MENGALAMI KEKAYAAN KRISTUS
Pembacaan Alkitab:
Ef. 3:8b, 17a; 2Kor. 2:10; 10:1; 11:10; 8:9; 12:9; 13:13
Efesus 3:8 membicarakan kekayaan Kristus yang tidak terduga, dan Efesus 3:17 membicarakan Kristus berumah di hati kita. Ini menunjukkan bahwa Kristus yang berumah di dalam kita ialah Kristus beserta kekayaan-Nya yang tidak terduga. Kekayaan Kristus yang tidak terduga ialah untuk kenikmatan kita. Dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu kita perlu menikmati kekayaan yang ajaib, indah, tidak terukur, tidak terbatas, dan almuhit ini.
Sulit sekali membuat daftar segenap butir dari kekayaan Kristus. Jika butir-butir ini tidak banyak, kita mudah menunjukkannya. Tetapi kekayaan Kristus melampaui kemampuan kita untuk membicarakannya atau menghitungnya. Untuk memasuki kekayaan Kristus dalam Kitab Efesus, merenungkan pengalaman-pengalaman Paulus atas kekayaan ini seperti yang diwahyukan dalam Kitab 2Korintus, sangat banyak faedahnya.
KARUNIA, ANUGERAH, DAN TRANSFORMASI
Kitab 2Korintus membahas masalah anugerah, sedang 1Korintus membahas masalah karunia. Paulus menyimpulkan 2Korintus dengan perkataan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (13:13). Karena 2Korintus merupakan sebuah kitab anugerah, maka dalam ayat terakhirnya Paulus terlebih dulu menyebut anugerah. Anugerah lebih dalam, lebih subyektif daripada karunia. Karunia berada di luar, sedang anugerah berada di dalam. Lagi pula, karunia berkaitan dengan apa yang kita lakukan, tetapi anugerah berkaitan dengan kenikmatan yang batiniah.
Sangat berarti bahwa Paulus mengatakan kita ditransformasi menjadi serupa dengan gambar-Nya ketika kita memandang kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dalam 2Korintus (2Kor. 3:18) dan bukan dalam 1Korintus. Beroleh karunia itu satu perkara, tetapi ditransformasi itu perkara lain. Walau banyak orang Kristen menaruh perhatian pada karunia-karunia, yang memperhatikan masalah transformasi tidaklah banyak.
Anda lebih suka beroleh karunia atau ditransformasi? Sebelum Anda menjawab pertanyaan ini, renungkanlah contoh keledai Bileam (Bil. 22:23-33). Keledai ini tiba-tiba berbicara kepada Bileam. Betapa ajaibnya seekor keledai bisa berbicara dengan bahasa manusia! Tetapi keledai itu tidak diubah menjadi manusia. Ada karunia untuk berbicara, tetapi tidak ada transformasi apa pun.
Transformasi terjadi secara perlahan-lahan melalui pertumbuhan hayat. Hal ini terjadi demikian lambat sehingga seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagai contoh, bagi seorang ibu, anaknya yang masih kecil mungkin tampak sama setiap harinya. Padahal, anak itu berangsur-angsur bertumbuh.
Dalam 2Korintus 4:7 Paulus berkata, “Tetapi harta (mustika) ini kami miliki dalam bejana tanah liat, su-paya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Mustika dalam bejana tanah liat bukan ditujukan kepada karunia-karunia, melainkan suatu benda yang berharga yang ter-sembunyi. Bejana berada di luar, sedang mustika berada di dalam. Melalui proses transformasi sejangka waktu, mustika itu akan “menduduki” dan “menelan” bejana itu.
KESENGSARAAN KRISTUS
Perbedaan lainnya antara 2Korintus dengan 1Korintus adalah: 2Korintus banyak sekali membicarakan tentang kesengsaraan, namun untuk memperoleh karunia-karunia rohani tidak perlu ada kesengsaraan. Keledai Bileam tidak perlu kesengsaraan untuk menerima kecakapan berbicara dengan bahasa manusia. Sebaliknya, transformasi memerlukan sejumlah kesengsaraan. Kare-na itu, 2Korintus tidak saja membicarakan anugerah Kristus, juga kesengsaraan Kristus. Dalam 2Korintus 1:5 Paulus berkata, “kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus.” Anugerah Kristus dengan kesengsaraan Kristus menghasilkan transformasi. Transformasi bukan masalah karunia-karunia atau kecakapan, melainkan masalah apa adanya kita dalam insan batiniah kita.
Dalam 2Korintus 4:5 Paulus mengatakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan.” Walau Paulus tidak memberitakan dirinya sendiri atau menulis sebuah riwayat hidupnya sendiri, tetapi adakalanya ia merasa perlu menyatakan beberapa aspek pengalamannya atas Kristus. Dalam 2Korintus terdapat sejumlah pernyataan demikian, yang olehnya kita dapat nampak betapa Paulus telah menikmati aspek-aspek khusus dari kekayaan Kristus. Pada akhir berita ini akan kita bahas aspek-aspek khusus ini.
Aspek-aspek tertentu dari kekayaan Kristus sangat-lah besar. Beberapa di antaranya ialah fakta bahwa Kristus sebagai Allah, Pencipta, Putra Allah, Penebus, Juruselamat, Bapa, dan Roh pemberi-hayat. Aspek besar lainnya berkaitan dengan inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, kenaikan, turunnya Roh Kudus, dan penghunian di batin. Selain itu, ada aspek-aspek Kristus sebagai hayat, kasih, kekuatan, kekudusan, dan kebenaran. Semua itu adalah hal-hal besar, dan setidak-tidaknya dalam suatu taraf telah diketahui oleh orang-orang Kristen. Akan tetapi, orang Kristen mungkin hanya memiliki satu pengetahuan yang doktrinal tentang kekayaan-kekayaan Kristus ini tanpa mengalaminya. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, agar kita tidak saja mengetahui berbagai aspek kekayaan Kristus, juga mengalami dan menikmatinya.
MENYERU NAMA TUHAN
Roma 10:12 memberi kita suatu petunjuk bagaimana kita dapat menikmati kekayaan Kristus yang tidak terduga. Dalam ayat ini Paulus berkata, “Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya”(Tl.). Kekayaan Kristus tidak seharusnya dipelajari saja, melainkan harus dinikmati. Kita tidak dapat menikmatinya melalui merenungkannya. Merenungkan berarti menggunakan pikiran. Dalam Perjanjian Baru kita tidak diajar untuk merenungkan. Jika kita ingin mengalami kekayaan Kristus, kita harus menyeru nama Tuhan Yesus. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa perihal menyeru yang demikian jauh lebih manis dan lebih nikmat daripada merenungkan. Semakin kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita akan semakin mengecap kemanisan-Nya.
Ada sementara orang mengkritik praktek menyeru nama Tuhan Yesus ini. Menurut pendapat mereka, hal ini hanyalah sugesti, tanpa nilai rohani. Kalau menyeru nama Tuhan hanya menghasilkan pengalaman sugesti yang sementara, pengalaman yang serupa juga dapat diperoleh melalui menyeru nama-nama orang lain. Namun tidaklah demikian halnya. Bila kita menyeru nama Tuhan Yesus yang terkasih, kita akan menikmati realitas-Nya dan mengecap kemanisan-Nya. Ingatlah, nama Tuhan Yesus ditopang oleh persona-Nya. Karena itu, ketika kita menyeru nama ini, kita akan berkontak dengan persona ini, yakni realitas dari Roh itu. Karena itu, ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita menerima Roh itu.
Dalam Alkitab, nama Tuhan Yesus sering dihubung-kan dengan Roh itu. Misalkan 1Korintus 6:11 mengatakan, “Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” Yesus ialah namanya dan Roh itu ialah personanya. Setiap kali kita menyeru nama Yesus, kita akan mengalami persona Roh itu. Karena persona ini riil, hidup, dekat, dan tersedia, maka ketika kita menyeru nama-Nya kita akan mengalami dan menikmati Dia. Tuhan Yesus kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Alangkah ajaib cara untuk menikmati kekayaan Kristus yang tidak terduga ini!
HIDUP DALAM PERSONA KRISTUS
Kitab 2Korintus mewahyukan jenis kehidupan yang ditempuh oleh Rasul Paulus. Paulus hidup dengan menerima Kristus sebagai hayat dan personanya. Ia dengan konstan menikmati Kristus dan mengalami Dia. Dalam 2Korintus 2:10 ia mengatakan bahwa ia mengampuni “di hadapan Kristus”. (Dalam bahasa Inggris dikatakan “in the person of Christ”). Ini berarti Paulus mengampuni dalam persona Kristus. Paulus tidak mengampuni dalam dirinya, personanya sendiri. Ketika ia mengampuni seseorang, ia mengampuninya dalam persona Kristus. Hal ini mewahyukan bahwa Paulus hidup dalam persona Kristus.
Setiap perkara yang kita lakukan haruslah kita lakukan dalam persona Kristus. Ini berarti ketika seorang saudara mengasihi istrinya, ia harus mengasihinya dalam persona Kristus. Selain itu, ketika seorang saudari pergi berbelanja, ia pun harus berbelanja dalam persona Kristus. Selama kita melakukan suatu perkara khusus dalam persona Kristus, segalanya akan beres.
Agak sulit menerjemahkan dengan tepat kata “persona” dalam bahasa Yunani dalam 2Korintus 2:10 ini. Kata ini boleh diterjemahkan “wajah” atau “kehadiran”. Bahasa Yunaninya berarti bagian wajah di sekitar mata. Bagian wajah ini menyatakan pikiran dan perasaan batin seseorang. Melalui melihat bagian wajah seseorang ini, kita dapat mengetahui perasaannya terhadap suatu hal. Ketika Paulus mengatakan ia mengampuni dalam persona Kristus, itu berarti ia mengampuni dalam petunjuk batin Tuhan Yesus.
Mungkin kita memiliki beberapa pengalaman dalam hal ini bersama suami atau istri kita. Misalkan ada seseorang mengundang saya ke rumahnya untuk makan malam. Dengan memandang mata istri saya, saya dapat mengetahui melalui ekspresi petunjuk matanya apakah ia setuju saya menerima undangan tersebut. Pada kesem-patan lain, istri saya juga dapat memeriksa ekspresi yang saya sampaikan melalui mata saya. Inilah yang dilakukan oleh Paulus dalam 2Korintus 2:10, ketika ia mengampuni dalam petunjuk batin Tuhan. Ia tidak memperhatikan dirinya sendiri atau perasaannya sendiri. Ia hanya memperhatikan pikiran dan perasaan Tuhan yang disampaikan melalui petunjuk mata-Nya. Alangkah indah kehidupan yang dimiliki Rasul Paulus! Ia adalah seorang yang selalu hidup di hadapan Tuhan, selalu memandang petunjuk mata-Nya. Karena itu, apa saja yang ia lakukan itulah yang Tuhan lakukan, dan apa saja yang ia katakan, itulah yang Tuhan katakan. Paulus adalah seorang yang hidup dengan menerima Kristus sebagai personanya. Persona lama Paulus telah lenyap. Bukan lagi dia yang hidup melainkan Kristus sebagai persona yang hidup di dalamnya. Inilah sebabnya Paulus mengatakan ia mengampuni dalam persona Kristus.
Banyak orang Kristen membicarakan soal karunia-karunia rohani, namun mereka tidak tahu apa-apa tentang hidup di dalam persona Kristus. Betapa berbedanya orang-orang Kristen ini dengan Rasul Paulus! Dalam 2Korintus 2:10 Paulus seolah-olah berkata, “Aku tidak mengampuni menurut perasaan atau kesenangan pribadiku. Aku mengampuni menurut petunjuk batin Kristus. Aku tahu bahwa Tuhan menghendaki aku mengampuni. Dengan memandang petunjuk mata-Nya, aku tahu apa isi hati-Nya. Karena itu, aku mengampuni dalam persona Kristus.”
Inilah jenis kehidupan yang membangun Tubuh Kristus. Mungkin kita melakukan beberapa usaha besar, tetapi mungkin pula kita tidak menggenapkan apa-apa bagi pembangunan Tubuh. Hanya mereka yang hidup dalam persona Kristuslah yang dapat membangun Tubuh Kristus. Kehidupan yang sedemikian ini bukan masalah kekuatan atau perilaku, melainkan sepenuhnya merupakan masalah hayat, dan masalah hidup dalam persona Kristus. Inilah satu cara Paulus mengalami kekayaan Kristus.
KELEMAHLEMBUTAN DAN
KERAMAHAN KRISTUS
Dalam 2Korintus 10:1 Paulus berkata, “Aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.” Paulus tidak berkata bahwa ia meniru kelemah-lembutan dan keramahan Kristus. Meniru Kristus itu satu perkara, hidup dalam kelemahlembutan dan keramahan Kristus itu perkara lain. Paulus telah menikmati aspek-aspek ini dari kekayaan Kristus yang tidak terduga, dan semua aspek itu seharusnya menjadi kenikmatan kita pada hari ini. Ketika kita berkontak dengan orang lain, kita tidak seharusnya mencoba meniru Kristus. Sebaliknya, kita harus berkontak dengan mereka dalam kelemahlembutan dan keramahan Kristus.
Untuk menikmati kelemahlembutan dan keramahan Kristus, kita perlu berada di dalam Roh, sebab semua kekayaan Kristus berada di dalam Roh yang almuhit. Ketika kita berpaling ke dalam roh kita dan berkontak dengan Kristus sebagai Roh yang almuhit, dan menerima Dia sebagai persona kita, maka kelemahlembutan dan keramahan-Nya akan menjadi makanan, gizi, kekuatan, dan kepuasan kita. Tidaklah perlu kita mencoba menekan diri sendiri dengan susah payah atau dengan usaha manusia menampilkan kelemahlembutan atau keramahan itu; kita dengan sangat wajar menikmati kelemahlembutan dan keramahan Kristus, demikian kita dapat benar-benar beroleh rawatan dari aspek-aspek kekayaan Kristus. Ketika kita menerima Dia sebagai persona kita, kita akan dengan spontan menikmati kelemahlembutan dan keramahan-Nya. Tanpa usaha diri sendiri, kita hanya menikmati apa adanya Kristus. Inilah kehidupan Rasul Paulus.
KEBENARAN KRISTUS
Dalam 2Korintus 11:10 Paulus berkata, “kebenaran Kristus di dalam diriku”. Di dalam batin Paulus terdapat sesuatu yang benar dan riil tentang Kristus. Karena ia menikmati kebenaran Kristus, realitas-Nya, maka ia tahu bahwa apa yang dikatakannya kepada orang-orang Korintus berasal dari kebenaran Kristus. Ini merupakan petunjuk lebih lanjut bahwa Paulus tidak hidup oleh dirinya sendiri, melainkan oleh menerima Kristus sebagai personanya.
Paulus tidak bermegah karena ia memiliki kebenaran dari dirinya sendiri. Sebaliknya, ia bermegah atas kebenaran Kristus. Dari sini kita harus belajar untuk tidak memegahkan diri sendiri. Kita harus melupakan apa adanya kita dan tidak membicarakan diri sendiri. Sebaliknya, kita harus hidup menurut Kristus dan berperilaku dengan kebenaran Kristus. Ketika kita berkontak dengan orang lain dalam kelemahlembutan dan keramahan Kristus, kita harus berbicara menurut kebenaran Kristus yang ada di dalam kita.
ANUGERAH KRISTUS
Banyak ayat dalam 2 Korintus membicarakan anugerah Kristus. Dua Korintus 8:9 misalnya, mengatakan, “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Karena anugerah, Kristus telah merendahkan diri-Nya dan meninggalkan kedudukan-Nya demi kita. Ia meninggalkan kekayaan-Nya agar kita menjadi kaya. Kita dapat melakukan perkara yang sedemikian hanya melalui anugerah Kristus. Jika kita menerima anugerah-Nya sebagai kenikmatan kita, dengan spontan kita akan melakukan perkara yang sama seperti yang Kristus lakukan. Padahal bukan kita yang melakukan hal itu, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita.
Dalam pasal 12 Paulus tiga kali mohon Tuhan agar “duri dalam daging” itu diambil dari dirinya (ayat 7-8). Namun Tuhan berkata, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ayat 9). Karena itu, Paulus dapat berkata, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (ayat 9). Tuhan menyuruh Paulus menikmati anugerah-Nya yang cukup, tidak perlu memperhatikan duri atau kesengsaraannya itu. Paulus memahami dalam pengalamannya bahwa kekuatan Kristus menjadi sempurna dalam kelemahannya.
Hari ini banyak orang mengeluh karena kelemahan atau ketidakmampuan mereka. Akan tetapi mereka harus nampak bahwa kekuatan Kristus justru menjadi sempurna di dalam kelemahan mereka. Kelemahan mereka memberi mereka satu kesempatan untuk menikmati kekuatan Kristus.
Dalam 2Korintus 12:10 Paulus selanjutnya berkata, “Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Paulus kuat karena kekuatan Kristus menjadi sempurna dalam kelemahannya.
BERKAT PAULUS
Kita telah menunjukkan bahwa Kitab 2Korintus berakhir dengan suatu berkat: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (13:13). Hari ini banyak pendeta mengumumkan kata-kata ini sebagai suatu ucapan penutup yang formal. Tetapi di sini Paulus tidak memberi ucapan yang demikian. Sebaliknya, ia memberi tahu kaum saleh bahwa mereka dapat mengambil bagian dalam kekayaan Kristus dan menikmatinya.
Anugerah Kristus berasal dari kasih Allah. Hal ini berarti kasih Allah merupakan sumber anugerah Kristus, dan anugerah Kristus ialah ekspresi kasih Allah. Lagi pula, anugerah ini berada dalam persekutuan Roh Kudus. Melalui persekutuan Roh Kudus, maka anugerah Kristus bersama kasih Allah menjadi kenikmatan kita. Justru kenikmatan inilah yang kita butuhkan hari ini.
Jika kita mengalami dan menikmati kekayaan Kristus, kita akan memiliki banyak bahan tentang Kristus untuk dibicarakan pada saat kita berkumpul bersama. Ketika kita bersekutu dengan orang lain di dalam Tuhan, kita akan membicarakan apa adanya Kristus bagi kita. Kita tidak akan membicarakan tentang doktrin atau karunia-karunia, melainkan tentang pengalaman sejati atas Kristus dan kenikmatan yang sejati atas kekayaan Kristus. Semakin kekayaan Kristus tersalur ke dalam kita, kita akan semakin dikuduskan dan ditransformasi secara metabolis. Ketika unsur baru menyingkirkan unsur yang lama, kita akan terpelihara, terawat, dan akhirnya dimuliakan. Sasaran Tuhan dalam pemulihan-Nya ialah membawa umat-Nya ke dalam pengalaman ini. Setelah zaman Paulus, kenikmatan atas kekayaan Kristus yang tidak terduga ini telah hilang banyak. Puji Tuhan, pengalaman ini kini sedang dipulihkan kembali!