← Daftar isi Wahyu (2) · bab 16/16

GEREJA DI LAODIKIA — MAKAN BERSAMA TUHAN DAN DUDUK DI TAKHTA-NYA

Sekarang mari kita melihat gereja di Laodikia, gereja yang berada dalam kemerosotan (3:14-22). Dalam bahasa Yunani “Laodikia” berarti “opini, keputusan rakyat jelata (atau kaum beriman awam)”. Sebagai tanda, gereja di Laodikia melambangkan gereja terpulih yang merosot lagi. Tidak sampai seratus tahun setelah Tuhan memulihkan ge-reja yang tepat pada awal abad 19, sebagian “perhimpunan” (istilah yang dipakai oleh Kaum Saudara) telah merosot. Gereja yang telah dipulihkan namun merosot lagi ini ber-beda dengan gereja Reformasi yang dilambangkan oleh ge-reja di Sardis, juga berbeda dengan gereja yang dipulihkan yang benar yang dilambangkan oleh gereja di Filadelfia. Gereja ini akan tinggal sampai Tuhan kembali.

Beberapa guru Kristen menganggap gereja di Laodikia sebagai gereja Reformasi yang telah menjadi dingin. Se-sungguhnya, anggapan demikian tidaklah benar. Menurut konteksnya dan menurut sejarah, gereja di Laodikia merupakan satu tanda dari gereja terpulih yang merosot lagi. Sekitar 150 tahun yang lalu, gereja terpulih dimulai di Inggris. Melihat catatan yang kita baca tentang mereka, ge-reja itu mengagumkan sekali. Benar-benar suatu pemulih-an sejati dari hidup gereja. Namun, hal itu tidak berlang-sung lama. Jika Anda membaca sejarah Kaum Saudara (The Brethren), dan jika Anda mengunjungi mereka hari ini, Anda akan nampak bahwa banyak perhimpunan Kaum Saudara ini telah menjadi gereja di Laodikia. Seperti yang akan kita lihat, sekalipun mereka membanggakan pengeta-huan Alkitab mereka, namun mereka miskin dalam kenik-matan atas kelimpahan Kristus dan buta dalam hal-hal rohani.

I. PEMBICARA

A. Amin

Dalam 3:14 Tuhan berkata, “Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah.” Dalam perkataan-Nya kepada ketujuh gereja, Tuhan menye-butkan apa adanya diri-Nya dan yang dilakukan-Nya berda-sarkan situasi dan kondisi masing-masing gereja itu. Di sini, dalam berkata kepada gereja di Laodikia, Tuhan me-nyebut diri-Nya “Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah”. Amin berasal dari bahasa Ibrani, ber-arti teguh, kukuh, atau bisa diandalkan. Tuhan itu teguh, kukuh, dan bisa diandalkan.

B. Saksi yang Setia dan Benar

Karena Tuhan itu teguh, kukuh dan bisa diandalkan, sebab itu Dia adalah Saksi yang setia dan benar. Hal ini menunjukkan bahwa gereja di Laodikia yang merosot itu tidak teguh, tidak kukuh, tidak bisa diandalkan, juga tidak setia dan benar sebagai saksi Tuhan.

C. Permulaan Ciptaan Allah

Dalam ayat 14 Tuhan juga menunjukkan diri-Nya sebagai “sumber ciptaan Allah”, mengacu kepada Tuhan sebagai asal usul atau sumber ciptaan Allah, menyiratkan Tuhan adalah sumber yang tidak berubah dan ada selamanya dari pekerjaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa gereja terpulih yang merosot lagi sudah berubah karena meninggalkan Tuhan, Sang sumber.

II. KEADAAN GEREJA INI

A. Tidak Dingin dan Tidak Panas —

Suam-suam Kuku

Dalam ayat 15-17 kita nampak keadaan gereja di Laodikia. Dalam ayat 15-16 Tuhan berkata, “Aku tahu se-gala pekerjaanmu: Engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi kare-na engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Begitu ge-reja terpulih itu merosot, ia menjadi suam-suam kuku, ti-dak panas, tidak dingin. Itulah keadaan sesungguhnya dari banyak perhimpunan Kaum Saudara pada hari ini, yang ju-ga menjadi peringatan bagi kita. Begitu kita menjadi suam-suam kuku, kita tidak sesuai lagi bagi pergerakan Tuhan, dan kita akan dimuntahkan dari mulut-Nya.

B. Memegahkan Diri Kaya

Dalam ayat 17 Tuhan berkata, “Karena engkau berka-ta: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Gereja ini memegahkan kekaya-annya (terutama pengetahuan atas doktrin), tetapi tidak mengetahui bahwa dia miskin atas hayat, buta atas daya pandang, dan telanjang atas perbuatan. Sebab itu, ayat be-rikutnya mengatakan bahwa dia perlu membeli emas agar ia menjadi kaya, membeli pakaian putih untuk menutupi ketelanjangannya, dan membeli minyak (salep mata) untuk menyembuhkan kebutaanya.

Ciri khas yang menonjol dalam perhimpunan ini yaitu kesombongan mereka. Mereka menganggap mereka telah mengetahui segala sesuatu. Memang, mereka memiliki banyak pengetahuan doktrin, memahami Alkitab lebih baik daripada orang-orang yang ada di denominasi. Namun, se-kalipun mereka memahami Alkitab, apa yang mereka mi-liki hanya pengetahuan saja. Karena mereka memiliki pe-ngetahuan, mereka menganggap diri mereka kaya. Tetapi Tuhan berkata bahwa mereka sesungguhnya miskin. Mere-ka bukan miskin dalam pengetahuan, melainkan miskin dalam kelimpahan Kristus. Mereka memiliki pengetahuan tentang Kristus, tetapi miskin dalam hal menikmati ke-limpahan Kristus.

Tidak lama setelah saya datang ke Amerika Serikat, saya diundang untuk berbicara di tiga tempat perhimpunan Kaum Saudara. Setelah berbicara di sana dan mendengar tanggapan mereka, saya makin percaya kepada kebenaran perkataan Tuhan atas gereja di Laodikia. Jika Anda tinggal bersama mereka sejangka waktu, Anda akan merasakan bahwa mereka membanggakan pengetahuan mereka. Da-lam percakapan mereka, mereka selalu menyalahkan kebo-dohan orang lain, mengira mereka telah mengetahui segala sesuatu. Namun, setelah tinggal bersama mereka, Anda akan menemukan kemiskinan mereka. Mereka benar-benar tidak mengenal kelimpahan Kristus, bahkan menyinggungnya pun tidak.

C. Melarat

Dalam pandangan Tuhan, perhimpunan ini melarat, sebab dia bermegah atas kelimpahan pengetahuan doktrin yang kosong, namun sesungguhnya dia sangat miskin terhadap pengalaman atas kelimpahan Kristus.

D. Malang (Kasihan)

Gereja terpulih yang merosot lagi ini juga malang atau kasihan, sebab dia telanjang, buta, dan penuh dengan rasa malu dan gelap.

E. Miskin

Gereja ini miskin atas pengalaman akan Kristus dan atas realitas rohani ekonomi Allah. Dia hanya mementing-kan pengetahuan yang kosong, tetapi mengabaikan peng-alaman yang hidup atas Kristus. Inilah kemiskinan yang sebenarnya, kemiskinan yang menjadikan gereja ini mela-rat dan malang.

F. Buta

Dalam pandangan Tuhan, gereja di Laodikia tidak hanya miskin atas kelimpahan Kristus, tetapi juga buta dalam perkara-perkara rohani yang sejati. Dia kekurangan pandangan batiniah rohani yang sejati. Sekalipun ia memi-liki sedikit pengetahuan tentang hal-hal rohani, ia tidak mempunyai pandangan batiniah.

G. Telanjang

Sebagai orang Kristen, kita semua telah menerima Kristus sebagai kebenaran obyektif kita, yang menutupi kita seperti sehelai jubah. Ini untuk pembenaran kita di hadapan Allah. Setelah dibenarkan di dalam Kristus, kita perlu hidup oleh Kristus dan memperhidupkan Kristus, agar Kristus bisa menjadi kebenaran subyektif kita sebagai jubah lain yang indah yang menutupi hidup dan tindakan kita setiap hari. Karena kurang memiliki pengalaman yang subyektif terhadap Kristus, gereja terpulih yang merosot lagi ini telanjang dalam pandangan Tuhan. Berbagai penge-tahuan doktrin yang kosong akan lenyap di bawah mata Tuhan yang bagaikan nyala api, dan orang-orang yang me-nyembunyikan dirinya di bawah pengetahuan itu akan ter-singkapkan. Hanya Kristus yang kita alami baru dapat menjadi penutup kita terhadap mata-Nya yang meng-hakimi.

H. Akan Dimuntahkan dari Mulut Tuhan

Dalam ayat 16 Tuhan berkata, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan

memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Bila gereja terpulih menjadi merosot, maka ia berada dalam bahaya. Kalau ia tidak bertobat dan tidak panas lagi, menuntut pengalaman yang kaya atas diri Tuhan, ia akan dimuntahkan dari mu-lut Tuhan. Dimuntahkan dari mulut Tuhan adalah ditolak oleh Tuhan, kehilangan kenikmatan atas segala apa adanya Tuhan terhadap gereja-Nya.

I. Tuhan Berdiri di Depan Pintu dan Mengetuk

Dalam ayat 20 Tuhan berkata, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk.” “Pintu” di sini bukanlah pintu hati perorangan, melainkan pintu gereja. Gereja di Laodikia memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki hadir Tuhan. Tuhan adalah Kepala gereja, Dia berdiri di luar pintu ge-reja yang merosot dan mengetuk pintu. Gereja terpulih yang merosot lagi harus menyadari hal ini!

III. PERINGATAN TUHAN

Dalam ayat 18 kita nampak nasihat Tuhan kepada gereja di Laodikia, “Aku menasihatkan engkau, supaya eng-kau membeli dari Aku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, su-paya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelan-janganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melu-mas matamu, supaya engkau dapat melihat.” “Membeli” harus membayar harga. Gereja terpulih yang merosot lagi perlu membayar harga untuk membeli emas, pakaian pu-tih, dan salep mata, yang sangat dia perlukan. Setelah ber-hubungan dengan perhimpunan Kaum Saudara, saya mene-mukan bahwa mungkin tidak seorang pun di antara mereka yang memahami apa yang dimaksud dengan membayar harga. Boleh jadi mereka tidak pernah mendengar bahwa mereka harus membayar harga untuk mengalami segala kekayaan Kristus. Mereka paham pengetahuan dan doktrin, tetapi mereka tidak tahu bagaimana membayar harga. Me-reka tahu bagaimana belajar, tetapi tidak tahu bagaimana membeli. Mereka mengetahui “kebenaran” tertentu, tetapi tidak mengerti harga untuk mengalami kelimpahan Kristus.

A. Membeli dari Tuhan,

Emas yang Telah Dimurnikan dalam Api

Pertama, Tuhan menasihati gereja di Laodikia untuk membeli “emas yang telah dimurnikan dalam api”. Alkitab mengumpamakan iman kita yang beroperasi dan bekerja ini (Gal. 5:6) sebagai emas (1 Ptr. 1:7), dan sifat ilahi Allah, yaitu sifat ilahi Kristus, juga dilambangkan dengan emas (Kel. 25:11). Kita berbagian dalam sifat ilahi Allah melalui iman (2 Ptr. 1:1, 4-5). Gereja terpulih yang merosot lagi mempunyai pengenalan teoritis terhadap Kristus, tetapi tidak mempunyai iman hidup yang cukup untuk berbagian dalam unsur ilahi Kristus. Dia harus membayar harga un-tuk mendapatkan iman emas melalui pengujian api, supaya dia bisa berbagian dalam emas sejati, yaitu diri Kristus sendiri sebagai unsur hayat Tubuh-Nya. Dengan demikian, barulah dia bisa menjadi kaki pelita emas murni (1:20) un-tuk membangun Yerusalem Baru yang terbuat dari emas (21:18).

Jika kita mempunyai pengalaman, kita akan mengetahui bahwa ketiga perkara yang Tuhan nasihatkan kepada gereja di Laodikia untuk membelinya — emas, pakaian putih, dan salep mata — tidak lain adalah diri Tuhan sen-diri. Seperti yang telah kita ketahui, dalam perlambangan, emas menunjukkan dua perkara: sifat ilahi Allah dan iman yang hidup yang olehnya kita memahami dan menerapkan sifat ilahi. Kedua perkara ini berpaut menjadi satu. Jika kita tidak mempunyai iman yang hidup untuk memahami dan menerapkan sifat ilahi, sifat ilahi ini tidak dapat men-jadi milik kita. Sifat ilahi hanya dapat menjadi kenikmatan kita melalui iman kita yang hidup. Kristus adalah penjel-maan konkret dari sifat ilahi, Ia juga adalah iman kita yang hidup. Jika kita beriman, kita dapat berbagian dalam sifat ilahi. Ini berarti kita harus memiliki Kristus. Kita ha-rus membayar harga dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku mempunyai banyak pengetahuan kebenaran Alkitab, tetapi aku mengakui, aku tidak banyak memiliki diri-Mu. Tuhan, aku lebih suka memiliki-Mu daripada pengetahuan atau ajaran yang kosong. Tuhan, Engkau adalah emas yang sejati, perwujudan sifat ilahi. Untuk memahami dan mene-rapkan sifat ilahi ini, aku perlu memiliki iman yang hidup. Namun, ya Tuhan, aku tidak memiliki iman yang hidup, karena itu aku menengadah kepada-Mu. Tuhan, jadilah imanku yang hidup. Aku ingin hidup oleh-Mu sebagai iman-Ku, yaitu iman Anak Allah” (Gal. 2:20). Jika Anda memo-hon demikian kepada Tuhan, Ia akan segera berkata, “Jika kamu ingin memiliki Aku, kamu harus membayar harga. Ada satu perkara yang Aku kehendaki Kaubuang karena perkara itu adalah rintangan yang membuatmu tidak dapat menikmati-Ku.” Membuang segala perkara yang dikehen-daki Tuhan adalah membayar harga. Banyak di antara kita telah mengalami Tuhan secara demikian. Sering kali Tuhan berkata, “Aku ada di sini. Kamu mau Aku, atau mau per-kara itu? Jika kamu menginginkan perkara itu, Aku akan pergi. Tanganmu penuh dengan banyak perkara. Kamu ha-rus membuang semua itu, kosongkanlah tanganmu, kemu-dian peganglah Aku. Maka kamu akan memiliki diri-Ku se-bagai kenikmatanmu.” Bila kita membayar harga, barulah kita bisa memperoleh Kristus.

Perhatikan kata-kata Rasul Paulus dalam Filipi 3:8, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semua-nya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Bagi Paulus, tidak ada sesuatu pun yang tersisa kecuali Kristus. Ia mengeluarkan semuanya bagi Kristus, membayar penuh harganya. Apa saja yang dimilikinya, ia keluarkan untuk memperoleh Kristus. Hari ini, kita harus mengikuti roh ini, membayar berapa pun harganya, bahkan dengan nyawa kita sekalipun, untuk memperoleh Kristus.

Kita tidak mungkin memisahkan iman yang hidup dari sifat ilahi. Sekalipun sulit untuk menerangkan hal ini secara doktrinal, namun dari pengalaman kita mengetahui, bila kita memiliki iman yang hidup, kita menikmati sifat ilahi. Bila kita berada dalam sifat ilahi, kita pasti memiliki iman yang hidup ini. Karena itu, kedua perkara ini berpaut menjadi satu dan keduanya diibaratkan dengan emas. Ge-reja di Laodikia memerlukan emas ini — sifat ilahi yang bisa kita terapkan dan gunakan melalui iman yang hidup ini, yaitu diri Kristus sendiri. Jika kita ingin memperoleh emas ini, kita harus membayar harga.

B. Membeli Pakaian Putih dari Tuhan

Kedua, Tuhan menasihati gereja di Lodikia agar mem-beli “pakaian putih” supaya “memakainya, agar jangan ke-lihatan ketelanjangannya yang memalukan”. Dalam per-lambangan, pakaian melambangkan perbuatan, tingkah laku. Pakaian putih di sini melambangkan perbuatan yang diper-kenan Tuhan, yaitu Tuhan sendiri diperhidupkan dari gereja. Inilah keperluan gereja terpulih yang telah merosot lagi, untuk menutupi ketelanjangannya. Dalam berita keempat belas kita telah menunjukkan bahwa pakaian putih ini bu-kanlah Kristus sebagai kebenaran obyektif kita untuk pem-benaran kita. Pakaian putih adalah Kristus sebagai kebe-naran subyektif kita, yaitu Kristus hidup melalui diri kita. Kristus yang kita perhidupkan ini menjadi pakaian kedua agar kita bisa diperkenan Tuhan. Ini bukan untuk kesela-matan, melainkan untuk pemilihan. Kita semua memerlu-kan pakaian kedua ini. Bila kita mempunyai iman yang hidup dan berbagian dalam sifat ilahi, sifat ilahi ini akhir-nya bisa diperhidupkan melalui diri kita menjadi kehidupan kita. Kehidupan ini adalah Kristus diperhidupkan melalui diri kita, adalah pakaian kedua yang memberi kita kedu-dukan dan kelayakan untuk diperkenan Kristus. Pakaian ini akan menutupi ketelanjangan kita. Memang, kita se-mua telah dibenarkan dan ditutupi oleh pakaian yang per-tama, seperti jubah terbaik yang dikenakan pada anak yang hilang dalam Lukas 15. Tetapi setelah dibenarkan, kita ha-rus mengasihi Tuhan, bergairah, dan mutlak bagi Tuhan. Jika kita adalah orang Kristen yang demikian, kita akan mempunyai iman yang hidup untuk berbagian dalam sifat ilahi yang kaya. Dengan ini Kristus diperhidupkan melalui kita sebagai jubah kedua yang menutupi ketelanjangan kita.

Jika setelah dibenarkan, Anda tidak mengasihi Tuhan dan hidup oleh-Nya, bagi-Nya, dan dengan-Nya, itu berarti Anda telanjang. Sulit untuk menerangkan hal ini secara doktrinal, namun dari pengalaman kita semua menyadari bahwa seorang saudara yang tidak mengasihi Tuhan atau hidup demi Tuhan, sungguh memalukan dan telanjang. Ia tidak mempunyai Kristus yang indah sebagai penutupnya. Ia percaya kepada Kristus dan ia milik Kristus, tetapi ka-rena ia tidak mengasihi-Nya dan tidak hidup demi Dia, ia telanjang, baik dalam pandangan Allah maupun dalam pan-dangan kaum beriman lainnya. Ia tidak memiliki Kristus sebagai penutup yang indah. Kita harus membayar harga untuk memperoleh pakaian yang kedua ini, yaitu membiar-kan Kristus diperhidupkan dari diri kita. Inilah Kristus yang subyektif, yaitu Kristus yang kita alami secara subyektif.

Janganlah mencoba memahami perkara ini dengan me-makai otak Anda. Cocokkanlah perkataan ini dengan peng-alaman Anda. Meskipun hal ini asing bagi otak Anda, namun sangat dikenal oleh roh dan pengalaman Anda. Menurut pengalaman Anda, Anda bisa bersaksi bahwa di satu pihak, Anda mempunyai jaminan bahwa Anda telah dibenarkan, tetapi di pihak lain, Anda juga merasakan kalau Anda te-lanjang. Memang, sebagai seorang anak Allah, Anda telah dibenarkan, ditebus, diselamatkan, dilahirkan kembali, dan Anda adalah anggota Tubuh Kristus; tetapi di pihak lain, Anda juga merasakan bahwa Anda masih telanjang, tidak bisa memperhidupkan Kristus sebagai penutup indah Anda. Di batin Anda, Anda merasa bersalah. Jika Anda mencocokkan perkataan ini dengan pengalaman Anda, Anda akan mengetahui bahwa perkataan ini benar. Karena itu, kita harus membayar harga serta berkata kepada Tuhan, “Tuhan, berapa pun harganya, aku akan membayarnya agar Engkau bisa diperhidupkan dari diriku. Tuhan, aku ingin memiliki Engkau sebagai kehidupanku. Aku tidak ingin berkelakuan baik demi diriku sendiri, mengoreksi diriku sendiri, atau memperbaiki diriku sendiri. Tuhan, aku ingin Engkau tertampil dari diriku. Hari demi hari, aku ingin Engkau yang hidup dari diriku, menjadi kehidupanku yang di luar. Tuhan, jangan hanya menjadi hayatku yang di da-lam saja, jadilah juga kehidupanku yang di luar.” Jika An-da berdoa demikian, Ia akan menjadi penutup Anda yang di luar, pakaian kedua bagi Anda agar Anda bisa diperkenan dan dipilih oleh-Nya. Terhadap hal ini kita tidak perlu me-nunggu hari itu tiba. Hari ini pun Anda mempunyai jamin-an bahwa Anda telah diperkenan dan dipilih. Karena itu, ketika harinya tiba, Ia pasti berkata, “Baik sekali yang kaulakukan. Masuklah bersama-Ku untuk menikmati ba-gianmu dan marilah berperang bersama-Ku, mengalahkan pasukan Antikristus.”

C. Membeli Salep Mata dari Tuhan

Ketiga, Tuhan menasihati gereja di Laodikia agar mem-beli salep mata dari Dia dan mengoleskan ke mata mereka agar bisa nampak. Salep mata yang diperlukan untuk me-lumas mata, pasti mengacu kepada Roh pengurapan (1 Yoh. 2:27), yaitu Tuhan sendiri sebagai Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Gereja terpulih yang merosot lagi juga memer-lukan salep mata ini untuk menyembuhkan kebutaannya. Untuk ketiga benda tersebut, dia harus membayar harga. Wawasan rohani selalu berkaitan dengan Roh itu. Kita me-merlukan lebih banyak Roh, bukan pengetahuan. Kita tidak memerlukan lebih banyak doktrin, kita memerlukan lebih banyak Roh untuk mengolesi manusia batin kita, mengolesi insan batin kita, agar kita bisa mempunyai wawasan untuk melihat segala perkara dari dalam. Dengan salep mata ini, dengan pengurapan ini, kita bisa memiliki pandangan yang lebih jauh, lebih dalam, dan menembusi segala perkara. Ke-mudian kita akan berkata, “Tuhan Yesus, karena aku seka-rang nampak betapa mustikanya Engkau, maka aku siap membayar berapa pun harganya.” Misalnya, harga sebuah barang di toserba seribu dolar. Jika barang itu adalah ber-lian yang berharga dan bernilai lima ribu dolar, maka An-da berpendapat bahwa harga itu tidaklah tinggi. Sebalik-nya, Anda menganggap harga itu murah. Mengapa banyak orang Kristen tidak rela membayar harga untuk Kristus? Karena mereka tidak nampak betapa mustikanya Kristus itu. Mereka tidak nampak betapa berharga, betapa indah, dan betapa tinggi nilai Kristus. Tetapi begitu mata kita di-urapi dengan salep mata ilahi dan yang rohani, kita akan berkata, “Sudah selayaknya bagiku membayar harga bagi Kristus. Harganya terlalu rendah. Diriku, masa depanku, dan hidupku sama sekali tidak berharga sedikit pun. Se-sungguhnya aku tidak berkorban apa-apa untuk memper-oleh Kristus yang almuhit ini.” Jika kita nampak hal ini, kita memerlukan salep mata.

Sekarang kita nampak bahwa emas, pakaian, dan salep mata, semuanya adalah Kristus. Kristus adalah segala sesuatu. Keperluan kita hari ini adalah Kristus. Ya, dalam pemulihan-Nya, Tuhan telah memberi kita banyak sekali terang. Namun, tujuan kita bukanlah memberikan pengetahuan kepada orang. Tujuan kita dalam berita ini adalah membantu umat Tuhan mendapatkan terang, agar mereka nampak betapa berharga, bernilai, dan indahnya Kristus, dan juga memiliki wawasan sehingga mereka rela membayar harga untuk memperoleh Dia. Sudah sepatutnya kita mengorbankan keluarga kita, masa depan kita, nasib kita, dan seluruh hidup kita, bagi Kristus. Sekalipun kita telah membayarnya dengan semua ini, harganya masih ter-lalu murah. Paulus berkata, “Segala sesuatu kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:8). Dalam hidup gereja dalam pemu-lihan Tuhan, kita bukan untuk doktrin, juga bukan untuk apa yang disebut kebenaran-kebenaran. Kita di sini untuk Kristus yang kaya limpah. Dalam semua berita ini kita tidak memberi doktrin-doktrin yang sia-sia. Tujuan dari be-rita-berita ini adalah untuk melayankan urapan agar mata orang diolesi sehingga nampak kemustikaan Kristus dan tertarik kepada-Nya. Gereja yang merosot tidak memerlu-kan doktrin, ia memerlukan salep mata. Ia memerlukan wahyu, visi, dan anugerah yang besar.

IV. TEGURAN DAN HAJARAN TUHAN

Dalam ayat 19 Tuhan berkata, “Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar.” Jika gereja mau menerima, te-guran Tuhan yang di dalam kasih itu akan menjadi pem-buka matanya. Tetapi kesombongannya boleh jadi mengha-langinya untuk menerima. Bila kita menjadi suam-suam kuku dan merasa ditegur oleh Tuhan, kita perlu menenga-dah kepada-Nya untuk mendapat belas kasihan-Nya, agar kita rela dan dengan rendah hati menerima teguran-Nya di dalam kasih. Hal ini akan mendatangkan pertolongan yang tepat bagi gereja yang merosot ini.

Hajaran merupakan langkah lanjutan yang diambil Tuhan untuk menanggulangi gereja-Nya yang merosot se-telah Ia menegurnya. Jika ia mau menerima teguran Tu-han, mungkin Tuhan tidak perlu menghajarnya. Hajaran Tuhan atas gereja itu dilaksanakan di dalam kasih.

V. PESAN TUHAN

Dalam ayat 19 Tuhan berpesan kepada gereja di Laodikia, “Sebab itu, bersungguh-sungguhlah (mendidihlah) dan bertobatlah!” Pengetahuan sia-sia dan tata cara dok-trin yang mati, membuat gereja terpulih yang merosot lagi menjadi suam-suam kuku. Ia perlu mengenyahkan pengeta-huan yang membuat orang menjadi mematikan mati dan dingin, tergila-gila dengan membara, bahkan perlu bergu-mul agar terlepas dari belenggu bentuk doktrinalnya. Ia perlu mendidih dan bukan mati dalam keadaan benar me-nurut doktrin yang mati. Ia seharusnya mengasihi Tuhan dan membayar harga berapa pun untuk memperoleh-Nya, termasuk mengorbankan “semua doktrin”. Gereja yang suam-suam kuku perlu menjadi panas, yaitu dengan membayar semua harga, agar dirinya menjadi panas dan terbakar. Ia perlu bertobat atas keadaannya yang suam-suam kuku, dan tidak lagi membanggakan pengetahuannya. Ia terlalu mem-banggakan pengetahuan mati miliknya. Jadi, ia perlu me-ngesampingkan semua pengetahuannya dan bertobat dari rasa puas karena memiliki pengetahuan kosong dan bukan karena realitas Kristus.

VI. JANJI TUHAN KEPADA PEMENANG

Dalam ayat 20 dan 21 kita nampak janji Tuhan kepada pemenang, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan menge-tuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan mem-bukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” Dalam ketujuh surat ini, menang bukan berarti menang atas kelemahan kita dan atas dosa yang merepotkan, melainkan menang dari kondisi yang telah jatuh karena gereja-gereja telah menyimpang. Menang yang tercantum dalam surat kepada Laodikia ini mengacu kepa-da menang atas mengalahkan keadaan suam-suam kuku dan kesombongan gereja terpulih yang merosot lagi, mem-bayar harga untuk membeli barang yang diperlukan, dan membuka pintu mempersilakan Tuhan masuk.

A. Tuhan Masuk

Dalam ayat 20 Tuhan berkata bahwa jika ada orang yang mendengar suara-Nya dan membukakan pintu bagi-Nya, Ia akan masuk menemuinya. Seperti yang telah kita tunjukkan, Tuhan sedang berdiri di depan pintu gereja sambil mengetuk pintunya. Pintu ini adalah pintu gereja, bukan pintu perorangan, tetapi dibuka oleh kaum beriman secara perorangan. Tuhan sedang menanggulangi segenap gereja, tetapi menerima penanggulangan Tuhan adalah urusan perorangan. Penanggulangan Tuhan bersifat obyektif, namun penerimaan kaum beriman haruslah subyektif. Jika kita mendengar suara Tuhan kepada gereja dan kemudian seca-ra pribadi membuka pintu, Tuhan akan masuk ke dalam kita, dan penyertaan-Nya akan menjadi bagian kita.

B. Makan Bersama Tuhan

Dalam ayat 20 Tuhan juga berkata bahwa setelah Dia masuk ke dalam orang yang membukakan pintu, Dia akan makan bersamanya dan ia makan bersama Dia. Menurut bahasa Yunani, kata “makan” mengacu kepada menerima makanan utama pada malam hari. Makan malam bukan saja makan satu macam makanan, tetapi makan dengan makanan yang berlimpah. Hal ini boleh jadi menyiratkan kegenapan dari contoh umat Israel makan hasil tanah permai Kanaan yang berlimpah (Yos. 5:10-12). Makan yang dijanjikan di sini bukan hanya untuk waktu yang akan da-tang, tetapi juga untuk hari ini. Jika Anda seorang peme-nang, ketika Tuhan datang di dalam kerajaan-Nya, Anda akan mempunyai hak khusus untuk makan bersama Dia. Namun sebelum hari itu, Anda boleh dan bisa menikmati makan bersama-Nya.

Banyak orang Kristen memakai ayat 20 untuk membe-ritakan Injil secara tidak memadai. Mereka memberi tahu orang-orang berdosa bahwa Kristus sedang mengetuk pintu hati mereka, dan jika mereka mau membuka pintu, Ia akan masuk. Itulah yang mereka katakan. Pernahkah Anda men-dengar berita yang mengatakan kepada Anda bahwa jika Anda membuka pintu, Kristus akan masuk ke dalam Anda dan makan bersama Anda?

Jika kita memperhatikan ketujuh surat dalam Wahyu 2 dan 3, kita akan nampak bahwa Tuhan mementingkan hal makan diri-Nya, menerima diri-Nya sebagai suplai ha-yat kita, agar kita bisa bertumbuh, diubah, dan menjadi sama seperti Dia. Hal itu mutlak merupakan perkara ma-kan Yesus sebagai pohon hayat, manna, dan sebagai ma-kanan utama dalam sehari. Karena Tuhan mementingkan hal makan diri-Nya, dengan sendirinya Tuhan menolak empat macam ajaran ini: ajaran Bileam (2:14), ajaran Nikolaus (2:15), ajaran Izebel (2:20), dan ajaran seluk-beluk Iblis (2:24). Jika Anda tidak mampu membedakan mata uang palsu dengan mata uang asli, maka lebih baik Anda tidak menerima mata uang apa pun, dan hanya menerima emas murni. Demikian juga, lebih baik tidak menerima se-mua pengajaran itu, melainkan menerima Kristus yang hidup itu.

Dalam Perjanjian Lama, kita nampak tiga tahap ten-tang makan Kristus: pohon hayat di taman, manna di pa-dang gurun, dan hasil yang kaya dari tanah permai. Kita berada di dalam ketiga tahap ini. Kita diciptakan di taman, kemudian karena kejatuhan, kita berada di Mesir. Setelah kita diselamatkan, kita keluar dari dunia dan kita berjalan kembali kepada Tuhan. Ketika kita sedang berjalan kembali kepada Tuhan, kita berada di padang gurun, dan di tempat itu ada manna. Ingatlah, janji tentang manna tersembunyi diberikan kepada para pemenang dalam gereja yang bersifat duniawi, gereja di Pergamus. Hal itu menunjukkan bahwa gereja di Pergamus telah kembali ke Mesir. Manna tidak ada di Mesir, manna hanya ada di padang gurun, dan manna yang tersembunyi hanya ada di dalam tempat maha kudus. Gereja di Pergamus menjadi satu gereja yang duniawi, gereja yang berada di Mesir. Di sana tidak ada manna. Jika kita ingin makan manna, baik yang terbuka maupun yang tersembunyi, kita harus keluar dari Mesir. Kita harus lari keluar dari tempat kediaman dan takhta Iblis, pergi ke pa-dang gurun. Di padang gurun kita mula-mula makan manna yang terbuka, lalu maju terus ke dalam tempat maha ku-dus, mendekati tabut perjanjian, dan makan manna yang tersembunyi. Terakhir, ketujuh surat ini sepertinya mem-bawa kita masuk ke tanah permai, yaitu Kristus. Di sini, di tanah permai, kita berpesta atas Kristus. Setiap tahun ketika umat Israel berhari raya, mereka berhari raya ber-sama Allah dan Allah pun berjamu bersama mereka. Ini merupakan satu contoh dari janji Tuhan kepada pemenang di Laodikia. Janji Tuhan bahwa Ia akan makan bersama mereka yang membukakan pintu bagi-Nya, menyiratkan perkara menikmati kelimpahan hasil bumi tanah Kanaan pada hari raya tahunan. Karena itu, surat kepada gereja di Efesus menyebutkan soal makan pohon hayat, surat kepada gereja di Pergamus menyebutkan soal makan manna yang tersembunyi yang terdapat di luar dunia, dan surat kepada gereja di Laodikia menyinggung tentang menikmati hasil yang limpah dari tanah permai Kanaan pada hari raya tahunan. Saat bani Israel berhari raya, mereka makan ber-sama Allah, mempersembahkan apa yang mereka makan kepada Allah, dan mempersilakan Allah makan bersama mereka. Demikian pula, Tuhan berkata bahwa Dia akan makan bersama kita dan kita makan bersama Dia. Jika ki-ta memiliki wawasan ini, kita akan mengetahui apa yang harus kita pentingkan hari ini. Kita bukan untuk peng-ajaran, kita untuk menikmati Kristus sepenuhnya sebagai pohon hayat, manna, dan hasil yang kaya limpah dari tanah permai.

C. Duduk Bersama Tuhan di Atas Takhta-Nya

Dalam ayat 21 Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk ber-sama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” Duduk bersama-sama dengan Tuhan di atas takhta-Nya adalah pa-hala yang diberikan kepada pemenang, agar dia dapat ber-bagian dalam kekuasaan Tuhan dan meraja bersama Tuhan pada Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, untuk mengatur seluruh bumi. Sekali lagi saya katakan, semua janji dalam ketujuh surat ini menyangkut kerajaan yang akan datang. Perkataan negatif tentang kerugian atau pen-deritaan ditujukan kepada kerugian yang diderita selama masa kerajaan yang akan datang, sedang perkataan positif tentang memperoleh sesuatu atau menikmati sesuatu, meng-acu kepada menikmati Kristus sebagai bagian khusus kita selama masa kerajaan. Kita harus mempunyai wawasan untuk memahami janji-janji itu secara memadai. Namun, dalam prinsipnya, janji-janji itu juga bisa diterapkan pada hari ini dan kita boleh mencicipi semuanya saat ini. Jadi kita tidak perlu menunggu sampai kita masuk ke dalam masa kerajaan baru bisa menikmati semua bagian khusus itu. Hari ini dalam hidup gereja kita berhak menikmati ke-rajaan. Puji Tuhan karena hidup gereja!

VII. PERKATAAN ROH ITU

Gereja yang suam-suam kuku dipenuhi dengan pengetahuan yang dingin, namun kekurangan Roh yang membakar. Ia sangat membutuhkan perkataan dari Roh yang hidup; ia tidak membutuhkan pengetahuan yang mati. Jika ia melupakan semua pengetahuan mati yang dimiliki-nya dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh yang hidup itu, ia akan diselamatkan dari keadaannya yang merosot.

Ketujuh gereja bukan hanya melambangkan pergerak-an maju gereja dalam tujuh zaman pada aspek nubuat, seperti yang telah kita lihat, juga melambangkan tujuh macam gereja dalam sejarah gereja: gereja sebermula, ge-reja yang menderita, gereja duniawi, gereja yang murtad, gereja Reformasi, gereja yang dipulihkan, dan gereja terpu-lih yang merosot lagi. Gereja sebermula berlanjut menjadi gereja yang menderita; gereja yang menderita beralih men-jadi gereja yang duniawi; gereja yang duniawi menjadi ge-reja yang murtad. Jadi, keempat gereja pertama, akhirnya menjadi satu macam gereja, yaitu gereja yang murtad. Ke-mudian, gereja Reformasi, sebagai reaksi terhadap gereja yang murtad, muncul sebagai gereja lain, yaitu gereja yang tidak pulih sepenuhnya. Sebab itu, selanjutnya gereja yang dipulihkan dibangkitkan, sebagai pemulihan hidup gereja yang tepat. Ini bisa dipandang sebagai gereja macam keti-ga. Karena gereja yang telah dipulihkan merosot lagi, mun-cullah gereja terpulih yang merosot lagi. Ini bisa dianggap sebagai gereja macam keempat. Keempat macam gereja ini akan tinggal sampai Tuhan kembali. Tidak diragukan lagi, hanya gereja yang dipulihkan yang bisa menggenapkan tu-juan kekal Allah, dan hanya dia yang dikehendaki oleh Tu-han. Kita harus menerima pilihan Tuhan.

?