Daftar isi Dua Belas Bakul (8) · bab 8/12

Dua Perhentian

Pembacaan Alkitab: Matius 11:20-30

Dari bagian panjang ayat Alkitab yang telah kita baca di atas, saya ingin secara khusus memperhatikan tiga ayat, yakni ayat 28, 29 dan 30. "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajanah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan."

Perkataan di atas diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menyatakan keinginan hatinya. Sebelum Tuhan mengatakan perkataan ini, la telah mengalami satu peristiwa yang besar, yakni di banyak kota – khususnya di tiga kota besar: Khorazim, Betsaida dan Kapemaum – meskipun la telah melakukan banyak mujizat, telah membantu banyak orang, telah menyembuhkan banyak orang sakit, namun hasil yang la dapatkan adalah mereka "tidak mau bertobat." Meskipun mereka telah mendengar, meskipun mereka telah mengetahui bahwa Tuhan Yesus datang dari surga untuk menjadi Juruselamat, menjadi Mesias, tetapi mereka tetap tidak percaya. Mulut mereka bisa saja mengatakan perkataan lain, namun hati mereka tetap tidak percaya; mereka tidak mau bertobat. Sikap mereka itu telah membuat sia-sia semua perkara yang dilakukan Tuhan. Itulah sebabnya, di sini Matius memberitahu kita tentang doa Tuhan Yesus Kristus.

Mari kita lihat kata-kata permulaan dari ayat 25: "Pada waktu itu." Dalam keadaan itulah Tuhan Yesus berdoa. Tuhan berdoa, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil (bayi)." Orang-orang di ketiga kota besar itu menganggap "dirinya bijak", sebab itu mereka tidak bisa menerima Tuhan Yesus. Meskipun Tuhan senang kalau orang-orang dalam kota-kota itu beroleh selamat, namun Tuhan lebih senang taat kepada kehendak Allah. Karena itu, meskipun Ia ditolak oleh orang-orang itu, Dia malah dapat berkata kepada Allah, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, . . .. karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." Pada saat yang paling menyulitkan, paling bisa membuat orang putus asa, Dia tetap menjunjung tinggi kehendak Allah dan bersukacita karenanya. Dia tidak mempedulikan maksud dirinya sendiri, Dia malah berkata, "Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu." Dia tidak berkata, "Tidak", melainkan berkata, "Ya". Kapan dan bagaimanapun Dia selalu bisa berkata, "Ya, Bapa", karena pencara yang diperhatikanNya adalah kehendak Bapa. Dia tahu, "Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya." Sebab itu, boleh saja orang-orang dalam kota besar itu tidak mengenal Anak, boleh saja mereka tidak bertobat, namun hatinya tetap merasa puas. Inilah rahasia mengapa hati Tuhan Yesus tetap tenang damai dan tidak terpengaruh oleh situasi sekeliling. Dia mendapatkan perhentian bersandarkan hubungan antara dirinya dengan Bapa. Asal Bapa tahu, cukuplah sudah. Asal ada perkenan dan pujian Bapa, cukuplah. Bagaimanapun perlakuan manusia, tidak bisa mengusik yang di batin. Jika telah memiliki senyum Bapa, jika telah melaksanakan kehendak Bapa, itu sudah cukup. Bagaimanapun basil yang didapat di antara manusia, itu tidak perlu dihiraukan.

Sebelum memanjatkan doa tersebut, keadaan lingkungan Tuhan Yesus tidaklah baik, latar belakang situasi-Nya juga tidak menyenangkan. Dia telah sangat disalahpahami; Dia telah menuangkan segalanya kepada mereka, namun mereka tidak mau menerima, mereka dengan tanpa alasan menolak Dia. Jika peristiwa itu menimpa saya atau Anda, saya khawatir kita seperti Yohanes, yang meminta Tuhan menurunkan api dari langit untuk membakar mereka Jika keadaan yang menimpa Tuhan itu terjadi pada saya atau Anda, bisa jadi kita langsung berpikir, "Mengapa peristiwa ini menimpa diriku?" Kita segera menggerutu, kita segera tidak memiliki damai, hati tidak tenang, bahkan kalut dan resah; kalaupun tidak kalut dan resah, mungkin menaruh rasa curiga, tidak bisa bersukacita. Tetapi Tuhan tidak demikian, meskipun Tuhan menerima begitu banyak perlakuan tidak baik, Dia hanya berkata, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu." Sedikitpun tidak ada kekalutan dalam dirinya. Kemudian, dalam ayat 27, Dia membukakan rahasia kedamaian-Nya kepada kita. Yang dikatakan di depan adalah latar belakang, yang mengatakan betapa Tuhan tetap memiliki perhentian dan kedamaian di dalam situasi itu. Kini Dia memberitahu kita, mengapa Dia bisa tidak terpengaruh. Sampai ayat 28 dan 29 Tuhan menampakkan kepada kita, apa yang harus kita lakukan agar kita tetap memiliki damai sejahtera, jika kita juga mengalami peristiwa yang sama. Justru dua ayat inilah yang akan kita bahas. Dalam ayat 28, dikatakan satu 'perhentian, dalam ayat 29, dikatakan satu perhentian lainnya. Dua perhentian yang berbeda ini, yang satu lebih dalam daripada yang lain.

PERHENTIAN KESELAMATAN

Ayat 28 mengatakan, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian) kepadamu." "Kelegaan (perhentian)" di sini adalah perhentian keselamatan. Sedang "perhentian (ketenangan)" dalam ayat 29 adalah perhentian kemenangan. Perhentian pertama adalah perhentian karena berdamai dengan Allah; perhentian kedua adalah perhentian di dalam batin kita. Yang pertama adalah perhentian karena kita diselamatkan; yang kedua adalah perhentian kita dalam menempuh penghidupan di dunia.

"Marilah kepadaKu, Semua yang letih lesu dan berbeban berat." Saudara saudari, Mungkin Anda tidak begitu mengenal seluk beluk dunia. Banyak orang, meskipun umurnya belum begitu banyak, namun mereka dapat memberitahu Anda tentang pengalamannya di dunia, bahwa "dunia ini sangat panas, sakit demam." Kalau kita pergi keluar, di tengah jalan kita bisa menjumpai begitu banyak orang, mereka berlalu-lalang, terlihat begitu sibuk. Apa yang mereka kerjakan? Apakah mereka gila? Saya merasa kasihan kepada mereka. Ketahuilah, orang-orang di dunia sedang "sakit demam." Mereka tidak memiliki perhentian. Di sini, Tuhan tidak berkata, "Marilah kepadaKu, hai, kalian yang berbuat dosa dan kejahatan besar, Aku akan memberi perhentian kepadamu." Sebab kesenangan dosa itu manis rasanya, orang dosa mengharapkan lebih banyak lagi menikmati kesenangan dosa. Sebab itu Tuhan mengambil satu sebutan lain, yaitu "Semua yang letih lesu dan berbeban berat, boleh datang kepadaKu, untuk mendapatkan perhentian." Anda sedang letih lesu, Anda sedang memikul beban berat. Banyak orang merasa, bahwa dosa itu manis dan menyenangkan, tetapi tidak ada seorang pun yang tidak merasa bahwa hidupnya melelahkan. Banyak orang tidak merasa dosa itu pahit dan mendatangkan penderitaan, namun setiap orang pasti merasa, bahwa pengalaman hidupnya pahit dan penuh penderitaan. Jadi, tidak peduli seseorang itu adalah jutawan, pejabat tinggi negara, ilmuwan, pelajar, pedagang, rakyat jelata dan sebagainya, tidak ada seorangpun yang merasa puas. Dulu saya pernah berpikir, bahwa para pekerja kasar saja yang bisa mengeluh, "Ah, . . ." Tetapi suatu hari, di rumah seorang hartawan, saya juga mendengar dia mengeluh, "Ah, . . ." Memang, rasa senang dosa itu ada, tetapi penderitaan hidup manusia, membuat setiap orang mengeluh, "Ah, . . ." Pernah sekali saya mengabarkan Injil kepada seorang perempuan yang buta huruf; ia berkata, "Ah, sayang sekali aku nuta huruf, kalau tidak, aku mau percaya dan mau membaca Alkitab." Saya berpikir, orang yang buta huruf bisa mengeluh, mungkin orang-orang yang berpendidikan bahkan ilmuwan, tidak akan mengeluh. Ternyata, orang yang bertitel profesor juga mengeluh. Ada seorang profesor dari Barat yang selalu pesimis terhadap hal-hal yang dihadapinya; melihat ini, mengeluh "Ah, . . .", melihat itu juga mengeluh "Ah, . . ." Pada suatu hari, cuaca sangat baik, langit biru cerah, rerumputan hijau segar, di taman dan kebun sekolah, terlihat bunga warna-warni dan burung-burung berkicauan. Beberapa teman profesor ini lalu datang kepada profesor itu dan berkata, "Bapak profesor, lihatlah, betapa cerah dan segarnya hari ini, tentunya Anda tidak perlu mengeluh 'ah' lagi." Profesor itu menengadah melihat langit, memandangi rerumputan, bunga-bunga dan semuanya, dan memang tidak ada yang seharusnya membuat dia mengeluh lagi. Benarkah profesor itu tidak mengeluh lagi? Tidak, setelah memandangi semua itu, akhirnya profesor itu berkata, "Ah, . . . sayang semua itu tidak tahan lama. Ah, .."

Di banyak tempat, Anda bisa menemukan orang-orang yang benelah, menderita, tidak mendapatkan perhentian. Mereka berpikir, "Setiap hari aku bergumul terus, di manakah tempat perteduhanku?" Saya khawatir, pada saat Anda membaca buku ini, Anda pun dalam keadaan tidak ada perhentian, Anda masih letih lesu dan berbeban berat.

Banyak orang merasa, betapa berat beban yang mereka pikul, dan betapa Letihnya mereka; mereka belum mendapatkan perhentian! Saya baru menyadari, betapa beratnya beban manusia, ketika saya pergi mengabarkan Injil di suatu daerah. Tempat tujuan saya berada di balik sebuah gunung, yang tidak bisa dicapai dengan kapal api. Setelah menumpang sebuah perahu kecil, saya masih harus berjalan kaki melinitasi gunung. Saat itu, cuaca cukup panas, dan saya membawa buku-buku Injil, traktat Injil, makanan, pakaian dan beberapa barang lainnya. Karena tidak mendapatkan orang yang membantu membawakan barang-barang bawaan, maka saya harus membawanya sendiri. Pada dua puluh langkah pertama, saya tidak merasakan sesuatu yang memberatkan, lama-lama, saya merasakan beratnya beban saya. Betapa senangnya kalau bisa cepat sampai dan bisa beristirahat melepaskan lelah. Ditambah lagi jalan setapak di gunung tidak diriaungi pepohonan, saat itulah, saya merasakan, betapa orang dosa menderita memikul beban, sungguh sengsara. Di antara para pembaca, mungkin ada yang belum percaya Yesus, Anda tidak memiliki perhentian, di manakah akhir perjalanan Anda? Hari inilah Anda bisa mendengarkan Firman Tuhan, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian) kepadamu."

Oh, dunia ini adalah dunia yang melelahkan. Banyak orang kaya yang berkata, "Aku sangat lelah!" Banyak pedagang berkata, "Aku lelah, letih." Banyak orang terkenal,

banyak orang yang hidup berkecukupan dan hidup dalam tinigkungan kasih sayang orang lain, namun mereka juga letih, lesu, lelah. Ketahuilah, jika mereka tidak mendapatkan ''sesuatu" itu, selamanya mereka tidak akan mendapatkan perhentian. Orang dunia tahu, bahwa perhentian itu sangat baik, namun karena beban yang mereka pikul terlalu berat, Malam mereka tidak berani mencari perhentian itu; mereka sudah merasa senang jika pekerjaan mereka bisa sedikit meringankan beban mereka. Mereka persis dengan orang Israel pada Perjanjian Lama, hanya mengharap Firaun memperingan pekerjaan mereka, mereka tidak mengharapkan mendapatkan perhentian. Keadaan orang Israel boleh mewakili orang dunia; orang Israel hanya mengharapkan keringanan pekerjaan, tidak berani mengharapkan perhentian. Bukankah Anda juga mengharapkan beban Anda bisa sedikit ringan, hidup di dunia tidak sumpek dan khawatir; demikian Anda sudah merasa cukup? Tetapi ketahuilah, apa yang diberikan Tuhan Yesus Kristus bukanlah mengurangi pekerjaan atau beban, melainkan memberikan kelegaan, memberikan perhentian, menyuruh Anda menghentikan segalanya. Tahukah Anda apa artinya perhentian? Perhentian berarti tidak bekerja, berhenti dari pekerjaan. Anda telah tertekan oleh beban dosa dan hawa nafsu, Anda tidak memiliki perhentian. Ketahuilah, Tuhan Yeats menghendaki Anda mendapatkan perhentian, tanpa perlu melakukan pekerjaan apa-apa, Anda bisa mendapatkan perhentian.

Ketika saya masih remaja, orang tua saya pernah menceritakan bagaimana Tuhan Yesus menjadi Juruselamat untuk meredakan murka Allah. Saat itu saya berpikir, saya harus melakukan perbuatan baik apa, baru bisa tidak dibenci Allah, baru bisa menyebabkan Allah mau menyelamatkan saya. Banyak orang mempunyai konsepsi demikian. Tetapi di sini Tuhan berkata, bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa. Asal datang kepadaNya, pasti mendapatkan perhentian. Yang ingin Dia berikan kepada kita adalah perhentian. Dia bukan menyuruh kita dengan susah payah berusaha berbuat bajik dan amal. Perhentian adalah keadaan yang didambakan oleh manusia; namun manusia selalu mengira bahwa Allah tidak berkenan kepadanya, karena itu ia harus melakukan sesuatu yang baik, baru bisa diperkenan. Tetapi Tuhan Yesus memanggil orang adalah untuk mendapatkan perhentian, bukan memanggil orang untuk bekerja. Anda mengira, Allah membenci aku, maka aku harus berbuat baik dulu, baru bisa diperkenan Allah; tetapi Tuhan Yesus berkata, "Tidak perlu melakukan sesuatu!" Inilah Injil! Mengapa Tuhan Yesus bisa memberikan perhentian, tanpa mengharuskan manusia bekerja lebih dulu? Alkitab memberikan jawabannya, yakni Tuhan Yesus telah merampungkan semua pekerjaan, baik itu pekerjaan mendapatkan hidup yang kekal, pekerjaan penebusan do: sa, pekerjaan penghakiman manusia di depan Allah, pekerjaan pembenaran manusia, pokoknya, segala yang berkaitan dengan terang, hidup yang kekal, dibenarkan dan lain sebagainya, semua itu telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus. Sekarang, Anda cukup datang dan mendapatkan perhentian.

Ada satu kisah lagi. Di sebuah desa tinggal seorang Kristen. la bertetangga dengan seorang tukang kayu yang belum percaya Tuhan Yesus. Orang Kristen ini mengenal fitman Tuhan dan Sering menganjuri tetangganya itu untuk percaya Yesus. Tetapi tukang kayu itu selalu mengira, meskipun Tuhan Yesus telah merampungkan pekerjaan penebusan, namun belum cukup, dia masih harus melakukan sesuatu yang baik, memperbaiki kelakuan, setelah itu baru tnau percaya Yesus. Memang Yesus telah menggenapkan penebusan, namun dia juga harus melakukan sesuatu yang baik baru boleh. Demikianlah tukang kayu itu tidak mau percaya. Pada suatu ma'am, datanglah seorang pencuri ke rumah orang Kristen ini. Ketika pencuri itu mau masuk rrrelalui pintu gerbang untuk mencuri, kedengaranlah olehnya suara dari dalam rumah, sehingga ia tidak berani masuk untuk mencuri; lalu ia mengangkat pintu gerbang dan dibawa pergi. Keesokan harinya, orang Kristen ini mengetahui bahwa pintu gerbang rumahnya dicuri orang, lalu ia meminta tetangganya itu membuatkan satu pintu baru baginya. Tukang kayu ini, )(arena merasa bertetangga dan juga teman baik, maka ia segera memilih bahan kayu yang baik dan dengan secepatnya membuatkan satu buah pintu lagi. Sore harinya, pintu itu sudah selesai dikerjakan. Ketika tukang kayu itu siap mealasang pintu itu, orang Kristen ini berkata sambil memandang pintu itu, "Pintu ini belum selesal, masih kurang baik." Mendengar ini, tukang kayu itu merasa tidak enak dan juga kesal, lalu berkata, "Aku telah memilihkan kayu yang baik, lagi pula aku telah bekerja keras membuatnya, apa lagi yang masih kurang baik?" Tetapi orang Kristen ini tetap berkata, kurang baik. Akhirnya tukang kayu itu berkata, "Kalau pintu ini masih kurang baik, harus bagaimana baru terhitung baik?" Orang Kristen ini berkata, "Baiklah, tolong ambilkan beberapa potong kayu, beberapa batang paku, juga bawalah pale, bianah saya sendiri yang mengerjakan bagimu." Orang Kristen ini lalu mengambil palu, papan, paku, dan dengan sekenanya meletakkan kayu, memaku sana sini di atas pintu itu. Perbuatannya ini membuat tukang kayu itu gusar bercampur geli, ia mengira orang Kristen ini mungkin sedikit sakit ingatan berhubung kecurian pintu gerbang. Sejenak kemudian, orang Kristen ini berkata, "Teman, jangan marah, man kita berbincang-bincang. Pintu yang kau buat itu sudah rampung belum?" Ia menjawab, "Tentu sudah rampung." Orang Kristen ini berkata, "Kalau saya tambahkan sedikit, bukankah lebih baik lagi?" la berkata, "Pintu sudah selesal, kamu tambah lagi dengan papan dan paku, malah tidak karuan." Orang Kristen ini berkata, "Pekerjaan penebusan Tuhan Yesus telah selesai. Dalam Yohanes 19:30 dikatakan: Sudah selesai! Tetapi Anda berkata, meskipun pekerjaan Tuhan sudah selesai, namun masih perlu ditambah lagi, masih perlu memperbaiki diri dan beramal. Karena itu, pada pintu yang telah Anda selesaikan ini, saya juga perlu menambahkan sedikit papan dan paku." Tukang kayu itu baru mengerti, dan mau percaya Yesus. Kemarini, orang Kristen ini kehilangan sebuah' pintu, namun hari ini ia mendapatkan seorang dosa. Tuhan menyuruh kita datang untuk mendapatkan perhentian, tanpa harus bekerja apa-apa. Karen Tuhan telah mati demi menanggung dosa-dosa kita, Dia juga telah bangkit, agar di depan Allah kita memiliki kedudukan yang baru. Itulah sebabnya kita tidak perlu melakukan apa-apa, cukup datang saja kepadaNya, mendapatkan perhentian. Inilah Injil.

Banyak orang yang dalam kehidupannya berjerih payah dan memikul beban berat, namun terhadap karunia keselamatan, mereka masih belum terlepas dari konsepsi itu. Mereka mengira, kalau mereka bisa berbuat baik, rela menderita meskipun sambil menggertakkan gigi, mungkin Allah mau membelaskasihani mereka, sehingga mereka diselamatkan. Ketahuilah, banyak orang dari aliran tertentu melakukan penyiksaan diri dengan harapan bisa diperkenan Allah. Mereka mealasang paku pada sebuah papan - paku-paku tersebut lancipnya mengarah ke atas -- kemudian mereka merebahkan diri di atasnya. Dalam konsepsi mereka, dengan melakukan penyiksaan diri yang menyakitkan ini, mungkin Allah yang tidak diketahui itu akan mengasihani mereka, akan mengampuni dosa mereka. Inilah pemikiran dan konsepsi kebanyakan orang, bahkan kanak-kanak pun ada yang berpikiran demikian. Pernah sekali, seorang anak kecil berkata, "Jika aku melakukan suatu kesalahan, maka terlebih dulu aku harus menyiksa diri sendiri, membuat diriku menderita, kemudian Allah baru mau mengampuniku." Oh, hampir semua orang dunia berpikiran demikian. Siapa sangka, pikiran itu salah! Itu menipu diri sendiri , tidak ada perkara itu. Bukan karena Anda telah menderita seberapa banyak, baru boleh datang ke hadapan Allah untuk mendapatkan perhentian. Hari ini ada satu panggilan, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi perhentian kepadamu." Penebusan telah genap, Tuhan telah memikul bagi kita. Siapapun Anda, boleh datang; Anda boleh datang ke hadapan Tuhan untuk menerima perhentian. Tidak ada satu orang dosapun yang bisa mendapatkan perhentian bersandarkan dirinya sendiri. Jika Anda mau datang kepada Tuhan, Anda pasti mendapatkan perhentian.

PERHENTIAN KEMENANGAN

Kini saya ingin berkata kepada orang yang sudah percaya, tentang satu perhentian lainnya. "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajanah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (perhentian)." Perhentian dalam ayat ini adalah perhentian yang seharusnya didapatkan oleh orang Kristen. Perhentian pertama adalah perhentian yang harus didapatkan oleh orang dosa; karena kalau orang dosa tidak diperkenan Allah, ia tidak bisa mendapatkan perhentian. Seorang saleh telah menerima pengampunan dosa, karena itu ia memiliki satu perhentian; persoalan keselamatannya telah terbereskan, persoalan pembenarannya dan hidup kekalnya sudah terbereskan, ia boleh menikmati perhentian. Tetapi, setelah menjadi orang Kristen, Sering kali kembali ia tidak ada perhentian. Ia memiliki perhentian di dalam Anak Domba, ia telah memiliki perhentian dalam darah adi. Tetapi dalam penempuhan hidup di bumi, dalam menghadapi perkara-perkara dunia, ia Sering tidak memiliki perhentian. Hatinya Sering seperti air yang mendidih, bergejolak; ia sudah memiliki "perhentian" Matius 11:28, namun tidak memiliki "perhentian" Matius 11:29.

"Perhentian" dalam ayat 29 adalah "perhentian" yang khusus. Dalam bahasa aslinya, kata “jiwa" satu akar kata dengan "psuche" dalam ilmu kejiwaan. Karena itu, di sini adalah membicarakan perhentian kejiwaan. Dalam ayat Alkitab lainnya pernah dipakai kata yang sama, yakni dalam Mazmur 42:6 yang mengatakan, "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?" Jiwa ini, bisa membuat kita tertekan dan gelisah. Perhentian yang Tuhan berikan kepada kita adalah perhentian jiwa, agar ketika kita hidup di dunia, menempuh penghidupan ini, tidak ada kekhawatiran dan kegelisahan.

Selanjutnya, Tuhan segera memberitahu kita alasan Dia mendapatkan perhentian di dalam jiwaNya sendiri. Ayat 29 mengatakan, "Karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Alasan pertama adalah lemah lembut, Alasan kedua adalah rendah hati. Apakah "lemah lembut" itu? Lemah lembut berarti halus, ramah, tidak keras. Dia tidak akan membuat Anda merasakan sesuatu yang menusuk; Dia mutlak lunak, halus, mudah ditanggulangi, tidak akan melawan, tidak akan menghalangi orang, tidak akan melindungi diri sendiri, tidak akan menolak orang, lunak seperti air, meskipun dipukul tetap saja begitu. Inilah penghidupan yang Tuhan tampilkan ketika di bumi.

Ada orang yang lemah lembut terhadap orang lain, namun ia tidak rendah hati. Secara luaran mungkin terlihat rendah hati, padahal hatinya tidak. Kata "rendah" dalam rendah hati berarti "sangat merendahkan diri, rendah terhina." Aspek motivasi Tuhan sangat merendah, Dia merasa bahwa semua peristiwa yang la temui di bumi adalah yang sepatutnya. Tuhan tidak mengharapkan menerima perlakuan yang lebih baik, la rela menerima perlakuan itu. Ketika Tuhan memberitakan Firman di kota besar, orang-orang di sana menentangNya, la pun dengan baik-baik "keluar dari antara mereka." Tuhan tidak saja lemah lembut, juga rendah hati. Tuhan tahu, bahwa penghidupan sedemikian adalah sepatutnya la tempuh di bumi ini, Dia tidak mengharapkan menemui perlakuan yang lebih baik. Arti kata "sombong", tidak saja menyatakan sesuatu yang lahinah, juga ,menyatakan yang batiniah. Jika aku mengharapkan memperoleh sesuatu yang lebih baik daripada orang lain, ingin memperoleh sesuatu yang belum Allah berikan kepada kita, merencanakan atau mendambakan sesuatu bagi diri sendiri, ini adalah sombong.

Sikap Tuhan di bumi adalah lemah lembut dan rendah hati. Jika kita ingin mendapatkan perhentian ini, ada dua perkara yang harus kita perbuat. Pertama, "Memikul kuk Tuhan"; kedua, "belajar kepada Tuhan." "Memikul" dan "belajar" adalah dua perkara yang benainan. "Kuk" adalah sepotong kayu yang biasanya diletakkan di atas punggung lembu, agar lembu itu tidak bebas lagi dan dapat giat bekeria. Kebiasaan di tanah Yudea, orang-orang menaruh satu kuk pada dua ekor lembu, tidak pernah satu ekor lembu memikul satu kuk. Kuk adalah benda yang diberikan oleh tuannya, bukan ditanggung karena lembu itu sendiri. Karena itu Tuhan berkata kepada kita, "Pikullah kuk yang Kupasang." Ya, kuk ini adalah yang diberikan oleh Allah, bukan orang tertentu yang memberikan kepada Anda, bukan juga berasal dari Iblis. Kuk adalah dipasangkan oleh Allah. Namun belajar adalah yang kita pilih.

MEMIKUL KUK TUHAN

Jika segala yang Allah aturkan bagiku, telah kupikul, aku pasti memiliki sukacita; jika aku puas dan senang menerimanya, maka aku pasti memiliki kedamaian, tidak ada yang menyedihkan, karena aku tidak melarikan diri dari kuk Tuhan. Saya mempunyai seorang teman sekolah yang sangat pandai, ia dibesarkan dari sebuah panti asuhan. Di kemudian hari, ia menjadi "anggota" gereja, namun bukan orang Kristen. Pengharapannya adalah menuntut ilmu setinggi mungkin, mendapatkan nama yang terkenal, agar bisa mendapatkan uang banyak. Pada tahun ia lulus sekolah, ada seorang misionaris yang mau membantunya agar ia bisa melanjutkan sekolahnya di Amerika; dan ia terlebih dulu disuruh mengikuti pelajaran selama dua tahun di Universitas St. John di Shanghai. Sekolah ini telah menyediakan bea siswa baginya. Tetapi beberapa bulan sebelumnya, ia benar-benar bertileh selamat, dan merasa bahwa Tuhan sedang memanggilnya, agar ia baik-baik melayani Tuhan. Saat itu kuk Tuhan ada di atas dirinya. Dia berpikir, "Menjadi penginjil sungguh menderita, apalagi penginjil di desa-desa; sandang, pangan, papan, semuanya pas-pasan bahkan mungkin kurang, juga, tidak mempunyai pemasukan yang banyak. Jika demikian, bukankah semua cita-citaku kosong belaka! Aku adalah satu-satunya pengharapan ibuku dan pamanku, lalu tidakkah pengharapan mereka juga kosong melompong!" la tidak ingin memikul kuk yang Tuhan berikan, ia ingin melepaskan diri. Karena itu, ia memenuhi permintaan kepala sekolah untuk melanjutkan sekolahnya. Pada suatu hari, saya mencari dia dan bertanya kepadanya, "Apakah Anda sudah menetapkan masa depan Anda?" Dia menjawab, "Aku telah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi." Karena saya tahu, bahwa Allah telah memanggil dia, maka dengan terus terang saya berkata, "Jalan yang Anda pilih itu salah, apakah Anda mengira jalan ini bisa membuat Anda mendapatkan perhentian?" Dia menjawab, "Ibuku yang tua dan pamanku menaruh harapan mereka hanya kepadaku. Aku akan belajar bahasa, dan juga belajar teologia, di sekolah aku juga akan melakukan pekerjaan perorangan. Bukankah ini sama juga?" Saya berkata, "Mendengar perintah mengalahkan mempersembahkan korban. Tuhan tidak berkenan kepada ribuan ekor lembu dan domba yang di gunung, lemak korban bakaran juga tidak diperkenanNya. Dia berkenan kalau manusia mendengarkan perintahNya. Saudara ini menjawab, "Aku telah memutuskannya." Saya berkata lagi, "Anda telah salah jalan. Jika Anda telah keracunan di sekolah itu dengan teologi modemnya, saya khawatir bahkan terhadap kepercayaan yang mendasar saja Anda akan membaliknya. Anda dan saya tidak bisa lagi menempuh satu jalan. Baiklah, sampai jumpa!" Sepeninggal saya, ia berjalanjalan di lapangan bola, hatinya sangat sedih, tidak ada damai sejahtera. Kemudian ia masuk ke dalam kapel sekolah dan berdoa. Sambil berdoa sambil mengenang ayahnya yang telah meninggal, teringat ibunya yang janda, masa depannya, tak tahan ia menangis. Ia ingin mengesampingkan kuk Tuhan, namun hati tidak damai; mau menaati, tapi terasa berat dan sulit. Akhirnya ia tahu, bahwa ia harus taat kepada kehendak Allah. Lalu ia berjanji di depan Allah untuk melepaskan kesempatan melanjutkan sekolah, dan mau menjadi pengInjil.Begitu ia taat, berdiri dari berdoa, hatinya sangat damai, penuh sukacita. Segera ia menemui kepala sekolah, mengatakan bahwa dirinya mengubah pendirian, melepaskan bea siswa, juga menolak bantuan misionaris tadi, dan dengan segera mengemasi barang meninggalkan asrama sekolah. Kemudian hari ia berkata, bahwa malam hari itu adalah malam hari yang paling sukacita dalam seumur hidupnya. (Harap saudara saudari memperhatikan, saya bukan menganjuri Anda tidak bersekolah, melainkan jika Allah memanggil Anda menjadi pemberita Injil, Anda harus taat. Jika Allah tidak memanggil Anda, Anda belajar lagi bahkan sampai puluhan tahun, tidaklah mengapa).

Saya tahu, di sini banyak saudara saudari yang mempunyai pengalaman yang sama. Ketika Anda tawar-menawar dengan Allah, Anda ingin Allah mengalah kepada Anda, tetapi Anda tidak mau taat kepada Allah, Anda tidak memiliki damai sejahtera. Hati nurani Anda memberitahu Anda, bahwa Anda telah salah, Anda merasa sangat menderita! Tetapi tatkala Anda berkata kepada Allah, "Aku rela memikul kuk yang Kau berikan," Anda segera memiliki perhentian. Hari ini Allah memimpin kita agar kita mau memikul kukNya, tidak saja terhadap perkara besar dalam seumur hidup kita, juga terhadap perkara kecil dalam hidup sehari-hari kita. Ada sekerja penginjil yang merasa, bahwa sekerjanya sulit diajak bekerja sama, ada saudari yang merasa, bahwa orang-orang di rumahnya – bibi, kakak/adik ipar, mertua, menantu -- sulit rukun, ada orang yang merasa, bahwa teman sekantornya susah akur, yang menjadi pelajar merasa teman-teman sekolahnya atau gurunya menyutitlsan. Inilah kuk Anda. Anda merasa, bahwa mereka menjengkelkan, lebih baik menjauhi mereka, atau meninggalkan mereka; Anda merasa sumpek, Anda tidak memiliki perhentian. Tetapi saudara saudari, inilah kuk yang Allah berikan kepada Anda, inilah yang Allah ingin agar Anda pikul, inilah bagian yang Allah takarkan bagi Anda. Allah menghendaki Anda tunduk di bawah keadaan tersebut, artinya, keadaan itu adalah yang terbaik bagi Anda.

Apakah yang dimaksud dengan memikul salib? Memikul salib bukan berarti menyuruh orang mengeluarkan beberapa ribu dollar untuk pergi ke Yerusalem, membeli sebuah kayu palang, lalu memikulnya sampai di gunung Golgota; melainkan meminta setiap orang dalam posisinya masing-masing memikul kukNya, inilah bagian yang Allah berikan kepada masing-masing orang. Anda mengira, bahwa keadaan Anda tidak baik, Anda ingin "tukar" keadaan dengan orang lain; ketahuilah, itu bukan memikul kuk. Adakalanya Allah menaruh orang yang cermat bersama dengan orang yang ceroboh, orang yang kuat bersama dengan orang yang lemah, orang yang sehat bersama dengan orang yang sakit, orang yang pandai bersama dengan orang yang bodoh, orang yang cepat bersama dengan orang yang pelan, orang yang suka bersih bersama dengan orang yang sembarangan, semua itu bertujuan agar orang yang satu menjadi kuk bagi yang lain, sehingga masing-masing berkesempatan menampilkan sifat Kristus. Jika Anda meronta-ronta, selamanya Anda tidak akan memiliki perhentian. Tetapi jika Anda berkata kepada Allah, "Aku rela memikul kukMu, aku mau berdiri pada posisi yang Kau atur." Demikian Anda taat, Anda pasti memiliki perhentian dan sukacita.

Hari ini, penyebab umat Kristen tidak bisa menampilkan kesaksian yang Indah ialah karena mereka telah melawan kuk yang Allah berikan. Mereka ingin mengganti keadaan lingkungan mereka; tak disangka, sebenarnya karakter orang Kristen justru akan tertampil melalui keadaan itu. Kehidupan kita yang paling tinggi adalah kehidupan yang menyambut setiap perkara yang tidak kita sukai -- yang berlawanan dengan selera kita. Ketahuilah, jika Anda mau dengan merendahkan diri dan menerima kuk yang Allah berikan, batin Anda akan penuh dengan perhentian yang sangat dalam. Namun, itu bukan perhentian karena beroleh selamat yang bersandarkan penebusan yang la rampungkan di salib. Perhentian ini adalah yang Anda dapatkan bersandarkan ketaatan Anda sendiri, sikap menyerahkan diri Anda sendiri, dan kerelaan Anda memikul salib Semoga setiap orang yang mendengar berita ini, setelah pulang ke rumah masing-masing, bisa mendapatkan satu perhentian yang baru. Anda tidak perlu menyingkirkan keadaan Anda seperti Anda menyingkirkan salju yang menempel pada baju Anda sewaktu musim dingin. Anda tidak perlu meronta-ronta terhadap situasi sekeliling Anda. Asal Anda berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku bersyukur kepadaMu, karena ini adalah kukMu." "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu." Jika demikian, Anda akan memiliki sukacita. Meskipun situasi yang menimpa Tuhan Yesus sangat memungkinkan orang berkeluh kesah, namun Dia tidak mengeluh, tidak gelisah, tidak bermaksud mengganti situasi. Dia hanya taat, sebab itu Dia bisa bersukacita. Kita tidak bisa karena sukacita lalu taat kepada Allah, melainkan karena taat kepada Allah maka memiliki sukacita. Saya juga tidak tahu, berapa banyak orang yang tidak bisa Anda sukai, yang tidak bisa bekerja sama dengan Anda. Tetapi semoga mulai hari ini, Anda mau menerima kuk yang berasal dari tangan Allah itu, yaitu kuk yang lemah lembut dan rendah hati.

BELAJAR PADA TUHAN

Kita tidak hanya perlu memikul beban, juga perlu belajar kepada Tuhan. Teladan Tuhan tercatat dalam Filipi 2:6-8, "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, la telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Dalam teladan Tuhan ini, ada satu, dua hal yang perlu kita singgung.

Pertama, Tuhan tidak berdiri dan berbicara apapun bagi keuntungan dirinya sendiri. "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri." Sebenarnya la memiliki hak yang sah. Tuhan kita sebenarnya setara dengan Allah, sama-sama mulia, sama-sama memiliki kuasa, Dia sama dengan Allah; tetapi Dia tidak meninggikan dirinya sendiri, sebaliknya, malahan mengosongkan diriNya, mengambil rupa seorang hamba. Dia asainya setara dengan Allah, dan Dia boleh melakukan sesuatu; Dia tidak seperti Iblis yang adalah makhluk ciptaan, penghulu malaikat yang ingin meninggikan dirinya setara dengan Allah. Dia mutlak berkebalikan dengan Iblis. Tetapi, Dia tidak mempertahankan kesetaraanNya itu, malahan mengosongkan dirinya. Sebab itu, ingatlah satu hal: Tidak ada seorangpun di antara kita yang boleh mengutarakan sesuatu bagi keuntungan diri kita sendiri. Setiap orang harus dengan suka rela kehilangan hak yang sah.

Ada seorang saudari, sebelum ia percaya Tuhan, kehidupannya adalah seperti model majikan, setelah percaya Tuhan, kehidupannya berubah menjadi seperti model pelayan. la pun rela kehilangan hak dan kedudukannya sebagai anak dalam suatu keluarga, karena kini orang tuanya tidak seperti dulu lagi dalam hal memberinya uang kepertuan sehari-hari. Kalaupun Anda telah menjadi orang Kristen, Anda tidak seharusnya mengharapkan lagi perlakuan yang baik seperti dulu dari orang tua atau dari teman Anda. Kalau mereka tidak memberi kepada Anda, Anda tidak perlu menuntut; Anda harus meletakkan diri Anda di bawah tangan Allah, belajar kepada Tuhan. "Dia yang setara dengan Allah, . . . malahan mengosongkan dirinya." Selamanya Dia tidak berbicara untuk dirinya sendiri. Kita pun tidak seharusnya mengatakan apapun untuk diri kita sendiri.

Perhentian orang Kristen bukan hanya dihasilkan karena kita tidak menyalahi orang lain, juga karena ketika kita disalahi orang lain, kita dapat menerima dan menahannya. Sebelum Anda percaya Tuhan, Anda banyak merugikan orang lain; setelah Anda percaya Tuhan, Anda lalu dengan keadilan mempenakukan orang lain. Kalau Anda melihat orang bertindak tidak adil, Anda segera marah. Ketahuilah, tingkatan orang Kristen bukan hanya mempenakukan orang dengan adil, bahkan menerima perlakuan tidak adil dari orang lain. Yang Tuhan dapatkan, bukanlah perbuatan yang adil; jika menurut keadilan, Tuhan tidak perlu berinkarnasi menjadi manusia, Dia tidak perlu menyelamatkan manusia. Tetapi karena kita, Dia rela menerima segala perlakuan tidak adil dari manusia.

Hal kedua ialah "Dia telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." Ini berarti Dia menerima pembatasan. Tuhan kita di surga sangatlah bebas, Dia bisa seperti malaikat yang bebas ke mana saja, bisa juga seperti malaikat dalam Perjanjian Lama yang menampakkan kepada manusia. Tetapi Dia berinkarnasi, menjadi manusia, melewati masa bayi, kanak-kanak, dan bertumbuh dewasa. Menurut kodrat manusia la bertumbuh, juga sesuai dengan manusia umumnya yang perlu makan, minum, bekerja, istirahat dan tidur. Dari aspek ke-AllahanNya, la telah sangat dibatasi. Tetapi Dia tidak hanya menjadi manusia, bahkan mengambil rupa seorang hamba. Sebenarnya, meskipun la telah tidak memiliki kebebasan sebagai Allah, Ia masih boleh mendapatkan kebebasan sebagai manusia, masih boleh menikmati kenikmatan yang dinikmati oleh kebanyakan manusia. Tetapi, Dia mengambil rupa seorang hamba, kebebasan yang dimiliki manusia pada umumnya juga dikorbankanNya. Dalam setiap aspek, Dia telah menerima ikatan dan batasan yang tidak bisa ditanggung manusia. Kecuali kehendak Allah Bapa, Dia tidak tahu yang lain. Inilah pembatasan baginya dalam segi manusia. Meskipun Dia adalah Allah, Dia rela dibatasi; meskipun Dia adalah manusia, Dia juga rela dibatasi. Bagaimana dengan kita? Hati kita malah sebaliknya. Kita sangat ingin mematahkan segala belenggu dan batasan, kita ingin bebas merdeka. Kita sangat ingin kalau seluruh dunia – termasuk manusia, benda dan perkara -- menuruti keinginan kita, sesuai dengan kemauan hati kita. Kita tidak seperti Tuhan; meskipun Dia adalah Allah, Dia rela menerima pembatasan. Di tengah-tengah kita, banyak saudari yang menjadi ibu, yang ingin melepaskan status ibunya, agar bebas pergi memberitakan Injil. Seperti seorang saudari yang memberitahu saya, katanya, "Kalau suamiku mengizinkan, aku akan meninggalkan ketiga anakku dan pergi dengan bebas ke Tibet untuk memberitakan Injil." Saudari ini ingin melepaskan ikatannya, agar dia bisa terbang bebas. Ketahuilah, itu bukan rupa (teladan) Tuhan. Tuhan adalah Allah, namun la taat kepada orang tua, memperhatikan saudara-saudaraNya. Kita harus taat, tidak patut ambisius. Kalau Allah dengan anak-anak telah membatasi Anda, atau dengan keluarga membatasi Anda, Anda harus dengan suka rela taat. Jika orang yang berdagang berpikir, alangkah baiknya kalau aku tidak berdagang; jika yang bersekolah berpikir, alangkah baiknya kalau aku tidak bersekolah; demikian juga dengan yang bekerja, yang mengajar; betapa salahnya ini. Jika kita mau seperti Tuhan kita yang menerima segala macam pembatasan, tidak meronta-ronta, kita akan memiliki perhentian.

Jadi, orang yang belum percaya Tuhan, bisa mendapatkan perhentian karena berdamai dengan Allah. Orang Kristen yang tadiNya selalu gelisah, tidak memiliki damai, tidak memiliki perhentian, asal ia mau memikul kuk kelemah-lembutan dan kerendahan-hatian, belajar seperti Tuhan yang dibatasi; hari demi hari tidak berbicara apapun bagi hak dan keuntungan sendiri, setiap hari menerima kuk yang Allah aturkan baginya, dan juga memilih bagi diri sendiri satu kehidupan yang terbatasi, hatinya pasti bisa menikmati perhentian.

Tuhan berkata, "Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan." Setiap orang yang mempunyai pengalaman di dalam Tuhan, pasti akan berkata, "Amin!" Jalan pilihan kita sendiri tidaklah rata! Pekerjaan yang kita kerjakan berdasarkan kemauan kita sendiri sangat mendatangkan kerepotan! Semuanya berakhir dengan kepedihan! Kita sulit maju! Tetapi, jika kita mau belajar kepada Tuhan, memikul kukNya, kita sungguh-sungguh akan tampak, bahwa perkara yang la berikan kepada kita, tuntutanNya kepada kita, situasi lingkungan yang Ia aturkan bagi kita, semuanya nyaman, semuanya ringan. Semua yang Ia kehendaki agar kita lalui, tidak ada satupuri yang tidak bisa kita tanggung. Dia tahu bagaimana mengatur beban bagi kita, Dia juga tahu kekuatan kita. Kita boleh tenang. Dia tidak akan menyuruh kita melakukan hal yang tidak mampu kita lakukan! Setiap pengaturanNya pasti bisa kita pikul. Seekor lembu yang baru berumur tiga bulan, tentu tidak bisa memikul beban bajak. Demikian juga, Tuhan tidak akan membuat orang menemui keadaan yang tidak bisa ia tanggung. Apapun yang menimpa diri kita, itu menyatakan bahwa Allah telah menakarnya bagi kita, kita pasti mampu, kita bisa mengatasi perkara itu. Allah tidak bisa salah. Karena itu, kita tidak seharusnya menggerutu; kita harus diam, tenang, rendah hati, lemah lembut dan dengan sukacita menerima kuk dan beban yang la berikan kepada kita, walaupun banyak yang tidak kita senangi!