KEJATUHAN MANUSIA DAN PENGHUKUMAN
Pembacaan Alkitab: 2Sam. 11:1—12:23
Dalam berita ini saya memiliki beban untuk membicarakan mengenai kegagalan manusia dan penghukuman Allah.
KEDAULATAN ALLAH DAN EKONOMI ALLAH
Kitab Samuel menyingkapkan kedaulatan Allah dan ekonomi Allah. Allah berdaulat; Dia di balik segala sesuatu dan setiap orang. Dia memiliki kemampuan yang penuh untuk melaksanakan apa yang Dia inginkan menurut kedambaan hatinya dan menurut ekonomi kekal-Nya.
Allah damba menggarapkan diri-Nya dalam Kristus ke dalam umat pilihan-Nya, membuat diri-Nya dan mereka satu kesatuan organik. Ini berarti bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung adalah membangun diri-Nya di dalam Kristus ke dalam unat pilihan-Nya yang intrinsik, supaya memiliki satu susunan ilahi dan insani. Kesatuan demikian disebut Kerajaan Allah, organisme Allah Tritunggal, dan Tubuh Kristus yang organik. Sedangkan Allah membangun kesatuan demian, banyak dari mereka yang buta secara rohani berusaha membangun untuk mereka sendiri kekaisaran di dalam kerajaan ilahi.
Kegagalan Manusia
Kitab Samuel juga menyingkapkan kegagalan manusia. Daud, seorang yang menurut hati Allah, gagal dalam perkara nafsu daging. Kekalahan Daud adalah bahwa dia tidak mengekang dagingnya. Ketika dia dimahkotai di Hebron pada usia tiga puluh tahun, dia sudaj memiliki sedikitnya enam istri (2Sam. 3:2-5). Kemudian, dia menyalahgunakan jabatan rajanya dengan membunuh Uria dan merampas dia dari istrinya.
Dalam penciptaan-Nya, Allah menetapkan manusia memiliki satu istri supaya manusia memiliki anak-anak yang beribadah (Mal. 2:14-15). Namun, beberapa orang merusak prinsip ini. Sebagai contoh, Gideon, seorang hakim Israel, memiliki banyak istri (Hak. 8:30). Boas, seorang nenek moyang penting dalam silsilah Kristus, adalah teladan yang baik karena dia mengendalikan nafsu dagingnya (Rut 3). Samuel juga contoh yang baik. Ibunya mempersembahkan dia kepada Allah sebagai seorang Nazir, dan dia memelihara sumpah ibunya sepanjang hidupnya. Daud, sebaliknya, sekalipun dia seorang yang menurut hati Allah, memiliki kegagalan yang besar dalam perkara nafsu daging.
PENGHUKUMAN ALLAH
Tambahan untuk kegagalan manusia, kitab Samuel menyingkapkan penghukuman Allah. Allah melaksanakan penghukuman keras atas Daud karena dosanya sangat jahat.
Perubahan dalam Perilaku Anak-anak Daud Mengajar kita untuk Takut akan Allah
Setelah kegagalan Daud banyak hal jahat, termasuk perbuatan sumbang, pembunuhan, dan pemberontakan, terjadi di antara keluarganya. Ini kelihatannya bahwa, setelah kegagalan Daud, perilaku anak-anaknya berubah. Perubahan ini khususnya terlihat dalam kasus anak Daud, Absalom. Absalom membunuh saudaranya, Amnon karena dia telah mencemari adik permpuan Absalom, dan kemudian dia memberontak melawan ayahnya, Daud, bahkan beriikhtiar untuk membunuh dia. Sumber dari kejahatan yang tidak bisa ditiru ini adalah pengumbaran Daud dalam nafsu daging.
Perubahan yang terjadi dengan anak-anak Daud seharusnya mengajar kita untuk takut akan Allah. Kita harus belajar pelajaran untuk memiliki takut yang kudus terhadap Allah dan gentar di hadapan Dia. Apakah anak-anak kita akan baik atau buruk sebenarnya terserah Allah. Apa adanya kita di mata Allah akan memperngaruhi anak-anak kita. Selain itu, penghukuman Allah dan penanggulangan pemerintahn-Nya terhadap mereka yang mengasihi Dia selalu mempengaruhi anak-anaknya.
Tidak ada Damai dalam Keluarga Daud atau dalam Kerajaan Israel
Dalam penghukuman Allah, anak pertama yang dilahirkan istri Uria mati (2Sam. 12:18). Dalam kedaulatan belas kasih Allah, anak yang lain dilahirkannya. Dinamainya oleh Allah adalah Yedija, yang berarti ‘‘dikasihi TUHAN” (ay. 25). Daud memberi dia nama Salomo, yang berarti ‘‘penuh damai” (ay. 24). Ini menunjukkan bahwa Daud mengharapkan memiliki masa damai. Tetapi sejak masa itu tidak ada damai dalam keluarga Daud ataudi seluruh kerajaan Israel. Jabatan raja Salomo memiliki permulaan yang indah, tetapi hal yang sama terjadi dengan dia seperti dengan ayahnya, dan akhirnya menyedihkan. Dia memiliki tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik (1Raj. 11:3). Istri-istri kafirnya membawa berhalanya bersama mereka dan memalingkan hati Salomo dari Allah (ay. 4, 8).
Allah adalah Adil juga Penuh Belaskasihan
Allah kita penuh belas kasihan, tetapi Dia juga adil. Allah mengasihi Daud, tetapi karena dosanya, Daud kehilangan kedudukan dan posisinya dan sebelas dari dua belas suku. Hanya suku Yehuda yang tetap tinggal bersama Daud (2Sam. 20:1-2). Setelah Solomo memerintah kerajaan terpecah, dan akhirnya Yehuda dan Israel dibawa ke dalam pembuangan. Bani Israel kehilangan bangsa dan negara nenek moyangnya; mereka terserak ke seluruh bumi; dan mereka dianiaya dan dibunuh. Hari ini, meskipun mereka memiliki negara yang sempit dekat Laut Tengah, mereka tidak memiliki damai dengan negara tetangganya.
Penghakiman Allah dalam Sejarah Gereja
Jika kita mengikuti sejarah gereja, kita akan melihat bahwa apa yang terjadi selama sembilan belas abad yang lampau cocok dengan empat perkara yang ditemukan dalam kitab Samuel: kedaulatan Allah, ekonomi Allah, kegagalan manusia, dan penghukuman penghakiman Allah. Dalam Wahyu 2 dan 3, kita melihat gereja di bawah penghakiman Allah. Penghakiman ini akan rampung dalam pasal 17, dengan penghakiman Babel Besar. Karena kita membahas perkara penghakiman Allah ini, kita perlu sangat sadar akan apa adanya Allah dan apa respon kita seharusnya.
CATATAN MENGHUKUM PENGHAKIMAN ALLAH ATAS DAUD DITULIS SEBAGAI PERINGATAN BAGI KITA
Catatan penghukuman penghakiman Allah atas Daud ditulis sebagai peringatan untuk kita hari ini (1Kor. 10:11). Kita harus membaca catatan ini dengan serius di hadirat Allah. Catatan ini memperingatkan kita bahwa pengumbaran nafsu daging adalah hal yang serius. Daud dicobai dengan sederhana oleh padangan sekilas dan kemudian dia gagal mengekang dirinya.
Dalam mengontak lawan jenis, kita dalam pemulihan Tuhan perlu dikuduskan dan dipisahkan kepada Allah. Kejahatan mengenai sex sangat menular. Kita harus melatih roh kita untuk mengalahkan daging kita dan manusia lama kita. Ini seharusnya tidak hanya satu pengajaran; seharusnya dilaksanakan dalam kehidupan kita setiap hari.
Semua orang kudus, khususnya orang-orang muda, harus mengamati hatinya dan membuat ketetapan hatinya kuat (Hak. 5:15-16) tidak pernah mengubar daging. Allah kita hidup, dan Kristus adalah sejati. Dengan Kristus sebagai Roh pemberi hayat, segala sesuatu sejati, tetapi terpisah dari Dia segala sesuatu adalah sia-sia. Roh itu bergerak di dalam kita secara lembut. Kita perlu berkata, ‘‘Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu, Aku perlu Engkau, dan aku menerima Engkau.’’ Jika kita mengatakan ini, Dia akan menjadi Juruselamat kita dan keselamatan dinamik kita. Sebagai Kristus yang pneumatik, Dia akan menyelamatkan kita, memelihara kita, dan melindungi kita dari pencemaran zaman ini, supaya kita dapat menjaga kemuliaan yang telah kita dapat.