persekutuan.

2. "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu [berderma] di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Mat. 6:1-4).

Kita mempersembahkan harta kepada Allah, untuk keperluan apa pun, jangan melakukannya untuk dilihat orang agar kita dimuliakan dan dipuji orang. Jika tidak demikian, kita tidak akan dibalas oleh Bapa yang di surga. Karena itu, janganlah diketahui tangan kiri kita, apa yang diperbuat tangan kanan kita. Kita harus mempersembahkan dengan diam-diam agar Bapa surgawi, yang melihat apa yang kita lakukan, membalas kepada kita, memberi kita pahala seperti yang dijanjikan-Nya di atas.

Menurut pesan Tuhan dalam perkataan ini, kita harus berusaha sebisanya agar orang lain tidak tahu persembahan harta kita. Sumbangan terdaftar atau pemberian secara terbuka harus dihindari. Karena alasan itulah kita menyediakan kotak persembahan di tempat sidang agar kaum beriman dapat memasukkan persembahan mereka ke dalam kotak-kotak itu secara diam-diam. Ini sesuai dengan cara umat Allah Perjanjian Lama menaruh uang mereka ke dalam kotak persembahan (2 Raj. 12:9).

VII. MAKNANYA

1. Persekutuan dengan penerima -- "Ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus" (2 Kor. 8:4).

Menyuplai kaum saleh dengan harta benda adalah persekutuan yang mendatangkan kasih karunia kepada pemberi dan penerima.

2. Kebenaran terhadap manusia di hadapan Allah -- "Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya" (2 Kor. 9:9).

Memberikan harta benda kepada orang miskin adalah kebenaran terhadap manusia di hadapan Allah. Allah memelihara orang miskin dan ingin umat-Nya juga memperhatikan mereka (Ul. 15:7-8). "Siapa yang menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memiutangi Tuhan" (Ams. 19:17). Inilah hukum yang ditetapkan Allah yang mengatur hubungan antar manusia. Jadi, jika kita berbuat menurut hukum Allah, kebenaran kita terhadap manusia di hadapan Allah akan kekal. Dalam undang-undang kerajaan, Tuhan Yesus juga menganggap sedekah kita sebagai kebenaran (Mat. 6:1-4). Jika kita yang hidup dalam Kerajaan Surga Tuhan tidak berderma dan tidak memberikan harta benda kita untuk kepentingan Allah, kita melanggar hukum tertinggi kerajaan itu. Memberikan harta benda pemberian Allah kepada orang miskin bukan hanya kebaikan (Ibr. 13:16), juga kebenaran. Kita mungkin saja berbuat tidak baik, tetapi wajib melakukan kebenaran, karena itu adalah tugas kita. Jika kita gagal berbuat kebenaran, kita tidak benar terhadap manusia di hadapan Allah.

3. Persembahan yang diperkenan Allah -- "Janganlah kamu lalai untuk berbuat baik dan memberi bantuan, sebab kurban-kurban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah" (Ibr. 13:16); "Kini aku telah menerima semua yang perlu dari kamu . . . suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah" (Flp. 4:18).

Di sini berbuat baik mengacu kepada memberikan harta benda kepada orang lain, yang merupakan persembahan yang diperkenan Allah. Persembahan harta kita kepada hamba-hamba Allah juga merupakan kurban yang diperkenan Allah dan menyukakan Allah.

4. Bau-bauan harum yang diperkenan Allah -- "Menerima semua yang perlu dari kamu . . . suatu persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Flp. 4:18).

Bau-bauan yang harum di sini mengacu pada bau harum korban bakaran (Kej. 8:20-21; Im. 1:9). Persembahan yang kita berikan kepada hamba-hamba Allah bukan hanya kurban bagi Allah, juga bau-bauan harum kurban bakaran yang menyukakan Allah. Ini menyatakan, bahwa persembahan di sini seperti kurban bakaran yang memuaskan dan menyenangkan Allah.

Keempat makna persembahan harta tersebut di atas menunjukkan kepada kita pentingnya dan berharganya persembahan semacam itu. Dengan dipersembahkan kepada Allah untuk kepentingan-Nya oleh kita yang adalah milik Allah, apa yang Allah anggap "mamon yang tidak jujur" (Luk. 16:9), yakni kekayaan yang menipu (Mat. 13:22) dan kekayaan yang tak tentu (1 Tim. 6:17), yang akan "tidak dapat menolong" (Luk. 16:9), sebenarnya dapat menjadi "persekutuan" kita dengan kaum saleh, "kebenaran" kita terhadap manusia di hadapan Allah, "kurban" yang diperkenan Allah, dan "bau-bauan harum" yang menyukakan Dia. Harta yang menipu, merusak, dan membinasakan manusia sebenarnya dapat menjadi berkat yang tak terduga bagi kita di hadapan Allah! Semuanya ini tergantung pada persembahan harta kita.

PELAJARAN HAYAT

(3)

BAB

25 26 27 28 29 30 31 32

33 34 35 36