← Daftar isi 1 dan 2 Samuel (3) · bab 11/30

SEJARAH MENGENAI SAMUEL (4)

KETIDAKTAATAN SAUL

KETIKA DIA MENAKLUKKAN ORANG AMALEK

Pembacaan Alkitab: 1Sam. 15

Satu Samuel 15 adalah satu catatan ketidaktaatan Saul ketika dia menaklukkan orang Amalek. Dia menaklukkan musuh, namun dia sama sekali tidak taat kepada Allah. Di sini Saul dengan mutlak, melalui disingkapkan, dan kemudian dia disingkirkan Allah dan juga oleh Samuel. Pasal ini berisi pelajaran penting bagi kita hari ini.

I. DALAM PERLAMBANGAN ORANG AMALEK MELAMBANGKAN DAGING—MANUSIA YANG JATUH

Dalam perlambangan orang Amalek melambangkan daging, manusia yang jatuh (Kel. 17:8-16; Kej. 6:3a; Rm. 3:20a). Wahyu ilahi dalam Alkitab menampakkan pada kita bahwa Allah tidak menciptakan daging. Allah menciptakan seorang manusia. Namun, manusia jatuh dan akhirnya menjadi daging. Kejadian 6:3 menunjukkan bahwa karena manusia telah menjadi daging, Allah tidak dapat melakukan sesuatu dengannya. Roma 3:20a berkata, “Sebab bukan daging yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat” (T.L). “Bukan daging” di sini berarti bukan kedagingan manusia. Semua manusia telah menjadi daging. Kita, kaum beriman dalam Kristus, telah diselamatkan, tetapi kita masih hidup dalam daging.

Di seluruh alam semesta, musuh sejati Allah bukan Satan tetapi kita. Selama kita tinggal dalam status daging, kita adalah musuh Allah (Rm. 8:7). Daging kita bersatu dengan Satan. Tanpa daging, Satan tidak akan memiliki cara untuk berperang melawan Allah. Dalam kehidupan gereja semua masalah datang dari daging. Hal yang sulit bagi Allah untuk dibereskan adalah daging.

Dalam kehidupan kita setiap hari mungkin dalam roh atau dalam daging. Ketika kita melatih roh kita, visi akan jelas. Tetapi jika kita tinggal dalam daging, visi akan menjadi kabur. Ketika kita dalam roh kita, kita dapat memperhatikan gereja, para penatua, dan pemulihan sebagai yang terindah. Namun, ketika kita dalam daging, kita mungkin mengkritik penatua tertentu, atau daging kita mungkin sangat merepotkan bahkan kita mungkin berpikir untuk meninggalkan pemulihan. Bilamana kita menyadari bahwa kita ada dalam daging, musuh Allah dan sumber masalah dalam kehidupan gereja, kita perlu berdoa dan meminta Tuhan mengampuni kita.

II. PELANGGARAN ORANG AMALEK TERHADAP ALLAH MELAWAN ORANG ISRAEL, SETELAH ORANG ISRAEL KELUAR DARI MESIR

Dalam 1Samuel 15:2 TUHAN berkata, “Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.” Dalam perang dengan Amalek yang digambarkan dalam Keluaran 17:8-16, Musa berdiri di puncak sebuah gunung bersama tongkat Allah di tangannya, dan Yosua pergi bersama orang-orang pilihan untuk berperang, dan menghancurkan orang Amalek. Ketika Yosua berperang, Musa berdoa. Setelah Yosua mengalahkan orang Amalek, Allah menyatakan bahwa Dia akan “berperang melawan Amalek turun temurun” (ay. 16). Ini memperlihatkan bagaimana seriusnya Allah memperhatikan kekecewaan yang disebabkan oleh orang Amalek. Ketika 1Samuel 15:2, Dia menyatakan bahwa Dia akan menghukum orang Amalek untuk apa yang telah dilakukan terhadap orang Israel.

III. PERINTAH TUHAN KEPADA SAUL

Setelah Saul diurapi menjadi pemimpin umat Allah, dia mengalahkan orang Amon dan Filistin. Akhirnya, orang Amalek bangkit menghalangi pendirian kerajaan Allah, dan Saul diperintahkan untuk menghancurkan mereka. Dalam ayat 3 TUHAN berkata kepada mereka, “Jadi pergilah sekarang, kalahkan orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belaskasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Dalam memerintah Saul untuk sepenuhnya menghancurkan orang Amalek, yang melambangkan daging sebagai musuh unik Allah, Allah dengan bijaksana menaruh Saul pada titik itu supaya menguji dia.

IV. SAUL MENYERANG ORANG AMALEK

Ayat 4 sampai 9 menggambarkan Saul menyerang orang Amalek. Saul memanggil orang dan mengumpulkan mereka, 200,000 pejalan kaki dan 10,000 orang Yehuda (ay. 4). Saul kemudian datang ke kota orang Amalek dan menyuruh penghadang di lembah (ay. 5). Sebelum memukul orang Amalek, Saul menyuruh orang Keni meninggalkan penghancuran orang Amalek, karena mereka menunjukkan persahabatan kepada bangsa Israel ketika mereka pergi dari Mesir (ay. 6). Kemudian Saul memukul orang Amalek dan menawan Agag raja mereka (ay. 7-8). Saul sepenuhnya menghancurkan seluruh bangsa itu, tetapi dia “menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka” (ay. 9). Bagi Saul, inilah kesempatan untuk membuat dirinya kaya. Dia mencoba membangun kerajaannya sendiri di dalam kerajaan Allah.

V. KETIDAKTAATAN SAUL

Ayat 10 sampai 31 memperhatikan perhara ketidaktaatan Saul.

A. TUHAN Menyesalkan Jabatan Raja Saul karena Ketidaktaatannya, dan Samuel Marah

TUHAN memberi tahu Samuel bahwa Dia menyesal menunjuk Saul sebagai raja, karena dia tidak memenuhi firman-Nya. Samuel menjadi marah dan berseru-seru kepada TUHAN sepanjang malam (ay. 10-11).

B. Penanggulangan Samuel atas Saul

Dalam ayat 12 sampai 31 kita nampak penanggulangan Samuel atas Saul.

1. Datang untuk Menemui Saul Pagi Pagi Benar

Samuel bangun pagi pagi benar untuk menemui Saul. Diberitahukan kepada Samuel bahwa Saul telah pergi ke Karmel dan telah mendirikan monumen bagi dirinya (ay. 12). Saul membangun monumen ini bukan bagi kerajaan Allah tetapi untuk memperingati dirinya sendiri karena kemenangan yang dibuatnya dan kerajaannya yang kaya. Inilah bukti yang kuat bahwa perhatian Saul adalah membangun kerajaannya.

2. Percakapan antara Samuel dan Saul setelah Samuel Datang kepada Saul

Ayat 13 sampai 23 adalah catatan percakapan antara Samuel dan Saul setelah Samuel datang kepada Saul. Ketika Saul menyatakan bahwa dia telah menggenapkan firman TUHAN, Samuel bertanya, “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ketelingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu? (ay. 13-14). Saul menerangkan bahwa mereka telah dibawa dari orang Amalek, agar orang menyisihkan domba dan lembu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada TUHAN dan menghancurkan sisanya. Samuel kemudian memberi tahu Saul untuk menghentikan dan Samuel akan memberi tahu dia apa yang TUHAN telah perintahkan kepada dia malam sebelumnya. Kemudian dia melanjutkan berkata, “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil dalam pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepada atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN menyuruh engkau pergi, dengan pesan; Pergilah tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka. Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?” (ay. 17-19). Saul merespon dengan menyatakan bahwa dia mengindahkan suara TUHAN, tetapi bangsa itu yang mengambil domba dan lembu yang tambun untuk dipersembahkan kepada TUHAN (ay. 20-21).

Dalam ayat 22 dan 23 Samuel melanjutkan dengan perkataan yang sangat tegas kepada Saul: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan / Sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? / Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, / Memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. / Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung / Dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.” Di sini Samuel kelihatannya berkata, “Saul, engkau mengatakan bahwa engkau menyisihkan domba dan lembu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada TUHAN, Allahku. Tetapi Allah lebih suka bahwa engkau menuruti firman-Nya. Dia memberi tahu engkau untuk sepenuhnya menghancurkan orang Amalek dan semua yang mereka miliki. Dari pada menuruti firman ini, engkau malah mengambil domba dan lembu bagi dirimu sendiri. Pagi ini engkau mendirikan monumen bagi dirimu sendiri. Engkau tidak mendirikan sesuatu bagi Allah. Sesungguhnya, menuruti lebih baik dari pada persembahan korban, dan memperhatikan pembicaraan Allah lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Saul, engkau telah memberontak melawan Allah, dan memberontak seperti dosa bertenung. Apa yang kamu lakukan sama saja kejahatan seperti mengontak roh jahat untuk tujuan melaksanakan tujuan roh itu, bukan tujuan Allah. Engkau tidak menundukkan dirimu sendiri kepada Allah sebagai Kepalamu tetapi bertindak angkuh, menurut caramu sendiri dan melalui kehendakmu. Sekarang rajanimu diambil alih. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, Dia menolak engkau sebagai raja.” Saul disingkapkan sebagai seorang pemberontak melawan Allah dan seorang musuh Allah.

C. Pengakuan Dosa dan Permohonan Saul

1. Saul Mengakui Dosanya dengan Meminta Maaf atas Takutnya kepada Rakyat

Saul mengaku dosanya kepada Samuel dengan meminta maaf dia telah melanggar perintah-perintah TUHAN dan perkataan Samuel karena dia “takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaannya” (ay. 24).

2. Saul Memohon Samuel untuk Mengampuni Dosanya dan Kembali bersama Dia

Saul memohon Samuel untuk mengampuni dosanya dan kembali bersama dia, tetapi Samuel menolak melakukannya karena penolakan Saul atas firman TUHAN dan penolakan TUHAN atas rajani Saul (ay. 25-26).

3. Perkataan Samuel kepada Saul mengenai Mengoyak Kerajaan Israel dari Dia

Ketika Samuel berpaling hendak pergi, Saul memegang punca jubahnya, dan koyak. Kemudian Samuel memberi tahu dia bahwa TUHAN telah mengoyak kerajaan Israel dari dia hari itu dan telah diberikannya yang lebih baik dari pada dia. Pemberian ini adalah Daud. Samuel selanjutnya berkata, “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal” (ay. 27-29).

4. Saul Memohon Samuel untuk Menghormati Dia di Depan Para Tua-tua Bangsanya dan di Depan orang Israel

Saul berkata kepada Samuel, “Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN Allahmu” (ay. 30). Kemudian Samuel kembali mengikuti Saul, dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN (ay. 31).

VI. SAMUEL MENGHUKUM MATI AGAG

Samuel meminta bahwa Agag raja orang Amalek dibawa ke dekat dia. Agag datang kepadanya dengan gembira, katanya, “Sesungguhnya kepahitan maut telah lewat” (ay. 32). Samuel berkata kepada Agag, “Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan,” dan kemudian dia mencincang Agag di hadapan TUHAN (ay. 33).

VII. SAMUEL MENINGGALKAN SAUL

Pasal limabelas ditutup dengan Samuel meninggalkan Saul (ay. 34-35). Samuel pergi ke Rama, dan Saul pergi ke rumahnya di Gibea. Samuel tidak pernah melihat lagi Saul sampai hari kematiannya, tetapi Samuel berduka cita karena Saul, karena TUHAN menyesal bahwa Dia telah menjadikan Saul raja atas Israel.

Kita harus diperingatkan oleh catatan ketidaktaatan Saul untuk melakukan sesuatu dalam kerajaan Allah melalui dagingnya. Kita perlu takut kepada Allah dan mengingat bahwa kita adalah daging. Tetapi Anak Allah telah menyalibkan daging dan Dia telah masuk ke dalam kita untuk melahirkan kembali roh kita. Sekarang Dia hidup di dalam roh kita, bergerak, bertindak, dan mengambil pimpinan untuk memimpin kita ke dalam garis hayat untuk membangun organisme-Nya, Tubuh Kristus. Inilah kerajaan Allah, kerajaan kekal Allah, yang akan rampung dalam Yerusalem Baru yang akan datang dalam langit baru dan bumi baru. Ini seharusnya menjadi sasaran kita. Kita tidak seharusnya mencoba membangun kerajaan bagi diri kita sendiri dalam kerajaan Allah. Inilah pelajaran yang kita perlu pelajari dari pengkajian bagian sejarah dalam Perjanjian Lama ini.

Kita berterima kasih kepada Tuhan bahwa di bawah belaskasihan-Nya, Dia telah membuka rahasia mendasar dalam Firman ini untuk memperlihatkan kepada kita pelajaran-pelajaran yang sejati. Kita telah mempelajari pelajaran salib dan menyalibkan daging kita dengan segala hawa nafsunya dan keinginannya dan meninggalkannya di atas salib dan dalam segala sesuatu (Gal. 5:24). Kita harus setia melatih roh kita untuk mengikuti Tuhan, yang adalah Roh pemberi hayat yang rampung dan berhuni dalam roh kita dan yang bersatu dengan kita. Kemudian kerajaan Allah, gereja sebagai Tubuh Kristus yang intrinsik, akan terbangun.