Berita Dua
Standar Moralitas yang Tertinggi
Pembacaan Alkitab: Luk. 1:31-32, 35, 68-69, 75, 78-79; 2:40, 52
Sewaktu kami menyajikan pelajaran-kristalisasi Injil Lukas ini, kami mendorong Anda untuk mengambil waktu untuk membawa seluruh Injil ini. Ada terdapat dua puluh empat pasal, jadi Anda hanya perlu membaca empat pasal setiap hari selama enam hari untuk menyelesaikannya. Sewaktu Anda membaca, Anda harus memberi perhatian khusus kepada Tuhan Yesus sebagai manusia-Allah, Manusia-Penyelamat, di dalam seluruh kehidupan, sikap, pengajaran, dan pekerjaan-Nya.
Beban utama di dalam berita ini adalah agar kita bisa nampak standar moralitas yang tertinggi sebagai satu kristal yang khusus di dalam Injil Lukas. Dengan bantuan Tuhan, kita semua perlu memahami dengan jelas apakah yang kita maksud dengan frase standar moralitas yang tertinggi. Bagi banyak dari kita, ini akan menjadi sangat berbeda dari pemahaman kita yang biasa akan moralitas. Menurut pemahaman umum, moralitas mengacu kepada satu kelompok prinsip yang dengannya kita membedakan antara apa yang baik dan apa yang jahat, terutama di dalam alam tingkah laku. Jadi, ketika seseorang percaya dan bersikap menurut standar tingkah laku yang tepat dan benar, kita akan berkata bahwa ia adalah seorang yang bermoral. Menurut pemahaman ini, moralitas adalah karakter yang luhur yang dipertunjukkan oleh sikap yang unggul dan kehidupan yang beretika. Kebaikan, ramah tamah, suka menolong, dan ketulusan semuanya adalah bagian dari moralitas jenis ini. Semua pemahaman ini termasuk di dalam standar moralitas yang tertinggi, tetapi tidaklah cukup untuk sepenuhnya mendefinisikan moralitas yang sejati, standar moralitas yang tertinggi, yang adalah judul berita ini. Standar moralitas yang tertinggi mencakup diri Allah sendiri. Pada faktanya, moralitas yang tertinggi di bumi adalah satu perbauran keilahian dengan keinsanian kita yang diciptakan Allah sehingga semua karakteristik, atau atribut, ilahi yang kaya dan limpah dari Allah terekspresi di dalam kebajikan-kebajikan yang unggul dari keinsanian kita yang diciptakan Allah. Inilah standar moralitas yang tertinggi yang kita lihat di dalam kehidupan Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Lukas.
Injil Matius menyajikan Injil Kerajaan dan ditulis menurut urutan doktrin mengenai Kerajaan. Markus menyajikan sejarah ministri Yesus di bumi. Karena pandangan Markus bersifat sejarah, catatan di dalam Markus mengikuti urutan kejadiannya. Namun, di dalam Lukas kita menemukan beberapa kejadian yang tercatat di dalam urutan yang berbeda dengan Injil lainnya. Ini karena Lukas menceritakan kehidupan dan ministri Penyelamat, Tuhan Yesus Kristus, menurut urutan moralitas. Sewaktu kita mengadakan pelajaran-kristalisasi Injil Lukas, kita akan melihat bahwa Manusia-Penyelamat dan keselamatan-Nya ada di dalam standar moralitas yang tertinggi.
Untuk melihat satu gambaran yang lengkap dan penuh dari standar moralitas yang tertinggi ini, kita perlu membahas beberapa kasus sebagai contoh. Lukas penuh dengan kejadian dan perumpamaan Injil, yang menggambarkan standar moralitas yang tertinggi dari Manusia-Penyelamat. Sewaktu kita membahas kisah-kisah ini, kita perlu terfokus pada bagaimana kisah-kisah ini menyingkapkan standar moralitas yang tertinggi ini. Karena itu, di dalam berita ini, kita akan menyajikan keinsanian yang harum, manis, dan menyenangkan dari Yesus. Ini adalah moralitas-Nya, yang adalah ekspresi dari atribut-atribut Allah yang limpah melalui kebajikan-kebajikan insani-Nya yang unggul. Kita perlu sangat terkesan dengan Manusia-Penyelamat kita yang ajaib.
KITA PERLU MEMAHAMI DENGAN JELAS APA MAKNA
STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI ITU
Standar Moralitas yang Tertinggi adalah Standar Kehidupan yang Dituntut oleh Allah—
Satu Kehidupan di Mana Atribut-atribut Ilahi Diekspresikan dalam Kebajikan-kebajikan Insani
Kita perlu memahami dengan jelas apa makna standar moralitas yang tertinggi itu. Standar moralitas yang tertinggi adalah standar kehidupan yang dituntut oleh Allah—satu kehidupan di mana atribut-atribut ilahi diekspresikan dalam kebajikan-kebajikan insani (Mat. 5:48). Allah menuntut manusia untuk hidup dengan cara tertentu, dan tuntutan-Nya adalah standar moralitas yang tertinggi. Dengan perkataan lain, Allah menciptakan manusia untuk hidup seperti ini, dan Dia mengharapkan manusia untuk hidup seperti ini. Hidup yang dituntut oleh Allah adalah satu kehidupan di mana atribut-atribut ilahi diekspresikan di dalam kebajikan-kebajikan insani, satu kehidupan di mana Allah terekspresi di dalam manusia. Allah ingin kekayaan-Nya yang tak terduga dan atribut-atribut-Nya yang limpah—kasih, terang, kekudusan, keadilbenaran-Nya, dan karakteristik-karakteristik lainnya—diekspresikan di dalam kebajikan-kebajikan insani kita sehingga ketika orang lain melihat dan menjamah kebajikan-kebajikan kita, mereka melihat dan menjamah atribut-atribut dan karakteristik-karakteristik Allah. Inilah kehidupan orang Kristen yang sejati.
Matius 5:48 berkata, “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”Karena itu, standar kehidupan yang kita bicarakan sebenarnya adalah satu kesempurnaan ilahi-insani. Bapa surgawi mengharapkan kesempurnaan di dalam anak-anak-Nya tetapi bukanlah sejenis kesempurnaan tanpa dosa atau kesempurnaan yang bisa kita hasilkan dari usaha kita sendiri. Satu-satunya kesempurnaan yang sejati adalah Allah hidup melalui manusia, satu kesempurnaan di mana atribut-atribut Allah diekspresikan di dalam kebajikan-kebajikan insani. Menurut Matius 5:48, satu-satunya cara bagi kita untuk disempurnakan adalah untuk memiliki hayat yang sempurna dari Bapa kita yang sempurna, untuk menjadi anak-anak yang sempurna dari Allah yang sempurna. Hayat Allah adalah satu-satunya jalan.
Standar Moralitas yang Tertinggi adalah Penghidupan Dia—Tuhan Yesus Kristus
sebagai Manusia-Penyelamat—yang Kehidupan-Nya adalah Komposisi yang Terdiri dari
Allah dengan Atribut-atribut Ilahi-Nya dan Manusia dengan Kebajikan-kebajikan Insaninya
Standar moralitas yang tertinggi adalah penghidupan Dia—Tuhan Yesus Kristus sebagai Manusia-Penyelamat—yang kehidupan-Nya adalah komposisi yang terdiri dari Allah dengan atribut-atribut ilahi-Nya dan manusia dengan kebajikan-kebajikan insaninya (Luk. 1:35). Definisi lainnya dari standar moralitas yang tertinggi adalah kehidupan Tuhan Yesus, yang bisa kita lihat di dalam Injil Lukas. Tuhan Yesus adalah standar Allah; hanya kehidupan-Nya yang ada di dalam standar moralitas yang tertinggi. Hanya satu orang yang pernah hidup menurut standar ini, dan Dia ada di dalam roh kita, memampukan kita untuk memperhidupkan standar moralitas yang tertinggi ini.
Kita perlu ingat bahwa hayat Tuhan bukanlah sekedar Allah, atau sekedar manusia. Namun, ini adalah satu komposisi dari Allah dan manusia dengan atribut-atribut ilahi di dalam kebajikan-kebajikan insani. Lukas 1:35 berkata, “Jawab malaikat itu kepadanya, ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah’” Catatan mengenai keterkandungan dan kelahiran Tuhan ini dengan jelas mewahyukan bahwa Yesus adalah seorang manusia-Allah. Dia adalah Anak Allah dan Anak Manusia. Dia adalah perbauran Allah dan manusia. Jadi, Dia memiliki atribut-atribut ilahi dan kebajikan-kebajikan insani.
Penghidupan di Mana Hayat Insani Dipenuhi dengan Hayat Ilahi
serta Kebajikan-kebajikan Insani Diperkuat dan Diperkaya oleh Atribut-atribut Ilahi
adalah Apa yang Kita Sebut Standar Moralitas yang Tertinggi
Penghidupan di mana hayat insani dipenuhi dengan hayat ilahi serta kebajikan-kebajikan insani diperkuat dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi adalah apa yang kita sebut standar moralitas yang tertinggi (6:35; 7:36-50). Lukas 6:35, yang adalah bagian dari pengajaran Tuhan pada moralitas, berkata, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan.” Jenis penghidupan seperti ini hanya mungkin ketika hayat insani dipenuhi oleh hayat ilahi dan ketika kebajikan-kebajikan insani diperkuat dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi. Hanya Tuhan Yesus yang memiliki jenis kehidupan ini. Dia menempuh hidup yang ilahi dan insani. Sebagai seorang manusia, Dia menempuh kehidupan insani yang penuh dengan kebajikan-kebajikan insani, tetapi elemen dan atribut-atribut ilahi dari hayat ilahi diekspresikan melalui kehidupan insani-Nya dan di dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya. Karena itu, kita dapat berkata bahwa Yesus itu insani yang ilahi dan ilahi yang insani.
Banyak rincian dari kisah di dalam Lukas yang membuat kita melihat betapa sempurnanya Yesus dan bagaimana mutlak dan sepenuhnya insani Dia. Lukas 7:12-15 berkata,
Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya
Rincian dari cerita ini mewahyukan bahwa penyembuhan Tuhan bukanlah satu pertunjukan kekuatan yang besar-besaran. Sebaliknya, kita melihat perasaan terharu, kelembutan, kehalusan, kasih, dan simpati dari Manusia-Penyelamat terhadap orang berdosa.
Banyak perumpamaan dan kejadian di dalam Lukas memperlihatkan bahwa kebajikan-kebajikan insani Tuhan diperkuat dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi. Ada satu elemen ilahi dalam kehidupan-Nya yang melampaui keinsanian. Sebagai contoh, dalam ayat 36 sampai 50, ketika perempuan berdosa dengan botol pualam berisi minyak wangi membasuh kaki Tuhan dengan air matanya dan mengurapinya dengan minyak itu, Tuhan berkata, “Dosamu telah diampuni ... pergilah dengan damai” (ay. 48, 50). Tidak ada seorang pun yang bisa mengampuni dosa selain Allah (cf. 5:21), dan tidak ada orang yang bisa memberikan damai sejahtera yang sejati selain Allah. Di dalam ekspresi insani Tuhan yang sepenuhnya terhadap perempuan yang berdosa ini, kita melihat atribut-atribut ilahi memperkuat dan memperkaya kebajikan-kebajikan insani-Nya.
Allah Diekspresikan dalam Penghidupan yang Menurut Standar Moralitas yang Tertinggi
Allah diekspresikan dalam penghidupan yang menurut standar moralitas yang tertinggi (5:12-16). Injil Yohanes itu dalam dan misterius karena menyajikan Kristus sebagai Allah dan sebagai Putra Allah, Allah-Penyelamat. Jadi, kitab Yohanes menyajikan Kristus sebagai Allah, memperlihatkan Allah sendiri di dalam persona manusia, Tuhan Yesus. Namun, Injil Lukas menyajikan Kristus sebagai seorang manusia. Di dalam Lukas, kita tidak melihat Allah tinggal di antara manusia, namun kita melihat seorang manusia menempuh kehidupan insani yang mengekspresikan Allah. Injil-injil ini memiliki fokus-fokus yang berbeda. Bagi seorang manusia untuk menempuh kehidupan insani yang mengekspresikan Allah adalah standar moralitas yang tertinggi.
Lukas 5:12-13 berkata, “Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’ Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” Cara Tuhanmenyembuhkan orang sakit kusta ini sepenuhnya insani, tetapi hasil dari jamahan-Nya sepenuhnya ilahi. Pada masa Perjanjian Lama, kusta sangatlah ditakuti. Tidak ada orang yang mau menjamah orang yang terjangkit kusta, tetapi Tuhan menjamah dia dengan tangan-Nya dan menyembuhkan dia. Betapa indah dan lembuh jamahan itu.
Jika Kita Memahami Perkara ini,
Kita akan Memahami Prinsip Dasar yang Penting yang Diikuti Lukas dalam Menulis Injilnya
Jika kita memahami perkara ini, kita akan memahami prinsip dasar yang penting yang diikuti Lukas dalam menulis Injilnya (8:39). Setelah Tuhan mengusir banyak setan dari seorang di dalam Lukas 8:27-31, Dia berkata kepadanya,”’Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah kepadamu.’ Orang itu pun pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.” (ay. 39). Dalam ayat ini Allah dan Yesus dipergunakan bergantian. Prinsip Lukas adalah Allah di dalam manusia dan manusia bersama Allah. Ini adalah standar moralitas yang tertinggi.
DI DALAM INJIL LUKAS, KITA MELIHAT JENIS MANUSIA
YANG INGIN ALLAH MILIKI DI DALAM KEJADIAN 1 DAN 2
Di dalam Injil Lukas, kita melihat jenis manusia yang ingin Allah miliki di dalam Kejadian 1 dan 2 (Luk. 8:39; Kej. 1:26-27; 2:7, 9). Di dalam kitab Lukas, kita melihat di dalam Tuhan Yesus penggenapan nyata dari apa yang Allah inginkan ketika Dia menciptakan manusia.
Maksud Allah adalah untuk Memiliki seorang Manusia-Allah
Maksud Allah adalah untuk memiliki seorang manusia-Allah (Luk. 1:68-69, 78-79). Lukas 1:68-69 berkata bahwa, menurut nubuat, Yesus adalah tanduk keselamatan dari rumah Daud. Ini mengacu kepada keinsanian Tuhan. Kemudian ayat 78 dan 79 berkata bahwa Dia adalah Surya pagi yang mengunjungi dan menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Ini mengacu kepada keilahian Tuhan. Karena itu, Tuhan Yesus adalah insani dan ilahi; Dia adalah manusia-Allah.
Manusia di dalam Kejadian 1 Hanyalah Manusia Ciptaan Allah, Belum seorang Manusia-Allah
Manusia di dalam Kejadian 1 hanyalah manusia ciptaan Allah, belum seorang manusia-Allah (ay. 26-27). Allah menciptakan Adam di dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya. Jadi, Adam memiliki gambar dan rupa Allah di dalam kebajikannya yang diciptakan Allah. Untuk ini, setiap manusia yang diciptakan Allah damba untuk menjadi mengasihi, adil benar, penuh terang, cemerlang, dan tidak berada dalam kegelapan. Tidak ada orang yang ingin kotor, termasuk orang yang disebut ateis. Masalahnya adalah bahwa walaupun Adam memiliki gambar dan rupa luaran, ia tidak memiliki diri Allah sendiri sebagai realitas dan isinya.
Maksud Allah adalah agar Manusia yang Diciptakan-Nya Menerima Dia,
Seperti yang Dilambangkan oleh Pohon Hayat, dan Karenanya menjadi Manusia-Allah
Maksud Allah adalah agar manusia yang diciptakan-Nya menerima Dia, seperti yang dilambangkan oleh pohon hayat, dan karenanya menjadi manusia-Allah (2:7, 9). Ketika kita menerima Allah sebagai pohon hayat, kita menjadi manusia-Allah dan mampu menjadi manusia yang Allah ingin dapatkan dalam penciptaan-Nya.
Pada Suatu Hari, Allah Sendiri menjadi seorang Manusia yang Bernama Yesus,
Dikandung dari Esens Ilahi dan Dilahirkan dari Esens Insani
Tuhan Yesus, Manusia-Allah itu, adalah Komposisi yang terdiri dari Esens Ilahi
dengan Semua Atribut Ilahi dan Esens Insani dengan semua Kebajikan Insani
Pada suatu hari, Allah sendiri menjadi seorang manusia yang bernama Yesus, dikandung dari esens ilahi dan dilahirkan dari esens insani (Mat. 1:20-21; Luk. 1:31-32). Tuhan Yesus, manusia-Allah itu, adalah komposisi yang terdiri dari esens ilahi dengan semua atribut ilahi dan esens insani dengan semua kebajikan insani (ay. 35, 75; 2:40, 52). Tuhan Yesus melalui inkarnasi mengambil bagian akan esens insani yang ciptakan oleh Allah menurut apa adanya Allah. Dia memiliki hayat ilahi dan atribut-atribut Allah dan esens dan kebajikan-kebajikan insani-Nya. Dia adalah seorang manusia-Allah.
Ketika Dia di Bumi, Manusia-Penyelamat Menempuh Kehidupan
yang adalah Perbauran Atribut-atribut Ilahi dengan Kebajikan-kebajikan Insani;
Inilah Standar Moralitas yang Tertinggi
Ketika Dia di bumi, Manusia-Penyelamat menempuh kehidupan yang adalah perbauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani; inilah standar moralitas yang tertinggi (ay. 40, 52). Lukas 2:4-52 membahas sesuatu yang tidak dibahas dalam Injil-injil lain—kisah Tuhan Yesus bercakap-cakap dengan para pengajar di bait ketika Dia berusia dua belas tahun. Kisah ini mewahyukan bahwa Dia adadlah seorang manusia-Allah yang berusia dua belas tahun yang hidupnya adalah perbauran atribut-atribut ilahi dan kebajikan-kebajikan insani. Orang tua-Nya mencari Dia, dan setelah mereka menemukan Dia di dalam bait, Dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay. 49). Dengan mengatakan hal ini, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah. Namun, setelah Dia mengatakan hal ini, Dia tidak mempergunakan hak-Nya sebagai Anak Allah. Ayat 51 dan 52 berkata, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka … Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya.” Setelah Dia dengan jelas menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Alah, Dia segera mengikuti orang tua-Nya dan menundukkan diri-Nya kepada mereka. Dia itu insani yang ilahi dan ilahi yang insani, dan Dia dmengekspresikan standar moralitas yang tertinggi. Dalam cara orang muda berbicara kepada orang tua mereka dan cara mereka bersikap terhadap orang tua mereka, tidak banyak yang hidup sebagai putra dan putri yang tepat seperti yang dijalani oleh Tuhan Yesus.
Ayat 40 berkata, “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.” Ayat ini mewahyukan bahwa Yesus sebagai seorang manusia memerlukan kasih karunia Allah. Menurut ayat 52, “Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Ini berarti Dia menempuh kehidupan yang menyenangkan Allah karena Dia adalah Anak Allah yang mengekspresikan Allah. Orang muda ini bertumbuh sebagai satu perbauran Allah dan manusia. Dari hal ini, kita melihat standar moralitas yang tertinggi.
SUBYEK INJIL LUKAS ADALAH MANUSIA-PENYELAMAT DAN PENYELAMATAN-NYA
DI DALAM STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI
Injil Lukas Mewahyukan bahwa di dalam Manusia-Penyelamat itu
Kita Memiliki Perbauran Atribut-atribut Ilahi dengan Kebajikan-kebajikan Insani
untuk Menghasilkan Standar Moralitas yang Tertinggi
Manusia-Penyelamat dan Penyelamatan-Nya Ada di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi
Subyek Injil Lukas adalah Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya di dalam standar moralitas yang tertinggi (1:31-32, 35, 68-69, 78-79). Injil Lukas mewahyukan bahwa di dalam Manusia-Penyelamat itu kita memiliki perbauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani untuk menghasilkan standar moralitas yang tertinggi (ay. 35). Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya ada di dalam standar moralitas yang tertinggi (2:52; 7:11-17). Ini digambarkan oleh kisah di dalam pasal 7 mengenai janda yang menangis yang anak tunggalnya mati.
Menurut Injil Lukas, Penyelamat Kita Hidup, Bertingkah Laku, dan Bekerja
di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi,
dan Penyelamatan-Nya Dilaksanakan di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi
Menurut Injil Lukas, Penyelamat kita hidup, bertingkah laku, dan bekerja di dalam standar moralitas yang tertinggi, dan penyelamatan-Nya dilaksanakan di dalam standar moralitas yang tertinggi (10:25-37). Di sini dan di banyak tempat lain, kita melihat kisah yang disebut orang Samaria yang baik hati. Kita akan membahas kejadian ini secara rinci di dalam berita berikutnya, tetapi di sini kita hanya akan menekankan standar moralitas yang tertinggi yang diperlihatkan di dalam Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai satu-satunya Sesama yang sejati, orang Samaria yang baik hati, di dalam Dia menyelamatkan dan merawat orang yang dirampok habis-habisan, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati. Melaui perhatian-Nya yang menyeluruh dan lengkap terhadap dia, seluruh ilustrasi ini menggambarkan standar moralitas yang tertinggi yang ditunjukkan di dalam keselamatan Tuhan terhadap orang berdosa yang tanpa harapan.
Catatan di dalam Injil Lukas Memiliki satu Ciri Khas—Mewahyukan, di dalam Manusia-Penyelamat,
Perbauran Atribut-atribut Ilahi dengan Kebajikan-kebajikan Insani
untuk Menghasilkan Standar Moralitas yang Tertinggi bagi Yobel Perjanjian Baru
Catatan di dalam Injil Lukas memiliki satu ciri khas—mewahyukan, di dalam Manusia-Penyelamat, perbauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani untuk menghasilkan standar moralitas yang tertinggi bagi yobel Perjanjian Baru (1:31-32, 35, 42, 68-69, 75, 78-79, 4:16-19). Yobel Perjanjian Baru, seperti yang akan kita lihat di dalam Berita 7 dan 8, adalah pemberitaan Injil kepada orang miskin, memproklamirkan kebebasan kepada orang tertawan dan pemulihan penglihatan kepada orang buta, serta pelepasan bagi mereka yang tertekan. Menurut pemahaman saya sebelumnya, konsep saya mengenai Tuhan Yesus membaca dari kitab Yesaya di dalam Lukas 4 adalah bahwa ini adalah satu kejadian yang penuh kuasa, dinamis, dan bahkan ajaib. Namun, jika Anda membaca kitab Lukas, Anda akan menemukan bahwa, di dalam setiap kejadian, tidaklah seperti itu. Seluruh catatan memiliki satu karakteristik khusus, termasuk tindakan Tuhan yang terakhir di atas salib dalam menyelamatkan penjahat yang hampir mati yang disalib bersama Dia. Jika saya digantung di sana, saya pasti tidak akan ada waktu atau pikiran untuk orang lain, karena terlalu memikirkan rasa sakit saya dan situasi saya sendiri. Namun, hati Tuhan penuh belas kasih terhadap penjahat itu. Cara Dia menyelamatkannya adalah secara instan dan penuh perasaan. Bahkan di atas salib, kita melihat seorang yang begitu mau mendengarkan dan tidak mementingkan diri sendiri. Ini hanyalah satu contoh. Kita perlu terkesan bahwa di dalam kitab mengenai keselamatan Manusia-Penyelamat ini, keselamatan-Nya dilaksanakan di dalam standar moralitas yang tertinggi.
INJIL LUKAS MENGGAMBARKAN TUHAN YESUS SEBAGAI MANUSIA-ALLAH,
MANUSIA-PENYELAMAT, DENGAN STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI
Injil Lukas menggambarkan Tuhan Yesus sebagai manusia-Allah, Manusia-Penyelamat, dengan standar moralitas yang tertinggi (9:51-56; 13:10-17; 19:1-10). Lukas 9 menyajikan kasus di mana murid-murid Tuhan diutus ke desa orang Samari, tetapi mereka tidak mau menerima Dia. Kemudian murid-murid ini dengan berani bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (ay. 54). Pertanyaan mereka itu konyol karena mereka tidak bisa menyuruh api turun dari surga bahkan jika mereka ingin, sebab mereka tidak ilahi. Kemudian Tuhan berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak tahu roh macam apakah yang kamu miliki. Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan jiwa manusia, melainkan menyelamatkannya” (ay. 55-56, Tl.). Di sini kita melihat standar moralitas yang tertinggi Tuhan. Bahkan di tengah-tengah penolakan, roh-Nya adalah bagi orang yang belum diselamatkan. Tidak ada kedambaan di dalam Dia untuk menghancurkan atau merusak. Seluruh hati-Nya adalah untuk menyelamatkan manusia, bahkan orang Samaria yang bercampur baur dan disisihkan. Betapa satu moralitas yang luar biasa! Moralitas ini lengkap, sempurna, sejati, tepat, menyenangkan, wangi, harum, dan manis. Keselamatan Manusia-Penyelamat ada dalam standar moralitas yang tinggi seperti itu.
Di dalam Injil Lukas ada Tiga Kategori Perkara yang Mewahyukan
bahwa Tuhan Yesus, Manusia-Penyelamat, Hidup di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi
dengan Kebajikan-kebajikan Insani yang Diperkuat dan Diperkaya oleh Atribut-atribut Ilahi
Di dalam Injil Lukas ada tiga kategori perkara yang mewahyukan bahwa Tuhan Yesus, Manusia-Penyelamat, hidup di dalam standar moralitas yang tertinggi dengan kebajikan-kebajikan insani yang diperkuat dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi: berita-berita Injil (4: 16-21; 7:41-43; 12:14-21; 13:2-5), perumpamaan-perumpamaan Injil (10: 30-37; 14:16-24; 15:3-32; 18:9-14), dan kasus-kasus Injil (7: 36-50; 13:10-17; 16:19-31; 19:1-10; 23:39-43). Kita perlu membaca seluruh ayat-ayat ini. Waktu tidak mengijinkan kita untuk membahas semuanya di sini, tetapi kita ingin menyebutkan beberapa.
Berita-berita Injil
Di dalam kategori berita-berita Injil, Tuhan memperingatkan murid-murid untuk tidak tamak (12:15). Bahkan cara Dia memperingatkan mereka sangatlah khusus, mempertunjukkan standar moralitas yang tertinggi.
Perumpamaan-perumpamaan Injil
DI dalam kategori perumpamaan-perumpamaan Injil, kita sekali lagi menunjuk kepada perumpamaan orang Samaria yang baik hati di dalam Lukas 10. di sini saya hanya ingin menyebutkan beberapa kata sifat untuk menggambarkan moralitas Tuhan di dalam perumpamaan ini. Manusia-Penyelamat, seperti yang digambarkan sebagai seorang Samaria, adalah berbelas kasihan, haul, memperhatikan, menopang, dan penuh karunia. Ini adalah satu kisah yang terkenal, tetapi kita perlu memikirkannya sejenahk. Korban dalam kisah ini telah dirampok sewaktu ia berjalan dari Yerusalem ke Yerikho. Perhatikanlah, ia telah dirampok; segala miliknya telah diambil. Kemudian ia ditelanjangi sampai tidak ada apa-apa lagi padanya. Setelah itu, ia dipukuli. Para perampok memukuli dia, menyerang dia, dan meninggalkan dia setengah mati. Pertama, imam itu dan kemudian orang Lewi, yang juga sedang turun ke Yerikho, melihat dia dan melewati dari seberang jalan. Kemudian seorang Samaria terentu datang kepada dia, dan ketika ia menjumpainya, ia tergerak oleh belas kasihan. Dia membalut luka-lukanya dan mencurahkan minyak dan anggur padanya. Dia menaruh dia pada tunggangannya sendiri, membawanya ke penginapan, membayar pemilik penginapan, dan meminta pemilik penginapan untuk memperhatikan dia, berjanji bahwa ia akan membayar apapun yang dibelanjakan ketika ia kembali. Ini adalah perhatian yang almuhit dan limpah lengkap. Apa yang Tuhan wahyukan mengenai diri-Nya dalam perumpamaan ini, termasuk Dia memberi minyak dan anggur (Roh), Dia menugaskan penginapan itu (gereja), Dia membayar penginapan (Dia memberkati gereja), dan Dia membayar penginapan ketika Dia kembali, juga membicarakan keilahian-Nya. Dia adalah insani dan ilahi. Ini adalah ilustrasi lain dari kehidupan Manusia-Penyelamat di dalam standar moralitas yang tertinggi.
Contoh lain ditemukan di dalam pasal 14 di dalam perumpamaan mengenai pesta perkawinan dan orang yang diundang dan yang mengundang. Kemudian ada perumpamaan-perumpamaan yang terkenal di dalam Lukas 15. Kita akan berbicara banyak mengenai tiga perumpamaan yang memeperlihatkan Allah Tritunggal kepada kita di dalam Lukas 15—perumpamaan Gembala yang mencari, perempuan yang mencari, dan Bapa yang menerima. Di sini kita nampak Putra, Roh, dan Allah Bapa di dalam kasih Mereka terhadap orang dosa. Perumpamaan-perumpamaan ini dengan jelas mewahyukan Allah Tritunggal, namun jika Anda memeriksanya dengan teliti, Anda akan melihat standar moralitas yang tertinggi yang diwahyukan di dalam kebaikan, kesabaran, dan belas kasihan Tuhan.
Kasus-kasus Injil
Ada juga kategori kasus-kasus Injil. Salah satu yang telah kita sebutkan sebelumnya adalah kasus perempuan yang berdosa di dalam pasal 7. Perhatikanlah pandangan Tuhan terhadap perempuan yang berdosa ini; tidak heran ia begitu mengasihi Tuhan! Jika seseorang melakukan terhadap saya apa yang dilakukan perempuan ini kepada Tuhan, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, tetapi ketika ia mencurahkan kasihnya atas Tuhan Yesus, Dia mempertunjukkan pengertian-Nya yang lembut dan penuh rahmat, simpati-Nya, dan kasih-Nya terhadap dia. Saya tidak memiliki kata-kata untuk mengekspresikan hal ini. Saya hanya dapat menyajikan gambaran di sini dari standar moralitas Tuhan yang tertinggi.
Sebagai tambahan, kita memiliki kasus Injil dari Tuhan menyembuhkan perempuan yang dirasuk sampai bungkuk di dalam pasal 13 dan Dia memperingatkan orang-orang kaya melalui kisah Lazarus dan orang kaya di dalam pasal 16. ada juga kasus Zakheus. Tentu saja Zakheus tahu betapa buruknya ia, namun “ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu” (19:3). Dia memanjat pohon karena ia pendek. Namun, adalah menarik bahwa tidak dikatakan bahwa ia melihat Tuhan, tetapi “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, ‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu’” (ay. 5). Seolah-olah Tuhan datang ke kota itu bukan untuk yang lain lain tetapi kepada orang pendek ini. Kemudian sewaktu Zakheus menerima keselamatan dinamik Manusia-Penyelamat, Tuhan berkata kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini ... Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ay. 9-10). Jika Anda menaruh diri Anda di tempat orang-orang yang telah diselamatkan ini, Anda tentu akan mengapresiasi moralitas Manusia-Penyelamat ini. Tidak hanya keselamatan-Nya ajaib, tetapi juga cara Dia menyelamatkan kita itu insani yang ilahi dan ilahi yang insani.
Ketika Tuhan Yesus Pergi ke Padang Gurun untuk Dicobai oleh Iblis, Dia adalah
Jenis Manusia yang Tertinggi—Seorang Manusia-Allah di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi
Ketika Tuhan Yesus pergi ke padang gurun untuk dicobai oleh iblis, Dia adalah jenis manusia yang tertinggi—seorang manusia-Allah di dalam standar moralitas yang tertinggi (4:1-13).
Tuhan Yesus Berdiri sebagai Manusia yang Demikian di Hadapan Iblis
Tuhan Yesus berdiri sebagai manusia yang demikian di hadapan Iblis (ay. 2:4). Kita tahu bahwa Iblis menyebut Dia sebagai Anak Allah, tetapi Tuhan Yesus tidak tergerak dari posisi-Nya sebagai Anak Manusia. Dia mengalahkan Iblis sebagai seorang manusia.
Di dalam Injil Lukas, Pencobaan untuk Menyembah Iblis sebagai Pengganti Kerajaan Dunia
Diberikan secara Detil; Ini juga Mengindikasikan Standar Moralitas yang Tertinggi
Di dalam Injil Lukas, pencobaan untuk menyembah iblis sebagai pengganti kerajaan dunia diberikan secara detil; ini juga mengindikasikan standar moralitas yang tertinggi (ay. 5-8).
Manusia-Penyelamat, Dia yang Hidup di dalam Standar Moralitas yang Tertinggi,
Tidak Bisa Digoda atau Digerakkan oleh Apapun
Manusia-Penyelamat, Dia yang hidup di dalam standar moralitas yang tertinggi, tidak bisa digoda atau digerakkan oleh apapun (ay. 9-13). Moralitas ini kokoh, kuat, dan tidak bisa digerakkan. Sebagai seorang manusia inilah Tuhan tidak bisa digerakkan oleh godaan Iblis.
Hanya Kehidupan di dalam Standar Moralitas yang Tertinggilah—
yaitu, Kehidupan di Mana Atribut-atribut Ilahi Diekspresikan dalam Kebajikan-kebajikan Insani—
Yang Dapat Bertahan dalam Pencobaan yang Demikian
Hanya kehidupan di dalam standar moralitas yang tertinggilah—yaitu, kehidupan di mana atribut-atribut ilahi diekspresikan dalam kebajikan-kebajikan insani—yang dapat bertahan dalam pencobaan yang demikian. Saya kadangkala berpikir bahwa Allah yang di dalam saya yang bisa menjaga saya dari pencobaan, tetapi sekarang saya menyadari bahwa adalah manusia di dalam saya yang bertahan terhadap pencobaan. Namun manusia ini adalah manusia-Allah.
Di dalam 22:47—23:25, Tuhan Yesus Digambarkan sebagai
Allah yang Benar-benar dan Manusia yang Riil
Di dalam 22:47—23:25, Tuhan Yesus digambarkan sebagai Allah yang benar-benar dan manusia yang riil. Seluruh bagian ini membahas penangkapan Tuhan, Dia dihakimi oleh Majelis orang Yahudi dan penguasa Romawi, dan penyaliban-Nya. Di dalam seluruh bagian ini, Tuhan digambarkan sebagai Allah yang benar dan manusia yang sejati.
Manusia-Allah itu Ditangkap, Dicemoohkan, Dihujat, Direndahkan, dan Dihakimi,
Tetapi saat Dia Melalui Semuanya ini, Dia Sepenuhnya Digambarkan
Memiliki Standar Moralitas yang Tertinggi, Memiliki Kebajikan-kebajikan Insani
dengan Atribut-atribut Ilahi dan dengan Keagungan Ilahi yang Melampaui Segala
Manusia-Allah itu ditangkap, dicemoohkan, dihujat, direndahkan, dan dihakimi, tetapi saat Dia melalui semuanya ini, Dia sepenuhnya digambarkan memiliki standar moralitas yang tertinggi, memiliki kebajikan-kebajikan insani dengan atribut-atribut ilahi dan dengan keagungan ilahi yang melampaui segala.
Sebagai Allah yang Benar-benar dan Manusia yang Riil dan Tepat,
Dia Sepenuhnya Layak untuk menjadi Pengganti bagi Orang-orang Berdosa,
bagi Merekalah Dia Bermaksud untuk Mati
Sebagai Allah yang benar-benar dan manusia yang riil dan tepat, Dia sepenuhnya layak untuk menjadi Pengganti bagi orang-orang berdosa, bagi merekalah Dia bermaksud untuk mati (23:34, 43). Di dalam bagian ini, kita melihat bahwa ketika mereka datang untuk menangkap Dia, salah satu muridnya mulai berperang, memotong telinga seorang hamba Imam Besar, tetapi Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya untuk membiarkan mereka menangkap Dia, dan menjamah telinga orang itu, Dia menyembuhkan dia (22:50-51). Betapa tenang, betapa agung, yang Dia pertunjukkan pada saat penangkapan-Nya, bahkan dengan menyembuhkan telinga orang yang datang untuk menangkap Dia!
Ilustrasi lain terlihat pada kejadian Petrus menyangkal Dia. Injil yang lain mengatakan Petrus mengingat perkataan Tuhan, tetapi hanya Injil Lukas yang berkata bahwa, “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus” (ay. 61). Ketika Tuhan memandang kepada Petrus, Petrus mengingat perkataan Tuhan. Kidung 333 memiliki satu baris yang berkata, “Hanya air mata (tatapan) yang Petrus li'at.” Tatapan yang satu ini penuh dengan atribut-atribut ilahi di dalam kebajikan-kebajikan insani, satu tatapan yang tentu tidak akan pernah bisa dilupakan Petrus.
Selain itu, Pontius Pilatus bersaksi tiga kali, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini” (23:4, 14, 22). Satu pernyataan yang luar biasa! Satu kesaksian yang luar biasa! Ini adalah satu manusia yang sejatidan tepat, dan inilah Allah yang benar. Dia adalah satu-satunya Yang layak untuk mati bagi kita sebagai Pengganti kita.
PENGAJARAN TUHAN DI DALAM 6:17-49 MEMBERI KITA PANDANGAN YANG JELAS
TENTANG STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI
Manusia-Penyelamat itu Memiliki Jenis Kehidupan yang Digambarkan di dalam Ayat 17 sampai 49
Pengajaran Tuhan di dalam 6:17-49 memberi kita pandangan yang jelas tentang standar moralitas yang tertinggi. Manusia-Penyelamat itu memiliki jenis kehidupan yang digambarkan di dalam ayat 17 sampai 49. Bagian ini bukanlah sekedar pengajaran. Tuhan di sana membicarakan diri-Nya; Dia adalah Orang yang menempuh kehidupan seperti itu.
Sebenarnya, Kristus Sendiri adalah Standar Moralitas yang Tertinggi itu,
Sebab Dia adalah Manusia yang Diciptakan oleh Allah di dalam Kejadian 1:26
Ditambah Pohon Hayat yang Disinggung di dalam Kejadian 2:9
Sebenarnya, Kristus sendiri adalah standar moralitas yang tertinggi itu, sebab Dia adalah manusia yang diciptakan oleh Allah di dalam Kejadian 1:26 ditambah pohon hayat yang disinggung di dalam Kejadian 2:9. Pada akhirnya, standar moralitas ini tidak lain dari diri Kristus sendiri.
Standar Moralitas yang Tertinggi itu Sekarang adalah satu Persona yang Hidup di dalam Kita
dan Memungkinkan Kita untuk Memperhidupkan Kristus
Standar moralitas yang tertinggi itu sekarang adalah satu persona yang hidup di dalam kita dan memungkinkan kita untuk memperhidupkan Kristus (Gal. 2:20; Flp. 1:20-21a). Di dalam Filipi 1 Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (ay. 21). Kemudian pada akhir suratnya ia berkata, “Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (4:8). Ini adalah gambaran dari satu kehidupan yang menurut standar moralitas yang tertinggi. Memperhidupkan Kristus adalah memperhidupkan standar moralitas yang tertinggi ini.
Pengajaran Manusia-Penyelamat Mengenai Standar Moralitas yang Tertinggi
adalah Berdasarkan Hayat Ilahi dengan Ekspresinya, yaitu Firman Ilahi
Pengajaran Manusia-Penyelamat mengenai standar moralitas yang tertinggi adalah berdasarkan hayat ilahi dengan ekspresinya, yaitu firman ilahi (Luk. 6:35, 47-48). Penghidupan yang menurut standar moralitas yang tertinggi berasal dari hayat ilahi yang dengannya kita telah dilahirkan dari Yang Maha Tinggi (ay. 35).Firman Tuhan di dalam ayat 43 dan 44 mewahyukan hayat sebagai sumbernya dan penghidupan sebagai hasilnya; murid-murid-Nya adalah pohon-pohon yang baik dengan hayat ilahi, dan dari hayat ini dihasilkan penghidupan yang adalah ekspresi Allah. Firman Tuhan adalah fondasi diri, tingkah laku, dan pekerjaan kita (ay. 47-48). Kita dapat memiliki standar moralitas yang tertinggi ini oleh hayat ilahi dan melalui firman ilahi (Yoh. 6:63.).
Di dalam Lukas 6, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai standar moralitas yang tertinggi, Dia menyebutkan dua hal secara khusus. Pertama, Dia berbicara mengenai satu pohon yang dikenal dari buahnya (ay. 44). Dia berkata bahwa tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik dan bahwa tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik (ay. 43). Dengan berbicara seperti ini, Dia memperlihatkan kepada kita bahwa ini adalah perkara hayat. Satu pohon menghasilkan sejenis buah tertentu karena memiliki jenis hayat tertentu. Jika kita ingin memperhidupkan standar moralitas yang tertinggi, kita memerlukan hayat ilahi, dan hayat ilahi di dalam kita terekspresi melalui kehidupan insani kita. Kedua, Dia berkata, “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan -- ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun” (ay. 47-48). Penekanannya di sini mengenai kita mendengar dan melakukan perkataan Tuhan. Kita memerlukan firman ilahi untuk memungkinkan kita untuk memperhidupkan standar moralitas yang tertinggi ini.
Selain hayat ilahi, kita juga memerlukan firman ilahi. Kita perlu mendengar firman ini, dan kita perlu melakukan firman ini sehingga kehidupan kita, sikap kita, dan pekerjaan kita akan berada di atas satu fondasi yang kokoh yang bisa bertahan terhadap pengujian. Pengajaran Manusia-Penyelamat sepenuhnya berdasarkan pada hayat ilahi dan firman ilahi.
Saya berharap melalui perkataan ini, Anda nampak satu pandangan, satu gambaran, atas standar moralitas yang tertinggi, yang Tuhan perhidupkan dan yang melaluinya Tuhan melaksanakan keselamatan-Nya di dalam kasih karunia bagi kita. Semoga kita melihat hal ini, dan semoga kita memperhidupkan hal ini.—M.C.
PELAJARAN KESELAMATAN
DAN
ALLAH TRITUNGGAL
KESELAMATAN
ALLAH TRITUNGGAL
Paul Hon
Keselamatan Penuh Allah
TINGKAT SATU
PENDAHULUAN
KESELAMATAN DI DALAM RENCANA ALLAH
ALLAH TELAH MEMILIH
DAN MENAKDIRKAN BANYAK ORANG
UNTUK MENJADI PUTRA-PUTRA-NYA
SASARAN ALLAH — SATU MANUSIA KORPORAT
ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA
SEBAGAI SUATU BEJANA TIGA-BAGIAN
POHON HAYAT DAN SUNGAI ITU MELAMBANGKAN
ALLAH SEBAGAI HAYAT BAGI MANUSIA
KEJATUHAN MANUSIA
KEPERLUAN MANUSIA AKAN KESELAMATAN
SUMBER KESELAMATAN—KASIH ALLAH
DASAR KESELAMATAN — KEBENARAN ALLAH
JURUSELAMAT—ALLAH
PENEBUSAN
PENGAMPUNAN DAN PEMBASUHAN DOSA-DOSA
PEMBENARAN
PENDAMAIAN
KELAHIRAN KEMBALI
PENGUDUSAN
TRANSFORMASI
PENYERUPAAN
PEMULIAAN
MENERIMA DAN BERTUMBUH DALAM KESELAMATAN
KEPASTIAN DAN JAMINAN KESELAMATAN
TIGA TAHAP KESELAMATAN
PAHALA DAN HUKUMAN
KESIMPULAN
PENDAHULUAN
UNTUK BUKU PELAJARAN
Mengenai Buku-buku Pelajaran
Buku pelajaran ini adalah satu dari seri buku pelajaran yang pada mulanya disusun untuk mengajarkan kebenaran kepada murid-murid SMP dan SMA selama mengikuti Sekolah Kebenaran Musim Panas. Karena buku-buku pelajaran ini ditulis selama beberapa tahun, maka gaya dan formatnya mungkin agak berbeda-beda.
Mengenai Buku Pelajaran Ini
Buku ini adalah buku yang pertama dari seri buku pelajaran. Buku ini adalah berdasarkan dan dikutip dari tulisan-tulisan Saudara Watchman Nee dan Saudara Witness Lee, dan mereka belum meninjau ulang buku ini.
Sepanjang sejarah, banyak orang Kristen telah mempelajari Firman Allah. Tuhan senantiasa memberkati mereka yang menikmati dan membagikan kebenaran-kebenaran yang kaya yang mereka temukan di dalam Alkitab. Orang Kristen haruslah menjadi orang yang mengasihi Firman Allah dan secara berkesinambungan menuntut kebenaran yang ada di dalamnya. Semakin banyak butir kebenaran yang kita lihat, semakin banyak kita dapat mengalami Tuhan.
Namun, mempelajari Alkitab tidaklah mudah. Alkitab terdiri dari begitu banyak halaman dan memberitahukan kepada kita begitu banyak hal yang berbeda. Anda mungkin pernah merasa bingung setelah Anda membacanya. Inilah sebabnya mengapa buku pelajaran ini ditulis. Buku ini akan membantu Anda untuk melihat dengan jelas apa yang Alkitab katakan tentang keselamatan penuh Allah. Setiap pelajaran menyajikan suatu kebenaran yang penting mengenai keselamatan.
Ada banyak kebenaran di dalam buku ini yang perlu dipelajari berkali-kali. Kami menganjurkan Anda untuk menggunakan pelajaran-pelajaran ini di rumah bersama-sama dengan keluarga Anda dan bersama-sama dengan teman-teman Anda. Anda akan merasakan bahwa mempelajari suatu kebenaran bersama-sama dengan orang lain itu sangat menyenangkan. Bila Anda dengan setia mempelajari dan berusaha untuk mengerti kebenaran-kebenaran ini, maka kasih Anda dan apresiasi Anda terhadap Tuhan akan bertumbuh dengan luar biasa. Anda akan menyadari bahwa keselamatan Allah itu benar-benar penuh dan sangat lengkap.
Untuk mengenal kebenaran mengenai keselamatan yang penuh, sebagai seorang yang muda Anda harus mempunyai tekad yang kuat dan tidak menganggap enteng. Ini juga adalah suatu tanggung jawab yang besar. Masa depan pemulihan Tuhan bergantung pada orang-orang muda yang telah dilatih dalam pengetahuan akan kebenaran yang tepat yang diwahyukan di dalam Alkitab. Kami berharap bahwa Anda dapat diperlengkapi dengan cara yang demikian. Kami percaya bahwa buku pelajaran ini dapat membantu anda menerima latihan ini.
Struktur Pelajaran
Judul setiap pelajaran merupakan subyek dari pelajaran tersebut. Ayat-ayat yang tercantum adalah untuk dibaca atau didoabacakan. Garis besarnya akan memperlihatkan pandangan yang menyeluruh dari pelajaran tersebut. Sebaiknya anda membaca garis besarnya dahulu sebelum masuk ke dalam pelajarannya. Pelajaran ini disusun menurut garis besarnya.
Ayat-ayat yang Dikutip
Ayat-ayat yang dikutip diambil dari Alkitab versi Lembaga Alkitab Indonesia dan terjemahan langsung dari Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan bahasa Inggris.
Sikap yang Tepat untuk Mempelajari Firman
dengan Bantuan dari Buku Pelajaran
Buku pelajaran ini bukanlah Alkitab. Ini hanyalah sebuah buku pelajaran yang berdasarkan Alkitab. Buku ini dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mempelajari Alkitab. Jangan mengutip buku pelajaran ini sebagai sumber yang mutlak untuk kebenaran atau pengajaran Alkitab. Anda harus belajar untuk mencari sumbernya yang tepat—kitab, pasal, dan ayatnya. Anda juga harus mempelajari bágaimana ayat-ayat kunci ini saling berhubungan dalam menyajikan visi gereja dan cara membangun gereja. Anda harus meluangkan waktu untuk mengenal Fiman Allah.
Cara untuk Mempelajari Firman
dengan Menggunakan Buku Pelajaran ini
Firman Allah adalah perwujudan esensi Roh itu. Maka, ketika Anda menghampiri Firman, Anda harus menggunakan roh Anda. Cara yang terbaik untuk menggunakan roh Anda adalah dengan berdoa. Anda harus berdoa sebelum, selama, dan sesudah mempelajari buku pelajaran ini. Anda juga harus bersekutu pada saat Anda mempelajarinya. Anda tidak seharusnya membaca buku ini sendirian. Persekutuan Tubuh sangat diperlukan untuk membantu Anda mengerti akan visi sorgawi.
Saran untuk Sekolah Kebenaran Musim Panas
Kami menyarankan agar sekolah kebenaran musim panas diadakan selama enam minggu. Setiap minggu terdiri dari empat hari, setiap hari terdiri dari tiga jam. Duapuluh empat hari, masing-masing tiga jam, akan memberikan waktu yang cukup untuk berdoa, meliput semua pelajaran, dan bersekutu. Kami menganjurkan semua murid untuk belajar menulis nubuat untuk setiap pelajaran, dan juga mengucapkan nubuat dengan berbicara bagi Kristus dan mengutarakan Kristus. Setiap murid harus berusaha untuk mengalami secara individu maupun secara korporat semua yang telah dia pelajari.
Kami telah berdoa dan akan terus mendoakan Anda, sehingga Anda bisa memperoleh waktu yang menyenangkan selama mengikuti Sekolah Kebenaran Musim Panas, sehingga Anda dapat mengalami kemajuan dalam pengetahuan yang penuh akan kebenaran, dan dapat terbangun di dalam lokalitas Anda. Amin!
Juni,1990 Paul Hon Pleasant Hill, California