PENDAHULUAN
Oleh belas kasih Allah, dalam pelajaran-hayat ini kita sampai pada kitab terakhir dari Alkitab, yakni Kitab Wahyu. Karena kelicikan musuh Allah, maka Kitab Wahyu ini te-lah tertutup dan sedikit sekali orang Kristen yang mema-haminya. Hampir tidak ada orang yang nampak soal hayat, ekonomi Allah, dan kesaksian Yesus dalam kitab ini. Kare-na itu, kami menerima beban dari Tuhan untuk meng-usahakan pelajaran-hayat kitab ini.
Kitab Wahyu adalah sebuah kitab nubuat (1:3; 22:7), karena wahyu yang terkandung di dalamnya bersifat nu-buat. Kebanyakan visi dalam kitab ini mengacu kepada per-kara-perkara yang akan datang. Bahkan ketujuh surat yang dikirimkan kepada ketujuh gereja dalam pasal 2 dan 3, di-pandang dari segi tanda-tanda, juga menubuatkan tentang gereja di bumi hingga kembalinya Tuhan. Kitab ini adalah kitab nubuat, namun bukan hanya nubuat dalam kata-ka-ta belaka, melainkan juga dalam visi yang ditampakkan kepada manusia. Dalam pandangan Allah, semua perkara yang dinubuatkan dalam kitab ini sudah terjadi. Karena itu, visi demi visi, semuanya ditampakkan kepada pelihatnya.
Sebagian besar dari kata kerja yang digunakan dalam Kitab Wahyu ini berbentuk kala lampau, menyatakan bah-wa segala peristiwa yang dicatat dalam kitab ini sudah ter-jadi. Pada hakikatnya, Kitab Wahyu bukan melulu nubuat, melainkan wahyu atas perkara-perkara yang sudah terjadi. Walaupun dalam pandangan kita, hal-hal itu belum terjadi, tetapi dalam pandangan Allah, semuanya itu telah terjadi. Dalam pandangan Allah, segala sesuatu yang tercatat da-lam kitab ini sudah terjadi hampir dua ribu tahun yang la-lu. Kita semua harus percaya akan hal ini. Kebanyakan orang Kristen menganggap Kitab Wahyu adalah sebuah ki-tab yang berisi ramalan dan mereka ingin tahu dan ingin memahami ramalan tersebut. Kebanyakan mereka memba-ca kitab ini hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu me-reka. Tetapi kita harus berkata kepada Tuhan, “O Tuhan, selamatkanlah kami dari keadaan yang demikian ini. Kami tidak ingin memahami kitab ini hanya karena rasa ingin tahu.” Saya tegaskan sekali lagi, Kitab Wahyu bukan hanya sebuah kitab nubuat, lebih-lebih satu catatan tentang se-gala sesuatu yang sudah terjadi.
Dalam Kitab Wahyu, ada dua perkara utama yang su-dah terjadi. Yang pertama adalah kesaksian Yesus telah di-genapi untuk selama-lamanya. Sudahkah Anda nampak Yerusalem Baru? Rasul Yohanes sudah melihatnya hampir dua ribu tahun yang lalu. Percayakah bahwa sekarang An-da berada di dalam Yerusalem Baru? Jika kita menganggap kita sudah gila dengan berkata demikian, maka kita gila menurut Alkitab. Yerusalem Baru, yang merupakan kesim-pulan terakhir dari pekerjaan Allah selama berabad-abad, telah terbangun dengan sempurna dan kita ada di dalamnya! Menurut dua pasal terakhir dari Kitab Wahyu, pembangunan Yerusalem Baru telah rampung. Inilah butir pertama di pihak positifnya.
Di pihak negatifnya, yaitu perkara utama kedua yang telah terjadi — Iblis, musuh Allah, telah ditanggulangi. Da-lam pandangan Allah, dan bahkan dalam pandangan sau-dara kita Yohanes, Iblis telah dilemparkan ke dalam lautan api (20:10). Iblis, si ular itu, berada dalam lautan api, dan kita berada dalam Yerusalem Baru. Sudahkah Anda nam-pak ini? Jika kita telah nampak bahwa Iblis berada dalam lautan api, kita tak akan minta kepada Allah untuk me-nanggulanginya. Sebagai gantinya, kita akan memuji Dia karena musuh telah dibereskan. Bila Iblis datang meng-ganggu kita, kita harus berkata, “Iblis, engkau datang ke tempat yang keliru. Tidak seharusnya engkau ada di sini. Engkau milik lautan api. Kembalilah ke sana dan jangan datang ke sini lagi!” Pernahkah Anda berbuat demikian? Kita semua harus bertindak demikian.
Alkitab selalu konsisten, juga terhadap perkara Iblis, musuh Allah itu. Dalam Kejadian 3, Iblis datang kepada manusia dengan cara yang licik, dalam bentuk ular. Dalam Kitab Wahyu, Iblis dengan sengaja disebut “si ular tua” (12:9; 20:2). Dalam Kitab Kejadian, si ular itu belumlah tua, namun dalam Kitab Wahyu, ia telah menjadi tua, sedi-kitnya telah berumur enam ribu tahun. Dengan tegas Ki-tab Wahyu menyebutnya “si ular tua”. Namun, pada saat Kitab Wahyu ditulis, Iblis bukan hanya “si ular tua”, bah-kan telah menjadi “seekor naga” (12:9; 20:2). Menurut Kitab Wahyu, naga ini mula-mula dilemparkan dari langit dan jatuh ke bumi (12:7-9). Setelah tiga setengah tahun, ia diikat dan dilempar ke jurang maut (Why. 20:1-3). Dalam Wahyu 20 kita nampak, setelah masa seribu tahun itu berakhir, Tuhan akan melepaskan Iblis dari jurang maut, karena ia masih bisa dipakai oleh Allah (20:7). Setelah dilepaskan, Iblis akan berusaha sebisanya merusak manusia, “ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang” (20:8). Tetapi tak lama kemudian, Iblis akan dilemparkan ke dalam lautan api (20:10). Itulah nasib dan kesudahan yang telah ditentukan baginya. Sela-ma ini Kitab Wahyu tertutup, karena kitab ini menelan-jangi Iblis, menyingkapkan nasib dan kesudahannya. Tetapi sekarang, pada akhir zaman ini, kita yakin Tuhan akan membuka kitab ini juga membuka hati, roh, dan mata kita, sehingga kita dengan jelas bisa melihat bahwa musuh Allah sekarang telah berada di dalam lautan api. Haleluya! Iblis, si ular tua itu, sekarang telah berada di dalam lautan api, dan kita berada di dalam Yerusalem Baru!
Yerusalem Baru adalah kesaksian Yesus. Gereja hari ini juga merupakan kesaksian Yesus. Hari ini, kita yang berada di dalam gereja, merupakan kesaksian Yesus. Kita semua harus benar-benar nampak hal ini, melupakan diri kita, melupakan kelemahan dan berbagai dosa yang me-ngelilingi kita, bahkan fakta bahwa kita ada di bumi. Bila seseorang bertanya kepada Anda, “Anda berada di mana?” Anda harus menjawab, “Aku berada di Yerusalem Baru.” Dalam Yerusalem Baru tidak ada serangga, katak, kala-jengking, atau ular. Lebih-lebih tidak ada dosa, maut, atau dunia. Tak ada yang lainnya kecuali Kristus dan umat tebusan Allah yang telah mengalami pengubahan (transformasi). Jika kita nampak ini, kita akan memuji Tuhan dan bersorak, “Haleluya!”
Wahyu 1:1 mengatakan, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera ter-jadi. Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes dengan perantaraan malaikat-Nya yang diutus-Nya.” Wahyu dalam kitab ini terutama tersusun dari tanda-tanda, yaitu lambang-lambang yang mempunyai makna rohani, seperti ketujuh kaki pelita yang melambangkan gereja-gereja, ke-tujuh bintang yang melambangkan utusan (malaikat) gere-ja-gereja (1:20), dan sebagainya. Bahkan Yerusalem Baru pun adalah suatu tanda yang melambangkan perampungan terakhir ekonomi Allah (pasal 21 dan 22). Karena itu, kitab ini adalah sebuah kitab tanda, yang membuat kita mema-hami wahyu. Kitab Injil Yohanes adalah sebuah kitab tan-da, yang melambangkan bagaimana Kristus datang sebagai hayat kita untuk menghasilkan gereja yaitu mempelai pe-rempuan-Nya. Kitab Wahyu Yohanes juga adalah sebuah kitab tanda yang menampakkan bagaimana Kristus seka-rang merawat gereja, bagaimana Ia datang untuk mengha-kimi dan memiliki bumi ini, serta membawa gereja, pe-ngantin perempuan-Nya, masuk ke dalam ekonomi Allah yang penuh.
I. SEBUAH KITAB KESIMPULAN
Kitab Wahyu adalah sebuah kitab kesimpulan. Jika Kitab Wahyu ini ditiadakan dari Alkitab, maka akan terjadi satu kekurangan yang besar, karena ada permulaan namun tanpa akhir. Sekalipun ada permulaan dalam Kitab Keja-dian, tetapi jika tanpa Kitab Wahyu, tidak ada penutup atau kesimpulannya. Jadi, setelah ada permulaan yang baik dan setelah melalui demikian banyak garapan, Allah perlu me-miliki satu kesimpulan. Tanpa Kitab Wahyu, tidak ada ke-simpulan ekonomi Allah. Allah itu Agung, Dia adalah Allah yang bertujuan. Untuk mencapai tujuan-Nya, ekonomi-Nya haruslah digenapi. Banyak pelajar Alkitab mengabaikan eko-nomi Allah ini. Jika kita tidak memiliki Kitab Wahyu, kita tidak bisa nampak penyempurnaan ekonomi Allah. Fakta menunjukkan bahwa kita sulit sekali memahami apakah ekonomi Allah itu, kalau kita tidak melihat buah atau hasil dari ekonomi-Nya. Tetapi dalam kitab ini wahyu ekonomi Allah terlihat sangat jelas, karena di dalamnya termuat ke-simpulan ekonomi Allah.
Tanpa Kitab Wahyu, kita juga tak akan memiliki ke-simpulan penebusan Kristus. Kristus datang dalam daging dan mati di atas salib untuk merampungkan penebusan. Tetapi apakah yang digenapkan oleh penebusan? Mengata-kan bahwa penebusan Kristus hanya menyelamatkan orang-orang dosa dan membawa mereka ke surga, ini adalah kesim-pulan yang kasihan. Kesimpulan semacam ini tidak begitu berarti. Tetapi dalam Kitab Wahyu kita nampak bahwa Kristus menebus kita, membeli kita dengan darah-Nya, un-tuk menjadikan kita suatu kerajaan, menjadi imam-imam. Karena itu, kitab ini memperlihatkan kesimpulan pene-busan Kristus.
Wahyu 1:6 mengatakan, Kristus telah “membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya”. Kaum beriman yang ditebus dengan darah Kristus, bukan hanya dilahirkan oleh Allah untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya (Yoh. 3:5), tetapi juga dijadikan ke-rajaan bagi ekonomi Allah. Kerajaan ini adalah gereja (Mat. 16:18-19). Yohanes, penulis kitab ini, berada di dalam kera-jaan ini (1:9), dan semua orang beriman yang ditebus dan dilahirkan kembali juga adalah satu bagian dari kerajaan ini (Rm. 14:17).
Aspek utama dari kitab ini ialah Allah sedang memu-lihkan bumi, supaya seluruh bumi menjadi kerajaan-Nya (11:15). Ketika Kristus datang untuk kali pertama, Ia telah membawa Kerajaan Allah datang bersama-sama (Luk. 17:21; Mat. 12:28). Kerajaan ini sudah meluas menjadi gereja (Mat. 16:18-19), gereja akan merampungkan berdirinya Kerajaan Allah di seluruh bumi. Di satu aspek, Kerajaan Allah pada hari ini adalah di dalam gereja, di aspek lain, Kerajaan Allah sedang datang melalui kaum beriman pemenang (12:10). Ke-mudian Kristus dan kaum beriman pemenang akan meme-rintah bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun (2:26-27; 12:5; 20:4, 6).
Demi darah Kristus kita beroleh penebusan, bukan ha-nya menjadi Kerajaan Allah, juga menjadi imam-imam-Nya (1 Ptr. 2:5). Kerajaan adalah untuk kedaulatan pemerintah-an Allah, imam adalah untuk ekspresi gambar Allah. Inilah imamat yang rajani (1 Ptr. 2:9) untuk merampungkan kete-tapan kehendak semula Allah menciptakan manusia (Kej. 1:26-28). Imamat yang rajani ini sedang dilatih dalam hidup gereja hari ini (5:10), dan akan dilaksanakan dengan di-perkuat dalam Kerajaan Seribu Tahun (20:6), dan akan ram-pung sempurna pada Yerusalem Baru (22:3, 5).
Kitab Wahyu juga menyajikan satu perwujudan gereja yang ajaib dan indah. Dalam kitab ini kita nampak ekono-mi Allah, penebusan Kristus, dan kesaksian gereja. Tanpa Kitab Wahyu, meskipun kita membaca Surat-surat Kiriman berulang-ulang, kita tidak akan memahami bahwa gereja adalah kesaksian Kristus. Dalam Surat Kiriman manakah kita nampak gereja-gereja bersinar sebagai kaki pelita di malam yang gelap? Hanya dalam Kitab Wahyu kita nam-pak ini. Dalam Kitab Wahyu, pertama-tama gereja adalah kaki pelita yang bersinar. Akhirnya, dalam kekekalan, ge-reja menjadi Yerusalem Baru, satu gunung emas. Inilah perwujudan akhir yang mengagumkan dari gereja. Situasi hari ini adalah palsu, dan tidak bisa dipercaya. Jangan ber-kata, “Betapa buruknya Gereja di Tiatira dan betapa kasih-an gereja di Sardis.” Kita harus memandang dari sisi lain-nya, sisi kekekalan, di mana kita nampak Yerusalem Baru. Bahkan hari ini, pada malam yang gelap, kita mempunyai kaki pelita yang bersinar.
Selain ekonomi Allah, penebusan Kristus, dan kesaksi-an gereja, Kitab Wahyu juga menyingkapkan nasib musuh. Jika kita tidak memiliki Kitab Wahyu, kita tidak akan mengetahui bagaimana nasib Iblis, dan tak seorang pun mampu memahami mengapa Allah tetap membiarkan Iblis yang licik, jahat, dan najis itu. Akan tetapi, jika kita me-masuki kedalaman kitab ini dan nampak kesimpulan akhir Iblis, kita akan gembira dan menertawai si ular. Karena itu, dalam Kitab Wahyu kita memiliki kesimpulan empat perkara besar — ekonomi Allah, penebusan Kristus, kesak-sian gereja, dan nasib Iblis.
A. Kesimpulan Tulisan Yohanes
Kitab Wahyu merupakan kesimpulan semua tulisan Yohanes. Seperti telah kita tunjukkan dalam pelajaran-ha-yat Injil Yohanes, semua tulisan Yohanes terdiri dari tiga kategori: kitab Injil, Surat Kiriman, dan Kitab Wahyu. In-jil Yohanes membicarakan perkara penyaluran hayat. Dalam Yohanes 10:10 Yesus berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup (hayat), dan mempunyainya dengan ber-limpah-limpah.” Dalam Yohanes 12:24 Ia berkata, “Sesung-guhnya Aku berkata kepadamu: ‘Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; te-tapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.’” Dari ayat-ayat ini kita nampak penyaluran hayat, pokok pikiran dari Injil Yohanes. Surat Kiriman Yohanes mengetengah-kan persekutuan untuk pertumbuhan hayat. Sekalipun ha-yat telah diberikan kepada kita, namun hayat itu perlu bertumbuh. Hayat bertumbuh melalui persekutuan. Karena itu, dalam Surat Kiriman Yohanes kita nampak persekutu-an untuk pertumbuhan hayat. Kategori terakhir tulisan Yohanes, Kitab Wahyu, membicarakan penuaian hayat. Per-tama, hayat disalurkan, kemudian bertumbuh, dan terakhir, hayat itu dituai. Tanpa Kitab Wahyu, kita memiliki penya-luran hayat dan pertumbuhan hayat, namun tanpa penuai-an hayat.
B. Kesimpulan Perjanjian Baru
Kitab Wahyu juga merupakan kesimpulan Perjanjian Baru, yang terdiri dari empat kitab Injil, Kitab Kisah Para Rasul, Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu. Dalam keempat kitab Injil kita nampak penaburan benih hayat, karena dalam kitab Injil Yesus datang untuk menaburkan diri-Nya ke dalam manusia sebagai benih hayat; menabur-kan diri-Nya ke dalam sejumlah kecil orang, seperti Petrus dan Yohanes. Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak perkembangbiakan hayat ini. Dalam Surat-surat Kiriman kita nampak pertumbuhan hayat. Pokok pikiran dari se-mua Surat kiriman yang ditulis oleh Paulus, Petrus, Yoha-nes, dan rasul-rasul lainnya adalah pertumbuhan hayat. Kita semua perlu bertumbuh dalam hayat. Dalam Kitab Wahyu, sekali lagi kita nampak penuaian hayat. Dalam Wahyu 14 kita memiliki ladang yang siap dituai dan pe-ngumpulan hasil. Wahyu 14:15 mengatakan, “Seorang ma-laikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu, ‘Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah ma-sak.’” Melalui ini kita nampak bahwa Kitab Wahyu meru-pakan kesimpulan Perjanjian Baru.
C. Kesimpulan Alkitab
Sebagai kitab terakhir dalam Alkitab, Kitab Wahyu adalah kesimpulan, kegenapan, dan perampungan segenap wahyu ilahi, yaitu seluruh Alkitab. Sebagian besar benih kebenaran wahyu ilahi ditaburkan dalam Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab. Dalam kitab-kitab berikutnya, terutama dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, benih itu bertumbuh, berkembang, dan dituai dalam Kitab Wahyu. Sebagai contoh, dalam Kitab Kejadian terdapat benih ular, dalam Kitab Wahyu terdapat penuaian ular itu. Karena itu, sebagian besar perkara yang dibicarakan dalam kitab ini, bukan perkara yang baru, melainkan sudah ada dalam ki-tab-kitab sebelumnya. Dalam Kitab Kejadian ada benih wahyu ilahi, dalam kitab-kitab berikutnya benih ini makin berkembang, dan dalam Kitab Wahyu terjadi penuaian atas wahyu ilahi ini. Karena itu, kita semua harus mencapai kedalaman kitab ini dan memahaminya. Jika kita tidak me-mahami kitab ini, kita tak akan mampu mengerti dengan jelas wahyu Allah. Seperti ketika berpiknik, sering kali kita baru jelas terhadap jalan-jalan yang harus kita lalui sete-lah kita tiba di tempat tujuan. Setelah kita tiba dan meno-leh kembali pada jalan yang telah kita tempuh, barulah kita jelas. Dalam Kitab Wahyu, sampailah kita pada tujuan dari seluruh Alkitab. Setelah sampai pada tujuan ini, kita bisa memahami kitab ilahi ini.
II. ISINYA
Sekarang sampailah kita pada isi Kitab Wahyu. Jangan mengira kitab ini penuh dengan katak, kalajengking, bela-lang, tanduk, ular, dan kuda. Juga jangan mengatakan isi-nya hanya tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh ca-wan. Tidak, kitab ini tidak hanya membicarakan hal-hal itu. Kitab ini pertama-tama membicarakan Kristus; kedua, gereja; dan ketiga, ekonomi Allah.
1. Wahyu Kristus — Unik dan Paling Akhir
Seluruh Alkitab mewahyukan Kristus. Sebagai kesim-pulan, kegenapan, dan perampungan Alkitab, Kitab Wahyu lebih-lebih adalah “wahyu Yesus Kristus” (1:1). Walaupun kitab ini juga mewahyukan banyak perkara lainnya, tetapi inti wahyunya adalah Kristus. Beberapa aspek visi menge-nai Kristus, seperti Kristus sebagai Imam Besar di antara gereja-gereja, yang merawat gereja dalam kasih namun de-ngan sikap menghakimi (1:13-16); Dia sebagai Singa-Anak Domba di tengah-tengah takhta Allah dan keempat makh-luk hidup dan di tengah-tengah kedua puluh empat tua-tua alam semesta, yang membuka ketujuh meterai dari adminis-trasi universal Allah (5:1—6:1); Dia sebagai satu “Malaikat lain yang kuat”, turun dari surga, untuk memiliki seluruh bumi (10:1-8; 18:1); dan sebagainya, tidak pernah dising-kapkan oleh kitab-kitab lainnya seperti dalam Kitab ini. Dalam kitab ini, wahyu tentang Kristus adalah unik dan paling akhir. Dalam keempat kitab Injil, Kitab Kisah Para Rasul, dan Surat-surat Kiriman, kita tidak melihat Kristus memiliki tujuh mata, tetapi hal ini diwahyukan dalam Ki-tab Wahyu (5:6). Kristus, Juruselamat kita, mempunyai tu-juh mata. Betapa menakutkan! Wahyu Kristus ini unik. Dalam Lukas 4:22 dikatakan tentang “kata-kata anugerah” (kata-kata yang indah, LAI) yang keluar dari mulut Kristus, tetapi dalam Wahyu 1:16 sebilah pedang tajam bermata dua yang keluar dari mulut-Nya. Di tempat lain, dalam Injil-Nya, Yohanes berkata, “Lihatlah, Anak Domba Allah” (1:29), tetapi dalam Kitab Wahyu, salah satu tua-tua berkata, “Li-hatlah, singa dari suku Yehuda” (5:5). Karena itu, wahyu Kristus dalam kitab ini unik. Dalam kitab lainnya Kristus tidak pernah diperkenalkan seperti dalam Kitab Wahyu. Butir pertama dari isi Kitab Wahyu adalah Kristus yang unik ini.
2. Kesaksian Yesus — Khusus dan Lengkap
Di satu pihak, kitab ini memberi kita “wahyu Kristus”, di pihak lain, kitab ini menampakkan kepada kita “kesak-sian Yesus” secara khusus dan lengkap (1:2, 9; 12:17; 19:10; 20:4). Kesaksian Yesus adalah gereja. Kitab Wahyu mema-parkan Kristus yang diwahyukan dan gereja yang bersaksi. Dalam kitab ini kita memiliki sebuah catatan tentang ge-reja secara khusus dan lengkap. Dalam kitab-kitab lainnya, gereja-gereja tak pernah disingkapkan seperti dalam Kitab Wahyu. Kaki pelita dalam pasal 1; kumpulan besar orang banyak yang tertebus dalam pasal 7; perempuan yang te-rang benderang dan anak laki-laki dalam pasal 12; tuaian dan buah sulung dalam pasal 14; para pemenang di atas lautan kaca dalam pasal 15; pengantin perempuan yang te-lah siap menikah dan tentara Kristus yang berperang da-lam pasal 19, serta Yerusalem Baru dalam pasal 21 dan 22 semuanya adalah “kesaksian Yesus”. Kesaksian Yesus ini adalah substansi, sifat, dan ciri khas roh nubuat itu (19:10). Kristus adalah Saksi Allah (1:5) adalah kesaksian dan eks-presi Allah. Gereja ialah kesaksian dan ekspresi Kristus. Dengan demikian, gereja adalah reproduksi kesaksian dan ekspresi Allah di dalam Kristus. Wahyu khusus tentang ge-reja dalam kitab ini sangatlah penting, kita semua harus mengenalnya.
C. Ekonomi Allah — Universal dan Kekal
Isi Kitab Wahyu juga mencakup ekonomi Allah. Ekonomi Allah merupakan administrasi-Nya yang universal dan kekal. Dalam Kitab Wahyu kita nampak administrasi Allah yang universal dan kekal bagi penggenapan ekonomi-Nya. Ruang lingkup administrasi-Nya adalah universal, sedang waktunya adalah kekal.
1. Ketujuh Meterai
Dalam administrasi Allah kelompok pertama dari se-mua butir yang ada ialah ketujuh meterai. Meterai menya-takan sesuatu yang tertutup, tersembunyi, dan tidak dibu-ka untuk umum. Keempat meterai yang pertama meliputi sejarah dunia, mulai dari kenaikan Kristus sampai akhir zaman ini (6:1-8). Sejarah dunia ini secara ringkas tetapi menyeluruh telah tercakup dalam keempat meterai itu. Pa-da pembukaan meterai-meterai itu kita nampak empat ekor kuda, masing-masing dengan penunggangnya. Penunggang kuda pertama adalah pemberitaan Injil, penunggang kuda kedua adalah peperangan, penunggang kuda ketiga adalah bencana kelaparan, dan penunggang kuda keempat adalah maut. Karena itu, dalam keempat meterai pertama ini kita memiliki Injil, peperangan, bencana kelaparan, dan maut. Jika Anda memahami sejarah dunia, Anda akan menyadari bahwa hal-hal itu sebenarnya merupakan situasi dunia se-lama dua puluh abad ini. Sejak Kristus naik ke surga, Injil terus diberitakan. Sepanjang abad, bersamaan dengan pem-beritaan Injil ini peperangan pun berkecamuk. Sejak Kekai-saran Romawi mengutus tentaranya untuk memusnahkan kota Yerusalem pada tahun 70, peperangan pecah dan se-makin lama semakin hebat, abad demi abad. Pada awal abad ini pecahlah Perang Dunia I dan berikutnya pecah pula pe-rang yang lebih besar dan lebih hebat, Perang Dunia II. Pe-rang selalu menimbulkan bencana kelaparan, dan bencana kelaparan menimbulkan maut. Keempat kuda inilah isi keempat meterai yang pertama.
Meterai kelima membahas seruan kaum saleh martir (6:9-11). Ini akan terjadi menjelang akhir zaman dan men-dekati awal kesusahan besar. Karena pemberitaan Injil sela-ma ini, banyak orang kudus menjadi martir. Menjelang akhir zaman, kaum saleh martir akan berseru, mohon Allah membalaskan darah mereka.
Meterai keenam terjadi sangat dekat dengan kesusah-an besar, meliputi pengguncangan bumi dan langit (6:12-17). Pada waktu membuka meterai keenam, akan terjadi suatu gempa bumi yang dahsyat (6:12) yang akan menjadi suatu peringatan bagi penghuni bumi. Sebagian orang jahat akan berkata, “Siapa Allah? Kamilah Allah!” Sekalipun me-reka menyebut diri mereka Allah, sewaktu Allah yang sejati datang mengguncangkan tempat kediaman mereka, mereka akan mengetahui siapa sebenarnya Allah itu. Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang mendebat saya. Mereka berkata, “Tuan Lee, engkau memberitakan tentang Allah. Tidak tahukah Anda bahwa kami adalah Allah?” Jawab sa-ya, “Baiklah, kita lihat siapa sebenarnya Allah! Sekalipun Allah masih bersikap sabar, namun kesabaran-Nya ada ba-tasnya. Suatu hari bila kesabaran-Nya telah habis, dengan kelingking-Nya Ia akan mengguncangkan bumi ini, barulah kalian akan tahu siapa sebenarnya Allah itu.” Sebelum ke-susahan besar tiba, Allah akan memberikan suatu peringat-an kepada seluruh penghuni bumi, memperingatkan mereka bahwa ada satu Allah. Pada saat meterai keenam dibuka, Allah bukan saja akan mengguncangkan bumi, tetapi juga langit. Wahyu 6:12-13 mengatakan, “Sesungguhnya terjadilah
gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam ba-gaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruh-nya bagaikan darah. Bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buah-nya yang mentah, apabila ia diguncang angin yang ken-cang.” Pada saat itu, bumi tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang jahat itu untuk hidup dengan sombong.
Meterai yang paling sulit dipahami adalah meterai ke-tujuh. Meterai ketujuh, yang akan berlangsung sampai ke-kal, terdiri dari ketujuh sangkakala. Jangan mengacaukan meterai dengan sangkakala. Meterai bersifat rahasia, se-dang sangkakala bersifat terbuka. Bila Anda memeteraikan sesuatu, berarti Anda membuatnya menjadi rahasia dan bersifat pribadi, tetapi bila Anda membunyikan sangkakala, berarti Anda menjadikan sesuatu bersifat terbuka.
2. Ketujuh Sangkakala — Isi dari Meterai Ketujuh
Ketujuh sangkakala adalah isi dari meterai ketujuh. Keempat sangkakala pertama merupakan penghakiman atas bumi, laut, sungai-sungai, matahari, bulan, dan bin-tang-bintang (8:7-12). Akibat penghakiman dari keempat sangkakala ini, bumi tidak lagi menjadi tempat yang cocok untuk hidup. Sangkakala kelima adalah celaka pertama da-ri penghakiman atas manusia, akan mengawali kesusahan besar (8:13—9:11). Seperti yang akan kita lihat, kesusahan besar sangat mengerikan. Sangkakala keenam, celaka ke-dua dari penghakiman lebih lanjut atas manusia, merupa-kan sebagian dari kesusahan besar (9:12-21). Sangkakala ketujuh sangat rumit, terdiri dari kerajaan kekal Kristus, celaka ketiga yang terdiri atas ketujuh cawan, penghakim-an atas orang mati, pemberian pahala kepada orang kudus dan kepada orang-orang yang takut akan Allah dan kebina-saan perusak bumi (11:14-18). Celaka ketiga, yang merupa-kan butir kedua dari sangkakala ketujuh, adalah penutup kesusahan besar. Setelah ini, ada pemberian pahala kepada nabi-nabi, orang-orang kudus, dan orang-orang yang takut akan nama Allah. Dari generasi ke generasi, ketiga kelom-pok orang ini telah muncul. Nabi-nabi kebanyakan berasal dari Perjanjian Lama, orang-orang kudus kebanyakan ber-asal dari Perjanjian Baru, dan orang-orang yang takut akan nama Allah akan muncul selama kesusahan besar. Sang-kakala ketujuh meliputi pahala yang akan Tuhan berikan kepada ketiga kelompok orang tadi. Sangkakala ketujuh juga terdiri atas penghakiman terhadap orang-orang mati dan kebinasaan perusak bumi. Para perusak bumi adalah Iblis, Antikristus, nabi palsu, dan semua pengikut mereka. Karena itu, sangkakala ketujuh meliputi segala perkara, dari akhir kesusahan besar sampai kekekalan.
3. Ketujuh Cawan
Ketujuh cawan adalah bagian dari isi negatif sangka-kala ketujuh, sebagai malapetaka terakhir dari murka Allah atas manusia, dan yang akan mengakhiri kesusahan besar (15:1,6-8; 16:1-21). Ketujuh cawan ini, seperti halnya ketu-juh meterai dan ketujuh sangkakala, terdiri dari satu ke-lompok dengan empat bagian yang pertama, kemudian yang kelima, keenam, dan yang ketujuh. Pengelompokan ini sangat bermakna. Jelaslah penulis Kitab Wahyu pastilah Allah sendiri. Siapa lagi yang mempunyai hikmat yang sangat diperlukan untuk menulis kitab ini? Jika kitab ini ditulis menurut khayalan Yohanes, berarti Yohanes itu seharusnya adalah Allah. Kitab Wahyu disusun secara menakjubkan.
III. BAGIAN-BAGIANNYA
Kitab Wahyu terdiri dari lima bagian: pendahuluan (1:1-8), hal-hal yang dilihat (1:9-20), hal-hal yang ada seka-rang (2:1—3:22), hal-hal yang akan terjadi (4:1—22:5), dan penutup (22:6-21). Dalam pendahuluan, kita memiliki wahyu Kristus dan kesaksian Yesus. Sekalipun Kitab Wahyu men-cakup ekonomi Allah, ekonomi Allah bukanlah fokus pen-ting dalam kitab ini. Dua butir yang sangat penting yang merupakan fokus Kitab Wahyu adalah Kristus dan gereja, yaitu, wahyu Kristus dan kesaksian Yesus. Setelah penda-huluan, kita memiliki hal-hal yang dilihat, yakni ketujuh kaki pelita dan Anak Manusia dengan ketujuh bintang. Ke-mudian, dalam pasal 2 dan 3, kita memiliki hal-hal yang ada sekarang, yakni ketujuh gereja lokal. Bagian berikut-nya, meliputi hal-hal yang akan terjadi, terdiri dari dua ba-gian. Bagian pertama (4:1—11:19) memberikan pandangan umum mengenai hal-hal yang akan datang dari kenaikan Kristus sampai kekekalan yang akan datang. Dalam bagian kedua (12:1—22:5) ada rincian hal-hal penting yang dibahas dalam bagian pertama. Kedua bagian ini mirip Kejadian pa-sal 1 dan 2. Dalam Kejadian 1 kita memiliki catatan umum penciptaan Allah. Dalam Kejadian 2 kita memiliki rincian penciptaan Allah atas manusia. Seprinsip dengan itu, dalam Wahyu 4:1—11:19 kita memiliki pandangan umum dari se-mua hal yang akan datang, dan dalam Wahyu 12:1—22:5 kita memiliki rincian hal-hal penting yang akan datang. Jangan menganggap kesebelas pasal yang terakhir merupakan kelanjutan dari kesebelas pasal yang pertama, karena pandangan umum dari hal-hal yang akan datang tersimpul pada akhir pasal 11. Setelah semua rincian hal-hal yang akan datang yang diungkapkan pada bagian terakhir dari potongan ini, kita memiliki Wahyu 22:6-21 sebagai penutup Kitab Wahyu.