SEJARAH MENGENAI SAMUEL (5)
MINISTRINYA
(2)
Pembacaan Alkitab: 1Sam. 8
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas sejarah mengenai ministri Samuel.
II. AKHIR MINISTRI SAMUEL
Dalam pasal delapan kita nampak akhir ministri Samuel.
A. Menjadikan Anak-anaknya Hakim atas Orang Israel
Samuel menjadikan anak-anaknya hakim atas orang Israel (ay. 1-3). Namun, mereka tidak mengikuti jalan-jalannya (ay. 3a) tetapi mereka mengejar laba, menerima suap dan memutar balikkan keadilan (ay. 3b). Hal ini jahat di pandangan Allah (Kel. 18:21; 23:8; Ul. 16:19) dan berkebalikan dengan kemurnian dan jalan ayahnya dalam seluruh hidupnya (1Sam 12:3-5). Maka, anak-anak Samuel seharusnya tidak dianggap sebagai hakim-hakim di antara umat Israel, dan ayah mereka Samuel seharusnya dianggap sebagai hakim yang terakhir. Maka, Samuel mengakhiri sistem hakim-hakim.
B. Menjadikan Sebab Bangsa Israel Meminta Kepadanya untuk Menunjuk Seorang Raja sebagai Hakim Mereka seperti Bangsa-bangsa Lain
Cara yang tak jujur anak-anak Samuel menjadi sebab bangsa Israel untuk meminta kepadanya untuk menunjuk seorang raja sebagai hakim mereka seperti bangsa-bangsa lain. Para tua-tua bangsa itu berkata kepadanya, “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (8:5)
1. Melalui Meminta Dia untuk Menunjuk Seorang Raja, Bangsa Israel Mengesalkan Samuel
Melalui meminta Samuel untuk menunjuk seorang raja sebagai hakim mereka, bangsa Israel mengesalkannya dan menyebabkan dia berdoa bagi mereka (ay. 6).
a. Samuel tidak Senang Melihat Umat Allah Menolak Allah sebagai Raja Mereka
Samuel tidak senang melihat bahwa umat Allah menolak Allah sebagai Raja mereka. Sejak generasi pertama umat manusia, manusia telah menolak Allah sebagai Raja, Kepala, dan Suami.
b. Samuel tidak Menyukai melihat Umat Allah Mengikuti Cara Bangsa-bangsa
Samuel juga tidak menyukai melihat bahwa umat Allah mengikuti cara bangsa-bangsa. Orang Isreal telah dipilih Allah menjadi umat yang khusus di bumi, dan karena itu mereka harusnya dengan mutlak berbeda dalam segala hal dari bangsa-bangsa lain. Namun, mereka mengikuti cara bangsa-bangsa melalui menolak Allah.
2. Bangsa Israel Menghina Allah melalui Menolak Dia, Mengganti Dia sebagai Raja Mereka
Bangsa Israel tidak saja mengesalkan Samuel tetapi juga menghina Allah melalui menolak Dia, menggantikan Dia sebagai Raja mereka. “TUHAN berfirman kepada Samuel, dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi Raja atas mereka” (ay. 7).
a. Sebenarnya, Allah adalah Raja Bangsa Israel
Dalam 12:12 Samuel berkata, “maka kamu berkata kepadaku, Tidak, seorang raja harus memerintah kami, padahal TUHAN, Allahmu, adalah Rajamu.” Dari sini kita nampak bahwa sebenarnya Allah adalah Raja atas bangsa Israel.
b. Meminta Seorang Raja sebagai Pengganti Allah Sama Dengan Menolak Allah
Mereka meminta seorang raja sebagai pengganti Allah sama dengan menolak Allah. Inilah kekejian besar, kejahatan besar, di pandangan Allah (ay. 17, 19).
c. Allah Memerintahkan Samuel untuk Mendengarkan Suara Bangsa itu tetapi Memperingatkan Mereka dengan Sungguh-sungguh
Allah memerintahkan Samuel untuk mendengarkan suara bangsa itu tetapi memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh dan menyatakan kepada mereka bahwa raja yang bengis akan memerintah atas mereka, memberi tahu mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah atas mereka (8:9).
d. Samuel Melakukan apa yang Allah Perintahkan Kepadanya
Samuel melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya, katanya “Segala firman Tuhan kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya” (ay. 10-18).
e. Bangsa itu Menolak Mendengarkan Perkataan Samuel
Bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel (ay. 19a). Sebaliknya, mereka berkata, Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang” (ay. 19b-20).
f. Samuel Menyampaikan kepada TUHAN dan Menunjuk Seorang Raja bagi Mereka
Samuel mendengar semua perkataan bangsa itu dan kemudian menyampaikan kepada TUHAN, perkataan mereka didengar TUHAN. Kemudian TUHAN memerintahkan dia mendengarkan permintaan mereka dan menunjuk seorang raja bagi mereka (ay. 21-22).
g. Umat Allah Meninggalkan Dia Berpaling kepada Manusia
Dengan memaksa untuk memiliki seorang raja, umat Allah berpaling dari Allah kepada manusia. Dari sini kita harus belajar pelajaran ini bahwa bukan apa yang kita kerjakan, bukan perkara betapa baiknya, “rohani,” dan bahkan mungkin alkitabiah, selama kita telah menggantikan Allah, hal ini jahat. Kita mungkin melakukan hal yang baik, tetapi hal yang baik ini adalah jahat di pandangan Allah selama kita menolak Dia sebagai Suami kita, dan Raja kita. Hal ini bukan perkara baik dan buruk, benar atau salah; ini adalah perkara apakah kita mengambil Allah sebagai Raja kita atau menolak Dia. Bahkan dalam perkara kecil seperti berbelanja, kita sering menggantikan diri Allah sendiri. Inilah alasannya orang Nazir harus selalu memelihara rambutnya panjang, menudungi kepalanya dengan diri Allah sendiri sebagai otoritasnya.
Kita perlu belajar mengambil Allah sebagai Kepala kita dalam kehidupan pernikahan kita. Ketika kita berbantah-bantahan dengan pasangan hidup kita, jalan satu-satunya yang memutuskan perselisihan adalah menghentikan perbantahan dan datang kepada Raja kita, Kepala kita. Walaupun saya adalah seorang suami, saya tidak akan melaksanakan kekepalaanku. Lebih baik, saya bersama istri menghampiri Suamiku, Suami kita, untuk melihat apakah Suami kita, Allah itu, yang akan katakan kepada kita. Apa yang Dia katakan, kita mengambilnya. Hal ini akan menghentikan setiap masalah dan mempertahankan kehidupan pernikahan yang baik dan tepat.
Kita perlu belajar pelajaran yang sama mengenai melayani Allah dalam kehidupan gereja. Mengenai setiap masalah yang berhubungan dengan ekonomi Allah, kita harus menghentikan pertengkaran, pergumulan, dan perdebatan, dan alasan dan pergi kepada Kepala kita. Kita harus berdiri pada posisi bahwa kita memelihara rambut panjang kita; kita harus memelihara nazar kita sebagai seorang Nazir.
Saya menemukan orang-orang yang memberontak kira-kira tiga kali dalam empat puluh empat tahun. Setiap kali, saya memberi tahu saudara-saudara, “mari kita menghentikan dan pergi kepada Tuhan dan berdoa bersama-sama. Mari kita mengumpulkan orang-orang yang memimpin dalam pemulihan Tuhan dan datang bersama-sama untuk berdoa dan bersekutu.” Tetapi mereka tidak pernah setuju. Kita semua perlu belajar dari hal ini untuk menerima Tuhan sebagai Kepala kita, Suami kita, dan Raja kita. Inilah jalan satu-satunya untuk berbagian dalam penggenapan ekonomi kekal Allah.
III. SAMUEL ADALAH SEORANG YANG MENGALIHKAN ZAMAN DALAM ADMINISTRASI ALLAH DARI ZAMAN KEIMAMAN KE ZAMAN KENABIAN BERSAMA RAJANI
Samuel adalah seorang yang mengalihkan zaman dalam administrasi Allah dari zaman keimaman ke zaman kenabian bersama rajani. Inilah perihal besar bukan saja dalam sejarah orang Israel bahkan dalam sejarah umat manusia.
Kenabian yang tepat selalu membantu rajani. Hal ini harus menjadi satu pelajaran bagi kita. Dalam kehidupan gereja hari ini, para penatua menjabat rajani. Jika kalian bukan seorang penatua dan kalian melihat sesuatu dalam gereja yaitu tidak benar, kalian seharusnya tidak pernah mengkritik, menentang, atau menggosip. Kalian perlu menjadi seorang nabi melalui berdoa kepada Tuhan untuk menerima perkataan dari-Nya. Jika kalian tidak menerima perkataan dari Tuhan, kalian tidak seharusnya mengatakan sesuatu. Tetapi jika, dalam belaskasihan-Nya kepada gereja-Nya, Tuhan memberi kalian perkataan, suatu nubuat, kemudian kalian datang kepada para penatua dan bernubuat kepada mereka. Para penatua akan menyadari bahwa mereka yang menjabat rajani, harusnya belajar bahwa mereka tidak begitu mampu, sehingga mereka mungkin tidak sempurna. Karena itu, mereka harus mendengar nubuat saudara-saudaranya. Inilah keadaan yang tepat dalam kehidupan gereja.
A. Setelah Musa, Administrasi Allah Berpusat pada Keimaman
Musa adalah seorang nabi, dan setelah dia administrasi Allah berpusat pada keimaman.
B. Keimaman adalah untuk Melayankan Firman Allah kepada Umat-Nya dan Melaksanakan Otoritas Allah atas Umat-Nya
Keimaman adalah untuk melayankan firman Allah kepada umat-Nya dan melaksanakan otoritas Allah atas umat-Nya. Kita semua perlu belajar melaksanakan dua hal ini. Walaupun, seorang mungkin menjadi seorang nabi, memiliki satu visi kekayaan Kristus, tetapi dia tidak dapat mengenal bagaimana melaksanakan otoritas Allah mengambil cara yang tepat untuk membereskan kekurangan visi mengenai kekayaan Kristus. Masalah dalam kehidupan gereja adalah sering disebabkan oleh mereka yang tidak mengenal bagaimana melaksanakan otoritas Allah.
Sekali lagi saya ingin menekankan fakta bahwa Samuel tidak pernak melakukan pemberontakan, dan pengalihan zamannya bukan melalui revolusi. Terlebih lagi, hal ini dengan mutlk adalah perkara wahyu ilahi. Dia bertingkah laku, kerjakan, ministrikan dan layankan bersama-sama dengan cara yang halus, sederhana, dan tepat. Dia adalah seorang wahyu, dan dia melakukan sesuatu menurut apa yang dia nampak. Lebih jauh lagi, dia adalah seorang yang menurut hati Allah; yaitu, dia adalah satu copy, satu duplikat hati Allah. Sebagai seorang yang demikian, dia tidak pernah melakukan pemberontakan.
C. Imamat Harun Kekurangan Allah dalam Melayankan Firman-Nya dan dalam Melaksanakan Otoritas-Nya
Imamat Harun kekurangan Allah dalam dua hal: dalam melayankan firman-Nya dan dalam melaksanakan otoritas-Nya. Inilah mengapa Perjanjian Baru memerintahkan para penatua untuk belajar melakukan dua hal: untuk mengajar kaum saleh (1Tim. 3:2; 5:17), yaitu, membicarakan firman Allah; dan memimpin di antara kaum saleh (Ibr. 13:7; 1Ptr. 5:1-3), yaitu, melaksanakan otoritas Allah. Jika para penatua mengajar kaum saleh, mereka harus memimpin melaksanakan apa yang mereka ajarkan. Inilah melaksanakan otoritas Allah melalui memimpin.
Ketika imamat tepat, para imam menjadi teladan umat itu. Apa yang para imam ajarkan dan apa yang mereka laksanakan dalam otoritas Allah, mereka sendiri lakukan, memimpin melaksanakan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi kekal Allah. Sebagai contoh, para imam memimpin menyeberangi sungai Yordan dan memudian mengelilingi kota Yerikho. Inilah cara yang tepat melaksanakan otoritas Allah. Hari ini, inilah cara yang tepat memperhatikan gereja, mengajar untuk berbicara bagi Allah dan memimpin untuk melaksanakan otoritas Allah.
D. Allah Memulai Zaman Baru dengan Membangunkan Samuel untuk Menggantikan Imamat yang Pudar
Pada saat keimaman yang ditetapkan Allah pudar, Allah memulai satu zaman baru dengan membangunkan Samuel, seorang Nazir muda, sebagai seorang imam yang setia untuk menggantikan imamat yang pudar (1Sam. 2:35). Allah melayankan firman-Nya kepada umat pilihan-Nya melalui mendirikan Samuel sebagai seorang nabi dalam kenabian yang dipertinggi (3:20-21), dan Dia melaksanakan otoritas-Nya atas umat pilihan-Nya melalui Dia membangunkan Samuel sebagai seorang hakim (7:15-17).
E. Samuel Mengakhiri Sistem Hakim-hakim dan Membawa Rajani dengan Menguatkan dan Meninggikan Kenabian
Samuel, sebagai seorang hakim, mengakhiri sistem hakim-hakim, dan sebagai seorang imam baru, membawa masuk rajani dengan menguatkan dan mempertinggi kenabian, yang mana Samuel didirikan sebagai nabi pertama (Kis. 3:24; 13:20; Ibr. 11:32). Hal ini berarti bahwa Allah telah mengesampingkan kenabian yang lama yang semakin rusak. Keimaman yang lama memiliki firman Allah dan melaksanakan kekuasaan Allah. Allah menggantikannya dengan mempertinggi kenabian untuk membicarakan firman Allah kepada umat-Nya dan rajani untuk berkuasa atas umat Allah.
Kondisi sedemikian dibangun di antara umat Allah melalui Samuel. Dia menetapkan jenis pemerintahan administrasi dalam ekonomi Allah sehingga Allah dapat menggenapkan janji-Nya kepada seluruh bapak-bapak leluruh dan menggenapkan kedambaan-Nya menurut ekonomi-Nya, yaitu, memiliki garis silsilah untuk membawa Kristus ke bumi. Sesungguhnya, membawa masuk Kristus adalah hal terbesar. Hari ini kita berbagian dalam keuntungan dari pelayanan Samuel. Terima kasih Allah untuk hal ini.