← Daftar isi Kaum Muda bagi Pembangunan Gereja Pola-pola Kita untuk Membangun Gereja · bab 6/24

STATUS GEREJA (4) KAKI PELITA EMAS

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:31-40; Za. 3:9; 4:2-10; Why. 1:11-12, 20b; 4:5; 5:6; Kol. 2:9; 1:15; Kej. 1:26; 1 Yoh. 5:11-12; Why. 21:18b, 23; 22:1, 5

Garis Besar

I. Kaki pelita emas melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal

A. Emas melambangkan sifat ilahi Bapa, esens, substansi ilahi

B. Bentuk melambangkan Putra sebagai perwujudan ke-Allahan di dalam keinsanian-Nya

C. Tujuh pelita melambangkan Roh itu sebagai ekspresi

II. Kaki pelita emas melambangkan Israel sebagai kesaksian Allah di dalam Perjanjian Lama dan milenium

A. Bercahaya melalui Tujuh Mata (Roh) Yehova

B. Sebagai Tujuh Mata Kristus (Batu-Juruselamat bagi Bangunan Allah)

III. Kaki pelita emas melambangkan tujuh gereja lokal sebagai kesaksian Allah di dalam Perjanjian Baru

A. Bercahaya di zaman yang gelap seperti di malam hari, memikul kesaksian Yesus

1. Dengan esens ilahi Bapa

2. Dalam bentuk insani Putra

3. Melalui ekspresi Roh

B. Dirampungkan dalam Yerusalem Baru

C. Ekspresi Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kekekalan

Dalam pelajaran ini kita akan membahas aspek terakhir dari status gereja–gereja sebagai kaki pelita emas.

Satu dari lambang-lambang penting dalam Alkitab adalah kaki pelita emas. Wahyu 1:12 berkata, "Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki pelita dari emas." Wahyu 1:20b menerangkan bahwa "tujuh kaki pelita emas adalah tujuh gereja." Jadi, gereja dilambangkan oleh sebuah kaki pelita emas.

Wahyu mengenai kaki dian emas ditemukan di dalam Keluaran, Zakharia, dan Wahyu. Di dalam Keluaran kaki pelita melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal. Di dalam Zakharia melambangkan bangsa Israel sebagai kesaksian Allah. Di dalam Wahyu kaki pelita melambangkan gereja sebagai perwujudan hidup Allah bagi kesaksian Yesus. Oleh karena itu, kaki pelita adalah sebuah lambang dari Kristus, bangsa Israel, dan gereja. Selanjutnya, seperti yang kita lihat, kaki pelita melambangkan perwujudan Allah Tritunggal. Dengan Kristus, Israel, dan gereja, kaki pelita emas adalah sebuah gambaran Allah Tritunggal.

I. KAKI PELITA EMAS MELAMBANGKAN KRISTUS

SEBAGAI PERWUJUDAN ALLAH TRITUNGGAL

Kaki pelita dalam Keluaran 25 melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal. Sebagai satu lambang Kristus, kaki pelita menggambarkan Kristus sebagai hayat kebangkitan yang bertumbuh, beranting, bertunas, dan mekar untuk menyinari. Yesus Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Allah ada di dalam Dia, dan di luar Dia tidak ada seorangpun yang dapat menemukan Allah.

A. Emas Melambangkan Sifat Ilahi Bapa, Esens, Substansi Ilahi

Dengan kaki pelita sebagai satu lambang Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal, terdapat tiga hal penting: emas, kaki, dan pelita-pelita. Tiga hal ini menyatakan secara tidak langsung arti Allah Tritunggal. Emas adalah substansi yang dengannya kaki pelita dibuat, kaki pelita adalah perwujudan emas, dan pelita-pelita adalah ekspresi kaki pelita.

Menurut Keluaran 25:31, kaki pelita dibuat dari emas murni. Emas adalah substansi, elemen kaki dalam keseluruhannya. Dalam perlambangan, emas melambangkan sifat ilahi, sifat Allah Bapa. Jika kita memperhatikan substansi ini, elemen dari kaki pelita ini, kita akan melihat bahwa hal tersebut melambangkan sifat ilahi. Jadi, dengan hal ini kita dapat melihat Allah Bapa, Pesona yang memiliki sifat-Nya adalah substansi kaki pelita. Kaki pelita emas ada di dalam sifat Allah Bapa.

Allah Bapa dilambangkan dengan emas yang dengannya kaki pelita dibuat. Karena itu, dengan emas kita melihat Trinitas ilahi yang pertama, Bapa.

B. Bentuk Melambangkan Putra sebagai Perwujudan Ke-Allahan

dalam Keinsanian-Nya

Dalam Keluaran 25 kaki pelita dibuat dari emas murni yang memiliki rupa atau bentuk yang jelas. Bentuk kaki pelita emas melambangkan Putra sebagai perwujudan ke-Allahan di dalam keinsanian-Nya (Kol. 2:9). Karena itu, rupa, bentuk, dari kaki pelita melambangkan Trinitas kedua, Putra.

Allah Bapa tidak dapat dilihat dan abstrak. Allah Putra adalah perwujudan dari Persona yang tidak terlihat ini. Kaki pelita adalah satu bentuk yang melambangkan Allah Putra sebagai perwujudan Allah Bapa. Bentuk kaki pelita yang solid ini adalah perwujudan emas. Menurut Perjanjian Baru, Allah Bapa terwujud di dalam Allah Putra. Jadi, di dalam kaki pelita kita memiliki substansi melambangkan Bapa, dan bentuk yang solid melambangkan Putra.

Emas kaki pelita dibuat ke dalam sebuah bentuk yang tertentu, yang menunjukkan fungsinya. Bentuk ini adalah Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 kor. 4:4; Kol. 1:15). Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakannya dalam gambaran-Nya (Kej. 1:26). Sejak Kristus adalah gambaran Allah, manusia diciptakan menurut Kristus. Allah tidak memiliki satu bentuk fisik, tetapi Dia memiliki satu ekspresi dari gambaran-Nya. Kristus, Anak yang terkasih, adalah gambaran Allah yang tidak terlihat. Fungsi dari gambaran ini, bentuk ini, adalah untuk mengekspresikan Allah. "Tidak seorangpun pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh. 1:18).

C. Tujuh Pelita Melambangkan Roh itu sebagai Ekspresi

Keluaran 25:37 berkata, "Haruslah kaubuat pada kaki pelita itu tujuh pelita." Tujuh pelita ini melambangkan Allah Roh yang adalah tujuh Roh Allah bagi ekspresi-Nya (Wah. 4:5; 5:6). Cahaya dari pelita-pelita menunjukkan ekspresi.

Secara substansi kaki pelita adalah satu, tetapi secara ekspresi adalah tujuh, sebab satu kaki pelita dengan tujuh pelita. Di dalam substansi kaki pelita adalah satu potongan emas, tetapi memiliki tujuh pelita. Ini menunjukkan bahwa, secara misterius, di dalam substansi Allah Tritunggal adalah satu tetapi di dalam ekspresi Dia adalah tujuh Roh. Bapa, sebagai substansi terwujud di dalam Putra sebagai bentuk, dan Putra terekspresi sebagai tujuh Roh.

Kita dapat membuktikan dari Alkitab bahwa tujuh pelita dari kaki pelita emas melambangkan Roh itu yang mengekspresikan Kristus. Bila kita hanya memiliki catatan di dalam Keluaran, akan menjadi sulit untuk menyadari bahwa tujuh pelita adalah Roh. Tetapi ketika kita maju dari Keluaran ke Zakharia, kita melihat bahwa tujuh pelita adalah tujuh mata Kristus, tujuh mata Yehova. (Za. 3:9; 4:10). Ketika kita melanjutkan ke Wahyu, kita melihat bahwa tujuh mata anak Domba adalah tujuh mata yang adalah tujuh Roh Allah yang diperkuat. (Why. 5:6). Karena itu, kita memiliki sebuah dasar yang kuat untuk berkata bahwa tujuh pelita adalah tujuh Roh, yang adalah, Roh yang diperkuat tujuh ganda, sebagai ekspresi Kristus.

Jadi, tujuh pelita adalah ekspresi Allah Putra sebagai perwujudan Allah Bapa. Emas melambangkan Bapa sebagai substansi, kaki pelita melambangkan Putra sebagai perwujudan Bapa, dan pelita-pelita melambangkan Putra sebagai ekspresi Bapa di dalam Putra. Jadi, arti Allah Tritunggal dinyatakan di dalam kaki pelita.

II. KAKI PELITA EMAS MELAMBANGKAN ISRAEL SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH DI DALAM PERJANJIAN LAMA DAN MILENIUM

Kaki pelita pertama kali disebut di dalam Keluaran 25. Mendekati akhir Perjanjian Lama, kaki pelita disebutkan lagi di dalam Zakharia 4:2. "Apa yang engkau lihat?" Jawabku: "Aku melihat: tampak sebuah kaki pelita dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kaki pelita itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada pada bagian atasnya itu" (Ibr.). Di sini kaki pelita melambangkan Israel sebagai kesaksian Allah di dalam Perjanjian Lama dan kerajaan seribu tahun. Pada masa Perjanjian Lama, ketika bangsa Israel di dalam satu kondisi yang normal, itu adalah kesaksian Allah. Di dalam kerajaan seribu tahun mendatang, bangsa Israel yang dipulihkan akan sekali lagi menjadi kesaksian Allah yang dilambangkan dengan sebuah kaki pelita emas.

Di dalam Keluaran 25 kita hanya memiliki kaki pelita dengan tujuh pelita; tidak disebutkan tujuh pelita itu menunjukkan apa. Bagaimanapun, di dalam Zakharia kita diberikan satu penafsiran yang jelas dari tujuh pelita, di dalam kitab ini kita diberi tahu bahwa tujuh pelita adalah tujuh mata Yehova (4:10) dan tujuh mata batu (3:9).

A. Bercahaya melalui Tujuh Mata (Roh) Yehova

Dalam Zakharia kita memiliki tujuh mata dan tujuh pelita tetapi bukan tujuh Roh. Tetapi di dalam Wahyu tujuh pelita dikembangkan ke dalam tujuh Roh. "Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah" (Wah. 4:5). Di sini kita memiliki satu perkembangan yang baru dan lebih jauh dari tujuh pelita sebagai tujuh Roh, kita diberi tahu secara jelas bahwa tujuh pelita adalah tujuh Roh Allah. Sejak tujuh pelita adalah tujuh mata dan juga tujuh Roh, kemudian tujuh mata di dalam Zakharia 4:10 adalah tujuh Roh. Ini memberikan kita dasar untuk berkata bahwa kaki pelita di dalam Zakharia 4 bersinar melalui tujuh mata, tujuh Roh, dari Yehova.

B. Sebagai Tujuh Mata Kristus (Batu-Juruselamat bagi Bangunan Allah)

Tujuh mata, tujuh Roh, dari Yehova adalah tujuh mata Kristus, yang adalah Batu-Juruselamat bagi bangunan Allah. Zakharia 3:9 berkata, “Sebab sesungguhnya permata (tl. batu) yang telah Kuserahkan kepada Yosua–satu permata (tl. batu) yang bermata tujuh–sesungguhnya aku akan mengukir ukiran di atasnya, demikianlah firman TUHAN semesta alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.” Referensi mengukir batu menunjukkan bahwa batu ini adalah Kristus. Tuhan Yesus sebagai batu bangunan, diukir, dibereskan, oleh Allah di atas kayu salib bagi kesalahan umat Allah. Dalam satu hari, yaitu dengan diukir di atas kayu salib, Tuhan Yesus menghapus semua dosa umat Allah (Yoh. 1:29). Karena itu, batu dengan tujuh mata adalah Kristus, Batu-Juruselamat.

Kita tahu bahwa Kristus adalah Batu-Juruselamat, dengan fakta bahwa tujuh mata dari batu dalam Zakharia 3:9 menjadi tujuh mata Anak Domba di dalam Wahyu 5:6. “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta itu dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” Anak Domba di sini memiliki tujuh mata, yang adalah tujuh Roh Allah. Di dalam Wahyu 4:5 tujuh kaki pelita adalah tujuh Roh Allah, dan di dalam 5:6 tujuh mata Anak Domba adalah tujuh Roh Allah. Di sini kita memiliki perkembangan yang lebih jauh di atas Zakharia, tujuh mata bukan hanya tujuh mata batu tetapi juga tujuh mata Anak Domba. Tujuh mata Anak Domba ini adalah tujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Ini merupakan sebuah referensi Zakharia 4:10, di mana kita sebutkan bahwa tujuh mata Yehova berlari kepada dan bagi melalui seluruh bumi. Di dalam Zakharia 3 dan 4 kita memiliki tujuh mata batu, tujuh lampu dari kaki pelita, dan tujuh mata Yehova, semuanya yang merupakan tujuh Roh Allah.

III. TUJUH KAKI PELITA EMAS MELAMBANGKAN TUJUH GEREJA LOKAL SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH DI DALAM PERJANJIAN BARU

Baik di dalam Keluaran dan Zakharia kaki pelita adalah satu secara unik. Tetapi di dalam Wahyu, kitab perampungan, ini adalah tujuh pelita yang melambangkan tujuh gereja lokal (Why. 1:12, 20b). Ini menunjukkan bahwa Kristus seperti yang dilambangkan oleh kaki pelita di dalam Keluaran dan Roh Allah seperti yang dilambangkan oleh tujuh pelita dari kaki pelita di dalam Zakharia adalah bagi reproduksi gereja-gereja lokal. Satu kaki pelita direproduksi di dalam tujuh kaki pelita. Sebenarnya, terdapat lebih dari tujuh gereja lokal di atas bumi pada masa Wahyu. Karena itu, jumlah tujuh di dalam Wahyu 1 adalah suatu jumlah yang mewakili. Semua gereja-gereja lokal sebagai beberapa kaki pelita adalah reproduksi Kristus dan Roh itu sebagai satu kaki pelita. Reproduksi ini sebenarnya adalah satu multiplikasi dari ekspresi Kristus yang ajaib sebagai Roh pemberi hayat di dalam satu cara yang praktis.

Di dalam Keluaran 25 penekanannya pada kakipelita – pada Kristus. Di dalam Zakharia penekanannya pada pelita-pelita – Roh itu. Akhirnya, di dalam Wahyu, baik kaki pelita dan pelita-pelita, yang adalah Kristus dan Roh itu, direproduksi sebagai gereja-gereja lokal. Kaki pelita dengan pelita-pelitanya di dalam Wahyu adalah reproduksi Kristus dan Gereja.

A. Bercahaya di dalam Zaman Kegelapan seperti di Malam Hari, Memikul Kesaksian Yesus

Sebagai kaki pelita emas, gereja-gereja bercahaya di dalam kegelapan. Kata "kaki pelita" memungkinkan kita untuk lebih memahami tentang gereja dan fungsinya. Gereja bukan pelita; gereja adalah kaki pelita, kaki yang menyangga pelita. Tanpa pelita, kaki pelita hampa dan tidak berarti apapun. Tetapi kaki pelita menyangga pelita yang bercahaya. Kristus adalah pelita (Why. 21:23), dan gereja adalah kaki pelita yang menyangga pelita. Allah di dalam Kristus, dan Kristus sebagai pelita disangga oleh kaki pelita untuk memancarkan kemuliaan Allah. Ini merupakan kesaksian gereja.

Gereja-gereja sebagai kaki pelita emas memikul kesaksian Yesus. "Kesaksian Yesus" (Why. 1:2, 9; 20:4) adalah sebuah ekspresi almuhit. Kesaksian Yesus adalah kesaksian Putra yang datang bersama dengan Bapa oleh Roh untuk hidup di atas bumi, mati di atas kayu salib untuk membereskan alam semesta, melepaskan hayat ilahi dan bangkit dari kematian menjadi Roh pemberi hayat, yang kemudian datang sebagai Putra dengan Bapa yang disusun dengan keilahian, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, termasuk seluruh atribut ilahi dan kebajikan-kebajikan insani. Kesaksian ini memiliki sebuah lambang – kaki pelita emas. Kaki pelita emas adalah kesaksian Yesus.

Kaki pelita bercahaya di dalam kegelapan. Jika tidak terdapat kegelapan, juga tidak terdapat keperluan bagi penyinaran dari terang pelita. Penyinaran pelita sangat khusus. Agar pelita bercahaya, harus memiliki minyak yang membakar di dalamnya. Jika minyak terbakar di dalam pelita, terang akan memancar ke seluruh kegelapan. Ini merupakan fungsi gereja. Fungsi gereja bukan hanya memberitakan atau mengajarkan doktrin. Di dalam kegelapan malam zaman ini, gereja harus memancarkan kemuliaan Allah.

1. Dengan Esen Ilahi Bapa

Sebagai kesaksian Yesus, kaki pelita emas adalah perwujudan Allah Tritunggal. Di dalam kaki pelita emas terdapat tiga faktor utama: Substansi, rupa atau, dan ekspresi. Substansi, bahan, dari kaki pelita adalah emas yang melambangkan esen ilahi Bapa.

Tidak ada barang-barang yang terbuang di dalam kaki pelita, kaki pelita dibuat dari emas. Dalam perlambangan, barang-barang yang terbuang melambangkan sesuatu yang lain dari Allah dibawa masuk untuk menghasilkan sebuah campuran. Fakta bahwa gereja adalah sebuah kaki pelita emas menunjukkan bahwa kita seharusnya tidak membawa sesuatu yang lain dari Allah ke dalam kehidupan gereja. Bahkan hal-hal yang baik pun seperti etika, kebudayaan, pendidikan, dan agama yang tepat adalah barang-barang yang terbuang, sebab mereka bukan diri Allah. Hanya Allah, Pribadi yang ilahi, merupakan emas yang adalah substansi dari kaki pelita. Tidak diragukan, Paulus memiliki kenyataan ini ketika dia berkata kepada kita di dalam 1 Korintus 3 bahwa di atas Kristus, fondasi gereja yang unik, kita tidak seharusnya membangun dengan kayu, rumput kering, atau jerami tetapi dengan emas, perak, dan batu-batu permata.

Sebagai gereja-gereja lokal, kaki pelita adalah emas di dalam sifat. Dalam perlambangan, emas melambangkan keilahian, sifat ilahi Allah. Semua gereja lokal adalah ilahi di dalam sifat; mereka disusun oleh esens ilahi. Kaki-kaki pelita ini tidak dibangun dari tanah, kayu, atau substansi inferior lainnya; mereka dibangun dari emas murni. Ini berarti bahwa semua gereja lokal haruslah ilahi. Tanpa keilahian, tidak akan ada gereja. Meskipun gereja tersusun dari keinsanian dengan keilahian, keinsanian seharusnya tidak menjadi sifat dasar gereja-gereja lokal. Sifat dasar gereja-gereja lokal harus ilahi.

2. Dalam Bentuk Insani Putra

Kaki pelita emas bukan sebongkah emas tetapi emas di dalam bentuk yang pasti dan bentuk dengan maksud tertentu. Rupa dan bentuk dari kaki pelita melambangkan bentuk insani Putra. Kristus, Putra, adalah perwujudan ke-Allahan, perwujudan sifat Bapa (Kol. 2:9). Jadi, gereja seharusnya bukan hanya memiliki esens ilahi Bapa tetapi juga bentuk insani Putra.

Fakta bahwa bentuk kaki pelita melambangkan Putra sebagai perwujudan ke-Allahan menunjukkan bahwa gereja seharusnya tidak samar-samar tetapi seharusnya memiliki sebuah bentuk yang jelas. Dalam Wahyu pasal dua dan tiga, Tuhan Yesus, sebagai perwujudan Allah yang tidak terlihat, dengan jelas berdiri ketika Dia berbicara kepada gereja-gereja. Gereja-gereja juga seharusnya berdiri, memiliki bentuk Putra.

3. Melalui Ekspresi Roh

Selanjutnya, kaki pelita emas sebagai kesaksian Yesus memiliki ekspresi Roh. Tujuh pelita dari kaki pelita bercahaya bagi ekspresi Allah. Tujuh pelita ini adalah tujuh Roh Allah. Jadi, kaki pelita adalah esens Bapa, bentuk insani Putra, dan ekspresi Roh. Sejak kaki pelita emas memiliki tiga aspek ini, kita dapat berkata bahwa kaki pelita emas melambangkan perwujudan Allah Tritunggal, dengan Bapa sebagai substansi, Putra sebagai bentuk, dan Roh sebagai ekspresi.

Mengatakan bahwa gereja adalah perwujudan Allah Tritunggal tidak membuat gereja sebagai bagian dari ketuhanan atau sebuah obyek penyembahan. Yang kita maksudkan bahwa gereja adalah satu kesatuan yag lahir dari Allah (Yoh. 1:12-13), memiliki hayat Allah (1 Yoh. 5:11-12), dan menikmati sifat Allah (2 Pet. 1:4). Gereja memiliki substansi ilahi, mengemban rupa Kristus, dan mengekspresikan Allah. Karena kita telah lahir dari Allah, kita memiliki hayat Allah dan memiliki sifat-Nya. Sekarang kita dapat menikmati hayat dan sifat ini hari demi hari dan belajar memperhidupkannya bukan dengan hayat alamiah kita tetapi dengan hayat dan sifat ilahi. Ketika kita memperhidupkan cara ini dan kita diubah, akan terdapat kepenuhan, ekspresi, dan bentuk, penampilan Kristus. Selanjutnya, kita akan bercahaya oleh Roh yang diperkuat tujuh ganda.

Seperti yang dilambangkan oleh kaki pelita emas, gereja adalah perwujudan Allah Tritunggal untuk mengekspresikan-Nya. Sebagai anggota-anggota Kristus, kita adalah anak-anak Allah yang lahir dari-Nya, memiliki hayat-Nya dan memiliki sifat-Nya. Seharusnya kita belajar hidup dengan hayat dan sifat ini sehingga kita dapat dipenuhi dan dijenuhi dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses untuk menjadi ekspresi korporat-Nya melalui Roh yang diperkuat tujuh ganda.

B. Dirampungkan di dalam Yerusalem Baru

Gereja-gereja sebagai kaki pelita emas akan dirampungkan di dalam Yerusalem Baru. Yerusalem Baru, kota kudus, merupakan agregat dari seluruh kaki pelita. Bila kita memperhatikan fakta-fakta bahwa Yerusalem Baru adalah satu kota emas (Why. 21:18b), yang memiliki satu jalan yang menjangkau dua belas pintu gerbang (Why. 21:21; 22:2), tembok kotanya yang tinggi adalah seratus empat puluh empat hasta (Why. 21:17), dan yang tinggi kotanya sendiri adalah dua belas ribu mil (Why. 21:16), kita akan menyadari kota itu tepatnya adalah sebuah gunung. Di atas puncak gunung ini adalah sebuah takhta, yang darinya jalan melingkar ke bawah menjangkau dua belas pintu gerbang. Di atas puncak gunung emas ini adalah takhta sebagai pusat. Di atas takhta adalah Kristus sebagai Anak Domba dengan Allah di dalam-Nya (22:1). Anak Domba ini adalah pelita dengan Allah di dalam-Nya sebagai terang (21:23; 22:5).

Gunung emas ini adalah satu kaki pelita dan di atas kaki ini adalah sebuah pelita. Jadi, gunung emas ini Yerusalem Baru – adalah sebuah kaki pelita emas. Sebagai satu kaki pelita emas, ia memiliki Kristus sebagai pelita dengan Allah di dalam-Nya sebagai terang yang bersinar selama kekekalan. Jadi, Yerusalem Baru, agregat dari seluruh kaki pelita, totalitas dari kaki pelita-kaki pelita hari ini, adalah sebuah kaki pelita emas yang rampung, universal yang memancarkan kemuliaan Allah di dalam langit baru dan bumi baru selama kekekalan.

C. Mengekspresikan Allah Tritunggal yang telah Melalui Proses

di dalam Kekekalan

Sebagai perampungan kaki pelita emas, Yerusalem Baru akan mengekspresikan Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kekekalan. Yerusalem Baru akan menjadi satu gunung emas dengan dua belas pintu gerbang mutiara dan dengan satu tembok permata yang dibangun di atas dua belas lapisan batu-batu permata. Emas mengekspresikan Allah di dalam sifat-Nya, mutiara mengekspresikan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan batu-batu permata mengekspresikan Roh itu di dalam pekerjaan transformasi-Nya. Jadi, Yerusalem Baru akan menjadi ekspresi tritunggal dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses – ekspresi Bapa sebagai sumber, Putra sebagai perwujudan, dan Roh itu sebagai realisasi dan transmisi.

Ini adalah aspek terakhir dari status gereja. Aspek ini sangat menarik karena lambang yang sama digunakan untuk Allah Tritunggal, anak-anak Israel, dan gereja. Kita akan dibaurkan dengan Dia sampai satu tingkat sedemikian sehingga kita akan mengekspresikan Dia secara penuh. Satu dari lambang-lambang yang digunakan untuk Dia, kaki pelita, juga digunakan bagi gereja. Ini adalah ajaib! Apa lagi yang dapat kita katakan kecuali "Haleluya! Bagi Dikau, O Tuhan, kemuliaan selama-lamanya di dalam gereja. Rencana-Mu bagi gereja adalah ajaib. Aku akan memberikan seluruh hidupku bagi Dikau bagi gereja-Mu. Aku akan mengeluarkan tenagaku bagi pembangunan gereja-Mu. Aku akan tinggal di dalam gereja-Mu selama-lamanya. Amin!"