← Daftar isi 1 dan 2 Samuel (3) · bab 4/30

SEJARAH MENGENAI SAMUEL (3)

HUBUNGANNYA DENGAN IMAMAT HARUN YANG BASI DAN PUDAR

(2)

Pembacaan Alkitab: 1Sam. 4:1—7:2

Dalam membaca Alkitab kita perlu memiliki pandangan yang jelas tentang ekonomi Allah dan memahami setiap hal dalam Alkitab yang berhubungan dengan ekonomi Allah. Mengapa Allah menciptakan alam semesta? Allah melakukan hal ini bagi ekonomi-Nya. Sekarang kita sampai pada hubungan Samuel dengan imamat Harun yang basi dan pudar yang digambarkan dalam 4:1—7:2, kita perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dicatat di sini dalam terang ekonomi Allah. Hal ini penting untuk kita nampak bahwa orang Israel menjadi merosot karena mereka tidak memperhatikan ekonomi Allah, bagi pergerakan-Nya di bumi, dan bagi kerajaan-Nya

V. MENGETAHUI NASIB BURUK TABUT ALLAH DI BAWAH KETAKHYULAN IMAMAT HARUN YANG MEROSOT DAN BOBROK

Samuel mengamati nasib buruk tabut Allah di bawah ketakhyulan imamat Harun yang merosot dan bobrok. Sebagaimana Samuel mengamati semua hal ini, dia telah menerima suatu kesan yang dalam, dan perihal ini menjadi satu pelajaran bagi dia.

A. Disalahgunakan, karena Ketakhyulannya untuk Kemenangan dalam Peperangannya Melawan Orang Filistin, oleh Para Tua-tua Bangsa Israel, Yang Merosot dari Garis Ekonomi Allah

Tabut Allah disalahgunakan oleh para tua-tua bangsa Israel, yang merosot dari garis ekonomi Allah (4:1-8). Para tua-tua menyalahgunakan tabut dalam ketakhyulan mereka untuk kemenangan dalam peperangannya melawan orang Filistin. Karena bangsa Israel telah dikalahkan oleh orang Filistin, para tua-tua Israel mengusulkan bahwa bangsa itu membawa tabut Allah dari tabernakel di Silo ke medan peperangan bersama mereka. Para tua-tua berkata, “Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita” (ay. 3b). Ketika tabut sampai ke perkemahan, bangsa itu gembira dan “bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar” (ay. 5). Mereka bersandar dalam sistem yang ditetapkan oleh Allah, tetapi mereka tidak bersandar pada Allah secara langsung. Mereka seharusnya bertobat kepada Allah dari kejatuhan dan kesalahan mereka terhadap Dia seperti apa yang Dia ingin mereka lakukan. Sebelum membawa tabut Allah keluar tabernakel, mereka seharusnya memeriksa bersama Allah seperti Yosua lakukan di (Yerikho Yos. 6:2-4). Para tua-tua mengetahui sejarah Yerikho, tetapi karena mereka telah merosot, tidak memiliki hati bagi kedambaan Allah atau ekonomi kekal-Nya, keadaan mereka mutlak berbeda.

Tabut adalah lambang Kristus sebagai perwujudan Allah. Ini juga melambangkan Kristus sebagai Allah Tritunggal yang hadir bersama umat-Nya untuk melaksanakan ekonomi-Nya untuk mendirikan kerajaan-Nya di bumi. Membawa tabut keluar juga membawa pernyataan Allah keluar. Ketika bangsa Israel mulai bergerak bersama tabut dari gunung Sinai, Musa mempersembahkan pujian kepada Allah, katanya, “Bangkitlah, Tuhan, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu (Bil. 10:35). Tabut kelihatannya di depan yang memimpin perjalanan itu. Pergerakan tabut adalah gambaran pergerakan Allah di bumi.

Dalam 1Samuel 4 para tua-tua Israel sebenarnya menyalahgunakan Allah. Pada saat itu, Allah tidak dapat bergerak. Bangsa Israel tidak memikirkan atau memperhatikan ekonomi Allah, dan mereka membawa tabut keluar menunjukkan bahwa mereka menyalahgunakan Allah bagi keselamatan, kedamaian, perhentian, dan keuntunganya. Mereka menyalahgunakan Allah, bahkan memaksa Dia, pergi bersama mereka.

Hari ini banyak orang Kristen menyalahgunakan Allah dengan berdoa bagi kesejahteraan, kesembuhan, atau keluarga mereka tanpa memperhatikan ekonomi Allah. Ketika kita meminta Allah bagi kesembuhan-Nya, kita harusnya sangat berhubungan dengan ekonomi-Nya. Jika kalian sakit, kalian tidak seharusnya berdoa bagi kesembuhan dengan menyalahgunakan Allah. Sebaliknya, dari kedalaman roh kalian, kalian harus berkata, “Tuhan, aku bukan di bumi ini bagi kesembuhanku, kesejahteraanku, anak-anakku, atau pekerjaanku. Aku ada di sini bagi Ekonomi-Mu. Apakah Engkau masih mau aku hidup di bumi ini bagi ekonomi-Mu? Aku telah nampak ekonomi-Mu, aku menyadari bahwa Engkau perlu orang Nazir, dan Aku memiliki hati menjadi seorang Nazir bagi-Mu. Sebagai seorang yang telah dilahirkan Allah dan yang memiliki hayat dan sifat Allah, aku bertanya kepada-Mu apa yang ada di dalam hati-Mu mengenai aku.” Jika Allah bermaksud bahwa kalian melanjutkan hidup di bumi bagi ekonomi-Nya, kalian akan disembuhkan, melalui seorang dokter atau melalui banyak cara yang lain. Poin di sini adalah, sementara menyalahgunakan kuasa Allah, kita harus berdoa, hidup, dan menjadi seorang yang menurut hati Allah dan bagi ekonomi-Nya.

B. Ditawan oleh Kemenangan Orang Filistin, Menunjukkan bahwa Kemuliaan Telah Meninggalkan Orang Israel

Akhirnya, tabut Allah, yang bersama bangsa Israel selama kurang lebih 400 tahun, ditawan oleh kemenangan orang Filistin, menunjukkan bahwa kemuliaan telah meninggalkan orang Israel (4:9-22). Sejak saat itu tabut mulai memiliki sejarah di dalam sejarah orang Israel.

Sejangka waktu setelah bangsa Israel membawa tabut Allah keluar, mereka dikalahkan, dan tabut ditawan. Tiga puluh ribu orang di antara orang Israel dibunuh, dan dua anak Eli, Hopni dan Pinehas juga di bunuh. Eli kemungkinan memiliki sejenis intuisi mengenai tabut Allah. Malahan tinggal di rumah, dia duduk “di kursi di tepi jalan menunggu-nunggu, sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah” (ay. 13a). Ketika kabar sampai bahwa tabut Allah telah di tawan, Eli jatuh ke belakang, batang lehernya patah dan mati, pada saat itu juga menantu Eli, istri Pinehas, melahirkan anaknya dan menamainya Ikabod, yang berarti “tidak ada kemuliaan.” Kemudian dia berkata, “Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas” (ay. 22). Karena tabut TUHAN telah ditawan, kemuliaan telah meninggalkan orang Israel.

Peristiwa-peristiwa ini telah menjadi kesan yang dalam atas Samuel yang muda. Setiap malam dia berpikir tentang mereka, katanya, “Di sini aku di dalam tabernakel, dan pusat tabernakel adalah tabut. Hari ini para tua-tua membawa tabut itu keluar, tetapi Eli, yang menjadi pengawas aku, tidak damai. Hatinya berdebar-debar menantikan kabar. Ketika kabar tentang apa yang terjadi terhadap tabut dan terhadap Hopni dan Pinehas sampai, Eli jatuh ke belakang dan mati. Menantunya juga mati setelah melahirkan anaknya. Sebelum dia mati, dia menamai anaknya Ikabod.” Saya percaya bahwa Samuel, anak itu penuh dengan pemikiran, memperhatikan makna dari semua hal ini.

C. Tabut Mengalami Pemindahan dari Tempatnya di antara Orang Filistin, Secara Berturut-turut

Setelah ditawan, tabut mengalami pemindahan dari tempatnya di antara orang Filistin, secara berturut-turut; dan TUHAN menanggulangi mereka secara hebat untuk melindungi tabut-Nya (5:1-12). Allah melindungi tabut-Nya berarti Dia melindungi kekudusan-Nya.

1. Melalui Mengrusak Dagon Allah orang Filistin

Pertama, TUHAN menanggulangi orang Filistin dengan merusak Dagon dewa mereka, yang berarti “dewa ikan” (ay. 1-5). Setelah orang Filistin membawa tabut ke Asdod, mereka membawanya ke dalam kuil Dagon dan meletakkanya setelah Dagon (ay. 2). Pagi-pagi, orang Asdod menemukan Dagon “terjatuh dengan mukanya ke tanah, di hadapan tabut TUHAN” (ay. 3a). Mereka meletakkan kembali Dagon di tempatnya, tetapi “ketika kesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal” (ay. 4).

2. Melalui Memukul Mereka dengan Borok-borok

Kedua, TUHAN menanggulangi orang Filistin dengan memukul mereka dengan borok-borok (ay. 6-12). Ayat 6 mengatakan, “Tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya.” Akhirnya, orang Asdod berkata bahwa tabut Allah orang Israel tidak dapat tinggal bersama mereka, sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon allah mereka (ay. 7). Raja-raja orang Filistin membawa tabut ke Gat, tetapi “setelah mereka memindahkannya, maka tangan TUHAN mendatangkan kegemparan yang sangat besar atas kota itu, anak-anak dan orang dewasa, sehingga timbul borok-borok pada mereka” (ay. 9). Kemudian tabut dikirim ke Ekron. Namun, ketika tabut Allah tiba di sana, orang Ekron berteriak bahwa tabut Allah orang Israel telah dibawa kepada mereka untuk membunuh mereka. Maka, mereka memberi tahu semua raja orang Filistin untuk mengirimkan tabut Allah orang Israel dan mengijinkan untuk membawa kembali ke tempatnya sehingga tidak akan membunuh mereka. “Sebab di seluruh kota itu ada kegemparan maut; tangan TUHAN menekan orang-orang di sana dengan sangat berat”(ay. 11).

D. Tabut Mengalami Pemindahan Lain dari Filistin Kembali ke Israel, Tiba di Bet-Semes

Dalam pasal enam kita nampak bahwa tabut mengalami pemindahan lain, dari Filistin kembali ke Israel, tiba di Bet-Semes. Setelah tabut TUHAN selama tujuh bulan di negeri Filistin, orang Filistin bertanya kepada para imam dan para petenung untuk mengetahui bagaimana mereka seharusnya mengirimkan tabut ke tempatnya semula (ay. 1-2).

1. Dengan Cara Takhyul Orang Filistin

Tabut dipindahkan dengan cara takhyul orang Filistin, dengan lima tikus emas dan lima borok emas, sebagai korban penebus salah agar Allah mengampuni dan bagi kemuliaan Allah (ay. 3-5). Membawa tabut keluar oleh para tua-tua dan mengembalikan tabut oleh orang Filistin secara takhyul. Ada banyak macam takhyul dalam agama. Dalam pemulihan Tuhan kita tidak memiliki takhyul, kita memiliki wahyu dari Firman Allah.

Para imam orang Filistin memberi tahu orang-orang untuk meletakkan tabut TUHAN di atas kereta baru yang ditarik dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, dan di samping tabut itu diletakkan benda-benda emas dalam suatu peti, yang mereka kembalikan kepada TUHAN sebagai korban penebus salah. Kemudian mereka memberi tahu mereka biarkanlah tabut itu pergi yaitu perhatikan apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat itu kepada orang Filistin (ay. 7-9). Orang-orang itu melakukan seperti yang mereka katakan, dan lembu-lembu itu berjalan ke arah ke Bet-Semes. “Orang-orang Bet-Semes sedang menuai gandum di lembah. Ketika mereka mengangkat muka, maka tampaklah kepada mereka tabut itu, lalu bercukacitalah mereka melihatnya” (ay. 13). Orang-orang suku Lewi menurunkan tabut TUHAN dan peti yang ada di sebelahnya, dan “orang-orang Bet-Semes mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan kepada TUHAN” (ay. 15).

2. Oleh Allah yang Menjaga Kekudusan Tabut-Nya

Allah menjaga kekudusan tabut-Nya, sehingga dibawanya ke Kiryat-Yearim dan tinggal di sana selama dua puluh tahun sampai seluruh kaum Israel meratapi di hadapan TUHAN (ay. 19—7:2).

Ayat 19 memberi tahu kita bahwa TUHAN “membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut Tuhan; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu” (ay. 19a). Kejadian ini karena kecerobohan mereka dalam hubungannya dengan tabut, tujuh puluh orang di sini dibunuh. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita jangan ceroboh dalam berhubungan dengan tabut. Seperti yang kita tekankan, tabut adalah pernyataan Allah bagi tujuan-Nya merampungkan ekonomi-Nya. Allah telah membawa umat Israel keluar dari Mesir dan telah melatih mereka di Gunung Sinai, memerintahkan mereka untuk membangun tabernakel dengan tabut, sehingga akan tahu bahwa Allah melaksanakan ekonomi-Nya. Tabut bukan bagi kesejahteraan, perlindungan, penjagaan, atau kesembuhan, tetapi bagi ekonomi Allah. Walaupun demikian, para tua-tua Israel pada zaman Samuel tidak memperhatikan untuk hal ini tetapi hanya bagi keuntungan dan perlindungannya sendiri. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu adalah bagi mereka, dan mereka bahkan menyalahgunakan Allah. Walaupun demikian, Allah melindungi kekudusan-Nya, tidak mengijinkan orang Filistin atau orang-orang Bet-Semes untuk melakukan apapun terhadap tabut menurut yang mereka sukai.

Akhirnya, orang-orang Bet-Semes meminta orang-orang Kiryat-Yearim untuk datang dan mengambil tabut itu (7:1-2). Walaupun tabut dikembalikan ke Israel dan dibawah perawatan para imam yang tepat, tabut masih tidak kembali ke tabernakel di Silo. Keadaan ini tidak normal. Ketika Samuel bertumbuh di tabernakel, tabut tetap tinggal di Kiryat-Yearim selama dua puluh tahun sampai kaum Israel meratapi di hadapan Allah (ay. 2).